Monday, August 18, 2008

Globalisasi Pemiskinan


Setelah beberapa anak balita meninggal karena gizi buruk di Kabupaten Rote Ndao, tragedi kemiskinan kembali terulang di NTT. Ibu muda di Kabupaten Timor Tengah Selatan tewas menggantung diri setelah meracuni putri semata wayangnya, Kamis (3/7).

Magdalena terimpit biaya hidup yang melambung dan utang yang belum terbayar, sementara suaminya hanya penganggur. Ia tidak tega melihat buah hatinya menderita. Gagal hidup seperti itu pertanda kelalaian dan ketidakberdayaan pemerintah yang terjebak globalisasi pemiskinan. Tiada arti kedaulatan teritorial tanpa kedaulatan pangan dan energi.

Warga miskin terjepit di antara pasar (global) dan negara. Pemerintah bertanggung jawab melindungi warga miskin dari mekanisme harga pasar dan pada saat yang sama memperkuat basis ekonomi warga. Berhadapan dengan pasar, posisi tawar negara harus kuat untuk menjamin ketersediaan dan keterjangkauan kebutuhan dasar warga. Ketika negara gagal merepresentasikan kepentingan warga lemah, rasionalitas bernegara digugat.

Keterbukaan gradual

Globalisasi bukan kambing hitam. Kini pihak pro-kontra kian merapat dalam tolok ukur keberhasilan globalisasi. Pengentasan rakyat dari kemiskinan dan pembangunan ekonomi berkelanjutan. Meski demikian, penganjur liberalisasi perdagangan masih menggiring opini negara miskin dan berkembang bahwa indikator pertumbuhan adalah tingginya volume perdagangan, yang diyakini berdampak langsung pada pemerataan distribusi pendapatan dan pengurangan tingkat kemiskinan. Berdasarkan itu juga, Bank Dunia membagi negara menjadi globalizers dan nonglobalizers.

Benar, selama 50 tahun terakhir tak ada negara dengan kebijakan ekonomi tertutup tumbuh lebih cepat dari yang terbuka. Namun, sama benarnya, tidak ada negara yang tumbuh hanya karena membuka diri kepada perdagangan luar negeri dan investasi asing. Pokok masalah bukan proteksi atau liberalisasi.

Fakta yang diabaikan, China baru belakangan serius meliberalisasi perdagangan dan menjadi anggota Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) tahun 2001. Sebelum itu, China menerapkan banyak kebijakan yang bertentangan dengan liberalisasi perdagangan. Pasar keuangan tertutup bagi investor asing. Tiada privatisasi BUMN. Namun, China memanfaatkan peran pasar, insentif swasta, dan inovasi kelembagaan yang disesuaikan kondisi lokal.

Selama periode pertumbuhan tinggi di China tahun 1980-an, rata-rata tarif lebih tinggi daripada periode pertumbuhan rendah tahun 1970. Reformasi perdagangan baru dilakukan satu dekade sesudah ekonomi tumbuh lebih tinggi. Secara parsial dan gradual membuka diri kepada produk impor dan investasi asing. Demikian juga India. Hingga pertengahan 1990-an, restriksi perdagangan kedua negara itu tertinggi di dunia.

Kisah serupa juga terjadi dengan Vietnam (bukan anggota WTO) yang perdagangan luar negerinya dimonopoli negara. Tarif tinggi dikenakan untuk impor produk pertanian dan industri (30-50 persen). Meski demikian, Vietnam cepat terintegrasi dengan ekonomi global. Ekspansi perdagangan mencapai dua digit. Angka pertumbuhan PDB lebih dari delapan persen. Tingkat kemiskinan menurun tajam.

Sebaliknya, Haiti (anggota WTO) drastis menurunkan tarif impor hingga 15 persen dan meniadakan semua restriksi kuantitatif. Namun, ekonomi stagnan. Tingkat investasi asing rendah. Integrasi dengan ekonomi global hanya maju sedikit. Bahkan, indikator sosial memburuk.

Dengan demikian, tiada resep tunggal untuk pertumbuhan ekonomi (Dani Rodrik, One Economics, Many Recipes: Globalization, Institutions, and Economic Growth, 2007). Tiap negara harus menentukan prioritas kebijakan ekonominya dengan tepat, sesuai keunggulan komparatif dan kompetitifnya. Kejelian memanfaatkan kesempatan yang ditawarkan pasar global dikombinasikan dengan investasi dan pelembagaan kewirausahaan di dalam negeri.


Negara lemah

Negara-negara termiskin di Afrika gagal tumbuh. Mereka tak terisolasi dari proses globalisasi, tetapi terglobalisasi secara negatif (Paul Collier, The Bottom Billion: Why the Poorest Countries Are Failing and What Can Be Done About It, 2007). Semua sumber daya terkuras ke luar. Eksploitasi sumber daya alam. Investasi warga kaya di luar negeri. Migrasi kaum terpelajar ke negara-negara lain (brain drain).

Negara-negara gagal itu ada di posisi terbawah sistem ekonomi global. Mereka tak hanya terbelakang (falling behind), tetapi juga di ambang kehancuran (falling apart). Maka, dampak terintegrasi dengan ekonomi global bagai pedang bermata dua. Mengurangi tingkat kemiskinan atau mempercepat proses pemiskinan.

Indonesia boleh bernapas lega, meski harus dicatat, Sierra Leone dulu pernah lebih baik dari India dan China. Namun, ada sebuah indikator yang memprihatinkan sejak zaman kolonial, yaitu sumber daya alam kita terus terkuras. Daya tawar republik merdeka lemah berhadapan dengan kepentingan asing.

Rasa kurang percaya diri kita merupakan warisan mentalitas terjajah. Pejabat membiarkan kontrak karya jangka panjang yang merugikan bangsa. Tak terhindar kesan menghamba kepentingan asing. Lemah mental itu diperparah dengan lemahnya kemauan pejabat untuk pasang badan demi kepentingan bangsa. Birokrasi kita dipenuhi orang yang kekuatan integritasnya digerogoti mentalitas korupsi.

Efek negara lemah, pemerintah diam saja melihat rupiah tidak laku di lokasi resor yang disewakan kepada pihak asing. Bahkan, ada resor yang tertutup bagi WNI. Pemerintah diam saja atas insiden pembakaran puluhan kapal nelayan tradisional kita yang dituduh melanggar batas teritorial Australia. Nasib seperti itu belum pernah menimpa kapal asing modern yang jelas menjarah hasil laut di perairan kita.

Dalam indeks pembatasan tarif perdagangan di kawasan Asia Timur dan Pasifik, Indonesia menduduki peringkat ke-50 dari 125 negara. Namun, tingkat tarif yang kompetitif di kawasan regional itu tidak membawa hasil optimal karena buruknya layanan birokrasi, inefisiensi pelabuhan, dan fasilitas perdagangan lain. Dengan ketidaksiapan internal seperti itu, sebenarnya keterbukaan Indonesia mengundang neokolonialisme ekonomi.

Maka, saatnya pemerintah mengkaji ulang keterbukaannya dan mundur selangkah (untuk maju) dalam jangka pendek. Reposisi kebijakan pasar demi keadilan dan pertumbuhan berkelanjutan. Proteksi dan restriksi demi kemandirian bangsa. Sementara itu, pemberantasan korupsi dan reformasi birokrasi dilakukan radikal guna memperkuat daya saing bangsa. Langkah mundur seperti itu tentu bisa diterima pasar (market-friendly).


Yonky Karman, Pengajar di Sekolah Tinggi Teologi Jakarta.

KOMPAS, 8 Agustus 2008

2 comments:

Kulyubi Ismangun said...

RAMALAN JOYOBOYO

Tanah Jawa kalungan wesi.
The island of Java will be circled by an iron necklace.

Prahu mlaku ing dhuwur awang-awang.
There will be a boat flying in the sky.

Kali ilang kedhunge.
The river will loose its current.

Pasar ilang kumandhang.
There will be markets without crowds.

Iku tanda yen tekane jaman Jayabaya wis cedhak.
These are the signs that the Jayabaya era is coming.

----------------------------

Bumi saya suwe saya mengkeret.
The earth will shrink.

Sekilan bumi dipajeki.
Every inch of land will be taxed.

Jaran doyan mangan sambel.
Horses will devour chili sauce.

Wong wadon nganggo pakaian lanang.
Women will dress in men’s clothes.

Iku tandane yen wong bakal nemoni wolak-waliking jaman.

These are the signs that the people and their
civilization have been turned upside down.

----------------------------

Akeh janji ora ditetepi.
Many promises unkept.

Akeh wong wani mlanggar sumpahe dhewe.
Many break their oath.

Manungsa pada seneng nyalah.
People will tend to blame on each other.

Ora ngindahake hukum tuhan.
They will ignore God’s law.

Barang jahat diangkat-angkat.
Evil things will be lifted up.

Barang suci dibenci.
Holy things will be despised.

Akeh manungsa mung ngutamake duwit.
Many people will become fixated on money.

Lali kamanungsan.
Ignoring humanity.

Lali kabecikan.
Forgetting kindness.

Lali sanak lali kadang.
Abandoning their families.

Akeh Bapa lali anak.
Fathers will abandon their children.

Akeh anak wani nglawan ibu.
Children will be disrespectful to their mothers.

Nantang bapa.
And battle against their fathers.

Sedulur pada cidra.
Siblings will collide violently.

Kulawarga pada curiga.
Family members will become suspicious of each other.

Kanca dadi mungsuh.
Friends become enemies.

Akeh manungsa lali asale.
People will forget their roots.

Ukuman Ratu ora adil.
The queen’s judgements will be unjust.

Akeh pangkat sing jahat lan ganjil.
There will be many peculiar and evil leaders.

Akeh kelakuan sing ganjil.
Many will behave strangely.

Wong apik-apik pada kepencil.
Good people will be isolated.

Akeh wong nyambut gawe apik-apik pada krasa isin.
Many people will be too embarrassed to do the right
things.

Luwih utama ngapusi.
Choosing falsehood instead.

Wegah nyambut gawe.
Many will be lazy to work.

Kepingin urip mewah.
Seduced by luxury.

Ngumbar nafsu angkara murka, nggedhekake duraka.
They will take the easy path of crime and deceit.

Wong bener thenger-thenger.
The honest will be confused.

Wong salah bungah.
The dishonest will be joyful.

Wong apik ditampik-tampik.
The good will be rejected.

Wong jahat munggah pangkat.
The evil ones will rise to the top.

Wong agung kesinggung.
Noble people will be wounded by unjust criticism.

Wong ala kepuja.
Evil doers will be worshipped.

Wong wadon ilang kawirangane.
Women will become shameless.

Wong lanang ilang kaprawirane.
Men will loose their courage.

Akeh wong lanang ora duwe bojo.
Men will choose not to get married.

Akeh wong wadon ora setya marang bojone.
Women will be unfaithful to their husbands.

Akeh ibu pada ngedol anake.
Mothers will sell their babies.

Akeh wong wadon ngedol awake.
Women will engage in prostitution.

Akeh wong ijol bebojo.
Couples will trade partners.

Wong wadon nunggang jaran.
Women will ride horses.

Wong lanang linggih plangki.
Men will be carried in a stretcher.

Randa seuang loro.
A divorcee will be valued at 17 cents.

Prawan seaga lima.
A virgin will be valued at 10 cents.

Duda pincang laku sembilan uang.
A crippled men will be valued at 75 cents.

Akeh wong ngedol ngelmu.
Many will earn their living by trading their
knowledge.

Akeh wong ngaku-aku.
Many will claims other’s merits as their own.

Njabane putih njerone dadu.
It is only a cover for the dice.

Ngakune suci, nanging sucine palsu.
They will proclaim their righteousness despite their
sinful ways.

Akeh bujuk akeh lojo.
Many will use sly and dirty tricks.

Akeh udan salah mangsa.
Rains will fall in the wrong season.

Akeh prawan tuwa.
Many women will remain virgins into their old age.

Akeh randa nglairake anak.
Many divorcees will give birth.

Akeh jabang bayi lahir nggoleki bapakne.
Newborns will search for their fathers.

Agama akeh sing nantang.
Religions will be attacked.

Perikamanungsan saya ilang.
Humanitarianism will no longer have importance.

Omah suci dibenci.
Holy temples will be hated.

Omah ala saya dipuja.
They will be more fond of praising evil places.

Wong wadon lacur ing ngendi-endi.
Prostitution will be everywhere.

Akeh laknat.
There will be many worthy of damnation.

Akeh pengkhianat.
There will be many betrayals.

Anak mangan bapak.
Children will be against father.

Sedulur mangan sedulur.
Siblings will be against siblings.

Kanca dadi mungsuh.
Friends will become enemies.

Guru disatru.
Students will show hostility toward teachers.

Tangga pada curiga.
Neighbours will become suspicious of each other.

Kana-kene saya angkara murka.
And ruthlessness will be everywhere.

Sing weruh kebubuhan.
The eyewitness has to take the responsibility.

Sing ora weruh ketutuh.
The ones who have nothing to do with the case will be
prosecuted.

Besuk yen ana peperangan.
One day when there will armagedon.

Teka saka wetan, kulon, kidul lan lor.
In the east, in the west, in the south, and in the
north.

Akeh wong becik saya sengsara.
Good people will suffer more.

Wong jahat saya seneng.
Bad people will be happier.

Wektu iku akeh dandang diunekake kuntul.
When this happens, a rice cooker will be said to be an
egret.

Wong salah dianggep bener.
The wrong person will be assumed to be honest.

Pengkhianat nikmat.
Betrayers will live in the utmost of material comfort.

Durjono saya sempurna.
The deceitful will decline even further.

Wong jahat munggah pangkat.
The evil persons will rise to the top.

Wong lugu kebelenggu.
The modest will be trapped.

Wong mulyo dikunjoro.
The noble will be imprisoned.

Sing curang garang.
The fraudulent will be ferocious.

Sing jujur kojur.
The honest will unlucky.

Pedagang akeh sing keplarang.
Many merchants will fly in a mess.

Wong main akeh sing ndadi.
Gamblers will become more addicted to gambling.

Akeh barang haram.
Illegal things will be everywhere.

Akeh anak haram.
Many babies will be born outside of legal marriage.

Wong wadon nglamar wong lanang.
Women will propose marriage.

Wong lanang ngasorake drajate dhewe.
Men will lower their own status.

Akeh barang-barang mlebu luang.
The merchandise will be left unsold.

Akeh wong kaliren lan wuda.
Many people will suffer from starvation and inability
to afford clothing.

Wong tuku nglenik sing dodol.
Buyers will become more sophisticated.

Sing dodol akal okol.
Sellers will have to use their brains and muscle to do
business.

Wong golek pangan kaya gabah diinteri.
In the way they earn a living, people will be as rice
paddies being swung around and blown up.

Sing kebat kliwat.
Some will go wild out of control.

Sing telah sambat.
Those who are not ambitious will complaint of being
left behind.

Sing gede kesasar.
The ones on the top will get lost.

Sing cilik kepleset.
The ordinary people will slip.

Sing anggak ketunggak.
The arrogant ones will be impaled.

Sing wedi mati.
The fearful ones will not survive.

Sing nekat mbrekat.
The risk takers will be successful.

Sing jerih ketindhih.
The ones who are afraid of taking the risks will be
crushed under foot.

Sing ngawur makmur,
The careless ones will be wealthy.

Sing ngati-ati ngrintih.
The careful ones will whine about their suffering.

Sing ngedan keduman.
The crazy ones will get their portion.

Sing waras nggagas.
The ones who are mentally and physically healthy will
think wisely.

Wong tani ditaleni.
The farmers will be controlled.

Wong dora ura-ura.
Those who are corrupt will spend their fortune
lavishly.

Ratu ora netepi janji, musna kekuasaane.
The queen who does not keep her promises will lose her
power.

Bupati dadi rakyat.
The leaders will become ordinary persons.

Wong cilik dadi priyayi.
The ordinary people will become leaders.

Sing mendele dadi gede,
The dishonest persons will rise to the top.

Sing jujur kojur.
The honest ones will be unlucky.

Akeh omah ing nduwur jaran.
There will be many people own a house on horseback.

Wong mangan wong.
People will attack other people.

Anak lali bapak.
Children will ignore their fathers.

Wong tuwa lali tuwane.
Parents will not want to take their responsibility as
parents.

Pedagang adol barang saya laris.
Merchants will sell out of their merchandise.

Bandane saya ludes.
Yet, they will lose money.

Akeh wong mati kaliren ing sisihe pangan.
Many people will die from starvation in prosperous
times.

Akeh wong nyekel banda nanging uripe sengsara.
Many people will have lots of money yet, be unhappy in
their lives.

Sing edan bisa dandan.
The crazy one will be beautifully attired.

Sing bengkong bisa nggalang gedong.
The insane will be able to build a lavish estate.

Wong waras lan adil uripe nggrantes lan kepencil.
The ones who are fair and sane will suffer in their
lives and will be
isolated.

Ana peperangan ing njero.
There will be internal wars.

Timbul amarga para pangkat akeh sing pada salah paham.
As a result of misunderstandings between those at the
top.

Durjana saya ngambra-ambra.
The numbers of evil doers will increase sharply.

Penjahat saya tambah.
There will be more criminals.

Wong apik saya sengsara.
The good people will live in misery.

Akeh wong mati jalaran saka peperangan.
There will be many people die in a war.

Kebingungan lan kobongan.
Others will be disoriented, and their property burnt.

Wong bener saya tenger-tenger.
The honest will be confused.

Wong salah saya bungah-bungah.
The dishonest will be joyful.

Akeh banda musna ora karuan lungane.
There will be disappearance of great riches.

Akeh pangkat lan drajat pada minggat ora karuan
sababe.
There will be disappearance of great titles, and jobs.

Akeh barang-barang haram, akeh bocah haram.
There will be many illegal goods.

Bejane sing lali, bejane sing eling.
There will be many babies born without fathers.

Nanging sauntung-untunge sing lali.
Those people who forget God’s Will may be happy on
earth.

Isih untung sing waspada.
But those who are remember God’s will are destined to
be happier still.

Angkara murka saya ndadi.
Ruthlessness will become worse.

Kana-kene saya bingung.
Everywhere the situation will be chaotic.

Pedagang akeh alangane.
Doing business will be more difficult.

Akeh buruh nantang juragan.
Workers will challenge their employers.

Juragan dadi umpan.
The employers will become bait for their employees.

Sing suwarane seru oleh pengaruh.
Those who speak out will be more influential.

Wong pinter diingar-ingar.
The wise ones will be ridiculed.

Wong ala diuja.
The evil ones will be worshipped.

Wong ngerti mangan ati.
The knowledgeable ones will show no compassion.

Banda dadi memala.
The pursuit of material comfort will incite crime.

Pangkat dadi pemikat.
Job titles will become enticing.

Sing sawenang-wenang rumangsa menang.
Those who act arbitrarily will feel as if they are the
winners.

Sing ngalah rumangsa kabeh salah.
Those who act wisely will feel as if everything is
wrong.

Ana Bupati saka wong sing asor imane.
There will be leaders who are weak in their faith.

Patihe kepala judi.
Their vice regent will be selected from among the
ranks of the gamblers.

Wong sing atine suci dibenci.
Those who have a holy heart will be rejected.

Wong sing jahat lan pinter jilat saya derajat.
Those who are evil, and know how to flatter their
boss,will be promoted.

Pemerasan saya ndadra.
Human exploitation will be worse.

Maling lungguh wetenge mblenduk.
The corpulent thieves will be able to sit back and
relax.

Pitik angkrem saduwurane pikulan.
The hen will hacth eggs in a carrying pole.

Maling wani nantang sing duwe omah.
Thieves will not be afraid to challenge the target.

Begal pada ndugal.
Robbers will dissent into greater evil.

Rampok pada keplok-keplok.
Looters will be given applause.

Wong momong mitenah sing diemong.
People will slander their caregivers.

Wong jaga nyolong sing dijaga.
Guards will steel the very things they are to protect.

Wong njamin njaluk dijamin.
Guarantors will ask for collateral.

Akeh wong mendem donga.
Many will ask for blessings.

Kana-kene rebutan unggul.
Everybody will compete for personal victory.

Angkara murka ngombro-ombro.
Ruthlessness will be everywhere.

Agama ditantang.
Religions will be questioned.

Akeh wong angkara murka.
Many people will be greedy for power, wealth and
position.

Nggedeake duraka.
Rebelliousness will increase.

Ukum agama dilanggar.
Religious law will be broken.

Perikamanungsan di-iles-iles.
Human rights will be violated.

Kasusilan ditinggal.
Ethics will left behind.

Akeh wong edan, jahat lan kelangan akal budi.
Many will be insane, cruel and immoral.

Wong cilik akeh sing kepencil.
Ordinary people will be segregated.

Amarga dadi korbane si jahat sing jajil.
They will become the victims of evil and cruel
persons.

Banjur ana Ratu duwe pengaruh lan duwe prajurit.
Then there will come a queen who is influential.

Lan duwe prajurit
She will have her own armies.

Negarane ambane sapra-walon.
Her country will measured one-eighth the circumference
ofthe world.

Tukang mangan suap saya ndadra.
The number of people who commit bribery will increase.

Wong jahat ditampa.
The evil ones will be accepted.

Wong suci dibenci.
The innocent ones will be rejected.

Timah dianggep perak.
Tin will be thought to be silver.

Emas diarani tembaga.
Gold will be thought to be copper.

Dandang dikandakake kuntul.
A rice cooker will be thought to be an egret.

Wong dosa sentosa.
The sinful ones will be safe and live in tranquility.

Wong cilik disalahake.
The poor will be blamed.

Wong nganggur kesungkur.
The unemployed will be rooted up.

Wong sregep krungkep.
The diligent ones will be forced down.

Wong nyengit kesengit.
The people will seek revenge against the fiercely
violent ones.

Buruh mangluh.
Workers will suffer from overwork.

Wong sugih krasa wedi.
The rich will feel unsafe.

Wong wedi dadi priyayi.
People who belong to the upper class will feel
insecure.

Senenge wong jahat.
Happiness will belong to evil persons.

Susahe wong cilik.
Trouble will belong to the poor.

Akeh wong dakwa dinakwa.
Many will sue each other.

Tindake menungsa saya kuciwa.
Human behaviour will fall short of moral
enlightenment.

Ratu karo Ratu pada rembugan negara endi sing dipilih
lan disenengi.
Leaders will discuss and choose which countries are
their favourites and which ones are not.

Wong Jawa kari separo,
The Javanese will remain half.

Landa-Cina kari sejodo.
The Dutch and the Chinese each will remain a pair.

Akeh wong ijir, akeh wong cethil.
Many become stingy.

Sing eman ora keduman.
The stingy ones will not get their portion.

Sing keduman ora eman.
The ones who receive their portion will be generous.

Akeh wong mbambung.
Street beggars will be everywhere.

Akeh wong limbung.
Bewildered persons will be everywhere.

Selot-selote mbesuk wolak-waliking jaman teka.

These are the signs that the people and their
civilization have been turned upside down

Kulyubi Ismangun said...

Sosialisme dan Agama
V.I. Lenin (1905)
________________________________________
Sumber: V. I. Lenin, Collected Works, Edisi Bahasa Inggris yang ke-4, Progress Publishers, Moscow, 1972, Cetakan ke-3, halaman 83-87
Penerjemah: Anonim (1997). Diedit oleh Anonim (Desember 1998)
________________________________________
Masyarakat yang ada saat ini sepenuhnya didasarkan atas eksploitasi yang dilakukan oleh sebuah minoritas kecil penduduk, yaitu kelas tuan tanah dan kaum kapitalis, terhadap masyarakat luas yang terdiri atas kelas pekerja. Ini adalah sebuah masyarakat perbudakan, karena para pekerja yang "bebas", yang sepanjang hidupnya bekerja untuk kaum kapitalis, hanya "diberi hak" sebatas sarana subsistensinya. Hal ini dilakukan kaum kapitalis guna keamanan dan keberlangsungan perbudakan kapitalis.
Tanpa dapat dielakkan, penindasan ekonomi terhadap para pekerja membangkitkan dan mendorong setiap bentuk penindasan politik dan penistaan terhadap masyarakat, menggelapkan dan mempersuram kehidupan spiritual dan moral massa. Para pekerja bisa mengamankan lebih banyak atau lebih sedikit kemerdekaan politik untuk memperjuangkan emansipasi ekonomi mereka, namun tak secuil pun kemerdekaan yang akan bisa membebaskan mereka dari kemiskinan, pengangguran, dan penindasan sampai kekuasaan dari kapital ditumbangkan. Agama merupakan salah satu bentuk penindasan spiritual yang dimanapun ia berada, teramat membebani masyarakat, teramat membebani dengan kebiasaan mengabdi kepada orang lain, dengan keinginan dan isolasi. Impotensi kelas tertindas melawan eksploitatornya membangkitkan keyakinan kepada Tuhan, jin-jin, keajaiban serta jang sedjenisnya, sebagaimana ia dengan tak dapat disangkal membangkitkan kepercayaan atas adanya kehidupan yang lebih baik setelah kematian. Mereka yang hidup dan bekerja keras dalam keinginan, seluruh hidup mereka diajari oleh agama untuk menjadi patuh dan sopan ketika di sini di atas bumi dan menikmati harapan akan ganjaran-ganjaran surgawi. Tapi bagi mereka yang mengabdikan dirinya pada orang lain diajarkan oleh agama untuk mempraktekkan karitas selama ada di dunia, sehingga menawarkan jalan yang mudah bagi mereka untuk membenarkan seluruh keberadaannya sebagai penghisap dan menjual diri mereka sendiri dengaan tiket murah untuk menuju surga. Agama merupakan candu bagi masyarakat. Agama merupakan suatu minuman keras spiritual, di mana budak-budak kapital menenggelamkan bayangan manusianya dan tuntutan mereka untuk hidup yang sedikit banyak berguna untuk manusia.
Tetapi seorang budak yang menjadi sadar akan perbudakannya dan bangkit untuk memperjuangkan emansipasinya ternyata sudah setengah berhenti sebagai budak. Para buruh modern yang berkesadaran-kelas, digunakan oleh industri pabrik skala besar dan diperjelas oleh kehidupan perkotaan yang merendahkan kedudukan di samping prasangka-prasangka religius, meninggalkan surga kepada parra pastur dan borjuis fanatik, dan mencoba meraih kehidupan yang lebih baik untuk dirinya sendiri di atas bumi ini. Proletariat sekarang ini berpihak pada sosialisme, yang mencatat pengetahuan dalam perang melawan kabut agama, dan membebaskan para pekerja dari keyakinan terhadap kehidupan sesudah mati dengan mempersatukan mereka bersama guna memperjuangkan masa sekarang untuk kehidupan yang lebih baik di atas bumi ini.
Agama harus dinyatakan sebagai urusan pribadi. Dalam kata-kata inilah kaum sosialis biasa menyatakan sikapnya terhadap agama. Tetapi makna dari kata-kata ini harus dijelaskan secara akurat untuk mencegah adanya kesalahpahaman apapun. Kita minta agar agama dipahami sebagai sebuah persoalan pribadi, sepanjang seperti yang diperhatikan oleh negara. Namun sama sekali bukan berarti kita bisa memikirkan agama sepanjang seperti yang diperhatikan oleh Partai. Sudah seharusnya agama tidak menjadi perhatian negara, dan masyarakat religius seharusnya tidak berhubungan dengan otoritas pemerintahan. Setiap orang sudah seharusnya bebas mutlak menentukan agama apa yang dianutnya, atau bahkan tanpa agama sekalipun, yaitu, menjadi seorang atheis, dimana bagi kaum sosialis, sebagai sebuah aturan. Diskriminasi diantara para warga sehubungan dengan keyakinan agamanya sama sekali tidak dapat ditolerir. Bahkan untuk sekedar penyebutan agama seseorang di dalam dokumen resmi tanpa ragu lagi mesti dibatasi. Tak ada subsidi yang harus diberikan untuk memapankan gereja, negara juga tidak diperbolehkan didirikan untuk masyarakat religius dan gerejawi. Hal-hal ini harus secara absolut menjadi perkumpulan bebas orang-orang yang berpikiran begitu, asosiasi yang independen dari negara. Hanya pemenuhan seutuhnya dari tuntutan ini yang dapat mengakhiri masa lalu yang memalukan dan keparat, saat gereja hidup dalam ketergantungan feodal pada negara, dan rakyat Rusia hidup dalam ketergantungan feodal pada gereja yang mapan, ketika di jaman pertengahan, hkum-hukum inquisisi (yang hingga hari ini masih mendekam dalam hukum-hukum pidana dan pada kitab undang-undang kita) ada dan diterapkan, menyiksa banyak orang untuk keyakinan maupun ketidakyakinannya, memperkosa hati nurani orang-orang, dan menggabungkan pemerintah yang enak dan pendapatan dari pemerintah, dengan dispensasi ini dan itu yang membiuskan, oleh lembaga gereja. Pemisahan yang tegas antara lembaga Negara dan Gereja adalah apa yang dituntut proletariat sosialis mengenai negara modern dan gereja modern.
Revolusi Rusia harus memberlakukan tuntutan ini sebagai sebuah komponen yang diperlukann untuk kemerdekaan politik. Dalam hal ini, revolusi Rusia berada dalam sebuah posisi yang menyenangkan, karena ofisialisme yang menjijikkan dari otokrasi feodal polisi berkuda telah menimbulkan ketidakpuasan, keresahan, dan kemarahann bahkan di antara para pendeta. Serendah-rendahnya dan sedungu-dungunya pendeta Orthodoks Rusia, mereka pun sekarang telah dibangunkan oleh guntur keruntuhan tatanan abad pertengahan yang kuno di Rusia. Bahkan mereka yang bergabung dalam tuntutan untuk kebebasan, memprotes praktek-praktek birokratik dan ofisialisme, hal memata-matai polisiyang sudah ditetapkan sebagai "pelayan Tuhan". Kita kaum sosialis harus memberikan dukungan kita pada gerakan ini, mendukung tuntutan para pendeta yang jujur dan tulus hati menuju ke tujuan mereka, membuat mereka meyakini kata-kata mereka tentang kebebasan, menuntut bahwa mereka harus memutuskan semua hubungan antara lembaga keagamaan dan kepolisian. Seperti juga bagi Anda yang tulus hati, di tiap kasus Anda harus mempertahankan pemisahan antara Gereja dengan Negara dan sekolah dengan Agama, sepanjang agama sudah dinyatakan secara tuntas dan menyeluruh sebagai urusan pribadi. Atau Anda tidak menerima tuntutan-tuntutan konsisten tentang kebebasan ini, dalam kasus dimana Anda tetap terpikat dengan tradisi inkuisisi, dalam kasus dimana Anda tetap berpegang teguh dengan kerja pemerintahan yang enak dan pendapatan dari pemerintah, dalam kasus dimana Anda tidak percaya terhadap kekuatan spiritual dari senjatamu dan melanjutkan untuk mengambil suap dari negara. Dan dalam kasus itulah para pekerja berkesadaran-kelas di seluruh Rusia menyatakan perang tanpa ampun terhadap Anda.
Sepanjang yang diperhatikan kaum sosialis proletariat, agama bukanlah sebuah persoalan pribadi. Partai kita adalah sebuah asosiasi dari para pejuang maju yang berkesadaran kelas, yang bertujuan untuk emansipasi kelas pekerja. Sebuah asosiasi seperti itu tidak dapat dan tidak seharusnya mengabaikan adanya kekurangan kesadaran- kelas, ketidaktahuan atau obscurantisme (isme kekaburan, ketidakjelasan) dalam bentuk keyakinan-keyakinan agama. Kita menuntut pembinasaan sepenuhnya terhadap Gereja dan dengannya mampu menerangi kabut religius yang begitu ideologis dan dengan sendirinya senjata ideologis, dengan sarana pers kita dan melalui kata dari mulut. Namun kita mendirikan asosiasi kita, Partai Buruh Sosial-Demokrat Rusia, tepatnya untuk sebuah perjuangan melawan setiap agama yang menina bobokan para pekerja. Dan bagi kita perjuangan ideologi bukan sebuah urusan pribadi, namun persoalan seluruh Partai, seluruh proletariat.
Jika memang demikian, mengapa kita tidak menyatakan dalam Program kita bahwa kita adalah atheis? Mengapa kita tidak melarang orang-orang Kristen dan para penganut agama Tuhan lainnya untuk bergabung dalam partai kita?
Jawaban terhadap pertanyaan ini akan memberikan penjelasan tentang perbedaan yang cukup penting dalah hal persoalan agama yang ditampilkan oleh para demokrat borjuis dan kaum Sosial-Demokrat.
Program kita keseluruhannya berdasar pada cara pandang yang ilmiah, dan lebih jauh materialistik. Oleh karenanya, sebuah penjelasan mengenai program kita secara amat perlu haruslah memasukkan sebuah penjelasan tentang akar-akar historis dan ekonomis yang sesungguhnya dari kabut agama. Propaganda kita perlu memasukkan propaganda tentang atheisme; publikasi literatur ilmiah yang sesuai – dimana pemerintah feodal otokratis hingga saat ini telah melarang dan menyiksa – yang pada saat ini harus membentuk satu bidang dari kerja partai kita. Kita sekarang mungkin harus mengikuti nasehat yang diberikan Engels kepada kaum Sosialis Jerman: menterjemahkan dan menyebarkan literatur intelektual Pencerahan Perancis abad ke-18 dan kaum atheis. [36]
Namun bagaimanapun juga kita tidak boleh dan tidak patut untuk jatuh dalam kesalahan menempatkan persoalan agama ke dalam sebuah abstrak, kebiasaan jang idealistik, sebagai sebuah masalah "intelektual" yang tak berhubungan dengan perjuangan kelas, seperti yang tidak jarang dilakukan oleh kaum demokrat-radikal yang ada di antara kaum borjuis. Tentulah bodoh untuk berpikir bahwa, dalam sebuah masyarakat yang berdasar pada penindasan tanpa akhir dan merendahkan massa pekerja, prasangka-prasangka agama bisa disingkirkan hanya melalui metode propaganda melulu. Inilah kesempitan cara berpikir borjuis yang lupa bahwa beban agama yanng memberati kehidupann manusia sebenarnya tak lebih adalah sebuah produk dan refleksi beban ekonomi yang ada di dalam masyarakat. Tak satupun dari famplet khotbah, berabapun jumlahnya, dapat memberi pencerahan pada kaum proletariat, jika ia tidak dicerahkan dengan perjuangannya sendiri melawan kekuatan gelap dari kapitalisme. Persatuan dalam perjuangan revolusioner yang sesungguhnya dari kelas kaum tertindas untuk menciptakan sebuah sorgaloka di bumi, lebih penting bagi kita ketimbang kesatuan opini proletariat di taman firdaus surga.
Hal inilah yang menjadi alasan mengapa kita tidak dan tidak akan menyatakan atheisme dalam program kita, itulah mengapa kita tidak akan dan tidak akan melarang kaum proletariat yang tetap memelihara sisa-sisa prasangka lama untuk menggabungkan diri mereka dengan Partai kita. Kita akan selalu mengkhotbahkan cara pandang ilmiah, dan hal itu essensial bagi kita untuk memerangi ketidakkonsistenan dari berbagai aliran "Nasrani". Namun bukan berarti bahwa pada akhirnya persoalan agama akan dikembangkan menjadi persoalan utama, sementara hal itu sudah tidak dipersoalkan lagi, atau bukan pula berarti bahwa kita akan membiarkan semua kekuatan dari perjuangan ekonomi dan politik revolusioner yang sesungguhnya untuk dipilah-pilah mengikuti opini tingkat ketiga ataupun ide-ide yang tidak masuk akal. Karena hal ini akan segera kehilangan semua arti penting politisnya, segera akan disapubersih sebagai sampah oleh perkembangan ekonomi.
Dimanapun kaum borjuis reaksioner hanya memperhatikan dirinya sendiri, dan sekarang sudah mulai memperhatikan dirinya di Rusia, dengan menggerakkan perselisihan agama – karenanya dalam rangka membelokkan perhatian massa dari problem-problem ekonomi dan politik yang demikian penting dan fundamental, pada saat ini diselesaikan dalam praktek oleh semua proletariat Rusia yang bersatu dalam perjuangan revolusioner. Kebijaksanaan revolusioner yang memecahbelahkan kekuatan kaum proletariat, dimana pada saat ini manifestasinya muncul dalam program Black-Hundred, mungkin besok akan menyusun bentuk-bentuk yang lebih subtil. Kita, pada setiap tingkat, akan melawannya dengan tenang, secara konsisten dan sabar berkhotbah tentang solidaritas proletarian dan cara pandang ilmiah – seorang pengkhotbah yang asing pada apapun hasutan-hasutan perbedaan sekunder.
Kaum proletariat reevolusioner akan berhasil dalam membentuk agama menjadi benar-benar urusan pribadi, sejauh yang diperhatikan oleh negara. Dan dalam sistem politik ini, bersih dari lumut-lumut abad pertengahan, kaum proletariat akan keluar dan membuka pertarungan untuk mengeliminasi perbudakan ekonomi, sumber yang murni dari segala omong kosong relijius manusia.
Novaya Zhizn, No. 28.
3 Desember, 1905
Tertanda: N. Lenin
Diterbitkan sesuai dengan teks yang dalam Novaya Zhizn
Catatan:
[36] Lihat Frederick Engels, "Fl├╝chtlings-Literatur", Volksstaat, No. 73, 22/6/1874, halaman 86.
________________________________________