Tuesday, June 2, 2009

Ali bin Abi Thalib Sebagai “Pintu Ilmu”


Rasulullah Muhammad saw pernah menyatakan bahwa bila dirinya diibaratkan sebagai kota ilmu, maka Ali ibn Abi Thalib adalah pintunya ilmu. Mendengar pernyataan yang demikian, sekelompok kaum Khawarij tidak mempercayainya. Mereka tidak percaya, apa benar Ali ibn Abi Thalib cukup pandai sehingga layak mendapat julukan "pintu ilmu" dari Rasulullah saw.

Maka berkumpullah sepuluh orang dari kaum Khawarij. Kemudian mereka bermusyawarah untuk menguji kebenaran pernyataan Rasulullah tersebut. Seorang di antara mereka berkata, "Mari kita tanyakan pada Ali tentang suatu masalah, kemudian kita lihat bagaimana jawaban Ali tentang masalah itu, sehingga kita bisa menilai seberapa jauh kepandaiannya. Bagaimana? Apakah kalian setuju?"

"Setuju!" jawab mereka serentak.
"Baiklah kalau begitu kita bertanya secara bergiliran."

Orang pertama: "Manakah yang lebih utama, ilmu atau harta?"
Ali menjawab: "Ilmu! Karena ilmu adalah warisan para Nabi dan Rasul, sedangkan harta adalah warisan Qarun dan Fir'aun.”

Orang kedua: "Manakah yang lebih utama, ilmu atau harta?"
Ali menjawab: "Ilmu! Karena ilmu akan menjaga dirimu, sementara harta malah sebaliknya, engkau yang harus menjaganya.”

Orang ketiga: "Manakah yang lebih utama, ilmu atau harta?"
Ali menjawab: "Ilmu! Karena orang yang banyak ilmunya akan banyak pula orang yang menyayangi dan hormat kepadanya, sedangkan orang yang memiliki banyak harta akan banyak pula musuh dan orang yang iri kepadanya."

Orang keempat: "Manakah yang lebih utama, ilmu atau harta?"
Ali menjawab: "Ilmu! Karena bila engkau gunakan, maka ilmu akan semakin bertambah banyak, akan tetapi sebaliknya, bila harta engkau gunakan, maka semakin lama akan semakin berkurang.”

Orang kelima: "Manakah yang lebih utama, ilmu atau harta?"
Ali menjawab: "Ilmu! Karena pemilik ilmu akan dihormati dan mendapat sebutan yang baik sedangkan pemilik harta sering kali dicemooh dan mendapat julukan yang buruk."

Orang keenam: "Manakah yang lebih utama, ilmu atau harta?"
Ali menjawab: "Ilmu! Karena ilmu itu tidak ada pencurinya, sedangkan harta banyak sekali pencurinya.”

Orang ketujuh: "Manakah yang lebih utama, ilmu atau harta?"
Ali menjawab: "Ilmu! Karena pemilik ilmu akan diberi syafa'at (pertolongan), sementara pemilik harta akan dihisab (diusut asal-muasal dan penggunaannya) oleh Allah SWT."

Orang kedelapan: "Manakah yang lebih utama, ilmu atau harta?"
Ali menjawab: "Ilmu! Karena ilmu akan abadi selamanya, sedangkan harta sebaliknya. Harta adalah sesuatu yang fana dan suatu saat pasti akan habis tak bersisa.”

Orang kesembilan: "Manakah yang lebih utama, ilmu atau harta?"
Ali menjawab: "Ilmu! Pemilik ilmu dijunjung tinggi karena kualitas manusianya, sedangkan pemilik harta dijunjung tinggi karena jumlah harta-bendanya.”

Orang kesepuluh: "Manakah yang lebih utama, ilmu atau harta?"
Ali menjawab: "Ilmu! Karena ilmu itu akan menyinarimu sehingga hati menjadi lembut, tidak beku dan hidup menjadi tenteram. Sedangkan harta sering kali membuat gelap mata, hati menjadi keras dan hidup menjadi tidak tenang, susah dan gelisah.”

Ali pun kemudian menyadari bahwa dirinya telah diuji oleh orang-orang Khawarij tersebut. Sehingga dia berkata, "Andaikata engkau datangkan semua orang untuk bertanya, insya Allah akan aku jawab dengan jawaban yang berbeda-beda pula, selagi aku masih hidup."

Kesepuluh orang itu akhirnya menyerah. Mereka percaya bahwa apa yang dikatakan oleh Rasulullah saw adalah benar adanya. Dan Ali memang pantas mendapat julukan sebagai "pintu ilmu".

1 comment:

ahmad haes said...

God posting! Very very interesting! Matur nuwun!