Showing posts with label Pengajaran. Show all posts
Showing posts with label Pengajaran. Show all posts

Saturday, February 6, 2016

Kecakapan Bermatematika


Jika haluan kapal melenceng, mempercepatnya semata justru akan menjauhkan dari tujuan. Seperti itulah keadaan pendidikan matematika sekolah kita. Jika hanya meningkatkan upaya kegiatan belajar-mengajar tanpa dibarengi mengubah arah, pelajar kita akan tetap tertinggal. Meralat arah pembelajaran matematika mutlak dibutuhkan.

Besar kemungkinan ini alasannya mengapa setiap tiga atau empat tahun sejak hampir 20 tahun lalu kita rutin membaca berita hasil buruk pelajar Indonesia dalam tes pemetaan matematika internasional. Laporan Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS) menunjukkan capaian yang rendah sekaligus menurun dan Programme for International Student Assessment (PISA) menunjukkan capaian yang secara statistika stagnan rendah.

Untuk memperbaikinya, mau tak mau harus diawali dengan merumuskan ulang kecakapan bermatematika sebagai tujuan pembelajaran matematika. Dari rumusan itu, kemudian didaftar keterampilan yang diharapkan dan diterjemahkan menjadi sasaran pembelajaran matematika pada tiap jenjang pendidikan.


Kecakapan yang relevan
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tiap tahun sudah meningkatkan tingkat kesulitan soal ujian nasional (UN) Matematika. Beberapa sekolah juga sudah menambah jam pengajaran matematika, tetapi semua ini tetap tak memberi dampak berarti pada capaian TIMSS ataupun PISA walau nilai UN Matematika naik. Artinya, ada perbedaan jenis kecakapan bermatematika yang diharapkan.

Maka, jika sekarang pelajar diminta lebih giat belajar, guru diminta kreatif mengajar, UN dipersulit serta dibuat tiga kali setahun, dan uji kompetensi guru (UKG) tiap tahun, kecil peluangnya ini akan membuahkan perbaikan berarti. Walau dari sisi perencanaan dan penganggaran berbagai program pendidikan berskala nasional, seperti UN dan UKG, memiliki “daya serap” tinggi dan juga “menjalankan amanat UU”, dampak terhadap peningkatan kecakapan bermatematika pelajar tidak berarti.

Ada data yang menunjukkan bahwa jam sekolah di Indonesia termasuk tinggi, sekarang ada yang menuduh lama waktu di sekolah itu sebagai alasan rendahnya kecakapan murid. Maka, muncul ide untuk menguranginya. Ini akan sama saja. Seperti layaknya laju kapal dipercepat atau diperlambat, tetapi arah haluannya meleset. Semua upaya jadi nirguna. Malah mungkin justru semakin menjauhkan dari sasaran. Yang pertama dan utama harus dibenahi adalah: mengoreksi arah tujuan. Koreksi drastis harus dimulai dengan merumuskan ulang kecakapan bermatematika yang relevan dengan kehidupan dunia hari ini sebagai tujuan pembelajaran matematika.


Teknologi dan sains telah mengubah kehidupan, termasuk kecakapan hidup yang dibutuhkan zaman ini sudah berubah dari masa sebelumnya. Sejumlah pekerjaan telah diambil alih oleh mesin dan komputer. Khususnya jenis pekerjaan dengan keterampilan berpikir tingkat rendah, seperti routine-cognitive atau proses berpikir rutin. Misalnya, kasir atau penjaga di loket gerbang tol telah jamak digantikan oleh komputer dan mesin.

Maka, pelajar sekarang perlu mengutamakan belajar keterampilan yang belum tergantikan oleh komputer atau mesin, seperti keterampilan menyelesaikan masalah tak rutin, berpikir kreatif, dan berkomunikasi kompleks. Ringkasnya, pelajar perlu menekankan pengembangan kecakapan berpikir tingkat tinggi dan secukupnya mengembangkan keterampilan berdasar kecakapan berpikir tingkat rendah yang perlahan-lahan akan berkurang. Pendidikan matematika sekolah di Asia mutlak perlu menyeimbangkan pengembangan kecakapan bermatematika berdasar berpikir tingkat rendah dan tinggi karena kehidupan serta dunia kerja di Asia sebagian masih tradisional.

Di kelas matematika, kegiatan melibatkan berpikir canggih, tetapi menggunakan konsep sederhana, misalnya mengestimasi perhitungan dan menyelidiki kesahihan suatu pernyataan perlu ditambah porsinya. Sebaliknya, praktik kuno guru “menyuapi” murid dengan rumus matematika ruwet yang seperti turun dari langit dan akhirnya dihafal semata sekadar untuk ujian perlu ditinggalkan.


Justru sekarang harus mulai fokus pada kegiatan pelajar menurunkan atau menemukan rumus-rumus dasar sendiri. Ukuran banyaknya rumus yang dihafal harus diganti dengan dalamnya gagasan matematika yang dipahami. Dengan pengalaman bermakna seperti ini, tidak saja anak jadi memahami secara mendalam dan percaya diri, tetapi juga akan kasmaran bermatematika sekaligus akan berhasrat terus mempelajari matematika.

Yang tak kalah penting ialah merumuskan ulang problem solving atau penyelesaian masalah di sistem pendidikan matematika nasional. Yang sebelumnya diartikan secara sempit sebagai menjawab soal panjang, ruwet, tetapi sudah “siap santap” dilahap rumus hafalan tertentu perlu diralat. Anggapan sempit penyelesaian masalah matematika sebagai penyelesaian soal yang disajikan dalam bentuk “cerita” juga perlu diluruskan.

Keterampilan menyelesaikan masalah matematika hari ini diartikan sebagai merancang berbagai jawab untuk masalah tak rutin dari fenomena yang belum tampak jelas konsep matematikanya. Pelajar diharapkan mulai dari menggali gagasan matematika yang tersembunyi dalam fenomena itu dan mematematikakannya, menentukan jawab matematika, sampai menafsirkan jawabnya ke fenomena semula.


Tindak lanjut
Upaya pelajar mengembangkan kecakapan bermatematika bermakna tersebut bukan tanpa kendala. Para guru yang hendak membelajarkan kecakapan bermatematika bermakna ini juga dihadapkan pada kendala.

Ironisnya, kendalanya justru sebagian ada di kebijakan pemerintah sendiri. Rangkaian UN Matematika, Standar Isi Matematika, Kurikulum Matematika, buku ajar matematika, dan pelatihan guru matematika masih setengah hati atau bahkan mengganduli pelajar dan guru mengembangkan kecakapan bermatematika bermakna itu.

Akhirnya, tantangan bagi badan penelitian dan penentu kebijakan pendidikan serta organisasi pendidikan matematika negara-negara di Asia adalah merumuskan kecakapan bermatematika hari ini. Kemudian, dari rumusan ini dirancang alat evaluasi guna mengukur kecakapan bermatematika tersebut. Baru kemudian dapat disusun strategi pembelajaran matematika dan menyiapkan fasilitas pendukungnya yang sistematis mengarah tepat pada pengembangan kecakapan bermatematika itu. Jika ini sudah dilakukan, barulah menggiatkan proses belajar-mengajar masuk akal dan akan memberi dampak berarti.

Iwan Pranoto,
Guru Besar Matematika ITB,
Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI New Delhi

KOMPAS, 15 Januari 2016

Friday, December 19, 2008

Pertumbuhan Profesionalitas Keguruan


Profesionalitas keguruan —atau keprofesionalan di bidang keguruan— adalah sesuatu yang tumbuh, berkembang, dan layu.

Keprofesionalan itu tumbuh saat seseorang menyiapkan diri menjadi guru. Berkembang saat mereka bekerja sebagai guru; layu saat mereka tak lagi menggeluti pekerjaan sebagai guru.

Pandangan ini bertentangan dengan anggapan banyak orang, profesionalisme dan profesionalitas merupakan sesuatu yang konstan, tidak berubah-ubah, dalam diri guru. Menurut anggapan ini, jika seseorang telah mendapat pendidikan profesional untuk pekerjaan guru, ia akan menjadi guru profesional dengan profesionalitas yang menetap di suatu jenjang tangga profesionalitas keguruan.

Mana yang benar? Menurut saya anggapan pertama. Dalam setiap profesi, profesionalitas seseorang akan berubah dan umumnya perubahan itu berupa kenaikan. Amat langka profesionalitas seseorang mengalami kemunduran. Ini hanya terjadi ketika orang meninggalkan jabatan profesionalnya.

Almarhum Prof Dodi Tisna Amijaya semula adalah seorang ilmuwan biologi. Namun, setelah bertahun-tahun menjadi birokrat —mulai dari Rektor ITB, lalu Dirjen Pendidikan Tinggi, Ketua LIPI, dan akhirnya Duta Besar RI di Paris— beliau merasa bukan lagi seorang ilmuwan biologi. Katanya suatu ketika, "Saya ini kan bukan biologist lagi. Saya sudah berubah menjadi biopolitician."

Begitu pula jika seorang dokter pindah jabatan menjadi menteri. Ia akan kehilangan profesionalitasnya sebagai dokter, apalagi jika dokter itu bertahun-tahun bertahan menjadi menteri. Almarhum dr Soedarsono, mantan Dubes RI di Yugoslavia, pada tahun 1947 duduk sebagai anggota Delegasi Republik Indonesia dalam Konferensi Linggarjati. Suatu saat, ada seorang anggota delegasi asing jatuh sakit. Dr Soedarsono diminta memeriksa anggota delegasi asing itu. Merasa tidak sanggup lagi melakukan pekerjaan seorang dokter, dia meminta koleganya, almarhum dr Yuwono, untuk menggantikan memeriksa pasien asing itu. Kata dr Soedarsono kepada dr Yuwono: "Tolong gantikan saya! Saya sudah bertahun-tahun tidak memeriksa pasien." Konon, selama pendudukan Jepang beliau sibuk dengan urusan politik.

Profesionalitas
Mari kita periksa dinamika profesionalitas bidang kepilotan.

Ketika seseorang menyelesaikan pendidikannya sebagai pilot, ia sudah seorang pilot profesional. Tetapi, profesionalitasnya dalam mengemudikan pesawat terbang masih terbatas. Ia hanya boleh mengemudikan pesawat terbang dari jenis yang dipelajari selama pendidikan. Biasanya jenis ringan atau kecil dan belum boleh mengemudikan pesawat terbang besar, seperti Boeing 737 atau Boeing 747. Izin untuk ini kelak akan diperoleh setelah ia mengikuti serangkaian pendidikan pilot tambahan. Jika kelak pilot itu dipindahkan dari pesawat Boeing 747 ke Airbus 380, ia harus menjalani pendidikan atau pelatihan khusus untuk Airbus 380 sebelum benar-benar boleh mengemudikan Airbus 380.

Bagaimana dengan seorang guru? Ketika ia menyelesaikan pendidikan profesionalnya sebagai guru, ia sudah disebut guru profesional. Gajinya pun sudah lebih tinggi daripada guru yang belum mendapat predikat guru profesional. Tetapi, dalam status guru profesional pemula, profesionalitas keguruannya masih terbatas. Ia belum dapat melaksanakan tugas-tugas keguruan yang kompleks. Misalnya, ia belum dapat menangani murid yang bandel. Ia juga belum mampu melayani dengan baik kebutuhan murid yang amat cerdas atau yang lamban pikirannya. Ia baru dapat melayani murid-murid biasa, murid "rata-rata" (average pupils) karena baru itulah yang dipelajari.

Batas profesionalitas
Dalam setiap profesi, ada tugas-tugas profesional yang relatif mudah selain yang relatif rumit. Tugas profesional yang relatif mudah dapat diserahkan kepada profesional pemula dengan kecakapan profesional minimal. Adapun tugas profesional yang kompleks atau rumit harus ditangani petugas profesional dengan profesionalitas lebih tinggi.

Di bidang kedokteran, dokter muda dengan profesionalitas kedokteran masih minim hanya boleh menangani apa yang disebut "penyakit-penyakit umum". Untuk penyakit-penyakit khusus harus ditangani dokter dengan profesionalitas lebih tinggi, seperti dokter spesialis.

Masalahnya, apa batas minimal profesionalitas keguruan? Ini merupakan masalah yang harus ditentukan secara hati-hati. Dalam bidang profesionalitas pilot, batas minimalnya (mungkin) mampu menerbangkan pesawat secara lancar dan selamat. Tetapi, jika pilot profesional pemula ini dibajak di udara, dapatkah dia mengatasinya dengan baik, tanpa seorang penumpang pun menjadi korban? Mungkin tidak! Untuk mengatasi pembajakan udara, diperlukan pilot dengan profesionalitas kepilotan lebih tinggi.

Profesionalitas tambahan seperti ini biasanya datang dari pengalaman. Jadi, dalam bidang kepilotan, peningkatan jenjang profesionalitas ditentukan oleh dua faktor, pendidikan lanjutan dan pengalaman.

Profesionalitas keguruan
Bagaimana dengan keguruan? Faktor-faktor apa yang menjadi kriteria untuk menentukan, apakah jenjang profesionalitas seorang guru harus dinaikkan atau belum? Saya tidak tahu! Saya tidak punya pengalaman di bidang supervisi pendidikan.

Pertanyaan ini dikemukakan dengan maksud agar kita yang merasa turut berkepentingan juga ikut memikirkannya. Jika masyarakat tidak turut berpikir, proyek besar nasional untuk membuat guru-guru kita menjadi profesional bisa terancam bahaya kekacauan konseptual yang dalam praktik bisa muncul dalam berbagai jenis malapraktik dalam pengelolaan guru.

Tujuan profesionalisasi keguruan ini akhirnya bukan hanya menciptakan kesempatan bagi para guru untuk meningkatkan pendapatannya secara sah (legitimate). Yang lebih penting ialah menaikkan kompetensi para guru kita dalam kegiatan pembelajaran (teaching), kegiatan pelatihan (training), dan kegiatan pendidikan (educating).

Secara umum, batas minimal profesionalitas keguruan ditentukan oleh definisi kita tentang kompetensi keguruan. Apa tugas guru? Menyelenggarakan kegiatan pembelajaran saja, atau juga menyelenggarakan pelatihan dan kegiatan pendidikan?

Pertanyaan ini pada gilirannya bergantung pada paradigma pendidikan yang kita ikuti. Jika kita ingin membentuk watak para murid, selain membimbing mereka memupuk pengetahuan dan keterampilan, mau tidak mau kita harus mengikuti paradigma klasik, yaitu pendidikan adalah kegiatan untuk memupuk keterampilan hidup, yaitu keterampilan menghidupi sendiri, keterampilan hidup secara bermakna, dan untuk turut memuliakan kehidupan.

Jika ini paradigma yang diikuti, berdasarkan pelajaran sejarah pendidikan universal, di sekolah para murid harus dibimbing untuk memupuk pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill), dan kearifan (wisdom).

Jika pandangan ini yang diikuti, profesionalitas keguruan sungguh bukan hal sederhana, yang cukup dipelajari sekali dalam hidup. Profesionalitas keguruan merupakan keterampilan yang kompleks, yang harus jelas dirinci untuk dapat dikuasai dengan baik oleh setiap guru.

Mochtar Buchori, Pendidik
KOMPAS, 17 Desember 2008