Tuesday, June 16, 2009

Ahmadinejad: Suara Rakyat Iran Pukulan bagi Penindas


Presiden terpilih kembali Iran, Mahmoud Ahmadinejad, pada Minggu (14/6) menyatakan hasil pemilu presiden negeri itu merupakan pukulan bagi "penindas", yang menguasai dunia.

Dalam jumpa pers pertamanya sejak menang pemilu, ia juga bersikukuh bahwa kegiatan nuklir Teheran adalah persoalan masa lalu. "Keikutsertaan 84 persen lebih pemilih adalah pukulan telak bagi penindas, yang menguasai dunia," katanya.

Ahmadinejad juga menganggap enteng aksi unjuk rasa sejak Sabtu karena menuduh terjadi kecurangan selama pilpres. Ia menyatakan, pemilihan umum itu seperti pertandingan sepak bola, yang dimainkan dua tim. Maka pecundang seharusnya rela (kalah).

"Kenyataan bahwa ada keberatan dan mempertanyakan hasilnya adalah lumrah. Mereka berpikir akan menang dan siap untuk itu sehingga mereka marah," katanya merujuk pada pendukung Mir Hossein Mousavi, penantang utamanya, yang kalah dalam pemungutan suara pada Jumat itu.


Pendukung Mousavi turun ke jalan di Teheran dan menentang kemenangan Ahmadinejad, yang mereka katakan curang. Pada Minggu, polisi dipaksa menembak empat atau lima kali ke udara untuk membubarkan kerumunan pengunjuk rasa di Teheran tengah.

Mousavi mengimbau pendukungnya menghindari kekerasan saat melancarkan unjuk rasa di Teheran pada Sabtu. "Pelanggaran dalam pemilihan umum itu sangat parah dan Anda berhak sangat terluka. Namun, saya harus menyeru Anda tidak menyakiti pribadi atau kelompok. Anda jangan kehilangan kesabaran dan hendaknya mengendalikan diri. Setiap orang hendaknya menahan diri dari kekerasan," kata Mousavi dalam laman kampanyenya.

Ia berharap polisi memahami alasan pendukungnya berunjuk rasa dan tidak mengancam mereka. Ribuan pendukung Mousavi turun ke jalan di Teheran pada Sabtu menentang kemenangan Ahmadinejad, yang mencatat menang besar untuk mengukuhkan masa jabatan keduanya. Mereka meneriakkan kata-kata "Turun Diktator" setelah hasil akhir memperlihatkan Ahmadinejad meraih hampir 63 persen suara.

Mir Hossein Mousavi, adalah mantan perdana menteri moderat, yang pada paginya menyatakan telah terjadi kecurangan dan memperingatkan bahwa hasil penghitungan suara tersebut dapat mengarah pada suatu "tirani".

KOMPAS.com, 15 Juni 2009

No comments: