Sunday, January 10, 2010

Gus Mus: Gus Dur Tokoh Paling Populer Abad Ini


Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya pada pukul 18.45 WIB Rabu (30/12/2009) yang lalu, Gus Dur sempat mengunjungi kolega lawasnya, Gus Mus, di Rembang, Jawa Tengah. Entah firasat apa yang diterima Gus Dur sehingga mendadak ingin bertemu dengan rekannya ketika masih kuliah di Kairo itu. Padahal sudah lama kedua sahabat itu tidak bertemu muka.

Bagi seorang Gus Mus, Gus Dur adalah sosok yang luar biasa. Dalam bukunya berjudul Membuka Pintu Langit (2007) terbitan Penerbit Buku Kompas, Gus Mus menulis tentang cucu pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH Hasyim Asy'ari itu. Dalam tulisannya itu sangat tampak bagaimana penghargaan Gus Mus terhadap sosok Gus Dur. Gus Mus menjuliki sobatnya itu sebagai 'tokoh paling populer abad ini.'

"Lahir dengan nama Abdurrahman Ad-Dakhil, nama yang sama dengan seorang tokoh dinasti Umayah yang berhasil menaklukkan Andalusia, pada 4 Agustus 1940, secara nasab Gus Dur memang tak tertandingi," demikian tulis Gus Mus.

Ayah Gus Dur adalah KH A Wahid Hasyim, putra dari KH Hasyim Asy'ari, pendiri NU. Baik Wahid Hasyim maupun Hasyim Asy'ari merupakan pahlawan nasional. Ibu Gus Dur bernama Sholehah, putri KH Bisri Syansuri yang juga merupakan salah satu pendiri NU.


"Mereka semua adalah pejuang nasional yang diakui tidak hanya di kalangan NU. Jadi kalau Gus merupakan panggilan atau gelar anak kiai, Gus Dur boleh dikatakan adalah Gusnya Gus," tulis Gus Mus.

Selain keistimewaan dari segi nasab (keturunan) itu, Gus Dur juga dikaruniai banyak keistimewaan lain yang sulit dicari duanya, antara lain kecerdasan yang luar biasa serta bacaan dan pergaulannya yang sangat luas. Tidak aneh jika di pedesaan banyak orang menyebutnya sebagai wali, sedangkan di perkotaan orang menjulukinya sebagai jenius.

"Seandainya Tuhan tidak mengurangi potensi kekuatan hamba-Nya yang satu ini dengan mengurangi kemampuan fisiknya, entah apa jadinya. Mungkin akan lebih hebat pengaruh buruk bagi dirinya maupun bagi yang lainnya," lanjut Gus Mus.

Dengan berbagai kelebihannya itu, menurut Gus Mus, tak heran jika nama Gus Dur identik dengan NU, organisasi yang pernah dipimpinnya selama 15 tahun. NU adalah Gus Dur dan Gus Dur adalah NU. Ini mirip dengan Bung Karno yang pada tempo dulu identik dengan Indonesia. Indonesia adalah Bung Karno dan Bung Karno adalah Indonesia. Bahkan ada kalanya nama Gus Dur melebihi NU.


"Bila nama besar Bung Karno tempo doeloe —terutama di luar negeri— melebihi Indonesia atau katakanlah Indonesia adalah Bung Karno dan Bung Karno adalah Indonesia, ada saatnya nama besar Gus Dur melebihi NU atau katakanlah NU adalah Gus Dur dan Gus Dur adalah NU," kata Gus Mus.

Karena kebesarannya itulah, menurut Gus Mus, Gus Dur terlalu besar untuk ditampung di NU maupun PKB, partai yang didirikan oleh kalangan nahdliyin. Bahkan Gus Mus memperkirakan karena dinilai terlalu besar inilah para kyai tak setuju saat Gus Dur didorong untuk menjadi presiden pada 1999 lalu.

"Pendek kata, Gus Dur sudah menjadi lembaga tersendiri yang agak repot bila masuk ke lembaga lain," tulis Gus Mus.

Namun kebesaran ini bukan tanpa risiko. Gus Dur sebagai lembaga ini sering dimanfaatkan oleh mereka yang tidak punya akses ke lembaga lain.


"Mereka yang tidak punya akses ke NU, misalnya, bisa masuk lewat Gus Dur. Yang tidak punya akses ke PKB bisa melewati Gus Dur. Bahkan dukun-dukun yang kepingin laku dan tidak cukup mu’tabar di kalangan masyarakat bisa melalui Gus Dur," kata Gus Mus.

Kini kedua sahabat itu tidak bisa lagi bertatap muka secara kasat mata di alam dunia. Namun persahabatan mereka akan tetap dikenang. Sebelum 'pergi,' Gus Dur telah 'berpamitan' kepada Gus Mus.

Dalam doa usai pemakaman Gus Dur di Komplek Tebuireng Jombang, Jatim, Gus Mus memberikan doa yang paling halus dan iba kepada Allah agar mengampuni salah dan khilaf Gus Dur selama hidup di dunia. Gus Mus pun berdoa agar Gus Dur di dalam kubur mendapat rahmat dan pengampunan Allah serta mendapat tempat mulia di sisi-Nya. Amin.

Selamat jalan Gus ...

http://www.gusmus.net/page.php?mod=dinamis&sub=6&id=1100

1 comment:

ahmad haes said...

Paling populer bukan berarti paling baik. Pemujaan thd Gus Dur tidak perlu diperpanjang, diperlebar, diperluas. Org2 yg mengaku mu'min tidak boleh menggeser peran Rasulullah sebagai uswah hasanah krn kecintaan thd Gus Dur.