Showing posts with label Uang. Show all posts
Showing posts with label Uang. Show all posts

Wednesday, July 18, 2012

Ada Apa dengan Angka 13 ?


Amatilah bendera Amerika Serikat, Stars and Stripes, kemudian hitunglah garis horisontal merah dan putih, strip merah berjumlah 7 dan strip putih berjumlah 6. Maka bila dijumlahkan: 7 + 6 sama dengan 13.

Menurut sumber resmi pemerintah Amerika Serikat, angka 13 ini melambangkan jumlah koloni Inggris di wilayah Amerika Serikat pada abad 18 yang lalu. Tepatnya pada tahun 1776, sebanyak 13 koloni Inggris mendeklarasikan negara Amerika Serikat. Kemudian angka 1776 ini diabadikan dengan angka Romawi MDCCLXXVI di lapisan paling bawah pada batu penyusun piramida uang 1 dollar.

Dan apabila rangkaian huruf yang menyusun angka Romawi MDCCLXXVI ini ditambahkan dengan jumlah huruf pada tulisan: NOVUS ORDO SECLORUM, hasilnya adalah 26. Bukankah 26 adalah 13 + 13 ?!


Bukan hanya itu saja! Karena angka 13 juga muncul dalam berbagai simbol, diantaranya:
•    13 bintang di atas kepala burung elang yang membentuk lambang bintang Daud.
•    13 garis vertikal merah dan putih pada perisai.
•    13 anak panah dalam cengkeraman kaki kiri burung elang.
•    13 daun dan 13 buah zaitun dalam cengkeraman kaki kanan burung elang.
•    13 huruf yang membentuk tulisan: E PLURIBUS UNUM.
•    Salah satu sisi bulu sayap ditambah bulu ekor berjumlah 26. Lagi-lagi, bukankah 26 adalah 13 + 13 ?!
•    13 huruf yang membentuk tulisan: ANNUIT COEPTIS.
•    13 lapis batu bata yang menyusun piramida.


Dalam sejarah, terdapat istilah “Friday the 13th”? Karena pada hari Jumat, tanggal 13 Oktober 1307,  telah terjadi peristiwa pembantaian Ksatria Templar oleh Paus Clement V dan Raja Philip IV dari Perancis, dengan alasan karena mereka dianggap aliran sesat yang menyimpang dari ajaran Kristen mainstream.

Angka 13 adalah The Sacred Numbers bagi upacara Kabbalah dalam ajaran Yahudi. Yakni angka keramat, angka yang disucikan, dan angka simbol pengorbanan. Angka 13 juga merupakan jumlah lingkaran, atau "node", yang membentuk Metatron Cube dalam ajaran Kabbalah.


Angka 13 ini juga sebagai simbol Nabi Musa dengan 12 suku-suku Bani Israel, Nabi Isa dengan 12 muridnya, dinasti Rotschild dengan 12 dinasti Yahudi lainnya yang menguasai dunia yang berkumpul di Bavaria pada tahun 1776. Tahun didirikannya organisasi rahasia Illuminaty dengan Adam Weishaupt yang terpilih sebagai Grandmaster pada saat itu. Harap dicatat, pada tahun 1776 pula dideklarasikan berdirinya Negara Amerika Serikat yang lepas dari koloni Inggris.

Dalam Yudaisme, anak laki-laki yang menginjak usia 13 tahun dianggap sudah dewasa dan menjadi “Mitzvah Bar”, yaitu anggota penuh dari iman Yahudi dan sudah memenuhi syarat untuk dihitung sebagai anggota “Minyan”.

Selanjutnya, menurut Moses Maimonides, seorang filosof Yahudi yang kenamaan dan sangat berpengaruh, ada 13 prinsip iman Yahudi yang menjadi pedoman dasar bagi para penganut Yudaisme. Selain itu, menurut tafsir para tokoh Yudaisme atau para Rabi Yahudi, dalam Kitab Taurat, Tuhan memiliki 13 atribut yang harus diimani.


Di masa kini, apabila kita jeli, selain yang terdapat di dalam mata uang ONE DOLLAR Amerika, simbol-simbol seperti itu bertebaran di sekitar kita.

Silahkan dicermati dan diteliti misalnya, lambang Departemen Keuangan Amerika Serikat (Department of the Treasury). Di sana ada 13 bintang yang membentuk piramida. Dan di dalamnya ada gambar kunci. Kunci apakah gerangan? Konon itulah Solomon Key, kunci menuju harta karun King of Solomon.

Bagi kita bangsa Indonesia, adakah arti dari semua ini? Saya nggak tahu. Termasuk dengan ungkapan “Celaka tiga belas!” Siapakah yang bakal “celaka”, dan kenapa harus 13 ???

(dari berbagai sumber)

Monday, December 14, 2009

"Teori Konspirasi" Century


Kasus Bank Century dengan cepat memasuki ranah politik, melalui upaya hak angket di legislatif. Bisa jadi hal ini terinspirasi oleh preseden-preseden sebelumnya. Kita pernah melewati masa-masa sulit saat pemerintah harus menginjeksi modal (rekapitalisasi) Rp 650 triliun kepada bank-bank yang kolaps saat krisis 1998.

Preseden skandal Bank Bali —tagihan Bank Bali hampir Rp 1 triliun di bank-bank yang sudah dilikuidasi ternyata dapat dicairkan, lalu dananya diduga digunakan untuk kepentingan politik— boleh jadi memberi inspirasi dalam kasus Century.

”Teori konspirasi” pun kini bergulir. Intinya, Century sengaja diselamatkan agar dana penyelamatan bisa sebagian dialokasikan untuk belanja politik. Century diselamatkan pada 21 November 2008 saat para politisi sedang menyiapkan pemilu legislatif April 2009 dan pemilu presiden Juli 2009. Dari sisi kronologis, teori konspirasi ini menjadi masuk akal.

Biarlah aparat yang menelusuri, apakah benar penyelamatan Century adalah sebuah skema konspirasi untuk menggunakan dana penyelamatan bank untuk kepentingan pemilu? Tulisan ini menelaah dari sisi ekonomi, apakah penyelamatan Bank Century dapat dipertanggungjawabkan?


Waktu tak berpihak
Hal pertama yang harus dipahami adalah situasi saat Century dirapatkan oleh Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Krisis Century terutama berangkat dari kejadian kalah kliring pertengahan November 2008.

Momentum ini hanya dua bulan sesudah kebangkrutan Lehman Brothers — bank investasi terbesar ketiga di Amerika Serikat— pada 15 September 2008. Kepanikan pun melanda Wall Street dan seluruh dunia. Indonesia juga terguncang, terutama para pemegang surat berharga di bursa efek. Harga saham di New York dan Jakarta rata-rata turun 50 persen. Mayoritas pelaku bursa menjual sahamnya dengan diskon besar karena takut di kemudian hari harganya lebih turun lagi.

Investor asing yang ada di Jakarta juga mengambil posisi jual saham-sahamnya. Dana hasil penjualan ditarik pulang ke negara asal. Kejadian ini bukan cuma terjadi di Jakarta. Praktis semua negara emerging markets mengalami penarikan dana global ke ”ibu kota” sektor finansial di New York atau London. Peristiwa ini disebut repatriasi modal.

Dampaknya, seketika rupiah melemah karena para investor asing menukar rupiah hasil penjualan sahamnya ke dollar AS. Jadi, jangan heran jika justru pada saat AS terkena krisis hebat, mata uangnya menguat. Kurs rupiah yang semula Rp 9.000 per dollar AS terjerumus ke Rp 12.000 per dollar AS. Cadangan devisa juga terkuras 7 miliar dollar AS, dari 58 miliar dollar AS ke 51 miliar dollar AS.


Dalam situasi kekeringan likuiditas, beberapa negara tetangga kompetitor kita, seperti Singapura, Malaysia, dan Australia, mengikuti jejak Hongkong yang menjamin 100 persen simpanan nasabah di bank (blanket guarantee). Ini dimaksudkan untuk mencegah kekeringan likuiditas atau agar tidak terjadi aliran modal ke luar negeri yang kian deras. Adapun Indonesia hanya menaikkan penjaminan dari Rp 100 juta menjadi Rp 2 miliar per rekening nasabah.

Situasi ini akan kian runyam jika Century ditutup. Bayangkan, di Century saja ada seorang nasabah yang memiliki dana Rp 2 triliun. Jika Century ditutup, nasabah ini hanya bisa menarik dananya maksimal Rp 2 miliar, atau cuma 1,0 persen dari simpanannya. Jika di Century saja ada nasabah dengan simpanan Rp 2 triliun, bagaimana dengan bank-bank besar? Saat itu, aset Century sekitar Rp 14 triliun, sedangkan 10 bank terbesar asetnya antara Rp 60 triliun hingga Rp 340 triliun. Sangat boleh jadi, di bank-bank besar itu juga tersimpan dana-dana besar. Jika mereka panik, akan terjadi pemindahan dana ke bank-bank asing atau ke luar negeri.

Jika itu terjadi, sistem finansial kita akan terancam. Inilah yang disebut bahaya sistemik, yang saya pikir lebih rawan daripada bahaya yang ditimbulkan akibat proses kliring antarbank, di mana Century memiliki kewajiban kepada pihak lain.

Konkretnya, jika Century ditutup, ongkos langsungnya mungkin hanya beberapa triliun rupiah, dipakai untuk mengembalikan dana nasabah yang rekeningnya di bawah Rp 2 miliar. Namun, sebenarnya masih ada ongkos tidak langsung, yakni kepanikan pemilik dana besar di bank-bank lain, terutama bank-bank besar yang bukan BUMN. Jika psikologis pasar tak dapat dikendalikan, penarikan dana akan melebihi Rp 6,7 triliun, bahkan bisa saja melebihi aset Century saat itu, Rp 14 triliun.


Biaya penyelamatan sistem
Mahalkah dana Rp 6,7 triliun untuk menyelamatkan Century? Tergantung dari mana melihatnya. Secara absolut, angka ini memang besar. Namun, jika membandingkan dengan penyelamatan sistem finansial, di mana aset perbankan Rp 2.300 triliun, dana pihak ketiga Rp 1.700 triliun, dan pemberian kredit Rp 1.400 triliun, dana Rp 6,7 triliun tidak mahal.

Yang menjadi masalah, ke mana dana sebesar itu dialokasikan? Secara teoretis, dana itu digunakan untuk membayar kewajiban dan menyuntik modal sehingga persyaratan permodalan minimal dipenuhi. Namun, kita juga tidak boleh naif. Bisa saja ada ”penumpang gelap” yang ikut bermain pada saat pencairan dana.

Lebih jauh, mengapa dana penyelamatan yang semula Rp 632 miliar membengkak menjadi Rp 6,7 triliun? Dalam teknis akuntansi, itu terjadi karena subsequent event. Artinya, pada saat diaudit dua pekan sebelumnya, biayanya cuma Rp 632 miliar. Namun, pada hari-hari berikut, seiring dengan pemburukan kualitas aset secara cepat, ongkos penyelamatan pun membengkak. Namun, sekali lagi, tetap dimungkinkan adanya pembonceng dalam kasus ini. Soal inilah yang harus dikuak.

Adapun dari sisi kebijakan penyelamatan Century, kiranya sudah benar. Memang ada kritik, KSSK kurang memiliki data kuantitatif terukur sehingga kebijakan yang dipilih banyak mengandung keputusan kualitatif. Dalam situasi krisis, data kuantitatif tidaklah cukup. Masih diperlukan data ekonomi makro (kurs rupiah, aliran modal ke luar negeri, cadangan devisa) yang perlu diolah. KSSK sudah terdiri dari orang-orang teruji dengan baik, secara akademis maupun pengalaman empiris yang panjang.

A Tony Prasetiantono, Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik UGM
KOMPAS, 2 Desember 2009


Catatan dan Komentar:
1 triliun = 1.000 miliar = 1.000.000.000.000 (satu dengan 0 berjumlah 12).
Dana untuk menginjeksi modal (rekapitalisasi) kepada bank-bank yang kolaps saat krisis 1998 Rp 650 triliun = Rp 650.000.000.000.000.
Aset Century saat itu sekitar Rp 14 triliun = Rp 14.000.000.000.000.
Aset 10 bank terbesar antara Rp 60 triliun (Rp 60.000.000.000.000) hingga Rp 340 triliun (Rp 340.000.000.000.000).

Aset perbankan Rp 2.300 triliun (Rp 2.300.000.000.000.000), dana pihak ketiga Rp 1.700 triliun (Rp 1.700.000.000.000.000), dan pemberian kredit Rp 1.400 triliun (Rp 1.400.000.000.000.000).
Dana penyelamatan yang membengkak dari rencana semula Rp 632 miliar (Rp 632.000.000.000) menjadi Rp 6,7 triliun (Rp 6.700.000.000.000), berarti naik sebanyak Rp 6.068 triliun (Rp 6.068.000.000.000), atau naik 10 kali lipat lebih.

Bila 1 tahun = 365 hari, kemudian kita membayangkan punya ATM Rp 6,7 triliun, maka kita bisa menarik dana Rp 18 juta setiap harinya terus-menerus selama 1.000 tahun. Bila kita anggap 1 generasi manusia itu rata-rata umurnya 80 tahun, berarti penarikan ATM itu bisa berlangsung paling tidak hingga 12 keturunan. Dan pada tutup buku di tahun ke-1000, kita masih punya sisa uang tabungan Rp 130 miliar (Rp 130.000.000.000).

Dalam tulisan di atas A Tony Prasetiantono bertanya:
Mahalkah dana Rp 6,7 triliun untuk menyelamatkan Century? Tergantung dari mana melihatnya. Secara absolut, angka ini memang besar. Namun, jika membandingkan dengan penyelamatan sistem finansial, di mana aset perbankan Rp 2.300 triliun, dana pihak ketiga Rp 1.700 triliun, dan pemberian kredit Rp 1.400 triliun, dana Rp 6,7 triliun tidak mahal.

Bagaimana menurut para pembaca sekalian? Rp 6,7 triliun itu sedikit atau banyak, murah atau mahal?

Friday, August 28, 2009

Pemerintah Keok Lagi, Tommy Kuasai Uang 36 Juta Euro


Tommy Soeharto kembali mengalahkan pemerintah Indonesia dalam persidangan di Pengadilan Kerajaan Inggris atau Court at Buckingham Palace. Pengadilan tersebut menolak permohonan dari pemerintah Indonesia untuk bisa mengintervensi kasus pencairan uang sebesar 36 juta euro atau Rp 500 miliar lebih milik Tommy.

"Pemerintah kalah. Tapi secara teori bisa mengajukan peninjauan kembali (PK)," kata Jaksa Pengacara Negara (JPN) Joseph Suardi Sabda saat dihubungi detikcom, Kamis (27/8/2009).

Putusan tersebut, dikeluarkan 10 Juni yang lalu. Namun hingga saat ini Joseph mengaku belum menerima salinan resmi putusannya. "Saya belum terima," akunya.

Meski mengaku bisa PK, namun Joseph belum memastikan apakah langkah tersebut yang akan diambil. "Terserah Jaksa Agung. Saya kan hanya pelaku lapangan," tuturnya.


Kasus ini melibatkan Banque National de Paris (BNP) Paribas. Pemerintah Indonesia meminta agar uang 36 juta euro milik Garnet Investment, perusahaan milik Tommy, yang disimpan di BNP dibekukan karena diduga merupakan hasil korupsi.

Permintaan Pemerintah Indonesia itu dikabulkan oleh pengadilan tingkat pertama di Inggris. Namun di tingkat banding pembekuan tersebut dicabut pada Januari 2009.

Selanjutnya pada tingkat kasasi di Pengadilan Kerajaan Inggris Tommy kembali menang. Itu artinya, pemerintah harus gigit jari karena tidak berhasil membekukan uang Tommy.

detikcom, 27 Agustus 2009

Monday, March 30, 2009

Berakhirnya Ekonomi (The End Of Economics)


Salah satu instrumen yang digunakan dalam sistem perdagangan internasional adalah menggunakan instrumen mata uang dollar AS. Setelah krisis ekonomi global terjadi usai Perang Dunia II, melalui pertemuan Bretton Woods dirancanglah sebuah sistem mata uang dollar sebagai mata uang utama dalam perdagangan dunia, sekaligus menjadikan World Bank, International Monetary Fund (IMF) sebagai pengendali sistem keuangan internasional.

Namun perjanjian Bretton Woods pada tahun 1973 kemudian dihapuskan ketika Amerika Serikat secara unilateral memutuskan bahwa Dollar Amerika tidak perlu lagi didukung oleh emas. Sejak itulah Dollar Amerika tidak bedanya dengan lembaran kertas saja.

Dengan mata uang dollar AS, Amerika Serikat memegang kekuasaan luar biasa yang sangat tidak proporsional. Dengan kertas yang disebut Dollar AS, mereka bisa membeli berbagai komoditi seperti minyak, gas, aluminium, emas, dll. dari negara-negara lain di dunia. Jika mereka perlu lebih banyak komoditi, mereka tinggal mencetak saja lagi. Jadi sistem semacam ini amatlah tidak adil dan tak bermoral.

Hal ini telah mengeksploitasi model perdagangan dengan sistem pembagian kerja internasional. Surplus ekonomi bagi sekutu-sekutu Amerika terus terjadi, yang berdampak pada ketidakseimbangan perdagangan global. Negara-negara miskin tidak mampu melakukan ekspor tanpa didukung impor sehingga negara-negara miskin mengalami ”a vicious circle of import”.

Akibatnya negara-negara miskin memiliki tingkat ketergantungan yang begitu kuat terhadap negara-negara maju. Sistem keuangan internasional yang dirancang pasca Perang Dunia II dalam Bretton Woods telah melahirkan ketidakadilan neraca keuangan global. Defisit terus menimpa negara-negara miskin dan surplus keuangan terus ditarik ke negara-negara maju.

Dunia kini dibanjiri terlalu banyak dollar. Dalam pasar-pasar uang saja terdapat gelembung dollar AS yang berjumlah 80 triliun dollar AS pertahun. Jumlah ini 20 kali lipat melebihi nilai perdagangan dunia yang jumlahnya sekitar 4 triliun dollar AS pertahun. Artinya, gelembung itu bisa membeli segala yang diperdagangkan sebanyak 20 kali lipat dari kenyataan yang ada.

Gelembung ini tentu akan terus membesar dan membesar. Anda tidak perlu terlalu bijak untuk memahami bahwa gelembung itu suatu saat akan meledak dan pecah, dan terjadilah keruntuhan ekonomi global yang niscaya lebih buruk daripada depresi ekonomi tahun 1929.

Sebagai perbandingan yang kontras, emas adalah logam yang berharga. Nilainya tidak bergantung pada negara mana pun, bahkan tidak bergantung pada sistem ekonomi mana pun. Nilainya adalah intrinsik dan dapat dipercaya. Oleh karena itu, emas adalah mata uang yang dapat menjamin kestabilan ekonomi dunia.

Sistem keuangan global sudah berkembang melebihi batas. Dengan perdagangan ”kertas berharga yang turunan sekunder” (secondary derivatives papers), sistem keuangan dunia menjadi tidak ”favorable” kepada sektor riil karena ”money makes money” lebh tinggi hasilnya.

Maka, kalau anda punya uang niscaya anda akan lebih tertarik untuk memainkannya di bisnis keuangan ketimbang membangun bisnis di sektor riil. Padahal sejatinya, perdagangan kertas berharga tersebut adalah barang maya, hanya ilusi, tidak nyata, karena tidak terkait dengan bisnis riil. Ini yang menyebabkan terjadinya gelembung ekonomi dunia.

Apa akibatnya? Sektor riil lambat bergerak, kecuali di China yang menganut paham berbeda, tidak berdasar ”supply and demand”. China tetap memproduksi walau tidak ada permintaan. Alasanya adalah stabilitas keamanan sehingga tidak ada penduduk China yang menganggur, semua bekerja, memproduksi apa saja, mulai dari peniti sampai komponen pesawat terbang. Manajemen 1 miliar penduduk yang ternyata membawa China kepada kekuatan ketiga di era kini.

Sejarahnya, emas dan perak adalah mata uang dunia paling stabil yang pernah dikenal. Sejak masa awal Islam hingga hari ini, nilai mata uang Islam dwilogam itu secara mengejutkan tetap stabil dalam hubungannya dengan barang-barang konsumsi. Misalnya seekor ayam pada zaman Nabi Muhammad saw. harganya satu dirham, hari ini -1400 tahun kemudian- pun harganya kurang lebih masih satu dirham. Dengan demikian, selama 1400 tahun, inflasi adalah nol persen.

Dalam jangka panjang, mata uang dwilogam telah terbukti menjadi mata uang dunia paling stabil yang pernah dikenal. Mata uang tersebut telah dapat bertahan, meskipun terdapat berbagai upaya untuk mentransformasi dinar dan dirham menjadi mata uang simbolik dengan cara menetapkan suatu nilai nominal yang berbeda dengan beratnya.

Kita harus kembali kepada sistem perekonomian berbasis komoditi riil, dimana dinar dan dirham hanyalah salah satu komponen penting. Ada “5 pilar sistem ekonomi berbasis emas” yang akan menjadi solusi masa depan dunia yang tidak terelakkan. Pertama, “Money (Freely Chosen)” yaitu mata uang harusnya bebas ditentukan oleh masyarakt penggunanya. Kedua, “Open Markets Infrastructure” yaitu infrastuktur pasar terbuka dimana setiap orang mempunyai hak, seperti mesjid. Ketiga, “Caravans – Open Distribution and Logistic Infrastructure” yaitu jaringan logistik dan distribusi yang terbuka bagi siapa saja. Keempat adalah “Guilds – Open Production Infrastructure” yaitu sentra-sentra produksi kerakyatan harusnya mendapat perhatian dari pemerintah untuk menjadi tempat yang layak untuk berproduksi sebagaimana standard global yang berlaku. Kelima adalah “Just Contractual Legal Frameworks (Syirkah dan Qirad). Kelima infrastruktur tersebut haruslah dimiliki oleh publik.

Teknologi informasi merupakan sarana yang dapat mengkudeta fungsi perbankan atau istilahnya ”coup de banque”. Anda bisa bayangkan, sebenarnya fungsi perbankan itu amat sederhana, hanya mengadministrasi pencatatan plus dan minus saja dengan sedikit variasi perhitungan, namun mengapa akhirnya justeru menjadi raja yang mengatur dan menentukan sektor-sektor lain. Pasti ada yang salah kan?

Jaman Nabi dulu, para pedagang lah yang berada di gedung mewah, sementara rentenir itu yang berada di jalanan. Sekarang yang kita lihat terbalik. Para bankir duduk-duduk di gedung mewah, sementara para pedagang kaki lima berceceran di sepanjang jalan, malah kena gusur tramtib-tibum segala.

Maka, jangan salahkan orang lain kalau Indonesia masih miskin, karena sampai kini memang belum mau mengikuti ajaran-Nya. Terutama dalam bidang muamalah ekonomi seperti yang pernah dicontohkan Nabi 1400 tahun yang lalu. Padahal Indonesia adalah negara dengan mayoritas muslim terbesar di dunia yang penduduknya percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Liem Siok Lan alias Justiani, Alumni Teknik Informatika ITB Angkatan 1981

Tuesday, March 3, 2009

Antara Rupiah dan Dolar


Bagi kita orang Indonesia, tidak ada kebanggaan sama sekali bila di saku kita hanya ada uang Rp 1000 (seribu rupiah). Kenapa? Karena uang ‘segitu’ hanya cukup untuk bayar toilet atau parkir sepeda motor.

Akan tetapi bila simbol Rupiah (Rp) tersebut kita ganti dengan Dollar AS ($) dengan kurs valuta per $ 1 = Rp 12.000, maka $ 1.000 (seribu dollar) di saku kita akan ‘simsalabim’ menjadi setara dengan Rp 12.000.000 (dua belas juta rupiah).

Dengan uang Rp 12.000.000 (dua belas juta rupiah) ini maka bagi kita orang Indonesia sama dengan punya kemampuan untuk menghidupi seorang buruh pabrik selama setahun dengan gaji rata-rata Rp 1.000.000 (satu juta rupiah) per bulan.

Huebaaat bukan !!!???