Showing posts with label ASEAN. Show all posts
Showing posts with label ASEAN. Show all posts

Wednesday, May 28, 2025

Mengapa Amerika Keberatan dengan GPN dan QRIS?


Keputusan Indonesia meluncurkan Gerbang Pembayaran Nasional (GPN) dan QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) bukan sekadar inovasi dalam dunia transaksi digital dan bukan cuma soal kemudahan transaksi digital. Lebih dari itu, ini adalah pernyataan tegas tentang kedaulatan ekonomi —tentang siapa yang mengendalikan arus uang, data, dan masa depan negeri ini.

Dari Ketergantungan ke Kemandirian
GPN diluncurkan Bank Indonesia Desember 2017, sedangkan QRIS April 2019. Sebelum GPN dan QRIS hadir, setiap kali masyarakat Indonesia menggunakan kartu debit berlogo Visa atau Mastercard, data transaksinya langsung mengalir ke luar negeri. Bahkan jika transaksi terjadi antar bank domestik, sistemnya tetap harus melewati jaringan asing. Ironis: kita seperti membayar "uang sewa" hanya untuk bertransaksi di rumah sendiri. Bank-bank lokal tak punya pilihan. Jika ingin terkoneksi secara global, mereka harus ikut tarif dan sistem yang dibuat pihak asing. Bahkan untuk belanja domestik, kita masih harus “minta izin” lewat Amerika.


Bank lokal terpaksa tunduk pada sistem dan tarif yang ditetapkan dua raksasa keuangan asal Amerika itu. Padahal, untuk setiap transaksi, mereka memotong biaya antara 1–3%. Kecil jika dilihat per transaksi, tapi jika dikalikan jutaan kali sehari, nilainya bisa mencapai miliaran Dolar per tahun. Dan akhirnya devisa kita tersedot ke Paman Sam. Indonesia, dengan ritel tahunan ribuan triliun Rupiah, adalah ladang emas.

Mereka juga mendapat sesuatu yang lebih mahal dari uang: data konsumen Indonesia. Mereka dengan leluasa menyedot data perilaku konsumen Indonesia —sumber daya strategis di era digital ini. Mereka tahu kecenderungan dan pola belanja setiap warga Indonesia pemegang kartu. Karena data adalah minyak baru (the new oil).


Apa Ruginya bagi Indonesia?
Pendapatan negara bocor ke luar negeri. Biaya transaksi tinggi karena pakai jaringan global. UMKM jadi enggan digitalisasi karena mahal, ekonomi digital mandek. Dan yang lebih mengkhawatirkan: kita tak berdaulat atas data transaksi kita sendiri.

Lalu Hadirlah GPN dan QRIS
GPN: menyatukan sistem antarbank nasional. Kartu debit bank lokal bisa digunakan lintas jaringan domestik. Dulu bayar pake debit BNI tapi mesin gesek (EDC)-nya BCA, maka transaksi itu harus lewat perusahaan switching atau pengalih. Yaitu Visa dan Master. Dengan adanya GPN, perusahaan switching-nya milik Indonesia: Artajasa, ATM Bersama, Alto.

QRIS: menyatukan semua QR Code jadi satu standar nasional. Pakai OVO, DANA, Gopay, ShopeePay? Semua tinggal scan satu QR. Ini bukan cuma efisiensi. Ini revolusi diam-diam dalam arsitektur keuangan nasional.


Kenapa QRIS Cepat Melejit?
Adalah COVID-19 yang membawa berkah melejitnya QRIS. Ketakutan orang terhadap uang kertas bisa membawa virus, menyebabkan QRIS dapat tempat.

- Satu QR untuk semua aplikasi: praktis dan hemat.
- Transaksi nyaris tanpa biaya untuk UMKM.
- Didukung penuh Bank Indonesia dan fintech lokal.
- Nyambung banget dengan gaya hidup digital masyarakat.


QRIS Menjadi Gerakan ASEAN
Hari ini, QRIS tak lagi eksklusif Indonesia.
- Turis Thailand bisa bayar makan di Bali pakai dompet digital lokalnya. Transaksinya Bath ke Rupiah. Dulu Bath ke Dolar baru ke Rupiah.
- Orang Indonesia bisa ngopi di Kuala Lumpur cukup scan QRIS. Bayarnya Rupiah langsumg ke Ringgit. Dulu Rupiah ke Dolar baru ke Ringgit.
- Malaysia, Thailand, Singapura, Filipina —semua sedang membangun interkoneksi lintas negara.

Inilah embrio dari ASEAN Pay —gerakan regional membangun sistem pembayaran sendiri, bebas dari dominasi jaringan asing. Bebas dari kewajiban konversi ke Dolar dulu.


Berapa Kerugian Visa dan Mastercard?
- Miliaran Dolar fee transaksi yang dulunya otomatis mengalir ke mereka kini menguap.
- Negara-negara besar seperti Indonesia, India, Brasil mulai membangun sistem sendiri.
- Kalau trend ini berlanjut, maka dominasi Visa dan Mastercard akan tergerus pelan-pelan.

Siapa Stakeholder Visa dan Mastercard?
- Google Pay, Apple Pay, PayPal, Amazon Pay —semua itu bernafas lewat jaringan Visa/Mastercard.
- GPN dan QRIS dianggap ancaman: mereka khawatir kehilangan kendali atas data dan pendapatan. Di Indonesia, tumbuh ekosistem sehat: OVO, Dana, Gopay, ShopeePay, LinkAja —bukan saling bunuh, tapi saling terhubung lewat QRIS.
- UMKM bisa masuk ekonomi digital tanpa tergantung pihak asing.
- Biaya turun, akses naik, dan data tetap aman di rumah sendiri.


Maka, keberatan Amerika terhadap GPN dan QRIS bukan hanya soal teknologi. Ini soal siapa yang mengontrol sistem keuangan global. Bagi Indonesia, ini adalah langkah berani dan strategis. Bagi ASEAN, ini adalah poros baru ekonomi digital yang inklusif dan berdaulat.

Jadi, GPN dan QRIS (di Indonesia), NetQR (Singapura), PromptPay (Thailand), DuitNowQR (Malaysia), QRPh (Filipina), VietQR (Vietnam), Bakong (Kamboja), MPU QR (Myanmar), BCELOne (Laos), nantinya akan terhubung satu sama lain dan menjadi ASEAN Pay.

Maka otomatis Amerika akan kehilangan pasar Dolar di ASEAN.

QRIS bukan cuma QR Code. Ia adalah gerakan pembebasan ekonomi digital dari ketergantungan pihak asing (Dolar Amerika). Ia adalah jalan pulang menuju kedaulatan.

H. Budhiana Kartawijaya,
Wartawan Senior,
Kamis, 24 April 2025
Jabar.nu.or.id
Teropongsenayan.com

Thursday, July 28, 2022

RRC Cemas Menghadapi Fenomena Anies Baswedan!


Di awal musim dingin yang datang lebih cepat, para petinggi China berdiskusi di ruang luas berwarna merah yang didominasi potret raksasa Mao Zedong, pendiri rezim komunis China. Di sana ada pejabat intelijen, urusan luar negeri, ekonomi, media, pakar ASEAN, dan pakar Indonesia. Tapi ruang terasa sepi seperti hutan belantara.

Lalu, Presiden, Xi Jin Ping memecahkan kesunyian. “Apakah hasil pilpres Indonesia akan melestarikan status quo?” Satu per satu para pejabat itu mengemukakan pendapat dengan hati-hati. Intinya, kepentingan China di Indonesia belum aman.

Kalau Anies Baswedan memenangkan pertarungan, pendulum politik Indonesia akan berayun lebih ke tengah. Bahkan, landscape politik Indo-Pasifik akan berubah,” kata pakar ASEAN.


Mereka beranggapan, Anies akan meninjau ulang deal-deal bisnis bidang infrastruktur dan pertambangan Indonesia-China —yang oleh pakar Indonesia dianggap tidak fair— sebagaimana dulu dilakukan PM Malaysia Mahathir Mohamad.

Dia itu nasionalis tulen, sekaligus cendekiawan ekonomi dan politik yang cerdik. Tidak mudah menghadapi dia. Lagi pula, populeritas China di sana (Indonesia) merosot tajam belakangan ini akibat ketidakarifan kita memperlakukan bangsa yang sepanjang sejarahnya terdapat banyak simpul gerakan anti-China,” kata pakar Indonesia.

Mereka juga membahas kemungkinan berubahnya landscape politik Indo-Pasifik bila Anies memimpin Indonesia. Pembahasan dari perspektif Indonesia berjalan begini: Dari sisi geopolitik, mestinya Indonesia —dengan perbedaan budaya, sejarah, dan besaran ekonomi dibanding dengan bangsa ASEAN lain— berperan sebagai game changer di kawasan untuk sebesar-besar keuntungan bangsa.


Faktanya, Jakarta tak memainkan peran yang seharusnya di tengah persaingan kita bersama Rusia versus AS-Sekutu di kawasan. Penyebabnya, presiden Indonesia tak punya visi tentang Indo-Pasifik. Akibatnya, kementerian luar negerinya tak punya pedoman yang otoritatif dalam menjalankan politik regional, terutama dalam hubungan dengan kita, sehingga politik luar negerinya terasa mandul. Menterinya lebih memilih main aman.

Maka kita, juga lawan kita, terpaksa mengabaikan Jakarta. “Memang aneh, negeri yang begitu besar tak memahami dirinya sendiri, apalagi memahami lingkungannya,” kata pakar Indonesia. Bahkan, posisinya sebagai big brother ASEAN pun tergerus.

Kita sudah mulai menyingkirkan peran Jakarta. Lihat, ketika krisis Myanmar kian suram, yang mengganggu keamanan, ekonomi, dan kinerja ASEAN, Indonesia hanya jadi penonton setelah sedikit usaha. Peran kita di sana justru lebih menentukan. Kini, bisa dikatakan Myanmar telah menjadi “milik” kita setelah Kamboja. Dengan demikian, konsep sentralitas ASEAN di Indo-Pasifik yang dikembangkan Indonesia kehilangan makna karena, mau tak mau, Jakarta harus beradaptasi dengan kehendak kita. Ternyata mudah saja menelikung ASEAN.


Sebentar lagi, berkat kemampuan ekonomi, politik, dan militer kita, cepat atau lambat seluruh ASEAN akan jatuh ke lingkungan pengaruh (sphere of influence) kita. Untuk itu, kita harus secepatnya taklukan Indonesia lebih dulu. Kalau berhasil, teori domino akan berlaku: satu demi satu bangsa ASEAN akan luruh. Untuk tujuan itu, kita harus lebih agresif mengobral investasi mumpung rezim di sana menjadikan investasi asing sebagai sokoguru pembangunan ekonominya. Utang juga harus kita berikan sebanyak yang mereka minta. Kalau kita berhasil menjerat Indonesia dengan utang (debt trap), klaim kita atas Laut Natuna Utara (sebelumnya disebut Laut China Selatan) bisa jadi tak mendapat resistensi berarti.

Sekarang saja Jakarta segan bermasalah dengan kita. Padahal, bargaining position mereka vis a vis kita cukup besar. “Bukankah kita akan sangat rugi bila harus juga berkonflik dengan Indonesia ketika kita butuh teman strategis menghadapi musuh?” kata pejabat urusan luar negeri.

Kita tahu, dalam menghentikan upaya ekspansi kita di Laut China Selatan, AS-Inggris-Australia membentuk aliansi militer bernama Quad. AS juga, bersama Jepang, Australia, dan India membentuk AUKUS. Mereka bilang, tujuan Quad dan AUKUS adalah menjaga LCS dan Indo-Pasifik tetap menjadi kawasan bebas navigasi dan inklusif. Namun, sesungguhnya mereka hendak membatasi lebensraum (living space) kita, yang sangat kita butuhkan dalam menjaga momentum perkembangan kita menjadi adidaya tunggal.


Pandangan AS dan sekutunya sebenarnya sejalan dengan visi Indonesia tentang sentralitas ASEAN di Indo-Pasifik. Namun, ASEAN punya jalan sendiri yang tidak konfrontatif menghadapi kita. Akibat ASEAN Way ini, dalam pembentukan Quad maupun AUKUS, Indonesia tidak dimintai pendapatnya. “Padahal, negeri ini beresiko besar bila terjadi konflik militer terbuka antara kita dan AS-Sekutu,” kata pejabat militer.

Kita harus bantu Rusia agar bisa memenangkan perang Ukraina karena dengan demikian rencana kita menduduki Taiwan dengan bantuan Rusia akan mudah terlaksana. Kemenangan mudah kita di Taiwan akan menggentarkan ASEAN, khususnya Indonesia, untuk berpikir seribu kali kalau mau menghalangi kehendak kita. Mungkin sekali musuh kita telah menghubungi Jakarta untuk ikut serta dalam aliansi-aliansi itu mengingat posisi geografisnya yang sangat strategis. Namun, Jakarta menolak.

Hal ini bisa difahami karena Indonesia tak mau terlihat berseberangan dengan kita. Musuh kita hanya mau menarik ASEAN ke dalam kerja sama militer. Tentu saja ini pikiran yang bodoh. Seharusnya mereka membanjiri ASEAN dengan duit sebagaimana yang kita lakukan. Itu pun belum tentu mereka mendapatkan hasil maksimal karena mustahil ASEAN yang lemah bersedia bermusuhan dengan negara raksasa seperti kita, yang kemajuannya akan membuat ASEAN kecipratan rezeki. Namun, keadaan akan berubah bila Anies memimpin Indonesia.


Apakah dia akan mengambil sikap anti-China? Apakah dia akan mengutak-atik masalah Muslim Uighur?” Tanya presiden Xi Bopeng. “Tentu saja tidak. Anies seorang yang sangat rasional, yang pandai mengubah kelemahan menjadi kekuatan,” kata ketua intelijen yang mendapat laporan dari Jakarta. Pakar Indonesia menambahkan, “Terlalu besar ruang yang dapat ia eksploitasi untuk menguatkan posisi bangsanya menghadapi kita.

Dia adalah figur internasional yang punya jalinan pertemanan dengan institusi-institusi bergengsi di seluruh dunia. Ini karena pemikiran dan komitmen demokrasi dan HAM yang mendapat simpati luas. Mengingat ada keluhan rakyat Indonesia tentang kerja sama ekonomi dengan kita, yang dianggap terlalu menguntungkan kita, sangat mungkin Anies akan meninjau kembali. Dulu, dengan sangat berani dia menghentikan proyek reklamasi di Teluk Jakarta yang didukung penguasa karena merugikan banyak pihak.

Dia sangat mahir mengangkat martabat orang, kelompok, atau entitas, sebagaimana dia lakukan atas Kota Jakarta dan masyarakatnya. Gagasannya sambung menyambung secara tidak terduga dan selalu mempesona. “Anies seperti kepiting, kita akan selalu tidak tahu ke mana ia akan bergerak kalau disentuh. Orang seperti ini tidak mudah kita kalahkan,” kata pakar Indonesia.


Besarnya dukungan yang dia peroleh dari musuh kita akan meningkatkan bargaining position Indonesia. Mungkin kita harus melepaskan klaim kita atas Laut Natuna Utara untuk meneguhkan pertemanan kita dengan Indonesia,” kata pejabat urusan luar negeri.

Kita juga terpaksa harus bersedia berunding ulang dengan dia mengenai konsesi-konsesi tambang dan proyek infrastruktur karena desakannya untuk itu akan sangat populer. Dan kita tak dapat menekannya secara ekonomi karena mudah saja dia mengganti posisi kita dengan negara lain.

Ingat, tambang-tambang nikel di berbagai daerah di Indonesia yang telah kita kuasai juga diminati banyak negara. Bukankah nikel, bahan utama baterei, adalah komoditas masa depan ketika dunia berkomitmen segera meninggalkan bahan bakar fosil?” Kata pejabat ekonomi.

Menurutnya, Anies akan mengeksploitasi ketidakadilan dalam perjanjian-perjanjian investasi yang banyak menyerap tenaga kerja kita, padahal pengangguran di negeri itu cukup tinggi. “Mengenai Uighur?” Menurut pejabat urusan luar negeri, kita memang punya teman ormas Islam terbesar di sana yang mungkin akan membentengi posisi kita di sana. Toh juga, dunia Islam mendiamkannya.


Jadi, mestinya ruang Anies untuk bermanuver terkait itu ini terbatas. Namun, pemimpin ormas besar itu telah berganti yang mungkin akan mengambil jarak dengan kita demi mengakomodasi aspirasi AS dan sekutunya. Juga untuk memainkan peran pengimbang di antara ormas lain dalam negeri yang kritis terhadap kita. Dan, sekali lagi, kita tak dapat memperkirakan langkah apa yang akan diambil Anies. Yang jelas, kalau dia terpilih, narasi Islamofobia yang dipakai pendahulunya untuk membungkam lawan akan dihentikan. Dan landscape Islam di Indonesia juga akan berubah.

Tentu saja dia bukan seorang Islamis yang mempromosikan politik Islam. Andai saja dia melakukan itu, pemerintahannya akan langsung kolaps,” kata ketua intelijen. Yang akan dilakukan Anies adalah mempersatukan bangsa yang terbelah. Untuk itu, kaum Muslim konservatif yang selama ini ditindas akan dikembalikan hak-haknya yang sama dengan warga negara lain. Ini konsekuensi dari komitmennya yang kuat pada pluralisme, demokrasi, dan HAM, serta demi konsolidasi sumber daya bangsa yang sangat dibutuhkan untuk melangkah maju.


Dengan demikian, mungkin saja Anies akan memadukan energi Islam dan nasionalisme sekuler, yang sesungguhnya merupakan jati diri bangsa, yang dapat dikapitalisasi untuk menjadikan Indonesia sebagai game changer di kawasan. Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Australia, India, dan AS beserta sekutunya sudah lama menginginkan Indonesia menjadi salah satu pemain utama yang mengubah permainan, paling tidak mengubah perilaku kita.

Posisi Indonesia memang unik, yang selama ini tak dapat dikapitalisasi secara maksimal oleh pemimpin Indonesia. Dengan posisi ini, kita khawatir Anies akan mendesakkan kepentingan-kepentingan bangsanya kepada kita, dengan konsesi terukur, yang akan sulit ditolak. Kita tak berharap Anies akan mengecam perlakuan kita terhadap Uighur karena dia pun ingin Indonesia mendapat manfaat dari kemajuan kita.

Tapi isu ini, yang oleh Komisi Tinggi HAM PBB dianggap sebagai pelanggaran HAM berat, akan menjadi kerikil dalam penguatan hubungan kita dengan Indonesia. Alhasil, secara keseluruhan, hubungan kita dengan Indonesia tak akan sama lagi. Indonesia di bawah Anies akan tampil bertenaga sebagai bangsa pejuang yang bangga pada dirinya.

Smith Alhadar,
Direktur Eksekutif Institute for Democracy Education (IDe)
KEUANGAN NEWS, 27/06/2022

Tuesday, January 1, 2019

Kisah Pondok Ban Tan dan Surin Pitsuwan


Ya Nabi salam ‘alaika .…
Ya Rasul salam ‘alaika ….
Ya habibie salam ‘alaika ….
Shalawatullah ‘alaika ….

Sekitar 1.000 anak-anak menghampar di lapangan rumput depan pondok. Lautan kerudung dan peci putih, melafalkan shalawat, khusuk dan menggema.

Suasana Pondok Pesantren Ban Tan malam itu terasa unik. Pondok kecil ini dibangun di pedalaman Thailand Selatan. Untuk mencapainya harus terbang dari Bangkok, jaraknya sekitar 750 km ke kota kecil Nakhon Si Thammarat lalu dari airport yang mungil itu, naik mobil kira-kira satu jam ke pedalaman.

Masuk di tengah-tengah desa dan perkampungan umat Budha, disitu berdiri Pondok Ban Tan. Dibangun di awal abad lalu, sekitar tahun 1900-an, dengan beberapa orang murid. Niatnya sederhana, menjaga aqidah umat Islam yang tersebar di kampung-kampung yang mayoritas penduduknya beragama Budha.

Malam itu, melihat wajah anak-anak pondok, seperti kita sedang menatap masa depan. Anak-anak yang dititipkan orang tuanya untuk sekolah ke Pondok, untuk menjaga Ke-Islaman, untuk menjaga sejarah kehadiran Islam di kerajaan Budha ini. Di propinsi ini kehadirannya penuh nuansa damai. Sebuah tradisi yang harus dijaga terus.


Malam itu, setelah berliku perjalanannya, seakan jadi salah satu event puncak untuk keluarga pengasuh pondok ini. Di awal tahun 1967 terjadi perdebatan panjang diantara para guru di pondok ini. Anak tertua Haji Ismail, pemimpin pondok ini, jadi bahan perdebatan. Anak usia 17 tahun itu memenangkan beasiswa AFS untuk sekolah SMA selama setahun di Amerika Serikat.

Pondok Ban Tan seakan goyah. Tak terbayangkan bagi mereka, dari perkampungan Muslim yang kecil, jauh dari keramaian, dan di pedalaman Thailand di tahun 1960-an, cucu tertua pendiri pondok akan dikirimkan ke Amerika.

Umumnya santri-santri cerdas dikirim melanjutkan sekolah ke Jawa atau Kedah atau Kelantan; jika ada dana mereka akan dikirim ke Makkah atau Mesir. Tapi Amerika ?!? Tidak pernah terlintas di benak mereka akan mengirim santri belajar ke Amerika. Saat itu para guru di pondok terpecah pandangannya: separuh, takut anak ini akan berubah bila dikirim ke negeri kufar (istilah yang digunakan dalam perdebatan itu), mereka tidak ingin kehilangan anak cerdas itu.

Setelah perdebatan panjang, Si Kakek, pendiri pondok itu, mengatakan, “saya sudah didik cucu saya ini, saya percaya dia istiqomah dan saya ikhlas jika dia berangkat”. Ruang musyawarah di pondok yang tanpa listrik itu jadi senyap. Tidak ada yang berani melawan fatwa Sang Guru. Haji Ismail, sang ayah, mengangguk setuju. Tidak lama kemudian berangkatlah anak muda tadi ke Amerika.


Tahun demi tahun lewat. Dan dugaan guru-guru pondok itu terjadi benar: anak itu tidak pernah kembali jadi guru atau jadi pengelola pondok. Dia tidak meneruskan mengelola warisan kakek dan ayahnya itu. Dia pergi jauh. Anak muda itu terlempar ke orbit lain.

Malam ini anak yang dulu diperdebatkan itu pulang. Dia pulang bukan sebagai orang asing, dia pulang membawa kebanggaan untuk seluruh keluarga, seluruh pondok dan seluruh rakyat di propinsi kecil ini.

Dia pulang sebagai Sekretaris Jenderal ASEAN. Pondok Ban Tan jadi terkenal, kampung halamannya itu jadi perhatian dunia. Sebelumnya dia adalah Menteri Luar Negeri Thailand, muslim pertama yang jadi Menlu di Negara berpenduduk mayoritas beragama Budha.

Namanya dikenal oleh dunia sebagai Surin Pitsuwan; dikampungnya dia dikenal sebagai Abdul Halim bin Ismail.

Malam ini Surin pulang kampung membawa teman dan koleganya. Sekarang seluruh bangunan pondok ini nampak megah. Setiap bangunan merupakan wujud bantuan dan dukungan dari berbagai negara. Anak ini pulang dengan membawa dukungan dunia untuk pondok mungil di pedalaman ini. 10 orang adiknya (dari satu ayah-ibu) menjadi guru, meneruskan tradisi dakwah di kampung halamannya.


Saya menyaksikan bahwa sesungguhnya, Surin selalu “hadir” di sini, dia membawa dunia. Dia menjadi jembatan lintas peradaban, dia jadi duta Muslim Thailand di panggung dunia.

Dia tidak pernah hilang seperti diduga oleh guru-gurunya. Dia masih persis seperti kata Kakeknya. Sejak pertama kali saya ngobrol dengan Surin Pitsuwan, tahun 2006 yang lalu di Hanoi, tutur kata dan pikirannya seakan mengatakan: isyhadū bi annā muslimūn.

Ramadhan kemarin, saat kami makan malam –Ifthar bersama– di Bangkok, Surin cerita tentang ASEAN Muslim Research Organization Network (AMRON) conference di Walailak University dan ingin mengundang saya ke pondoknya awal Oktober. Saya jawab tidak bisa karena ada rencana acara di Bandung. Sesudah itu, dia kirim beberapa SMS meyakinkan saya, bahwa ke “Ban-Tan” lebih utama daripada ke “Ban-Dung”.

Ketika duduk di Masjid Al-Khalid, bersama ratusan santri, bersyukur rasanya. Merubah jadwal, dari ke Bandung jadi berangkat ke Ban Tan. Saya duduk shalat berjamaah di samping Surin, selesai shalat ratusan tangan mengulur, semua berebut salaman dengannya. Wajah takjub santri-santri itu tidak bisa disembunyikan, mereka semua seakan ingin bisa seperti Surin. Dia seakan jadi visualisasi nyata dari mimpi-mimpi para santri di kampung kecil di pedalaman Thailand.


Malam itu, di pelataran Pondok Ban Tan dibuatkan panggung untuk menyambut. Santri-santri bergantian naik panggung. Mereka peragakan kemahiran bercakap Melayu, Inggris dan Arab. Sebagai puncak acara mereka tampilkan Leke Hulu (Dzikir Hulu). Tradisi tarikat yang sudah dijadikan seni panggung. Seluruh santri ikut berdzikir, gemuruhnya menggetarkan dada.

Besok paginya Syaikhul Islam Thailand, pemimpin muslim tertinggi di Thailand khusus datang dari Songkhla, kota di sisi selatan, untuk sarapan pagi bersama di pondoknya. Kita ngobrol panjang dan saya tanya asal keturunannya, karena garis wajahnya unik; dia jawab kakeknya dari Sumatera, tapi dia keturunan Hadramaut. Mendengar itu, Surin tertawa dan minta kita bersalaman sekali lagi.

Hari itu saya bersyukur dan bersyukur. Saya katakan itu pada Surin bahwa ini perjalanan luar biasa. Tapi dia masih belum puas, Surin panggil salah satu alumni pondoknya (seorang doktor ilmu management) untuk antarkan saya ke Masjid di kampung-kampung pesisir pantai. Surin ingin kenalkan saya dengan ulama yang berasal dari Minangkabau.

Setelah melewati kampung-kampung dan pasar yang sangat-sangat sederhana, saya sampai di rumahnya yang juga sangat sederhana, di belakang Madrasah yang dipimpinnya. Kami berdiskusi tentang suasana di sini, tentang Minang, dan tentang kemajuan. Lalu dia ambil bingkai-bingkai dari lemari, dia tunjukkan beberapa foto orangtuanya, ayahnya dipaksa hijrah dari Maninjau di Ranah Minang karena perlawanan pada Belanda. Kira-kira 90 tahun yang lalu, dia sampai di Thailand Selatan dan jadi guru agama. Mengagumkan, anak-anak muda pemberani memang selalu jadi pilar kokohnya Dinul Islam. Mereka hadir dan hidup berdampingan penuh kedamaian.


Lengkap sudah perjalanan kali ini. Dalam satu rotasi ditemukan dengan komunitas yang kontras. Di Kuala Lumpur, berdialog dengan kalangan bisnis dan politik dalam ASEAN 100 Leadership Forum dengan suasana megah, di Thailand Selatan berdialog dengan kaum Muslim minoritas dengan suasana sederhana, sangat bersahaja.

Sekali lagi kita ditunjukkan betapa hebatnya efek pendidikan. Beri fondasi aqidah, bekali dengan modal akhlaqul karimah, lalu biarkan anak muda terbang mencari ilmu, membangun jaringan (network), merajut masa depan. Anak muda tidak takut menyongsong masa depan. Kelak ia akan pulang, menjawab doa ibunya, menjawab doa ayahnya dengan membawa ilmu, membawa manfaat bagi kampung halamannya, bagi negerinya dan bagi umatnya.

Di airport kita berpisah. Saya pulang  kampung ke Jakarta dan Surin berangkat ke Brussel, memimpin delegasi para kepala pemerintahan ASEAN dalam ASEAN-European Summit.

Hari ini anak yang dulu ditakutkan hilang itu akan memimpin delegasi pemimpin se-Asia Tenggara. Dan, pada hari ini juga Ibunya masih tetap tinggal di Pondok Ban Tan, usia beliau sekitar 90-an tahun, tetap mendoakan anaknya seperti saat melepasnya berangkat sekolah SMA ke Amerika dulu.

Barakallahu lakum . . . .

Just landed in Jakarta; Oct 4, 2010; 00.30 am.
(Sekadar catatan pendek, sebuah perjalanan singkat. Ditulis di pesawat dalam perjalanan pulang ke Jakarta)

Anies Rasyid Baswedan Ph.D
Rektor Universitas Paramadina


Riwayat Singkat Surin Pitsuwan

Surin Pitsuwan lahir di Nakhon Si Thammarat pada 28 October 1949, dan sejak lama menjadi politisi Thai yang disegani. Lulusan Thammasat University, Thailand, ini kemudian berhasil meraih cum laude dari Claremont McKenna College, California, dalam bidang political science pada 1972. Salah seorang fellow pada The Rockefeller Foundation ini meraih MA dari Harvard University dan melakukan riset pada the American University in Cairo sejak 1975 hingga 1977, sebelum ia kembali ke Harvard untuk menerima gelar Ph.D pada 1982.

Karir politiknya dimulai sejak ia duduk sebagai anggota DPR mewakili wilayah Nakhon Si Thammarat dan menjadi Sekretaris DPR pada 1986. Pada 1988 dia ditunjuk sebagai Sekretaris Menteri Dalam Negeri. Kemudian, sejak 1992 hingga 1995 Surin menjadi Wakil Menteri Luar Negeri, sebelum akhirnya ia menjadi Menlu Thailand pada 1997 hingga 2001.

Surin rajin menulis di dua surat kabar berbahasa Inggris di Bangkok sejak 1980 hingga 1992. Pada periode antara 1983 hingga 1984, Surin bekerja di Konggres AS sebagai Congressional Fellow, Congressional Fellowship Program, the Asia Foundation di American Political Science Association (APSA). Disamping itu, ia juga mengajar di Fakultas Hubungan Internasional di American University di Washington, D.C.


Surin Pitsuwan menjadi Chairman pada Forum Regional Association of South East Asian Nations (ASEAN) sejak 1999 hingga 2000. Pada pertemuan tahunan Menlu ASEAN ke-40 di Manila, Juli 2007, secara aklamasi Surin terpilih sebagai Sekjen ASEAN, dan pada 1 Januari 2008 Surin resmi menggantikan Ong Keng Yong dari Singapura.

Surin pernah dianggap sebagai kandidat utama menggantikan Sekjen PBB Kofi Annan, namun sehubungan dengan kondisi politik dalam negeri Thailand, pemerintah Thailand pada saat itu di bawah Thaksin Shinawatra menunjuk mantan Menlunya, Surakiat Sathianthai, untuk maju berkompetisi di PBB. Tapi Surakiat kalah oleh Ban Ki-moon. Banyak akademisi dan analis politik mengatakan, seandainya ketika itu Thailand mengajukan Surin, maka diduga kuat ia akan mengalahkan Ban Ki-moon sebagai pemimpin di PBB.

Catatan Syafiq Basri
https://syafiqb.com/2013/05/05/pondok-ban-tan-anies-baswedan/


Mantan Sekjen ASEAN Surin Pitsuwan Tutup Usia

Mantan Sekretaris Jenderal ASEAN, Surin Pitsuwan, meninggal dunia di usia 68 tahun akibat serangan jantung pada Kamis (30/11/17).

Sebagaimana diberitakan Bangkok Post, Surin terkena serangan jantung saat sedang bersiap berbicara di acara Thailand Halal Assembly 2017 Bangkok International Trade and Exhibition Centre.

Surin kemudian dilarikan ke Rumah Sakit Ramkhamhaeng, di mana dia kemudian dinyatakan meninggal dunia.

Semasa hidupnya, Surin dikenal dunia internasional sebagai Menteri Luar Negeri Thailand sebelum menjadi Sekjen ASEAN yang berdedikasi tinggi.

Lahir pada 28 Oktober 1949, Surin tumbuh menjadi seorang pelajar cemerlang hingga lulus dengan predikat cumlaude dari fakultas ilmu politik Claremont McKenna College, California.

Para pelayat mengusung keranda mantan menteri luar negeri dan sekretaris jenderal ASEAN Surin Pitsuwan dari rumahnya di distrik Muang ke Masjid Tha It di distrik Pak Kret di provinsi Nonthaburi, Thailand pada hari Jumat (1 Desember 2017) untuk pemakaman.
(Foto oleh: Bangkok Post-Tawatchai Kemgumnerd)

Dia lantas melanjutkan studinya di Harvard University, kampus bergengsi yang memberikannya gelar Ph.D pada 1982.

Surin mulai meniti karier politiknya ketika terpilih sebagai Anggota Parlemen yang mewakili Nakhon Si Thammarat sebelum didaulat menjadi Sekretaris Ketua Dewan Perwakilan pada 1986.

Sempat menduduki kursi Asisten Sekretaris Menteri Dalam Negeri Thailand, Surin kemudian ditunjuk menjadi Wamenlu sebelum dilantik sebagai Menlu pada 1997.

Selama menjadi Sekjen ASEAN pada 1999 - 2000, Surin memimpin asosiasi tersebut melalui sejumlah masa berat, seperti upaya membuka Myanmar hingga meningkatnya ketegangan di Laut China Selatan.

Di bawah komando Surin, ASEAN pun mulai menjadi pemain penting di dunia hubungan internasional. Sebuah editorial Jakarta Post bahkan menyebut Surin sebagai Sekjen ASEAN paling produktif sepanjang sejarah asosiasi tersebut.

Hanna Azarya Samosir,
CNN Indonesia, 30 November 2017
https://www.cnnindonesia.com/internasional/20171130163127-106-259278/mantan-sekjen-asean-surin-pitsuwan-tutup-usia


Tanggapan Anies di Facebook

Surin Pitsuwan meninggal dunia, begitu isi pesan singkat yang masuk kemarin sore. Kabar amat mengejutkan. Beberapa waktu kemudian muncul berita, Surin Pitsuwan wafat karena serangan jantung saat akan berbicara dalam Musyawarah Halal Thailand, di Bangkok. Benar-benar berita yang amat mengejutkan.

Usia kami berbeda 20 tahun, tapi persahabatan terasa sangat erat. Secara berkala kami berjumpa dan diskusi panjang setiap bersama-sama hadir di berbagai konperensi.

Saat Almarhum menjabat Sekjen ASEAN, Intensitas pertemuan jadi makin sering. Bahkan anaknya yang kuliah di Amerika dititipkan untuk magang di Kegiatan Indonesia Mengajar. Seselesainya sebagai Sekjen ASEAN di tahun 2013 dan kembali ke Bangkok, Surin menghibahkan mobilnya untuk kegiatan Indonesia Mengajar.

Jika saya ke Bangkok, maka saya temui beliau. Demikin pula sebaliknya, setiap beliau datang ke Jakarta beliau selalu berkabar. Perjumpaan kami terakhir di Jakarta bulan Mei yang lalu. Saat itu kami duduk ngobrol saling bertukar pikiran.


Ini semua mengingatkan saya saat mengunjungi beliau dan keluarganya di Pondok Ban Tan, di Nakhon Si Thammarat, sepulang dari sana saya menulis sebuah catatan tentang kisah perjalanan hidupnya.

https://indonesiana.tempo.co/…/dilepas-ke-orbit-dunia-kisah…

Kisah perjalanan hidupnya adalah inspirasi bagi anak-anak muda di Thailand dan bagi kita semua.

Dari Jakarta kita doakan semoga Almarhum dimuliakan, ditinggikan derajatnya di sisi Allah Swt dan diampuni semua salah dan dosanya. Al-Fatihah ....

Anies Baswedan
1 Desember 2017
https://www.facebook.com/aniesbaswedan/posts/surin-pitsuwan-meninggal-dunia-begitu-isi-pesan-singkat-yang-masuk-kemarin-sore-/1487225437981104/