Showing posts with label Revolusi. Show all posts
Showing posts with label Revolusi. Show all posts

Friday, January 12, 2018

Inovasi Disruptif


Usianya belum lagi tiga puluh tahun. Gadis berambut pirang tersebut masih muda, tetapi ide dan kecerdasannya mengagumkan. Saya terkesima. Saat itu musim panas tahun 2015, tetapi angin sejuk bertiup dari semenanjung. Saya jadi ingat Mark Twain yang mengatakan, musim yang paling dingin di Amerika Serikat adalah musim panas di San Francisco. Twain benar.

Gadis itu menemani saya saat saya diundang mengunjungi beberapa perusahaan teknologi utama di Silicon Valley. Ketika saya bertanya, berapa rata-rata umur yang bekerja di sana, ia menjawab, "Belakangan ini semakin tua, akhir 20 tahunan." Ada nada kekecewaan di akhir kalimatnya. Saya tersedak. Saat itu saya sadar —bagi anak-anak muda di Silicon Valley— saya adalah dinosaurus!

Oliver Twist, karya populer Charles Dickens.

Redefinisi pekerjaan
Di sini, saya melihat bagaimana anak-anak muda bicara tentang ide-ide yang cemerlang. Lalu bagaimana regulator menempatkan dirinya dalam dunia yang berubah ini? Terus terang saya tak pandai benar menjawabnya. Dunia juga masih mereka-reka. Namun, ada beberapa hal yang mungkin perlu dibahas.

Pertama, revolusioner kah perubahan ini? Kita pernah mengalami revolusi industri pertama, yang mentransformasi metode produksi, tatanan sosial, meningkatkan produktivitas, dan mengubah taraf hidup. Penemuan mesin uap telah mengubah metode produksi. Industri tekstil berkembang pesat, tetapi kita mencatat sejarah yang kelam terhadap kaum buruh. Dengan sedih kita membaca novel Oliver Twist karya Charles Dickens atau Germinal karya Emile Zola. Namun, mimpi gelap bahwa mesin akan menggantikan buruh tak sepenuhnya benar.

Oliver Twist sudah diterbitkan puluhan kali dengan berbagai macam versi dan variasi.

Manusia melampaui mesin dengan sebuah catatan penting dari Joseph Schumpeter: destruksi kreatif dalam jangka panjang justru memberikan kesempatan kerja baru. Ia juga mendorong kemakmuran. Barry Eichengreen dari University of California Berkeley menulis: yang terjadi bukanlah hilangnya pekerjaan, melainkan redefinisi pekerjaan. Tengok saja, profesi perawat, akuntan, atau pekerjaan lain mungkin tak hilang. Akan tetapi, ke depan, mereka membutuhkan kemampuan analitik untuk memanfaatkan big data dan teknologi.

Ini soalnya: transformasi untuk keahlian baru membutuhkan pendidikan atau pelatihan. Sayangnya, sarana pelatihan pemerintah terbatas. Anggaran pemerintah jelas terbatas. Lalu bagaimana? Ajak sektor swasta untuk melakukan pelatihan, on the job training. Caranya, dengan memberikan potongan pajak apabila mereka melakukan pelatihan atau pendidikan vokasi untuk keahlian baru.

Logo Bank of England.

Kedua, stress test yang dilakukan Bank Sentral Inggris, Bank of England, menunjukkan bagaimana teknologi keuangan (tekfin) memiliki dampak kepada penurunan pendapatan perbankan, walau perlu dicatat: di dalam jangka panjang akan meningkatkan kesempatan bagi dunia perbankan. Di sejumlah negara di dunia, termasuk Indonesia, kita melihat tarik-menarik terjadi antara bisnis konvensional dan yang baru. Kita membaca soal Uber, Gojek, tekfin, Airbnb, dan konflik yang semakin keras.

Mengikuti konsep ekonom Mancur Olson dalam karya seminalnya, The Logic of Collective Action, kita bisa menduga: mereka yang terpinggirkan akibat inovasi disruptif ini terkonsentrasi dan terorganisasi. Sebaliknya mereka yang mendapatkan manfaat dari perubahan ini tersebar luas. Akibatnya: tekanan politik dari kelompok yang merasa dirugikan akan lebih kuat dibanding konsumen penikmat digital teknologi.

Apabila ini terjadi, di dalam sistem demokrasi, ada kecenderungan regulator akan menjaga status quo ketimbang mendukung inovasi. Padahal, inovasi sangat dibutuhkan. Saya tak bisa membayangkan bagaimana inklusi keuangan atau pertumbuhnan ekonomi bisa meningkat apabila aturan mengenai teknologi keuangan begitu kaku. Dalam hal ini, regulator harus menarik garis yang adil antara inovasi dan perlindungan.


Mengubah cara pikir
Ketiga, regulator tidak lagi bisa menggunakan cara pikir lama. Revolusi dalam teknologi informasi ini menerobos hal-hal yang selama ini dianggap tak mungkin. Mereka yang belajar ilmu ekonomi tahu, nyaris tak mungkin menerapkan harga yang berbeda (diskriminasi harga) untuk tiap individu. Alasannya, informasi per individu terbatas. Kalaupun bisa, harganya sangat mahal dan hanya diperuntukkan bagi pelanggan yang amat kaya (high net worth individual).

Ke depan, informasi dari big data memungkinkan untuk mempersonalisasi produk (bespoke), dan itu bisa dilakukan secara masif dengan biaya yang relatif murah. Artinya, produk atau harga dapat disesuaikan dengan selera dan daya beli individu. Saya tak akan terkejut jika asuransi, misalnya, bisa disesuaikan menurut kebutuhan individu. Jangka waktunya dapat disesuaikan jadi hitungan jam atau hari. Orang tak perlu membayar premi yang mahal karena waktunya pendek dan tujuannya spesifik. Saya menduga, di masa depan tingkat bunga bank dapat berbeda untuk individu berdasarkan profil risikonya, juga berbeda untuk jenis investasinya. Akibatnya, biaya monitor (monitoring cost) dalam pinjaman menjadi lebih murah. Berbagai ceruk pasar (niche market) akan tercipta dan setiap waktu berubah. Regulasi sulit untuk mengejar inovasi ini.


Bulan November 2017, di Tokyo, saya sempat mendiskusikan hal ini dengan Otoritas Jasa Keuangan Jepang. Kita setuju, cara pikir harus diubah. Regulasi berubah dari statis menjadi supervisi yang dinamis. Ia tak lagi mengatur hal-hal yang rinci. Regulasi lebih fokus kepada prinsip-prinsip dasar, misalnya perlindungan konsumen, level playing field, dan menjamin keterbukaan. Jika ia mulai mengatur masalah yang teknis dan rinci, ada risiko regulasi akan menjadi usang karena inovasi terjadi setiap waktu.

Di sinilah masalah akan timbul: bisakah regulator menjadi dinamis dan luwes. Kritik utama terhadap birokrasi adalah sifatnya yang tak luwes. Birokrasi juga bergerak atas dasar prinsip keseragaman dalam aturan. Lalu bagaimana ia harus menghadapi dinamika produk yang sifatnya semakin personal, luwes, dan membutuhkan diskresi?


Ketimpangan pendapatan
Ketiga, inovasi disruptif dalam jangka pendek dapat mendorong ketimpangan pendapatan. Ia akan memberikan keuntungan berlipat pada sekelompok kecil masyarakat yang berhasil mengembangkan idenya, sementara dalam jangka pendek pekerja tak terampil terancam kehilangan pekerjaan. Dalam jangka panjang, pekerja mungkin akan mendapatkan pekerjaan baru, tetapi ia membutuhkan keahlian baru juga. Mereka yang tak punya keterampilan baru akan terpinggirkan.

Proses penyesuaian ini bisa sangat pahit. Dan ini memiliki implikasi ekonomi politik yang serius. Bulan Oktober 2017, ketika saya berbicara untuk sebuah konferensi di Harvard University, saya sempat berdiskusi panjang dengan Jeffry Frieden, guru besar ekonomi politik di Harvard. Kami membahas mengapa tren anti globalisasi dan politik identitas meningkat dan berkembang di banyak negara, termasuk Amerika Serikat (AS), Eropa, Australia, Indonesia, dan negara lain.

Menurut Frieden ini tidak spesifik AS, Indonesia, atau Eropa. Ia terjadi di sejumlah negara pada saat yang bersamaan. Karena itu, penjelasannya tidak bisa khusus satu negara. Frieden mengajukan hipotesis: ketimpangan pendapatan dan kehilangan pekerjaanlah yang mendorong menguatnya politik identitas. Konsisten dengan ini, ekonom Dani Rodrik mengingatkan, ketimpangan ekonomi akan menimbulkan polarisasi politik, apakah lewat politik identitas atau polarisasi kaya dan miskin.


Ini tema besar dalam ekonomi politik. Tak ada jawaban tunggal untuk masalah ini. Faktor politik, ideologi, dan sosiologis lain tentu berperan. Namun, lepas dari itu, hipotesis Frieden bisa jadi relevan ke depan. Erik Brynjolfsson dari Massachusetts Institute of Technology mengingatkan, teknologi menjadi faktor yang penting dalam menjelaskan ketimpangan pendapatan di AS saat ini.

Menariknya: alih-alih menuding teknologi sebagai penyebab, reaksi yang muncul adalah politik identitas ala Donald Trump. Saya kira pemerintah di sejumlah negara di dunia, termasuk Indonesia, akan dihadapkan dalam pilihan sulit. Mengekang teknologi dan inovasi akan membuat kemandekan dalam ekonomi, dan memperburuk kesejahteraan. Kelas konsumen —saya enggan menyebutnya kelas menengah— adalah professional complainers. Sebagai konsumen, mereka menikmati perubahan ini. Mereka akan menuntut inovasi dilanjutkan. Kita ingat, bagaimana pelarangan Gojek dibatalkan pemerintah dalam waktu sangat singkat karena protes masyarakat.


Di lain pihak, ketimpangan yang meningkat akan mendesak pemerintah untuk berpihak. Di era demokrasi, tarik-menarik ini akan lebih rumit. Pemerintah perlu memberikan perlindungan agar proses penyesuaian ini tak terlalu pahit, tetapi sekaligus tak mengekang inovasi. Sulitnya: tak ada formula untuk ini.

Dialog antara pelaku ekonomi digital dan regulator menjadi amat penting. Sayangnya, waktu tak bisa kompromi dengan kita. Perubahan terjadi begitu cepat. Saya masih ingat kata-kata gadis belia itu ketika saya menanyakan rata-rata umur pekerja di Silicon Valley , “It is getting older Sir, it is late twenties now”. Ada nada penyesalan dan khawatir di ujung kalimatnya. Saya juga khawatir. Namun, untuk sesuatu yang lain: apabila tak berubah, kita hanya akan tinggal jadi sejarah.

Muhammad Chatib Basri,
Pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia
KOMPAS, 9 Januari 2018

Thursday, November 19, 2015

Revolusi Tan Malaka Harus Terjadi


Buku “Materialisme, Dialektika, dan Logika” (Madilog) adalah buku yang lebih hebat daripada Das Kapital-nya Karl Marx. Komunisme China adalah Komunisme dogmatis yang ditentang oleh Tan Malaka seumur hidupnya.

Komunisme China (ajaran Mao Tse Tung/ Mao Ze Dong) bahkan bertentangan dengan Leninisme, karena Lenin telah mengkoreksi teori Marx tentang Komunisme vis a vis Kapitalisme.

Marx punya teori, Komunisme akan lahir dari negara kapitalis yang paling maju, di mana para penguasa kapitalis menggali kuburnya sendiri dengan meng-eksploitasi kaum buruh dan petani. Lenin mengkoreksinya, Komunisme bisa dilahirkan melalui revolusi petani dan kaum buruh yang terorganisasi dengan rapi, meski bukan di negara kapitalis yang digambarkan Marx.

Tan Malaka menentang teori Marx, Lenin, maupun Mao Zedong dalam konsep revolusinya. Tan selalu menekankan bahwa revolusi tidak boleh digerakkan oleh agitasi terhadap rakyat. Rakyat tidak boleh diberi angin sorga revolusi, tanpa memahami tujuan revolusi yang sebenarnya.


Tan juga punya keyakinan revolusi bukan hanya monopoli Komunisme saja. Dalam sejarah, memang kaum komunis mempunyai teori revolusi yang paling canggih dan maju, setidaknya seperti yang berhasil dibuktikan oleh Lenin.

Tapi yang ditunjukkan oleh Mao, adalah contoh revolusi yang gagal. Revolusi Mao dilakukan dengan menentang teori Marx dan Lenin dan hanya mengandalkan kultur politik China yang khas dan penuh dendam. Dan konspirasi antar klan-klan kuno seperti yang ditulis dalam buku Tiga Negara (Sam Kok).

Revolusi perang total melawan Amerika ala Paman Ho (Ho Chi Minh) di Vietnam, jauh lebih berhasil daripada Revolusi Pertanian dan Kebudayaan yang dilakukan Mao. Yang kemudian ditiru dan gagal secara tragis oleh Pol Pot dan Khmer Merah ( Khmer Rouge) di Kamboja, yang membantai 6 juta nyawa rakyat sia-sia, atas nama Komunisme yang salah kaprah.

Tan Malaka adalah emas intan mutiara baiduri revolusi kita. Konsep revolusinya sungguh amat luar biasa, sepenuhnya menimbang aspek-aspek: Situasi, Kondisi dan Toleransi (Si-Kon-Tol).


Revolusi harus memberikan toleransi kepada semua pihak yang mau bergabung, tanpa memperhatikan masa lalu mereka.

Toleransi juga harus diberikan kepada musuh-musuh revolusi yang sudah tidak berdaya, jangan ditumpas habis sampai cindhil abang-nya, seperti model Soeharto dan Nasution.

Jangan juga revolusi model Soekarno yang lebih besar pasak daripada tiang dan banyak NATO-nya, No Action Talk Only. Dia bilang PKI “dudu sanak dudu kadang,” tapi “yen mati melu kelangan.” Katanya, PKI bukan sanak bukan pula saudara, tapi kalau PKI mati dia akan ikut kehilangan.

Tapi nyatanya dia (Soekarno) juga tidak bisa berbuat apa-apa terhadap pembantaian jutaan orang oleh Sarwo Edhie, Soeharto dan Nasution !? Apa namanya kalau bukan Soekarno Talks Only !!!

Jangan pula model Aidit yang malah menjerumuskan jutaan anggota PKI ke ladang pembantaian.

Revolusi dulu, rekonsiliasi kemudian. Penjara boleh penuh, tapi kuburan jangan.


Saya (Soesilo Toer) ini orang kiri yang percaya kepada karma dan dharma, terserah Anda mau menyebut agama saya apa. Buatlah dharma, maka karma akan memberikan yang terbaik buat Anda selamanya!

Mao dengan semena-mena menghabisi warisan ideologis para tokoh nasionalis China seperti dr. Sun Yat Sen (San Min Chui – Empat Sila Dasar Negara China Modern) dan Jenderal pembela Sun Yat Sen, Chiang Kai Sek, kok malah Mao yang mau ditiru oleh Aidit ???

Itu sebabnya Tan selalu membayangkan sebuah revolusi yang disepakati oleh rakyat banyak, lepas dari ideologi politik mereka. Musuh revolusi bisa berganti muka, baju, dan kepentingan setiap saat.

Tujuan revolusi bukanlah mendirikan kediktatoran proletariat seperti yang pernah terjadi di Uni Soviet dan yang dilestarikan China sampai sekarang.

Revolusi tidak bertentangan dengan demokrasi, itu sebabnya Tan Malaka mendirikan Partai Murba (Musyawarah Rakyat Banyak).


Tan selalu berkeyakinan, bahwa penggerak revolusi harus berada di luar kekuasaan dan setiap saat bisa menggerakkan tenaga koreksi jika penguasa tidak lagi sejalan dengan tujuan revolusi.

Pemegang kekuasaan revolusioner hanyalah cermin revolusi. Kekuatan revolusi yang sebenarnya harus selalu bergerak di bawah tanah, dan mengawasi pemerintahan. Dan setiap saat akan menggulung pemerintahan itu jika mereka menyimpangkan revolusi.

Itulah sebabnya Tan dengan penuh keyakinan mengungkapkan seruan revolusinya yang “religius”: “Suaraku dari dalam kubur akan terdengar jauh lebih keras daripada suaraku di atas bumi!”

Ini sebabnya, Tan selalu dimusuhi kaum komunis, baik yang revisionis (pro Russia) maupun yang dogmatis (pro China).

Banyak orang yang mengaku komunis tapi tidak faham soal revolusi. Oleh Lenin mereka dibilang mengidap penyakit kiri kekanak-kanakan (infantile leftism)! Kalau di Indonesia contohnya kira-kira ya PRD dan Budiman Sudjatmiko itu!


Sekali kita menangkap suara Tan dari dalam kuburnya, dan kita mendaulat “Cermin Revolusi” kita, maka cepat atau lambat, akan musnahlah musuh-musuh revolusi, yang sekarang bermuka, berbaju dan bernama apa saja.

Seorang Islamis paling terpelajar dalam sejarah Indonesia modern, Agus Salim, adalah pendukung Tan Malaka. Agus Salim pernah mengutus adiknya Khalid Salim untuk menemui Tan Malaka di Singapura. Belanda langsung menangkap Khalid Salim dan membuangnya ke Boven Digoel, Papua, dengan tuduhan sebagai kaki tangan Tan Malaka.

Beruntunglah kita, di zaman edan di Indonesia ini, masih ada anak muda seperti Bambang Tri (penulis buku Jokowi Undercover) yang begitu keras belajar sejarah sampai dia menemukan keyakinan bulat bahwa revolusi Tan Malaka memang perlu dilakukan saat ini.

Saya (Soesilo Toer) malah bilang tidak hanya perlu melainkan harus !!!


Rekonsiliasi nasional ala Tan Malaka, yang didukung Pramoedya Ananta Toer, adalah rekonsiliasi revolusioner, bukan rekonsiliasi pasif ala Nelson Mandela.

“Kita tidak boleh berunding dengan maling!” ini pesan Tan Malaka yang juga penting, termasuk dalam melaksanakan rekonsiliasi.

Kalau oknum-oknum tentara dan polisi memusuhi Bambang Tri karena buku “Jokowi Undercover” ini, berarti mereka juga memusuhi saya, yang sudah kenyang makan asam garam revolusi tanpa menuntut imbal balas apa pun yang bukan hak saya. Dan mereka akan menjadi musuh revolusi juga.

Soal data, bisa saja Bambang Tri keliru, karena dia memang bukan ahli sejarah. Tapi pasti Bambang Tri tidak pernah (sengaja) memakai data yang sudah dia ketahui keliru. Dia sudah bekerja lebih keras daripada orang lain untuk mengecek data yang dia punya, meski belum bisa dikatakan sempurna.

Tapi dalam hal semangat bercermin kepada sejarah dan mendambakan pengungkapan kebenaran dan rekonsiliasi nasional tanpa kompromi, Bambang Tri sudah berhasil melampaui guru batinnya, Pramoedya Ananta Toer, yang keburu mati sebelum sempat mewariskan ilmu revolusinya kepada Bambang Tri ini.


Tapi saya jamin, kekeliruan data buku “Jokowi Undercover” ini masih dalam batas ambang tingkat kepercayaan yang bagus, meminjam istilah statistika.

Misalnya, penyebutan Ibu Kandung Jokowi adalah Mei Yap, dari Lasem. Ini adalah data intel yang belum bisa dipercaya seratus persen, karena Bambang Tri harus melindungi sumbernya.

Tapi bahwa Ibu Sudjiatmi bukan ibu kandung Jokowi, adalah fakta terkonfirmasi oleh seorang saksi hidup. Maka hantu blau dan setan belang pun harus percaya!

Bahwa Jokowi dan anak lelakinya punya tampang China, kucing lewat pun harus percaya, karena itu fakta pandangan mata. Jangan percaya kepada kebetulan bahwa wajahnya mirip China tapi silsilahnya murni Jawa.

Karena kalau tidak, kita harus menuduh ibu kandung Jokowi –seandainya bukan China– telah berselingkuh dengan orang China!

Pram sendiri mengakui bahwa nenek kandungnya adalah hasil selingkuh antara seorang Belanda dengan ibu sang nenek. Maka dari itu nenek Pram bermata biru, dan itu ditulis Pram dalam novelnya yang berjudul Gadis Pantai!


Soal Ibu Jokowi China Lasem, ada referensi sejarah yang membuat saya cenderung mempercayainya.

Lasem adalah China Mini yang punya sejarah lama. Bahkan Tirto Adhi Soerjo, adalah keturunan seorang China Lasem yang bernama Raden Muhammad Chan!

Tirto, pahlawan Pram itu, bahkan juga sempat belajar sejarah revolusi China dan kawin dengan seorang gadis China yang (kebetulan) bernama Mei juga, di abad lalu.

Sejarah bisa berulang, dan akan menjadi kutukan bagi mereka yang tidak pernah belajar kepada sejarah.

Selamat ber-Revolusi. Sekarang atau Tidak Samasekali !!!

Soesilo Toer Ph.D.
Mantan Tapol PKI, alumnus Institute Plekhanov, Russia
Pengantar Penerbit dalam Buku Jokowi Undercover
Yang ditulis oleh: Bambang Tri

Monday, October 12, 2015

Permadi: “Paling Lama Awal 2016 Jokowi Jatuh”


Sejak melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika, banyak yang menyamakan kondisi perekonomian saat ini sama atau bahkan lebih parah dibanding tahun 1998, menjelang Soeharto lengser. Teranyar pada Rabu (9 September 2015) yang lalu, nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dollar yaitu sebesar Rp 14.300.

Kondisi ini dikritisi oleh banyak kalangan tak terkecuali juga oleh paranormal, Permadi SH, politisi yang kini menjadi pengamat politik alumni Universitas Indonesia. Permadi meramal masa pemerintahan Jokowi berdasar ramalan Jongko Joyoboyo.

“Saya adalah pengikut Kejawen yang mampu memberikan ramalan-ramalan, tapi itu entah benar entah tidak. Karena ada yang mengakui benar, ada yang mengakui tidak,” kata Permadi membuka perbincangan dengan merdeka.com di kediamannya di Jalan Pengadegan Raya, Pekan lalu.

Menurut dia dalam ramalan Jongko Joyoboyo yang dia percayai, di Indonesia akan terjadi goro-goro alias kerusuhan yang lebih besar dari 1998. Bahkan kerusuhan akan terjadi lebih parah dari Peristiwa 1965.

Mengenakan kaos dan celana panjang hitam, Permadi, di sela-sela jadwal kontrolnya ke dokter, dia masih bisa meluangkan waktu berbincang hampir sejam. Ditemani air mineral dan kue ringan dia menjawab semua pertanyaan.


Berikut petikan wawancara Laurel Benny Sharon Silalahi dan Arbi Sumandoyo dari merdeka.com kepada Permadi, soal ramalan Jongko Joyoboyo.

Bagaimana ramalan Anda tentang kondisi Indonesia saat ini ?

Baik saya menjawab pertanyaan ini tidak berdasarkan like and dislike, tidak ada saya benci ini benci itu. Tetapi benar-benar dari pemahaman kejawen saya. Saya adalah pengikut kejawen yang mampu memberikan ramalan-ramalan, tapi itu entah benar entah tidak. Karena ada yang mengakui benar, ada yang mengakui tidak.

Terus terang, saya juga diminta untuk tidak jadi populer, ramalan saya untuk Indonesia sekarang ini pasti terjadi goro-goro, yang dalam bahasa politiknya adalah revolusi rakyat. Karena kondisi dan situasinya sudah sedemikian hebatnya, rakyat sudah hampir tidak tahan, sementara pemerintah bersama menteri-menterinya masih adem-ayem menganggap tidak ada apa-apa. Nah pada suatu saat ini akan meledak. Karena apa? Di Indonesia sebenarnya rakyat itu tidak pernah ber-revolusi sendiri atas inisiatif rakyat sendiri.


Tahun 1945 ketika revolusi di Surabaya itu mana berani rakyat. Bung Tomo dan para kiai-lah yang maju melawan Belanda yang persenjataannya lengkap, punya tank, punya pesawat, punya kapal yang mengepung Surabaya, rakyat tidak berani. Tetapi manakala Tuhan menghendaki revolusi terjadi, maka terjadilah.

Tuhan memasukkan roh keberanian, dan rakyat menjadi kesurupan, bahkan ada yang berani naik tiang bendera mau menyobek warna biru bendera Belanda jadi merah putih. Satu orang naik, ditangkap dan ditembak mati, berkali-kali, naik lagi, sampai 5 kali, baru tersobek.

Sesudah itu tank diserbu dengan bambu runcing, kiai bawa keris maju, Bung Tomo bawa keris maju, semua maju, semua seperti kesurupan. Tapi setelah menang dan Belanda ketakutan, akhirnya rakyat tidak berani lagi melakukan revolusi, Bung Tomo juga tidak berani lagi melakukan revolusi. Maka kekuasaan akhirnya dipegang oleh Bung Karno.

Mengapa? Karena Bung Karno lebih hebat. Siapa yang berani melawan Bung Karno? Matanya melotot saja sudah pada takut semua, tapi ketika Bung Karno sudah 21 tahun, waktunya jatuh, Tuhan kembali memasukkan roh keberanian kepada pemberontak. Mereka beringas, apa saja dilabrak. Bung Karno PKI, Bung Karno korupsi, segala macam. Bung karno tahu diri, dia akhirnya memilih mundur, kekuasaan akhirnya dipegang oleh Pak Harto.


Siapa yang berani melawan Pak Harto saat itu? Dengan filsafat 3B-nya, “Bui (penjara), Buang, dan Bunuh,” nggak ada yang berani. Hampir 33 tahun Pak Harto malang melintang, tetapi ketika waktunya sudah datang, Tuhan memasukkan roh keberanian. Siapa yang berani melakukan revolusi? Ternyata orang-orang Golkar pengikut Pak Harto. Harmoko yang katanya, “waduh semua-semua berkat Pak Harto”, Ginanjar, Akbar Tanjung, semua yang tadinya menyanjung Pak Harto mereka berontak, sampai Pak Harto jatuh. Berani toh mereka!?

Sekarang ini mulai dari Pak Habibie, Gus Dur, Mega, SBY, dan Jokowi, itu adalah presiden-presiden yang tidak dijongkokan (diramalkan) dalam Jongko Joyoboyo. Jongko Joyoboyo itu hanya memuat 3 kesatria, Satria Kinunjara itu Bung Karno, Satria Muktiwibawa itu Pak Harto, dan Satria Piningit itu yang akan datang yang belum muncul.

Karena itu, paranormal-paranormal gombal, pernah menjuluki Habibie ini satria ini, Gus Dur satria ini, Mega satria ini, SBY satria ini, Jokowi ini. Itu beda, mereka tidak dihitung karena hanya pelengkap saja. Karena hanya untuk menjadikan Indonesia semakin buruk dan semakin terpuruk. Karena apa, dalam ramalan Joyoboyo dikatakan, setelah Bung Karno itu akan menurun terus akan terjadi lagi penjajahan secara ekonomi dan politik, dan terus-menerus, karena yang sekarang ini diramalkan adalah puncak dari keterpurukan. Baru nanti muncul goro-goro atau revolusi, dimana nanti muncul seorang pemimpin sejati yang disebut Satria Piningit itu. Itulah yang akan membawa kebesaran Indonesia bahkan sampai Indonesia menuju puncak mercusuar dunia. Bagaimana caranya, Tuhan yang mengatur.


Artinya kondisi Indonesia saat ini bisa disamakan dengan tahun 1998?

Ini paling buruk. Ini nanti akan terjadi revolusi yang sangat besar, sehingga Joyoboyo menjongkokan, akan terjadi goro-goro yang sangat besar oleh alam dan juga manusia. Jadi nanti ini habis-habisan betul. Karena apa, sekarang ini kejahatan sudah melanda semua orang, mulai dari presiden, menteri, DPR, polisi, jaksa, semua sudah korup. Malah KPK bisa disogok, rakyat pun ikut-ikutan. Ini makin buruk dan akan diperburuk lagi dengan situasi sekarang ini. Situasi sekarang ini kan sudah krisis, tetapi tidak ada gaungnya pemerintah untuk menangani krisis. Jokowi membuat pernyataan yang berbeda dan bertolak belakang, ekonomi Indonesia masih lebih baik ketimbang 1998 dan 2008. Tapi dia mengatakan juga, kita harus waspada menghadapi krisis yang nggak bener.

Jokowi itu kan senangnya bersumpah demi Allah saya akan ini, saya akan itu, saya tidak akan ini saya tidak akan itu, tapi semua dilanggar oleh dia. Termasuk pada saat dia menjadi presiden: saya bersumpah demi Allah tidak akan menaikkan harga BBM, tetapi ketika Jusuf Kalla mendorong kenaikan harga BBM, Jokowi arahnya berganti, demi Jusuf Kalla BBM dinaikkan. Tadinya demi Allah tidak akan menaikkan BBM, jadi semua sumpahnya dilanggar. Waktu jadi gubernur demi Allah saya tidak akan jadi presiden, saya akan menjadi gubernur selama lima tahun. Pakai demi Allah dia. Nah kalau orang sudah begitu, bagaimana? Saya tidak berani menjongkokan, dikira nanti saya benci, dikira nanti saya like and dislike tapi saya akan memberi contoh pewayangan.

Di wayang, itu ada lakon “Petruk jadi Ratu.” Petruk itu pembantu tetapi berambisi untuk menjadi ratu (pemimpin), padahal Petruk itu bodoh, dia tidak mempunyai pendidikan tinggi tapi ingin jadi raja. Dia mohon pada Tuhan. Dan mengapa Tuhan mengabulkan? Karena Tuhan ingin mengubah hidupnya melalui goro-goro. Jadi Petruk betul-betul sakti pada waktu itu. Semua raja yang menentang dia, kalah. Raja mana pun yang datang, tunduk semua. Nah, Petruk itu kan bodoh, mengangkat pembantu-pembantu seenaknya, temen-temennya, sehingga kerajaan saat itu kacau balau. Akhirnya Semar marah, dikentuti sama Semar, hancur semua, timbul goro-goro. Revolusi pada waktu zaman wayang dulu muncullah Satrio Piningit yaitu Parikesit, maka makmurlah dan kembali jaya.

Siapa Satria Piningit itu?

Itu tidak ketahuan. Namanya saja Piningit, itu dipingit (dijaga dan dirahasiakan) betul-betul sama Tuhan. Tetapi sudah banyak yang mengaku ada, saya ini Satria Piningit, saya juga, lebih dari 400 orang, tapi sudah banyak yang mati.


Apakah dalam kisah wayang tadi Petruk bisa diartikan Jokowi?

Saya tidak mau mengutarakan seperti itu, tapi ada persamaan. Jadi sekarang Indonesia kan kacau balau mengangkat menteri seenaknya, tidak ada yang terkenal, tidak ada yang hebat, tapi teman-temannya yang mukanya lebih jelek dan pendidikannya lebih bodoh. Akibatnya, belum sampai satu tahun harus sudah ada yang di-reshuffle. Menurut saya sebagai pengamat politik, reshuffle itu paling sedikit harus 15 menteri termasuk Puan Maharani. Berani nggak dia me-reshuffle Puan?

Kemarin kan reshuffle seenaknya, orang oposisi seperti Rizal Ramli, diangkat jadi ribut, bentur sama JK, bentur sama siapa saja. Dan ini akan semakin kacau. Luhut pun sudah memberikan sinyal akan ada yang di reshuffle karena menteri yang berani membangkang dan bodoh akan diganti semua. Bahkan dia berani ikut mencampuri polisi. Bareskrim harus diganti karena membuat kegaduhan. Lah, polisi itu (harusnya) mandiri, nggak bisa orang lain campur tangan kecuali presiden.

Karena undang-undangnya polisi itu di bawah presiden, jadi hanya presiden bukan menteri, bukan siapa pun boleh ngatur seenaknya. Karena itu Indonesia kan sudah mulai kacau, daging sudah Rp 160 ribu lebih, ayam sudah Rp 60 ribu lebih, beras sudah Rp 13 ribu lebih, dolar 14 ribu lebih. Ini sesuatu yang buruk zaman sekarang.


Banjir di mana-mana sekaligus kekeringan di mana-mana. Kekeringan itu sudah ribuan hektare, masak menteri pertanian bilang kekeringan tidak mempengaruhi hasil panen. Gila nggak, malah wali kota Surabaya mengatakan, kenaikan dollar tidak mempengaruhi pedagang kecil, gila nggak?!

PHK begitu banyak. Jokowi malah memasukkan tenaga kerja dari China sampai kira-kira 20 juta nantinya. Persaingan di mana-mana, nanti bisa melalui Aceh, Papua, Jawa Timur, Bali, melalui Tangerang. Sementara kita mengekspor TKI ke luar negeri. Kuli-kuli pekerja kita di PHK semua, hancur lah ini. Maka tetap akan terjadi goro-goro.

Artinya kalau dari prediksi Anda, pemerintah sekarang tidak akan sampai 5 tahun?

Itu sudah saya prediksikan, paling cepet akhir tahun, atau paling lama tahun 2016 jatuh, 2016 awal. Goro-goro akan terjadi dalam waktu dekat. Tuhan akan memasukkan kembali roh keberanian, kepada rakyat Indonesia. Saat ini sudah mulai sampai hampir 100 ribu buruh berjalan, tapi masih baik-baik saja. Tapi Menteri Tenaga Kerja mengatakan, tidak benar ada buruh asing masuk ke Indonesia, ini kan namanya penipuan ulung. Sudah nyata di mana-mana, di beberapa perusahaan sudah mempekerjakan orang asing. Itu keputusan Jokowi yang gegabah.

Zaman Bung Karno dulu, perusahaan asing milik Belanda dulu, karena kita dijajah Belanda, dinasionalisasi, kereta api dinasionalisasi. Kemudian orang-orang China tidak boleh ada di kabupaten, atau mereka harus pulang ke negerinya, hingga semua ekonomi dikuasai oleh orang Indonesia.

Tapi zaman Pak Harto dijual lagi, zaman Pak Habibie dijual lagi, termasuk Timor-Timur. Zaman Mega dan Gus Dur juga begitu. Juga sama saja. Zaman Mega satelit Indonesia hilang, kapal tangker Indonesia hilang. Zaman SBY sama saja. Zaman Jokowi ini lebih gila lagi, semua peraturan diterjang saja. Saya dalam hal ini, sekali lagi tidak like and dislike, saya hanya melihat fakta kenyataan.


Apakah ramalan Jongko Joyoboyo sudah ada yang terbukti?

Jongko itu ilmu pasti, pasti terjadi. Yang diramalkan itu semua terjadi. Misalnya, jalanan akan berkalung besi, itu terbukti bahwa saat ini sudah dikitari rel kereta api. Bakal ono kereto mabur, kereta kuda bisa cepat, ternyata ada mobil, ada pesawat terbang. Nah sekarang ini sudah sampai pada zaman edan, semua pejabat itu korup. Jaksa, polisi, hakim, gampang kena suap. KPK pun juga. Korupsi yang lebih edan akan lebih banyak lagi.

Menurut Anda, siapa yang pantas memimpin negeri ini?

Kalau dari ramalan Jongko Joyoboyo itu tadi, ada Bung Karno dan Pak Harto.

Apakah Trah Soekarno atau Trah Soeharto bisa jadi pemimpin berikutnya?

Saya tadinya menginginkan Trah Soekarno, tetapi ternyata tidak ada yang mumpuni. Pernah dicoba oleh Megawati tidak berhasil. Trah Soeharto pun nampaknya tidak ada yang mumpuni, sekalipun saya mendorong salah satu putranya untuk bisa maju, nah karena disebut Satria Piningit, maka tidak ada orang yang tahu siapa dia. Satrio Piningit itu siapa saja yang ditunjuk Tuhan secara pribadi. Seperti zaman nabi-nabi, belum tentu nabi-nabi yang dipilih itu orang pinter, orang kuat. Nabi Muhammad justru orang miskin, tapi kalau Tuhan menghendaki jadi, jadilah dia. Tidak bisa diganggu gugat.

Bung Karno itu ditunjuk Tuhan enggak bisa diganggu gugat. Begitu juga yang selanjutnya ini, saya kira Tuhan pun ikut campur tangan, sehingga negara ini rusak, sehingga terjadi Joyo Bowo dan Joyo Boyo.


Mengapa saya katakan begitu itu. Habibie, itu sudah saya katakan: “Pak Habibie jangan mau jadi presiden, Pak Habibie itu bukan negarawan bukan politisi bukan dari partai politik, pasti jatuh dalam waktu dekat.” Pak Habibie ngerangkul saya, “Terima kasih Pak Permadi Anda orang kedua yang menyarankan saya untuk tidak jadi presiden.” Siapa orang yang pertama? “Margaret Thatcher, tapi Margaret tidak kasih solusi ke saya.”

Pak Habibie dicintai oleh Pak Harto, minta tanah seluas-luasnya sebesar Bogor, dikasih. Didirikan semua laboratorium sebanyak-banyaknya, di sana, darat, laut, udara, perekonomian, bahasa, pendidikan, apa saja yang didirikan di sana Pak Habibie yang pimpin. Pak Habibie akan lebih terkenal dari presiden, eh dia nggak mau. Begitu ditunjuk, tinggal menggantikan Pak Harto, dia jadi presiden, fatal... Jatuh !!!

Gus Dur, saya bilang sama beliau: “Gus, kamu itu kan pemimpin, ketua umum FORDEM (Forum Demokrasi). Forum Demokrasi itu tahu, bahwa di seluruh dunia, yang menang pemilu itu pasti jadi presiden. Maka, Mega yang harusnya jadi presiden, kamu (Gus Dur) tidak. Tapi Gus Dur malah bilang seperti ini, “Oh, aku pasti jadi. Aku sudah punya cincin wahyu dari Sunan Kalijaga. Lalu ditunjukkan ke saya cincin itu, “Siapa yang punya ini pasti jadi,” dan betul saja atas campur tangan Tuhan, Gus Dur jadi. Saya pun bilang: “Kamu (Gus Dur) boleh jadi tapi sebentar dan kamu jatuh.”

Kalau Mega, Mega saya suruh jangan menggantikan Gus Dur. “Persiapkan dirimu untuk pemilihan presiden yang akan datang.” Dia malah maju menggantikan Gus Dur, dan di pemilihan presiden dia kalah toh. Tidak terpilih lagi.

SBY juga saya katakan, Pak SBY jangan mencalonkan sekarang, Bapak sebaiknya menjadi wakilnya Mega. Mega nyalonkan dan Pak SBY wakil, maka pasti Pak SBY belajar 5 tahun dan SBY akan semakin pinter nantinya. Tapi pak SBY dibisiki sama Akbar Tanjung dan oleh orang-orang Golkar, sehingga tidak bisa ketemu sama Mega.


Tadi Anda katakan goro-goro akan lebih besar dari tahun 98, seperti apa goro-goro itu?

Lebih besar dari 1965 malah, dimana PKI saat itu yang mati 3 juta, lebih besar dari itu. Kita nggak bisa membayangkan, saya katakan sekali lagi ini kehendak Tuhan. Ini pakem dan ini akan terjadi, tidak mungkin tidak. Nah kenyataannya kekecewaan demi kekecewaan, pedagang kecewa, petani kecewa, nelayan kecewa, buruh kecewa, pelajar kecewa, mahasiswa kecewa, semua kekecewaan tumpah ruah jadi satu. Siapa lawan siapa yah? Tak tahu siapa yang dilawan. Buruh pasti melawan China, petani pasti melawan tuan tanah, nelayan melawan pencuri ikan, mahasiswa kalau sudah kemasukan roh akan berani bergerak, saya yakin seluruh komponen masyarakat akan bergerak. Dengan melihat dengan kesurupan akan terjadi pembunuhan dan Indonesia akan menjadi hancur.

Berarti ramalan Anda, Jokowi akan turun seperti Pak Harto?

Sekarang saja sudah mulai ada terlihat tanda-tandanya, sudah mulai banyak yang menuntut Jokowi mundur.

Sebelum Satria Piningit ini turun, apakah di Indonesia akan terjadi kudeta militer?

Harus, karena pakemnya begitu, kalau sudah goro-goro barulah muncul Satria Piningit. Adanya kudeta militer ini akan mengantar Indonesia menjadi mercusuar, karena negara-negara lain hancur, Amerika hancur, Tiongkok hancur, Jepang hancur, Rusia hancur sekarang sudah kelihatan semua. China itu kan tadinya akan memperluas perekonomiannya di Asia, pembangunannya hebat, tiba-tiba krisis ekonomi, hancur dengan Yuan itu.


Nah, Amerika sendiri sekarang mengalami kehancuran, jalan tol putus, gempa bumi, banjir, kebakaran hutan, malah sampai di kota-kota besar dan mewah, akan hancur semua. Dollar bisa naik tapi tidak bisa melawan krisis dunia. Indonesia itu dipersiapkan oleh Tuhan untuk jadi mercusuar dunia.

Kapan itu terjadi?

Dalam waktu dekat, setelah goro-goro datang Satria Piningit. Tuhan campur tangan, seperti Tuhan campur tangan di Jepang. Jepang itu kan hancur sama sekali di bom atom nggak ada kehidupan, semua hampir mati. Tapi Tuhan campur tangan pada Jepang, hingga saat ini menjadi negara besar dalam waktu hanya 10 tahun. Tapi kan sekarang membuat kesalahan lagi, maka dihancurkan lagi. Banjir tsunami, gempa bumi dan sebagainya.

Wawancara dengan Paranormal Permadi SH
Merdeka.com, Jakarta, 11 September 2015
Reporter: Arbi Sumandoyo, Laurel Benny Sharon Silalahi
http://www.merdeka.com/khas/paling-lama-awal-2016-jokowi-jatuh-wawancara-permadi.html

Saturday, December 24, 2011

Sondang Hutagalung




Mohamed Bouazizi drop out dari SMP karena orangtuanya tak mampu bayar uang sekolah. Untuk memperbaiki nasib, mereka pindah ke kota lebih kecil, R’gueb, dan bekerja di peternakan saudaranya.

Namun, peternakan itu bangkrut karena jadi korban pemerasan aparat. Merasa sia-sia, Bouazizi dan keluarga balik lagi ke Sidi Bouzid, Tunisia tengah.

Ia memutuskan mencoba peruntungan sebagai penjual buah dan sayur dengan modal gerobak serta utang kanan-kiri untuk membeli dagangan. Sayang, usaha kaki limanya dilarang, gerobaknya jadi langganan disita polisi.


Jumat, 17 Desember 2010, pagi, ia tak tahan karena frustrasinya memuncak. Utangnya sekitar Rp 1,7 juta. Ia pergi mengadu ke gubernur mengapa polisi belum mengembalikan gerobaknya.

Namun, ia diusir polisi. Tak ada jalan keluar lagi, Bouazizi mengambil jalan pintas. Ia lalu membakar diri di depan kantor gubernur.

Aksi konyol itu membuat Bouazizi menderita luka bakar parah. Rakyat marah. Sepanjang akhir pekan setelahnya, massa melakukan demonstrasi dan menjarah.

Pembakaran dan penjarahan segera menyebar ke seluruh negeri. Perlahan tetapi pasti, rakyat tergerak mempersoalkan tingkat pengangguran yang tinggi dan korupsi para pejabat.


Rezim Presiden Tunisia Zine al-Abidine Ben Ali berupaya bertahan. Namun, percuma karena ihwal pembakaran dan penjarahan ditiru di mana-mana dan menyebar melalui media sosial.

Aksi Bouazizi ditiru beberapa demonstran di Mesir dan Aljazair karena efektif memicu revolusi. Kurang dari dua bulan, ”Revolusi Melati” di Tunisia merembet ke sejumlah negara Timur Tengah.

Padahal, kultur membakar diri akibat frustrasi sosial tidaklah dikenal di kedua kawasan itu. Aksi itu lebih sering terjadi di Asia, terutama di kawasan Asia Timur dan Asia Selatan.


Kita jelas tak mengenal kultur bakar diri, makanya kita tercengang ketika menyaksikan aksi itu dilakukan Sondang Hutagalung. Tak pernah ada yang bakar diri di depan istana sejak 1945.

Sudah beberapa kali terjadi belakangan ini orang loncat dari gedung, menjatuhkan diri dari jembatan penyeberangan, atau membakar diri sekeluarga.

Padahal, budaya protes kita terhadap keadaan yang sumuk tidak begitu. Protes kita masih berwatak jinak, misalnya demonstrasi ke istana yang merupakan bentuk modern dari pépé (berjemur diri di alun-alun).


Kita lebih kenal amarah politik yang diwarisi budaya Melayu yang lebih mengerikan, yakni amuk (to run amok). Itulah yang terjadi, misalnya, pada 1965-1966 dan 1998.

Apa yang dilakukan pembakar diri adalah perbuatan kurang waras dan bertentangan dengan agama walau Bouazizi terbukti periang dan religius. Satu-satunya motivasi kenapa mereka nekat adalah karena putus asa akibat kondisi sosial dan ekonomi terpuruk.

Pembakar diri memprotes rasa ketidakadilan. Dan, yang perlu digarisbawahi, para pemimpinlah yang bertanggung jawab atas terciptanya ketidakadilan tersebut.


Kalau bukan para pemimpin, lalu siapa? Pasalnya, hanya jajaran pemimpin negara —pemerintah dan parlemen yang mengawasi pemerintah serta yudikatif yang mengemban keadilan— yang wajib mengurus rakyat.

Lihat ketiga cabang kekuasaan kita yang sering diguyoni dengan ”Trias Poli-thieves”. Ketiga cabang kekuasaan terdiri atas ”execu-thieves”, ”legisla-thieves”, dan ”judica-thieves”.

Tikus-tikus koruptor menguasai ketiga cabang kekuasaan. Korupsi tak lagi sekadar mengentit alias mengais-ngais dari anggaran belanja, tetapi juga menjarah anggaran untuk dibagi-bagikan sejak ia ditetapkan oleh eksekutif dan yudikatif.


Korupsi mudah ketahuan dan segera diperiksa KPK, Kepolisian, ataupun Kejaksaan. Namun, mereka ternyata bukan sapu-sapu yang bersih sehingga sukar diharapkan menyapu kotoran.
”Judica-thieves”? Lihat saja sebagian keputusan Pemilu-Pilpres 2009 dan pilkada yang ternyata diperdagangkan oleh Mahkamah Konstitusi yang kini disidik Panitia Kerja Mafia Kursi DPR.

Betul kata judul buku politisi Partai Golkar, Bambang Soesatyo, Perang-perangan Melawan Korupsi. Pembasmian korupsi ibarat anak-anak yang bermain perang-perangan semata. Kepolisian dan Kejaksaan menjalankan peran memainkan ”penyidik-penyidikan” sekaligus ”penyelidik-penyelidikan” skandal-skandal korupsi. KPK bertindak sebagai aktor yang bermain ”periksa-periksaan” koruptor. Lalu Pengadilan Tipikor memainkan peran menjalankan ”sidang-sidangan” seperti yang dilakukan terhadap M Nazaruddin.


Korupsi makin hari makin absurd. Permainan perangan-perangan melawan korupsi sudah berlangsung sekitar dua tahun. Sondang menjadi peringatan bagi kita bahwa korupsi di republik ini sudah mencapai kondisi luar biasa.

Selain membakar diri, muncul fenomena baru: dalam rangka peringatan Hari Antikorupsi Internasional, mahasiswa dan aktivis pendemo menyatroni rumah Ketua Umum Partai Demokrat.

Pembakar diri seperti Bouazizi atau Sondang bukan pencari sensasi yang haus perhatian dan ingin dikenang sebagai ”pahlawan”. Mereka bisa disebut sebagai ”korban” yang ingin agar rakyat ”bangkit”.


Makna dua kata, korban dan bangkit, itulah yang menjadi esensial. Setiap perjuangan memerlukan pengorbanan dahulu demi membangkitkan harapan rakyat agar nasib bangsa jadi lebih baik lagi.

Kita wajib periksa diri: walau sistem demokratis, apakah the ruling elite yang berkuasa masih belum kapok korupsi? Percuma membanggakan demokrasi jika tujuannya tidak lebih dari sekadar memperkaya diri.

Budiarto Shambazy, Wartawan KOMPAS
Sumber : KOMPAS, 10 Desember 2011

Friday, December 11, 2009

Bung...!!! Ayo Bikin Revolusi


BUNG! Bukankah telah berkali-kali kukatakan bahwa ada yang salah di negeri ini. Kita tak pernah tahu apa yang sedang terjadi di dalam kelambu kekuasaan. Mereka —yang sibuk mengklaim keberadaan kita sebagai rakyat— sedang memainkan lakon yang kian memusingkan.

Di dalam kelambu itu sedang ada intrik yang tertutup dan haram hukumnya diketahui oleh kita sebagai warga bangsa. Kita hanya menyaksikan satu fragmen ala opera sabun yang tak pernah jelas arahnya. Sementara mereka sibuk bersilat kata dan adu gertak, dan sesaat kemudian segera tersenyum tatkala kamera televisi menyorot.

Bung…!! Kita dibodoh-bodohi oleh situasi. Tidak ada yang mau memberikan penjelasan, sekadar agar kita sebagai kawula tidak bingung. Bukankah kau sendiri pernah bilang bahwa penguasa yang suka menyembunyikan sesuatu adalah penguasa yang menyimpan muslihat? Jika memang tak ada yang salah di sini, kenapa tidak buka-bukaan saja? Biar kita sama tahu, kalau perlu kita saling menahan dan tidak baku tikam dengan usus memburai di jalan-jalan.


Bung..!! Pemerintahan ini semakin tidak jujur. Aku punya firasat bahwa ada sesuatu yang sedang disembunyikan, ibarat bangkai yang meskipun ditutup rapat, toh baunya tercium juga. Kita sama-sama mencium bau busuk. Tapi anehnya, tak ada satupun para pemimpin kita yang mau buka suara. Semuanya sibuk menjaga citra.

Di negeri ini, nilai-nilai kesatriaan sudah lama lenyap. Tak ada lagi manusia gagah perkasa yang berbesar hati mengakui kesalahan dan siap meletakkan lehernya untuk dipenggal sebagai hukuman. Negeri ini krisis manusia besar yang berbesar hati mengakui ada sesuatu yang terjadi.

Bung..!! Terlalu banyak dalih di negeri ini. Semuanya tenggelam di balik apologi dan alibi. Jiwa besar sudah lama tamat dikalahkan kepengecutan. Jikapun ada manusia berjiwa besar, rasa-rasanya tak akan mungkin membongkar sesuatu yang akan menyeret banyak petinggi-petinggi. Tapi, bukankah berkali-kali kau bilang bahwa dalih sebesar apapun akan kesulitan menutupi bau anyir bangkai yang menyengat di hidung rakyat?


Dan betapa bodohnya kita yang diam saja dan tidur seperti bayi, sementara firasat kita bergidik kala mengetahui apa yang terjadi. Kita sama-sama dungu kala hanya diam saja, tanpa melakukan apa-apa. Kalau kita terus diam begini, maka kebajikan bisa tenggelam. Dan keangkaraan akan menenggelamkan negeri kita.

Bung…!! Mari kita kepal tangan. Kita garami massa dengan samudera gagasan. Kita bakar mereka dengan api kesadaran yang kita sulut. Kita getarkan angkasa dengan sorak-sorai perlawanan. Kita akan teriak dengan gemuruh hingga membuat mereka terbirit-birit. Kita kalahkan mereka. Kita bikin peradaban baru tanpa korupsi, tanpa penindasan, tanpa kejahatan.

Bung..!! Marilah kita kembali ke jalan. Kita rapatkan barisan dan sama-sama teriak revolusi!!!!

Bung ... Ini REVOLUSI !!!

Yusran Darmawan
http://timurangin.blogspot.com/2009/12/bung-ayo-bikin-revolusi.html

Friday, April 24, 2009

Devolusi Anak Negeri: MENJEBOL, DIJEBOL, TERJEBOL, JEBOL


Keyakinan terhadap perubahan itu paralel terhadap pengakuan atas adanya ketidak-benaran. Kecuali di Indonesia.

Begitu banyak orang di negeri ini berpendapat, beraspirasi, berkeyakinan dan mendiskusikan ‘perlunya perubahan’. Perubahan yang dimaksud bukan sekedar perubahan, melainkan perubahan mendasar, mengakar, substansial, kalau perlu: eksistensial. Bukan sekedar reformasi, tapi revolusi, sekurang-kurangnya ‘revolt’. Bukan sekedar membengkeli, memperbaiki onderdil ini itu, bahkan bukan sekedar ganti onderdil, tapi ganti kendaraan.

Pun lebih luas skalanya. Perubahan ke-Indonesia-an tak sekedar menyangkut substansi nilai dan struktur institusional kenegaraan, tapi juga berkaitan dengan bencana alam, bumi retak, laut meluap, angin puting beliung, longsor dan jebol, Tuhan dan para makhluk non-manusia, Mbah-Mbah dan Danyang-Danyang. Lebih dari itu semua gambaran perubahan Indonesia bisa menembus batas pemahaman sejarah: lenyapnya sebuah bangsa dan lahirnya sebuah bangsa baru, tidak sekedar regenerasi atau surutnya sebuah generasi dan munculnya generasi berikutnya.

Akan tetapi segala pembicaraan tentang perubahan di Indonesia justru berdiri sejajar dengan keyakinan yang sangat teguh terhadap segala sesuatu yang dipilih dan dijalani. Bangsa Indonesia sangat yakin terhadap Negara. Terhadap NKRI. Terhadap jenis demokrasi yang diramunya. Terhadap semua pasal konstitusi, undang-undang dan aturan sampai ke tingkat Perdes. Bangsa Indonesia sangat yakin terhadap 42 Parpol, Pilcaleg dan Pilpres. Bangsa Indonesia sangat meyakini bahwa pada bulan April dan Juli 2009 sedang menjalani Kedaulatan Rakyat.

Ribuan gambar wajah di tepi jalanan-jalanan seluruh negeri, kibaran bendera yang berpuluh-puluh jenisnya dan berjuta-juta jumlahnya, sangat mencerminkan keyakinan yang luar biasa terhadap nilai bernegara yang sedang dijalani oleh bangsa ini.

Sebagai keramaian, keriuhan, pesta dan perayaan, ekspressi keyakinan bangsa Indonesia itu sedikitpun tak bisa ditandingi oleh bangsa dan Negara lain yang mana pun di seluruh muka bumi. Secara kasat-mata, itu bukan sekedar “devolusi”, ia bahkan super-evolusi.

Bangsa Indonesia, terutama Kelas Menengah, sangat yakin bahwa Pemilu 2009 ini benar, bahwa demokrasi yang sedang kita jalani ini benar, bahwa parpol-parpol, caleg-caleg, capres-capres, itu benar, bahwa prinsip-prinsip dan sistem nilai bernegara yang kita anut ini benar, bahwa NKRI dengan segala macam perangkatnya, sejak awal-awal dirancang hingga sekarang ini, adalah benar, adalah kebenaran. Bangsa Indonesia sangat yakin sedang menjalani kebenaran.

Itu berarti bangsa Indonesia tidak memerlukan perubahan, terutama para pelaku kebenaran yang sedang berkibar-kibar. Kalaupun ada cuatan-cuatan kecil di sana sini tentang keinginan akan perubahan, itu sekedar harapan per-orang agar dari tidak berduit menjadi berduit, atau dari berduit menjadi berduit lebih banyak. Atau perubahan dari tidak berkuasa menjadi ikut berkuasa, dari berkuasa menjadi berkuasa lagi.

Diskusi pagi ini adalah sebuah gerundalan lokal dan marginal, yang hingga usai acara siang harinya, belum tentu menghasilkan hitungan yang memadai presisinya atas segala hal yang menyangkut gerundalan itu. Diskusi ini tampaknya dihadiri oleh sebagian amat sangat kecil dari bangsa Indonesia dari golongan yang paling tidak mampu, atau mungkin tidak mau, menjalani kebenaran besar yang sedang diterapkan di seluruh negeri.

Kalaupun diskusi ini ada sumbangannya terhadap Bangsa dan Negara, batas kontribusinya ‘sekedar’ kewaspadaan sejarah. Kewaspadaan pada skala strategis eskalasi zaman ke zaman, atau pada perspektif yang lebih kosmologis – di mana pelaku perubahan di Indonesia diyakini bukan terutama bangsa Indonesia itu sendiri, melainkan juga Tuhan, sejumlah makhluk lain non-manusia, persesuaian dan dialektika antara metabolisme alam terhadap atau dengan kemandatan manusia dengan rekanan-rekanan lain sesama makhluk Tuhan.

Memang terdapat kemungkinan bahwa bangsa Indonesia telah tiba pada suatu iklim mental dengan ketangguhan tingkat sangat tinggi. Di mana berubah atau tak berubah itu sama-sama bukan soal. Bahagia atau menderita bukan masalah serius. Jaya atau hancur bukan sesuatu yang mendalam.

Orang yang berjuang melangkahkan diri menuju cahaya adalah orang yang tidak mampu bertahan dalam kegelapan dan tidak memiliki kesanggupan untuk menaklukkan kegelapan. Sedangkan bangsa Indonesia adalah suatu jenis kumpulan makhluk Tuhan yang memiliki keistimewaan spesifik dan keunggulan luar biasa, di mana kegelapan tidak pernah sanggup mendorong mereka untuk bergerak mencari cahaya. Kehancuran hidup tidak mampu membuat bangsa Indonesia mengubah dirinya menuju ketidak-hancuran.

Bangsa Indonesia adalah pawang kehancuran, pawang kegelapan, pawang kebobrokan, pawang kebusukan, pawang kehinaan, pawang kedunguan, pawang segala kemungkaran. Mereka tidak merasa hancur dalam kehancuran. Mereka sanggup menyelenggarakan penggelapan atas kegelapan. Mereka tidak menemukan kebobrokan dalam kebobrokan. Mereka tahan bau busuk sebusuk apapun dalam absolutisme kebusukan. Mereka berlaku mulia dengan dan dalam kehinaan. Mereka berani mempidatokan, mengorasikan dan memperdebatkan kedunguan. Mereka memiliki teknologi mental, teknologi budaya dan teknokrasi politik untuk membangun ketidak-mungkaran dengan bahan-bahan kemungkaran. Mereka berekreasi dalam kesengsaraan.

Kalau diskusi ini mampu mengarahkan dirinya menuju pengetahuan atau kasunyatan sejati tentang apakah yang tsunami itu Aceh, apakah yang lumpur itu Sidoardjo, apakah yang jebol itu Situgintung – siapa tahu akan segera ada hari di mana hasil diskusi ini akan sedikit bermanfaat sekurang-kurangnya untuk bayi-bayi Indonesia.

Semula tulisan ini akan saya arahkan ke “Indonesia Sempoyongan”, tapi karena pada hakekatnya yang menulis bukan saya, maka ya jadinya seperti ini.

Emha Ainun Nadjib