Showing posts with label Dunia Maya. Show all posts
Showing posts with label Dunia Maya. Show all posts

Sunday, July 9, 2017

Dunia Digital vs Dunia Nyata


Dalam banyak kesempatan, saya mendengar kuatnya anggapan bahwa dunia maya (digital) berbeda dengan dunia nyata. Dunia digital dianggap sebagai “alam halus”, yang belum (atau bahkan sulit) disentuh. Kalaupun dipakai, hanya sebatas sebagai alat pendukung. Sedangkan dunia nyata adalah dunia kita sehari-hari.

Bahkan, ada yang beranggapan bahwa itu adalah dunia para milenial, anak-anak mereka. Juga tak dapat dihindari yang berpikir, bisnisnya (core-nya) sama sekali tak perlu bersentuhan dengan dunia digital.

Misalnya saja, ada yang mengatakan, “Kami ini bisnisnya semen, bukan ritel.” Dan kalau diteruskan lagi “kami”-nya bisa panjang: kami jual mobil, bukan hiburan; kami pupuk, bukan hotel; kami tekstil, bukan oleh-oleh; dan seterusnya. Seakan-akan dunia maya itu hanya berlaku bagi ritel, hiburan, dan sejenisnya.

Mungkin anggapan semacam itu menguat lantaran sering melihat anak-anak bermain game. Jadi, dunia digital hanya ada dalam game, bukan kehidupan nyata.


Anggapan seperti itu, kalau dibiarkan, tentu bakal menyesatkan dan menyulitkan banyak perusahaan yang sudah bagus. Itu akan membuat kita “gagal paham”. Ya, gagal memahami perubahan-perubahan besar yang tengah bergulir di sekitar kita.

Kini, sejak manusia melewati tahapan connectivity melalui internet, digital dan dunia nyata menyatu dalam kehidupan kita sehari-hari. Ini buktinya.

Masih ingat dengan seorang perwira TNI yang memecahkan kaca bus di jalan tol Cikunir Mei 2017 lalu? Kasus yang ada di dunia nyata itu mungkin tak akan terungkap kalau tidak ada sebuah akun Facebook yang meng-upload kejadian tersebut.

Menurut akun itu, sang perwira tadi mengendarai mobil di ruas jalan tol yang macet. Mungkin jengkel dengan kemacetan, juga merasa jalannya terhalang bus, perwira tersebut dengan tongkatnya memukul pecah kaca samping bus.


Semula perwira itu berdalih mobilnya diserempet bus. Namun, tak ada bukti soal serempetan tersebut. Akun itu menulis, “Ngaku spionnya kesenggol sampai lecet, tetapi di rekaman tidak ada lecet sama sekali. Diminta pertanggungjawaban malah kabur.” Unggahan tersebut kemudian ramai dibicarakan netizen.

Puspen TNI merespons terlebih dahulu. Melalui akun Instagram, Puspen TNI meminta maaf kepada PO bus tersebut. Lalu, menyusul sang perwira juga mengakui kesalahannya dan meminta maaf. Dia siap bertanggung jawab untuk mengganti kerugian bus.

Itu bukti betapa dunia digital kita sudah menyatu dengan dunia nyata.

Mau bukti lainnya?

Beberapa contoh kasus yang viral di medsos (media sosial).

Masih ingat kasus seorang pegawai perempuan yang bekerja di Mahkamah Agung (MA) yang marah-marah dan mencakar Aiptu Sutisna saat petugas kepolisian itu hendak menilangnya? Sutisna tidak melawan. Dia hanya menghindar. Itu peristiwa yang terjadi di dunia nyata.

Adegan amukan pegawai MA tersebut kemudian muncul di dunia maya. Seorang netizen merekamnya dan meng-upload videonya ke akun Facebook. Kejadian itu pun menjadi viral.

Berkat sikapnya yang tidak melawan, Aiptu Sutisna mendapatkan apresiasi. Bukan hanya dari masyarakat, tapi juga Kepolisian Negara RI (Polri). Sebaliknya, si pegawai MA tadi dimutasi dari jabatannya di eselon IV menjadi staf di PTUN Pekanbaru.


Pengalaman Sandvik
Saya tadi menyinggung soal betapa repotnya kalau gagal paham menyatunya dunia maya dengan dunia nyata sampai berlarut-larut. Sebab, di belahan dunia sana, masyarakatnya –terutama kalangan korporasi– sudah menikmati hasil dari penyatuan dua dunia tersebut.

Salah satu contohnya Sandvik Coromant (SC), perusahaan asal Swedia yang menjadi produsen utama cemented carbide dunia. Cemented carbide adalah material yang biasa dipakai pada mesin pemotong material logam nonbaja dan banyak dipakai industri manufaktur. Bisnis SC sempat terpuruk lantaran hadirnya produk Tiongkok yang lebih murah.

Lalu, apa yang dilakukan SC?

SC lalu melengkapi mesin pemotongnya dengan sensor. Sensor tersebut berfungsi memantau kinerja cemented carbide. Kapan alat itu terlalu stres, sudah aus, dan tiba waktunya untuk diganti. Data dari sensor tersebut kemudian dikirim ke server dan oleh server didistribusikan ke pihak-pihak yang mesti tahu soal itu. Di antaranya general manager, manajer, atau supervisor di pabrik.


Bagi banyak pabrik, informasi semacam itu sangat penting. Jangan sampai pabrik berhenti beroperasi gara-gara mesin pemotong logamnya rusak. Biaya untuk shutdown dan menghidupkan kembali pabrik, bisa sangat mahal.

Informasi semacam itulah yang kemudian menjadi nilai lebih bagi SC ketimbang produk sejenis dari Tiongkok. Pelanggan pun beralih dari produk buatan Tiongkok ke buatan SC.

Itu contoh kasus di dunia korporasi yang memakai teknologi untuk menggabungkan dunia digital (informasi dari sensor) dengan dunia nyata (pekerjaan di pabrik). Kasus lainnya masih banyak.

Misalnya, ada Rolls-Royce yang memasang sensor di mesin pesawat terbang. Ketika pesawat masih berada di udara, kondisi mesin sudah terpantau. Saat mendarat, kalau ada komponen mesin yang perlu diganti, itu bisa langsung dilakukan tanpa pesawat perlu masuk hanggar. Jadi, pesawat bisa langsung terbang lagi. Itu tentu meningkatkan kinerja operasional pesawat.


Dunia 4.0
Dalam lingkungan masyarakat, para petugas layanan publik bisa memantau sejumlah kejadian dengan adanya CCTV. Ingat dengan pembalap MotoGP Nicky Hayden yang meninggal dunia karena tertabrak mobil? Melalui CCTV, pihak kepolisian mendapati bahwa Nicky Hayden lalai.

Hayden bersepeda sambil mendengarkan musik melalui iPod. Akibatnya, dia tak mendengar suara-suara yang ada di sekitarnya, termasuk mobil-mobil yang lalu-lalang di perempatan jalan. Salah satu mobil itulah yang kemudian menabrak Hayden.

Belajar dari kejadian tersebut, kita mungkin bisa memprakarsai gerakan no gadget saat melakukan aktivitas di area-area publik. Kini kita sudah memasuki dunia versi 4.0. Dunia maya atau digital dan dunia nyata sudah menyatu. Namun, banyak musibah terjadi gara-gara masyarakat kita masih merasa seolah-olah berada di dua dunia yang berbeda.

Misalnya masih terus memakai smartphone saat menyetir mobil atau mengendarai sepeda motor –sesuatu yang banyak kita jumpai di masyarakat kita. Juga terus memakai smartphone saat tengah berjalan di trotoar atau area publik lainnya. Itu fenomena yang ada di mana-mana. Mereka berjalan seenaknya sambil matanya tak henti menatap layar smartphone dan tangannya terus menyentuh-nyentuh layar atau papan ketik.


Padahal, sudah banyak video yang menayangkan orang-orang yang tersandung atau terperosok lubang karena terlalu asyik dengan smartphone-nya. Atau menabrak orang lain yang melintas di hadapannya; menabrak tiang atau pintu; bahkan tertabrak sepeda, sepeda motor, hingga mobil lantaran menyeberang jalan secara sembarangan.

Di Jerman, seorang petugas pengatur sinyal dituding bertanggung jawab atas kecelakaan kereta yang mengakibatkan 150 orang mengalami luka-luka dan 11 orang meninggal dunia. Menurut jaksa, sesaat sebelum kecelakaan terjadi, petugas itu asyik bermain game online via ponselnya. Akibatnya, dia menekan tombol yang salah. Informasi yang salah itulah yang diterima dua masinis dari dua kereta berbeda. Dan kecelakaan pun tak terelakkan.

Di dunia 4.0, era di mana semua serba terkoneksi, kita tak mau ada masyarakat yang gagal paham bahwa dunia digital sudah menyatu dengan dunia nyata. Sebab, risikonya bisa sangat fatal.

Rhenald Kasali,
Akademisi dan Praktisi Bisnis yang juga Guru Besar bidang Ilmu Manajemen di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia; Pendiri Rumah Perubahan
JAWA POS, 19 Juni 2017

Sunday, October 19, 2014

Ben Affleck dan Islam Maya


Aktor Ben Affleck secara tegas membela Islam dalam sebuah acara TV secara langsung. Acara bincang-bincang Real Time with Bill Maher --yang tayang di stasiun televisi Amerika Serikat HBO-- berubah menjadi perdebatan sengit tentang Islam ketika Bill Maher dan penulis terkenal Sam Harris bicara tentang Islam radikal.

Sang pemeran The New Batman ini menyebut mereka telah melakukan stereotipisasi terhadap umat Islam. Bagi banyak kalangan, boleh jadi kasus Ben Affleck menghasilkan anomali. Ini bisa dipahami karena sikap Ben Affleck, seorang Barat dan non-Muslim, keluar dari bilik tradisional dan repertoar umum bahwa Islam yang dihadirkan oleh media Barat adalah Islam yang sudah di-setting, ‘ditundukkan’, atau dijinakkan oleh pihak-pihak resisten terhadap Islam.

Pilihan sikap Affleck, seorang penganut Protestan yang tampil sebagai advokat bagi wajah dan umat Islam, memperlihatkan efek simalakama stigmatisasi Islam dan Muslim. Pemojokan dan stereotip secara konstan terhadap Islam dan Muslim dari media Barat justru membangkitkan para pembela Islam dari lingkungan Barat sendiri.

Beberapa aktor Hollywood; Angelina Jolie, Rihanna, Selena Gomez, Mark Ruffalo, Coldplay, Penelope Cruz, Javier Bardem, yang Pro-Palestina.

Alih-alih membuat orang makin benci dengan Islam dan perilaku umatnya dengan agenda setting yang canggih, yang justru lahir adalah tren oposisi internal dari pihak yang bukan berasal dari lingkungan Islam sendiri. Bila sebelumnya media Barat konsisten membela para penghujat Islam dari lingkungan Islam dan Barat, kini yang mulai berlaku adalah munculnya para pembela Islam dari lingkungan Barat sendiri.

Aksi advokatif Ben Affleck ini sebetulnya bagian dari barisan kafilah panjang pekerja seni Hollywood yang makin tercerahkan lewat sisi kemanusiaan. Nama-nama semisal Angelina Jolie, Rihanna, Selena Gomez, Mark Ruffalo, Coldplay, Penelope Cruz, Javier Bardem, dan Russell Brand adalah sejumlah aktor dan artis Hollywood yang menghendaki kemerdekaan Palestina sewaktu krisis Gaza beberapa waktu lalu.

Secara pribadi agaknya pembelaan Ben Affleck terkait erat dengan pengalaman debutnya dalam berbagai layar lebar, semisal ketika membintangi film Argo yang bercerita tentang pembebasan pegawai Kedutaan Amerika saat Revolusi Islam Iran terjadi dan gerakan anti-Amerika begitu kuat. Pengalaman menggarap Argo dan pemahamannya tentang Islam membuatnya berani membela Islam meski bukan penganut Islam.

Inilah sikap toleran dalam memahami bagaimana seharusnya agama itu bisa saling menerangi, bukan saling membunuh. Meski dengan sikapnya itu, ia harus menghadapi serangan dari berbagai pihak.

Kesalahfahaman Barat terhadap Islam, sampai kapan?

Efek bumerang, hasil buah simalakama, atau konsekuensi pagar makan tanaman dari politik stigmatisasi Islam oleh media Barat telah melahirkan apa yang bisa disebut sebagai “Islam maya”, yakni wajah Islam yang dibentuk secara online. Hari ini Islam tak lagi dipahami lewat “Islam media”, lewat media-media konvensional semisal buku, majalah, atau koran.

Lebih dari itu, “Islam maya” membuat orang menatap dan memahami Islam dan kaum Muslim lewat jalur sosial media dan citizen journalism (jurnalisme warga). Pelbagai tulisan, foto, dan berita menyangkut Islam dan kaum Muslim menjadi lebih personal, cepat, dan tak dibatasi oleh bilik-bilik pembatas, semisal harga yang mahal, akses yang sulit, hingga levelisasi pemahaman.

Acara Real Time with Bill Maher yang menampilkan Ben Affleck menyibak tabir eksklusivisme media bahwa pemegang hak paten atas interpretasi Islam tidak lagi sepenuhnya ditentukan oleh media arus utama (mainstream media), tapi sudah beralih kepada para pemilik akun jaringan medsos (media sosial) yang bisa dimiliki oleh siapa saja dan di mana saja.

Ben Affleck adalah pemeran utama dalam film Argo yang berkisah tentang pembebasan pegawai Kedutaan Amerika saat Revolusi Islam Iran.

Deretan komentar maupun kutipan status di Facebook atau Twitter merespons objektivitas Ben Affleck menyangkut pembajakan terhadap Islam, ternyata jauh lebih mempengaruhi wacana publik ketimbang siaran berita atau pendapat pakar di berbagai stasiun TV atau media cetak.

Benar bahwa pemahaman Islam yang hanya bersandar kepada kombinasi dari internet, media sosial, dan mobilitas dunia maya berisiko terjerembab ke dalam pubertas keagamaan yang bercirikan meningkatnya ekspresi keagamaan secara cepat, tapi tidak punya imunitas akidah yang kokoh sehingga mengakibatkan penurunan kualitas keimanan yang jauh lebih cepat.

Meskipun begitu, kehadiran “Islam maya” berkat media sosial dan jurnalisme warga dipercayai kuat akan menarik umat Islam untuk tidak lagi malu-malu mengaktualisasikan keberagamaannya di satu sisi dan mengundang kalangan luar Islam untuk menghapus pola-pola sistematis yang mendiskreditkan Islam di sisi lain.

Donny Syofyan,
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
REPUBLIKA, 11 Oktober 2014

Ben Affleck, beserta isteri (Jennifer Garner) dan putra-putri mereka.

Ben Affleck yang bernama lengkap Benjamin Geza Affleck (lahir 15 Agustus 1972; umur 42 tahun) adalah aktor, sutradara, dan produser Amerika yang pernah memenangkan penghargaan Academy Award kategori penulis cerita terbaik lewat film Good Will Hunting tahun 1997. Ia berkarier di film sejak era pertengahan 1990-an berawal lewat sebuah peran di film Mallrats (1995) dan Chasing Amy (1997). Dia dikenal sebagai aktor utama pria papan atas Hollywood dan pernah bemain dalam film-film sukses berdana besar seperti Armageddon (1998), Pearl Harbor (2001), Changing Lanes (2002), The Sum of All Fears (2002) dan Daredevil (2003). Ia pernah berkolaborasi peran bersama adik laki-lakinya, aktor Casey Affleck.

Affleck pernah menjalin hubungan dengan aktris papan atas Hollywood, Gwyneth Paltrow tahun 1998. Setelah putus dari Paltrow, ia menjalin hubungan dengan penyanyi kelas dunia Jennifer Lopez pada tahun 2002, namun keduanya berpisah dan gagal bertunangan pada tahun 2004. Kemudian pada tahun yang sama Afflek kembali menjalin hubungan dengan aktris Hollywood Jennifer Garner, lawan mainnya dalam film Daredevil. Affleck menikah dengan Garner pada 29 Juni 2005. Pernikahan mereka membuahkan dua orang putri: Violet Anne Affleck (lahir Desember 2005), Seraphina Rose Elizabeth Affleck (lahir Januari 2009) dan seorang putra: Samuel Garner Affleck (lahir Februari 2012).

http://id.wikipedia.org/wiki/Ben_Affleck