Thursday, September 22, 2022

Azyumardi Azra dan Sikap Mental Konspiratif


Dalam makalah di muktamar ABIM, Prof Azyumardi membahas potensi kebangkitan peradaban Muslim. Berikut ini sebuah catatan dari Asro Kamal Rokan.

Ketika dipercaya memimpin Dewan Pers, Mei 2022, banyak harapan masyarakat pers pada Prof Dr Azyumardi Azra, terutama untuk memperkuat kebebasan pers. Prof Edi ––begitu biasa disapa–– dikenal independen, sangat kritis, prodemokrasi, dan tentu cendekiawan. Ini modal besar sebagai penjaga yang tangguh kebebasan pers dari berbagai intervensi dan tekanan.

Lima bulan setelah ditetapkan sebagai Ketua Dewan Pers dari unsur masyarakat, Prof Edi wafat, Ahad (18 September 2022) pukul 12.30 di Rumah Sakit Serdang, Selangor, Malaysia. Keterangan resmi Rumah Sakit Serdang, yang dikutip Kedutaan Besar RI di Kuala Lumpur, Ahad, menyebutkan Prof Edi menderita kelainan jantung.

Perjalanan terakhir Prof Azyumardi Azra menuju Malaysia.

Pada Jumat (16/9/2022) dalam penerbangan Jakarta ke Kuala Lumpur, Prof Edi mendadak sesak napas dan dipasang oksigen. Tiba di Bandara KLIA, cendekiawan Muslim itu dilarikan ke RS Serdang untuk perawatan lanjutan. Penasihat Ikatan Setiakawan Wartawan Malaysia-Indonesia (Iswami) Datuk Zakaria Abdul Wahab, setelah mendapat info, langsung ke RS Serdang.

Menurutnya, Prof Edi dalam kondisi tidak sadar. Mantan Pemimpin Redaksi Kantor Berita Bernama Malaysia tersebut terus memberikan kabar kepada kami melalui WhatsApp Group.

Dan, Ahad siang, kabar meninggalnya Prof Edi kami terima. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun, telah pergi seorang guru, cendekiawan, dan sahabat baik. Tokoh sederhana, yang kepadanya wibawa, marwah, dan martabat pers diharapkan semakin tegak, semakin independen.


Prof Azyumardi berada di Malaysia memenuhi undangan sebagai pembicara seminar internasional Angkatan Belia Islam Malaysia (ABIM) di Bangi Convention Center, Kajang, Malaysia, Sabtu (17/9). Seminar ini bertema “Masa Depan Peradaban Kosmopolitan Islam ––Membina Optimistik Generasi Baharu”.

Prof Edi rencananya akan berbicara pada sesi pertama, Sabtu pagi, membawa makalah berjudul “Nusantara untuk Kebangkitan Peradaban: Memperkuat Optimisme dan Peran Umat Islam Asia Tenggara”. Makalah tersebut tidak sempat dibacakan Prof Edi, selamanya.

Dalam makalah 22 halaman, yang diedarkan kepada peserta muktamar ABIM, Prof Edi membahas potensi kebangkitan peradaban Muslim. Secara demografis di seluruh dunia, tulis Prof Azyu, jumlah kaum Muslimin meningkat secara signifikan, diperkirakan lebih dari 1,9 miliar jiwa (2022), agama kedua terbesar setelah Kristianitas (Katolik dan Protestan digabungkan).


Dengan jumlah yang terus meningkat itu, kaum Muslim memiliki potensi kian besar pula; tidak hanya untuk membangun peradaban Muslim, tetapi juga pada peradaban dunia secara keseluruhan.

Tetapi potensi itu belum bisa diwujudkan, belum dapat menjadi aset, bahkan sering lebih merupakan liabilities. Ini karena kebanyakan penduduk Muslim tinggal di negara-negara berkembang, bahkan terkebelakang. Kondisi pendidikan tidak kompetitif, di bawah standar. Banyak murid putus sekolah. Tidak punya masa depan untuk memajukan diri sendiri, apalagi peradaban Muslim dan peradaban dunia.

Sementara itu, ada negara-negara Muslim kaya raya berkat minyak, mendatangkan windfall terus menerus karena kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Tetapi, tulis Prof Edi, windfall tersebut justru menambah beban negara-negara Muslim yang tidak memiliki sumber daya alam BBM. Bahkan sebaliknya, mereka mensubsidi negara-negara kaya minyak tersebut.

Windfall itu tidak mengalir ke negara-negara Muslim miskin dalam bentuk grant atau investasi. Jika ada, jumlahnya tidak signifikan, boleh dikatakan hanya berupa tetesan belaka.


Karena itulah, menurut Prof Edi ––yang meraih gelar Master of Art (MA) di Universitas Columbia tahun 1988–– negara-negara Muslim yang miskin atau berkembang harus mengandalkan sumber-sumber lain, termasuk menambah utang dari negara-negara atau lembaga-lembaga keuangan Barat seperti Bank Dunia (World Bank) dan Dana Moneter Internasional (IMF). Keadaan ini menambah ketergantungan pada Barat, yang jelas memiliki implikasi ekonomis, politis, dan bahkan psikologis di kalangan umat Islam.

Salah satu dampak psikologis itu, tulis Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah ini, menguatnya sikap mental konspiratif; bahwa para penguasa negara-negara Muslim berkolaborasi dengan Barat, misalnya, mengembangkan ekonomi pasar yang liberal di negara-negara Muslim dengan mengorbankan potensi-potensi ekonomi dalam masyarakat Muslim sendiri.

Dampak lebih lanjut dari psikologi konspiratif ini dengan segera mengalir ke dalam kehidupan politik, dalam bentuk ketidakpercayaan pada rezim berkuasa, yang dapat mendorong instabilitas politik di banyak negara Muslim.


Menurut Prof Edi, psikologi konspiratif lebih jauh lagi menjadikan kalangan Muslim —khususnya sebagian ulama, pemikir dan aktivis Muslim— terperangkap ke dalam sikap defensif, apologetik, dan reaksioner; terpenjara ke dalam enclosed mind atau captive mind, mentalitas tertutup yang penuh kecurigaan dan syak wasangka.

Akibatnya, tulis Prof Edi, kalangan Muslim seperti ini lebih asyik pula dalam masalah-masalah furu’iyyah (percabangan), baik dalam bidang sosial, budaya, pemikiran dan keagamaan. Buahnya adalah keterjerambaban ke dalam tindakan dan aksi-aksi yang kurang produktif dalam upaya memajukan peradaban Muslim. Karena itu, jika kita mau berbicara tentang kemajuan peradaban Muslim, sudah waktunya kaum Muslimin membebaskan diri dari psikologi konspiratif dan enclosed mind.

Harapannya, kaum Muslimin lebih mengkonsentrasikan diri pada upaya-upaya kreatif dan produktif daripada terus dikuasai sikap defensif, apologetik, dan reaksioner yang sering eksesif.


Dalam seminar "Masa Depan Peradaban Kosmopolitan Islam" di Malaysia, yang tidak sempat dihadirinya tersebut, Prof Azyu mengajukan sejumlah usulan untuk kebangkitan peradaban ––yang dapat dilakukan Indonesia dan Malaysia, negara di luar Timur Tengah.

Prasyarat utama adalah stabilitas politik. Menurutnya, demokrasi Indonesia yang telah diadopsi dan dipraktikkan sejak 1999 masih perlu dikonsolidasikan dalam tiga hal: basis konstitusional-legal, kelembagaan (parpol, legislatif dan eksekutif), dan budaya politik. Hanya dengan konsolidasi lebih lanjut dapat ditegakkan good governance, penegakan hukum, dan kohesi sosial.

Sedangkan di Malaysia, menurutnya, juga mendesak perlu konsolidasi kekuatan politik umat Islam yang tercerai-berai dalam beberapa tahun terakhir. Keadaan ini jelas tidak menguntungkan untuk mempertahankan hegemoni politik dan kekuasaan Melayu, baik di eksekutif maupun legislatif. Juga tidak menguntungkan bagi pertumbuhan ekonomi yang mutlak perlu bagi kemajuan puak Melayu khususnya.

Konsolidasi demokrasi dan politik di kedua negara berpenduduk mayoritas Muslim ini mutlak untuk pembangunan peradaban utama juga meniscayakan partisipasi publik dalam proses politik demokrasi dengan segala ekses negatif yang sudah sampai pada titik yang tidak bisa dimundurkan lagi.


Tetapi juga jelas, tulis Prof Azyu, proses politik demokrasi di Malaysia dan Indonesia masih menyisakan banyak masalah, sejak dari fragmentasi politik, kepincangan politik, oligarki politik, korupsi, dan tidak fungsionalnya check and balances.

Prof Azyu percaya, kunci utama kebangkitan peradaban Islam adalah pendidikan. Pendidikan di Indonesia dan Malaysia, bukan hanya harus mencapai pemerataan (equity), tapi juga harus semakin berkualitas sejak dari tingkat dasar, menengah sampai pendidikan tinggi. Hanya dengan pendidikan seperti itu, kaum muda negeri ini dapat bertransformasi bersama menuju kemajuan peradaban.

Dalam konteks itu, pendidikan tinggi khususnya harus dikembangkan, bukan sekadar teaching higher institution —atau universitas pengajaran— tetapi sekaligus menjadi research institution. Proses pendidikan di perguruan tinggi sudah waktunya berbasiskan riset.


Pentingnya pendidikan tidak hanya dibahas Prof Azyumardi di seminar-seminar. Ia melakukannya. Ketika dipercaya sebagai Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) 1998-2002, ia melakukan perubahan besar. IAIN Syarif Hidayatullah diubah statusnya menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta pada 2002. Ini diikuti perguruan tinggi keagamaan Islam Negeri (PTKIN) lainnya.

Prof Azyumardi membangun Kampus UIN Jakarta menjadi lebih modern, melakukan transformasi besar-besaran, mengembangkan program studi, dan mendirikan sejumlah fakultas. Di antaranya Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Fakultas Sains dan Teknologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Kesehatan, dan Fakultas Kedokteran.

Azyu berkeinginan generasi muda Islam menguasai teknologi, sosial, ekonomi, dan kedokteran ––yang pada Abad Pertengahan silam melahirkan pemikir-pemikir besar Islam.

Mantan wartawan majalah Panjimas yang menjadi Ketua Dewan Pers.

Transformasi
Sukses di UIN, nama Prof Azyumardi semakin dikenal luas, tidak saja sebagai pemikir Islam, tapi juga pendidik yang membumikan gagasannya. Ketika Redaktur Pelaksana Republika Nasihin Masha mengajukan nama Azyumardi sebagai penulis kolom tetap "Resonansi", sebagai Pemimpin Redaksi Republika saat itu, saya langsung setuju. Sejak 2003 itu, Azyumardi menjadi pengisi tetap kolom "Resonansi" hingga akhir hayatnya.

Kolomnya digemari. Tidak seperti umumnya akademisi, tulisan Azyumardi lebih cair dan mudah dimengerti. Kalimatnya efektif. Ini mungkin karena Azyu, yang juga wartawan, terbiasa menggunakan bahasa jurnalistik. Tulisan-tulisan Azyu di kolom "Resonansi", selain berisi berbagai gagasan, juga tentang kehadirannya dalam sejumlah seminar internasional.

Semasa hidup, Azyu sering diundang sebagai pembicara seminar-seminar internasional di mancanegara. Ia juru bicara yang baik dalam mempromosikan Islam rahmatan lil 'alamin di masyarakat yang mencurigai Islam. Sepanjang hidupnya diisi dengan belajar dan mendidik.

Mendapatkan gelar kehormatan dari Ratu Elizabeth II dari Kerajaan Inggris dan juga bintang kehormatan dari Pemerintah Jepang yang diserahkan oleh Kaisar Akihito.

Azyu orang Asia Tenggara pertama yang diangkat sebagai Guru Besar Kehormatan Universitas Melbourne, Australia (2004-2009). Carroll College, Montana, USA, memberinya Honoris Causa. Lebih dari 44 buku telah diterbitkan dan puluhan artikel telah ditulis dalam bahasa Indonesia, Inggris, Arab, Italia, dan Jerman.

Selain itu dia juga merupakan anggota Dewan Penyantun, penasihat dan Guru Besar Tamu di beberapa universitas di mancanegara; dan juga lembaga riset dan advokasi demokrasi internasional.

Gagasan dan pemikiran Azyu melintasi batas-batas negara. Ratu Elizabeth II dari Kerajaan Inggris menghormatinya dengan memberi gelar Commander of the Most Excellent Order of British Empire (CBE), 2010. Azyu adalah satu-satunya akademisi Indonesia yang menerima penghargaan tinggi tersebut.


Pemerintah Jepang juga memberinya bintang The Order of the Rising Sun: Gold and Silver Star, yang diserahkan Kaisar Akihito dan Perdana Menteri Shinzo Abe di Tokyo, Jepang (2017). Lelaki berpenampilan sederhana ini termasuk The 500 Most Influential Muslim Leaders (2009) dalam bidang keilmuan.

Prof Azyumardi Azra telah pergi menemui Sang Maha Pencipta, yang menentukan hidup manusia. Tapi, cendekiawan besar dan Guru Bangsa ini, tidak benar-benar pergi dan hilang. Puluhan buku, ratusan makalah yang berisi gagasan dan pemikirannya ––juga ilmu serta keteladanan yang diwariskannya–– akan tetap hidup dan bahkan akan berkembang sebagai kekayaan yang tidak ada habis-habisnya.

Selamat jalan Guru ....

Jakarta, 19 September 2022

Asro Kamal Rokan
Pemimpin Redaksi Harian Republika (2003-2005),
Pemimpin Umum LKBN Antara (2005-2007),
Anggota Dewan Kehormatan PWI Pusat (2018-2023)

REPUBLIKA, 20 September 2022