Showing posts with label Wuhan. Show all posts
Showing posts with label Wuhan. Show all posts

Thursday, January 7, 2021

Tentang Puzzle Virus China

Dany Shoham dan rekarupa Covid-19.

Setelah tepat setahun sejak Coronavirus Wuhan menginfeksi dunia akhir Desember 2019, aku teringat lagi kesaksian Dany Shoham, mantan intelejen Israel yang mengatakan bahwa Coronavirus 2019 ini adalah senjata biologis China. Shoham melaporkan fasilitas senjata biologi China tahun 2015, jauh sebelum Coronavirus Wuhan dilepaskan ke dunia.

Dr. Dany Shoham sendiri adalah peneliti senior di Pusat Kajian Strategis Begin-Sadat, Universitas Bar Ilan, Israel dan mengkhususkan diri pada perang biologi dan kimia di Timur Tengah dan seluruh dunia.

Dengan sumber daya yang dimiliki oleh Mossad, pelatihannya yang bisa jadi diasah bertahun-tahun, termasuk kemampuan lembaganya untuk memproduksi senjata biologis, apakah pernyataan Dany Shoham tidak layak untuk dipercaya bahwa China memang sengaja menginfeksi dunia dengan Coronavirus (SARS-CoV-2)-nya?

Xi Jinping

Walau China sendiri membantahnya, namun fakta-fakta yang ada dan dipungut satu persatu akan melengkapi puzzle pandemi ini.

Dengan laporan lengkap beberapa fasilitas laboratorium China yang diungkap Shoham sebagai dasar kesaksiannya, program intensif pelatihan kesehatan di banyak kota di China sejak 6 bulan sebelum wabah menyebar, perintah rahasia penimbunan logistik perusahaan-perusahaan yang berkait dengan China untuk kebutuhan China sebelum wabah, beberapa perilaku pengusaha China dalam pasar bursa yang mengindikasikan perilaku tidak biasa sesaat sebelum wabah dimulai dan kebijakan pemerintah China sebelum dan sesudah wabah, apakah jawaban atas puzzle siapa pelakunya tidak mengarah kepada China?

Alangkah anehnya bila fakta yang sedemikian terang menjadi tak terlihat oleh mata telanjang awam sekalipun.


Untuk memperkuat jawaban, mungkin pertanyaan yang paling wajar untuk dinyatakan adalah siapa yang paling diuntungkan dari wabah Coronavirus ini?

Atau minimal yang paling cepat dan paling besar mendapat keuntungan dari pandemi ini?

Senjata biologi ini adalah senjata yang jauh melebihi kemampuan bom atom yang pernah ada dan dibuat saat ini ditinjau dari luasnya dampak sosial, kesehatan, politik , budaya dan hankam yang ditimbulkan maupun jatuhnya korban itu sendiri di seluruh dunia. Praktis hampir semua negara dunia merasakan luka akibat pandemi ini.

Belum pernah ada senjata sedahsyat ini sepanjang sejarah dunia.


Walau data keterlibatan China sebagai “biangnya” berusaha dikaburkan, namun bagi yang jernih pikir dan nuraninya niscaya akan melihat benang merahnya, betapa jahatnya senjata biologi virus China ini.

Bahkan mungkin saja pemerintah China sendiri tidak mengira bahwa dampaknya akan sebesar ini, hanya mereka diam dan hanya dibicarakan dalam lingkungan yang sangat rahasia.

Apakah negara-negara di dunia hanya akan berkutat pada upaya mengatasi pandemi ini tanpa ada upaya untuk menghukum China sama sekali?

Apakah negara dunia sedemikian pemaaf sehingga melupakan kerja sembrono China ini yang bila hanya melihat dampak, maka termasuk kelalaian yang menyebabkan matinya mendekati 2 jutaan orang dan akan terus bertambah?

Kehidupan malam di kota Wuhan.

Sementara dunia masih berkutat pada pandemi, Wuhan sudah bersuka ria, klub-klub dugem sudah dibuka, seakan mentertawakan orang-orang di seluruh dunia yang tengah sekarat.

China berusaha secepat mungkin tarik keuntungan bisnis dari musibah virus oleh China ini. Dan tak pelak China mendapat keuntungan besar dari pandemi ini untuk memajukan berbagai kepentingannya.

Strategi rampok rumah tetanggamu yang tengah kebakaran seperti yang diajarkan Sun Tzu tengah digencarkan China sekarang.

Apakah negara-negara di dunia akan diam saja? Dan tidak membalas perilaku mereka dengan melepaskan senjata biologis di dalam negeri China agar lumpuh dan berhenti memanipulasi dunia? Entahlah ....

Penulis:
Adi Ketu
Catatanadiketu.wordpress.com

Laporan Dany Shoham:
China’s Biological Warfare Programme, An Integrative Study with Special Reference to Biological Weapons Capabilities by Dany Shoham
https://idsa.in/system/files/jds/jds_9_2_2015_DanyShoham.pdf

Bioterrorism
http://www.shalom-magazine.com/Print.php?id=490305


Tim WHO yang Selidiki Asal-usul Virus Corona di China, Tertunda

Tertundanya misi yang telah lama direncanakan oleh para pakar dari WHO ke China untuk menyelidiki asal-usul pandemi Covid-19 "bukan hanya masalah visa", kata Beijing pada Rabu (6/1/2021).

Satu tahun setelah wabah virus corona dimulai, para pakar kesehatan internasional diperkirakan akan tiba di China pekan ini untuk mengeksplorasi awal munculnya virus corona, yang pertama kali muncul di akhir tahun 2019 di kota Wuhan.

Namun, niat tersebut diindikasikan dihalangi maksud yang sangat politis.

Melansir AFP pada Rabu (6/1/2021), misi sensitif tersebut telah diliputi oleh penundaan dan politik, dengan adanya kekhawatiran akan ditutup-tutupi asal-usul virus corona itu oleh Beijing.

Hua Chunying

Juru bicara kementerian luar negeri China, Hua Chunying mengatakan kepada wartawan pada Rabu (6/1/2021) bahwa pembicaraan antara kedua belah pihak terus berlanjut mengenai "tanggal pasti dan detail kunjungan kelompok ahli tersebut".

"Masalah penelusuran asal-usul virus corona sangat rumit. Untuk memastikan kerja tim ahli internasional di China berjalan lancar, kami harus melakukan prosedur yang diperlukan dan membuat pengaturan yang relevan," kata Hua.

Dia mengatakan negara itu "melakukan yang terbaik untuk menciptakan kondisi yang baik bagi kelompok ahli internasional untuk datang ke China".


Pada Selasa kepala Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan kepada wartawan bahwa Beijing belum menyelesaikan izin untuk kedatangan tim tersebut.

Sehingga, ia mengatakan "sangat kecewa dengan berita itu", dalam teguran yang jarang terjadi di Beijing dari badan PBB.

Awal pekan ini pihak berwenang China menolak untuk mengkonfirmasi tanggal pasti dan rincian kunjungan WHO, sebuah tanda dari kepekaan misi yang abadi.

WHO sebelumnya mengatakan China telah memberikan izin untuk kunjungan tim pakar internasional yang beranggotakan 10 orang.

Hua berdalih China "menempatkan kepentingan besar dan secara aktif berkomunikasi dengan WHO".

Penulis dan Editor:
Shintaloka Pradita Sicca
Kompas.com, 6 Januari 2021

Thursday, May 14, 2020

Menanti Perang Berakhir


Tidak bisa disangkal bahwa pandemi Covid-19 yang menyerang dunia saat ini telah mempengaruhi setiap aspek kehidupan manusia: keluarga, pendidikan, pekerjaan, bisnis, hubungan antar manusia, gaya hidup, pemerintahan, lingkungan hidup, dan bahkan kehidupan beragama.

Adakah yang menduga bahwa hal itu terjadi pada tahun ini? Kiranya tidak. Sama halnya, orang juga tidak menduga bahwa persebaran Covid-19 demikian cepat.

Sejak pertama kali muncul di Wuhan, China, akhir tahun 2019, lalu pertengahan bulan Januari 2020, sudah masuk ke Thailand dan Jepang. Lantas melompat ke negara-negara Asia lainnya, termasuk Indonesia. Dan pada minggu ketiga bulan Januari diberitakan sudah menyentuh Amerika Serikat dan juga Eropa.


Jalur persebarannya telah dibentuk oleh globalisasi, yakni mengikuti rute perdagangan. Hal ini juga yang terjadi pada masa lalu saat pandemi Black Death antara tahun 1347 dan 1351 ketika menyerang Eropa, juga sebelumnya ketika wabah Justian menyerang dunia pada abad keenam, demikian pula persebaran Kolera, SARS, dan Ebola.

Reaksi setiap negara dalam menghadapi serangan Covid-19 berbeda-beda. Italia, misalnya, negara yang paling parah di Eropa, benar-benar tak berdaya. Namun, Italia melakukan segala upaya untuk mengatasinya. Presiden AS Donald Trump, meski kebijakannya menghadapi serangan Covid-19 tergolong aneh, menjadikan dirinya sebagai presiden di masa perang; perang melawan Covid-19.

Presiden Perancis Emmanuel Macron juga menyatakan negaranya sedang berperang. "Kami tidak melawan tentara lain atau negara lain. Tetapi musuh ada di sana: tidak terlihat, sulit dipahami, tetapi terus membuat kemajuan (CNA, 17 Maret 2020)." Presiden China Xi Jinping menyatakan memimpin "perang rakyat" melawan Covid-19 (Xinhuanet, 14 Maret 2020).

Presiden AS, Donald Trump dan Presiden Perancis, Emmanuel Macron.

Barangkali, menggunakan metafora perang seperti itu, yang juga digunakan oleh para wartawan serta politisi, adalah alami, normal. Hal itu dilakukan untuk menggambarkan tantangan yang dihadapi, begitu berat. Ratu Elizabeth II, misalnya, mengatakan, "We'll Meet Again" dalam pidatonya pada 5 April 2020.

"We'll Meet Again" adalah lagu karya penulis lagu Inggris, Ross Parker dan Hughie Charles, yang dinyanyikan Vera Lynn pada masa Perang Dunia II. Lagu ini untuk menyemangati para prajurit yang berangkat ke medan perang dan keluarga atau kekasih yang ditinggalkannya.‎

Perdana Menteri Italia Giuseppe Conte pun menggunakan retorika masa perang. Ia meminjam istilah yang digunakan oleh PM Inggris zaman PD II, Winston Churchill, yakni Darkest Hour. Istilah tersebut menggambarkan situasi sangat sulit yang dihadapi Churchill pada Mei 1940 ketika ia mempertimbangkan untuk damai dengan Adolf Hitler.

Kata-kata Churchill itu kemudian diangkat menjadi film dengan judul sama Darkest Hour yang disutradarai Joe Wright. Conte menggambarkan situasi di Italia ketika sedang tengah-tengahnya diamuk Covid-19 sebagai Darkest Hour.

Ratu Inggris, Elizabeth II.

Zaman perang
Apakah tidak berlebihan menggunakan metafora dan beretorika perang untuk menggambarkan bahaya Covid-19? Tentu pengertian perang di sini tidak seperti pengertian umum tentang perang. Dalam pemahaman konsepsionalnya, perang seperti didefinisikan dalam Ensiklopedi Nasional Indonesia, Jilid 13 (Jakarta: Cipta Adi Pustaka, 1990), sebagai pertama, manifestasi sikap politik nasional dengan menggunakan kekerasan, untuk memaksa negara lawan tunduk terhadap kemauan negara tersebut. Esensi utama perang adalah kekerasan. Atau sebaliknya, penggunaan kekerasan tersebut diarahkan untuk melawan paksaan lawan.

Kedua, perang juga dimengerti sebagai upaya terakhir untuk mempertahankan diri (negara) dari upaya pemusnahan oleh lawan, dengan menggunakan segala kekuatan negara. Apabila suatu perang didasarkan pada suatu alasan untuk mempertahankan negara dari agresi negara lain, maka perang tersebut dihayati sebagai perang nasional.

Dan, ketiga, perang dilihat dari perspektif yuridis. Secara yuridis, perang dipahami sebagai situasi dan kondisi hukum yang memungkinkan dua atau lebih pihak yang bermusuhan menyelesaikan pertikaiannya secara kekerasan dengan kekuatan persenjataan. Kini, perang semakin lazim dipahami sebagai perwujudan bentuk konflik dalam derajat intensitas yang relatif tinggi. Konflik yang belum tinggi dapat dimanifestasikan dalam bentuk subversi dari suatu negara terhadap negara lain, atau aksi teror dan propaganda.

Presiden AS, Donald Trump dan Presiden China, Xi Jinping.

Perang dalam pengertian seperti di atas tentu tidak hanya harus dihindarkan, tetapi juga harus dicegah. Meskipun demikian, perang sering dikatakan sebagai pilihan terakhir. Namun sejatinya, perang hanya akan menghancurkan, bahkan menghancurkan orang yang tidak bersalah. Jadi yang justru perlu dan harus dilakukan adalah bagaimana membangun dunia, menegakkan keadilan, dan menciptakan perdamaian.

Kata "perang" juga digunakan tidak hanya untuk menggambarkan suatu tindakan untuk mengalahkan pihak lain dengan risiko hilangnya nyawa, tetapi juga untuk menciptakan kebaikan hidup, kebaikan bersama. Misalnya, perang melawan kemiskinan, kobodohan, kesombongan diri, korupsi, ketidakadilan, melawan terorisme, ekstremisme, peredaran narkotika, kejahatan dalam segala macam bentuknya, dan sebagainya.

Jelaslah kiranya bahwa perang, dalam arti tertinggi, adalah keinginan untuk melindungi dengan cara apa pun; melindungi kehidupan, baik manusia maupun alam. Karena itu, sebagaimana perang dalam arti umum, perang untuk melindungi kehidupan ini harus dilakukan dengan segala daya, mengerahkan dan memobilisasi segala sumber —tenaga, logistik, biaya, termasuk pengorbanan dan sebagainnya— untuk meraih kemenangan.


Para prajurit dalam perang melawan Covid-19 untuk melindungi kehidupan manusia dan alam ini adalah para tenaga medis —baik itu dokter, perawat, dan semua pekerja di rumah sakit, termasuk para ilmuwan yang terus melakukan riset untuk mencari vaksi pelawan Covid-19— yang berdiri di garis depan; para aparat keamanan, para pemimpin daerah dari tingkatan atas hingga paling bawah, sukarelawan, dan tentu Tim Pelaksana Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 yang dipimpin Letjen TNI Doni Monardo, serta semua yang peduli dan punya hati untuk mengakhiri sepak terjang dan serangan Covid-19 ini.

Mereka yang rela tinggal di rumah, mengurung diri, melakukan segala kegiatan di rumah —termasuk kerja— juga bagian dari prajurit yang ikut memerangi Covid-19. Karena itu, sikap patuh dengan sukarela untuk tetap tinggal di rumah adalah langkah yang paling baik untuk memutus mata rantai serangan Covid-19; sebuah tindakan bertanggung jawab untuk mengalahkan Covid-19. Meskipun masih ada juga yang nekad dengan segala macam dalih, termasuk dalih agama, untuk keluar rumah.


Pascaperang
Sekarang sedang di fase perang. Kita semua ada di tengah mandala peperangan. Apakah akan mampu mengalahkan serangan Covid-19? Itulah pertanyaannya. Jawaban pertanyaan itu sangat tergantung dari kita semua. Mengapa? Apakah semua pihak menyadari bahayanya serangan Covid-19 ini sehingga mau bersama-sama menghadapinya dengan menyisihkan, membuang ambisi-ambisi dan kepentingan pribadi, kelompok, atau golongan? Harus disadari bahwa tidak mungkin menghadapi serangan Covid-19 ini sendiri, harus kerja sama dengan pihak lain.

Selain itu, juga dibutuhkan kejujuran. Karena banyak kasus —tenaga medis menjadi korban Covid-19— karena pasien tidak jujur bahwa sudah terkena Covid-19; bahwa baru saja pulang dari perjalanan jauh, pulang mudik, dan sebagainya. Oleh karena itu, sebagaimana perang antarnegara, untuk memenangi peperangan melawan Covid-19 itu dibutuhkan adanya kecepatan, transparansi, inovasi, dan partisipasi seluruh lapisan masyarakat secara sukarela. Tanpa semua itu, akan sulit kita memenangi perang ini.

Bila nanti pasukan Covid-19 sudah berhasil dikalahkan, masih ada mandala perang baru yang tak kalah beratnya, yakni memulihkan kehidupan masyarakat, negara. Keberhasilan laju pemulihan akan sangat bergantung pada kebijakan yang diambil selama krisis. Jika kebijakan memastikan bahwa pekerja tidak kehilangan pekerjaan, penyewa dan pemilik rumah tidak digusur, perusahaan menghindari kebangkrutan, dan jaringan bisnis dan perdagangan dipertahankan, pemulihan akan terjadi lebih cepat dan lebih lancar.


Namun, semua itu tidak mudah. Karena, kini sudah banyak orang kehilangan pekerjaan; perusahaan tutup, bisnis mati. Tentu, semua itu menjadi persoalan besar di kemudian hari, yang perlu dipikirkan dan dicari jalan keluarnya mulai saat ini. Kerja sama internasional, antara lain, adalah salah satu langkah yang perlu dipertimbangkan untuk mengatasi dan membangkitkan perekonomian lagi.

Akan tetapi, yang tidak kalah penting atau justru paling penting adalah adanya semangat bangsa untuk bangkit dan bergerak lagi, secara bersama-sama, saling dukung. Bantuan tangan luar pun tak akan banyak artinya kalau tidak ada semangat bangsa, semangat untuk bangkit, semangat untuk memasuki hidup baru, zaman baru, yang diharapkan lebih baik dalam segala bidang, termasuk dalam kehidupan bermasyarakat, bernegara, hubungan antar-anak bangsa yang berbeda-beda, dan tentu saja hubungan dengan alam.

Akankah negeri kita memasuki zaman baru setelah krisis kemanusiaan akibat serangan Covid-19 ini? Semua tergantung kita.

Trias Kuncahyono,
Wartawan Kompas 1988-2018
KOMPAS, 2 Mei 2020

Monday, April 13, 2020

Corona Seharusnya Menyatukan Kita


Pandemi Covid-19 telah menginfeksi ribuan saudara kita dan membunuh ratusan di antaranya. Angka kasus riilnya bisa ratusan bahkan ribuan kali lipat dari yang dilaporkan setiap hari.

Minimnya pemeriksaan membuat singkapan gunung es kasus Covid-19 semakin hari semakin jauh dari kenyataan. Kecepatan bergerak virus ini telah melampaui upaya kita menyingkap selubung esnya.

Sayangnya, di tengah kondisi yang semakin gawat ini, kita belum juga memiliki satu tekad bahwa musuh bersama adalah virus SARS-CoV-2, pemicu Covid-19. Ketika bahaya sudah mengetuk pintu rumah, kita masih saja ribut sendiri.


Saat banyak dokter dan tenaga medis meninggal, mereka yang menyampaikan belasungkawa dituding mempolitisasi tragedi. Demikian halnya, saat Ikatan Dokter Indonesia (IDI) resah dengan kematian sejawat mereka dan meminta jaminan alat pengaman diri, tak sedikit yang menghujat mereka hendak mempolitisasi keadaan.

Penyakit sosial ini menginfeksi banyak orang di Indonesia tanpa pandang status sosial, sejak virus Corona baru ini masih merebak di Wuhan, China. Publik pun terbelah, lebih tepatnya dibelah oleh narasi para politisi dan pengurus negara. Mereka yang mengingatkan adanya ancaman bahaya dan mendorong kesiapsiagaan, dicibir, dan dianggap menakut-nakuti.

Ketika wabah meluas dan negara-negara lain menyatakan telah terinfeksi Covid-19, publik negeri ini justru semakin terbelah. Bahkan, ketika negara jiran kita, Singapura, menaikkan status bahaya karena adanya penularan domestik pada 10 Februari 2020 lalu, banyak yang mencibirnya sebagai berlebihan.


Salah satu pesan populer yang beredar di media sosial di Indonesia awal Februari 2020 menyebutkan, “Mau virus flu Singapura, virus MERS, dll, karena kita hidup di negara tropis dengan kelembaban yang sangat tinggi, di mana-mana udara kotor, jadi tubuh kita lebih kebal daripada mereka-mereka.

Pesan ini diamini banyak orang, termasuk para akademisi dan bahkan pengurus negeri, yang saat itu beranggapan tiadanya kasus di Indonesia sebagai prestasi. Ketika ada yang mengingatkan bahwa tiadanya kasus di Indonesia karena masalah dalam deteksi, justru dianggap sebagai penghinaan terhadap bangsa ini.

Berulang kali para pengurus negara, terutama Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto, menyampaikan bahwa Covid-19 ini tidak perlu ditakuti, mirip flu biasa, bisa sembuh sendiri, Indonesia aman karena kebal dan tropis, hingga tingkat kematiannya rendah, dan santai saja.


Bahkan, saat negara lain mulai menutup pintu masuk, pemerintah menunjukkan sikap sebaliknya dengan menggelontorkan insentif dan promo wisata.

Bahkan, saat pandemi sudah mengepung dan Jabodetabek memerah karena luasnya sebaran, publik kembali dibelah. Wacana lockdown atau karantina wilayah menjadi pro dan kontra, yang tendensinya lebih ke politik dibandingkan dengan substansi dan urgensi kebijakan.

Ini mirip dengan pembelahan dukungan terkait normalisasi dan naturalisasi dalam mengatasi banjir Jakarta. Dua kubu terus berseteru, sampai lupa bahwa korban membutuhkan langkah segera.

Kini, meski korban semakin banyak berjatuhan dan rumah sakit kewalahan menampung yang sakit, publik tak juga bersatu. Mereka yang mengkritik dan mengingatkan pemerintah agar lebih progresif, dibelah dengan narasi, “Daripada mengkritik, lebih baik saling membantu, berpikir positif, dan jangan sebarkan berita-berita tentang Corona lagi.


Padahal, saling bantu dan membangun optimisme bukanlah oposisi biner dengan kritik untuk perbaikan penanganan Covid-19. Justru semuanya sama-sama diperlukan sehingga tak perlu dipertentangkan.

Bahkan, kita harus mencatat kekeliruan kebijakan yang terjadi sejak awal wabah ini, agar menjadi pelajaran bagi generasi mendatang. Bangsa yang baik adalah bangsa yang mau selalu belajar.

Mereka yang merasa sudah membantu, tidak perlu mencela yang mengkritik pemerintah agar segera memperbaiki langkah. Tidak sedikit yang mengkritik juga turut membantu. Tidak perlu diperbandingkan mana yang paling berjasa.

Pemerintah memang perlu terus diingatkan tentang pentingnya tes massal Covid-19, penelusuran kontak, dan perkuatan layanan medis, selain soal jaminan ketersediaan alat pengaman diri (APD) untuk tenaga medis.


Kontestasi politik
Pembelahan yang terjadi saat ini tak bisa dilepaskan dari kontestasi politik yang belum usai. Ini seperti kutukan. Mereka yang memanfaatkan pembelahan sentimen massa dalam pemilihan umum, bakal kesulitan mendamaikan dan menyatukan hati publik.

Keberadaan para buzzer politik yang bergentayangan sejak pemilihan umum telah memperparah pembelahan massa. Mereka terus memanasi para kubu untuk mencemooh jagoan rival.

Butuh berapa banyak lagi kematian agar kita semua sadar bahwa pandemi Covid-19 ini bukan urusan politik. Virus ini jelas tidak berpartai, tidak beragama, tidak mengenal ideologi, dan strata sosial. Siapa pun yang berada dalam jangkauannya bakal terinfeksi.

Mereka yang sudah mati juga bukan sekadar angka, tetapi memiliki relasi sosial yang semakin mendekat ke lingkaran hidup kita. Waktu kita saat ini semakin pendek. Namun, tak pernah ada kata terlambat untuk menyelamatkan diri.


Jika berbulan-bulan kita kehilangan arah dalam menangani wabah, kini saatnya Presiden Joko Widodo tampil ke depan dengan langkah-langkah progresif.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang semula juga menyangkal dan menyepelekan ancaman Covid-19, bahkan membangun narasi antisains mirip para politisi di Indonesia, kini hampir tiap hari tampil di televisi, seperti jenderal perang yang menghadapi kondisi gawat.

Trump agaknya mencoba mengatasi ketertinggalan dengan mengerahkan tes massal, sekalipun wabah telanjur parah sehingga laju korban di AS cukup tinggi. Sebuah harga mahal yang harus dibayar akibat penyangkalan.


Kita memang menghadapi virus baru yang memiliki kemampuan menyebar secara eksponensial. Jika sebelumnya dibutuhkan waktu 3 bulan untuk mencapai jumlah kasus 1 juta di seluruh dunia. Kini hanya butuh waktu kurang dari 10 hari untuk mencapai 1 juta berikutnya.

Inilah kecepatan penggandaan itu. Makin cepat penularannya, makin pendek waktu yang dibutuhkan untuk menggandakan jumlah infeksi.

Jika tak ada upaya segera, jangankan untuk menangani pasien, untuk menguburkan korban yang mati pun kita bakal kewalahan. Kita akan bisa menghadapi pandemi ini hanya jika kita bersatu dan menjadikan Covid-19 sebagai musuh bersama.

Ahmad Arif,
Wartawan Kompas
KOMPAS, 9 April 2020