Wednesday, July 11, 2018

“Sang Guru Sindiran”, Berjuluk Oom Pasikom


Melihat karikatur adalah membaca wacana atau pola representasi realitas melalui performa visual atau opini yang "nakal" dan cerdas. Ada penajaman atau pengaburan, ada pembalikan atau penyimpangan yang terselenggara dalam karikatur. Melalui strategi-strategi ini, dengan tenaga kreatif dan intelektualitas yang mumpuni, kerap mencetuskan karikatur berdaya tarik khusus.

Asal-usul wacana atau pola karikatur bisa terlacak atau bertolak dari muasal katanya. Caricare adalah kata dalam bahasa Italia yang berarti "melebih-melebihkan atau memberi muatan" dan dari kata inilah istilah "karikatur" timbul. Karikatur adalah gambar yang tak wajar, tak biasa. Kekuatan karikatur dibentuk, pada umumnya, oleh perpaduan humor dan kecerdasan.

Apa yang paling diharapkan atau ditunggu orang dari kehadiran karikatur? Tawa bercampur kesegaran kualitas kesadaran teranyar nan tak terduga. Mungkinkah karikatur tetap mempesona tanpa semua ini? Karikatur adalah kegamblangan visual yang menawarkan kejutan pikiran dan pukauan kelucuan yang tak lazim. Bukan guratan kenjelimetan di luar duga. Lain kata, karikatur adalah kesederhanaan yang menghibur dan menawarkan kepintaran atau keusilan yang mencerahkan.


Karikatur cenderung politis, setidaknya kerap menyerukan protes, kritik, terhadap kekuasaan atau keadaan yang runyam. Namun, yang paling sering terasa disampaikan oleh karikatur adalah sindiran. Sindiran dalam karikatur menjadi bahasanya yang paling mainstream. Bisa jadi karikatur dianggap identik dengan sindiran.

Karikatur menghebohkan sering lantaran kualitas sindirannya. Olokan atau ejekan kepada kebobrokan kekuasaan, misalnya, yang muncul melalui sindiran bisa menjadi sinisme halus yang tajam dan elegan, yang melampaui protes atau kritik yang vulgar.


Karikatur media massa
Oom Pasikom adalah contoh tokoh karikatur ciptaan Gerardus Mayela (GM) Sudarta. Sepertinya karikatur media massa cetak telah identik dengan Oom Pasikom. Dan, Oom Pasikom adalah "penampakan" GM Sudarta. Konsistensi kehadiran Oom Pasikom selama setengah abad merupakan salah satu faktor penyebabnya selain apresiasi yang bagus dari khalayak atas capaian karikaturnya yang kerap dipandang memiliki "heroisme kelucuan" yang cenderung santun namun acap menerabas ketakutan.

Pada awal karier menggarap karikatur Oom Pasikom, GM Sudarta didatangi dua kendaraan panser lantaran karikaturnya dipandang menyinggung kasus perampokan yang diduga melibatkan tentara.

GM Sudarta tak percaya bahwa karikatur tak berdaya. Karikatur bisa bersikap atas ketidakadilan, penindasan, dan gejala-gejala buruk kekuasaan lainnya. Namun, karikatur punya batas-batas dalam dirinya. Karikatur bukan alat untuk melancarkan segala urusan dan tujuan. Kesantunan dan komitmen GM Sudarta terhadap prinsip kebenaran menjadi corak karya karikaturnya.

Selain karya karikatur Oom Pasikom di harian KOMPAS, GM Sudarta juga membuat karya lukis, ilustrasi, desain cover, bahkan juga seni instalasi.

Tapi, karikatur harus cerdas, tajam, dan bijak dalam memotret realitas hidup dan memberi penyadaran atau kritik yang baik. Setidaknya karikatur memberi tahu ada sebuah kesalahan atau penyelewengan. Karikatur tidak bisa merevolusi, dia hanya mencegah kesalahan ini agar tidak terjadi lagi,” ujarnya.

Oom Pasikom diciptakan untuk menyindir, mengkritik maupun mengolok —suatu misi ciptaan yang kontroversial. Tokoh karikatur ini bukan pengejek yang vulgar atau tukang bisik-bisik yang sukar tersimak suara dan pesannya. Bukan pula ia penjilat kekuasaan atau pembela buta segala bentuk kehendak massa. Tak pula ia sekadar melucu tanpa bobot tertentu, namun muatan yang luhur atau cerdas tersemat dalam kejenakaannya.

Bisa menggelikan dan sekaligus mencerahkan merupakan mutu yang kerap diberikan oleh kehadiran Oom Pasikom. Kejelian membaca beragam keadaan dan menentukan eksekusi visualnya membuat kehadirannya turut menjaga martabat dan citra gambar karikatur di negeri ini. Prestasi karya karikatur yang bernapas panjang ini juga telah menjadi bagian dari sejarah jurnalisme, sosial maupun politik selama tujuh dekade.


Latar sosial-politik kelahiran tokoh gambar karikatur Oom Pasikom adalah setelah berakhir era Soekarno dan tatkala era Soeharto bermula —dua era legendaris bagi negeri ini sejak masa kemerdekaan. Selama setengah abad lebih tokoh karikatur ini menjadi saksi dan komentator bagi sebagian perjalanan negeri ini.

Pemaknaan atau persepsi atas karikatur-karikatur Oom Pasikom bisa dikatakan sebagai cerminan opini publik kepada dinamika aktual di negeri ini. GM Sudarta, merupakan "Sang Imam Sindiran" atas sebagian gejala-gejala utama di masyarakat dan pemerintahan di negeri ini pada paruh kedua abad ke-20 dan paruh awal abad ke-21.

Setelah separuh abad rutin mengedarkan karikaturnya setiap hari, Sang Guru Sindiran ini berakhir hayatnya.

Akankah sejarah kehadiran Oom Pasikom tamat bersama ujung hayat penciptanya?


Benak sejarah
Oom Pasikom muncul pertama kali pada 1967 dan penciptanya wafat pada 2018 di usia 73 tahun. Yang pasti, kehadiran Oom Pasikom selama ini terpatri dalam benak dan sejarah negeri ini sebagai warisan kreatif dan intelektual yang amat berharga.

Oom Pasikom bukan sekadar berita bergambar. Bukan wataknya "mengganyang" yang disindirnya. Bukan tabiatnya "menghabisi" yang dikritiknya. Bukan pula sifatnya "menghina" yang dioloknya. Oom Pasikom menampilkan sejenis sikap berbahasa yang lunak, tetapi telak.

Karakter Oom Pasikom tidak bengis namun tak pula kompromistik. Wacana dalam karikaturnya yang telanjang tidak untuk mempermalukan. Yang disentilnya adalah kesadaran yang tak murahan, sejenis satir intelek tanpa terjatuh menjadi komunikasi visual yang tak sampai atau mengada-ada.

Sesungguhnya kehadiran Oom Pasikom juga merupakan pendidikan politik yang unik dan kreatif bagi khalayak luas. Kompleksitas dinamika sosial-politik kerap tertangkap intinya melalui cara sederhana yang lucu dan cerdas.

GM Sudarta, berpose di samping karya instalasinya berjudul: "Republik Tikus".

Apakah Oom Pasikom adalah "guru politik" bagi publik? Muatan karikatur ini tentu bukanlah sekadar merayakan isi dan cara pandang yang terpinggirkan dari batas-batas akal sehat kolektif. Bahkan tak jarang tampil jenial.

Sering ada "suspens" dari Oom Pasikom. Inilah yang bisa tak terduga dari kehadiran tokoh ini. Bukan sekadar keterkejutan. Meski hadir setiap hari selama setengah abad di harian Kompas, langka dijumpai ketaksegaran dalam kehadiran Oom Pasikom. Butuh stamina kepekaan, ketajaman, dan kreativitas yang tak biasa dalam rutinitas penciptaan Oom Pasikom. Berkejaran dengan dinamika dan isu aktual yang kompleks dan tak terduga. Ini sudah menjadi takdir Oom Pasikom sebagai bagian dari kehadiran surat kabar harian. Ini suatu ketakmudahan yang panjang dan berhasil dilaluinya dengan amat baik dan mengesankan.

Selamat jalan, Mas GM Sudarta. Jika pun tak lagi tercetak di lembaran surat kabar, Oom Pasikom akan tetap tercetak di benak sejarah perjalanan bangsa ini.

Binhad Nurrohmat,
Penyair, mukim di Rejoso, Jombang, Jawa Timur
KOMPAS, 7 Juli 2018

Sunday, June 10, 2018

Perginya Voltaire van Solo


Suatu siang Mas Dawam Rahardjo menelepon saya di kantor harian Republika. Ia bilang, ia sudah mendengar kontroversi yang melibatkan saya, dan bahwa saya akan diskors atau dipecat dari koran itu. Ia sudah bicara dengan Pak Habibie supaya terhadap saya tidak perlu ada tindakan disipliner dan sejenisnya.

Mas Dawam kemudian menyatakan maksudnya menelepon saya. Ia ingin minta penjelasan tentang tulisan saya yang menjadi sumber protes sejumlah ormas Islam itu. “Apa sih isinya? Saya belum baca,” katanya. “Tapi saya tidak setuju dengan tindakan apapun terhadap diri Anda! Saya perlu tahu detail kontroversi ini. Bisa nggak, Anda ceritakan isi tulisan itu?

Intinya, saya bilang, saya menyebut Nike Ardilla itu sebagai contoh anak muda yang kaki kirinya masih di wilayah tradisionalisme/religius, kaki kanannya mulai menapak di modernisme berkat popularitas yang tiba-tiba dinikmatinya sebagai penyanyi belia.

Ambiguitas itu terlihat dari fakta bahwa di mobil yang dikendarainya ia membawa mukena dan sajadah; dan malam itu ia pulang pukul 11 malam dari sebuah diskotik, dan mobil mengalami kecelakaan parah yang menyebabkan kematiannya.

Almarhumah Nike Ardilla.

Banyak sekali orang, mungkin kita semua termasuk di dalamnya, yang menghadapi ambiguitas seperti penyanyi Bandung itu dalam kadar masing-masing.

Menurut Mas Dawam, itu penjelasan sosiologis yang sangat baik. Lalu kenapa tulisan seperti itu diprotes keras? Sebab di akhir tulisan (editorial, jadi anonim; entah bagaimana banyak yang tahu bahwa saya penulisnya), dipanjatkan doa semoga Nike tidur tenteram di sisiNya.

Inti protes: tulisan itu seolah-olah menyatakan bahwa Tuhan tidur; padahal Dia tak pernah tidur, dan seterusnya. Lalu wakil-wakil dari 18 ormas Islam mendatangi kantor Republika.

Mereka diterima untuk berdialog dengan Dewan Redaksi, termasuk Adi Sasono, Dawam Rahardjo, Quraish Shihab, Soetjipto Wirosardjono dan beberapa orang lain. Dialog berlangsung cukup panas. Saya sendiri tidak boleh hadir.

Mereka juga memprotes Ihsan Ali-Fauzi, yang menurunkan tulisan bernada pujian kepada Ahmad Wahib dan catatan hariannya yang masyhur, “Pergolakan Pemikiran Islam.”


Di akhir tahun 1994 itu, Mas Dawam juga berkata di telepon: “Saya mungkin tidak setuju dengan pendapat Anda, tapi hak Anda untuk mengungkapkan pendapat itu akan saya bela sampai mati!

Dan ia bukan hanya mengutip Maksim Voltaire itu, tapi sungguh-sungguh mengamalkannya. Saya dengar ia melobi beberapa orang dekat Pak BJ Habibie, bahkan menyempatkan diri membahas kasus itu kepada Pak BJ Habibie sewaktu ia ikut rombongan BJ Habibie ke Jerman.

Saya tidak jadi dipecat. Tidak perlu pula harus menulis surat pengunduran diri seperti salah satu opsi semula. Saya hanya diskors beberapa bulan; kalaupun menulis, nama saya tidak boleh muncul. Sebab urusannya sudah diambil alih Dirjen PPG Subrata, atas perintah Menteri Penerangan Harmoko.

Saya diselamatkan oleh Monsieur Voltaire, yang kali ini berbentuk seorang pemikir ekonomi besar yang tekun, jujur dan berkomitmen penuh terhadap apa saja yang baik bagi Indonesia.


Maksim Voltaire itu pula yang sepuluh tahun kemudian membuat kami bertengkar keras. Lia Aminuddin dan kelompoknya diserang oleh opini publik, bahkan ancaman kekerasan, karena ia mengancam ulama-ulama tertentu dengan sejumlah ayat Al-Quran.

Mas Dawam membela posisi Lia dengan alasan Lia hanya mengutip ayat Al-Quran. Saya bilang, itu pun merupakan ancaman. Lia yang mengklaim mendapat wahyu dari malaikat Jibril itu mengancam pemrotesnya dengan meminjam tangan Al-Quran.

Tapi keberatan utama saya pada Lia adalah karena dia sendiri melakukan bentuk-bentuk penindasan terhadap pengikutnya, termasuk yang masih kanak-kanak. Saya tidak akan ikut-ikutan menyerang, mengingat konteks suasana politik, tapi juga tidak akan membelanya, sebab itu bertentangan dengan prinsip-prinsip yang saya yakini.

Mas Dawam menggebrak meja dan berdiri dari kursinya karena sangat keberatan dengan sikap saya. Semua peserta rapat terdiam. Dalam diam, saya bertekad di batin: Saya tidak akan melawan senior yang sangat saya hormati itu, sambil tak selamanya akan bersepakat dengannya.


Dia marah seperti apapun, saya hanya akan diam. Bukan semata karena ia pernah membela saya dalam kasus Republika. Tapi terutama karena ia berjasa besar untuk bangsa ini; untuk begitu banyak lembaga sosial yang ia dirikan dan ia bantu; untuk kesediaannya mendidik kawan-kawan saya dalam metode penelitian sosial dan sebagainya.

Tentu saja juga untuk kerja-kerasnya melakukan pendidikan publik, sejak ia masih aktifis HMI di Jogja tahun 1960-an, melalui produktifitasnya dalam menulis isu-isu ekonomi secara mendalam dan penuh kesungguhan –tanpa saya harus selalu setuju dengan perspektif dan nada umum esai-esainya itu.

Dalam sepuluh tahun terakhir kesehatannya turun-naik. Kadang saya masih mewawancarainya untuk acara radio yang saya asuh.

Lalu saya dengar ia berobat ke Beijing. Berulang kali saya ingin membahas isu-isu favoritnya dengannya, tapi selalu saya batalkan karena kuatir kesehatannya makin memburuk.


Seperti semua pemikir serius, kadang ia kesepian. Tidak tahu dengan siapa suatu masalah perlu ia bicarakan. Beberapa kali ia menelepon saya pukul 5.30 pagi –selepas ia shalat Subuh, tampaknya.

Dalam resepsi ultah LP3ES ke 45 dua tahun lalu (2016), saya sempat mengobrol kecil dengannya, yang saya kenal sejak 1981 di Jogja. Dalam kekurusan tubuhnya yang makin mencolok, ia tampak bahagia dikelilingi para junior yang mengerti cara berterima kasih dan cara menghormati Pak Guru yang tak selalu sabar itu.

Baru saja muncul kabar: Mas Dawam Rahardjo telah pergi. Meski kami para rekan juniornya tahu bahwa kami hanya menanti harinya, kabar runcing itu tetap menusuk ulu hati saya. Perih, terasa.

Hamid Basyaib
Aktivis dan mantan wartawan,
Menerbitkan sejumlah buku tentang Islam, masalah-masalah sosial, dan politik internasional.
https://geotimes.co.id/kolom/dawam-rahardjo-voltaire-van-solo/
https://www.facebook.com/hamid.basyaib/posts/10156401523529894


Catatan Asro Kamal Rokan

Dawam Rahardjo telah tiada. Cendekiawan muslim itu wafat Rabu (30/5/2018) malam di RS Islam Jakarta. Sejak tahun lalu, Mas Dawam —begitu sapaan akrabnya— menderita diabetes, jantung, dan stroke.

Kabar wafatnya Mas Dawam segera menyebar di jejaring sosial. Banyak yang terkejut dan bahkan tidak percaya. Selama beberapa tahun terakhir ini, Mas Dawam —dilahirkan di Solo, 20 April 1942— jarang mucul di publik. Terakhir, saya bertemu beliau saat pemakaman Pak Adi Sasono, Agustus 2016. “Kondisi Bapak terus menurun dalam beberapa bulan ini karena penyakit diabetes,” kata Jauhari Rahardjo, putra kedua Dawam.

Saya mengenal Mas Dawam di Republika, 1995. Bersama Mas Adi Sasono (alm), Pak Soetjipto Wirosardjono, dan sesekali Pak Amien Rais, hadir dalam rapat-rapat redaksi. Mereka memberi masukan dan informasi tentang berbagai hal, terutama politik dan ekonomi kepada kami yang junior. Mas Dawam, adalah orang yang suka mendengar dan sangat menghargai pemikiran orang lain.


Jauh sebelum di Republika dan Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI), nama Mas Dawam sudah dikenal. Kalangan akademisi, aktivis mahasiswa, tokoh-tokoh poltik, dan kelompok-kelompok strategis mengenal pemikiran-pemikiran politik ekonomi Mas Dawam pada tahun 1970-an melalui jurnal bulanan sosial dan ekonomi, Prisma, yang diterbitkan Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES).

Jurnal yang dipimpin Mas Dawam ini menjadi referensi dan bacaan kalangan intelektual. Analisis dan pemikiran jurnal ini selalu kritis. Dan, ini tidak disukai rezim Orde Baru. Bahkan, jurnal ini dianggap menyebarkan paham kiri. Pada April 1983, Mas Dawam, Ismid Hadad, dan Daniel Dhakidae diinterogasi Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta. Mungkin ini juga menjadi salah satu faktor, Mas Dawam tidak diperkenankan Departemen Penerangan, menjadi pemimpin redaksi Republika.

Mas Dawam pendiri LP3ES bersama Adam Malik, Bintoro Tjokroamidjojo, Dorodjatun Kuntjorojakti, Emil Salim, Koentjoroningrat, Selo Soemardjan, Soetjipto Wirosardjono, Soemitro Djojohadikusumo, Taufik Abdullah, dan Umar Kayam. Lembaga swadaya masyarakat ini bergerak dalam penelitian, studi kebijakan dan riset aksi, terutama yang berhubungan dengan kepentingan masyarakat bawah.


Mas Dawam adalah intelektual muslim yang dikenal kritis. Sebagai salah seorang pemimpin Muhammadiyah, Mas Dawam bisa berbeda pendapat dengan organisasinya, terutama dalam membela prinsip-prinsip kesetaraan. Atas konsistensinya membela kelompok-kelompok minoritas, di antaranya Jemaah Ahmadiyah, Dawam dianugerahi penghargaan HAM, Yap Thiam Hien Award, pada tahun 2013. Namun itu pula yang lantas memicu konflik di antara pengurus pusat Muhammadiyah. Dawam akhirnya memilih mundur.

Mas Dawam aktif mendirikan ICMI, antara lain bersama Pak BJ Habibie, Mas Adi Sasono, Pak Amien Rais, dan Imaduddin Abdulrahim. Organisasi cendekiawan ini sempat dianggap sektarian oleh pengritiknya, namun Mas Dawam tidak peduli. Dia ingin mendorong umat Islam bangkit, terpandang, dan mandiri. Melalui ICMI, Mas Dawam menggagas pendirian Bank Syariah dan membidani lahirnya Baitul Mal wat-Tamwil (BMT).

Beberapa karya analisa dan buku Mas Dawam, antara lain Esai-Esai Ekonomi Politik (1983), Deklarasi Mekah: Esai-Esai Ekonomi Islam (1987), Etika Bisnis dan Manajemen (1990), Habibienomics: Telaah Pembangunan Ekonomi (1995), Paradigma Al-Quran: Metodologi dan Kritik Sosial (2005), Nalar Politik Ekonomi Indonesia (2011), Intelektual, Intelegensia, dan Perilaku Politik Bangsa, Masyarakat Madani, Kelas Menengah dan Perubahan Sosial, dan lain-lain.


Walau tidak jarang pemikirannya memicu kontroversi, namun Mas Dawam adalah tokoh yang mewarnai alam pikiran Islam Indonesia modern. Pemikiran dan sosok Dawam banyak mewarnai pemikiran intelektual muda berikutnya di antaranya Azyumardi Azra, Komaruddin Hidayat, Din Syamsuddin, Bahtiar Effendy, Budhi Munawar Rahman, dan lain-lainnya.

Beberapa jam setelah wafat, di jejaring sosial, cerita pendek Mas Dawam berjudul Wirid, yang dimuat di Kompas, 16 Oktober 1994, beredar dan viral. Bahasanya indah, daya lukisnya kuat, dan romantis.

Aku mengecup kedua mata istriku yang terakhir kalinya ketika jenazahnya hendak digotong ke masjid sebelah, hendak dishalatkan. Bulu matanya terasa di bibirku, seolah ia masih hidup.

Itulah kalimat terakhir cerpen Wirid karya Mas Dawam, yang ditulisnya pada 10 Oktober 1994, setelah istrinya, Zainun Hawairiah, wafat. Mas Dawam sangat mencintai istrinya, Zainun.


Ia adalah seorang istri yang sederhana, seorang yang rajin beribadah. Ia selalu menungguiku ketika menulis di waktu malam, walaupun sering tertidur di depan TV atau di samping radio,” tulis Dawam dalam kata pengantar buku karyanya berjudul Ensiklopedi Al-Quran (2002). Pada buku itu, Dawam menyebut tiga wanita, Mutmainnah (ibunya), Zainun (almarhumah istrinya), dan Sumarni (istri Dawam yang dinikahi pada 17 Maret 1995).

Mas Dawam —lelaki berwajah bersih dan suka berpakaian rapi— itu telah pergi selamanya, menyusul ibu, istri, dan orang-orang yang dicintainya. Almarhum meninggalkan banyak warisan: buku-buku, karya ilmiah, keteladanan, dan cintanya ....

Selamat jalan Mas Dawam. Setiap orang punya giliran untuk pergi memenuhi janjinya ....

Asro Kamal Rokan
Ceknricek.com
https://ceknricek.com/a/mas-dawam-warisan-intelektual-dan-cinta/950

Saturday, May 5, 2018

Peran Ilmuwan Sosial di Era Mahadata


Di era data melimpah atau mahadata (big data) dewasa ini, dalam banyak hal peran ilmuwan sosial tergusur oleh siapa saja yang mampu menganalisis data melimpah untuk keperluan praktis tertentu.

Kecenderungan elektabilitas tokoh atau partai politik menjelang pemilu yang ditimba dari analisis mahadata, misalnya, dewasa ini tengah menjadi kecenderungan. Mahadata sebagai himpunan data (data set) yang luar biasa besar jumlahnya, sedemikian rumit dan tak terstruktur dipakai sebagai basis analisis yang dengan aplikasi rumus algoritma tertentu mampu menghasilkan data baru yang bahkan realtime. Penggunaannya tak sekadar sebatas bidang ekonomi dan bisnis, tetapi juga politik.

Mark Zuckerberg, founder dan owner Facebook.

Hingga kini masih hangat perbincangan kasus kontroversial yang menyebabkan Mark Zuckerberg dimintai kesaksiannya oleh Kongres Amerika Serikat terkait kebocoran data pengguna Facebook. Data tersebut berikut jutaan data pengguna media sosial lainnya telah dimanfaatkan Cambridge Analytica, perusahaan yang didirikan Steve Bannon, mantan ketua tim strategi Gedung Putih, untuk kampanye Pilpres AS 2016 dalam rangka memenangkan Trump.

Sebagai pemilik Facebook, Zuckerberg mengaku tak dapat mengemban tanggung jawabnya dengan baik, melakukan kesalahan besar, dan meminta maaf. Fenomena menghebohkan publik internasional ini segera memicu kesadaran bersama tentang rentannya data pribadi di media sosial untuk disalahgunakan dan aspek perlindungannya atas data pribadi tersebut.


Fenomena ilmu-ilmu sosial di era mahadata telah menarik perhatian Menteri Sekretaris Negara Pratikno dalam uraian orasinya pada pelantikan pengurus Himpunan Indonesia untuk Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (HIPIIS), di Jakarta, 17 April 2018.

Pratikno mengingatkan ragam konsekuensi baru yang menyertai revolusi industri 4.0, terutama terkait banyaknya jenis pekerjaan yang diambil alih oleh mesin atau perangkat kecerdasan artifisial. Namun demikian, dia melihat ilmuwan sosial masih tetap memiliki peran penting dalam mempertahankan tradisi berpikir mendalam (deep thinking) dalam bingkai nilai-nilai kemanusiaan guna membangkitkan kreativitas manusia. Mereka berperan membingkai makna, menganalisis secara mendalam potensi keuntungan dan risiko hal-hal baru di tengah era mahadata yang berkecenderungan mengondisikan cara berpikir instan, artifisial, serba cepat, praktis, dan pragmatis.

Masalah berpegang pada nilai, digarisbawahi pula oleh Ketua HIPIIS Muhadjir Effendy, bahwa kendatipun arah perkembangan ilmu sosial sangat lekat dengan teknologi, tetapi imajinasi, kreativitas, empati, kemampuan berjejaring, negosiasi dan pengambilan keputusan berdasarkan pertimbangan norma, tetap tak tergantikan (KOMPAS, 18/4/2018). Penegasan ini mengingatkan bahwa pada hakikatnya ilmu sosial merupakan roh dari segala ilmu karena terdapat dimensi norma dan nilai-nilai kemanusiaan yang dijadikan pegangan.

"Big Data, got it. Now, what?"

Berpikir mendalam
Tradisi berpikir mendalam itulah yang membuat ilmuwan sosial tetap penting dan diperlukan, walaupun terkesan terpinggirkan. Banyak kajian tentang hakikat berpikir mendalam, tetapi yang cukup populer bisa merujuk Garry Kasparov, Deep Thinking: Where Machine Intelligence Ends and Human Creativity Begins (2017).

Buku Kasparov, pemain catur terbesar sepanjang masa yang pensiun pada 2005 ini, mengisahkan pengalamannya kalah tipis dari superkomputer IBM Deep Blue pada 1997. Fenomena manusia melawan mesin itu bagaimanapun mengingatkan bahwa kecerdasan buatan (artificial intelligence) semakin menjadi lawan tanding kecerdasan alamiah manusia yang tak dapat diremehkan.

Revolusi industri 4.0 merefleksikan pengalaman Kasparov itu ke konteks lebih luas. Keberlimpahan data, kecerdasan buatan, dan hal-hal penting lainnya pasca-internet, semakin menantang. Kendatipun demikian, Presiden Joko Widodo dan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dalam konteks ini mengingatkan untuk juga melihat sisi peluang. Di ranah ilmu-ilmu sosial merujuk Mensesneg Pratikno, peluangnya mengerucut pada penguatan tradisi berpikir dan pemberi makna mendalam serta penumbuh kreativitas (human creativity).


Peran ilmuwan sosial
Masalahnya, bagaimana ilmuwan sosial mampu berkonsentrasi mempertahankan tradisi berpikir mendalam dan kreatif, justru di tengah kompleksitas tantangan zaman now? Dalam konteks ini, ilmuwan sosial harus tetap berikhtiar dengan berpikir kritis dan bersikap obyektif dalam bingkai nilai-nilai kemanusiaan, terlepas dari posisinya apakah di lingkaran kekuasaan atau tidak.

Sebagai ilmuwan sosial yang tersohor pada masanya, Soedjatmoko pernah mengingatkan pentingnya "dimensi manusia" dalam pembangunan. Ini artinya, ilmuwan sosial harus tetap berdiri di barisan paling depan sebagai juru ingat, agar proses-proses pembangunan tidak melupakan "dimensi manusia".

Ilmuwan sosial harus tetap bekerja berbasis riset disertai kemampuan reflektif yang bertumpu pada nilai-nilai kemanusiaan. Ilmuwan sosial tetap menjadikan perguruan tinggi dan lembaga-lembaga riset akademis sebagai basis pengembangan keilmuan. Ilmuwan sosial bukan entitas bebas nilai. Mereka bekerja dalam bingkai nilai-nilai kemanusiaan dan peradaban.


Mereka punya tanggung jawab sosial dan kemanusiaan kendatipun tetap bekerja secara obyektif dan akademis. Kontribusi pemikirannya sangat diperlukan dalam merespons masalah-masalah bangsa yang beragam, dari soal demokrasi hingga masa depan integrasi bangsa. Ilmuwan sosial dapat mengedepankan pendekatan optimistis dalam memaknai pembangunan di tengah ragam realitas obyektif permasalahan bangsa.

Peran ilmuwan sosial membentang dari pemikiran dan perencanaan pembangunan, pembingkai makna berbagai fenomena sosial kebangsaan, hingga sikap kritis dalam mengingatkan peran dan tanggung jawab kelembagaan negara dan politik dalam tradisi demokrasi. Ilmuwan sosial juga jembatan perkembangan teknologi dan realitas sosial ke dalam pertimbangan cermat dan mendalam dalam proses pengambilan kebijakan, pun pemberi alternatif solusi masalah krusial kebangsaan dan perawat akal sehat kolektif. Yang terakhir ini penting tatkala dinamika komunikasi media sosial sarat dengan propaganda kebohongan (hoaks).

M Alfan Alfian
Dosen Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Nasional
dan Pengurus Pusat HIPIIS
KOMPAS, 30 April 2018