Showing posts with label Rocky Gerung. Show all posts
Showing posts with label Rocky Gerung. Show all posts

Friday, February 22, 2019

Mendengar Denny dan Rizal, Mengerti Rocky Gerung

Rizal Mallarangeng dan Denny JA.

Mari kita lihat apa yang terjadi dengan tiga sosok ini. Siapa yang berubah?

Jagat intelektual politik beberapa hari ini diisi oleh kritikan dua orang doktor (Ph D) ilmu politik dari Ohio States University USA, yaitu Denny JA dan Rizal Mallarangeng. Mereka berdua pada dasarnya menyerang sikap dan tingkah laku politik Rocky Gerung yang sangat agresif menyerang Presiden dan juga Calon Presiden Joko Widodo.

Rocky menggunakan idiom “Akal Sehat” untuk seluruh narasi dan pernyataan negatifnya terhadap Jokowi. Sedangkan terhadap para pendukung Jokowi, Rocky menggunakan ungkapan yang tidak kalah galaknya: “Para Kecebong dengan IQ 200 sekolam”. IQ 200 itu tinggi dan super tetapi jadi bermasalah dan berpotensi menghina jika dia dibagi kepada kecebong sekolam !!!

Rizal Mallarangeng, Denny JA dan Rocky Gerung.

Kedua mantan aktifis mahasiswa tahun 1980-an ini kemudian mengulas panjang lebar arti dan makna dari “Akal Sehat”. Kamus dan Dictionary dibuka, ditelaah dan dikupas. Denny JA sampai pada sebuah kesimpulan: Rocky Gerung sudah tidak imbang dalam narasinya. Dia menggunakan idiom “Akal Sehat” hanya untuk menyerang Jokowi tetapi tidak pernah sekali pun dia menyerang Prabowo.

Di tangan Rocky Gerung, akal sehat sudah dimiskinkan, didangkalkan bahkan disalahgunakan untuk mengkritik Jokowi saja, dan tidak untuk Prabowo,” demikian ‘grendengan’ Pemimpin Tertinggi Lembaga Survey LSI Denny JA itu.

Segendang dan sepenarian, hal itu diungkapkan juga oleh Rizal Mallarangeng. Dia meminta Rocky bertindak lebih ‘fair’ dan berimbang untuk juga mengkritik Prabowo. Mereka tidak habis mengerti kenapa Rocky menolak mengkritik Prabowo. Padahal Prabowo adalah Capres yang menawarkan visi dan misi, yang tentu saja bisa dikritik dan dibedah dengan pisau intelektual dan tentu saja dengan “Akal Sehat”.

Denny Januar Ali, alias Denny JA.

Pertemanan
Saya mengenal Denny JA sejak lama, sekitar pertengahan tahun 1980-an. Dia seorang intelektual mahasiswa yang cukup punya nama. Dia adalah mahasiswa Fakultas Hukum UI, yang aktif di Kelompok Studi Mahasiswa, yang merupakan wadah cair dan tidak mengikat bagi mahasiswa kritis yang mencoba melawan rezim Orde Baru dari ‘bawah tanah’ setelah lembaga resmi Dewan Mahasiwa diberangus oleh Soeharto dan antek-anteknya.

Dengan beberapa mahasiwa yang kritis, dia aktif di Kelompok Studi Proklamasi (KSP) di bawah bimbingan Djohan Effendi, sebelum jadi Menteri Sekneg pada masa Presiden Gus Dur. Dari sanalah Denny memulai kiprahnya dalam kancah intelektual nasional.

Sedangkan dengan Rizal Mallarangeng saya tidak kenal. Tetapi, namanya cukup tenar sebagai aktivis mahasiswa dari Universitas Gajahmada, Yogyakarta. Saya cukup sering membaca tulisannya di media massa. Hanya sebatas itu persinggungan saya dengan dia.

Andi Rizal Mallarangeng, alias Rizal Mallarangeng.

Dengan Rocky saya kenal lebih awal. Kami sama-sama tercatat sebagai mahasiswa Jurusan Ilmu Politik UI. Dia masuk tahun 1979 sedangkan saya tahun 1981. Pernah tiga atau empat kali mengambil mata kuliah yang sama. Kami pernah saling uji pikiran dalam mengajukan dan membandingkan makalah di depan kelas. Dalam hal diskusi dan menyampaikan pikiran itu, harus saya akui, dia jagonya. Dia sangat pandai mencari gaya bahasa dan diksi yang tepat, efektif dan memukau serta menguasai ruang pikir kita. Untuk hal satu ini, Rocky sukar dicari tandingannya.

Karena itu, saya merasa tidak asing dengan perkembangan pemikiran Rocky Gerung sejak dia mulai bertumbuh di FIS UI, kemudian mekar di Jurusan Filsafat UI dan mencapai puncaknya ketika dia aktif di Forum Kelompok Sosialis yang berkawan akrab dengan Marsillam Simanjuntak, Rahman Tolleng, dan Sjahrir.

Note: Forum Kelompok Sosialis itu hanya penamaan dari saya saja. Saya tidak tahu persis mereka berwujud di mana dan apa saja, bisa di SOMAL (Sekretariat Bersama Organisasi Mahasiswa Lokal), IMADA (Ikatan Mahasiswa Djakarta), Forum Mahasiwa Independen (Formasi) atau di Forum Demokrasi (Fordem), sebuah forum yang dibentuk untuk mendukung Gus Dur pada masa Orde Baru ketika dia mengambil posisi melawan Orde Baru secara lebih lembut dan tidak frontal.

Rocky Gerung.

Kecenderungan Ideologis
Apakah yang membedakan Denny-Rizal di satu sisi dengan Rocky di sisi yang lain dalam narasi dan tingkah laku politik mereka? Dalam pandangan saya, Rocky relatif lebih patuh dan konsisten dengan ideologi yang dia anut. Mungkin berlebihan kalau saya katakan, dia merupakan seorang ideolog kaum kiri yang tumbuh dan berkembang di Jakarta dan sekitarnya. Dia fasih menjelaskan di dalam ceramahnya tentang hubungan antara sosialisme dan demokrasi. Sebuah Jargon Besar orang-orang kiri adalah: Kekuasaan itu harus diawasi dan dikritisi. Sebab, kalau tidak, dia akan jadi banal dan menindas.

Di sinilah kita bisa mengerti, mengapa dia menolak untuk mengritisi Prabowo. Sebagai Capres, Prabowo belum menjadi Rezim. Tidak appeal to appeal mengkritik Jokowi pada saat yang sama mengkritik Prabowo. Saya hadir ketika dia memberikan pendapat di depan Prabowo di Taman Mini itu.

Prabowo baru mengajukan cita-cita, visi dan misi. Sedangkan Jokowi sudah memerintah selama empat tahun. Karena itu tidak adil kalau saya mengkritik Prabowo sekarang. Saya baru akan kritik Prabowo 12 menit setelah dilantik jadi Presiden,” demikian kata Rocky.


Lalu apakah ideologi Denny dan Rizal? (Noted: saya tidak perlu menjelaskan lagi apa itu ideologi, sebab Denny dan Rizal sudah pasti lebih tahu dari saya) Maaf, saya tidak tahu secara persis tetapi saya bisa mendeskripsikan dari tingkah laku politik mereka. Mungkin ketika mahasiwa, mereka lebih condong kepada sosialisme karena tidak menyukai kemapanan dan establisme Orde Baru. Mereka lebih ke kiri sedikit. Tetapi, setelah mereka menjadi mapan, ideologi mereka berubah ke kanan.

Saya bisa menyebutkan betapa Rocky Gerung hampir tidak pernah berubah dalam sikap dan perilaku sehari-hari. Sewaktu kuliah, hampir tidak pernah saya lihat dia pakai kemeja. Dia selalu memakai kaos bekerah. Sebagian besar kaosnya itu berwarna putih. Sejak muda dia memang berkacamata. Hampir setiap saat jika kacamatanya kotor, dia mengelapnya dengan ujung kaosnya. Tidak pernah dia memakai lap khusus kacamata. Begitu humble-nya dia.

Sekarang, saya lihat, dia tetap relatif hampir tidak berubah. Dia tetap memakai jeans seperti waktu mahasiswa. Walau kini sering terlihat memakai kemeja, tetapi kaos berkerah belum bisa lepas sepenuhnya dari dirinya. Ketika hadir dalam acara Prabowo di Taman Mini bulan lalu itu, dia tetap memakai kaos berkerah, celana jeans dan sepatu kets. Pikiran sosialisnya diterapkannya tanpa sadar dalam cara dia berpakaian.


Kondisi ini berlainan dengan Denny dan Rizal. Denny pernah menyatakan sewaktu mahasiswa dia adalah orang miskin dari Palembang yang harus bertahan hidup di tengah egoisme dan sikap cuek Jakarta. Karena itu, ketika dia punya kesempatan untuk berubah maka dia mengubah segalanya dalam hidupnya, baik orientasi maupun sikap politik. Sekarang dia adalah seorang surveyor dan konsultan politik yang terkenal. Ratusan bahkan ribuan [sic!] calon kepala daerah sudah dia bantu menjadi kepala daerah dengan survey yang dibuatnya dan konsultansi yang diberikannya. Ini tentunya memberikan finansial yang sangat besar baginya, serta dengan sendirinya mempengaruhi mobilitas sosial dan ekonominya.

Saya tidak tahu apakah Rizal juga mengalami masa melarat seperti Denny saat dia berangkat dari Makassar ke Yogya. Tetapi, dengan aktif di Kelompok Studi Mahasiswa di kampusnya (UGM), memberikan petunjuk bahwa semasa mahasiswa dia kurang suka kepada kemapanan. Sikapnya itu berubah setelah kembali dari Ohio dan menjadi orang yang sangat dekat dengan Aburizal Bakrie, pengusaha besar dan ketua umum DPP Golkar 2010-2015. Dia juga sangat dekat dengan SBY, Presiden 2004-2014, walaupun kemudian kasus Andi Mallarangeng, kakaknya, membuat hubungannya dengan SBY merenggang.

Dari Ramadhan Pohan, teman Denny juga, saya pernah dapat info bahwa sampai sekarang Rocky tetap naik busway kalau mau pergi ke suatu tempat. Kegiatan itu baru dikuranginya setelah dia menjadi terkenal di mana begitu banyak orang meminta dan menyiksa dia dengan selfie.

Sementara itu, saya tidak tahu apakah Denny dan Rizal masih suka naik busway, seperti ketika mahasiswa, setelah mereka sukses mengoleksi banyak mobil Mercy dan BMW?


Tulisan pendek saya ini hanya untuk mencoba mengerti mengapa Denny dan Rizal ‘kesal’ terhadap Rocky dan meminta agar, sebagai pengamat, Rocky netral dalam bersikap. Tidak hanya mengecam Jokowi tetapi tidak bersuara bila terhadap Prabowo.

Wajar mereka bersikap seperti itu. Sekarang Rizal adalah Ketua DPD I Partai Golkar Jakarta yang jelas-jelas mendukung Jokowi. Sedangkan Denny JA bersikap sangat Jokowers dengan sejumlah meme dan tulisannya. Apakah dia dan LSI-nya mendapat order dari Jokowi? Saya tidak tahu. Tetapi, hampir tidak terlihat Denny memberikan kritik kepada Jokowi. Apakah orang tidak menilai Denny JA sama saja dengan Rocky tetapi dengan objek yang berbeda?

Tentu saja, tulisan ini tidak berpretensi memvonis siapa yang benar dan siapa yang salah dalam mengambil sikap dan tingkah laku politik mereka. Apakah Denny dan Rizal benar dan Rocky salah? Semua ada latar belakang dan semua ada sebab musababnya. Terpulang kepada pembaca untuk memberikan penilaian.

Ramadhani Aksyah,
Jurnalis Senior
REPUBLIKA, 17 Februari 2019

Friday, January 25, 2019

Beda Politikus dan Negarawan


Selama enam tahun lebih berada di dunia maya tidak lelahnya saya meminta orang untuk fokus kepada “messages, not messenger”. Saya ingin percakapan di media sosial menjadi percakapan yang mencerahkan. Harapannya, orang akan saling bertukar perspektif. Jurang perbedaan dijembatani, orang saling kenal, orang saling belajar, satu dengan lainnya.

Sebaliknya kalau anda fokus membahas “messenger”, “orang”, atau “pribadi pembawa pesan”, maka yang terjadi adalah saling hina-menghina. Bullying. Akibatnya, perbedaan menjauh, permusuhan menjenuh.

Salah satu contoh yang populer dari perilaku bullying ini terjadi dalam kasus penistaan oleh Ahok. Kaum muslimin mengangkat persoalan itu ke dalam wacana, membahas topiknya mulai dari sisi diksi, etimologi, sosial dan agama. Pembahasan itu dilakukan di media sosial maupun di dalam lembaga peradilan dengan melibatkan saksi-saksi sangat terpelajar. Ketika elaborasi tersebut berakhir dengan Ahok dinyatakan bersalah, kubu Ahoker dan Jokower justru meledak.

Setelah putusan pengadilan itu, bukannya berefleksi mereka malah melancarkan tuduhan bahwa ada “perang agama”, “perang rasial”, “perang melawan intoleransi”.


Perilaku bullying kemudian merajalela. Konsekuensi perilaku itu adalah membuncahnya sikap diskriminatif. Dimulai dari pembentukan “kami” dan “mereka”. Selanjutnya diskriminasi itu mereka beri justifikasi moral: “kami benar” dan “mereka salah”, “kami Pancasila” dan “mereka anti-Pancasila”, “kami toleran” dan “mereka intoleran”.

Kemudian terjadi kontradiksi. Pihak yang melakukan diskriminasi malah menyatakan bahwa mereka adalah pihak yang toleran. Mereka mengejar-ngejar pihak emak-emak yang mau deklarasi. Polisi dikerahkan dimana-mana untuk menjaring orang-orang dengan tuduhan yang tidak terbukti, dan memudahkan orang-orang mempersekusi para ulama dan para tokoh yang beroposisi kepada petahana.

Adanya kontradiksi tersebut menunjukkan bahwa pembedaan-pembedaan yang dibikin bersifat artifisial. Pembedaan itu dibikin untuk tujuan politik, sehingga argumentasinya dangkal. Tidak bisa menjadi argumen hukum dan jauh dari argumentasi yang bersifat akademis dan filosofis.

Konsekuensi dari pikiran-pikiran dangkal adalah munculnya kontradiksi-kontradiksi baru. Sebagai contoh, “suara azan” dianggap sebagai bentuk intoleransi. Padahal “suara azan” sudah hadir jauh sebelum tamu “anti-azan” datang. Kontradiksi muncul pada problem siapa yang harus menyesuaikan diri: tuan rumah atau tamunya, mayoritas atau minoritas?


Kontradiksi lain, para jokower ini menuntut agar orang Indonesia menanggalkan “agama dan keberagamaannya” ketika berpolitik. Mereka menganggap agama adalah ornamen yang bisa dilepas-pasang seenaknya. Pandangan macam apa itu? Bahkan dalam doktrin sekulerisme pun tidak ada pemikiran seperti itu.

Sekulerisme itu berkenaan dengan penggunaan prinsip dan metoda sains dalam proses pengambilan keputusan publik. Sekulerisme tidak menyuruh orang beragama untuk meninggalkan nilai-nilai dan ritual agama. Di dunia Barat dimana sekulerisme dianggap normal tidak ada larangan memilih pemimpin berdasarkan referensi agama atau warna kulitnya. Di sana partai agama (Kristen) hadir dimana-mana, hadir di hampir semua negara di dunia. Di Indonesia saja ada banyak partai Kristen dan Katolik, antara lain Partai Damai Sejahtera (PDS), Partai Kristen Indonesia (Parkindo), Partai Katolik, Partai Kristen Demokrat, Partai Kesatuan Demokrasi Indonesia (PKDI), Partai Demokrasi Kristen Nasional, Partai Demokrasi Kasih Bangsa, Partai Anugerah Demokrat, Partai Kemerdekaan Rakyat dan Partai Kristen Nasional.

Ada banyak kontradiksi lain, misalnya bagaimana minoritas 1,4 persen bisa menguasai ekonomi dan mendominasi kekayaan bangsa? Tetapi di sini bukan tempat untuk mengurai itu semua. Yang jelas kontradiksi-kontradiksi itu mengakibatkan kubu Jokower kehilangan basis intelektualnya. Mereka terus menerus kelabakan terutama ketika pikiran-pikiran mereka diuji oleh pemikir rasional sekelas Rocky Gerung. Saking kesal sebab selalu diterpa oleh pikiran-pikiran dangkal, Rocky Gerung menyebut jokower sebagai kecebong dungu. Sementara itu di media sosial pikiran-pikiran dungu itu diluluh-lantakkan oleh kecerdasan publik. Last but not least, tanpa content yang kokoh strategi media sosial Jokowi, yang didukung ratusan buzzer yang pernah berjaya di 2014, belakangan hancur tidak berdaya.

Keterpurukan Jokower ini tidak menjadi lebih baik setelah dalam debat (17/1/2019) Jokowi gagal menunjukkan dirinya sebagai negarawan.


Negarawan adalah politikus plus moralitas. Sebagaimana layaknya politikus, seorang negarawan memperjuangkan jabatannya. Tetapi berbeda dengan politikus biasa, seorang negarawan menginginkan kemenangan dengan lebih mengedepankan moral. Moralitas politik yang terpenting adalah menempatkan kepentingan negara (rakyat) di atas kepentingan sendiri (partikular). Di dalam konteks ini seorang negarawan tidak mungkin mendahulukan “messenger” ketimbang “messages”-nya. Seorang negarawan niscaya akan mengutamakan untuk menyampaikan pikiran-pikirannya tentang masa depan bangsanya dan bagaimana kepemimpinannya akan memudahkan pencapaiannya.

Namun Jokowi telah menunjukkan bahwa ia sekadar politikus biasa. Jokowi memilih untuk menyerang pribadi Prabowo, bukan membahas persoalan bangsa. Secara moral, Jokowi tidak menunjukkan perbedaan antara dirinya dengan para pengikutnya.

Begitulah, Jokowi sedang menulis di batu nisan kuburannya sendiri.

Radhar Tri Baskoro,
Ketua Forum Aktivis Bandung
Law-Justice.Co, 21 Januari 2019