Thursday, May 19, 2022

Al-Quran Turun Sekaligus, yang Bertahap itu Penyampaiannya



BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Al-Qurȃn yang “turun” kepada Muhammad semacam software yang di install ke komputer. Semuanya, sekaligus. Tidak berhuruf. Tidak bersuara. Sedangkan aktual penyampaiannya (pembacaan lahiriah ayatnya) baru dilakukan secara berangsur-angsur, sesuai konteks kejadian, sebab dan kebutuhan.

Al-Qurȃn yang turun itu hanya “setitik tinta” (Nun), yang mengandung semua hal. Atau juga, maaf, seperti setetes sperma yang mengandung semua informasi dan struktur tentang manusia.

Jadi, Al-Qurȃn batiniah itu sangat sederhana. But, it encompasses the whole things. The story of everything. Seluruh rahasia alam semesta ada padanya. Dengan demikian, Al-Qurȃn yang asli merupakan Tuhan itu sendiri. Sederhananya, Kalam Ilahi. Pengetahuan Dia. Ya, Dia juga.


Dengan demikian, ketika Al-Qurȃn “turun” kepada Muhammad, Muhammad berubah menjadi Al-Qurȃn. Jadi ‘Tuhan’ (wahdah al-wujud). Jadi Kalam-Nya. Maka tak heran, seluruh ucapan, gerak gerik dan diamnya Muhammad bernilai suci (maksum). Muhammad menjadi dimensi, sinyal atau frekuensi (tajalli) ketuhanan itu sendiri. Keseluruhan diri Muhammad menjadi Wahyu (hadits). “Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain adalah wahyu yang diwahyukan” (QS. An-Najm: 3-4).

Jadi, malam “turunnya” Al-Qurȃn adalah malam turunnya Malaikat dan Ruh. Sebenarnya, Al-Qurȃn yang bersifat batiniah memang Malaikat dan Ruh.

Jangan selalu membayangkan malaikat itu semacam manusia yang bersayap. Jangan. Malaikat itu “sinyal ilahiah”. Kode-kode supra-kosmik yang mengandung energi dan informasi-informasi suci. Malaikat itu frekuensi, sinyal-sinyal ketuhanan. Muraqabah. Ia hidup. Ia juga disebut “cahaya”. Bahkan cahaya Tuhan itu sendiri. Sangat murni, powerful dan halus sekali.


Kalau anda “didatangi”, mampu menangkap atau tersambung dengan malaikat; anda akan mendapat sinyal (pengetahuan-pengetahuan), wahyu atau ilham dari Tuhan. Ilmu laduni itu sendiri sebenarnya adalah ilmu bagaimana cara jiwa kita dapat “naik” (ittihad) ke alam malakut. Atau cara agar kekuatan-kekuatan malakutiyah bisa hadir, turun (hulul) ke jiwa kita. Kalau terhubung dengan malaikat, berarti anda sudah mulai terhubung dengan Tuhan. Karena, malaikat itu (sinyal/pesan/wakil/utusan) Tuhan. Kalau anda sudah memperoleh sinyal (malaikat) Tuhan, ya anda jadi malaikat. Jadi pembawa pesan Tuhan. Jadi Jibril ‘alaihissalam (Ruh). Terserah anda punya sayap atau tidak.

Kemudian, ketika disebut Al-Qurȃn itu “turun” kepada Muhammad, anda harus tahu siapa itu Muhammad. Muhammad itu bukanlah sekedar Muhammad sebagai makhluk biologis, “basyar”. Melainkan Muhammad sebagai makhluk spiritual, “insan wahyu” (QS. Al-Kahfi: 110).


Dalam pengertian terakhir ini, Muhammad adalah “jiwa universal”, sosok bumi yang sudah membumbung ke alam ukhrawi. Muhammad yang sudah menempuh perjalanan spiritual (suluk/khalwat) adalah Muhammad yang jiwanya telah terhubung ke pusat server pengetahuan alam semesta (Lauh Mahfudz). Jaringan atau matriks ruhaninya sudah sampai disana. Disitulah Al-Qurȃn, Asma dan Pengetahuan Tuhan tersimpan. Tidak ada yang mampu menjangkau area rahasia qurani ini, “kecuali oleh orang-orang yang disucikan” (QS. Al-Waqiah: 79). Di sini disebut “orang-orang”. Artinya bukan Muhammad saja. Siapa saja yang bersedia menempuh jalan kesucian, akan mampu “menyentuh” alam Quran yang hakiki. Alam mukjizat. Alam malakut, alam ketuhanan itu sendiri.

Makanya para pewaris nabi, para imam dan wali-wali juga dilabeli “suci” (maksum). Karena pada kadar tertentu mampu menjangkau batin atau kekeramatan Al-Qurȃn. Lisannya sudah terkoneksi dengan alam Ruh. Sehingga, bacaan Al-Qurȃn mereka mampu mengusir jin dan setan. Mampu membelah laut dan melahirkan banyak keajaiban supra-rasional. Bahkan diri mereka sendiri sudah jadi “Al-Qurȃn”. Kullu jasad-nya karamah. Sampai bumi pun takut untuk memakan jasadnya. Disini kita paham, bahwa Al-Qurȃn adalah diri imam. Imam adalah Al-Qurȃn.


Maka jangan dikatakan syirik kalau ada orang yang mengumpulkan rambut, kuku, baju, atau sandal milik Nabi dan orang-orang suci. Semua itu berdimensi Al-Qurȃn. Ada pancaran energi ilahiahnya. Bahkan makamnya pun bernilai suci. Seperti sucinya tembok Kakbah. Padahal itu cuma tembok. Tapi ada elemen az-Dzikr yang larut dalam itu semua.

Ingat, Quran yang “asli” bukan kertas dan huruf-huruf yang dicetak oleh perusahaan Arab, Turki, China atau Jerman. Tapi yang di alam Ruh. Yang tidak berhuruf dan bersuara. Tidak ada tajwid dan lantunan. Tidak ada irama dan langgam. Maka sucikanlah ruh kita, sehingga ruh rendah kita akan tersambung dengan Ruh yang lebih tinggi (Ruhul Quddus), yakni esensi Al-Qurȃn.


Jadi, itulah sedikit uraian untuk menengahi perdebatan “turunnya” Al-Qurȃn. Apakah menyeluruh dan sekaligus, sebagaimana terindikasi dari kata “inzal” dan “hu” (anzalna”hu” -QS. Alqadar: 1, QS. Al-Baqarah: 185); atau berangsur-angsur seperti tersurat pada kata “tanzil” (QS. Al-Isra: 106) dan “tartil” (QS. Al-Furqan: 32-33). Batin Al-Qurȃn turun sekaligus ke “langit bumi” (“dada” Muhammad). Sementara lahiriah penyampaiannya kepada umatnya memerlukan waktu sampai 22 tahun, sesuai kebutuhan. Butuh kasus untuk mengaktualkan masing-masing ayat.

Sesungguhnya, Al-Qurȃn itu bukan hanya 6236-an ayat yang tercatat dalam 30 juz. His ayat is limitless. Kalam Tuhan tidak terbatas. Ia terus berbicara sepanjang zaman. Bagi yang mampu mendengar. Bagi yang mampu menemukan.

Demikian refleksi kami, yang senantiasa mengharap bimbingan Ruh Suci Kekasih-Nya, pada 29 Ramadhan 1441 H ini. Semoga amal ibadah kita diterima Allah SWT.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.

Said Muniruddin
Rector The Zawiyah for Spiritual Leadership
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web: saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG: @saidmuniruddin