Thursday, November 8, 2018

Terselap Menjadi Manusia


Manusia tidak menganyam jaring kehidupan. Kita adalah seutas benang di dalamnya. Apa yang kita lakukan terhadap jaring, sama artinya: kita melakukannya terhadap diri kita sendiri. Semua yang ada (di dalam jaring) memiliki keterikatan satu sama lain. Semua saling terhubung.
(Kepala Suku Seattle dari suku asli Amerika, Suquamish dan Duwamish).

Laporan khusus Panel Para Ahli Perubahan Iklim (IPCC) pada 8 Oktober lalu telah  membawa kabar mencemaskan melalui Laporan Khusus Pemanasan Global 1,5° Celsius. Laporan itu mempertegas ancaman besar bagi keberlanjutan Bumi akibat pemanasan global dan perubahan iklim. Kenaikan suhu 1,5° Celsius selayaknya menjadi pilihan jika ingin menghindarkan Bumi dari bencana apokaliptik.

Laporan tersebut disusul laporan Living Planet Report 2018 dari organisasi lingkungan WWF International awal pekan ini, Selasa (30/10/2018). Laporan ini ibarat “barang sama dengan kemasan berbeda” jika disandingkan dengan laporan IPCC. Pesan yang disampaikan WWF memperkuat pesan IPCC: kehancuran ekosistem semakin dekat. Maka harus ada pilihan lain dalam cara mengonsumsi.


Kita saat ini telah tiba pada Era Anthropocene ––istilah yang diperkenalkan Paul Crutzen. Era ketika peran manusia demikian dominan. Pertama kalinya dalam sejarah kehidupan lebih dari empat miliar tahun, aktivitas manusia berdampak pada lingkungan dalam skala planet.

Era ini juga disebut sebagai Era Percepatan Luar Biasa (Great Acceleration) karena di era ini terjadi perubahan drastis terhadap ekosistem. Ledakan penduduk mencapai lebih dari 7,6 miliar, memberikan tekanan luar biasa pada alam untuk pemenuhan kebutuhan terutama pada energi, tanah, dan air. Eksploitasi berlebihan karena keserakahan mengonsumsi dan aktivitas pertanian telah menyebabkan tekanan pada kehati (keanekaragaman hayati).

Kehidupan manusia ditopang oleh alam. Kebutuhan akan pangan dan semua produk konsumsi berasal dari alam. Aktivitas manusia terutama dalam aktivitas ekonominya demi memenuhi kebutuhan konsumsinya telah meninggalkan “Jejak Ekologis” yang selama ini tersembunyi. “Jejak Ekologis” merupakan harga ekologis yang harus kita bayar akibat eksploitasi alam untuk pemenuhan bahan baku, proses produksi, hingga rantai suplai.


Aktivitas ekonomi diperkirakan telah menggunakan sumber daya alam senilai 125 triliun dollar AS per tahun (sekitar Rp 1.875 juta triliun, dengan kurs Rp 15.000 per dollar AS). Sementara luas tanah yang terbebas dari aktivitas manusia tersisa tinggal  25 persen. Diperkirakan luasan itu akan tinggal tersisa 10 persen pada tahun 2050 apabila tingkat penggunaan sumber daya alam bertahan seperti sekarang. Pertanian, skala besar dan skala subsisten tercatat bertanggung jawab pada 40% dan 33%  konversi hutan sepanjang tahun 2000-2010. Sementara, 27% deforestasi terjadi akibat urbanisasi, pembangunan infrastruktur, dan pertambangan.

Tanpa alam yang sehat mustahil manusia masih bisa terus membangun dan berkembang. Ancaman berupa menurunnya kualitas tanah, kekurangan air, dan iklim ekstrem telah menjadi pemikiran tentang kinerja ekonomi makro dan aktivitas finansial.

Degradasi lahan akibat tekanan permintaan akan produk telah mengakibatkan hilangnya kehati. Salah satu rumah kehati yaitu hutan tropis yang merupakan rumah kehati dalam jumlah tinggi. Laporan WWF menggarisbawahi berapa banyak kehati yang telah punah. Secara garis besar terjadi penurunan populasi spesies sekitar 60 persen antara tahun 1970-2014.


Sementara tingkat kepunahan saat ini mencapai 100 hingga 1.000 kali lipat dibanding saat aktivitas manusia belum dominan dalam mempengaruhi kesehatan alam. Namun di sisi lain disadari bahwa nasib jutaan spesies belum menjadi pusat perhatian pengambil kebijakan dan mendorong percepatan perlindungan kehati.

Akan tetapi tidak banyak pihak yang menyadari bahwa pemulihan hutan tropis, rumah besar kehati (keanekaragaman hayati), tak akan pernah mampu mengembalikan atau memulihkan keanekaragaman itu dari fungsi ekosistem yang telah telanjur hilang. Belum lagi peran rumit serangga dan organisme mikro yang menjadi penghubung dalam jejaring ekosistem.

Penghancuran satu habitat bisa melenyapkan satu produk tertentu karena serangga sebagai pembantu proses penyerbukannya telah lenyap. Hilangnya satu mata rantai ekosistem akan menghancurkan mata rantai lainnya.


Kesadaran akan pentingnya lingkungan dan ekosistem bagi keberlanjutan planet dan kehidupan manusia telah ada sejak lahirnya Hari Bumi pada tahun 1992. Namun demikian, eksploitasi terhadap alam tak kunjung surut melainkan justru semakin masif. Fungsi alam di luar fungsi ekonominya sebagai penyedia barang dan jasa, tersisihkan dari imajinasi banyak pembuat kebijakan.

Fungsi lain alam yang terkait dengan kehidupan sosial, spiritual, agama, dan kultural seperti yang telah dihayati masyarakat asli atau masyarakat adat, tak pernah dikalkulasi dan menjadi basis pertimbangan dalam pembuatan kebijakan.

Semenjak pencanangan Hari Bumi, konferensi demi konferensi yang berisikan diskusi dan negosiasi terkait penyelamatan bumi, pembangunan berkelanjutan, dan penyelamatan keanekaragaman hayati terus bergulir. Semakin banyak dan semakin masif. Frasa-frasa baru bermunculan silih berganti.


Kita masih ingat, enam tahun lalu pada konferensi merayakan Rio+20, lahir frasa “The Future We Want” (Masa Depan yang Kita Inginkan). Berlelah-lelah semua elemen warga dunia dimintai pendapat tentang masa depan yang mereka inginkan. Hasilnya?

Enam tahun setelahnya, sampah plastik menjadi momok baru, bahkan dalam tubuh manusia telah ditemukan remah-remah plastik. Penghancuran hutan terus berlangsung dan pelaku bisa melenggang dengan menunggangi peraturan hukum yang seperti jaring: berlubang banyak. Perburuan, pembunuhan, dan perdagangan satwa liar yang dilindungi tetap marak bahkan meningkat karena modus dan teknologi yang semakin canggih.

Manusia terseret pada ide gigantisme. Meraksasa, mengejar ukuran. Schumacher menangis dari balik kubur. Ide “kecil itu indah” yang dia tawarkan terpuruk ke sudut-sudut gelap keserakahan. Dengan ukuran masif, maka kerusakan lingkungan yang terjadi pun menjadi sangat masif.


Seperti diucapkan Presiden Dewan Internasional WWF, Pavan Sukhdev dalam salah satu sajiannya, manusia terjebak dalam penjara konsep “too big to fail”. Ketika suatu korporasi terlalu besar, maka kejatuhannya bakal membawa risiko yang amat besar sehingga logika (ekonomi) mengatakan: jangan biarkan dia jatuh.

Manakala sebuah perusahaan besar kalah dalam persidangan pun, eksekusi tak berjalan atau pendekatan persuasif  didahulukan. Pameo “pedang hukum majal ke atas tajam ke bawah” terus hidup langgeng.

Namun seiring lahirnya berbagai komitmen global, semuanya pada akhirnya mengerucut pada komitmen untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) yang disepakati anggota PBB pada akhir tahun 2015 dalam bentuk dokumen, Transforming our world: the 2030 Agenda for Sustainable Development.


Tahun 2020 menjadi tahun krusial sebagai langkah antara untuk mencapai TPB. Pada tahun itu komitmen Perjanjian Paris terkait isu perubahan iklim untuk menurunkan emisi karbon telah dimulai, sementara Target Aichi dalam isu keanekaragaman hayati pada tahun yang sama juga memiliki target untuk dicapai.

Tahun 2020, seperti pandangan WWF, akan menjadi tahun penting. Penentu sikap kita manusia sebagai salah satu elemen ekosistem dan Bumi: akan menjadi penghancur atau penyelamat Bumi.

Megutip kalimat penutup Living Planet Report 2018, “Kami adalah generasi pertama yang memiliki gambar jelas akan nilai alam dan dampak luar biasa yang kita timbulkan. Kita mungkin merupakan generasi terakhir yang bisa bertindak untuk membalikkan arah kecenderungan ini. Saat ini hingga 2929 akan menjadi momen menentukan dalam sejarah.”


Namun, saat ini manusia sungguh sedang kehilangan jati dirinya sebagai Homo Sapiens ––makhluk yang mampu berpikir seturut nalar, ketika nalar bersentuhan dengan nafsu keserakahan. Mereka lupa bahwa kehancuran ekosistem dan jejaringnya akan menelan dirinya sendiri karena manusia adalah benang dalam jejaring ekosistem.

Manusia kini seakan telah terselap atau tiba-tiba lupa akan dirinya sebagai manusia yang sejati, Homo Sapiens, makhluk yang berpikir .…

Brigitta Isworo Laksmi
Wartawan Senior Kompas
KOMPAS, 6 November 2018

Monday, October 1, 2018

Kontestasi Politik Baju Putih


Baju “kebesaran” Presiden Joko Widodo dan Prabowo Subianto sama-sama putih. Keduanya kini bersaing dalam Pemilu Presiden 2019. Mereka sama-sama nasionalis dan bercita-cita membesarkan Indonesia. Sama-sama ingin memberikan hasil kerja yang manis bagi rakyat pemilih. Mereka pun siap memperebutkan 196,5 juta suara pemilih (berdasarkan data Komisi Pemilihan Umum).

Diharapkan, mereka mampu menggelar kampanye berbasis budaya yang menekankan logika (kebenaran), etika (keadaban), dan estetika (keindahan). Kebenaran diproduksi berdasarkan data dan fakta secara obyektif atau mengungkapkan realitas sosiologis, bukan hoaks. Keadaban berporos pada moralitas yang dijunjung tinggi dan diaktualisasi untuk menciptakan berbagai kebaikan publik; bukan jatuh pada pengadilan personal berupa fitnah. Keindahan bersumbu pada nilai-nilai kepantasan dan keanggunan, menjauhi kekerasan verbal maupun fisik. Muara dari kebenaran, keadaban, dan keindahan adalah peradaban bangsa yang memuliakan nilai-nilai kemanusiaan dan kebangsaan.


Semiotik-semantik
Kontestasi Jokowi dan Prabowo secara semiotik dan semantik (baca: keduanya sama-sama menggunakan baju berwarna putih) adalah kontestasi yang berasal dari satu “rahim kesucian niat dan jiwa yang bersih”, layaknya makna warna putih. Warna bukan hanya jadi tanda, melainkan juga mencerminkan kejiwaan sekaligus pesan yang disampaikan penggunanya.

Dengan memilih warna putih, Jokowi dan Prabowo ingin menyampaikan pesan tentang “jiwa bersih dan suci”. Dalam bahasa sosial pesan itu bisa diterjemahkan “perjuangan tanpa pamrih, dedikatif, dan bisa dipercaya”. Begitulah semestinya pemimpin, selalu meletakkan kepercayaan di atas segalanya. Adapun di dalam praktik kepemimpinan, semua makna kebaikan itu menuntut integritas, komitmen dan kapabilitas serta konsistensi.


Untuk celana panjang, Jokowi memilih hitam dan Prabowo memilih coklat muda. Warna hitam pada celana yang dikenakan Jokowi memiliki filosofi: “keberanian, pusat perhatian, ketenangan, kekuatan/keteguhan hati, dan lebih menyukai yang alami daripada yang palsu”. Warna coklat muda pada celana yang dikenakan Prabowo memiliki makna: “mengandung unsur bumi, hangat, nyaman, dan aman”. Secara psikologis warna coklat akan memberi kesan kuat dapat diandalkan. Warna ini melambangkan sebuah fondasi dan kekuatan hidup. Kelebihan lain, warna coklat dapat menimbulkan kesan modern, canggih, dan mahal karena kedekatannya dengan warna emas (goodmind.id).

Jika Jokowi melipat lengan baju, Prabowo memilih mengancingkan lengan baju di pergelangan tangan. Dengan lengan baju dilipat, Jokowi ingin tampil laiknya anak muda tipe pekerja yang tak terikat formalitas. Ekspresif. Sementara Prabowo ingin menunjukkan kesan resmi dan serius. Pada tataran semiotika, kedua capres menunjukkan hal-hal yang ideal dan memberi pesan, “keduanya sama-sama berpotensi untuk dipilih”. Persuasi simbolik ini diharapkan mampu menambah keyakinan pemilih dalam memberikan dukungan suara kepada kedua capres.

Dulu ada yang berjanji untuk setia. Akan tetapi realita membuktikan, bahwa "bla... bla... bla..."

Kesederhanaan dan ide besar
Menilik sejarah kepresidenan republik ini, persoalan karakter dan penampilan merupakan dua hal yang disukai publik. Soekarno selain dikenal sebagai pemimpin cerdas, visioner, dan berani juga selalu tampil dandy. Gagah. Tampan. Berwibawa. Peci hitam, kacamata hitam, baju putih, celana putih, dan tongkat komando merupakan ikon yang selalu melekat pada Putra Sang Fajar itu.

Soeharto yang berlatar belakang militer cenderung tampil ala priayi Jawa. Baju safari, setelan jas, baju batik, dan peci selalu menyertainya. Citra kebapakan yang mengayomi pun tecermin. Penampilan yang tidak terlalu berbeda juga tampak pada BJ Habibie. Citra teknokrat melekat cukup kuat.

Abdurrahman Wahid, di luar setelan jas, cenderung mengenakan baju batik dan peci. Citra kesantrian sangat kuat. Megawati Soekarnoputri tampil dengan citra kuat seorang ibu, dengan mengenakan kebaya. Rapi dan elegan. Susilo Bambang Yudoyono (SBY) yang berlatar belakang militer selalu tampil elegan dan berwibawa, baik ketika mengenakan jas maupun baju batik. Citra kesantunan, kecerdasan, ketenangan, dan kehati-hatian terpantul dari SBY. Bagaimana dengan Jokowi? Berlatar belakang orang biasa, rakyat jelata, Jokowi tampil sederhana dengan baju putih dan celana hitam, kadang-kadang baju batik. Ia berpenampilan ala anak muda.


Kontestasi Jokowi dan Prabowo berlangsung secara politik dan simbolik. Gaya dan kostum Prabowo mendekati gaya presiden-presiden RI yang resmi dan serius. Adapun gaya dan penampilan Jokowi cenderung sederhana dan tidak formal.

Pilihan pada kostum dan gaya penampilan sejatinya tidak jauh dari cara berpikir dan karakter seseorang. Kesederhanaan Jokowi mencerminkan cara pandang dan karakter dirinya yang lebih memilih nilai-nilai berbasis tindakan (praksis) daripada teori muluk-muluk. Hal ini dia terjemahkan dalam slogan “kerja, kerja, dan kerja”. Jokowi adalah seorang praktisi. Nilai atas peran sosial ditentukan secara empiris.

Adapun Prabowo cenderung menyukai gagasan-gagasan besar seperti isu nasionalisme, kejayaan Indonesia, antidominasi dan hegemoni asing, pentingnya harkat-martabat bangsa, dan lainnya. Ia selalu menggunakan gaya retorika ketika berpidato. Baginya, berpidato selain memaparkan ide juga menggembleng rakyat. Citra yang dibangun Prabowo adalah pentingnya ketegasan bagi seorang pemimpin.


Dua-duanya menarik. Tentu masing-masing memiliki pendukung, baik secara ideologis, rasional, maupun emosional. Kontestasi niscaya akan berlangsung sangat ketat. Jumlah suara yang diperebutkan Jokowi dan Prabowo, menurut KPU, sekitar 196,5 juta. Sekitar 40 persen dari jumlah pemilih adalah generasi milenial. Mereka berkomitmen pada pemilu damai.

Masyarakat menunggu penubuhan (perwujudan) pemilu damai ini sehingga Pilpres 2019 lebih mengutamakan nilai, gagasan, serta produk-produk politik yang bermakna bagi penguatan kebangsaan dan peningkatan kesejahteraan publik. Ini jumbuh atau menyatu dengan niat suci mereka yang disimbolkan dengan baju putih yang dikenakan.

Indra Tranggono,
Pemerhati Kebudayaan
KOMPAS, 29 September 2018

Wednesday, September 12, 2018

Berawal dari Perpustakaan Keluarga


Sebelum mampu membaca, ia lebih dulu mengamati benda-benda yang tertata di rak dalam rumahnya. Setiap saat, setiap kali bermain-main di dalam rumah, ia kerap berhenti di depan rak-rak itu: memandangi benda-benda di dalamnya yang ditata berjajar, atau kadang pula hanya ditumpuk begitu saja. Sebagai anak-anak, ia terpukau, lalu bergumam, “Benda apakah ini? Untuk apa benda-benda ini? Apakah benda-benda ini bisa dimakan?”

Bertahun-tahun kemudian, ia baru tahu bahwa benda-benda yang membuatnya terpukau di masa kecilnya dahulu bernama buku. Ketika mulai mengenal tulisan dan sedikit demi sedikit bisa membacanya, ia membuka buku-buku itu perlahan-lahan. Kadang, ia mengerti apa yang dibacanya, tetapi kadang pula dahinya mengernyit karena tak mampu mencerna apa yang tertulis pada halaman-halamannya yang, apabila dibuka, menguarkan aroma kertas yang khas. Dalam ketidakmengertian itu, ia hanya melihat ilustrasi-ilustrasi di dalamnya, yang kadang membuatnya merenung atau tersenyum. Apabila tidak, ia akan meletakkan buku itu begitu saja, lalu mengambil buku yang lain lagi.


Demikianlah, di usia kanak-kanak, ia sudah memiliki keterpukauan dan kekariban yang luar biasa pada makhluk bernama buku. Di rak berisi sekitar 1.500 buku koleksi ayahnya itulah, ia menghabiskan hampir sebagian besar masa kecilnya. Dari keterpukauan pada kata-kata dan kekariban pada aroma kertas yang khas pada setiap buku itu pula, kemudian ia belajar menulis dan bercita-cita menjadi seorang penulis.

Puluhan tahun kemudian, keterpukauan dan kekariban yang dirawatnya bertahun-tahun itu pun berbuah: ia diganjar penghargaan Nobel Sastra dunia pada tahun 2006 untuk novelnya, “Namaku Merah Kirmizi.” Ya, dialah Orhan Pamuk, salah satu sastrawan besar abad ini yang lahir di kota Istambul, Turki.

Orhan Pamuk mengisahkan pengalaman masa kecilnya bersama buku-buku koleksi sang ayah itu dengan menulis “Koper Milik Ayahku,” sebuah esai panjang, yang ia baca pada pidato penganugerahan nobelnya. Bagi Pamuk, perpustakaan keluarganya tersebut memiliki peran penting tidak hanya dalam membentuk karier kepenulisannya, tetapi juga membentuk pribadinya, membentuk cara pandangnya dalam menatap manusia, dunia, dan kehidupan.


Di negeri kita sendiri, dalam khazanah sastra Indonesia, kita mengenal nama Seno Gumira Ajidarma dan Acep Zamzam Noor. Pada sebuah ceramah tentang proses kreatifnya, Seno berkisah, sejak kecil, ia hampir tak pernah melihat dinding rumahnya. Sekujur dinding rumah Seno tertutup buku-buku yang jumlahnya ribuan milik ayah dan ibunya.

Kemudian, pada sebuah esai tentang proses kreatifnya, Acep Zamzam Noor menulis bahwa perkenalannya pertama kali dengan tulisan adalah melalui buku-buku dan koran koleksi ayahnya, juga majalah-majalah berbahasa Sunda koleksi ibunya. Kini, keduanya memetik hasil dari keakraban bersama buku, koran, dan majalah-majalah itu di masa kecilnya. Seno menjadi salah satu penulis cerpen dan novelis terkemuka di Indonesia, sedangkan Acep menjadi penyair, esais dan pelukis dengan karya-karya yang mengagumkan.

Selain Seno Gumira Ajidarma dan Acep Zamzam Noor yang mengawali titik proses kreatifnya melalui perpustakaan keluarga, kita juga mengenal Soekarno dan Abdurrahman Wahid. Soekarno kecil tumbuh dengan buku-buku dan koran-koran berbahasa Belanda milik Raden Soekemi Sosrodihardjo, ayahnya. Sementara Abdurrahman Wahid menghabiskan masa kanak-kanaknya dengan buku-buku juga koran dan majalah milik KH Abdul Wachid Hasyim, bapaknya, yang juga salah satu tim perumus kemerdekaan Indonesia dan menteri agama pada era Soekarno.


Pemikir kritis
Dari perpustakaan Raden Soekemi itulah, Soekarno merintis jalan sebagai seorang pemikir yang kritis dan aktif dalam pergerakan nasional menentang kolonialisme. Dan, dari perpustakaan Kiai Wachid itu pula, Gus Dur merintis jalan hidupnya sebagai santri kelana hingga menjadikannya seorang maestro dalam pemikiran ke-Islaman dan ke-Indonesiaan, juga pejuang kemanusiaan yang hingga kini mengharumkan bangsa Indonesia di seluruh dunia.

Bukan kebetulan kemudian apabila keduanya sama-sama menjadi presiden Republik Indonesia. Bung Karno menjadi presiden pertama, sedangkan Gus Dur menjadi presiden keempat. Tak hanya menjadi presiden, keduanya pun dikenal sebagai pemikir kebangsaan yang memiliki ide-ide brilian saat menjalankan roda pemerintahan negara. Kebijakan-kebijakan yang dibuat kedua presiden yang sama-sama pemikir ini tidak berangkat dari kehampaan, tetapi dari imajinasi yang orisinal dan mengagumkan tentang Indonesia masa depan. Imajinasi kreatif yang dimiliki keduanya tidak jatuh dari langit begitu saja, tetapi buah dari petualangan-petualangan mereka melalui bacaan-bacaan luas dari buku-buku, koran, dan majalah di masa kecilnya.

Betapa dahsyatnya manfaat perpustakaan keluarga terhadap perkembangan anak. Perpustakaan keluarga tidak hanya menjadi ruang tempat anggota keluarga menyimpan buku, koran, atau majalah yang sudah tidak dibaca, misalnya. Lebih dari sekadar itu, perpustakaan keluarga dapat menjadi ruang tempat anak-anak kita mengawali proses kreatif atau penjelajahan inteligensinya.

Patung Bung Karno sedang memegang buku.

Selain usia meniru, usia kanak-kanak juga merupakan masa-masa pertumbuhan yang dipenuhi rasa ingin tahu. Pada usia ini, anak-anak selalu ingin tahu pada benda-benda di hadapannya, atau penasaran pada apa pun yang ada di sekelilingnya. Berawal dari memandang, mengamati, menyentuh, memegang, lalu membuka-buka halaman demi halaman, anak mengawali perkenalannya dengan buku.

Perkenalan dengan buku di masa kanak-kanak semakin penting, terutama di zaman ini, zaman ketika gawai (gadjet) telah merebut hampir seluruh waktu manusia, termasuk anak-anak dan dunianya. Meski sama-sama bisa merebut perhatian atau menyedot konsentrasi anak, pengaruh buku dan gawai berbeda.

Saat berhadapan dengan buku, seorang anak akan dibawa pada petualangan dari tempat yang satu ke tempat lain, dari tokoh yang satu ke tokoh yang lain, dari karakter yang satu ke karakter yang lain, dalam sebuah dunia yang dibentangkan penulis ke hadapannya melalui kata demi kata. Petualangan bersama buku adalah sebuah petualangan membaca yang membuat anak berpikir kreatif dengan cara menyusun keping-keping imajinasinya; mereka-reka atau mempertanyakan apa yang dibacanya dengan nalar kritis; serta melatih kepekaannya pada kata, diksi, dan metafora. Kisah-kisah, dongeng, catatan perjalanan, atau apa pun yang termaktub dalam buku, niscaya akan melibatkan emosi, kognisi, dan inteligensi mereka secara aktif.


Untuk memiliki perpustakaan keluarga, tidak harus menunggu hingga memiliki koleksi sekitar 1.500 buku seperti Orhan Pamuk, atau memiliki ribuan buku yang memadati sekujur dinding rumah sebagaimana Seno Gumira Ajidarma. Perpustakaan keluarga dapat dimulai dari lima buku, sepuluh buku, dua puluh buku, hingga seterusnya. Yang terpenting bukan jumlah, melainkan bagaimana buku-buku itu ada di dalam rumah hingga merangsang keingintahuan anak dan mampu menyedot perhatiannya.

Perpustakaan keluarga juga dapat membantu perkembangan dan pelajaran anak pada satuan pendidikannya. Di sekolah, akan tampak berbeda antara anak yang memiliki perpustakaan keluarga dan yang tidak; antara anak yang menyukai buku dan yang tidak. Dengan demikian, menghadapi anak yang memiliki perpustakaan keluarga di rumahnya, posisi guru di sekolah tidak lagi sebagai sumber, tetapi sebagai partner yang menemani anak dalam memasuki dunia kreatif karena anak tersebut sudah memiliki bekal bacaan yang kaya.

Oleh karena begitu penting dan sangat bermanfaatnya perpustakaan keluarga, dalam hal ini ada dua pihak yang harus berperan aktif guna mewujudkannya. Pertama, orangtua. Orangtua perlu memiliki kesadaran betapa pentingnya buku atau bacaan-bacaan apa pun, seperti koran dan majalah, bagi anak. Dengan kesadaran ini, orangtua semestinya mulai mengumpulkan buku sedikit demi sedikit, lalu menatanya pada rak yang sudah dipersiapkan di dalam rumah.


Kedua, pemegang kebijakan. Pemegang kebijakan adalah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, melalui Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga dan Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat, perlu mengampanyekan dan menyosialisasikan program “satu rumah satu perpustakaan keluarga.” Perpustakaan keluarga, selain bisa menjadi ruang kreatif keluarga, juga dapat mendukung pendidikan anak di satuan pendidikan untuk mendorong terciptanya ekosistem pendidikan yang tidak hanya kondusif, tetapi juga kreatif-inovatif sebagai kunci keberhasilan pendidikan.

Membangun perpustakaan keluarga, menyediakan buku-buku dan bacaan bagi anak di dalam rumah, tidak untuk menjadikan anak kita sebagai sastrawan atau presiden. Menjadi sastrawan, presiden, atau menjadi apa pun, yang penting kelak ia menjadi anak yang bermanfaat bagi masyarakat, bangsa, dan negara.

Ahmadul Faqih Mahfudz,
Penulis Kebudayaan
KOMPAS, 24 Agustus 2018