Tuesday, June 4, 2013

Cultural Leadership Cak Nun (III)


Ini satu lagi contoh hebatnya kebudayaan kita. Di Jawa ada bermacam terminologi untuk menggambarkan aktivitas ‘membawa’, ada nyunggi, ngempit, nyangking, mbopong, nggendong, nyekel, manggul. Everything is in detail. Kata ‘jatuh’ pun ada banyak sekali: ndlosor, njungkel, nggeblak, nylorot, nyungsep. (Sayangnya) itu (semua) tidak kita hormati sebagai kekayaan. Harusnya ada Bahasa Indonesia Jawa, Bahasa Indonesia Sunda, dan seterusnya. Bahasa Indonesia jangan berdiri mandiri. Untuk menerjemahkan di handphone saja lucu kok.

Ratu Adil menurut saya adalah orang yang punya ilmu yang komprehensif, yang bisa memperbaiki wilayah bahasa, spiritual, ekonomi, budaya, dia ngerti semua. Karena manusia kan ada yang ngerti banyak tentang sedikit hal, ada yang ngerti sedikit tentang sedikit hal, ada yang ngerti sedikit tentang banyak hal. Tapi kita butuh manusia yang ngerti banyak tentang banyak hal.

Itulah potensi Ratu Adil. Kalau Ratu Adil tingkat pertama ini terjadi ya syukur, tapi kalaupun tidak, ya tingkat kedua. Pokoknya ada sistem bersama, ada kesadaran kita bersama untuk adil. Begitu Anda ngomong di mana-mana tentang Ratu Adil dan itu menjadi kesadaran Anda bersama, ya Ratu Adil itu namanya. Dan itu yang ngomong bukan Jayabaya, dia hanya dikasih tahu.

Jayabaya itu punya 4 orang penasihat, satu diambil dari Roma, satu dari Istambul, satu dari Iran, dan satu lagi dari Mekkah. Jayabaya punya 4 staf ahli internasional. Yang khusus mengajari dia soal ramalan dan spiritual itu berasal dari Persi, namanya Syekh Ali Samsujen. Dari semua yang Anda kenal mengenai Ramalan Jayabaya itu adalah fatwa-fatwa dari Syekh Ali Samsujen.


Maka ngomong Ratu Adil itu sesungguhnya adalah konsep dari berita-berita subversi di belakang Rasulullah yang memang sebenarnya ada kebenarannya. Karena Rasulullah ini kalau diperpanjang ilmunya jadi luas sekali.

Kita semua salah sangka terhadap Yesus, terhadap Muhammad, terhadap semuanya. Nanti akan ada pengetahuan baru yang membuat Anda terkejut. Mereka dibohongi oleh rekayasa besar yang dibikin sejak 37 tahun setelah Yesus disalib. Mereka bikin rekayasa untuk mengatur pandangan manusia di seluruh dunia dan Anda menjadi korban sampai saat ini.

Sampai ada BI, itu kan ide dari sana. Juga ada Liberalisme, Sosialisme, Islam Fundamental, Islam Radikal, Islam Liberal, dan kita percaya pada semuanya. Saya nggak bisa dibohongi gitu. Saya radikal ketika saya harus radikal, saya moderat ketika saya harus moderat, saya konservatif ketika saya harus konservatif, dan untuk sesuatu yang butuh landasan ya saya pakai landasan.

Menurut saya, manusia merdeka adalah manusia yang tidak tertipu oleh idiom-idiom dan budaya aneh-aneh semacam itu. Kita ketawain aja yang gitu-gitu. Saya sendiri sudah tidak terpukau oleh apa pun. Saya bisa baca hatinya orang kok, sekarang kamu ngomong apa saya tahu juga. Dan itu memang butuh kekuatan yang sangat besar. Kalau tidak, saya bakal marah terus. Tiap hari, aku lewat thok wae dirasani. Yang ngrasani saya dalam hatinya sekarang saya juga dengar kok.


Setelah coffee break selama seperempat jam, peserta kembali dipersilahkan untuk menggali ‘genthongnya’ Cak Nun.

Parameter Keteladanan Bukan Siapa, Tapi Apa

Mbak Wahyu menanyakan di antara pemimpin-pemimpin kita saat ini, siapa yang menurut Cak Nun bisa dijadikan panutan, yang juga mengimplementasikan nilai cultural leadership yang telah dijelaskan sebelumnya.

Jawab Cak Nun:
Parameternya jangan hanya ‘siapa’, tapi juga ‘apa’. Kalau siapa itu mengharuskan seseorang (secara) utuh bisa diteladani, sedangkan kalau ‘apa’ kan Anda bisa lebih luwes. Dari Pak A saya teladani X-nya, dari Pak B saya teladani Y-nya.

Jangan lupa bahwa sesungguhnya sangat banyak orang baik, teladan, orang-orang yang bisa kita andalkan, termasuk mungkin kita sendiri. Tapi tadi saya ngomong di awal bahwa ini tanah tidak subur. Jadi orang baik tidak akan tampak kebaikannya karena mata pandang yang kita gunakan sehari-hari adalah mata pandang yang punya kecenderungan untuk mencari keburukan orang lain.

Ini semua kan fals sekarang. Mari kita kembali ke dasar aransemen kehidupan supaya kita menemukan harmoni. (Karena) sekarang (ini) apa saja fals. Agama itu kan fals banget sekarang. Jadi sesungguhnya tidak ada barang fals, yang ada adalah konfigurasi di mana (letak sebenarnya) beberapa titik itu berharmoni. Yang Anda harapkan itu ada, pemimpin Indonesia itu sudah ada, orang mateng itu banyak, cuma dia belum berada pada satu aransemen yang memungkinkan dia menunjukkan kebaikannya.

Ibarat ayam, dia belum punya waktu untuk berkokok, ibarat ikan belum ada kolamnya. Menurut saya untuk sementara Anda ngomong (tentang) ‘apa’ (dulu), jangan (tentang) ‘siapa’.



Indonesia Mengembargo Dunia

Pertanyaan berikutnya datang dari Mas Ero.
Inspiratif sekali Pak Emha! Beberapa hari lalu kita sudah menerima teori-teori dan pendapat mengenai kepemimpinan modern yang mengikuti kondisi global saat ini, dan tadi Bapak menyampaikan dengan kearifan lokal di mana secara budaya Indonesia sudah memiliki filosofi-filosofi kepemimpinan. Bagi kami, BI ke depan nanti mana ya Pak yang lebih sesuai untuk diterapkan, yang global atau kearifan lokal?

Jawab Cak Nun:
Yang ada di Indonesia ini bukan kearifan lokal, tetapi harmoni dari lokalitas-lokalitas yang arif. Indonesia adalah Sunda, Jawa, semuanya, dan itu harus ada ilmu dan proses untuk melakukan elaborasi supaya dia berperan komprehensif harmonis. Jadi, orang Jawa tidak bertentangan dengan orang Sunda karena dia mencari harmoni satu sama lain. Dan itu sebenarnya masa depan dunia adalah harmoni ke-Indonesia-an. Kalau sudah ada Bhinneka Tunggal Ika, seluruh dunia akan ikut Bhinneka Tunggal Ika.

Indonesia ini jangan mencari contoh soal di luar Indonesia karena Indonesia lambat atau cepat sudah akan menjadi contoh untuk diteladani seluruh dunia. Ini agak aneh, tapi sudahlah Anda percaya saja.

Arab Spring itu merupakan rekayasa Amerika untuk ‘mengubah’ negara-negara Timur Tengah menjadi ‘demokrasi’ dengan tiga metode, yaitu metode sikat habis seperti yang dilakukan pada Saddam dan Khadaffi, metode pemberontakan progresivitas demokrasi biasa seperti yang terjadi di Syria yang tak kunjung selesai, dan terakhir metode pegang kepala seperti yang dilakukan atas Arab Saudi.

Jadi seluruh policy di Mekkah itu policy Amerika, tentara Saudi juga tentara Amerika. Yang ngambil kebijakan di Saudi itu Amerika dan Israel, termasuk di Indonesia dan kedutaan besar Arab Saudi yang berada di sini.

Saya ingin katakan kepada Anda, Indonesia ini justru merupakan pilihan utama Amerika untuk menjadi model bagi konversi bagi negara-negara Timur Tengah. Ini mungkin agak mengherankan dan belum bisa dipahami betul, tapi itu pasti. Jadi gampangannya Mesir mau di-Indonesia-kan, Yaman, Abu Dhabi mau di-Indonesia-kan. Di-Indonesia-kan dalam pengertian apa, mari sambil kita pelajari bersama-sama.

Jadi, CIA, intelijen Arab Saudi sama Israel merundingkan ada 6 contoh soal: dari Iran, Turki, macem-macem, sampai Indonesia. Yang terpilih adalah Indonesia. Mereka jelas tidak mau ada negara Timur Tengah seperti Iran. Mereka juga tidak mau seperti Turki. Mereka sedang menganggap kita bodoh, gampang dibohongi, sangat permisif, dikuras hartanya nggak marah, presiden dan semuanya gampang dirayu, disogok. Biarin Amerika dan Israel kecelik, karena Anda tidak seperti yang mereka bayangkan.

Menurut saya, jangan berpikir dunia, wong dunia mikirin kita. Seharusnya kita mengembargo dunia, bukan dunia mengembargo kita. Wong secara ekonomi dunia butuh kita kok. Kita ditakdirkan menjadi Indonesia, yang betul-betul luar biasa baik secara ekonomi maupun kebudayaan.



Tidak Minder, Tapi Juga Tidak Natoni

“Saya akan mulai dari pepatah Jawa,” ujar Mas Haris, “Mohon maaf kalau ada kesalahan. Lamun sira sekti ojo natoni, lamun sira mandi ojo mateni, lamun sira banter ojo nglancangi. Hal ini sepertinya bertentangan dengan teori leadership yang ada sekarang. Menurut Cak Nun, pandangan budaya kita terhadap leadership itu bagaimana?

Yang kedua, bagaimana mengharmonisasi budaya, agama, dan pola pikir? Pemimpin seperti apa yang mencakup harmonisasi tiga unsur ini?”

Jawab Cak Nun:
Ini kita sudah sampai pada pertanyaan-pertanyaan yang ibaratnya di ruang lauhil-mahfudz, sudah bagus banget, sehingga kalau nanti saya keliru dikit saja, nasib bangsa Indonesia menjadi kacau.

Menurut saya, kita sedang menjadi medan pertentangan dari berbagai macam frame atau terminologi nilai yang secara sangat liberal kita terima semuanya. Dari Mbah kita terima, dari Londo kita terima, dari Amerika kita terima, dan sekarang kita menjadi ajang peperangan itu sehingga menjadi panas dingin.

Kalau lamun sira sekti ojo natoni, lamun sira mandi ojo mateni, lamun sira banter ojo nglancangi, sebetulnya itu asal usulnya budaya kemanusiaan. Namanya paugeran. Itu cara bergaul antarmanusia, tapi tidak pada birokrasi, tidak pada sistem ekonomi. Dia letaknya pada wilayah etika kebudayaan, itu soal kerendahan hati. Filsafat ini lahir ketika kita belum mengenal industri. Waktu itu belum pernah ada ekspertasi profesional yang sekarang menjadi tantangan kita. Kalau itu kita tabrakkan satu sama lain, saya kira kita harus punya kearifan dan ilmu yang mencukupi.

Kalau dalam dunia profesional itu kan tidak bisa berlaku. Dalam dunia imamah agama saja itu tidak bisa berlaku. Ibu saya tidak pernah mau shalat kalau saya imami. Pokoknya harus adik saya yang terkecil yang jadi imam. Dia hanya mau shalat kalau diimami adik saya yang terkecil karena secara rohani dia lebih percaya sama adik saya daripada kepada saya. Jadi kan ada macem-macem dimensi dalam hidup. Itu sangat bagus kalau pas di tempatnya.

Sekarang kita sedang mengalami benturan-benturan antar berbagai nilai. Misalnya, tiba-tiba kita ngomong gotong royong. Gotong royong sama kompetisi kan bertentangan. Terus sekarang karena banyak orang bentrok, Pemda bikin baliho tentang gotong royong. Gotong-royong itu nggak usah jadi pedoman. Dia akan lahir sendiri kalau ada komunitas. Sekarang kan tidak ada komunitas. Sekarang ini orang kumpul bukan karena budaya, orang kumpul karena profesi, karena hobi, atau karena sesama majlis taklim.


Bergotong-royong akhirnya jadi penyelewengan. Misalnya untuk ujian sekolah di suatu daerah di Jatim dirunding dan ditandatangani bersama antara Pemda, Dinas Pendidikan, ulama-ulama dan kepala-kepala sekolah. Empat pihak ini sepakat bahwa soal ujian dikasih ke siswa sebelum hari uijan demi alasan gotong-royong. Alasan kenegaraannya: pemerintah harus membantu rakyatnya. Terus kata guru, guru harus membantu muridnya. Kiyai juga begitu. Maka, gotong-royong ini juga bahaya kalau lahir tidak pada tempatnya, kalau tidak pada harmoninya. Saya sangat senang dengan pertanyaan Anda, tapi menurut saya memang itu semua akan terjawab, tapi saya percaya pada kepempimpinan seseorang tadi. Dia boleh Ratu Adil, boleh orang yang mungkin bertahap, tapi orangnya sudah ada dan sudah siap.

Kalau dia bisa menang dua langkah saja, bisa baik semuanya karena di Indonesia ini siapa pun saja nggak bisa hidup, Mas. Seperti yang saya tadi bilang, kebaikan tidak bisa tumbuh subur di sini. Anda pikir Anda ngakuin Yesus itu orisinal karena memang Anda ngakuin? Pengakuan kita kepada Yesus dan Muhammad itu kan karena semua orang sudah ngakuin, jadi Anda tinggal ngikut. Coba Yesus datang ke sini, Muhammad datang sendiri ke sini, pasti dianggep aliran sesat oleh MUI. Kita nggak orisinal mengakui sesuatu, kita tidak pakai ilmu kita sendiri, kita tidak punya kepribadian untuk secara otentik mengakui sesuatu.

Kita sedang tidak punya itu. Kita tidak menjadi diri kita sendiri sehingga kita tidak mampu mengakui diri kita. Jangankan mengakui orang lain, mengakui diri sendiri saja sekarang kita tidak mampu.

Pertanyaan Anda sangat bagus, apalagi kalau saya gabungkan dengan pertanyaan sebelumnya. Be yourself, understand yourself. Kalau kita bisa menjadi beneran bangsa Indonesia, kita tidak akan minder pada siapa pun tapi juga tidak akan sombong sama siapa pun, nggak akan natoni, nggak akan nglancangi, nggak akan mateni. Lamun sira wong gedhe ojo nggedheni.

“Tiga pertanyaan ini satu harmoni lho Mas. Saya anggap ini doa, karena waktu ngopi-ngopi tadi juga bagus-bagus kok pertanyaannya. Ini serius nggak nih? Jangan-jangan karena ketemu saya jadi pertanyaannya bagus-bagus,” ujar Cak Nun disambut tawa para peserta.

Pertanyaan Anda sangat mendasar. Saya tahu kok kegelisahan Anda, tahu kok hati Anda kepada SBY, hati Anda kepada pimpinan-pimpinan BI selama ini. Tapi Anda kan juga tahu bahwa Anda tidak bisa milih mereka. Satu-satunya jalan adalah menegaskan di dalam diri kita sejumlah hal yang tadi kita sadari untuk kita bangun bersama.

Saya senang sekali, dan saya kira kita akan dikabulkan oleh Tuhan. Kalau tidak, saya minta diperpanjang usia saya 30 tahun lagi. Saya sekarang 60 tahun, alhamdulillah nggak pernah sakit, nggak pernah opname, nggak tidur nggak apa-apa, makan apa saja nggak apa-apa. Kalau ngelihat kondisi ini kayaknya masih lama nih tugasnya. Dan mungkin saya akan ikut ngatur dikit-dikit kayak zaman Pak Harto, Gus Dur, Mega. Nanti saya akan tut wuri handayani dari belakang untuk hal-hal yang baik.



Teladan Sejati Adalah Dia Yang Tersembunyi

Pertanyaan berikutnya datang dari Mbak Siti Astiah, yang menanyakan bagaimana caranya mengurangi budaya korupsi meskipun tidak jadi pemimpin.

Jawab Cak Nun:
Saya kira teladan itu cukup banyak. Tapi saya menemukan pejabat-pejabat yang baik, itu karena dia keliru, terlalu radikal, harusnya ikut pakem-pakem dikit, makanya dia kena KPK. Walikota, bupati, atau kepala-kepala yang malah kena padahal dia sebenarnya mau memperbaiki. Dan itu kalau saya kasih contoh ada cukup banyaklah.

Jadi sebenernya ini ngomong soal fals. Banter tapi ojo nglancangi. Ini ternyata untuk manajemen pembangunan juga perlu Mbak. Jadi gini, jangan terlalu radikal untuk mengubah sesuatu. Banyak pemimpin yang terlalu progresif, terlalu nasionalis, malah kena, karena dia dianggap melanggar aturan yang sudah lama berlangsung.

Saya bilang sama Nabi Moshadeq yang ditahan itu. Di Polda Metro Jaya saya bilang; “Sampeyan itu ada dua kesalahan: pertama, kebanteren mlakune, umat itu kan jalannya ada yang cepet ada yang nggak, kalau yang lambat ya kepontal-pontal, maka akhirnya Anda ditangkep. Nomor dua, Sampeyan itu kalau jadi Nabi jangan ngaku-ngaku.” Akhirnya dia geli sama dirinya sendiri, dan akhirnya dia meremehkan semua dunia ini dan menomorsatukan Tuhan.

Kenapa semua orang bertengkar? Karena dipikir dunia ini begitu pentingnya, maka dibelain habis-habisan jabatannya. Allah itu terbalik sama orang tua kita. Orang tua kita bilang; “Nak, kono nang kutho nggoleko penggawean iso nduwe rejeki sebanyak-banyaknya, jabatan setinggi-tingginya, yang penting jangan lupa shalat.” Sedangkan Tuhan pesennya terbalik; “Dalam rangka kamu mencari Aku menuju akhirat, kamu jangan sampai lupa lho kalau kamu harus ngurusi duniamu. Kamu harus cari nafkah.”

Jadi budaya kita mengenal dunia sebagai primer, sebagai tujuan. Kalau versi Allah, yang primer itu mencari Dia di akhirat, dan dunia ini cuma dilewati, cuma jalan. Jalan sama tujuan berbeda. Bagi kita tujuannya dunia, akhiratnya jalan. Yang penting kita dagang laris, kalau dagangan kurang laris ya kita umrah. Agama menjadi alat untuk mencapai dunia. Karena kita terbalik, manajemen kita gini, kita nggak percaya pada yang selain materi.

Dan kalau Anda ingin jadi contoh, Anda jangan bernafsu untuk jadi contoh. Kalau Anda berbuat baik, jangan nyuruh orang berbuat baik. Saya maklum kok di Indonesia (banyak) orang (yang) tidak berbuat baik. Gimana orang bahagia (maksudnya senang) bayar pajak wong Gayus jumlahnya tak terbatas? Memang nggak ada motivasinya.


Orang yang potensinya baik seperti yang Ibu tanyakan itu sebenernya ada banyak, dan mereka akhirnya putus asa karena nggak ada gunanya berbuat baik. Kamu itu baik kok untuk sesuatu di luar berbuat baik. Pokoknya kalau mau berbuat baik ya berbuat baik saja, titik.

Yang penting ayam itu berkokok, tidak usah orang sekampung mengakui kalau Anda berkokok, terus diikuti kokokannya. Karena kita terlalu berpamrih orang akan mencontoh kita, itu yang membuat kita menjadi bukan teladan lagi. Maka kalimat pertama saya kepada orang-orang yang datang ke forum-forum saya adalah: “Jangan percaya saya, jangan ikuti saya! Kamu jangan jadi pengikut saya, kita semua ini pengikut Allah. Jangan taat sama saya, saya nggak punya saham apa-apa untuk kamu taati. Taat kepada Tuhan, penanam saham utama kita.”

Orang bertengkar mengenai bunyi kokok ayam. Orang Sunda bilang kongkorongkong, orang Jawa bilang kukuruyuk, orang Madura kukurunuk. Yang bener itu ya kokok ayam. Menurut versi Jawa, di telinga transfer ke mulut menjadi kukuruyuk, kalau orang Sunda estetikanya muncul di mulut sebagai  kongkorongkong. Kalau dicari benernya, ya yang bener itu ayamnya.

Kita bikin MOU bahwa ketiganya bener, dan kukurunuk nggak usah nyuruh yang kongkorongkong untuk kukurunuk. Gitu kok bertengkar. Jadi kalau mau jadi teladan ya sukar karena orang tidak ngerti kokok ayam.

Ini ketela, ada yang dibikin jadi gethuk, grontol (growol), dan keripik dari bahan yang sama. Ajaran agama itu sampai pada manusia ketika dia sudah jadi gethuk, grontol (growol), keripik. Jadi orang yang menerima gethuk menganggap Islam adalah gethuk, Kristen adalah keripik, padahal Islam, Kristen, Buddha, semua adalah ketela. Tapi semua orang bertengkar, ini aliran grontol (growol), ini aliran gethuk. Bahkan gethuk juga lalu dibagi menjadi sub-sub, ada gethuk ngene gethuk ngono, uakeh banget.
Kalau sekarang kita kembali ke situ, kita nggak punya golongan lagi. Saya appreciate sama PD, sama Golkar, sama aliran Islam, politik, itu kan cuma ikhtiar mengolah ketela menjadi aplikasi to. Kalau kayu, ada yang jadi meja, kursi, almari. Jangan terus yang almari anti kursi.

Saya seneng Anda tanya gitu karena Anda sendiri seorang teladan, tapi jangan nunggu orang meneladani Anda. Teladan sejati itu sampai tidak diketahui dia teladan. Nabi yang sejati nggak pernah Anda lihat, namanya Khidir.

Bersambung ….