Monday, June 29, 2009

Michael Jackson Meninggal Dunia


Michael Joseph Jackson (lahir di Gary, Indiana, Amerika Serikat, 29 Agustus 1958 – wafat di California, Los Angeles, Amerika Serikat, 25 Juni 2009 pada umur 50 tahun) adalah penyanyi dan penulis lagu dari Amerika Serikat. Ia terkenal sebagai "Raja Pop" dan mempopulerkan gerakan dansa "moonwalk" yang telah menjadi ciri khasnya. Albumnya yang dirilis pada tahun 1982, Thriller, adalah album terlaris di dunia, dengan penjualan melebihi 104 juta kopi di seluruh dunia. Ia mulai karir bernyanyi pada usia lima tahun sebagai anggota kelompok vokal keluarga Jackson (kelak menjadi The Jackson 5) sebelum meluncurkan album solo pertamanya Got to Be There pada tahun 1971. Anak ketujuh dari keluarga Jackson, dia membuat debut di musik profesional pada umur 11 tahun sebagai anggota dari Jackson 5.


Pada awal tahun 1980-an, dia menjadi figur yang sangat dominan dalam musik pop dan musisi Afrika-Amerika pertama yang mempunyai crossover kuat di MTV. Popularitas dalam musiknya menanjak saat ditayangkan di MTV, antara lain "Beat It", "Billie Jean" dan "Thriller" dianggap telah mengubah video klip menjadi sebuah bentuk karya seni dan sebagai alat promosi untuk mempopulerkan sebuah channel tv. Video-video seperti "Black or White" dan "Scream" membuat Jackson menjadi andalan utama MTV pada tahun 1990-an. Lewat penampilan panggung dan video-video klipnya, Jackson mempopulerkan sejumlah teknik menari seperti robot dan moonwalk. Suara dan gaya vocal Jackson mempengaruhi dan diikuti oleh banyak penyanyi hip hop, pop dan R&B.


Penghargaan-penghargaan yang telah dia raih termasuk beberapa kali Guinness World Records —termasuk thriller sebagai album terlaris di dunia— 13 Grammy Awards, 13 buah single nomor 1 dalam solo karirnya dari musisi pria lainnya dalam Hot 100 era dan penjualan 750 juta unit di seluruh dunia. Hidup Jackson sangat terkenal di seluruh dunia, didampingi dengan karirnya yang sangat sukses, membuatnya menjadi bagian dari kebudayaan pop selama 4 dekade. Dalam beberapa tahun dia sering disebut-sebut sebagai salah satu pria paling terkenal di dunia.


Michael Jackson meninggal dunia pada hari Kamis, 25 Juni 2009. Ia tidak sadarkan diri setelah menderita serangan jantung.

http://id.wikipedia.org/wiki/Michael_Jackson



We Are the World
Michael Jackson

There comes a time
When we head a certain call
When the world must come together as one
There are people dying
And it's time to lend a hand to life
The greatest gift of all

We can't go on
Pretending day by day
That someone, somewhere will soon make a change
We are all a part of
God's great big family
And the truth, you know love is all we need


[Chorus]
We are the world
We are the children
We are the ones who make a brighter day
So let's start giving
There's a choice we're making
We're saving our own lives
It's true we'll make a better day
Just you and me

Send them your heart
So they'll know that someone cares
And their lives will be stronger and free
As God has shown us by turning stone to bread
So we all must lend a helping hand


[Chorus]
We are the world
We are the children
We are the ones who make a brighter day
So let's start giving
There's a choice we're making
We're saving our own lives
It's true we'll make a better day
Just you and me

When you're down and out
There seems no hope at all
But if you just believe
There's no way we can fall
Well, well, well, well, let us realize
That a change will only come
When we stand together as one


[Chorus]
We are the world

We are the children
We are the ones who make a brighter day
So let's start giving
There's a choice we're making
We're saving our own lives
It's true we'll make a better day
Just you and me

Michael Jackson Masuk Islam Tahun 2008


Bintang pop Michael Jackson telah masuk Islam dan berganti nama menjadi Mikaeel, ungkap Daily Mail. Penyanyi berusia 50 tahun itu dilaporkan menjadi Muslim dalam suatu upacara di rumah temannya di Los Angeles.

Michael Jackson yang dibesarkan dalam agama Saksi Jehovah, disebut-sebut duduk di lantai dan mengenakan topi kecil saat syahadat di kediaman Steve Porcaro, komposer musik pada album Thriller.


Dia tertarik dengan Islam setelah berdiskusi dengan penulis lagu asal Kanada, David Wharnsby dan produser Phillip Bubal.

"Mereka berbicara kepada dia tentang keyakinan mereka dan bagaimana mereka menjadi orang yang lebih baik setelah masuk Islam. Michael segera tertarik. Seorang Imam dipanggil dari masjid dan Michael mengucapkan syahadat," kata seorang sumber.


Saudara Jackson, Jermaine Friday, sebelumnya telah memberi sinyal bahwa sang bintang sedang mempertimbangkan untuk memeluk Islam.

"Ketika saya pulang dari Makkah, saya beri dia banyak buku dan dia bertanya tentang banyak hal mengenai agama saya dan saya bilang Islam itu damai dan indah," kata Friday yang masuk Islam sejak 1989.

http://www.kompas.com/read/xml/2008/11/22/13475269/michael.jackson.masuk.islam



Give Thanks to Allah
Michael Jackson

Give thanks to Allah,
for the moon and the stars
prays in all day full,
what is and what was
take hold of your iman
dont givin to shaitan
oh you who believe please give thanks to Allah.
Allahu Ghafur Allahu Rahim Allahu yuhibbul Muhsinin,
Huwa Khaliqun Huwa Raziqun wa Huwa ‘ala kulli syai-in qadiir

Allah is Ghafur Allah is Rahim Allah is the one who loves the Muhsinin,
He is a creator, He is a sustainer and He is the one who has power over all.


Give thanks to Allah,
for the moon and the stars
prays in all day full,
what is and what was
take hold of your iman
dont givin to shaitan
oh you who believe please give thanks to Allah.
Allahu Ghafur Allahu Rahim Allahu yuhibbul Muhsinin,
Huwa Khaliqun Huwa Raziqun wa Huwa ‘ala kulli syai-in qadiir

Allah is Ghafur Allah is Rahim Allah is the one who loves the Muhsinin,
He is a creator, He is a sustainer and He is the one who has power over all.

Friday, June 26, 2009

Kesantunan Anies Rasyid Baswedan


Kesantunan dinilai menyebabkan absennya perdebatan dalam acara debat tiga calon presiden yang ditayangkan di stasiun televisi swasta. Namun, menurut Anies Rasyid Baswedan PhD (40), pemandu acara itu, Kamis (18/6) malam, yang menyebabkan absennya debat adalah keterusterangan dalam mengekspresikan ide dan gagasan.

”Jangan tidak terus terang dengan alasan kesantunan,” ujar Anies mengenai debat tiga capres bagian pertama, yang bertema tata kelola pemerintahan itu. Acara bersejarah ini masih akan berlangsung empat kali dengan tema-tema berbeda dan pemandu berbeda-beda pula.

Anies menilai, yang tertangkap malam itu dari jawaban para capres sebagian lebih pada to impress (memberi kesan), bukan to express (mengungkapkan pendirian secara terus terang).

Bagi intelektual, pemikir, dan Rektor Universitas Paramadina itu, ”Pemimpin harus bicara secara terus terang dan lugas, tetapi santun. Itu gaya komunikasi politik modern.”

Pertanyaan yang diajukan Anies, yang tampil santun dan bersahaja, mencakup beberapa isu peka yang masih terus menjadi persoalan, seperti penyelesaian pelanggaran hak asasi manusia pada masa lalu karena peristiwa politik, masalah tenaga kerja Indonesia di luar negeri, serta lumpur Lapindo yang menyengsarakan ribuan warga.

”Pertanyaan saya buat setelah mengadakan diskusi tertutup dengan dosen-dosen Paramadina dan beberapa kolega analis serta tokoh-tokoh muda untuk mendapatkan masukan tema-tema tentang tata kelola pemerintahan dan penegakan hukum yang layak didiskusikan,” tutur Anies.

Dari masukan-masukan itu, Anies memilih 15 tema, kemudian ia mencari data-data dan menyusun pertanyaan secara serius. ”Tugas ini adalah amanat yang mulia,” ujarnya.

Untuk acara itu, ia mempersiapkan 15 pertanyaan, meski hanya enam yang kemudian dipakai. Kata Anies, ”Pemilihan pertanyaan baru dilakukan saat acara berlangsung.”

Noam Chomsky, Shirin Ebadi, Muhammad Yunus
Al Gore, Vaclav Havel, Amartya Sen


Satu dari 100
Nama Anies Baswedan tercantum sebagai orang Indonesia pertama di antara 100 public intellectuals dunia pilihan majalah yang berwibawa, Foreign Policy, edisi April 2008. Di antara para tokoh lainnya adalah tokoh perdamaian, Noam Chomsky, para penerima penghargaan Nobel, seperti Shirin Ebadi, Al Gore, Muhammad Yunus, dan Amartya Sen, serta Vaclav Havel, filsuf, negarawan, sastrawan, dan ikon demokrasi dari Ceko.

Anies ditemui suatu siang pekan lalu di ruang kerjanya di Universitas Paramadina, Jakarta. Ruang kerja seluas empat kali empat meter persegi itu dulu juga menjadi ruang kerja almarhum Nurcholish Madjid, tokoh demokrasi, pemikir, dan intelektual Muslim, serta pendiri dan rektor pertama Universitas Paramadina. Tak ada yang berubah di ruangan itu, kecuali tambahan rak buku.

Ketika diangkat menjadi rektor, Mei tahun 2007, usianya baru 38 tahun, menjadikannya rektor termuda di Indonesia. Ia merintis Program Paramadina Scholarship dengan mengadopsi konsep yang biasa digunakan di universitas-universitas di Amerika Utara dan Eropa, yakni mencantumkan sponsor kuliah ataupun riset sebagai predikat penerima beasiswa.

Jika mahasiswa A mendapat beasiswa dari The Jakarta Post, yang memang menjadi salah satu sponsor, di belakang nama mahasiswa dicantumkan nama sponsor, menjadi A, Paramadina, The Jakarta Post Fellow. Predikat itu wajib digunakan dalam berbagai publikasi dan tulisan.

Paramadina mengumpulkan sponsor dari berbagai lembaga dan menyiapkan suatu tim, terdiri dari para dosen, untuk menyeleksi siswa terbaik —tak hanya dari segi intelektualitas— langsung ke berbagai kota. Mahasiswa penerima beasiswa tidak lepas hubungan dengan pemberi beasiswa sehingga tercipta jejaring lintas generasi, lintas strata sosial ekonomi, dan lintas geografi. Lewat program beasiswa ini jejak untuk masa depan dibangun bersama.

”Beasiswanya Rp 110 juta per mahasiswa dari luar Jakarta untuk empat tahun kuliah. Kami menyediakan asrama dan membebaskan mereka dari tuition fee,” jelas Anies. Saat ini terjaring 69 mahasiswa dari seluruh Indonesia.


Bagaimana Anda sampai pada gagasan itu?
Saya tak mungkin mendapatkan yang saya dapatkan sekarang tanpa beasiswa. Para deputi saya juga bersekolah dengan beasiswa. Sekarang inilah waktu untuk membayar kembali semua yang pernah kita dapatkan.

Hubungan mahasiswa dan perguruan tinggi tak boleh dipandang sebagai hubungan transaksional komersial. Selama universitas memandang dirinya sebagai ”penjual” jasa pendidikan dan memandang mahasiswa sebagai ”pembeli” jasa pendidikan, komersialisasi pendidikan akan terjadi. Pendidikan tinggi di Indonesia harus memandang dirinya sebagai pendorong kemajuan bangsa dan memandang mahasiswa sebagai agent of change, karena anak-anak muda bangsa ini yang akan meneruskan peran kita. Universitas Paramadina memilih mengambil peran menghasilkan agent of change.

Pengelolaan pendidikan memang mahal. Itu tantangan bagi pimpinan universitas untuk kreatif membuat model-model pendanaan alternatif, baik dari pemerintah maupun swasta. Tantangan seperti ini tidak baru. Di negara-negara kapitalis saja pendidikan tinggi tetap dikelola sebagai pendorong kemajuan masyarakat.

Bagaimana manajemen pembiayaannya?
Dari Rp 110 juta, kita keluarkan Rp 20 juta per tahun, sisanya di deposito. Di ujung tahun terakhir tersisa Rp 30 juta. Itu masuk endowment fund sehingga setelah 10 tahun, program itu tak perlu sponsor lagi. Mahasiswa penerima beasiswa juga bisa menyumbang. Caranya dengan menyelesaikan kuliah lebih cepat.

Menciptakan harapan
Anies terlibat dalam gelombang demokratisasi sejak mahasiswa. Ia menolak otoritarianisme Orde Baru. Meski aktif dalam Himpunan Mahasiswa Islam, temannya berasal dari berbagai kalangan.

Anies yang pernah menjadi Ketua Senat Mahasiswa Universitas Gadjah Mada itu memahami Indonesia sebagai negara dengan keberagaman yang tinggi, ”Baik dari suku, etnis, agama, kelompok, maupun geo-sosial-ekologi,” ujarnya.

Menurut Anda, bagaimana mengelola keberagaman?
Kita buat pameran masjid di Jerman bekerja sama dengan Goethe Institute. Kita ingin menyampaikan pesan, untuk mampu berbuat fair, adil, kita harus mampu melihat dari perspektif minoritas. Warga Muslim di Jerman tak akan bisa membangun masjid kalau tak ada penghargaan akan hak-hak beragama, penghargaan pada keberagaman, dan toleransi.

Dengan mempresentasikan kehidupan warga Muslim sebagai minoritas untuk menyadarkan Muslim mayoritas. Dengan begitu, ketika kita membuat aturan dan kesepakatan, harus digunakan perspektif sebagai mayoritas ataupun minoritas. Agama dan budaya harus dipandang sebagai sumber nilai yang tinggi, tak bisa direduksi dan disederhanakan menjadi hukum teknis.


Bolehkah agama dibawa ke ranah politik?
Begitu agama dibawa ke ranah politik, segera terjadi distorsi. Wilayah politik adalah tempat menegosiasikan perundingan, dan karena itu, akan ada banyak kompromi. Itu wajar. Kalau kita mencampuradukkan antara agama dan politik, dalam arti negara dipaksa menjadi representasi agama, ya bagaimana, karena negara berhadapan dengan kesejahteraan rakyat.

Yang menjadi jembatan antara nilai agama dan realitas adalah manusia. Maka, manusia harus mampu menerjemahkan gagasan-gagasan dari nilai ke dalam realitas, dan bukan sebaliknya. Kalau seseorang menjalankan hidupnya dengan andap asor, rendah hati, santun, dalam Islam namanya tawadu’, tak harus bilang, ”Saya melakukan ini karena agama saya mengajarkan itu”, tetapi just do it. Dengan demikian, nilai-nilai itu menjadi universal dan dapat diterima oleh semua.

Berpolitik dengan etika, dengan nilai, menurut saya, hanya terjadi kalau mampu menerjemahkan nilai-nilai ke dalam bahasa universal yang dapat dinegosiasikan. Sekarang ini agama, etnis, dan apa pun bercampur dalam isu identitas. Politik bukan soal itu, tetapi soal nilai-nilai, yang tak hanya bersumber dari agama, tetapi juga adat dan budaya.

Kita harus mulai berpikir melampaui simbol-simbol, logo. Masyarakat Indonesia ke depan harus mampu mengekspresikan itu. Ini yang diperlukan untuk merawat keberagaman kita.

Anda optimis?
Dalam setiap tantangan, selalu ada jalan keluar. Optimisme. Tuhan mengajarkan untuk memandang dunia dengan optimisme. Sejak kecil, ibu dan bapak saya selalu menekankan soal optimisme ini.

Maria Hartiningsih, KOMPAS, 21 Juni 2009

Cak Nun Deklarasikan Kabinet Laba untuk Rakyat


Aku deklarasikan hari ini, kabinetku bernama kabinet laba untuk rakyat. Seluruh mekanisme kerja dan keputusan pemerintahku harus menuju pencapaian laba untuk rakyat.

Begitulah sepenggal puisi budayawan Emha Ainun Nadjib berjudul kabinet laba untuk rakyat yang dibacakan dalam pentas musik puisi "Presiden Balkadaba" di Gedung Kesenian Jakarta, Sabtu ( 20/6 ).

Dalam puisi tersebut, Emha atau yang akrab dipanggil Cak Nun menceritakan siapapun pemimpinnya, apapun bentuk negaranya, pandangannya, lembaga yang berada di dalamnya, dan sebagainya, semuanya harus menuju satu tujuan yaitu laba untuk rakyat.

"Siapapun saja yang menghuni tanah Negeriku, siapapun saja yang datang dari luar negeriku, semuanya bekerja dan mengabdi kepada satu hal saja, yakni laba untuk rakyat," lontarnya.

Pembacaan puisi diiringi alunan musik gabungan antara alat musik modern berupa gitar listrik, bass, biola dipadu dengan alat musik tradisional berupa gamelan, seruling, dan rebana.


Disela-sela pembacaan puisi, Cak Nun beberapa kali melontarkan kritikan pedas terhadap pemerintahan yang hanya berjanji dan tidak mempedulikan rakyatnya sehingga membuat penonton tergelitik mendengarnya.

Cak Nun menjelaskan, Balkadaba adalah salah satu binatang yang ikut serta masuk dalam rombongan Nabi Nuh untuk berlindung dari banjir besar akibat pencairan kutub selatan yang mengubah daratan luas dari Afrika hingga Papua menjadi kumpulan ribuan pulau. "Iblis diam-diam menyelundupkan dirinya ikut masuk ke perahu Nabi Nuh dengan gondholan di ekor Balkadaba," ucapnya.

Pementasan tersebut bertujuan untuk mengingatkan Presiden dan semua pemimpin masyarakat untuk mewaspadai Iblis yang bisa menyelundupkan diri pada ekor kekuasaan mereka.

KOMPAS.com, 21 Juni 2009

Tuesday, June 23, 2009

Jujur Menghitung Utang


Polemik panas mencuat setelah kubu Megawati-Prabowo menyodorkan data membengkaknya utang Indonesia. Sebagai pihak yang dipersalahkan, kubu Susilo Bambang Yudhoyono pun membantah dengan angka pula. Menarik, tapi argumennya sama-sama lemah. Debat kusir ini tak berkepanjangan jika keduanya membaca data secara jernih.

Kubu Megawati, yang kini bersaing lagi dengan SBY dalam pemilihan presiden, berkukuh bahwa jumlah utang kita meningkat. Dalam lima tahun terakhir, pinjaman meningkat rata-rata Rp 80 triliun per tahun. Jumlah utang sampai akhir Mei 2009 pun menembus Rp 1.700 triliun. Dus, rakyat -dari kakek sampai bayi baru lahir- kecipratan menanggung kewajiban Rp 7,5 juta per jiwa.

Menerima tuduhan itu, pejabat pemerintah dan anggota tim kampanye SBY cepat memberi tanggapan. Melihat utang semata dari jumlah, menurut mereka, adalah menyesatkan. Mereka menganjurkan menyimak utang seraya membandingkannya dengan produk domestik bruto (PDB).

Sejak 1999, rasio utang-PDB kita memang terus menurun. Sepuluh tahun silam, rasio itu mencapai 100 persen. Tahun lalu sudah turun menjadi 33 persen, dan akhir tahun ini diharapkan susut lagi menjadi 32 persen. Dilihat dengan cara itu, tampaklah bahwa kemampuan pemerintah dalam membayar utang semakin meningkat.

Masalahnya, perbandingan itu pun kurang pas. Utang pada dasarnya persoalan cash flow alias arus kas. Sedangkan produk domestik bruto (begitu pula produk nasional bruto) merupakan urusan output alias produksi. Bila mau jujur dan berhati-hati dalam mengelola utang, pinjaman sebaiknya dibandingkan dengan arus pendapatan atau aset likuid yang dimiliki negara. Tujuannya, bila kreditor menagih, kita bisa membayar utang dengan isi kantong kita sendiri atau menjual dengan cepat harta yang kita miliki.


Dengan nalar itu, lazimnya di negara lain utang dibandingkan dengan total cadangan devisa, total aktiva bersih pemerintah atau arus penerimaan pajak. Maka tengoklah perbandingan ini: utang kita Rp 1.700 triliun, sedangkan cadangan devisa pemerintah hanya US$ 58 miliar atau Rp 580 triliun dan penerimaan pajak cuma Rp 660 triliun. Jadi, utang kita hampir tiga kali lipat cadangan devisa.

Pada tahun 2000, utang luar negeri kita US$ 74,9 miliar atau 2,5 kali lipat cadangan devisa saat itu, US$ 29,4 miliar. Empat tahun kemudian, utang luar negeri naik menjadi US$ 82,7 miliar, sedangkan cadangan devisa bertambah menjadi US$ 35,4 miliar. Perbandingannya dua kali lipat lebih.

Jika rasio itu yang dipakai, terlihat bahwa tingkat utang kita memang semakin mengkhawatirkan. Melihat anggaran yang selalu defisit, muncul pula kesan kuat bahwa kita tak sanggup membayar cicilan utang tanpa harus berutang lagi.

Bukan berarti pemerintah harus bersikap antiutang. Utang tetap diperlukan asalkan dikelola dengan benar dan hati-hati. Ini bisa dimulai dengan mengedepankan sikap jujur dalam menghitung utang.

Opini TEMPOinteraktif, 18 Juni 2009

Setiap Penduduk Indonesia Menanggung Utang Rp 7 Juta


Pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani bahwa utang pemerintah yang semakin besar bukan merupakan bencana karena rasio utang terhadap Pendapatan Domestik Bruto (PDB) semakin menurun patut disayangkan.

Pernyataan tersebut mencederai kenyataan bahwa bertambahnya jumlah utang adalah beban bagi seluruh rakyat Indonesia. "Setiap penduduk Indonesia harus terbebani dengan Rp 7 juta. Selain itu besarnya pembayaran utang tiap tahun hampir sama dengan 3 kali anggaran pendidikan, 11 kali anggaran kesehatan dan 33 kali dari anggaran perumahan dan fasilitas umum," kata Yuyun Harmono, Program Officer Sekretariat Nasional Koalisi Anti Utang (KAU) dalam rilisnya, Senin (15/6).

Meskipun terjadi penurunan rasio utang terhadap PDB sebesar 54 persen tahun 2004 menjadi 32 persen di tahun 2009 namun, lanjut Yuyun, kajian dari Komite Penghapusan Utang Negara Selatan (Committee for Abolition Third World Debt) utang jangka panjang (Long Term Public Debt) pemerintah Indonesia mencapai 67 miliar dollar AS (2007).

"Jumlah ini menduduki posisi 4 besar setelah Meksiko, Brazil dan Turki. Di antara negara-negara di Asia Tenggara yang lain utang jangka panjang Indonesia masih yang paling besar. Prestasi ini bukanlah sesuatu yang patut dibanggakan oleh pemerintah hari ini," jelasnya.

Menurut Yuyun Koalisi Anti Utang memandang bahwa upaya menjustifikasi peningkatan utang Indonesia menjadi sesuatu yang wajar adalah menyesatkan. "Transaksi utang luar negeri selama ini justeru menyebabkan hilangnya harga diri bangsa dan kedaulatan ekonomi nasional," ujarnya.

"Indonesia selama ini dipaksa terus membayar utang-utang haram warisan orde baru dan melaksanakan kebijakan liberalisasi ekonomi menurut kehendak kreditor," tambah Yuyun.


Menurut dia yang harus dilakukan sekarang adalah mengurangi beban utang dengan cara menegosiasikan penghapusan utang haram dan tidak sah kepada pihak kreditor. "Strategi tambal sulam dalam pengelolaan utang yang kini ditempuh oleh pemerintah justru menimbun resiko pada masa yang akan datang," paparnya.

Dia mengatakan penghapusan utang bukanlah sesuatu yang mustahil dilakukan. Menurut pengalaman negara lain seperti Argentina, Nigeria dan baru-baru ini Ekuador, membuktikan bahwa penghapusan utang merupakan mekanisme penyelesaian krisis utang yang terjadi di Negara-negara selatan agar krisis tersebut tidak terus berulang. Penghapusan utang juga tidak terkait dengan pendapatan perkapita suatu negara, namun lebih pada keberanian politik pemimpin dan upaya negosiasi yang kuat di forum Internasional.

"Sejak tahun 2001 setelah krisis ekonomi, Koalisi Anti Utang telah menyerukan untuk melakukan langkah progresif dalam mengatasi krisis utang yang terjadi di Indonesia. Karena persoalan utang luar negeri tidak hanya terjadi di Indonesia namun di semua negara selatan. Bersama dengan gerakan anti utang Internasional Jubilee South yang beranggotakan 80 organisasi di 40 negara," tegasnya.

Koalisi Anti Utang, menurut Yuyun, mendesak pengapusan utang lama dan penghentian utang baru karena utang luar negeri adalah alat intervensi dan eksploitasi negara utara pada negara selatan.

PERSDA Hasanuddin Aco. KOMPAS.com, 15 Juni 2009

Tidak Ada Negara Besar Karena Utang


Selama Pemerintah Indonesia tidak berani untuk melakukan pemotongan utang, terutama odious debt atau utang haram peninggalan rezim Soeharto yang mencapai Rp 600 triliun, janji-janji kampanye tentang penciptaan kesejahteraan rakyat tidak akan pernah terwujud. Pasalnya, setiap tahun APBN Indonesia terbebani oleh pembayaran cicilan pokok dan bunga utang.

Pada tahun 2009, misalnya, pemerintah menggelontorkan dana sebesar Rp 162 triliun untuk membayar utang. Angka ini jauh melampaui anggaran Departemen Kesehatan sebesar Rp 20 triliun, anggaran Kementerian Lingkungan Hidup Rp 376 miliar, Departemen Pertahanan Rp 33,6 triliun, dan lainnya.

"Jadi pemerintah harus segera melakukan pemotongan utang. Tidak ada satu negara pun yang bisa menjadi besar karena utang. Bahkan Amerika yang bisa mencetak dollar sendiri. Karena utang hanya akan menyengsarakan rakyat," ujar dosen Hubungan Internasional FISIP UI Syamsul Hadi pada diskusi mengenai utang, Minggu (14/6) di Jakarta.

Syamsul kemudian mencontohkan beberapa negara yang berhasil melakukan pemotongan hingga penghapusan utang. Presiden Obasanjo di Nigeria, misalnya, berhasil mendapatkan pemotongan utang dengan alasan utang yang diambil oleh pendahulunya digolongkan sebagai utang haram karena presiden tersebut tidak dipilih secara demokratis. Argentina, misalnya, berhasil mengalami pertumbuhan di atas 50 persen di tahun 2005 setelah berhasil mendapatkan pemotongan utang.

"Jadi, pemotongan dan penghapusan utang tinggal menunggu political will dari pemerintah," ujarnya. Indonesia sendiri, lanjutnya, pernah mendapat penawaran pemotongan utang oleh negara-negara kreditor yang dipelopori Kanada, AS, dan Inggris pada bulan Januari 2005, atau sebulan setelah terjadi tsunami. "Namun, Indonesia waktu itu dikabarkan menolak penawaran tersebut karena gengsi," ujarnya.

KOMPAS.com, 14 Juni 2009


Belum Ada Capres-Cawapres Bernyali Stop Utang

Hingga saat ini, belum ada pasangan capres-cawapres peserta Pemilu Presiden 2009 yang berani menyatakan akan melakukan pemotongan hingga penghapusan utang. Padahal, masyarakat Indonesia semakin sadar akan bahaya utang yang dapat mencekik generasi berikutnya.

Menurut Direktur Lingkar Madani untuk Indonesia Ray Rangkuti, pernyataan pemotongan hingga penghapusan utang dapat mempertegas citra baik pasangan capres-cawapres. "Mereka dapat memperoleh setidaknya sepuluh persen suara dari para pemilih muda yang concern dengan penghapusan utang. Tapi semua pasangan tampaknya masih ragu," ujar Ray pada diskusi, Minggu (14/6) di Jakarta.

Ray melanjutkan, salah satu hal yang dapat dilakukan pasangan capres-cawapres untuk membuktikan bahwa mereka serius dalam membangun ekonomi pro-rakyat adalah dengan mengumumkan komposisi orang-orang yang akan didudukkan di tim ekonomi kabinet menteri.

Hingga akhir Januari 2009, utang pemerintah mencapai Rp 1,667 triliun, yang terdiri dari Rp 747 triliun berasal dari pinjaman luar negeri, dan Rp 920 triliun dalam bentuk surat berharga negara, yang mayoritas dibeli investor asing.

Sementara itu, dosen jurusan Hubungan Internasional FISIP UI Syamsul Hadi mengatakan, kedaulatan suatu negara dapat hilang karena utang. Kedaulatan tersebut dapat berupa kedaulatan kebijakan ekonomi, kedaulatan atas isi kekayaan alam, dan kedaulatan atas para pelaku ekonomi.

KOMPAS.com, 14 Juni 2009

Monday, June 22, 2009

Gelombang Baru Bencana Keuangan “ARM” Picu Krisis Baru


Bencana Kegagalan Hipotek Segera Terjadi

Para pakar ekonomi memperingatkan, sebuah gelombang baru bencana keuangan dalam bentuk kegagalan bayar surat utang bernama ARM segera datang. Besaran jumlahnya mengimbangi bahkan melebihi bencana akibat kehancuran sektor properti di AS tahun 2008.

Potensi bencana baru itu akan mempersulit keadaan ekonomi yang belum pulih akibat kejatuhan masalah perumahan di AS, yang mengorbankan triliunan dana perbankan global yang memicu krisis ekonomi.

Jenis surat utang itu diberi nama adjustable rate mortgage (ARM), yakni surat utang dengan suku bunga yang selalu disesuaikan dengan kondisi pasar. Makin tinggi suku bunga, makin besar beban bayar dan sebaliknya.

Jumlah ARM yang statusnya meragukan saat ini sekitar 230 miliar dollar AS. Ini adalah turunan dari produk-produk pinjaman ”kreatif” yang banyak ditawarkan pada saat bisnis perumahan AS mengalami masa jaya.

Seorang peminjam surat utang ARM bisa melakukan cicilan pembayaran lebih rendah dari seharusnya setiap bulan. Namun, sisa pinjamannya dimasukkan ke dalam pokok pinjaman yang jumlahnya terus membengkak.

Banyak pakar telah memperkirakan akan terjadinya ledakan gagal bayar pada musim semi 2009, atau lebih dari 564.000 unit ARM. Kegagalan bayar itu kini masih bisa terselamatkan karena suku bunga sedang turun hingga tingkat terendah sepanjang sejarah. Hal ini menunda ledakan ARM, yang oleh banyak pengamat perumahan dianggap sebagai bom waktu.

Dikatakan bom waktu karena peminjam ARM belum bisa menuntaskan utang yang pernah dipakai untuk membeli rumah di masa lalu. Karena tidak bisa membayar utang, pembeli rumah diberi pinjaman baru melalui ARM. Dengan kata lain, ARM dipakai untuk mengatasi kegagalan bayar surat utang sebelumnya yang disebut sebagai subprime mortgage. Ini adalah surat utang dengan kualitas rendah, yang melahirkan krisis yang disebut sebagai subprime mortgage crisis.

”Mereka kemungkinan akan gagal bayar dan akan membuat ledakan subprime tampak lebih kecil,” kata Rick Sharga, Wakil Presiden Senior RealtyTrac, peneliti sita jaminan di Irvine, California.


ARM berjangka waktu lima tahun, yang umum ditawarkan antara tahun 2004-2007. Pinjaman-pinjaman ARM itu sangat rentan gagal bayar di negara-negara bagian seperti California, Florida, dan Nevada, daerah di mana harga-harga rumah telah turun jauh. Di wilayah ini banyak pemilik rumah kini masih kesulitan membayar utang.

Pembayaran bulanan atas surat-surat utang ini akan segera disesuaikan dengan tingkat suku bunga pinjaman yang lebih tinggi antara tahun 2009 dan 2012.

Bahayakan ekonomi
Elizabeth Warren, profesor hukum dari Universitas Harvard, menilai warisan ARM itu membahayakan ekonomi AS. Pemegang surat utang ARM rentan terhadap penyitaan rumah. Jumlah potensi gagal bayar telah mencapai lebih dari satu juta hanya antara Maret hingga Mei 2009. ”Kita tidak akan bisa memulihkan kembali nilai perumahan ketika sebuah risiko serius menghadang bahkan serangkaian surat utang akan runtuh,” kata Warren.

Asosiasi Bankir Hipotik (MBA), yang mewakili para pemberi surat utang, berpandangan lebih optimistis. Michael Fratantoni, Wakil Ketua Peneliti MBA, mengatakan, ARM tak akan menjadi masalah seperti yang dibayangkan banyak orang.

Harapan untuk menghindari kegagalan bayar ARM adalah pemulihan ekonomi.

KOMPAS.com, 20 Juni 2009

Budaya Baca Indonesia Terendah di Asia Timur


Budaya baca masyarakat Indonesia menempati posisi terendah dari 52 negara di kawasan Asia Timur berdasarkan data yang dilansir Organisasi Pengembangan Kerja sama Ekonomi (OECD), kata Kepala Arsip dan Perpustakaan Kota Surabaya Arini.

Saat berbicara dalam seminar "Libraries and Democracy" yang digelar Perpustakaan Universitas Kristen (UK) Petra Surabaya bersama Goethe-Institut Indonesien dan Ikatan Sarjana Ilmu Perpustakaan dan Informasi Indonesia (ISIPII) di Surabaya, Rabu, dia mengatakan, OECD juga mencatat 34,5 persen masyarakat Indonesia masih buta huruf.

"Karena itu, pengembangan minat baca merupakan solusi yang tepat, apalagi anak SD yang dibiasakan dengan budaya baca dan tulis memiliki prestasi tinggi dibanding anak SD yang selama enam tahun tidak dibiasakan dengan budaya baca dan tulis," katanya dalam seminar yang juga menampilkan pakar perpustakaan dari Jerman Prof Dr Phil Hermann Rosch itu.

Menurut dia, pembiasaan membaca dan menulis itu harus dilakukan dengan program pemaksaan pinjam buku di perpustakaan, lalu diberi tugas membuat kesimpulan dari buku yang dipinjam.

"SD swasta yang melaksanakan hal itu umumnya memiliki prestasi yang sangat memuaskan dibandingkan sekolah negeri yang belum memiliki kebiasaan itu," katanya.

Oleh karena itu, katanya, Perpustakaan Kota Surabaya mengembangkan program ke arah sana, di antaranya membuka perpustakaan selama tujuh hari dalam seminggu.

"Kami juga mengembangkan program pembinaan perpustakaan yang ada dengan pengadaan 157.095 buku setiap tahunnya, sekaligus melatih pustakawan yang ada," katanya.


Program lain yang sangat penting adalah pengembangan "Sudut Baca" di berbagai kawasan publik seperti puskesmas, balai kelurahan, perkantoran, perusahaan, dan pusat-pusat keramaian.

"Karena itu, kami merancang Raperda (rancangan peraturan daerah) untuk penyediaan fasilitas sudut baca di berbagai lokasi layanan publik di Surabaya," katanya.

Senada dengan itu, pakar perpustakaan dari Jerman Hermann Rosch menyatakan, perpustakaan itu menunjang pembelajaran sepanjang hidup, pengembangan pandangan yang tak muncul di permukaan, dan mendukung transparansi.

"Perpustakaan itu tidak hanya berfungsi pendidikan, tapi juga sosial, politik, dan informasi. Fungsi sosial terkait dengan pengembangan emansipasi, sedangkan fungsi politik terkait dengan kompetisi ide dan transparansi. Untuk fungsi informasi terkait dengan upaya mendorong keterbukaan dalam masyarakat," katanya.

KOMPAS.com, 18 Juni 2009

Friday, June 19, 2009

Megawati-Prabowo Janji Tolak Gaji


Qodari: Tiru Sumpah Palapa Gadjah Mada

Megawati-Prabowo berjanji tidak akan memanfaatkan gaji dan tunjangan jika terpilih sebagai presiden dan wakil presiden 2009. Langkah ini dinilai sangat unik karena meniru sumpah palapa yang pernah diucapkan Patih Kerajaan Majapahit, Gadjah Mada.

"Itu ada kemiripan dengan Gadjah Mada yang bersumpah palapa. Itu merupakan suatu komitmen bahwa akan bekerja dengan sungguh-sungguh dan bukan mencari materi," kata pengamat politik M Qodari kepada detikcom, Kamis (18/6/2009).

Qodari mengatakan, janji yang disampaikan oleh Prabowo itu merupakan gagasan yang kreatif dan menarik. Meski begitu, menurutnya, kandidat capres lainnya tidak akan menirunya.

"Saya kira capres lain nggak akan meniru karena nanti akan dibilang ikut-ikutan. Mereka pasti akan cari janji lain yang kreatif. Dan buat Mega-Prabowo, mereka juga tidak ingin ditiru karena bila ada yang meniru maka janji itu jadi tidak unik lagi," kata Qodari.

Janji yang telah diucapkan itu, kata dia, harus ditepati oleh Mega-Prabowo. "Kalau nggak, mereka pasti akan dicemooh ke sana ke mari. Harus ditepati dong," kata dosen Univeritas Indonesia (UI) ini.

Ken Yunita, detikPemilu, 18 Juni 2009

Menyentuh Kedamaian


Sejumlah wisatawan yang datang ke Bali, heran membaca peringatan berbunyi: ’pemulung dilarang masuk’ di mana-mana. Bagi yang punya empati dan memahami psiko-linguistik (ada cermin kejiwaan dalam pilihan-pilihan kata yang digunakan dalam keseharian) akan bertanya, ada apa di pulau kedamaian Bali?

Persahabatan, pengertian, kesabaran, kebaikan adalah ciri-ciri tempat penuh kedamaian. Dengan banyaknya papan ’pemulung dilarang masuk’ di Bali, adakah kedamaian sudah pergi dari tempat yang kerap disebut the last paradise ini? Maafkanlah keingintahuan. Dan kalau boleh jujur, Bali tidak sendiri. Keseharian kehidupan di mana pun ditandai oleh semakin langkanya kedamaian.

Jangankan negara miskin seperti Botswana di Afrika yang harapan hidupnya di bawah empat puluh tahun, sebagian manusia dewasanya positif terjangkit HIV. Amerika Serikat dan Jepang yang dikenal makmur harus menandai diri sebagai konsumen pil tidur per kapita terbesar di dunia, dan angka bunuh diri yang tinggi.

Mungkin langkanya kedamaian ini yang ada di balik data amat cepatnya pertumbuhan pusat meditasi di Barat. Sebagian guru dari Timur disambut oleh komunitas Barat dengan rasa amat lapar akan kedamaian.

Republik ini serupa. Setelah lebih dari enam dasa warsa merdeka, kedamaian tidak tambah dekat. Kemiskinan, bencana, bunuh diri, pengangguran hanyalah sebagian data yang memperkuat.

Semakin menjauhnya kedamaian di luar inilah yang membuat banyak sekali manusia memulai perjalanan ke dalam. Mencari cahaya penerang di dalam.

Pohon Kedamaian
Dalam perjalanan ke dalam, ada yang serupa antara pohon dengan pencinta kedamaian. Pohon bertumbuh mendekati cahaya. Pencinta kedamaian juga serupa. Dengan keseriusan latihan, suatu waktu hidupnya terang benderang. Makanya dalam bahasa Inggris puncak perjalanan ke dalam disebut enlightenment (pencerahan), ada kata light (cahaya) di tengahnya. Untuk itulah, perjalanan menyentuh kedamaian dalam tulisan ini dibuat menyerupai pohon.

Mari dimulai dengan bibit. Bibit jiwa ketika berjalan ke dalam adalah tabungan perbuatan baik sekaligus buruk. Bukan baik–buruknya yang jadi bibit, namun bagaimana ia diolah menjadi bibit. Kebaikan belum tentu menjadi bibit yang baik, terutama kalau kebaikan diikuti kesombongan dan kecongkakan. Keburukan tidak otomatis menjadi bibit buruk, secara lebih khusus kalau keburukan menjadi awal tobat mendalam serta komitmen kuat menjalani latihan keras.

Orang baik dengan bibit yang baik jumlahnya banyak. Namun orang jahat dengan bibit yang baik juga ada. Milarepa adalah sebuah contoh. Setelah melakukan santet yang berbuntut pada matinya sejumlah keluarga paman dan tante yang menipunya, Milarepa dihinggapi rasa bersalah yang mendalam. Sekaligus kesediaan untuk membayar kesalahan dengan pengorbanan berharga berapa pun. Inilah bibit Milarepa berjalan ke dalam yang membuatnya menjadi salah satu orang suci yang amat dikagumi di Tibet.


Lahan-lahan pertumbuhan lain lagi. Meminjam kalimat indah Kahlil Gibran, keseharian adalah tempat ibadah yang sebenarnya. Makanya suatu hari Guru Nanak yang memiliki murid Islam sekaligus Hindu yang sama banyaknya di India, ditanya mana yang lebih agung Islam atau Hindu. Dengan sejuk dan teduh Guru Nanak menyebutkan, baik Islam mau pun Hindu sama-sama kehilangan keagungan kalau umatnya tidak berbuat baik. Siapa saja yang mengisi hidupnya dengan kebaikan, ia sudah menyiapkan lahan subur.

Akar pohon kedamaian adalah pikiran yang bebas dari penghakiman. Sebagaimana ditulis Ajahn Munindo dalam The gift of well–being: ’until we enter this dimension, all our wise words will be mere imitation’. Sebelum kita bebas dari penghakiman, maka kata-kata kita hanya barang tiruan hambar yang tidak bergetar. Makanya mereka yang berkarya dengan kualitas kenabian (prophetic) seperti Jalaluddin Rumi, Thich Nhat Han, Michael Naimy, Rabindranath Tagore, dengan kata-kata yang menggetarkan, semuanya sudah lewat dari kesukaan melakukan penghakiman. Dan siapa saja yang telah melewati ini tahu, betapa cepatnya pertumbuhan kemudian.

Teknik yang tepat adalah batang pohonnya. Bertemu teknik yang terlalu maju, atau terlalu rendah dibandingkan dengan tingkat pertumbuhan, hanya akan membuat perjalanan hambar dan biasa. Sehingga layak disarankan untuk mencoba berbagai teknik, kemudian rasakan. Teknik mana pun yang menghadirkan rasa damai yang paling mendalam, bisa jadi itulah teknik yang sesuai dengan tingkat pertumbuhan kini.

Daun rimbun kedamaian muncul ketika perjalanan ke dalam mulai menyatu dengan keseharian. Seperti mandi, ada yang kurang kalau sehari tidak melakukan perjalanan ke dalam. Lebih dari itu, setiap kejadian dalam keseharian (yang menyenangkan sekaligus yang menjengkelkan) menghadirkan bimbingan-bimbingan.

Bunga pohon kedamaian mulai bermekaran tatkala keseharian mulai menyentuh kedamaian. Hidup serupa dengan berjalan ke puncak gunung. Semakin lama semakin teduh dan sejuk. Ini baru bayangan bulan. Bila bayangannya saja demikian indah, betapa indahnya bulan kedamaian yang sebenarnya.

Siapa saja yang tekun dan terus menerus menyentuh kedamaian, persoalan waktu akan melihat munculnya buah pohon kedamaian. Kedamaian yang berlawankan kesedihan memang menghilang, ia digantikan batin tenang seimbang yang keluar dari segala dualitas.

Sejumlah sahabat Sufi yang sampai di sini berhenti memuji surga, berhenti mencaci neraka. Di Jawa disebut suwung. Di Bali diberi sebutan embang (Sunyi). Orang Zen menyebutnya attaining the non attainment. Mencapai keadaan tanpa pencapaian. Yang membuat cerita pohon kedamaian ini jadi lebih utuh, Thomas Merton pernah mengungkapkan, pekerjaan manusia yang telah tercerahkan mirip dengan pohon. Dalam hening, dalam damai pohon mengubah karbon dioksida menjadi oksigen yang dihirup tidak terhitung jumlah mahluk.

Peraih buah kedamaian juga serupa, ia tidak menikmati kedamaiannya sendiri. Dalam hening, dalam damai ia menghasilkan vibrasi kedamaian, yang serupa dengan oksigen kendati tidak terlihat, namun amat dibutuhkan oleh tidak terhitung jumlah mahluk. Sebagian orang-orang yang tercerahkan cara bernafasnya berbeda. Ketika menarik nafas, ia bayangkan sedang menarik masuk semua kekotoran. Tatkala menghembuskan nafas, ia bayangkan sedang membuang semua hal yang bersih dan jernih.

Gede Prama, 7 Juni 2009

Ichsanuddin: Neoliberal Terbukti Gagal Sejahterakan Rakyat


Ekonomi berbasis neoliberal sebagaimana diterapkan oleh negara barat dianggap telah gagal menyejahterakan rakyat. Bahkan, neoliberal hanya membuat orang kaya makin kaya dan kaum papa makin ternista.

Demikian pendapat pengamat ekonomi Ichsanuddin Noorsy, saat menjadi pembicara dalam diskusi publik bertajuk 'Perspektif Ekonomi Indonesia Pasca Pilpres 2009', yang digelar DPP Pemuda Demokrat di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Menurut Ichsanuddin, neoliberal berasal dari Washington Consensus. Konsensus ini antara lain berisi; Pertama, larangan menyubsidi rakyat dan membiayai penyediaan dan pengelolaan barang dan jasa publik melalui apa yang dinamakan disiplin fiskal.

Kedua, jika pemerintah sudah terlanjur terlibat pada penyediaan barang dan jasa publik, maka harus dijual ke swasta (privatisasi); Ketiga, meliberalkan semua sektor perekonomian dengan memberlakukan asas non diskriminatif antara pelaku asing dan pelaku nasional.

"Hasilnya adalah, AS dan terutama negara G7 serta negara-negara yang berpatron ke prinsip itu mengalami krisis lagi pada Oktober 2008," kata mantan anggota DPR-RI dari Golkar tersebut.


Menurut catatan National Bureau of Economic Research, lanjut Ichsanuddin, krisis ekonomi yang disebut sebagai siklus itu sudah terjadi 33 kali sejak 1854 sampai 2007. "Dalam kajian ekonomi politik dan sosiologi pembangunan, maka ekonomi neoliberal selalu menghadapi kegagalan mengatasi pengangguran, kemiskinan dan ketimpangan," jelas Ichsanuddin.

Bagaimana dengan Indonesia? Menurut Ichsanuddin, semua tergantung dari rakyat Indonesia . "Apakah kita mau setia pada pemikiran anak bangsa dan cinta pada rakyat Indonesia yakni mengusung sistem ekonomi kerakyatan, atau memilih neoliberal, aliran pemikiran ekonomi yang selalu menemui kegagalan," pungkasnya.

detikNews, 3 Juni 2009

Wednesday, June 17, 2009

Barack Obama: Satu Pidato Tak Menyelesaikan Masalah


SUARANYA lantang, tapi ramah. "Halo, halo, halo," katanya seraya memasuki ruangan. Tujuh wartawan berbagai negeri yang telah menunggu di sekeliling meja bundar di sebelah aula Universitas Kairo, Mesir, itu pun berdiri menyambut, Kamis pekan lalu.

Barack Obama baru saja selesai berpidato di aula universitas. Di depan sekitar 3.000 hadirin -sebagian besar mahasiswa- Presiden Amerika Serikat itu berbicara tentang negerinya, dunia Islam, dan mustahaknya perdamaian. Ia mengutip Al-Quran dan Taurat. Sepanjang 55 menit itu hadirin memberikan lebih dari 25 aplaus, dan dua kali teriakan "I love you!"

Ia tak tampak lelah ketika memasuki ruangan wawancara. Sambil bersalaman, para wartawan mulai bertanya. "Masih bisa berbahasa Indonesia?" wartawan Shahanaaz Habib dari koran The Star, Malaysia, menyapa. Obama menjawab dalam bahasa Indonesia yang fasih, "Sudah banyak lupa."

Wartawan Tempo, Bambang Harymurti, mengajukan empat pertanyaan, termasuk tentang rencana Obama menjenguk rumahnya di Menteng Dalam, Jakarta. Juga tentang sikapnya mengenai hubungan politik dan keyakinan agama.

Obama memang bukan penganut sekularisme murni, seperti umumnya kaum liberal di Partai Demokrat. Pengalamannya bergaul di kalangan aktivis gereja membuatnya melihat peran para pastor gereja kalangan berkulit hitam (black churches), yang biasanya juga aktivis sosial, bahkan politik.

Mengenakan setelan jas hitam dan dasi biru, Presiden Obama duduk di kursi dan memulai acara dengan santai, tapi serius. "Kita kabarnya hanya punya waktu 30 menit, dan saya baru berpidato," katanya. "Jadi, sebaiknya kita mulai saja acara ini secara bergiliran." Ia segera menunjuk Wafa Amr, wartawan perempuan koran Al Quds di Palestina.

Pertanyaan demi pertanyaan meluncur, dan Presiden Obama menjawabnya dengan penuh percaya diri. Agaknya, pengalamannya sebagai pengajar membuatnya campin menjelaskan masalah pelik dengan segar, karena selalu dilampiri senda gurau.

Tak terasa 50 menit berlalu, dan wawancara harus dihentikan. "Saya sekarang ingin melihat piramida," katanya. Namun para wartawan rupanya tak ingin melepaskan Obama begitu saja. Acara foto bersama dan minta tanda tangan pun sempat berlangsung sebelum presiden yang ramah itu meninggalkan ruangan.

Berikut ini wawancara Presiden Obama dengan Tempo dan enam wartawan dari Palestina, Mesir, Israel, Malaysia, Libanon, dan Arab Saudi.


Kapan Anda berkunjung ke Indonesia?
O... saya perlu berkunjung ke Indonesia segera. Saya perkirakan pada tahun depan. Saya akan surprised kalau dalam perjalanan ke Asia nanti saya mampir ke kampung halaman lama saya, Jakarta. Pergi ke Menteng Dalam, makan bakso dan nasi goreng... (tertawa).

Saya tinggal hanya 300-an meter dari rumah Anda di Menteng Dalam....
Is that right? Tapi saya dengar sekarang jalannya sudah diaspal, ya? Dulu, sewaktu saya tinggal di sana, jalannya masih tanah, sehingga kalau turun hujan jadi lumpur dan mobil-mobil terjebak.

Apakah Anda akan datang November nanti, ketika ada pertemuan Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC)?
Jangan tanya saya soal detail... (tertawa).

Dalam buku The Audacity of Hope, Anda menulis soal pengalaman Anda terlibat dalam kegiatan gereja kaum kulit hitam. Apakah Anda merasa banyak kesamaan pandangan di kalangan aktivis gereja kulit hitam itu tentang hubungan agama dan politik dengan pandangan para aktivis politik Islam?
Sebagai seorang penganut Nasrani yang juga pendukung kuat demokrasi dan hak asasi manusia, dan dosen ilmu konstitusi, saya punya pandangan tentang bagaimana masyarakat pluralistik hidup bersama. Ini adalah soal yang telah banyak saya pikirkan. Apa yang saya coba komunikasikan dalam pidato saya adalah apa yang amat saya yakini, bahwa di dunia yang interdependen seperti sekarang ini, tempat berbagai keyakinan yang berbeda harus hidup bersama, kita membutuhkan keyakinan yang dewasa, yaitu yang mengatakan: saya sangat meyakini keyakinan saya, tapi saya menghormati kenyataan bahwa orang lain juga dapat amat meyakini keyakinannya yang berbeda. Jadi, jalan satu-satunya kita dapat hidup bersama adalah jika kita menyepakati satu sistem politik yang menghasilkan aturan tentang bagaimana hubungan bersama dilakukan, yaitu saya tak bisa memaksakan ketentuan agama saya berlaku pada orang lain, bahwa saya tak bisa memobilisasi pihak mayoritas untuk mendiskriminasi kalangan minoritas. Saya tak bisa mengambil aturan dalam agama saya dan menerapkannya kepada penganut agama lain.

Itu bukan berarti saya tak dapat melontarkan argumen berdasarkan keyakinan saya. Misalnya, sebagai penganut Nasrani, saya percaya perintah Tuhan tentang tak boleh membunuh, dan sebagai politikus saya mengupayakan undang-undang yang melarang orang membunuh. Ini bukan berarti saya memaksakan keyakinan agama saya, melainkan memperjuangkan nilai moral yang mungkin diterima juga oleh pihak-pihak lain karena bersifat universal. Saya kira amat penting bagi umat Islam untuk merenungkan soal ini. Misalnya tentang syariah. Saya sadar tak semua agama punya pandangan yang sama tentang perannya dalam politik, tentang bagian mana dalam ajarannya yang layak diterapkan pada hukum sekuler. Tapi, kalau ada yang memaksakan ajarannya harus dijalankan oleh penganut agama atau kelompok lain, ini jelas bertentangan dengan semangat demokrasi dan lama-lama akan menyebabkan terjadinya instabilitas, bahkan perilaku destruktif di masyarakat. Ini adalah hal penting yang perlu diperdebatkan secara internal di kalangan penganut Islam.


Satu hal yang saya yakini, bila ada yang merasa dibenarkan oleh agamanya untuk membunuh orang lain, pasti ia telah keliru memahami ajaran agamanya. Saya kira ini adalah persoalan yang perdebatannya sudah selesai bagi kebanyakan orang, tapi masih ada kelompok amat kecil yang berpotensi destruktif.

Mengapa memilih Kairo untuk melontarkan pidato ini?
Saya pikir penting melakukannya di Kairo, karena sumber masalah utama hubungan Islam dan Amerika Serikat belakangan ini berada di kawasan Timur Tengah. Ini memang nyaris terkesan mencederai Indonesia, karena bukan hanya saya pribadi yang mengenal dekat budayanya. Adik tiri saya kelahiran Indonesia. Tapi, terus terang, hubungan Amerika Serikat dan Indonesia umumnya baik. Memang sempat melemah beberapa saat setelah perang Irak, tapi boleh dikatakan secara umum komunikasi kami baik. Kecenderungan saya adalah menghadapi masalah di sumbernya, bukan dengan menghindar. Dan dalam situasi sekarang ini, saya kira, sumber masalah dengan Amerika Serikat adalah dengan negara-negara di Timur Tengah.

Sebenarnya pidato Anda ditujukan kepada siapa? Kelompok ekstrem tampaknya tak menggubris.
Terutama kalangan muda dunia Islam. Kalau ada anak muda Islam, mungkin berusia 20 tahun, yang tersentuh ajakan saya, lalu memulai sebuah percakapan dengan teman sebaya atau orang tuanya, itu berarti pidato saya tak sia-sia. Mudah-mudahan perbincangan itu membuat mereka tak mudah direkrut kelompok ekstrem. Kelompok ekstrem memang bukan khalayak sasaran pidato saya.

Tidakkah ekspektasi terhadap Anda terlalu tinggi?
Saya sudah berusaha menjelaskan bahwa hanya satu pidato tak akan menyelesaikan masalah. Yang hendak saya lakukan adalah memulai sebuah perbincangan, bukan hanya antara saya dan masyarakat Islam, tapi di antara komunitas Islam sendiri, di antara masyarakat Amerika, juga di antara masyarakat Barat, yaitu bagaimana membicarakan masalah ini dengan jujur. Apa diagnosis terhadap problem yang ada? Mungkin perlu waktu lama untuk melakukan diagnosis, tapi tak mungkin melakukan penyembuhan tanpa diagnosis yang tepat. Saya tak berpikir beberapa masalah ini akan dapat diselesaikan dalam waktu singkat.

Apa perbedaan pendekatan pemerintahan Anda dibanding sebelumnya dalam upaya menyelesaikan masalah Palestina?
Saya kira terlalu prematur menjawabnya sekarang. Saya baru menyampaikan satu pidato tentang hal-hal prinsip saja, belum masuk ke pelaksanaannya. Perdana Menteri Netanyahu baru menjabat dua bulan, dan Presiden Mahmud Abbas, yang saya temui dua pekan lalu, sedang melakukan konsultasi dengan para pemimpin Arab. Masih harus didiskusikan sejauh mana kesediaan masing-masing pihak mencari penyelesaian. Ini adalah masalah sulit, dan tak boleh dianggap remeh. Apalagi masing-masing pihak memiliki persoalan politik yang juga pelik. Konflik ini sudah berjalan 60 tahun, tak mungkin diselesaikan dalam waktu singkat.


Adakah kerangka waktu dalam menyelesaikan kasus ini?
Saya tak mau memaksakan jadwal. Saya kira dapat dirasakan kapan perundingan mengalami kebuntuan dan kapan bergerak. Saat ini kebuntuan sudah terjadi untuk waktu cukup lama, maka perlu digerakkan kembali.

Bagaimana sikap Anda terhadap Hamas?
Telah saya sebutkan dalam pidato saya tadi bahwa tak dapat dimungkiri Hamas mempunyai dukungan di sebagian warga Palestina. Juga saya katakan, Hamas harus mulai memikul tanggung jawab jika ingin menjalankan pemerintahan. Hamas harus sadar, tak mungkin menjalankan pemerintahan tanpa mengakui eksistensi negara tetangganya, Israel. Menghilangkan Israel adalah sebuah ilusi. Kini Hamas harus memutuskan apakah hanya tertarik berbicara atau menghasilkan karya nyata. Jika memang serius, Hamas harus keluar dari jalan kekerasan dan mengakui hak hidup Israel. Jika ini dilakukan, masih banyak hal lain yang dapat dinegosiasikan. Maka pilihan sebenarnya berada di tangan Hamas.

Mungkinkah pemerintahan Anda menekan Perdana Menteri Netanyahu, mengingat kuatnya lobi Israel di Kongres Amerika Serikat?
Pertama, saya telah menjelaskan bahwa hubungan Amerika Serikat dan Israel amat kuat, tak mungkin putus, partai apa pun yang berkuasa di Kongres. Hubungan ini amat dalam, karena faktor budaya dan sejarah. Jadi jangan harap hubungan ini akan putus. Tentang Perdana Menteri Netanyahu, dia baru saja menyusun pemerintahan koalisi yang tak mudah, dan baru dua bulan menjabat. Saat ini, banyak warga Israel kehilangan kepercayaan terhadap proses negosiasi. Saya percaya Perdana Menteri Netanyahu akan menghidupkan kembali kepercayaan ini. Ingat kunjungan Nixon yang terkenal ke Cina? Karena Nixon dari Partai Republik yang dikenal antikomunis, ia dapat melakukannya. Hal ini susah dilakukan seorang presiden dari Partai Demokrat. Saya percaya Netanyahu dapat memainkan peran seperti yang dilakukan Nixon dulu. Paling tidak, berilah kesempatan beberapa bulan lagi sebelum menyatakan penyelesaian kasus Palestina pasti gagal.

Bagaimana sebenarnya sikap Anda tentang Iran?
Saya sudah menjelaskan soal ini di masa lalu, dan tetap konsisten. Adalah kepentingan Iran juga untuk mencegah terjadinya perlombaan memiliki nuklir di kawasan ini. Pendekatan saya adalah, mari membicarakan hal ini dan mencari solusi bersama. Tapi saya juga sadar tentang batasan waktu, tentang pentingnya masalah ini diselesaikan segera. Saya cenderung melakukan pendekatan diplomasi dalam menyelesaikan masalah, tapi tentu saya tak akan melakukan pembicaraan sekadar untuk bicara saja. Jika saya tak melihat ada kemajuan, tentu opsi lain dipertimbangkan demi menjaga kepentingan kami.

TEMPO Interaktif, 8 Juni 2009

Lika-Liku Tempo Bercakap dengan Obama di Kairo


"Sebentar lagi saya wawancara Barack Obama. Doakan sukses." Chief Corporate Editor Tempo Bambang Harymurti (BHM) mengirim surat elektronik itu menjelang berangkat ke Universitas Kairo, Mesir, Kamis pagi pekan lalu. Di universitas ini Obama berpidato tentang Amerika dan dunia Islam sepanjang hampir 55 menit.

Telah lama Tempo merencanakan wawancara dengan Obama, jauh sebelum ia merebut kursi Gedung Putih. Surat resmi telah dilayangkan, begitu pula lobi melalui Maya Soetoro, adik kandung Obama yang berdarah Indonesia. BHM pun berharap bertemu dengan sang Presiden ketika menghadiri pertemuan para penggiat demokrasi dari berbagai penjuru dunia di Washington, DC, bulan lalu. Tapi Obama membatalkan kedatangannya.

Pucuk dicita, tawaran wawancara justru tiba dari Departemen Luar Negeri Amerika. Minggu dua pekan lalu sekretaris pers Kedutaan Amerika memintanya terbang ke Kairo sebelum Kamis. Padahal semua penerbangan ke Kairo pada Rabu penuh. Itu berarti BHM harus mendapatkan visa Mesir dalam dua hari.

Duta Besar Mesir di Jakarta Ahmed El Kewaisny turun tangan. Pak Dubes yang bekas wartawan Al Ahram itu penasaran bagaimana Tempo bisa mendapatkan wawancara Obama di Kairo padahal ia cuma singgah sebentar. Wartawan Mesir saja masih berebut mewawancarainya.

Sebelum berangkat, BHM mengunjungi rumah yang pernah ditempati Obama di Menteng Dalam, Jakarta. Di sini Obama kecil dikenal sebagai anak berkulit hitam berambut kribo. Ketika itu Obama sering diolok-olok dengan panggilan "Barry Bebek Sawah", karena cara jalannya yang mirip bebek. BHM juga mengunjungi Sekolah Dasar Asisi, tempat Obama pernah bersekolah hampir tiga tahun.


Pembaca, dengan mereportase kembali jejak Obama di Jakarta dan menggali pemikirannya, seperti yang ia tuangkan dalam buku The Audacity of Hope, BHM membawa sejumlah pertanyaan. Di aula Universitas Kairo itulah BHM menyaksikan sang "Bebek Sawah" memukau sekitar 3.000 mahasiswa, termasuk puluhan mahasiswa Al-Azhar asal Indonesia. Tercatat sedikitnya 25 kali hadirin memberikan aplaus. Terdengar teriakan "I love you Obama" dua kali. Teriakan kedua lebih keras. Obama sampai menghentikan bicaranya sejenak untuk mengatakan "Thank you".

Lalu di meja bundar di sebelah aula universitas, Obama menjawab secara berturutan pertanyaan Wafa Amr (Al Quds, Palestina), Magdy el-Galad (Al-Masr Alyoum, Mesir), Nahum Barnea (Yedioth Ahronoth, Israel), BHM (Tempo, Indonesia), Shahanaaz Habib (The Star, Malaysia), Sarkis Naoum (An Nahar, Libanon), dan Jamal Kashoggi (Al Watan, Saudi).

BHM antara lain bertanya tentang rencana kunjungannya ke Indonesia. Sambil tertawa lebar Obama mengatakan, "Segera. Saya mau ke Menteng Dalam, makan bakso dan nasi goreng," katanya dalam bahasa Indonesia. Ia lalu menjelaskan apa itu Menteng Dalam, bakso, dan nasi goreng dalam bahasa Inggris kepada para wartawan yang lain.

Seusai wawancara selama 50 menit itu, Obama dan wartawan berfoto bersama. "Mari kita lakukan segera, supaya saya bisa melihat piramida," katanya. Sebagian wartawan pun minta tanda tangan Obama di nota catatan, bahkan di selembar kertas. BHM menyodorkan buku The Audacity of Hope.


Di Universitas Kairo itu, BHM harus mengejar tenggat penerbitan Koran Tempo yang sudah dekat. Ia pun segera lari ke media center di seberang jalan. Namun listrik di media center itu mati mendadak ketika laporan hampir dikirim. Celaka dua belas. Tulisan hilang. BHM pun segera kembali ke hotel untuk mengetik ulang. Direktur Utama PT Tempo Inti Media Tbk., perusahaan yang menerbitkan majalah ini, itu pun dengan susah payah menerobos pengamanan yang luar biasa ketat dan menumpang taksi yang ternyata membuatnya tersesat. Jerih payah dan perjuangan panjang itulah yang membuahkan laporan utama majalah Tempo kali ini. Bercakap dengan Obama di Kairo

Selamat membaca.

TEMPO Interaktif, 8 Juni 2009

Seruan Simpatik Via Kairo


Pidato Presiden Amerika Serikat Barack Hussein Obama di Kairo sebenarnya hanyalah penegasan kembali keinginannya untuk meletakkan hubungan baik dengan dunia Islam sebagai prioritas pemerintahnya. Dalam pidato itu, dia menyerukan dimulainya babak baru di antara kedua pihak. Inilah pidato yang wujud nyatanya pasti akan terus ditagih umat Islam.

Selama 55 menit, Obama berbicara begitu jelas dan jernih. Nadanya simpatik. Dia mengakui adanya "tahun-tahun ketidakpercayaan" serta "siklus kecurigaan dan perselisihan" antara Amerika dan dunia Islam. Tapi, seraya memastikan bahwa Amerika akan terus memerangi terorisme dan melanjutkan persekutuan dengan Israel, dia meminta kedua pihak melakukan "usaha berkelanjutan untuk saling menghormati dan mencari pengertian bersama".

Pidato itu memang ditunggu-tunggu dengan antusiasme meluap. Ekspektasi tentang apa yang hendak dikatakan Obama kali ini terasa begitu tinggi. Walau begitu, harus diakui tantangan yang dihadapinya luar biasa besar. Dia harus menepis lebih dulu kekeliruan dan prasangka buruk terhadap Amerika yang berakar dalam di banyak bagian dunia Islam.

Dan Obama mengambil kesempatan untuk melakukan koreksi itu secara memikat. Dia, antara lain, kembali menegaskan bahwa Amerika tidak berperang dengan Islam, karena Islam juga menjadi bagian dari Amerika. Menurut dia, Amerika akan terus berusaha menjalin kerja sama yang luas berdasarkan kepentingan bersama dan saling menghormati. Tapi apakah dia berhasil meyakinkan audiensnya -semiliar lebih muslim di seluruh dunia- bahwa Amerika kali ini tulus? Dia butuh lebih dari sekadar kata-kata.

Mula-mula harus diakui bahwa ada yang melihat pernyataan itu mengandung masalah. Alasannya, Obama berbicara tentang Islam sebagai satu entitas. Karena ada kalangan yang meyakini Islam bukan semata sebagai agama, tapi juga sebagai gerakan politik, sudut pandang Obama itu dinilai justru bisa memperkuat ilusi bahwa Islam merupakan satu kesatuan dan tak bisa dibagi-bagi. Ilusi inilah yang dianggap ikut menjadi dasar radikalisme dan aksi kekerasan atas nama Islam.


Namun, bahkan andaikata kemajemukan Islam bisa diabaikan, dunia Islam pasti masih ingat betapa George W. Bush pun berulang kali mengatakan hal yang sama seperti Obama sejak tragedi 11 September 2001. Selama dua periode pemerintahnya, hubungan Amerika dengan dunia Islam toh terus memburuk. Masalahnya, kebijakannyalah yang sebenarnya menjadi ukuran. Tindakan Bush hampir selalu bertentangan dengan kata-katanya. Kini giliran Obama untuk melakukan perbaikan.

Tapi rintangan yang ia hadapi jauh lebih terjal. Sebab, kebijakan Amerika bagai raksasa gendut yang lamban dan malas bergerak, sementara kepentingan Amerika tak pernah berganti, siapa pun presidennya. Yang diperlukan Obama adalah tekad kuat dan daya kepemimpinan yang berlipat-lipat.

Di titik ini ada keraguan. Beberapa langkah dan sikap Obama sendiri menjadi penyebabnya. Dalam soal Irak, misalnya, dia memang meminta penarikan pasukan Amerika. Tapi, untuk Afganistan, dia malah mengirimkan tambahan pasukan. Dia juga diam saja ketika Israel membombardir Jalur Gaza -apa pun alasannya. Dalam pidatonya di Mesir, dia tetap menyokong keputusan Bush bahwa pejabat Amerika dilarang berhubungan dengan Hamas sampai kelompok sosial-politik Palestina itu memenuhi syarat-syarat yang diajukan Amerika, Uni Eropa, Rusia, dan Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Sebelum daftar negatif itu menjadi panjang, Obama harus segera mewujudkan kata-katanya. Ia mesti mulai berinisiatif mencari cara mengkompromikan kebijakan luar negeri Amerika dan visinya tentang perdamaian Amerika dengan Islam. Dalam hal ini, kredibilitas personalnya saja tak akan bisa diandalkan, apalagi "saldo"-nya bisa menciut sewaktu-waktu.

TEMPO Interaktif, 7 Juni 2009