Showing posts with label Mustofa Bisri. Show all posts
Showing posts with label Mustofa Bisri. Show all posts

Sunday, January 10, 2010

Gus Mus: Gus Dur Tokoh Paling Populer Abad Ini


Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya pada pukul 18.45 WIB Rabu (30/12/2009) yang lalu, Gus Dur sempat mengunjungi kolega lawasnya, Gus Mus, di Rembang, Jawa Tengah. Entah firasat apa yang diterima Gus Dur sehingga mendadak ingin bertemu dengan rekannya ketika masih kuliah di Kairo itu. Padahal sudah lama kedua sahabat itu tidak bertemu muka.

Bagi seorang Gus Mus, Gus Dur adalah sosok yang luar biasa. Dalam bukunya berjudul Membuka Pintu Langit (2007) terbitan Penerbit Buku Kompas, Gus Mus menulis tentang cucu pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH Hasyim Asy'ari itu. Dalam tulisannya itu sangat tampak bagaimana penghargaan Gus Mus terhadap sosok Gus Dur. Gus Mus menjuliki sobatnya itu sebagai 'tokoh paling populer abad ini.'

"Lahir dengan nama Abdurrahman Ad-Dakhil, nama yang sama dengan seorang tokoh dinasti Umayah yang berhasil menaklukkan Andalusia, pada 4 Agustus 1940, secara nasab Gus Dur memang tak tertandingi," demikian tulis Gus Mus.

Ayah Gus Dur adalah KH A Wahid Hasyim, putra dari KH Hasyim Asy'ari, pendiri NU. Baik Wahid Hasyim maupun Hasyim Asy'ari merupakan pahlawan nasional. Ibu Gus Dur bernama Sholehah, putri KH Bisri Syansuri yang juga merupakan salah satu pendiri NU.


"Mereka semua adalah pejuang nasional yang diakui tidak hanya di kalangan NU. Jadi kalau Gus merupakan panggilan atau gelar anak kiai, Gus Dur boleh dikatakan adalah Gusnya Gus," tulis Gus Mus.

Selain keistimewaan dari segi nasab (keturunan) itu, Gus Dur juga dikaruniai banyak keistimewaan lain yang sulit dicari duanya, antara lain kecerdasan yang luar biasa serta bacaan dan pergaulannya yang sangat luas. Tidak aneh jika di pedesaan banyak orang menyebutnya sebagai wali, sedangkan di perkotaan orang menjulukinya sebagai jenius.

"Seandainya Tuhan tidak mengurangi potensi kekuatan hamba-Nya yang satu ini dengan mengurangi kemampuan fisiknya, entah apa jadinya. Mungkin akan lebih hebat pengaruh buruk bagi dirinya maupun bagi yang lainnya," lanjut Gus Mus.

Dengan berbagai kelebihannya itu, menurut Gus Mus, tak heran jika nama Gus Dur identik dengan NU, organisasi yang pernah dipimpinnya selama 15 tahun. NU adalah Gus Dur dan Gus Dur adalah NU. Ini mirip dengan Bung Karno yang pada tempo dulu identik dengan Indonesia. Indonesia adalah Bung Karno dan Bung Karno adalah Indonesia. Bahkan ada kalanya nama Gus Dur melebihi NU.


"Bila nama besar Bung Karno tempo doeloe —terutama di luar negeri— melebihi Indonesia atau katakanlah Indonesia adalah Bung Karno dan Bung Karno adalah Indonesia, ada saatnya nama besar Gus Dur melebihi NU atau katakanlah NU adalah Gus Dur dan Gus Dur adalah NU," kata Gus Mus.

Karena kebesarannya itulah, menurut Gus Mus, Gus Dur terlalu besar untuk ditampung di NU maupun PKB, partai yang didirikan oleh kalangan nahdliyin. Bahkan Gus Mus memperkirakan karena dinilai terlalu besar inilah para kyai tak setuju saat Gus Dur didorong untuk menjadi presiden pada 1999 lalu.

"Pendek kata, Gus Dur sudah menjadi lembaga tersendiri yang agak repot bila masuk ke lembaga lain," tulis Gus Mus.

Namun kebesaran ini bukan tanpa risiko. Gus Dur sebagai lembaga ini sering dimanfaatkan oleh mereka yang tidak punya akses ke lembaga lain.


"Mereka yang tidak punya akses ke NU, misalnya, bisa masuk lewat Gus Dur. Yang tidak punya akses ke PKB bisa melewati Gus Dur. Bahkan dukun-dukun yang kepingin laku dan tidak cukup mu’tabar di kalangan masyarakat bisa melalui Gus Dur," kata Gus Mus.

Kini kedua sahabat itu tidak bisa lagi bertatap muka secara kasat mata di alam dunia. Namun persahabatan mereka akan tetap dikenang. Sebelum 'pergi,' Gus Dur telah 'berpamitan' kepada Gus Mus.

Dalam doa usai pemakaman Gus Dur di Komplek Tebuireng Jombang, Jatim, Gus Mus memberikan doa yang paling halus dan iba kepada Allah agar mengampuni salah dan khilaf Gus Dur selama hidup di dunia. Gus Mus pun berdoa agar Gus Dur di dalam kubur mendapat rahmat dan pengampunan Allah serta mendapat tempat mulia di sisi-Nya. Amin.

Selamat jalan Gus ...

http://www.gusmus.net/page.php?mod=dinamis&sub=6&id=1100

Gus Dur Ingin Gus Mus Jadi Rais Aam PBNU


Banyak cerita terungkap setelah Gus Dur meninggal. Selain soal kehidupan sehari-harinya yang luar biasa, Gus Dur juga masih punya mimpi soal kejayaan NU di tahun-tahun mendatang.

Dalam beberapa kesempatan, Gus Dur mengungkapkan keinginannya soal posisi Rais Aam PBNU (semacam dewan syuro PKB). Gus Dur ingin posisi Rais Aam yang saat ini diduduki KH Sahal Mahfud yang kabarnya tidak mau dipilih kembali, dapat dilanjutkan oleh KH Mustofa Bisri (Gus Mus).

"Beberapa kali saya bertemu beliau sebelum wafat, beliau bercerita secara terbuka soal keinginannya agar Gus Mus menjadi Rais Aam PBNU. Ini mungkin termasuk wasiat beliau," kata salah satu orang yang dekat dengan Gus Dur, Imam Mudzakkir kepada detikcom, Kamis (31/12).


Gus Mus yang memang teman dekat Gus Dur sejak kecil sampai sekarang, memiliki jiwa kepemimpinan dan ketokohan yang tidak diragukan. Gus Mus yang dalam prosesi pemakaman Gus Dur didaulat membacakan doa dari pihak keluarga juga mempunyai kredibilitas dan kapabilitas yang tak perlu diragukan lagi.

"Gus Dur bilang, kalau Gus Mus jadi Rais Aam dan saya ketua dewan syuro, luar biasa mas nanti kita. Siapa yang tidak kenal kita," papar Imam menirukan Gus Dur.

Mudzakkir pun menceritakan maksud Gus Dur bersilaturahmi ke Rembang seminggu sebelum wafatnya. Selain menebus rasa kangen dengan sahabat sejatinya itu, kehadiran Gus Dur ke kediaman Gus Mus karena ingin menegaskan agar Gus Mus mau menjadi Rais Aam Syuriah PBNU.

Muhammad Nur Hayid
detikNews, 31 Desember 2009

Thursday, July 30, 2009

Air Zamzam di Negeri Comberan


Di usia sepuhnya, Gus Mus makin gantheng wajahnya dan makin bening cahaya yang memancar dari wajah itu. Bahkan kulit beliau yang aslinya coklat kini menjadi cenderung kuning-putih. Itu bukan wajah Gus Mus yang kita kenal dalam kebudayaan di bumi. Itu langit.

Sungguh bikin cemburu. Bagaimana hamba Allah satu ini, semua manusia dari Sabang hingga Merauke diam-diam pada bingung, ambruk, kuyu, frustrasi dan putus asa, meskipun ditutup-tutupi -dia malah makin sumringah hidupnya, wajahnya tersenyum, seluruh wajahnya tersenyum, bukan hanya bibir beliau: benar-benar seluruh wajah beliau, lagak-laku dan output karakter beliau adalah senyuman.

Tiba-tiba muncul makhluk yang bernama Doctor Honoris Causa. Menghampirinya. ‘Ngenger’ kepadanya. Melamarnya untuk menjadi sandangannya. Sudah pasti beliau tersenyum, mengulurkan tangan. Dan dengan penuh kasih sayang, menunjukkan sikap menerima, menampungnya, mengakomodasikannya, menggendongnya, mengelus-elusnya.

Jauh di dalam kalbunya Gus Mus mengerti betapa inginnya si Doctor Honoris Causa itu diperkenankan untuk menjadi bagian dari kehidupan Gus Mus. Dan ‘Ma abasa wa ma tawalla, an ja-ahul a’ma…. tak mungkin beliau berpaling, meremehkan dan mengabaikan pengemis yang hina dina sekalipun.

Padahal di dalam doa-doanya, Gus Mus selalu meletakkan semua makhluk lemah itu di shaf terdepan dari aspirasinya. Bahkan jenis hati beliau tidak puas untuk memohon “Ya Allah, sayangilah para pengemis, mudahkanlah kehidupan mereka, limpahilah dengan rizqi-Mu yang luasnya tak terhingga kali seluruh jagat raya”. Bunyi perasaan terdalam beliau agak lebih radikal: “Alangkah mudahnya bagi-Mu ya Allah untuk sejak awal menciptakan pagar-pagar qadla dan qadar agar dalam peradaban ummat manusia tak usah ada pengemis, tak usah ada hamba-hamba yang selemah itu, apalagi sampai dilemahkan, di-pengemis-kan”.

Memang di dalam salah satu cara berpikir tasawuf para pemberi membutuhkan mereka yang diberi. Orang kaya membutuhkan orang miskin, sebab orang miskin adalah jalan memperbanyak pemberian, infaq dan shadaqah. Orang miskin adalah lahan subur untuk menanam kasih sayang. Gus Mus setahu saya tidak turut menikmati bermain logika dan simulasi sosial sufisme. Beliau transenden dari pola-pola adegan itu dengan mempertapakan dambaan cinta, alangkah indahnya kehidupan tanpa orang-orang miskin yang meruntuhkan hati dan memeras airmata.


Bahasa gamblangnya: Gus Mus pada dasarnya tidak merasa krasan juga Doctor Honoris Causa melamar-lamar dirinya. Dan lebih sangat “haram mu’aqqad” lagi kalau sampai ada bagian dari kehidupan ini di mana Gus Mus yang melamar gelar Doktor, mendambakannya, mengambisiinya, merakusinya, merindukannya, apalagi sampai menyiapkan uang dalam jumlah sangat besar dalam rangka memperhinakan dirinya.

Lho, apakah gelar Doktor itu hina? O tidak lah yaoo… Ini hanya pernyataan ta’aqqud dan tafaqquh bahwa yang selain Tuhan selalu menjadi jatuh hina jika diperlakukan sebagaimana Tuhan. Hanya Allah yang memiliki maqam untuk didambakan, untuk diraih, diserakahi untuk ‘dimiliki’, digadang-gadang serta dicita-citakan untuk bersanding. Selain Allah, bahkanpun Rasulullah, juga seluruh manusia dan alam semesta, cocoknya dicintai, disayang.

Gus Mus menyayangi gelar Doktor beliau, tapi insyaallah tak sampai mencintai. Disayang karena mereka yang memberinya gelar itu juga sangat sayang kepada Gus Mus. Namun tidak sampai mencintai, karena beliau bukan orang bodoh.

Gelar Doktor mencerminkan pencapaian ilmu maksimal pada ukuran mesin berpikir manusia. Tidak sempurna dan belum puncak, dalam arti potensialitas yang dianugerahkan Allah atas daya akal manusia, yang masih menyediakan cakrawala luas dan langit tinggi. Yang masih amat jauh di luar jangkauan pencapaian peradaban berpikir ummat manusia sampai sekian puluh abad. Sedangkan gelar Profesor menggambarkan kelulusan komitmen terhadap dunia ilmu dan kesetiaan terhadap tradisi kemuliaan pemeliharan dan penyebaran ilmu. Tafaqquh ‘ilmi wan-tisyaruh.

Itu idiomatik dan simbol dari dunia persekolahan di mana pencarian ilmu diinstitusionalisasikan, dengan ‘syubhan’ politik dan perdagangan -tetapi yang terakhir ini tidak menjadi perhatian dalam tulisan ini. Di luar sekolah, masyarakat (Indonesia, Jawa) membangun sendiri idiomatik dan simbol-simbolnya untuk mengukuhkan pencapaian manusia di antara mereka: Kiai, Panembahan, Ki, Begawan, Pendekar, Pandito. Pada tataran yang lebih popular dan sehari-hari muncul simbol: Mbah, Lurah, Danyang, mBahurekso, dst, yang semuanya menggambarkan pengakuan umum atas pencapaian tertentu dari seseorang.

Kalau memang ‘terpaksa’, KH Mustafa Bisri kita lengkapi saja atributnya: Mbah Lurah Danyang mBahurekso Pandito Begawan Panembahan Ki Kiai Profesor Doktor Mustafa Bisri, dan saya urun nambahi satu tapi tanpa upacara: Karomallohu wajhah…. Karena insyaallah beliau karib dan sehabitat dengan Sayyidina Ali ibn Abi Thalib dalam sejumlah konteks, utamanya ta’aqqudul iman, tafaqquhul ‘ilmi wa ni’matul ma’rifah serta thariqatsuwung’, fana’.


Doktor itu kedewasaan ilmu, namun tidak menjamin kematangan mentalitas dan spiritualitas. Bahkan tidak menjanjikan kedewasaan sosial dan kultural. Sedangkan Gus Mus mohon maaf: memiliki semua itu.

Tak akan didengarkan orang kalau ada seorang Doktor berfatwa, sebagaimana kalau KH Mustafa Bisri (andaikan beliau mau) berfatwa. Sebab ‘fatwa’ arti telanjang epistemologisnya adalah kedewasaan yang ‘jangkep’. Doktor masih kedewasaan parsial dan ‘githang’.

Fatwa bukan produk dari rapat sekian ratus Ulama yang naik pesawat dari berbagai propinsi untuk mengacungkan tangan dan meneriakkan “Setuju!” dalam sebuah rapat yang berprosedur demokrasi, penjajagan pendapat untuk mencapai kesepakatan. Atau lebih rendah lagi: pendapat sudah disediakan, dan ratusan Ulama bersegera menyetujuinya karena hal itu merupakan ujung dari suatu eskalasi politik, mobilisasi berpikir dan honorarium. Untuk Indonesia, tradisi semacam itu sudah ma’ruf wa mafhum, dan semua tinggal meng-amin-i.

Sesungguhnya Gus Mus adalah seorang Al-Mufti. Hanya saja beliau terlalu rendah hati. Sekurang-kurangnya Al-Mufti adalah kualitas dan maqam beliau. Dan kalau beliau hampir tidak pernah menduduki kursi itu dan tidak ‘nyuwuk’ fatwa apa-apa kepada bangsa dan ummat yang tidak mengerti kegelapan (apalagi cahaya) ini, kita orang dusun tahunya barangkali memang beliau tidak memperoleh ‘wangsit’ untuk berfatwa. Allah sendiri menerapkan sifat As-Shobur kepada bangsa Indonesia, Gus Mus nginthil di belakang-Nya.

Dan sungguh saya selalu merasa gatal untuk menggoda Gus Mus, di tengah perjalanan hidup ‘asyik ma’syuk di tengah hutan belantara penuh comberan ini.

Maka sengaja tulisan menyambut penggelaran Doctor Honoris Causa untuk Gus Mus ini saya bikin berlama-lama dan terlambat-lambat. Memang sih ada sejumlah kesibukan, tapi alasan utama saya bukan itu. Motif saya yang sesungguhnya adalah: saya sangat bernafsu menyiksa Gus Mus, saya sangat cemburu pada beliau, dan saya berkhayal berlari kencang mendahului Gus Mus.

Saya buka rahasia pribadi: saya ini seorang penakut bin pengecut. Hidup saya tanpa kekuasaan, baik sebagai warga masyarakat, sebagai suami, sebagai bapak, sebagai lelaki atau sebagai apapun. Itu gara-gara saya tidak memiliki keberanian sedikit pun untuk menyentuh orang lain dengan kehendak saya. Tidak sedikit pun saya berani menyiksa siapa pun, baik menyiksa dengan kejahatan maupun dengan kemuliaan, dengan keburukan atau kebaikan, dengan kesalahan maupun kebenaran.

Jangankan menjadi pemimpin Negara atau wakil rakyat, sedangkan menjadi kepala rumahtangga saja saya memilih untuk tidak berkuasa. Saya hanya bagian dari keluarga, bagian dari masyarakat dan Negara. Padahal aslinya di dalam diri saya terdapat nafsu kekuasaan yang meluap-luap, bahkan ada semacam potensi kekejaman yang selama ini saya sembunyikan dengan sangat rapi. Nah, terhadap Gus Mus: saya menemukan peluang sangat besar dan melimpah untuk berkhayal punya kekuasaan dan menyelenggarakan penyiksaan-penyiksaan semaksimal mungkin.

Sebab saya tahu dan yakin bahwa beliau tak akan marah. Gus Mus tidak memiliki hubungan genetik, kefamilian atau keterkaitan sosial dengan kemarahan. Satu point ini saja sungguh seribu kali lebih penting dan lebih tinggi mencapaian mental maupun ilmiahnya -dibanding seribu gelar doktor kepada beliau. Kalau ada orang marah, itu pasti bukan Gus Mus. Dan kalau para saintis tidak mampu menemukan keterkaitan dialektis antara fenomena marah dengan kosmos ilmu, maka tidak perlu ada Sekolahan, Universitas ataupun Pesantren.


Tapi ya siksaan saya kepada Gus Mus sekedar terbatas pada ulur-ulur waktu jadinya tulisan ini. Celakanya beliau sama sekali tidak marah. Tersiksa sedikit pun tidak. Padahal kalau sampai beliau tersiksa, betapa indah puisi-puisi yang terungkap dari ketersiksaan itu. Gus Mus adalah pendekar kehidupan yang bukan sekedar sanggup menemukan ketenteraman dalam kecemasan, menggali kebahagiaan dari jurang derita, atau menikmati kekayaan di dalam kemiskinan. Lebih dari itu Gus Mus bahkan mampu membuat kegelapan itu tak ada, karena yang ada pada beliau, dan bahkan beliaunya itu sendiri: adalah cahaya.

Kemudian hal cemburu: beliau ini dikejar-kejar dilamar-lamar oleh Doctor Honoris Causa. Sementara saya orang tua sampai hampir batas jatah usia hari ini tak pernah dinantikan orang, apalagi dikejar. Tak menggembirakan orang hadirku dan tak ditangisi orang hilangku. Tak dirindukan oleh siapapun saja kecuali oleh istri dan anak-anakku.

Maka saya dendam kepada Gus Mus. Dan dengan melambat-lambatkan tulisan ini saya bisa membangun khayalan bahwa saya bukan hanya juga berposisi dikejar-kejar, tapi juga ‘GR’ bahwa yang mengejar-ngejar saya adalah orang besar bernama KH Mustafa Bisri. Dan karena saya dikejar oleh Gus Mus, sedangkan Doctor Honoris Causa mengejar Gus Mus, maka saya berada dua langkah di depan Doctor Honoris Causa. Dengan demikian tak mungkin Doctor Honoris Causa akan pernah mampu mencapai lari kencang saya.

Bagi siapa pun yang kebetulan membaca tulisan ini, mudah-mudahan menjadi paham kenapa sampai setua ini saya tidak pernah “dadi wong, tak pernah mencapai apa-apa dan tak pernah menjadi siapa-siapa. Jawabannya sangat gamblang dengan alinea-alinea di atas: saya sudah sangat bergembira cukup bermodalkan khayalan-khayalan semacam itu. Puji Tuhan ada kesempatan untuk membuka rahasia itu, karena hanya Gus Mus yang memiliki keluasan untuk men-senyum-i khayalan-khayalan saya, sementara lainnya selama ini hanya mencibir dan meremehkan saya.

Maka di luar itu semua tentulah saya turut mengucapkan ‘mabruk’ atas penganugerahan gelar Dr.HC kepada Gus Mus, tanpa mempersoalan bahwa -ibarat baju, gelar itu terlalu kecil atau ‘cekak’ untuk Gus Mus. Atau dengan kata lain beliau -dengan segala kualitas dan bukti-bukti kesalehan dan kreativitas puluhan tahun hidupnya- terlalu besar untuk hanya digelari Dr.HC.

Sebenarnya saya sudah menantikan penganugerahan ini 30-40 tahun silam. Atau mungkin malah diperlukan ijtihad untuk mendirikan lembaga gelar yang lebih tinggi derajat mutunya, lebih meluas cerminan jangkauan manfaatnya serta lebih mendalam kasunyatan kekhusyukan komitmennya. Terserah apapun saja nama gelar khusus itu yang bisa kita gunakan untuk menunjukkan kesadaran kita dalam mengapresiasi “Manusia Thawaf” dari Rembang ini.

Tetapi omong-omong qulil haqqa walaw kana murran KH Mustafa Bisri sebenarnya juga sama sekali tidak cocok hidup di zaman di mana beliau hidup sekarang ini. Di Negeri ajaib yang Gus Mus menangisinya berurai-urai airmata di hadapan Allah sambil hati beliau geli setengah mati dan tertawa terpingkal-pingkal.

Minimal ada satu syarat mendasar yang Gus Mus tidak miliki secuilpun untuk ‘relevan’ hidup di zamannya: tidak punya ambisi, tidak memiliki ‘ananiyah’, tidak punya kesanggupan mental untuk membuang rasa malu, serta terlalu rewel terhadap martabat dan harga diri ke-insan-an beliau. Sistem nilai yang berlaku komprehensif dewasa ini akan tiba pada suatu perkenan sosial dan permisivisme budaya terhadap siapa pun untuk bukan hanya memasang gambar wajahnya di jalanan-jalanan atas niat dan inisiatifnya sendiri, melainkan pelan-pelan kelaminnya juga sudah siap untuk diiklankan.


Cocoknya Gus Mus ada di antara para sahabat Rasulullah Muhammad SAW: dolan mengobrol ke kampung-kampung bersama Abu Dzar Al-Ghifari, malamnya majlisan dengan Babul-‘Ilmi, pintu ilmu pengetahuan: Sayyidina Gagah Ganteng Brilian Ali ibn Abi Thalib karomallohu wajhah.

Maka atmosfir peristiwa penggelaran Dr.HC untuk Gus Mus ini saya masuki dengan kegembiraan sebagaimana memasuki pesta setengah “majdzub”. Saya ikut minum anggur rasa syukur yang menggelegak tanpa alasan apapun kecuali menikmati kekayaan “qudroh”nya Allah SWT. Saya melintas kesana-kemari menyapa semua sahabat keindahan dan mengobrol dengan para “mab’utsin” kebenaran dan kebajikan.

Siapa saja yang tak tahan bersegeralah pergi menjauh dari saya. Sebab saya melayang-layang surving diving sampai terkadang terpikir di benak saya NU itu sebaiknya dibagi dua: ada firqoh Nahdloh dan firqoh Ulama. Ketua golongan Nahdloh bolehlah KH Hasyim Muzadi, tapi Ketua Ulamanya harus KH Mustafa Bisri.

Gus Mus memimpin gairah ta’limul ardl wa ma’rifatussama, yang lain silahkan memanfaatkan pengetahuan dan legitimasi langit untuk pengetahuan dan kepentingan di bumi. Harus Gus Mus yang memimpin. Kok harus? Siapa yang mengharuskan? Ya saya sendiri, lha wong ini tulisan saya sendiri. Terwujud dan terjadinya Gus Mus jadi Ketua NU ya cukup dalam diri saya sendiri, karena kalau di kasunyatan NU saya bukan sekedar tidak punya hak apa-apa, tapi juga tidak ada.

Ini tulisan-tulisan saya sendiri, dan yang saya tulis adalah jenis orang yang tidak akan marah atau berbuat apapun meskipun saya tulis bagaimanapun. Jadi saya Ketua-NU-kan dia, kalau perlu seumur hidup. Seumur hidup.

Dan ini sama sekali bukan soal ambisi atau kerakusan, melainkan berdasar feeling saya dalam hal niteni tradisi sunnah-nya Allah. Manusia dengan kaliber dan kualitas macam Rasulullah Muhammad SAW oleh Tuhan diselenggarakan atau dilahirkan hanya satu kali selama ada kehidupan. Kalau taruhan tidak haram, saya berani taruhan soal ini.

Jenis Ibrahim AS dan Musa AS bolehlah lima abad sekali. Atau kalaupun saya sebut 10-20 abad juga tak akan pernah ada kemampuan penelitian ilmu manusia untuk membenarkannya atau menyalahkannya. Salahnya sendiri banyak sekolahan ummat manusia berlagak-lagak pinter tapi tidak ada peneliti hal-hal beginian, mana mungkin akan pernah mengenal clue ‘perilaku’ Allah ini.

Lha makhluk yang berperan sebagai Mustafa sesudah Bisri sesudah Mustafa sesudah Bisri entah yang keberapa ini, yang khalayak umum, kelas menengah intelektual sampai institusi Negara menyangka ia adalah Ulama dan Seniman -tinggal Anda perkirakan maqamnya, keistimewaannya, spesifikasinya, genekologinya, koordinat kosmologisnya. Dilahirkan 75 tahun sekali? 102 tahun sekali? 309 tahun sekali?

Saya tidak mau terjebak oleh adagium “La ya’riful Waly illal Waly”: tak ngerti Wali kecuali Wali. Anda jangan percaya pada rumus yang membuat Anda tersesat menyangka saya mengerti Gus Mus karena saya sekualitas dan semaqam dengan beliau. Jangan coba-coba memompa kepala saya menjadi besar, sebab saya sudah sangat pusing oleh besar kepala saya.

Rumus lebih tepat untuk ini adalah “hanya kekecilan semut yang mampu mengagumi kebesaran gajah”.

Ditulis Oleh Muhammad Ainun Nadjib untuk Dr.HC-nya Mustofa Bisri (Gus Mus)
kenduricinta.com, 10 Juli 2009