Showing posts with label Cawapres. Show all posts
Showing posts with label Cawapres. Show all posts

Tuesday, June 2, 2009

Mega Nomor 1, SBY Nomor 2, dan JK Nomor 3


Tiga pasang capres/cawapres telah melakukan undian nomor urut di Komisi Pemilihan Umum (KPU) hari Sabtu (30/5/2009). Hasilnya, pasangan Megawati Soekarnoputri-Prabowo Subianto mendapat nomor urut 1, Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono mendapatkan nomor 2 dan pasangan Jusuf Kalla-Wiranto mendapat nomor 3 atau nomor terakhir.

Meski hanya sekadar angka, nomor urut sering dikaitkan dengan faktor keberuntungan parpol bahkan calon presiden yang akan bertarung dalam Pilpres 2009.

Seperti yang diungkapkan tim sukses pasangan Megawati Soekarnoputri dan Prabowo Subianto. Mendapatkan nomor urut pertama tampaknya menjadi kebanggan tersendiri bagi pasangan yang paling akhir mengumumkan pencapresannya itu.

"Nomor satu, mudah-mudahan ini tanda untuk keluar jadi nomor satu juga," kata Sekjen Partai Gerindra Fadli Zon usai pengundian nomor urut pasangan capres-cawapres di Kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU), Jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat.

Sementara itu mendapatkan nomor urut 2 sama sekali tidak mengecewakan pasangan SBY-Boediono dan tim kampanyenya. Baginya, nomor yang diperoleh merupakan pilihan Allah.

"Sebenarya kami tidak memilih, karena kami orang yang terakhir. Yang memilih itu Allah Yang Maha Kuasa," kata SBY saat memberikan sambutan dalam acara silaturahmi koalisi parpol pendukung SBY-Boediono di Pekan Raya Jakarta, Kemayoran, Jakarta Pusat.

Nomor yang diperolehnya Sabtu pagi di KPU itu, katanya, wajib disyukuri. Dengan nomor tersebut SBY berharap mendapatkan berkah. Tapi dengan catatan, keberkahan itu langsung dipintakan agar benar-benar berhasil dalam pilpres dan menang dengan cara yang terhormat.

"Bersyukur karena nomor dua ini bisa menjadi inspirasi numerik. Nomor dua ini cocok dari simbol 'Lanjutkan', dari periode pertama ke periode kedua," tutur Ketua DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum kepada para wartawan.

Dalam pengundian tersebut, ketiga pasangan tampak puas atas nomor urut yang mereka dapatkan masing-masing. Lihat saja pasangan Jusuf Kalla dan Wiranto yang mendapat giliran pertama mengambil nomor urut. Duet ini mendapat nomor 3 dan hebatnya ternyata mereka telah menyiapkan atribut dalam bentuk poster lengkap dengan angka 3 di bagian atasnya.


Dari ketiga nomor tersebut (1, 2 dan 3), bila disimbolkan dengan acungan tangan, sebenarnya semuanya mempunyai makna yang baik.

Jari telunjuk satu (1) atau jempol merupakan simbol keunggulan dan keutamaan. Dua jari (2) merupakan simbol huruf “V” artinya victory atau kemenangan. Begitu pula tiga jari (3) dapat diartikan sebagai simbol huruf “W” atau winner yang juga berarti pemenang.

Karena ketiga pasangan itu merupakan putra dan putri terbaik bangsa maka dalam berkompetisi pun sudah selayaknya mereka semua berlomba-lomba dalam kebaikan secara sehat dan sportif.

Selamat berkompetisi menuju RI-1.
Hiduplah Indonesia menuju masa depan nan jaya!!!

Monday, May 18, 2009

Boediono Janji Bebaskan Indonesia dari Kemiskinan


"I promise to work to make Indonesia free from poverty"

Calon wakil presiden (cawapres) pendamping Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang juga masih menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI) Boediono, berjanji untuk membebaskan Indonesia dari kemiskinan.

"Saya berjanji untuk membebaskan Indonesia dari kemiskinan. Dan saya siap bekerja mulai hari ini," janji Boediono, saat membacakan deklarasi pasangan SBY-Boediono, di Gedung Sabuga, Bandung, Jawa Barat, Jumat (15/5/2009).

Menurutnya, Indonesia saat ini sudah seharusnya bangkit dari keterpurukan dan segera memperbaiki diri agar kemiskinan tersebut sedikit demi sedikit bisa dihilangkan.

Selain itu, dia memuji pemerintahan SBY yang menurutnya bersih dan bisa membangkitkan perekonomian Indonesia di tengah situasi ekonomi dunia yang sedang gunjang-ganjing. Bahkan menurutnya, pekerjaan tersebut belum selesai dan masih banyak PR yang harus dikerjakan.

Di sisi lain, dia menilai, saat ini Indonesia sudah menjadi salah satu negara di Asia yang mempunyai kebebasan berdemokrasi. Tentunya hal tersebut berada di bawah kepemimpinan SBY.

Bahkan, dalam pidatonya, dia sempat menyindir bahwa pemerintahan yang bersih adalah pemerintahan yang tidak mencampuradukkan negara dengan bisnis keluarga.

Taufik Hidayat, Okezone


Pidato Boediono
Cespleng dengan Tutur Bahasa yang Menyihir

Dengan mimik yang tenang, Boediono berpidato dengan menyihir banyak orang. Calon wapres SBY ini berpidato tanpa membaca teks. Kalimat-kalimat simbol yang menegaskan bahwa dia muslim yang baik juga ia ucapkan. Bantahan sebagai penganut neoliberalisme juga ia sampaikan dengan kalimat yang datar, tapi mengena.

Boediono, yang saat ini menjadi Gubernur Bank Indonesia (BI) itu memperlihatkan sebagai orator ulung saat berpidato sebagai cawapres SBY dalam deklarasi SBY-Boediono di Gedung Sabuga, Bandung, Jumat (15/5/2009) malam. Dia yang mengenakan peci dan berbaju batik warna merah menyala dan berkacamata itu berpidato dengan didampingi SBY yang mengenakan pakaian yang sama.

Pemantauan detikcom, selama hampir 20 menit, Boediono berpidato secara memukau. Semua orang di dalam ruangan utama Sabuga mendengarkan dengan seksama dan memberikan tepukan berkali-kali.

Memulai pidatonya, Boediono membaca basmallah. Fasih! Setelah itu, Boediono mengucapkan salam dengan kalimat lengkap. Fasih! Saat berpidato, Boediono juga mengucap Allah SWT beberapa kali.

Kalimat-kalimat yang diucapkan pria bergelar profesor doktor ini seakan menegaskan isu yang berkembang bahwa Boediono adalah seorang muslim, tapi abangan. Sebelumnya, dalam pidatonya, SBY juga menegaskan bahwa Boediono adalah muslim yang lurus.

Tutur kata Boediono dalam pidatonya itu juga terlihat teratur dengan bahasa yang sangat mudah dipahami. Dia merendah, tapi memperlihatkan tekad yang kuat untuk menjadi wakil presiden 2009-2014.

"Sejak merintis karir sebagai seorang ekonom dan guru, saya tidak pernah bercita-cita memegang jabatan puncak di republik yang kita cintai ini," kata Boediono.

Dengan kalimat-kalimat sederhana, Boediono juga menyinggung banyak hal dengan santun. Dia membantah sebagai penganut neoliberalisme, meski tidak dengan kalimat yang langsung. "Butuh peran negara, tidak bisa sepenuhnya diserahkan ke pasar bebas. Selalu diperlukan intervensi dengan aturan main yang jelas dan adil, untuk itu perlu lembaga pelaksana yang efektif. Itu yang harus dilakukan negara," kata Boediono.

Boediono yang berpeci hitam itu juga memuji SBY dalam memimpin Indonesia lima tahun terakhir. Dia siap bekerja sama dengan SBY, dengan modal tiga tahun menjadi menteri perekonomian SBY. Dia juga memuji SBY yang membuat Indonesia memiliki kebebasan berpendapat dan tidak menolerir pelanggaran HAM.

Di depan ribuan orang itu, Boediono juga memperlihatkan kepada publik bahwa dia piawai dalam berpidato. Dia seakan membantah kesan selama ini bahwa dia kurang bisa berorasi. Tepuk tangan berkali-kali saat pria kelahiran Blitar 66 tahun lalu itu berpidato makin memperlihatkan bahwa Boediono juga bisa menyihir banyak orang.

Di forum yang dihadiri pimpinan parpol dan tokoh-tokoh penting Jawa Barat, seperti mantan Gubernur Jabar Solichin GP, Boediono juga memperlihatkan tentang pentingnya keluarga. "Saya sangat berterima kasih kepada istri saya yang telah memberikan persetujuan atas tugas saya yang baru ini," ujar dia.

Boediono juga menutup pidatonya dengan kalimat yang pas. "Dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim saya siap bekerja mulai hari ini," tutup dia. Selama berpidato, Boediono juga selalu memperlihatkan senyuman.

Menyebut Presiden SBY
Meski begitu, dalam pidatonya, ada sesuatu ucapan Boediono yang terdengar aneh. Dalam deklarasi capres-cawapres, yang seharusnya bukan acara kenegaraan, dan posisi SBY juga bukan sebagai presiden, tapi sebagai capres, Boediono beberapa kali mengucapkan Presiden SBY.

"Izinkalah saya mengucapkan rasa terima kasih yang dalam kepada Bapak Presiden SBY yang telah menunjuk saya untuk mendampingi beliau dalam Pemilu Presiden Juli nanti. Penunjukan diri saya sebagai cawapres merupakan suatu kehormatan yang amat besar bagi saya dan keluarga," kata Boediono

Acara deklarasi SBY-Boediono ini dihadiri kalangan pemerintah dan pengusaha. Pengusaha papan atas tampak terlihat. Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan dan istri juga hadir.

Anwar Khumaini, detikPemilu

Saturday, March 21, 2009

Benny dan Mice Capres Independen


“Tadinya kami sempat berpikir mendirikan Partai Kartunis Indonesia (PKI), tapi nanti menyinggung kelompok tertentu. Beberapa nama parpol lainnya juga urung dipakai, seperti Golongan Kartunis (Golkar), Partai Kartun Banget (PKB), dan Partai Kartunis Sejahtera (PKS)."

Benny Rachmadi [Benny] dan Muhammad Misrad [Mice], dua kartunis harian Kompas edisi Minggu, mendeklarasikan niat mereka untuk maju sebagai calon Presiden RI pada Pemilu 2009 dari jalur independen. “Kami berdua tidak mencalonkan diri, masyarakat yang mencalonkan kami,” kata Benny saat deklarasi pencalonan di Gramedia Matraman, Jakarta, beberapa waktu yang lalu.

Menurut salah seorang penggemar mereka, Indonesia saat ini membutuhkan calon pemimpin alternatif yang benar-benar independen alias bukan berasal dari parpol. Benny dan Mice pun menerima tawaran penggemar mereka, dan keduanya sudah sepakat untuk berpasangan pada Pilpres mendatang.

Selain di Kompas, Benny juga bekerja di tabloid Kontan sebagai penggambar kartun editorial, dan menjadi ilustrator untuk perusahaan periklanan. Sedangkan Mice sehari-harinya juga mengerjakan grafis untuk kaus (T-shirt). Benny lahir tahun 1969, Mice kelahiran 1970.

Benny & Mice adalah judul sebuah komik strip yang menggambarkan keadaan kota Jakarta yang Metropolitan. Komik yang dikarang oleh Muhammad Misrad dan Benny Rachmadi ini banyak melakukan kritik sosial kepada penduduk Jakarta untuk kalangan Menengah-Kebawah dengan menggunakan dua tokohnya, yaitu Benny & Mice yang merupakan gambaran mereka sendiri. Komik ini telah diterbitkan dalam edisi buku dan juga terbit setiap minggu di harian Kompas.

Sumber: KOMPAS dan Blogberita.Net