Friday, May 28, 2021

Mengenang Mas Fanani


Perjumpaan dengan mas Fanani merupakan saalah satu episode terpenting dalam hidup saya. Dari Studi Qur'an di Surabaya di awal 1980-an itu (bersama mas Haryanto, Ajib, Bakty, alm Subhono, alm Budi Santosa dkk) saya dapat terud ngaji secara mandiri dan berkelanjutan hingga hari ini.

Pengenalan saya atas masalah ummat dikenalkan oleh HMI. Karena HMI saya nilai kurang militan, kemudian saya mengikuti FOSI (Bang Hafiz, Sya'roji, Eggi Sujana dkk) yg ternyata lebih banyak belajar filsafat dan retorika. Lalu ikut HMI MPO. Terlibat beberapa aksi "radikal", hingga peristiwa Tanjung Priuk 1983. Saat bergabung dg SQ bimbingan mas Fanani, beberapa teman FOSI mengejek kami nggak mau jihad. Beberapa teman FOSI ditahan.

Sebelum berangkat studi lanjut ke Inggris 1988 saya sempat diantar mas Suhariyanto mampir ke rumah pak Isa di Utan Kayu Jakarta untuk pamitan. Terbukti bekal SQ memberi kerangka pikir dan pandangan yang kritis terhadap peradaban Barat. Cukup memiliki sikap menjaga jarak dari gaya hidup Barat. Di Newcastle dekat sekali dengan pemukiman komunitas Yahudi terbesar di Inggris.

Saya ingat mas Fanani menemani akad nikah saya ke Probolinggo 1985 dan hadir lagi saat Ratna wafat 2012 dan dimakamkan di Probolinggo. Terakhir mas Fanan memberi khutbah nikah bagi Latifa anak bungsu saya 2019.

Saya menjadi saksi bahwa seluruh hidup mas Fanan adalah bukti pembayaran iman almarhum selama hidupnya. Pembayaran itu berlebih. Seperti hadits nabi, memang kita hanya hidup di dunia sebagai orang asing (Ghaaribun) atau 'aabirun sabiil (musafir) di dunia ini. Kematian adalah tiket untuk kembali ke kampung halaman kita di al jannah. Saya yakin bahwa mas Fanan kini sedang bergembira bersama orang-orang yang mencintai dan dicintainya yang sudah dulu mudik menghadap PenciptaNya.

Daniel Mohammad Rosyid
Gunung Anyar, Surabaya
14/5/2021