Tuesday, May 5, 2009

Wawancara dengan WS Rendra: “Merekalah Harapan Bangsa ini”


Willibrodus Surendra Broto Rendra atau dikenal dengan WS Rendra menyebut pemerintah saat ini belum mempunyai program yang jelas dalam membawa agenda perubahan. Menurutnya kita sudah terlalu lama dikuasai oleh ide-ide asing termasuk bagaimana cara pembangunannya, metode pembangunan masih meniru gaya kolonial. Sementara tidak ada upaya sedikit pun untuk membebaskan diri dari imperialisme asing, baik dalam bidang ekonomi, hukum maupun ketatanegaraan.

Sebagai seorang budayawan, Rendra melihat bahwa telah lahir sosok-sosok muda dengan ide dan gerakan pembaruan yang dicanangkannya bakal mampu memerdekakan keadaan negara ini dari imperialisme asing. Siapakah mereka itu? Simak bincang-bincang soetrisnobachir.com dengan Si Burung Merak itu di Jalan Citayam Raya, Jembatan Serong, Kelurahan Cipayung, Kecamatan Pancoran Mas, Depok pada Rabu (29/04/2009).

Pembangunan belum mampu mengangkat dari ketertinggalan, sebenarnya pembangunan masyarakat itu harus mulai dari mana?

Terakhir pemilu (legislatif) telah dilakukan, pertama, menurut saya perlu sekali untuk menyederhanakan sistem kepartaian kita, partai-partai terlalu banyak tapi tidak banyak memberikan alternatif buat rakyat, lihat saja sewaktu kampanye janji-janji hanya itu-itu saja. Memberantas korupsi, mencerdaskan kehidupan bangsa dan lain-lain, tapi programnya seperti apa?

Saya sendiri akhir-akhir ini menghindari nonton televisi dan membaca koran, sudah sebulan ini saya tak baca koran karena menurut saya ulah para politisi itu sangat naif. Semua hanya tontonan kebodohan saja, pasang potret sepanjang jalan, pawai-pawai, semua tidak mencerminkan isu politik, agendanya apa, program-program yang akan dilaksanakan apa. Semua itu tidak akan memberikan pembelajaran pada masyarakat.

Jadi apa yang salah selama ini?

Kita sudah terlalu lama dikuasai oleh ide-ide asing termasuk bagaimana cara pembangunannya, metode pembangunan masih meniru gaya kolonial Belanda yang tidak pernah membangun ekonomi dengan menghidupkan modal dalam negeri sendiri. Infrastruktur juga tidak dibangun, industri hulu pun tidak dibangun, jadi dengan kondisi yang seperti itu sebenarnya apa yang mau dibangun dari negeri ini? Kalau pemerintah dalam kampanyenya hanya mendengungkan untuk lanjutkan, apa yang mau dilanjutkan? Sementara tidak ada upaya sedikitpun untuk membebaskan diri dari imperialisme asing, baik dalam bidang ekonomi, hukum maupun ketatanegaraan.

Dalam ketatanegaraan misalnya, pegawai birokrasi negara masih menjadi pegawai pemerintah atau seperti abdi dalem pada masa Majapahit. Artinya mereka hanya melayani pemerintah, (padahal) seharusnya menjadi abdi rakyat dong? Demikian juga kita lihat polisi masih menjadi abdi hukum atau pemerintah, seharusnya kan abdi rakyat, (sehingga) kalau aparat melanggar ya harus diusut.

Dari segi hukum, apa sebenarnya yang sedang kita bela? Tata hukum kita sekarang ini masih mewarisi penjajah, misal tata hukum pelabuhan. Kenapa pelabuhan dipimpin perusahaan tidak syahbandar? Sehingga tidak berfungsi sebagaimana mestinya, sehingga di dunia internasional pelabuhan kita hanya diakui sebagai terminal saja. Apakah kita bodoh? Menurut kita hanya membodohkan diri dan hanya meninabobokkan diri sendiri dan tidak mau melakukan perubahan.

Jadi apa yang harus dibenahi oleh bangsa ini?

Merdekakan dulu keadaan negara ini dari imperialisme asing, untuk bisa memperbaiki bangsa ini, ekonomi harus diubah. Kita harus bisa menolak program-program imperialisme, termasuk memerdekakan hukum dan tata negara. Semuanya saya kira bisa saja, tinggal ada kemauan politik atau tidak. Dan harus bersabar karena perjuangan harus siap menderita, masing-masing jangan cari enaknya saja.

Bagaimana dengan ide Anda yang pernah mengatakan bahwa memperbaiki bangsa ini dengan mengembangkan kearifan budaya lokal?

Saya sudah menyampaikan itu sejak lama, baik di seminar-seminar, kuliah-kuliah, tapi tidak pernah dipikirkan oleh pemerintah, hanya dekat-dekat pemilu ini saya kira ada tiga partai yang menyuarakan agenda seperti itu, yakni Wiranto dengan 7 pilar ekonominya, Prabowo dengan membela petaninya, dan satu lagi Soetrisno Bachir yang membela pembangunan desa. Jadi yang mempunyai agenda yang berpikiran merdeka, berani melawan dominasi imperialisme asing hanya Gerindra, Hanura dan PAN. Tapi masalahnya mereka harus melewati rintangan di partai masing-masing, apakah keadaan di partai mereka utuh mendukung upaya program-program itu?

Hanura apakah cukup memiliki orang-orang yang utuh mendukung upaya itu sehingga agenda tersebut tidak hanya lips service semata. Lalu apakah wakil-wakil di daerah juga mumpuni dan menang dengan baik, lalu apakah mereka juga disukai rakyat? Terus Prabowo, apakah benar masih utuh dalam partainya, apakah yakin tidak ada elemen yang masih pro dengan imperialisme asing? Soetrisno Bachir apakah dia bisa mengatasi keadaan dalam partainya atau tidak?

Kenapa harus dengan membangun desa?

Unit terkecil dari negara ini adalah desa, banyak orang yang pesimistis. Soetrisno Bachir telah tepat mengatakan untuk membangun desa, karena sejak kita merdeka belum ada keinginan semacam itu, jangan kita permasalahkan anggarannya dari mana? Saya kira banyak sekali sumbernya. Sebenarnya bisa saja, tinggal ada kemauan politik apa tidak, justru masalahnya bukan mungkin apa tidak? Tapi lebih penting untuk apa? Soetrisno Bachir harus mempunyai konsep yang jelas dengan agendanya itu.

Lantas apakah dengan dana 1 Milyar per desa per tahun itu akan langsung memerdekakan?

Oh tidak, India juga perlu mengalami beberapa tahun sampai akhirnya bisa merdeka. Sekarang Vietnam yang sudah mulai, saya kira ayo kalau kita mau mulai, pajak mall-mall harus diatur betul, harus dinaikkan, parkir mall dinaikkan 3x lipat, dll.
Masalahnya kembali untuk apa dulu? Misal jalan antar desa harus dibangun, sebelum membangun desa, harus membangun jalannya terlebih dahulu, jalan antar kota, antar desa, pelabuhan-pelabuhan kecil harus dibangun supaya lancar hubungan antar pulau. Perbankan juga harus dikerahkan agar lebih dekat ke desa-desa.

Lalu siapa yang kira-kira bisa melakukan perubahan itu?

Kita harus merebut kemerdekaan itu lagi. Kita bisa tapi tidak bisa jika (diserahkan) orang tua, harus orang-orang yang muda, kalau yang tua sangat lambat karena kita harus mulai dengan mengencangkan ikat pinggang.


Apakah ketiga tokoh yang Rendra sebutkan tadi?

Yang bisa merubah itu harus yang muda, kalau berani dan mempunyai aparat kepartaian yang bener, ini zamannya Prabowo dan Soetrisno Bachir. Wiranto saya agak meragukan karena faktor usia dan orang-orang di sekitarnya kan banyak orang yang dulu-dulu saja.

Jadi kebetulan kedua tokoh tadi telah menelorkan suatu gerakan perubahan di saat usia mereka masih muda, saya kira ini luar biasa, mereka berani berpikir untuk merdeka, sementara mereka tidak perlu korupsi, karena sudah banyak duit, ha...ha...ha…. Jadi harapan bangsa ini bergantung pada dua orang ini, mereka harus sadar itu.

Jadi berani tidak mereka menjadi harapan bangsa, mereka harus rela mengabdikan dirinya untuk kepentingan bangsa bukan hanya diri dan partainya. Pemilu telah melahirkan dua orang yang sanggup membawa perubahan, dan kebetulan keduanya muda dan punya duit. Tapi semuanya juga tergantung perkembangan politik yang berlangsung. Tapi saya tidak memperkirakan segi politik, ini hanya harapan saya, harapan budaya.

Apakah akan diterima masyarakat?

Jangan peduli itu, pejuang tidak boleh memikirkan itu, justru ciptakan kepercayaan masyarakat, ciptakan kesempatan itu. Yang penting dari kedua orang ini adalah memperkuat partainya lalu ke masyarakat, saya bukan tokoh yang punya kekhawatiran melihat tokoh seperti itu. Mulailah dengan perjuangan sosiologi dan budaya untuk mem-push diri kalaupun kalah tetaplah konsisten dengan perjuangan itu, lalu harus diperbaharui dengan cara-cara baru, mungkin public relation-nya yang kurang bagus.

Rintangannya apa?

Latar belakang mereka susah, Prabowo karena latar belakang tentara, terus terkait cendana. Soetrisno Bachir sendiri masih harus banyak membuktikan latar belakangnya seperti apa. Untuk Soetrisno paling aman menurut saya harus tetap memperhatikan posisinya di Ketua Umum PAN, daripada jabatan publik yang lain. Tapi kalau anak muda sepertinya sudah diberi kesempatan untuk berani berjuang ya kenapa tidak?! Saatnya sekarang, untuk Prabowo, bisa nggak merubah citra negatif yang melekat pada dia dan kelompoknya. Dia harus bisa menciptakan citra baru pada partainya.

Itu adalah kenyataan, sebagai pemimpin antara lain SB harus mengungkapkan programnya secara jelas dan konsentrasi betul dengan komitmennya memperjuangkan pembangunan desa. Dan partainya harus mendukung konsepnya itu, kalau misalnya pemilu ini tidak terpilih dia harus tetap konsisten dengan perjuangan itu. Menang atau kalah harus tetap memberi contoh konkret bagaimana mengembangkan pembangunan desa. Saya kira waktu 5 tahun ke depan cukup untuk membuktikan semuanya itu.

www.soetrisnobachir.com

No comments: