Showing posts with label islam. Show all posts
Showing posts with label islam. Show all posts

Wednesday, April 24, 2024

Islam, Jalan Hidup Kartini


Raden Ajeng Kartini (1879-1904) secara tidak langsung ikut merintis terjemahan Al-Qurân pertama dalam bahasa Jawa.

Raden Ajeng Kartini, seorang Muslimah pahlawan Indonesia, lahir pada 21 April 1879 di Jepara (Jawa Tengah). Dalam buku Panggil Aku Kartini Saja (1962), Pramoedya Ananta Toer mendeskripsikan Jepara pada saat itu sebagai sebuah daerah yang baru saja lepas dari Tanam Paksa (Cultuurstelsel), yang amat mencekik peri-kehidupan masyarakat setempat. Pada masa puncak penerapan Cultuurstelsel, lanjut Pram, para petani Jepara harus menyerahkan sepertiga dari tanah garapannya kepada pihak gubernur jenderal untuk ditanami tanaman-tanaman komoditas ekspor, seperti kopi, karet, cokelat, dan tebu.

RA Kartini berasal dari keluarga priayi yang kental nuansa feodalisme. Sebelum wanita ini lahir, ayahnya yakni Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat menjabat sebagai wedana di Desa Mayong, Jepara. Saat usia putrinya itu masih bayi, Ario Sosroningrat telah diangkat menjadi bupati Jepara.


Pengangkatan ini berimbas bukan hanya pada lingkungan kerja, tetapi juga keluarga. Ario Sosroningrat menikah lagi dengan seorang perempuan ningrat Madura, Raden Ajeng Moerjam. Alhasil, istri pertamanya yang bernama Ngasirah mengalami turun posisi hingga berstatus bukan istri resmi.

Bukan itu saja ujian yang dialami Ngasirah, perempuan yang dinikahi Ario ketika masih berusia 14 tahun. Ibu kandung Kartini tersebut bahkan mesti memanggil anak-anaknya dengan sapaan ndoro. Itu menandakan rendahnya kedudukan seorang ibunda di hadapan darah dagingnya sendiri.

Bagaimanapun, anak-anaknya tidak pernah mau merendahkan ibu mereka sendiri. Hal itu ditegaskan adik kandung Kartini, Kardinah. Menurutnya, mereka selalu memuliakan Ngasirah, sebagaimana wajarnya anak terhadap orang tua.


Kartini merupakan anak kelima dari 11 bersaudara, kandung dan tiri. Ia mewarisi darah ulama dari ibu kandungnya. Th Sumartana dalam buku “Tuhan dan Agama dalam Pergulatan Batin Kartini” (1993) mengungkapkan, Ngasirah merupakan putri Kiai Modirono, seorang ulama masyhur asal Desa Telukawur, Jepara.

Di samping mengajarkan agama Islam, kakek Kartini itu juga bekerja sebagai pedagang kopra di Desa Mayong. Adapun Ngasirah sejak masih berusia anak-anak telah mahir mengaji Al-Qurân. Ketika sudah menikah dan jabatan suaminya perlahan-lahan merangkak naik, wanita itu mulai belajar membaca dan menulis dalam bahasa Jawa serta Melayu walaupun tak sempurna.

Berbeda dengan pihak istri pertamanya, Ario Sosroningrat berasal dari keluarga ningrat Jawa yang sangat terbuka pada pendidikan Barat. Kakek Kartini dari pihak bapaknya, Pangeran Ario Tjondronegoro, merupakan bupati Demak. Di rumahnya, tidak jarang mereka menggunakan bahasa Belanda.

Ario Sosroningrat meneruskan kesukaan ayahnya pada gaya pendidikan Barat kepada anak-anaknya. Bahkan, seorang kakak Kartini yang bernama Kartono dikirimkan ke Negeri Belanda untuk melanjutkan studi.

Raden Ajeng Kartini berkerudung dan pakai jilbab?

Menurut Th Sumartana, hal itu merupakan tanda bahwa kalangan elite lokal Jawa pada masa itu telah menyadari pentingnya penyesuaian diri dengan budaya dan cakrawala pengetahuan Eropa. Pendidikan Barat pun menjadi gerbang bagi para penguasa pribumi agar mampu memperoleh atau mempertahankan jabatan di struktur birokrasi kolonial.

Sekalipun menyukai pendidikan Barat, ayah Kartini tidak begitu saja melalaikan pendidikan agama. Saat menjadi bupati Jepara, ia mengundang para dai ke kabupatennya untuk mengajarkan Al-Qurân. Untuk anak-anaknya pun, Ario Sosroningrat mendatangkan guru ngaji (ustadz) untuk membimbing mereka.

Bagaimanapun, lanjut Th Sumartana, metode pengajaran agama Islam yang diperoleh Kartini dan saudara-saudaranya tidaklah mendalam. Ustadz yang datang ke rumahnya hanya mengajarkan cara membaca Al-Qurân. Tidak ada pembahasan tentang terjemahan atau makna kitab suci tersebut.

Dalam suratnya kepada Estelle “Stella” Zeehandelaar pada 6 November 1899, Kartini mencurahkan perasaannya mengenai agama ini: “Tentang ajaran Islam, tidak dapat saya ceritakan, Stella. Agama Islam melarang pemeluknya untuk mempercakapkannya dengan pemeluk agama lain. Dan, sebenarnya saya beragama Islam karena nenek moyang saya beragama Islam.

Buku "Habis Gelap Terbitlah Terang" versi asli bahasa Belanda.

Belakangan, Kartini mulai membangun pandangan kritis terhadap pendidikan Islam yang diterimanya sejak kanak-kanak. Hal itu berkat kebiasaannya semasa remaja berkorespondensi dengan kawan-kawannya yang orang Belanda. Dalam surat yang sama, Kartini menulis: “Bagaimana saya mencintai agama saya, kalau saya tidak memahaminya? Tidak boleh mengenalnya? Al-Qurân terlalu suci untuk diterjemahkan dalam bahasa apa pun juga. Di sini, tidak ada orang yang tahu bahasa Arab. Di sini orang diajari membaca Al-Qurân, tetapi tidak mengerti apa yang dibacanya.

Saya menganggap hal itu suatu pekerjaan gila: mengajar orang membaca tanpa mengajarkan makna yang dibacanya. Samalah halnya seperti engkau mengajar saya membaca buku bahasa Inggris dan saya harus hafal seluruhnya, tanpa kamu terangkan arti kata sepatah pun dalam buku itu kepada saya. [...] Bukankah demikian, Stella?

Cara pandang Kartini yang menilai pengajaran Islam kala itu tidak memadai, menurut Sumartana, menciptakan jarak tertentu baginya terhadap Islam. Gap ini memungkinkan wanita ningrat Jawa tersebut untuk bersikap kritis terhadap agamanya, sebagaimana terbaca dari surat-suratnya untuk Stella Zeehandelaar.


Stella Zeehandelaar berusia lima tahun lebih tua daripada Kartini. Begitu lulus dari sekolah menengah Hoogere Burgerschool (HBS), wanita kelahiran Belanda itu bekerja pada Kantor Pos, Telepon dan Telegram di Amsterdam.

Saat berusia 20 tahun, Kartini memasang sebuah iklan di majalah terbitan Belanda, De Hollandsche Lelie. Isinya menjelaskan bahwa dirinya merupakan putri seorang bupati Jepara di Hindia Belanda (Indonesia) dan sedang mencari teman perempuan untuk dapat saling bertukar pikiran melalui surat-menyurat. Kawan yang dicarinya ini harus merupakan orang Belanda dan berusia sebaya dengannya.

Kebetulan, Stella membaca iklan tersebut. Sebagai seorang aktivis feminisme, wanita Belanda itu tertarik dan bersedia untuk menjadi teman korespondensi bagi seorang putri ningrat Jawa. Demikianlah awal pertemanan mereka. Kini, hasil surat menyurat keduanya telah dibukukan dalam berbagai terbitan. Salah satunya adalah On Feminism and Nationalism: Kartini’s Letters to Stella Zeehandelaar 1899-1903 (1995).

Mr Jacques Henrij (JH) Abendanon dan istrinya Rosa Abendanon.

Kartini juga memiliki kawan korespondensi lainnya, yakni EC Abendanon, seorang anak pasangan Mr Jacques Henrij (JH) Abendanon dan Rosa Abendanon. Antara tahun 1900 dan 1905, JH Abendanon merupakan menteri pendidikan Hindia Belanda. Sesudah Kartini wafat, pejabat Belanda itu dan istrinya berinisiatif mengumpulkan surat-surat almarhumah dan menghimpunnya ke dalam buku, yang diberi judul Door Duisternis tot Licht (Dari Kegelapan Menuju Terang).

Seperti curahan hatinya kepada Stella, Kartini pun mengungkapkan kegelisahan batinnya mengenai praktik pengajaran agama Islam kepada EC Abendanon. Dalam sebuah surat kepada anak JH Abendanon itu tertanggal 15 Agustus 1902, sang putri Jawa sampai-sampai mengaku tidak mau membaca Al-Qurân lagi. Sebab, dirinya toh tidak mengerti arti ayat-ayat kitab suci tersebut dalam bahasa Arab. Pengakuan itu cenderung merupakan ekspresi Kartini yang merasa kecewa karena tidak ada siapapun di sekitarnya yang bersedia menerangkan Al-Qurân kepadanya.

Dan waktu itu, aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang tidak tahu apa perlu dan manfaatnya. Aku tidak mau lagi membaca Al-Qurân, belajar menghafal perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya.

Jangan-jangan, guruku pun tidak mengerti artinya. Katakanlah kepada aku apa artinya, nanti aku akan mempelajari apa saja. Aku berdosa. Kitab ini terlalu suci sehingga kami tidak boleh mengerti apa artinya,
” tulis Kartini kepada Abendanon.

Sumartana berpendapat, sikap Kartini itu sesungguhnya menyasar pada budaya tempatnya berada, bukan Islam sebagai agama yang dianutnya. Wanita ningrat Jawa itu merasa terkungkung oleh lingkungan yang menjalankan ajaran Islam secara taklid sehingga untuk “sekadar” menjelaskan isi kitab suci pun tidak mampu (ketakutan?). Keluh kesah ini diungkapkan Kartini melalui korespondensinya dengan kawan-kawannya yang orang Belanda.

Ayat Al-Quran yang menginspirasi RA Kartini: "mina azh-zhulumaati ila an-nuur".

Faidh al-Rahman
Sesudah wafatnya RA Kartini, surat-suratnya kemudian dikumpulkan oleh Abendanon ke dalam buku Door Duisternis tot Licht (Dari Kegelapan Menuju Terang). Versi terjemahan bahasa Melayu terbit pada 1922 dengan judul “Habis Gelap Terbitlah Terang.”

Nyai Dahlan dalam artikel “Inspirasi Kartini di Kalangan Muslimat” memandang, metafora “dari kegelapan menuju terang benderang” itu merujuk pada kata-kata yang banyak disebut dalam ayat-ayat Al-Qurân: mina azh-zhulumaati ila an-nuur. Misalnya, surah al-Baqarah ayat ke-257.

Dalam firman-Nya itu, Allah menegaskan bahwa Dia adalah pelindung orang yang beriman. “Dia (Allah) mengeluarkan mereka (orang beriman) dari kegelapan kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya adalah thaghut, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan.” (QS al-Baqarah: 257).

Dalam fase kehidupan RA Kartini, menurut Nyai Dahlan, ada titik yang dari sanalah sang putri Jepara mulai berhijrah. Titik yang dimaksud adalah perjumpaannya dengan KH Shaleh Darat as-Samarani (wafat 1903 M), seorang ulama besar yang mengajar di Semarang (Jawa Tengah).


Cerita pertemuan ini bermula ketika Kartini mengunjungi kediaman pamannya, Pangeran Ario Hadiningrat, yang merupakan seorang bupati Demak. Saat tiba, perempuan ningrat itu mendapati bahwa sedang ada pengajian di rumah sang paman. KH Shaleh Darat hadir sebagai pengisi materi.

Dalam kesempatan itu, ulama tersebut menjelaskan tafsir surah al-Fatihah kepada hadirin yang memadati pendopo rumah Pangeran Ario Hadiningrat. Mendengarnya, Kartini langsung tertarik. Dengan saksama ia menyimak seluruh uraian Kiai Shaleh Darat.

Bagi Kartini, inilah untuk pertama kalinya ia diberi tahu tentang arti dan makna ayat-ayat suci Al-Qurân. Sebelumnya, wanita yang cerdas ini hanya diajarkan untuk sekadar membaca teks Al-Qurân atau menghafalkan beberapa surah pendek, tanpa menyelami kandungan isi kitab suci tersebut.

Untuk pertama kalinya, Kartini merasa terbebas dari kejumudan para pemuka Islam yang selama ini ditemuinya. Usai pengajian, Kartini segera mendekati pamannya agar bersedia memperkenalkannya kepada Kiai Shaleh Darat. Awalnya, Ario Hadiningrat merasa enggan. Namun, keponakannya itu sedikit memaksa sehingga jadilah mereka menemui langsung sang ulama.


Kiai, perkenankan saya bertanya bagaimana hukumnya apabila seorang berilmu menyembunyikan ilmunya?” tanya Kartini setelah memperkenalkan diri.

Mendengar itu, tampak Kiai Shaleh tertegun. Mungkin karena belum memahami alur pertanyaan Kartini. “Mengapa Raden Ajeng bertanya begitu?” selidik ulama ini kemudian.

Kiai, selama hidupku, baru kali ini aku memahami makna surah al-Fatihah. Isinya begitu indah, menggetarkan sanubariku,” ungkap Kartini dengan bersemangat.

Bukan buatan rasa syukur hati ini kepada Allah. Namun, aku heran mengapa selama ini para ulama melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al-Qurân ke dalam bahasa Jawa? Bukankah Al-Qurân pembimbing hidup bahagia bagi manusia?” tanya perempuan itu lagi.


Kiai Shaleh terpana mendengar kata-kata Kartini, yang sopan tetapi begitu kritis. Belum pernah seorang Jawa pun —lebih-lebih dari kalangan perempuan— yang mengajukan pertanyaan sebegitu tajam dan mendalamnya. Ulama ini hanya menggumamkan “Alhamdulillah”. Kemudian, pertanyaan Kartini dijawabnya secara umum, sekadar untuk menghilangkan kegelisahan dari hati perempuan tersebut.

Bagaimanapun, hikmah besar terjadi beberapa waktu sejak pertemuan itu. Tergerak oleh pertanyaan yang diajukan Kartini, Kiai Shaleh mulai merasa yakin akan pentingnya penerjemahan teks Al-Qurân. Ini adalah pekerjaan besar yang belum pernah diambil oleh seorang ulama pun sebelumnya.

Mengapa demikian? Pertama-tama, Al-Qurân merupakan Kalamullah yang hadir dalam bahasa Arab dengan kualitas bahasa yang paripurna. Menerjemahkannya ke dalam bahasa sasaran, semisal bahasa Jawa, tentu bukanlah perkara ringan.

Selain itu, tidak sedikit ulama pada masa itu memandang skeptis tindakan menerjemahkan kitab suci. Ambil contoh teks Injil yang telah diterjemahkan oleh orang-orang sesudah zaman Nabi Isa AS. Naskah asli yang berbahasa Ibrani tidak beredar luas atau bahkan hilang, sedangkan terjemahan dalam bahasa Yunani tersebar luas dan inilah yang justru kemudian dianggap sebagai “Injil sungguhan.” Pada akhirnya, Injil tidak lagi terjaga (corrupted), bahkan hadir dalam banyak versi —bukan hanya banyak bahasa.


Jika pintu terjemahan dibuka, maka banyak orang akan melakukan itu. Setiap kelompok akan menerjemahkannya ke bahasa masing-masing sehingga akan muncul banyak versi terjemahan yang pasti berbeda-beda. Perbedaan terjemah itu akan memunculkan perselisihan di kalangan umat Islam seperti yang dialami umat Yahudi dan Nasrani seputar Taurat dan Injil,” demikian kata seorang ulama al-Azhar Mesir, Syekh al-Zarqani dalam Manahil al-‘Irfan fi ‘Ulum al-Qur’an.

Tentunya, keputusan KH Shaleh Darat untuk menerjemahkan Al-Qurân ke dalam bahasa Jawa tidak bertujuan menghadirkan “Al-Qurân versi baru.” Tergerak oleh keluhan RA Kartini, ulama besar Semarang itu semata-mata ingin membantu kaum Muslimin Jawa agar lebih memahami isi Kalamullah. Sebab, tidak semua penduduk pulau ini bisa mengerti bahasa Arab.

Tidak sekadar melakukan alih bahasa, Kiai Shaleh Darat juga menulis tafsir Al-Qurân. Ia berhasil menyelesaikan pekerjaannya itu yang membahas mulai dari juz pertama hingga juz ke-13 Al-Qurân. Karyanya itu kemudian diberi judul Faidh al-Rahman fi Tafsir al-Qur'an, sebuah terjemahan dan tafsir Al-Qurân dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab.


Kiai Shaleh lantas memberikan salah satu salinan karyanya itu kepada RA Kartini sebagai hadiah ketika wanita Jawa itu menikah dengan bupati Rembang, Raden Mas Joyodiningrat. Kartini begitu terharu saat menerima pemberian tersebut. Buku itu dikatakannya sebagai kado pernikahan yang tak ternilai harganya.

Selama ini, (surah) al-Fatihah gelap bagi saya. Saya tak mengerti sedikit pun maknanya. Tetapi, sejak hari ini ia menjadi terang-benderang sampai kepada makna tersiratnya, sebab Rama Kiai telah menerangkannya dalam bahasa Jawa yang saya pahami,” kata Kartini.

Kartini mempelajari terjemahan dan tafsir yang dibuat Kiai Shaleh Darat secara sungguh-sungguh. Sayang sekali, sang ulama “hanya” mampu menyelesaikan pekerjaannya hingga surah Ibrahim, tidak sampai an-Nas sebagai surah terakhir dalam Al-Qurân. Sebab, waliyullah asal Semarang itu terlebih dahulu wafat.

Dengan membaca Faidh al-Rahman, Kartini benar-benar terkesan. Dari seluruh firman Allah yang dibahas Kiai Shaleh Darat di sana, ada yang paling menarik perhatiannya, yakni ayat ke-257 dari surah al-Baqarah. Ayat itu menerangkan bahwa Allah membimbing manusia beriman dari kegelapan-kegelapan menuju cahaya, “mina azh-zhulumati ila an-nur.” Bagi Kartini, pengalaman semacam itu telah dialaminya berkat menelaah karya Kiai Shaleh Darat, yang menerangkan makna Al-Qurân kepadanya.


Sejak saat itu, isi korespondensi Kartini dengan kawan-kawan Belandanya berubah nuansa. Tidak lagi dipenuhi pesimisme atau bahkan kekecewaan terhadap kejumudan orang-orang Islam. Warnanya kini menjadi lebih optimistis, terutama mengenai masa depan Islam.

Pandangan Kartini tentang Barat juga berubah. Tak lagi menganggapnya tolok ukur tertinggi peradaban manusia. Perhatikan surat tokoh emansipasi perempuan ini tertanggal 27 Oktober 1902 kepada Ny Abendanon.

Sudah lewat masanya, semula kami mengira masyarakat Eropa itu benar-benar yang terbaik, tiada tara. Maafkan kami. Apakah Ibu menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah Ibu menyangkal bahwa di balik yang indah dalam masyarakat Ibu terdapat banyak hal yang sama sekali tidak patut disebut peradaban? Kami sekali-kali tak hendak menjadikan murid-murid kami sebagai orang setengah Eropa, atau orang Jawa yang kebarat-baratan.

Lalu dalam korespondensi bertanggal 1 Agustus 1903, Kartini menulis: “Ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu Hamba Allah.

Dalam suratnya kepada Ny Van Kol, tanggal 21 Juli 1902, wanita asal Jepara ini menegaskan: “Saya bertekad dan berupaya memperbaiki citra Islam, yang selama ini kerap menjadi sasaran fitnah. Semoga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat agama lain memandang Islam sebagai agama yang disukai.

Hasanul Rizqa
Jurnalis Republika Online
https://www.republika.id/posts/52167/islam-jalan-hidup-kartini

Monday, March 18, 2024

Ramadhan Bulan Al-Qurân


Allah –Subhanahu wa Ta’ala– berfirman,

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَ بَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَ الْفُرْقَانِ

“Bulan Ramadhan yang di dalamnya ––mulai–– diturunkannya Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan keterangan-keterangan mengenai petunjuk itu, yang membedakan antara yang haq dan yang bathil.” (QS Al-Baqarah: 185)

Al-Hafizh Ismail bin Umar bin Katsir Al-Bashrawi Ad-Dimasyqi (700-774) yang lebih terkenal dengan sapaan Ibnu Katsir –rahmatullah ‘alaih, berkata mengenai ayat ini dalam Tafsir Al-Quran Al-‘Adhim (I/460-461; Darul Hadits), “Allah menyanjung bulan Ramadhan dibanding bulan-bulan lain karena bulan Ramadhan telah dipilih sebagai waktu diturunkannya Al-Quran Al-‘Adhim. Karena hal ini pula Dia mengistimewakannya."

Kitab-kitab Samawi: Al-Quran, Zabur, Taurat dan Injil.

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa kitab-kitab suci diturunkan kepada para nabi –‘alaihimussalaam, di bulan ini. Imam Ahmad bin Hanbal –rahimahullah– [Al-Musnad VI/107] berkata; "Abu Said Maula Bani Hasyim telah bercerita kepada kami, Imran Abul Awwam telah bercerita kepada kami, dari Qatadah, dari Abul Malih, dari Watsilah yaitu Al-Asqa, bahwasannya Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam, bersabda,

أنزلت صحف إبراهيم في أول ليلة من رمضان ، و أنزلت التوراة لست مضين من رمضان و الإنجيل لثلاث عشر خلت من رمضان و أنزل الله القرآن لأربع و عشرين خلت من رمضان

Suhuf Ibrahim diturunkan pada malam pertama Ramadhan, Taurat diturunkan pada enam Ramadhan, Injil diturunkan pada tiga belas Ramadhan, dan Allah menurunkan Al-Quran pada dua puluh empat Ramadhan.

Telah diriwayatkan pula hadits dari Jabir bin Abdullah –radhiyallahu ‘anhu; “Bahwasannya Zabur diturunkan pada dua belas Ramadhan dan Injil pada sepuluh Ramadhan.” Sementara yang lainnya sebagaimana di atas yang diriwayatkan oleh Ibnu Mardawaih.

Adapun Shuhuf, Taurat, Zabur, dan Injil, maka diturunkan secara spontan kepada nabi yang menerima. Sedangkan Al-Quran diturunkan secara spontan di Baitul ‘Izzah yang berada di langit bumi. Hal itu terjadi pada bulan Ramadhan di malam Qadar (lailatul qadar), berdasarkan firman Allah Ta’ala, “Kami telah menurunkannya di lailatul qadar,” juga pernyataan-Nya, “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya di malam yang penuh keberkahan.” Kemudian setelah itu turun berangsur-angsur berdasarkan peristiwa-peristiwa yang dialami Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Demikian itulah keterangan Ibnu Katsir.


Al-Quran merupakan mukjizat terbesar Nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam, anugerah yang paling agung dan akan terus bersinar hingga akhir zaman. Keberkahannya terus mengalir dan tak akan pernah terputus. Sebuah kitab suci yang akan selalu membimbing seorang muslim menuju kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Orang yang menjadikannya imam, akan selamat dengan izin Allah, namun siapa yang tak menghiraukannya, maka cepat atau lambat kebinasaan pasti akan menghampirinya.

Keberkahan Al-Quran nampak jelas dengan adanya riwayat-riwayat yang mengabarkan keutamaan dan keistimewaannya. Ia merupakan pedoman hidup seorang muslim, obat dari segala penyakit badan dan hati, dan banyak lagi keistimewaan lainnya. Allah berfirman:

وَ نُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَ رَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَ لَا يَزِيْدُ الظَّالِمِيْنَ إِلَّا خَسَارًا

Dan Kami turunkan dari Al-Quran (sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, sedangkan bagi orang-orang yang zalim hanya akan menambah kerugian.” (QS Al-Isra’: 82)


Dari Abdullah bin Mas’ud –radhiyallahu ‘anhu, beliau menuturkan, Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam, bersabda, “Siapa yang membaca satu huruf dari Kitab Allah (Al-Quran), maka baginya satu kebaikan. Satu kebaikan dilipatkan menjadi sepuluh. Aku tidak mengatakan Alif Lam Mim satu huruf. Namun Alif satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu huruf.” (HR At-Tirmidzi)

Dari Abu Umamah Al-Bahili –radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan, aku mendengar Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam, bersabda, “Bacalah Al-Quran. Sebab pada hari kiamat ia akan datang sebagai pemberi syafaat bagi pengembannya.” (HR Muslim)

Diriwayatkan pula dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapa yang membaca Al-Quran dan mengamalkannya, pada hari kiamat orang tuanya akan dikenakan mahkota yang cahayanya lebih bagus daripada cahaya matahari yang masuk ke rumah-rumah di dunia. Lantas bagaimana menurut kalian dengan orang yang mengamalkannya?” (HR Abu Dawud dan Al-Hakim. Al-Hakim berkomentar, “Sanadnya shahih”)

Berikutnya, Abdullah bin Umar –radhiyallahu ‘anhuma, meriwayatkan, bahwasannya Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam, bersabda, “Puasa dan Al-Quran akan datang pada hari kiamat untuk mensyafaati hamba. Puasa berkata, ‘Wahai Rabb-ku, aku telah mencegahnya dari makanan dan minuman di siang hari, oleh karena itu izinkanlah aku memberinya syafaat.’ Al-Quran berkata, ‘Wahai Rabb-ku, aku telah mencegahnya tidur malam, oleh sebab itu berilah aku izin untuk memberinya syafaat.’ Maka keduanya pun memberi syafaat.” (HR Ahmad, Ibnu Abiddunya, Ath-Thabrani, dan Al-Hakim)

Dan masih banyak lagi dalil-dalil yang menunjukkan keutamaan membaca Al-Quran.


Al-Quran di Bulan Ramadhan
Orang-orang terdahulu memiliki perhatian luar biasa kepada bulan Ramadhan ini. Perhatian mereka ditunjukkan jauh-jauh hari sebelum Ramadhan tiba. Disebutkan bahwa para sahabat –radhiyallahu ‘anhum ajma’in, selama enam bulan pertama memanjatkan doa kepada Allah agar mereka disampaikan di bulan Ramadhan, kemudian di enam bulan setelahnya mereka berdoa agar mereka dipertemukan kembali dengan bulan mulia ini. Hal semacam ini tentu merupakan bukti kuat akan antusiasme mereka dalam menggapai pahala besar padahal secara umum mereka telah dijamin masuk surga.

Jika mereka yang jelas-jelas manusia yang dijamin surga saja begitu hebatnya dalam berlomba-lomba untuk meraih kebaikan, tentu kita sebagai manusia belakangan yang tidak ada yang menjamin surga, mestinya harus lebih semangat lagi untuk lebih banyak melakukan kebaikan.

Khususnya aktifitas membaca Al-Quran, mereka memiliki perhatian yang sangat besar. Dalam Lathaif Al-Ma’arif, Ibnu Rajab –rahmatullah ‘alaih, menyebutkan, “Kebiasaan orang-orang terdahulu di bulan Ramadhan ialah membaca Al-Quran, baik dalam shalat maupun selainnya.

Malaikat Jibril –‘alaihissalam, selalu mendatangi baginda Nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam, di setiap Ramadhan untuk mengajarinya Al-Quran. Pengkhususan Jibril pada bulan Ramadhan tentu menjadi sinyal kuat bahwa Ramadhan benar-benar waktu yang istimewa sehingga ia pantas menjadi waktu untuk tadarus Al-Quran.

Imajinasi Al-Malaikah.

Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abdullah bin Abbas –radhiyallahu ‘anhuma, beliau menceritakan, “Adalah Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam, merupakan sosok yang paling dermawan. Terlebih lagi di bulan Ramadhan ketika Jibril menjumpainya untuk mengajarinya Al-Quran. Jibril menemui beliau di setiap malam Ramadhan untuk mengajarinya Al-Quran. Maka ketika Jibril menjumpainya, beliau adalah orang yang paling dermawan, lebih dari angin yang bertiup.

Mengenai riwayat ini, Ibnu Rajab menuturkan (Lathaif Al-Ma’arif: 243), “Dalam hadits Ibnu Abbas bahwa tadarus yang berlangsung antara beliau (Nabi –shallahu ‘alaihi wa sallam) dan Jibril di malam hari menunjukkan sunnahnya memperbanyak membaca Al-Quran malam hari di bulan Ramadhan." Sebab, di malam hari sudah tidak ada lagi kesibukkan, semangat menguat, hati dan lisan akan saling bersepakat untuk tadabbur, berdasarkan firman Allah, “Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyu’) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.” (QS Al-Muzammil: 6)

Lihatlah Amirul Mukminin Utsman bin Affan –radhiyallahu ‘anhu, bagaimana beliau bersama Al-Quran di bulan Ramadhan. Dikabarkan bahwa beliau menghidupkan seluruh malamnya. Beliau membaca Al-Quran di setiap rakaat shalat yang beliau kerjakan.

Bahkan sahabat Nabi, Ubai bin Ka’ab –radhiyallahu ‘anhu, mampu mengkhatamkan Al-Quran di setiap delapan harinya. Sementara sahabat Nabi yang lain, Tamim Ad-Dari, konon mampu mengkhatamkan Al-Qurân dalam setiap pekannya.


Imam kita, Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i –rahmatullah ‘alaih, bahkan di bulan berkah ini, konon mampu mengkhatamkan Al-Quran sebanyak enam puluh kali secara tersendiri, selain dari Al-Quran yang beliau baca di waktu shalat.

Adalah Qatadah –rahmatullah ‘alaih, biasa mengkhatamkan Al-Quran berkali-kali di setiap bulan Ramadhan. Diceritakan, jika datang bulan Ramadhan, beliau mampu mengkhatamkannya setiap tiga harinya dan di sepuluh hari terakhirnya beliau mampu mengkhatamkannya di setiap malamnya. (Lathaif Al-Ma’arif: 191)

Diriwayatkan pula bahwa Ibrahim An-Nakha’i melakukan hal itu (mengkhatamkan Al-Qurân setiap hari) khusus di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, sedangkan untuk bulan-bulan lainnya dalam tiga hari sekali. (Lathaif Al-Ma’arif: 191)

Disebutkan pula bahwa Qatadah biasa mengajar Al-Quran di bulan Ramadhan.

Imam Malik bin Anas Al-Asbahi yang bergelar Imam Darul Hijrah, memiliki pengajian dengan hadirin yang luar biasa banyaknya, namun demikian beliau rela meninggalkan pengajiannya itu dan bergegas demi untuk membaca Al-Quran.


Abdurrazzaq menceritakan, “Apabila Sufyan Ats-Tsauri menjumpai bulan Ramadhan, beliau biasa meninggalkan seluruh ibadah (sunnah) dan bergegas untuk membaca Al-Quran.

Sufyan meriwayatkan, “Apabila Zubaid Al-Yami memasuki bulan Ramadhan, beliau khusus mengutamakan Al-Quran dan mengumpulkan murid-muridnya.

Muhammad bin Mas’ar menceritakan, “Ayah saya tidak pernah tidur sampai beliau membaca setengah Al-Quran.” (Lathaif Al-Ma’arif: 318-319)

Jika ada yang bertanya, bagaimana mungkin mereka mengkhatamkan Al-Quran kurang dari 3 hari sementara Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam, melarang hal tersebut?

Berikut adalah jawaban Ibnu Rajab, “Adapun larangan mengkhatamkan Al-Quran kurang dari 3 hari, maka itu khusus jika dilakukan terus-menerus. Sedangkan di waktu-waktu yang memiliki keistimewaan sebagaimana bulan Ramadhan terkhusus malam-malam yang di dalamnya diburu lailatul qadar, atau di tempat-tempat yang memiliki keutamaan seperti di Makkah bagi orang-orang asing yang memasukinya, maka disunnahkan memperbanyak membaca Al-Quran sebagai bentuk perhatian pada masalah waktu dan tempat (situasi dan kondisi). Inilah pendapat yang dianut juga oleh Imam Ahmad, Ibnu Ishaq, dan imam-imam lain. Ini pulalah yang dipraktekkan oleh selain mereka sebagaimana yang telah disebutkan di atas.” (Lathaif Al-Ma’arif: 319)


Kiranya cerita-cerita di atas sudah cukup untuk dijadikan sebagai motivasi dan penyemangat bagi orang-orang yang ingin mencari hasanah dunia-akhirat. Muhammad bin Asy-Syaikh Al-‘Allamah Ali bin Adam bin Musa Al-Atsyubi –hafizhahullah, dalam Qurratu ‘Ain Al-Muhtaj (I/6) memberikan penjelasan, “Orang yang cerdas akan faham hanya dengan isyarat yang tidak difahami oleh orang yang bodoh, meski dengan seribu ungkapan. Orang yang dungu juga tak akan memperoleh faedah meski dibacakan Taurat, Injil dan Al-Qurân sekaligus.

Semoga Allah –‘Azza wa Jalla, memberikan kita kekuatan, ketabahan dan kesabaran untuk bisa lebih memanfaatkan bulan Ramadhan kali ini dan juga bulan-bulan lainnya dalam hal beribadah kepada Allah wabil khusus dalam hal menggeluti Al-Qurân yang Agung, seiring dengan berkurangnya jatah hidup kita masing-masing di dunia fana ini.

Semoga shalawat beriringan salam senantiasa tercurahkan kepada kita semua sebagaimana baginda Nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam, beserta seluruh keluarga dan shahabat beliau telah mencapainya hingga husnul khatimah fiddunya wal-akhirah.

Penulis Firman Hidayat (telah diedit seperlunya oleh pemilik Blog)
Pengajar dan Alumni Pondok Pesantren Hamalatul-Quran Yogyakarta
Artikel ini sudah dimuat di muslim.or.id, 25 Oktober 2023

Wednesday, April 14, 2021

Ratu Surga Lia Eden: Akhir Sebuah Teater Panjang?


Sastrawan Masdan suatu sore pergi ke bandara Halim Perdanakusumah untuk menjemput malaikat Jibril. Ia datang bersama selusin anggota lain jamaah Salamullah ciptaan Lia Aminduddin. Tidak jelas pesawat apa yang ditumpangi Jibril, tapi Paduka Baginda Lia Eden memastikan bahwa sang malaikat akan tiba sore itu.

Hingga pesawat terakhir mendarat, Masdan dkk tidak melihat Jibril. Semua penumpang yang turun adalah manusia. Ternyata Jibril memang batal mendarat sore itu. Baginda Lia Eden meralat infonya. Masdan dkk tidak kecewa. Pasti Paduka Lia sedikit meleset dalam akurasi info dari langit yang diterimanya. Paduka Lia adalah manusia biasa. Dan manusia adalah sarang kekeliruan dan kealpaan.

Tokoh panutannya itu mustahil berbohong dan hanya bermaksud mempermainkan Masdan dkk dengan menyuruh mereka ke bandara. Mereka pulang dengan senyum sabar, meski tanpa Jibril -- tokoh yang sejak lama memukau Masdan dan kadang menjadi objek lukisannya; ia juga pernah menulis cerita pendek "Setangkai Melati di Sayap Jibril", jauh sebelum ia menganut ajaran Salamullah.

Bertahun-tahun kemudian, Masdan, yang menjadi pengikut Lia Eden bersama isterinya, seorang psikolog dan penulis tekun yang menulis sejumlah buku anak-anak, menyatakan diri keluar dari Salamullah. Isterinya bertahan. "Dia lebih memilih Ibu Lia daripada saya," kata Masdan kepada saya tentang isterinya. "Saya keberatan dengan praktek-praktek yang menjurus pada penyiksaan diri. Tapi isteri saya tetap mau menerima dan menjalankannya. Akhirnya saya putuskan bercerai saja."


Ia menceritakan bentuk-bentuk penyiksaan diri itu; melibatkan pembakaran terhadap bagian-bagian tubuh tertentu, dengan doktrin: semua lubang adalah sumber setan dan kejahatan. Isteri Masdan meninggal beberapa tahun kemudian.

Apakah Masdan kemudian tidak percaya lagi pada Paduka Lia dan ajaran-ajarannya? Ia tak menjawab tegas. "Saya percaya isteri saya itu adalah Dewi Kwan Im," katanya dengan kalem, merujuk mitologi masyhur China kuno. Apakah dia masih percaya sampai sekarang, setelah keluar dari Salamullah dan bercerai dari Dewi Kwan Im? "Ya, saya masih percaya," Masdan tersenyum bijak.

Tak lama setelah pembatalan kedatangan Jibril, Dwidjo seorang anggota lain Salamullah mendapat perintah khusus -- juga bersumber pada bisikan yang didengar Lia Eden dengan telinga batinnya. Instruksinya spesifik: Dwidjo, pria berusia awal 50-an, seorang ahli kertas lulusan Jerman, harus mengabarkan bahwa dunia akan segera kiamat, dengan naik kuda di sepanjang Jalan Thamrin dan Sudirman.

Dan ia harus mengumumkannya dengan tiupan terompet -- tentulah diilhami sangkakala malaikat Israfil. Begitulah, di bawah terik matahari pukul 12, ia berkuda sendirian, menapak pelan-pelan di jalan utama itu dengan sekali-sekali meniup terompetnya. Tampaknya kemudian polisi menertibkannya. Tidak mengapa. Misi toh sudah dijalankan dengan baik. Sangkakala tanda kiamat akan segera tiba sudah ditiup bertalu-talu di sepanjang miracle mile itu.

Diantara para tokoh yang pernah menjadi bagian dari Jamaah Salamullah, Lia Eden.

Seperti semua ajaran serupa, Salamullah memiliki mekanisme ganjaran dan hukuman bagi pengikutnya, meski tampaknya bentuk-bentuknya belum dibakukan. Tapi salah satu hukuman lazim adalah larangan bicara. Dan itulah yang harus diterima Saif, seorang wartawan senior, bekas kolega saya di sebuah koran. Ia tak memberitahu pelanggaran apa yang telah diperbuatnya, tapi ia menjelaskan hukuman yang ditimpakan kepadanya: dilarang bicara selama sebulan penuh.

Bayangkan repotnya saya waktu itu, karena saya masih harus mewawancarai orang, bahkan memimpin rapat kepanitiaan yang saya ketuai di koran itu,” kata Saif -- nama samaran, seperti semua nama lain yang muncul di tulisan ini. Saif yang cerdas, ia sarjana teknik kimia, tak pernah kehabisan akal untuk mengatasi beban hukuman itu.

"Saya menuliskan pertanyaan di depan orang yang saya wawancarai," katanya, penuh kemenangan. "Saya juga memimpin rapat dengan menuliskan ucapan-ucapan saya di papan tulis." Semua peserta kebingungan. Rapat jadi agak tersendat. Tapi toh semuanya akhirnya berjalan lancar. Acaranya sukses. Jika ia tak menjalankan hukuman itu, sangat mungkin semua urusan Saif justeru akan semakin runyam. Jika memang salah, akui dan jalani saja konsekuensinya.

Tapi Saif keberatan ketika vonis larangan bicara itu dijatuhkan kepada anak anggota jamaah yang berusia enam tahun. Ia sangat prihatin, katanya. "Saya tidak tega, karena anak dalam usia segitu justeru sedang sangat ingin bicara banyak," katanya. Keberatannya tidak pernah sampai ke telinga Paduka Lia.

Para anggota Jamaah Salamullah, Lia Eden.

Saif, kawan saya sejak masa mahasiswa, memang orang baik yang mudah tersentuh hatinya, dan setia pada teman. Suatu hari ia datang ke kantor saya di Jalan Tendean Jakarta dengan tergopoh-gopoh dan wajah tegang. "Jakarta sebentar lagi tenggelam!" katanya, setengah berteriak, ketika saya temui.

"Ibu Lia mendapat wahyu bahwa akan ada banjir yang sangat besar, dan Jakarta pasti tenggelam," katanya lagi. "Kamu cepat-cepatlah mengungsi, mumpung masih ada waktu. Anak dan isteri saya sudah saya ungsikan ke Sukabumi." Kapan malapetaka itu akan datang? "Kira-kira dua minggu lagi." Maka Saif memanfaatkan waktu yang tersisa untuk mengabari sahabat-sahabatnya -- dan ia memilih untuk menyampaikan langsung, tak cukup lewat telepon.

Ketika banjir besar itu tak terjadi, Saif tidak minta maaf atas infonya yang telah membuat saya cemas; ia pun tak menjelaskan kenapa banjir besar itu batal. Tapi saya duga, seperti biasa: Paduka Lia kemudian menerima wahyu ralat pada menit-menit terakhir. Saif, seperti semua saudaranya sejamaah Salamullah, selalu punya kesanggupan mental dan intelektual untuk menerima versi apapun yang disampaikan Baginda Lia.

Hanya Madari, seorang kolumnis ternama, yang kemudian membangkang Paduka dengan keras dan keluar dari jamaah -- karena, katanya, Rp 60 juta uang miliknya hilang di markas jamaah itu di kawasan Senen, Jakarta Pusat. "Bajingan!" katanya berulang kali. Seorang rekannya, doktor ahli Islam, tetap menjadi pengikut Salamullah hingga meninggal dunia beberapa tahun lalu.

Rekan lain, juga seorang doktor dan dosen ahli Islam, dengan tak banyak ribut kemudian menjauhkan diri dari lingkaran Lia Eden. Ia harus dianggap melibatkan diri di sana untuk keperluan riset tentang fenomena spiritualisme di perkotaan. Case closed.

Sang Bunda Ratu Surga, Lia Eden, dengan berbagai macam pakaian kebesarannya.

Lia Aminuddin turut dalam arus mode pembuatan kerajinan bunga kering di pertengahan 1980-an. Ia makin serius menekuninya, hingga mendirikan perusahaan produsen bunga kering. Sebuah yayasan sosial yang menyantuni narapidana mengontaknya, memintanya mengajari para napi agar mereka punya keterampilan untuk mencari nafkah sekeluarnya dari penjara.

Lia memenuhi permintaan itu dengan sepenuh hati, dan tak lama kemudian para napi mampu menghasilkan produk bunga kering yang sesuai standar. Lia menampung hasil kerja mereka. Ia menggabungkannya dengan produknya sendiri dan menjualnya. Cepatnya perusahaan Lia mekar mencerminkan bisnis kembang kering itu mendatangkan profit yang baik.

Bisnis itu, juga pelatihan napi yang ditanganinya, terus berjalan lancar hingga awal 1990-an, ketika ia mulai yakin sedang berpacaran dengan jin -- jin laki-laki.

Semua sanggahan dan nasihat kawan dan kerabat agar ia kembali berpikir normal hanya memperkuat keyakinannya, dan kemudian mengklaim diri sebagai Bunda Maria -- sebelumnya ia hanya menyatakan sekadar berjumpa dengan figur yang disucikan oleh agama Kristen itu.

Keyakinannya mengalahkan semua nasihat dan keprihatinan orang-orang dekatnya tentang jalan hidup yang ditapakinya. Seiring surutnya bisnis kembang keringnya, ia terus menerima wahyu. Perlahan-lahan suatu lingkaran pengikut setia terbentuk.

Lia Aminuddin alias Lia Eden.

Seperti di India, Timur Tengah dan Afrika, misalnya, selalu ada saja yang percaya pada klaim superioritas spiritual seperti yang dinyatakan Lia. Mereka inilah yang segera menjadi pengikutnya, sambil rajin menularkan keyakinannya kepada siapa saja, membuat lingkaran pengikut Lia pelan-pelan melebar.

Mungkin Lia sendiri yakin jamaahnya suatu kali pasti membesar, sebagaimana banyak kelompok serupa yang dimulai dengan lingkaran kecil, kemudian sukses sebagai sistem ajaran mapan yang dianut oleh ratusan juta atau miliaran orang.

Dengan jumlah pengikut yang bertambah, meski tidak dalam rombongan-rombongan besar, karir spiritual Lia mulai diperhatikan publik ketika pada 1999 ia membuat perhelatan di Pelabuhan Ratu Sukabumi, untuk menantang penguasa Pantai Selatan yang sangat masyhur, Nyai Roro Kidul.

Ia memimpin shalat berjamaah di sana (ia belum punya sistem ritual sendiri), dan puncak acara adalah teriakan tantangan Lia, sambil menghunus sebilah keris. "Allahu Akbar!" pekiknya. "Lepaskanlah hamba dari kutukan Roro Kidul!" Keris 20 cm yang ditekankan di dadanya kabarnya melukainya; tapi beritanya tak muncul di media. Media juga tak menjelaskan apa sebetulnya yang telah dilakukan nyai terkenal itu kepada Lia, sampai ia merasa terkungkung oleh kutukan sang nyai.

Lia Eden dan sastrawan Danarto.

Dada Lia mungkin terluka, tapi liputan media dan dengan demikian perkembangan jamaahnya mendapat perhatian makin besar -- suatu iklan murah. Ia membangun markas di sebuah villa di Puncak, dan tak lama kemudian massa membakarnya habis karena keberatan dengan kegiatan Salamullah yang mereka yakini menyebarkan ajaran sesat. Ia memindahkan markas besarnya ke rumah pribadinya yang cukup besar di Senen.

Lia makin gencar memproduksi surat-surat wahyu untuk dikirimkan ke sejumlah orang dan instansi pemerintah. Organisasinya tertata makin rapi. Surat-surat berisi kabar gembira dan ancaman itu, sebagai konsekuensi logis jika seseorang atau suatu lembaga pemerintah tidak melakukan apa yang dianjurkannya, bisa setebal 50 halaman.

Surat-surat itu dicetak di atas kertas berkop "God's Kingdom" atau "Kerajaan Tahta Suci Tuhan". Seorang juru tulis yang piawai, Manhar, mantan aktifis politik yang gigih, dengan tekun mencatat dan mengedit ucapan-ucapan Lia untuk dikemas sebagai surat kepada publik. Manhar yang loyal total sangat terpukul ketika dua tahun lalu diusir oleh Baginda Lia dari markas, atas dosa yang tidak dia jelaskan kepada saya. Ia memohon ampun, tapi wahyu tak bisa ditawar. Ia terpaksa keluar, lalu menumpang di kamar indekos anak tirinya di dekat markas, agar ia tetap bisa dekat dengan markas yang masih menjadi tempat tinggal isteri dan dua anak kandungnya, sepasang gadis remaja kembar. Ia ingin terus mengabdi. Ia memohon agar tetap diberi kesempatan untuk sekadar menyirami tanaman di halaman markas Tahta Suci Tuhan. "Wahyu bukan objek untuk tawar menawar," kata Ratu Surga.

Sebagian anggota Jamaah Salamullah, Lia Eden.

"Saya tidak tahu bagaimana cara melanjutkan hidup," kata Manhar kepada saya. "Seluruh hidup saya berpusat pada jamaah. Saya sangat tidak siap menghadapi dunia luar."

Ia memang jarang sekali keluar markas -- suatu transformasi ekstrem untuk seorang aktifis politik yang pernah membentuk komite pemantau pemilu bersama sejumlah tokoh nasional. Kadang ia bersama beberapa anggota jamaah mengunjungi kawan-kawan lama. Tapi mereka tidak mau menyantap makanan dan minuman yang disuguhkan dengan gratis. Setidak-tidaknya mereka harus memberikan jasa kepada tuan rumah -- yang lazim adalah berupa pemijitan. Makanan dan minuman di rumah kawan adalah imbalan bagi jasa pijit yang mereka berikan.

Setelah tiga bulanan dipersona-non-grata-kan oleh Baginda Lia Eden, dan selama masa itu Manhar menumpang di rumah kakaknya di Cengkareng sambil membuka warung kecil, ia suatu sore dengan gembira mengabarkan kepada saya: "Alhamdulillah, saya sekarang sudah kembali ke jamaah. Ini nomor baru saya."

Orientasi hidup Manhar pulih, dan ia siap untuk kembali mencatat wahyu Paduka Lia, sambil menyelinginya dengan menyirami tanaman di markas Ratu Surga bersama isteri dan kedua puteri kembarnya.

Lia Aminuddin alias Lia Eden diiringi oleh para anggota jamaahnya.

Dua kali pemenjaraaan, masing-masing 2 tahun dan 2,5 tahun pada 2006 dan 2009, tak menyurutkan aksi-aksi spiritual Lia Aminuddin. Pada kasus pertama, ia dituduh dengan pasal penistaan agama. Ia ditangkap, dan kepada polisi yang menangkapnya ia mengajukan tawaran: bebaskanlah dirinya, dan sebagai imbalannya ia akan menghentikan luapan lumpur Lapindo Sidoradjo dan letusan Gunung Merapi Jogja. Majelis hakim mendengar tawaran simpatik itu, tapi mereka tetap berpegang pada bunyi undang-undang.

Siapapun yang peduli pada konsistensi akan kesulitan menghadapi Lia Eden. Klaim dan instruksinya, juga gelar-gelar yang ia sematkan kepada dirinya sendiri maupun kepada anggota-anggota utama jamaahnya, berubah-ubah.

Semula ia menyatakan dipacari jin dan berjumpa dengan Bunda Maria (tak perlu ditanyakan soal kaitan keduanya), kemudian dia sendirilah yang menjelma menjadi Bunda Maria. Tak lama kemudian ia menjadi Jibril, tapi posisi ini lalu dialihkan kepada orang lain. Ia sendiri kemudian duduk di singgasana Tahta Suci Tuhan, tanpa eksplisit mengklaim bahwa dialah Tuhan. Ia hanya menyatakan ada kerajaan di surga, dan dialah ratunya -- jadi lebih tepat disebut keratuan, bukan kerajaan.

Apakah Lia Eden berkehendak untuk meramu 3 agama besar?

Penampilan fisiknya pun berganti-ganti. Begitu juga kursi singgasananya. Ia pernah mencoba beberapa warna untuk jubah kebesarannya, hijau, coklat, lalu merasa mantap dengan putih, sama dengan busana resmi para anggotanya. Pakaian itu identik dengan ihram haji, bentangan kain 7 meter yang dililit-lilitkan begitu rupa hingga menjadi pakaian penutup aurat.

Ia pernah memakai tiara mahkota, lalu berganti dengan akar dan daun seperti yang dikenakan Yesus Kristus, dengan tongkat yang berganti-ganti pula -- dengan desain tiruan mentah atas benda-benda serupa di kerajaan-kerajaan sungguhan seperti Inggris atau Vatikan. Mungkinkah pembisiknya lebih dari satu malaikat, dengan selera artistik mereka masing-masing?

Ia juga pernah menggunduli habis rambutnya, seperti para bikhuni Budha. Persentuhannya dengan Budhisme ini cukup aneh, sebab program utama Lia (setidaknya salah satu yang utama, sebelum kemudian mungkin berubah) adalah mempersatukan Yahudi, Kristen dan Islam. Baginya, keterpisahan ketiganya itulah sumber segala masalah manusia, sebagai individu maupun warga global. Ia rupanya tak peduli dengan penganut agama-agama lain, yang jumlahnya tak kalah dari gabungan pengikut ketiga agama tersebut.

Penggunaan nomenklatur agama-agama mapan oleh Lia menunjukkan ia tidak sanggup menciptakan sesuatu yang sama sekali baru, meski ia mengklaim membawa ajaran yang berbeda dari semua agama yang pernah ada. Ia terutama tak mampu keluar dari nomenklatur agama yang diakrabinya sejak lahir, Islam. Maka ia meminjam Jibril, sangkakala Israfil, busana ihram, nama Salamullah -- meski nama ini kemudian terbenam oleh beberapa nama lain.

Lia Eden ingin mendatangkan Jibril dengan kendaraan UFO.

Sejak keluar dari penjara pada 2011, aktifitas publik Lia sangat berkurang. Produksi surat-surat kabar gembira dan ancaman nyaris berhenti. Reorganisasi internal kelompoknya pun tampak sudah semakin mapan. Dan seperti di dunia material, Lia Eden pun bertendensi dinastik. Yang dijadikan orang kedua dalam struktur ajaran dan organisasinya adalah anaknya sendiri, Ahmad Mukti, bukan orang lain, yang tampaknya telah mendapat posisi mapan sebagai Yesus Isa Almasih.

Mungkin lagu-lagu ciptaannya tetap mengalir. Jumlahnya beratus-ratus, menurut Saif. "Ajaib, Bunda Lia tidak bisa main piano, tidak mengerti musik, tapi mampu menciptakan banyak sekali lagu!" katanya, meyakinkan saya bahwa junjungannya itu memang mendapat sesuatu yang mukjizati dari luar sejarah. Jika tidak, mana mungkin ibu rumah tangga biasa itu mampu menciptakan karya seni yang memprasyaratkan kemampuan musik?

Setelah sekian lama surut, pada 2015 Lia mengirim surat 38 halaman kepada Presiden Jokowi. Ia minta izin agar lapangan Monas dibolehkan untuk dijadikan lokasi pendaratan pesawat UFO yang ditumpangi Jibril -- suatu penundaan yang cukup panjang sejak sastrawan Masdan menjemputnya di bandara Halim sekian belas tahun sebelumnya. Jibril, kata Lia, perlu datang di Jakarta untuk membereskan begitu banyak masalah yang dihadapi Indonesia.


Spiritualisme seperti yang dianut Lia memang sering menunjukkan minat besar pada urusan material, bahkan kadang dalam bentuk politik yang spesifik: ia pernah mendesak agar Ahok dijadikan presiden jika Indonesia ingin selamat.

Seperti terhadap semua figur sejenis, juga para dukun, fanatisme pengikut Lia Eden selalu sanggup menyediakan segala macam pembenaran bagi aneka inkonsistensi dan ketakterbuktian banyak nubuatnya. Mereka tetap percaya. Kami mendengar dan kami menaati, kata mereka, bahkan ketika apa yang mereka dengar berubah-ubah, dan mereka tak menemui kesulitan apapun untuk menaati instruksi yang berubah-ubah itu.

Kejutan terakhir muncul pada Minggu pagi, 11 April 2021. Jamaah Tahta Suci Tuhan mengabarkan: Paduka Baginda Lia Eden telah wafat dua hari sebelumnya, dan jenazahnya akan dikremasi -- ia, dalam usia 73, memilih cara Budha sebagai babak penutup hidupnya.


Dengan mangkatnya Ratu Surga, apakah teater panjangnya akan berakhir? Belum tentu. Banyak preseden tentang keberlanjutan teater serupa di mana-mana setelah kematian pendirinya. Apalagi Baginda Lia sudah lama menyiapkan anaknya sendiri yang potensial sebagai penerus ajaran.

Gereja Scientology di Amerika, misalnya, semakin makmur di tangan putera nabi Ron Hubbard. Anak-anak Sung Myung Moon, nabi Kristen yang pernah datang di Jakarta, melanjutkan pengelolaan gereja-gereja raksasanya (megachurch) di Amerika dan Korea Selatan, selain merambah banyak bisnis lain, termasuk industri dan perdagangan senjata.

Akumulasi modal Lia selama karirnya mungkin tidak sebesar Hubbard dan Pendeta Sung, karena itu kita belum tahu apa yang akan dikerjakan oleh para pengikutnya yang merasa hampa dan gelisah. Kita juga belum tahu apakah Jibril menghentikan bimbingannya setelah telinga batin Lia Aminuddin tak mungkin lagi dibisiki sesuatu.

Barangkali ajaran Tahta Suci Tuhan Salamullah Eden akan mengering, seperti bunga-bunga Lia Aminuddin.

Hamid Basyaib
Senin, 12 April 2021
https://www.facebook.com/hamid.basyaib

Tuesday, March 30, 2021

Crisis Countdown: Akhir sebuah Era?


Pada saat rakyat diteror Covid-19 dan berbagai bencana alam, cuaca ekstrim, dan kerusakan lingkungan akibat investasi ekstraktif ugal-ugalan, Pemerintah justru menerbitkan Perpres 7/2021 tentang Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme berbasis Kekerasan yang mengarah pada Terorisme. Pada saat kita membutuhkan modal sosial yang lebih besar, Perpres itu justru menggerogotinya dengan menimbulkan widespread distrust di antara warga negara.

Perpres itu menambah bukti bahwa Pemerintah makin otoriter sambil mengadu domba masyarakat dengan mengandalkan dukungan China dan 9 naga, sekaligus makin terlihat bermaksud menjadikan Republik ini sebagai satelit China dalam kerangka ambisi hegemoniknya melalui OBOR. Sementara mayoritas rakyat ditipu para buzzer bayaran, hal ini jelas tidak dikehendaki oleh AS dan sekutunya termasuk yang di Asia (Jepang, Korea Selatan, Singapura dan Australia). Indonesia harus tetap menjadi pasar bagi produk-produk Barat dan sekutunya, termasuk budaya dan alam pikiran Barat, serta sumber bahan baku bagi industri Barat.


Rakyat Indonesia akan tetap diperlakukan sebagai konsumen dan jongos baik oleh China maupun Barat. Jika China berhasil dengan agendanya di Indonesia, Umat Islam Indonesia akan di-Uyghur-kan karena merupakan potensi besar perlawanan terhadap dominasi China sejak dulu. Walaupun sikap Barat atas Islam mungkin tampak lebih bersahabat, dalam hal ini Barat memiliki kepentingan yang sama dengan China: melawan Islam sebagai musuh dalam skenario the Clash of Civilization and the New Crusades.

Seiring dengan eskalasi ketegangan di Laut Natuna Utara (Laut China Selatan), dan kekalahan AS dalam perang dagang AS-China, saat ini operasi intelijen Barat makin meningkat di Indonesia dalam upaya menghentikan dominasi China di Indonesia, jika perlu dengan menciptakan krisis lalu menjatuhkan rezim pro-China yang sedang berkuasa saat ini.

Berbeda dengan negara-negara berkembang di Afrika, Indonesia memiliki nilai geostrategi yang jauh lebih penting bagi kepentingan Barat. Memastikan Indonesia tunduk pada kepentingan AS adalah penting bagi pelestarian dominasi global AS.

Pertarungan antara 2 raksasa dunia, AS vs China, sementara Garuda Pancasila terjepit di tengah-tengah.

Barat akan memanfaatkan umat Islam untuk melawan China komunis, lalu meninggalkan umat Islam gigit jari jika terjadi pergantian rezim di Indonesia. Ini ibarat mendorong mobil mogok. Oleh karena itu, umat Islam sekarang harus menyiapkan agenda sendiri dan pemimpin muslim alternatif yang mampu memperjuangkan cita-cita proklamasi, yaitu menjadi bangsa yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Tidak boleh lagi umat Islam dimanfaatkan Barat sebagai pendorong mobil rezim yang mogok karena korupsi dan inkompetensi.

Agen-agen intelijen asing saat ini sedang mencari pemicu krisis yang paling efektif, mencoba melakukan penciptaan kondisi krisis. Penanganan covid-19 yang amburadul (tagihan biaya perawatan pasien Covid-19 di banyak rumah sakit mulai tidak dibayar Pemerintah), ekonomi yang makin terpuruk (hutang yang makin menggunung, PHK besar-besaran, pengangguran meningkat, banyak gagal bayar BUMN dan tunjangan PNS), korupsi yang makin menggurita, kesenjangan yang makin meningkat antara segelintir elite ekonomi dan massal rakyat yang makin kesulitan memperoleh sembako, akan meningkatkan resiko kerusuhan sosial.


Umat Islam Indonesia perlu segera melakukan konsolidasi secara mental dan fisik, bersatu melawan agenda nekolimik China dan Barat, lalu bersama semua patriot bangsa memperjuangkan perwujudan Republik Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Era rezim otoriter pro-China ini akan segera berakhir.

Prof. Daniel Mohammad Rosyid, PhD, M.RINA
Guru Besar Fakultas Teknologi Kelautan Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya.
Founder of Rosyid College of Arts

Gunung Anyar, Surabaya, 26 Januari 2021

Friday, February 26, 2021

Wakaf, Katolik, Dan Koperasi


Ketimbang menyerahkan dana wakaf kepada pemerintah, umat Islam perlu belajar kepada jemaah Katolik dalam mengelola dananya sendiri.

Dua tahun lalu, saya berkunjung ke Koperasi Keling Kumang di Sintang, Kalimantan Barat. Ini salah satu koperasi terbesar di Indonesia. Bermula dari credit-union, yaitu kerjasama simpan pinjam antarjemaah yang dimotori oleh Gereja Katolik, Keling Kumang tumbuh menjadi usaha bisnis yang besar.

Keling Kumang kini beranggotakan 170.000 petani dan punya aset senilai Rp 1,4 triliun. Mereka memiliki sistem perbankan sendiri, beberapa toko swalayan, hotel, sekolah SMK (dengan 1.000 lebih murid), dan bahkan bulan lalu meresmikan universitas - Institut Teknologi Keling Kumang.


Belum lama lalu, Keling Kumang juga membeli 100 hektare hutan primer untuk dilestarikan dan dijadikan objek ekowisata. Mereka tidak lagi cuma mencari uang, tapi bahkan sudah lebih jauh: menyelamatkan hutan tropis Kalimantan dari agresi investasi sawit. Mereka melakukan diversifikasi ke pertanian nonsawit: kakao, kopi, dan teh.

Ketika bisnis membesar, Keling Kumang juga bisa menarik sumber-sumber daya manusia muda dengan pendidikan bagus, termasuk alumni universitas luar negeri.

Keling Kumang sendiri dirintis antara lain oleh Munaldus Nerang (Liu Ban Fo), yang memperoleh gelar sarjana dari ITB dan pascasarjana dari sebuah universitas di Amerika.

Munaldus Nerang (Liu Ban Fo).

Kinerja bisnis anak-anak usaha Keling Kumang belum semuanya bagus, dan masih terbuka untuk disempurnakan.

Tapi, komunitas Suku Dayak di pedalaman Kalimantan ini membuka mata saya bahwa rakyat kebanyakan (petani) ternyata bisa mengembangkan kapasitas serta meningkatkan kesejahteraan ekonomi-sosial dengan sumber daya sendiri. Tanpa bantuan pemerintah, tanpa donor asing, tanpa investasi dari luar.

Keling Kumang adalah salah satu contoh koperasi bagus yang tidak cuma menghasilkan laba ekonomi tapi juga punya maslahat sosial serta kelestarian alam.

Keling Kumang adalah salah satu pengecualian dalam dunia perkoperasian di Indonesia: negeri dengan 200.000 koperasi, tapi sebagaian besar merupakan koperasi abal-abal karena dibangun dari atas.


Salah satu kunci sukses Keling Kumang adalah membangun koperasi dari bawah, bertumpu pada pondasi modal sosial para jemaah gereja di pedesaan.

Model ekonomi komunitas seperti itulah yang layak dipelajari oleh umat Islam, agar bisa memanfaatkan dananya, termasuk dana wakaf, benar-benar untuk kemaslahatan umat, khususnya di pedesaan.

Masjid-masjid desa semestinya menjadi pusat komunitas (community center). Masjid tak cuma tempat shalat tapi juga tempat petani dan nelayan membicarakan masalah sosial dan ekonomi secara berjamaah (bersama-sama), termasuk bagaimana memanfaatkan dana wakaf secara berdaya-guna.


Organisasi seperti NU, Muhammadiyah, Lazis, atau Dompet Dhuafa perlu memperkuat peran manajerial nazhir (pengelola dana wakaf), tapi bukan dalam bentuk seperti yang diinginkan pemerintah.

Melalui Gerakan Nasional Wakaf Uang yang tempo hari diluncurkan Presiden Jokowi, pemerintah cenderung akan mengiming-imingi para nazhir "capital gain" dari dana wakaf yang diputar di bursa saham dan obligasi. Itu akan menghisap dana dari bawah ke pusat-pusat kapital.

Ketimbang mengabdikan dana wakaf untuk kepentingan pemerintah maupun usaha besar, para nazhir harus diperkuat untuk bisa menginvestasikan sebagian dananya ke ekonomi lokal pedesaan, khususnya di sektor pertanian, perikanan dan kehutanan rakyat. Seperti konsep Koperasi Keling Kumang yang diilhami oleh Gereja Katolik.

Oleh: Farid Gaban
Kamis, 28 Januari 2021
Editor: Agus Dwi
RMOL.ID
https://rmol.id/read/2021/01/28/472606/wakaf-katolik-dan-koperasi

Saturday, December 16, 2017

Trump Menantang Dunia


Keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang mengumumkan pengakuan Jerusalem sebagai Ibu Kota Israel bisa dinilai sebagai tindakan yang amat sangat berbahaya. Keputusan Trump tersebut telah memicu kutukan, kecaman, dan penentangan dari berbagai pihak di sepenjuru dunia.

Presiden Indonesia, Joko Widodo, dengan tegas telah menyatakan bahwa Indonesia mengecam keras kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengakui Jerusalem sebagai Ibu Kota Israel dan berencana akan memindahkan Kedutaan Besar AS untuk Israel dari Tel Aviv ke Jerusalem.

Bukan hanya menolak pengakuan Jerusalem sebagai ibu kota Israel, Presiden Jokowi juga memastikan sikap Indonesia yang tetap konsisten untuk terus bersama rakyat Palestina memperjuangkan kemerdekaan dan hak-hak kebangsaan mereka. Itulah sikap yang memang sesuai dengan amanat UUD 1945, yakni sikap politik luar negeri Indonesia yang bebas dan berperan aktif demi menghapuskan segala bentuk penjajahan di muka bumi.


Sejak dahulu, politik luar negeri Indonesia tak pernah sembunyi untuk tetap terus menerus mendukung dan selalu mendengungkan hak-hak rakyat dan bangsa Palestina yang selama ini masih dijajah dan ditindas oleh Israel. Presiden Jokowi menegaskan kebijakan mendukung kemerdekaan Palestina seutuhnya harus menjadi pegangan seluruh diplomasi internasional yang dilakukan pemerintah Republik Indonesia.

Tidak boleh ada ruang secuil pun bagi upaya sepihak Amerika Serikat untuk meneguhkan pendudukan Israel di Palestina. Bahkan, Presiden Jokowi hadir langsung dalam sidang Organisasi Kerjasama Islam (OKI) untuk menguatkan dukungan Indonesia kepada Palestina pada Rabu (13/12/2017) di Istambul, Turki.

Selain berkomunikasi dengan OKI, pemerintah Indonesia mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) segera bersidang untuk membahas pengakuan sepihak Amerika Serikat terhadap Jerusalem sebagai ibu kota Israel. Indonesia akan terus menyuarakan dan mengingatkan agar resolusi-resolusi Dewan Keamanan PBB terkait dengan Jerusalem ditegakkan.

Jika tidak dibendung, pengakuan AS atas Jerusalem sebagai ibu kota Israel itu, bukan hanya akan meruntuhkan semua upaya perdamaian yang selama ini berjalan, melainkan juga akan meningkatkan tensi, ketegangan dan ancaman bagi perdamaian dan keamanan internasional.


Langkah AS bisa menjadi amunisi tambahan bagi kelompok-kelompok yang kerap membajak isu perjuangan Palestina untuk menyebarkan paham radikal dan melakukan aksi-aksi terorisme. Maka menjadi teranglah bahwa sebenarnya persoalan Palestina-Israel bukankah persoalan dunia Islam semata, melainkan juga mencakup persoalan dan kepentingan dunia seumumnya.

Itulah sebabnya negara-negara lain seperti Inggris, Uni Eropa, Prancis, Tiongkok, Rusia, Turki, Suriah, dan Irak mengecam dan mempersoalkan kebijakan Trump itu. Konflik Israel-Palestina juga melampaui persoalan agama semata. Persoalan ini terkait pula dengan issu-issu kemanusiaan, keadilan, dan perdamaian dunia. Bahkan pemimpin Katolik dunia, Paus Fransiskus, juga tak ketinggalan ikut mengecam pernyataan Trump yang sangat gegabah itu.

Kita berharap pimpinan dan komunitas agama-agama lain menyuarakan hal yang sama guna menekan AS dan Israel. Dengan memindahkan Kedubes AS dari Tel Aviv ke Jerusalem, Trump telah menantang dunia. Dunia harus bersatu menjawab tantangan itu dengan melakukan tekanan terhadap Negeri Paman Sam itu.

Dengan begitu, kita boleh berharap Trump menimbang ulang kebijakan konyolnya tersebut. Bila Trump meninjau ulang kebijakan itu, hal ini bisa menjadi awal yang baru untuk mewujudkan perdamaian permanen di Palestina.


Sementara itu, Anggota Komisi I DPR RI Supiadin Aries Saputra menegaskan, tindakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengakui Jerusalem sebagai ibukota Israel, merupakan pelanggaran terhadap kesepakatan yang sudah ada. Selain itu, tindakan ini merupakan sikap yang dinilai menantang dunia, khususnya umat muslim.

“Tindakan AS sangat salah. Karena dia melanggar kesepakatan-kesepakatan yang sudah ada. Apa yang dilakukan Donald Trump ini menantang dunia, dan menantang umat Muslim sedunia,” tegas Supiadin.

Politisi dari Partai Nasdem itu menegaskan, bahwa Jerusalem merupakan milik Palestina, bahkan milik umat muslim seluruh dunia. Karena di situ terdapat Masjid Al-Aqsha, salah satu masjid paling suci bagi umat Islam. Sehingga, ketika AS mengakui secara sepihak Jerusalem sebagai ibukota Israel, merupakan bentuk pelanggaran yang sangat menyakitkan bagi umat Islam di seluruh dunia.

Sumber:
mediaindonesia.com,
dpr.go.id, dll.


Trump’s full speech recognizing Jerusalem as Israel’s capital

The full text of President Donald Trump's announcement on Jerusalem on Wednesday, as provided by the White House.

When I came into office, I promised to look at the world’s challenges with open eyes and very fresh thinking. We cannot solve our problems by making the same failed assumptions and repeating the same failed strategies of the past. Old challenges demand new approaches.

My announcement today marks the beginning of a new approach to conflict between Israel and the Palestinians.

In 1995, Congress adopted the Jerusalem Embassy Act, urging the federal government to relocate the American embassy to Jerusalem and to recognize that that city -- and so importantly -- is Israel’s capital. This act passed Congress by an overwhelming bipartisan majority and was reaffirmed by a unanimous vote of the Senate only six months ago.


Yet, for over 20 years, every previous American president has exercised the law’s waiver, refusing to move the U.S. embassy to Jerusalem or to recognize Jerusalem as Israel’s capital city.

Presidents issued these waivers under the belief that delaying the recognition of Jerusalem would advance the cause of peace. Some say they lacked courage, but they made their best judgments based on facts as they understood them at the time. Nevertheless, the record is in. After more than two decades of waivers, we are no closer to a lasting peace agreement between Israel and the Palestinians. It would be folly to assume that repeating the exact same formula would now produce a different or better result.

Therefore, I have determined that it is time to officially recognize Jerusalem as the capital of Israel.

While previous presidents have made this a major campaign promise, they failed to deliver. Today, I am delivering.

I've judged this course of action to be in the best interests of the United States of America and the pursuit of peace between Israel and the Palestinians. This is a long-overdue step to advance the peace process and to work towards a lasting agreement.


Israel is a sovereign nation with the right like every other sovereign nation to determine its own capital. Acknowledging this as a fact is a necessary condition for achieving peace.

It was 70 years ago that the United States, under President Truman, recognized the State of Israel. Ever since then, Israel has made its capital in the city of Jerusalem -- the capital the Jewish people established in ancient times. Today, Jerusalem is the seat of the modern Israeli government. It is the home of the Israeli parliament, the Knesset, as well as the Israeli Supreme Court. It is the location of the official residence of the Prime Minister and the President. It is the headquarters of many government ministries.

For decades, visiting American presidents, secretaries of state, and military leaders have met their Israeli counterparts in Jerusalem, as I did on my trip to Israel earlier this year.

Jerusalem is not just the heart of three great religions, but it is now also the heart of one of the most successful democracies in the world. Over the past seven decades, the Israeli people have built a country where Jews, Muslims, and Christians, and people of all faiths are free to live and worship according to their conscience and according to their beliefs.

Jerusalem is today, and must remain, a place where Jews pray at the Western Wall, where Christians walk the Stations of the Cross, and where Muslims worship at Al-Aqsa Mosque.


However, through all of these years, presidents representing the United States have declined to officially recognize Jerusalem as Israel’s capital. In fact, we have declined to acknowledge any Israeli capital at all.

But today, we finally acknowledge the obvious: that Jerusalem is Israel’s capital. This is nothing more, or less, than a recognition of reality. It is also the right thing to do. It's something that has to be done.

That is why, consistent with the Jerusalem Embassy Act, I am also directing the State Department to begin preparation to move the American embassy from Tel Aviv to Jerusalem. This will immediately begin the process of hiring architects, engineers, and planners, so that a new embassy, when completed, will be a magnificent tribute to peace.

In making these announcements, I also want to make one point very clear: This decision is not intended, in any way, to reflect a departure from our strong commitment to facilitate a lasting peace agreement. We want an agreement that is a great deal for the Israelis and a great deal for the Palestinians. We are not taking a position of any final status issues, including the specific boundaries of the Israeli sovereignty in Jerusalem, or the resolution of contested borders. Those questions are up to the parties involved.


The United States remains deeply committed to helping facilitate a peace agreement that is acceptable to both sides. I intend to do everything in my power to help forge such an agreement. Without question, Jerusalem is one of the most sensitive issues in those talks. The United States would support a two-state solution if agreed to by both sides.

In the meantime, I call on all parties to maintain the status quo at Jerusalem's holy sites, including the Temple Mount, also known as Haram al-Sharif.

Above all, our greatest hope is for peace, the universal yearning in every human soul. With today’s action, I reaffirm my administration’s longstanding commitment to a future of peace and security for the region.

There will, of course, be disagreement and dissent regarding this announcement. But we are confident that ultimately, as we work through these disagreements, we will arrive at a peace and a place far greater in understanding and cooperation.

This sacred city should call forth the best in humanity, lifting our sights to what it is possible; not pulling us back and down to the old fights that have become so totally predictable. Peace is never beyond the grasp of those willing to reach.


So today, we call for calm, for moderation, and for the voices of tolerance to prevail over the purveyors of hate. Our children should inherit our love, not our conflicts.

I repeat the message I delivered at the historic and extraordinary summit in Saudi Arabia earlier this year: The Middle East is a region rich with culture, spirit, and history. Its people are brilliant, proud, and diverse, vibrant and strong. But the incredible future awaiting this region is held at bay by bloodshed, ignorance, and terror.

Vice President Pence will travel to the region in the coming days to reaffirm our commitment to work with partners throughout the Middle East to defeat radicalism that threatens the hopes and dreams of future generations.

It is time for the many who desire peace to expel the extremists from their midst. It is time for all civilized nations, and people, to respond to disagreement with reasoned debate – not violence.


And it is time for young and moderate voices all across the Middle East to claim for themselves a bright and beautiful future.

So today, let us rededicate ourselves to a path of mutual understanding and respect. Let us rethink old assumptions and open our hearts and minds to possible and possibilities. And finally, I ask the leaders of the region -- political and religious; Israeli and Palestinian; Jewish and Christian and Muslim -- to join us in the noble quest for lasting peace.

Thank you. God bless you. God bless Israel. God bless the Palestinians. And God bless the United States. Thank you very much. Thank you.

NBC NEWS
https://www.nbcnews.com/politics/white-house/read-trump-s-full-speech-jerusalem-today-i-am-delivering-n827111