Tuesday, August 12, 2008

Arah Demokrasi Harus Diubah

Demokratisasi yang berlangsung selama sepuluh tahun terakhir ini harus diubah arahnya. Jika tidak, proses demokrasi yang memakan banyak biaya seperti saat ini semakin membebani rakyat.
”Kita menyaksikan betapa penyelenggaraan pilkada memakan banyak biaya. Seperti pilkada di Jawa Timur, berapa besar anggaran yang dikeluarkan oleh anggaran negara. Belum lagi dana yang disediakan oleh masyarakat dan peserta pilkada,” ujar Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Suryadharma Ali, Kamis (8/8).
Menurut dia, dana politik yang menghabiskan miliaran bahkan bisa mencapai triliunan rupiah itu akan sangat bermanfaat jika langsung dipergunakan untuk usaha yang langsung bisa memberikan kesejahteraan rakyat.
”Problem lain dari demokrasi yang sudah dijalankan adalah betapa bangsa Indonesia seperti kehilangan nilai budayanya. Seolah-olah tak ada lagi rasa saling menghormati, yang tersisa hanya mau menang sendiri,” ujarnya.
Yang lebih menyedihkan, menurut Suryadharma, hilangnya nilai ini sudah merambah di kalangan calon intelektual.
”Kalangan mahasiswa seperti tidak lagi memegang norma kesopanan, mereka memaki dan mencaci semaunya. Yang lebih buruk lagi sering kali proses demokrasi menghasilkan tindakan destruktif,” ujarnya.
Sekretaris Jenderal PPP Irgan Chairul Mahfiz menilai, proses demokratisasi yang baru menekankan kelembagaan demokrasi ini memang harus disempurnakan. “Masih banyak kelemahan, namun itu semua proses. Artinya, bangsa Indonesia, jika serius, pasti akan bisa membangun Indonesia dengan sistem demokrasi yang lebih baik,” ujarnya.

KOMPAS, 9 Agustus 2008

2 comments:

Kulyubi Ismangun said...

Ridwan Saidi: Indonesia Harus Waspadai Intel Yahudi

Masyarakat Indonesia khususnya umat Islam dapat mewaspadai gerakan inteligen Yahudi yang tidak menghendaki Islam berkembang di Indonesia. Karena gerakan itu, sudah menyusup ke dalam kehidupan beragama dan politik di Indonesia. Hal tersebut diungkapkan oleh Tokoh Betawi yang juga pengamat Zionisme Ridwan Saidi dalam Seminar tentang Kebangkitan Umat Islam dan Kehancuran Zionis Israel, di Auditorium Adhiyana, Gedung Wisma Antara, Jakarta, Kamis(30/8).
Ia mencontohkan, yang terjadi pada Kasus Munir, serta kemunculan Jaringan Islam Liberal (JIL) yang dibiayai oleh asing untuk melakukan misi intelijen, menghancurkan kekuatan Islam dengan jalan membingungkan pemikiran umat Islam.
"Jangan dikira intelijen hanya membunuh, kayak membunuh Munir, dan juga tidak meski pakai kacamata, dan bawa pistol, banyak macamnya kita harus waspada, "ujarnya.
Ridwan Saidi juga menyinggung bahwa, memanasnya hubungan antara Indonesia-Malaysia yang akhir-akhir ini dipicu kasus pemukulan terhadap wasit karaketa Indonesia tidak perlu dibesar-besarkan, karena boleh jadi ini rangkaian upaya memecah belah umat Islam yang notabene menjadi mayoritas di kedua negara yang memiliki etnis Melayu. Meskipun secara hukum, tindakan kekerasan itu tidak dibenarkan.
"Pemerintah Indonesia dan Malaysia tidak pernah bersih dari intrik-intrik Yahudi, "tukasnya.

Kulyubi Ismangun said...

Jejak Langkah LSM Pelindung Yahudi di Indonesia
Gagah Wijoseno - detikcom

Jakarta - Kiprah Simon Wiesenthal Center (SWC) di Indonesia ternyata tidak hanya sebatas rencana pemberian penghargaan pada Gus Dur. LSM pembela Yahudi ini sudah mensponsori sejumlah kegiatan di Indonesia.

Indonesia sepertinya menempati posisi yang khusus bagi Simon Wiesenthal Center. Tiap kegiatan yang disponsori atau diwadahinya selalu terekam di catatan situs resmi mereka.

Dari situs resmi mereka yang dirunut detikcom di http://www.wiesenthal.com, bisa diusut, sekurangnya ada 3 kegiatan yang melibatkan orang Indonesia.

Pertama, penampilan perdana tokoh Yahudi-Amerika dalam suatu acara talkshow di salah satu televisi Tanah Air. Rabbi Abraham Cooper yang sekaligus kolega SWC berperan sebagai pembicara bersama Rektor UIN Komaruddin Hidayat, budayawan Muji Sutrisno, dan Soegeng Sarjadi. Tema acara tersebut adalah Toleransi Antar Umat Beragama: Wujud Rahmatan lil Alamin.

Kesempatan lainnya adalah mensponsori konferensi antar agama yang digelar di Bali pertengahan 2007. SWC bersama Wahid Institute dan LibForAll Foundation menggelar acara yang bermuara pada sikap mengutuk keras segala bentuk aksi terorisme.

Ke Bali, Israel mengirim beberapa 'dutanya'. Mereka berkisah bagaimana lolos dari kekejaman holocaust dan bom bunuh diri di Yerusalem.

Paling baru adalah kunjungan 5 orang yang berasal dari ormas-ormas Islam di Indonesia, seperti Muhammadiyah dan NU, ke Israel. SWC bertindak sebagai tuan rumah, sementara kedatangan mereka disponsori oleh LibForAll Foundation.

Tidak disebutkan secara detail siapa-siapa saja yang mewakili ormas-ormas Islam di Indonesia tersebut. Namun dalam situs resmi SWC yang mengutip Jerusalem Post, wakil Muhammadiyah adalah Syafiq Mugni, sedangkan Abdul A'la mewakili NU.

Kedatangan mereka disambut positif oleh SWC. Bahkan kedatangan 5 orang tersebut digambarkan sebagai perwakilan 70 juta orang Indonesia.

"Sebuah misi penting pemimpin muslim dari Indonesia yang datang ke Israel sebagai tamu Simon Wiesenthal Center. Kelompok ini, mewakili lebih dari 70 juta orang konstituen yang dikoordinasi LibForAll Foundation," klaim SWC dalam situsnya.

Selama di Israel, delegasi melakukan sejumlah ritual Islam maupun Yahudi. Mereka ikut perayaan makan malam Hannuka yang diikuti menari di hesder yeshiva, Kiryat Shmona, ke Bethelehem, berdoa di Masjidil Aqsa di Yerusalem, dan diakhiri perjumpaan dengan Presiden Israel Shimon Peres.