Monday, March 30, 2009

Berakhirnya Ekonomi (The End Of Economics)


Salah satu instrumen yang digunakan dalam sistem perdagangan internasional adalah menggunakan instrumen mata uang dollar AS. Setelah krisis ekonomi global terjadi usai Perang Dunia II, melalui pertemuan Bretton Woods dirancanglah sebuah sistem mata uang dollar sebagai mata uang utama dalam perdagangan dunia, sekaligus menjadikan World Bank, International Monetary Fund (IMF) sebagai pengendali sistem keuangan internasional.

Namun perjanjian Bretton Woods pada tahun 1973 kemudian dihapuskan ketika Amerika Serikat secara unilateral memutuskan bahwa Dollar Amerika tidak perlu lagi didukung oleh emas. Sejak itulah Dollar Amerika tidak bedanya dengan lembaran kertas saja.

Dengan mata uang dollar AS, Amerika Serikat memegang kekuasaan luar biasa yang sangat tidak proporsional. Dengan kertas yang disebut Dollar AS, mereka bisa membeli berbagai komoditi seperti minyak, gas, aluminium, emas, dll. dari negara-negara lain di dunia. Jika mereka perlu lebih banyak komoditi, mereka tinggal mencetak saja lagi. Jadi sistem semacam ini amatlah tidak adil dan tak bermoral.

Hal ini telah mengeksploitasi model perdagangan dengan sistem pembagian kerja internasional. Surplus ekonomi bagi sekutu-sekutu Amerika terus terjadi, yang berdampak pada ketidakseimbangan perdagangan global. Negara-negara miskin tidak mampu melakukan ekspor tanpa didukung impor sehingga negara-negara miskin mengalami ”a vicious circle of import”.

Akibatnya negara-negara miskin memiliki tingkat ketergantungan yang begitu kuat terhadap negara-negara maju. Sistem keuangan internasional yang dirancang pasca Perang Dunia II dalam Bretton Woods telah melahirkan ketidakadilan neraca keuangan global. Defisit terus menimpa negara-negara miskin dan surplus keuangan terus ditarik ke negara-negara maju.

Dunia kini dibanjiri terlalu banyak dollar. Dalam pasar-pasar uang saja terdapat gelembung dollar AS yang berjumlah 80 triliun dollar AS pertahun. Jumlah ini 20 kali lipat melebihi nilai perdagangan dunia yang jumlahnya sekitar 4 triliun dollar AS pertahun. Artinya, gelembung itu bisa membeli segala yang diperdagangkan sebanyak 20 kali lipat dari kenyataan yang ada.

Gelembung ini tentu akan terus membesar dan membesar. Anda tidak perlu terlalu bijak untuk memahami bahwa gelembung itu suatu saat akan meledak dan pecah, dan terjadilah keruntuhan ekonomi global yang niscaya lebih buruk daripada depresi ekonomi tahun 1929.

Sebagai perbandingan yang kontras, emas adalah logam yang berharga. Nilainya tidak bergantung pada negara mana pun, bahkan tidak bergantung pada sistem ekonomi mana pun. Nilainya adalah intrinsik dan dapat dipercaya. Oleh karena itu, emas adalah mata uang yang dapat menjamin kestabilan ekonomi dunia.

Sistem keuangan global sudah berkembang melebihi batas. Dengan perdagangan ”kertas berharga yang turunan sekunder” (secondary derivatives papers), sistem keuangan dunia menjadi tidak ”favorable” kepada sektor riil karena ”money makes money” lebh tinggi hasilnya.

Maka, kalau anda punya uang niscaya anda akan lebih tertarik untuk memainkannya di bisnis keuangan ketimbang membangun bisnis di sektor riil. Padahal sejatinya, perdagangan kertas berharga tersebut adalah barang maya, hanya ilusi, tidak nyata, karena tidak terkait dengan bisnis riil. Ini yang menyebabkan terjadinya gelembung ekonomi dunia.

Apa akibatnya? Sektor riil lambat bergerak, kecuali di China yang menganut paham berbeda, tidak berdasar ”supply and demand”. China tetap memproduksi walau tidak ada permintaan. Alasanya adalah stabilitas keamanan sehingga tidak ada penduduk China yang menganggur, semua bekerja, memproduksi apa saja, mulai dari peniti sampai komponen pesawat terbang. Manajemen 1 miliar penduduk yang ternyata membawa China kepada kekuatan ketiga di era kini.

Sejarahnya, emas dan perak adalah mata uang dunia paling stabil yang pernah dikenal. Sejak masa awal Islam hingga hari ini, nilai mata uang Islam dwilogam itu secara mengejutkan tetap stabil dalam hubungannya dengan barang-barang konsumsi. Misalnya seekor ayam pada zaman Nabi Muhammad saw. harganya satu dirham, hari ini -1400 tahun kemudian- pun harganya kurang lebih masih satu dirham. Dengan demikian, selama 1400 tahun, inflasi adalah nol persen.

Dalam jangka panjang, mata uang dwilogam telah terbukti menjadi mata uang dunia paling stabil yang pernah dikenal. Mata uang tersebut telah dapat bertahan, meskipun terdapat berbagai upaya untuk mentransformasi dinar dan dirham menjadi mata uang simbolik dengan cara menetapkan suatu nilai nominal yang berbeda dengan beratnya.

Kita harus kembali kepada sistem perekonomian berbasis komoditi riil, dimana dinar dan dirham hanyalah salah satu komponen penting. Ada “5 pilar sistem ekonomi berbasis emas” yang akan menjadi solusi masa depan dunia yang tidak terelakkan. Pertama, “Money (Freely Chosen)” yaitu mata uang harusnya bebas ditentukan oleh masyarakt penggunanya. Kedua, “Open Markets Infrastructure” yaitu infrastuktur pasar terbuka dimana setiap orang mempunyai hak, seperti mesjid. Ketiga, “CaravansOpen Distribution and Logistic Infrastructure” yaitu jaringan logistik dan distribusi yang terbuka bagi siapa saja. Keempat adalah “GuildsOpen Production Infrastructure” yaitu sentra-sentra produksi kerakyatan harusnya mendapat perhatian dari pemerintah untuk menjadi tempat yang layak untuk berproduksi sebagaimana standard global yang berlaku. Kelima adalah “Just Contractual Legal Frameworks (Syirkah dan Qirad). Kelima infrastruktur tersebut haruslah dimiliki oleh publik.

Teknologi informasi merupakan sarana yang dapat mengkudeta fungsi perbankan atau istilahnya ”coup de banque”. Anda bisa bayangkan, sebenarnya fungsi perbankan itu amat sederhana, hanya mengadministrasi pencatatan plus dan minus saja dengan sedikit variasi perhitungan, namun mengapa akhirnya justeru menjadi raja yang mengatur dan menentukan sektor-sektor lain. Pasti ada yang salah kan?

Jaman Nabi dulu, para pedagang lah yang berada di gedung mewah, sementara rentenir itu yang berada di jalanan. Sekarang yang kita lihat terbalik. Para bankir duduk-duduk di gedung mewah, sementara para pedagang kaki lima berceceran di sepanjang jalan, malah kena gusur tramtib-tibum segala.

Maka, jangan salahkan orang lain kalau Indonesia masih miskin, karena sampai kini memang belum mau mengikuti ajaran-Nya. Terutama dalam bidang muamalah ekonomi seperti yang pernah dicontohkan Nabi 1400 tahun yang lalu. Padahal Indonesia adalah negara dengan mayoritas muslim terbesar di dunia yang penduduknya percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Liem Siok Lan alias Justiani, Alumni Teknik Informatika ITB Angkatan 1981

2 comments:

nbalike said...
This comment has been removed by a blog administrator.
Abi said...

Dengan ditemukannya uang (kertas), maka separuh kerja Syetan sudah selesai. (Hadis?)
Mas Adib, komentar yang numpang ngiklan itu sebaiknya dihapus saja! (partai blogrrr).