Friday, December 4, 2009

Wanita versus Pria


Pertama-tama saya ingin memberitahu pada Anda bahwa tulisan saya kali ini mencapai kurang lebih enam halaman MS Word. Cukup panjang dan mungkin sedikit berat. Karena itu pastikan Anda membaca tanpa gangguan, atau save untuk Anda baca di rumah nanti malam sambil ditemani sebatang rokok (apabila Anda merokok) dan segelas susu hangat sebelum tidur.

Artikel ini berisi uneg-uneg yang sudah menggumpal di kepala saya semenjak kira-kira enam bulan yang lalu. Kemungkinan besar apa yang akan saya bahas ini akan memancing reaksi negatif dari para pembaca wanita, atau mungkin juga pria, karena memang sedikit sekali ada orang berani blak-blakan dan bicara apa adanya tentang hal ini. Saya akan membeberkan pada Anda rahasia besar yang disembunyikan para wanita, dan mereka tidak ingin para pria mengetahui rahasia ini.

Apa yang saya bicarakan akan sangat bertentangan dengan kepercayaan yang telah ada selama ini, bahkan saya menantang Anda untuk membuka pikiran Anda, meluangkan waktu sejenak untuk membaca hingga akhir, dan berpikir kritis tentang kebenaran yang terkandung di dalamnya. Ini adalah satu kenyataan yang akan membuka mata Anda dan merubah cara pandang Anda terhadap wanita.

Saya ingin berbicara mengenai sebuah fenomena sosial yang terjadi dalam masyarakat modern di seluruh dunia (ingat kata kuncinya: modern). Sebuah fenomena yang akhirnya membedakan dunia kita saat ini dengan dunia kakek-nenek dan ayah-bunda Anda dahulu. Fenomena ini disebut: feminisme.

Mungkin selama ini Anda berpikir bahwa feminisme hanyalah sebuah istilah asing yang hanya Anda baca di koran dan berita TV, sebuah wacana intelektual yang tidak ada hubungannya dengan kehidupan nyata. Tapi sebenarnya, feminisme sudah menjadi bagian dari hidup kita sehari-hari. Feminisme ada di kampus Anda, di tempat kerja Anda, di tempat ibadah, di Facebook, di lingkungan pergaulan Anda, it's everywhere!


Anda saat ini hidup dalam dunia yang feminis, sobat. Dan ini jelas sangat berhubungan dengan dinamika kehidupan romansa yang Anda alami selama ini. Salah satu alasan utama penyebab kefrustrasian Anda ketika berhadapan dengan wanita.

Istilah 'feminisme' baru mulai populer sekitar tahun 1970-an. Ini mengacu pada pergerakan kaum wanita di dunia barat (western) yang menginginkan persamaan hak dalam politik, sosial, budaya dan ekonomi antara wanita dengan pria. Wanita tidak lagi puas dengan ‘hanya’ menjadi istri yang baik dan ibu rumah tangga yang mengurusi anak dan memasak atau hanya urusan seputar dapur, sumur dan kasur. Mereka tidak lagi ingin menjadi pendamping setia yang penurut.

Mereka ingin mendapatkan semua yang pria bisa dapatkan. Alasan mereka sederhana: karena manusia memiliki derajat yang sama terlepas dari jenis kelaminnya, dan terutama, karena selama ini pria telah semena-mena menyalahgunakan kekuasaan dan dianggap telah merampas hak-hak yang dimilikinya.

Wanita merasa telah menjadi korban, dan mereka protes dengan keras. Dan protes mereka bukan saja telah didengar, tapi juga telah merubah dunia.

Ketika Margareth Thatcher menjadi Perdana Menteri Inggris tahun 1979, gerakan ini mencapai puncaknya. Akhirnya seluruh dunia harus mengakui bahwa wanita pun dapat berdiri di puncak kekuasaan dan menjadi pemimpin, termasuk menguasai atas kaum pria. Para wanita di seluruh dunia bertempik sorak penuh kemenangan, dan ini telah merubah posisi wanita dalam masyarakat.


Harap diingat bahwa saat itu, wanita masih dianggap sebagai warga negara kelas dua. Jadi jelas kejadian ini adalah sebuah perubahan tatanan sosial yang sangat drastis, dan sebenarnya merupakan hal yang positif. Ini menunjukkan bahwa seseorang diakui peranannya bukan lagi karena jenis kelaminnya, tapi karena kompetensinya.

Tapi masalahnya, semua persamaan hak ini telah jauh melenceng dan kebablasan. Dan malah mendorong wanita berubah menjadi mahluk yang materialistis, kompetitif, dan kosmopolitan: fun, fearless, and female. Suatu kenyataan yang sama sekali berbeda dari sosok ibu yang kita dambakan, kagumi, hormati dan sayangi.

Dr. Alice von Hildebrand, seorang professor dan penulis buku "The Privilege of Being Women" mengatakan: Feminism is a metaphysical revolt against the characteristics of women. Men seem to have all the advantages, and so feminists try to become a caricature of men.


Mari saya elaborasi lebih jauh
Wanita dan pria adalah dua entitas yang berbeda, baik secara fisik maupun psikis, maka secara logika istilah persamaan hak sangatlah absurd. Dan wanita sendiri pun tahu benar akan hal ini, oleh karena itu feminisme hanya menuntut persamaan hak, tapi tidak persamaan kewajiban. Dengan kata lain, wanita menginginkan semua keuntungan dan hak yang dimiliki pria namun tidak mau menjalani kewajiban yang dimiliki pria. Lebih simpelnya lagi: wanita mau yang enaknya saja.

Kaum wanita tidak puas hanya dengan persamaan hak. Mereka terus menerus, sedikit-demi sedikit, perlahan namun pasti, merubah nilai-nilai sosial yang telah menjaga kita sejak zaman nenek moyang kita ribuan tahun yang lalu. Mereka ingin membentuk sebuah dunia di mana wanita dihargai, diutamakan dan diistimewakan lebih daripada pria. Yang jelas sangat bertentangan dengan prinsip awal gerakan feminisme itu sendiri: PERSAMAAN hak antara pria dan wanita.


Dan mereka telah berhasil. Sangat berhasil, malah.

Dalam bukunya "The Manipulated Man", Esther Vilar, sang pengarang yang juga seorang wanita, membongkar habis tentang bagaimana wanita telah menyalahgunakan perlakuan istimewa yang diberikan oleh pria. Dan sampai saat ini beliau masih sering menerima surat ancaman dari para wanita feminis garis keras.

Entah Anda sadari atau tidak, kita sekarang hidup dalam dunia yang dikuasai oleh wanita. Sebuah dunia yang menempatkan wanita jauh lebih tinggi daripada pria. Sebuah dunia yang pilih kasih pada wanita. Sebuah dunia yang timpang dan berat sebelah. Sebuah dunia yang membuat Anda, para pria, tidak lagi menjadi pria yang sesungguhnya, tapi menjadi pria yang terkekang oleh peraturan dan norma-norma yang ditentukan oleh wanita. Sebuah dunia yang membuat Anda tumbuh menjadi pria lossy.


Beberapa contoh sederhana:
• Pria harus bekerja dan berpenghasilan, sedangkan wanita boleh bekerja, boleh tidak.
• Terutama di tempat kerja wanita berhak untuk berekspresi dengan fashion, mewarnai rambut dan potongan yang berbeda-beda. Sedangkan pria harus potong pendek rapi, tidak boleh di warnai serta wajib memakai kemeja, dasi dan celana rapi.
• Pria masih dituntut untuk bisa mengerjakan 'pekerjaan' pria yang berat dan kasar, seperti mengganti ban mobil, menyetir kendaraan, memperbaiki komputer dsb. Sedangkan wanita tidak lagi dituntut untuk bisa mengerjakan 'pekerjaan' wanita, seperti memasak, mencuci, mendidik, dsb.
• Apabila seorang pria minta tolong pada wanita untuk mencuci pakaian, maka dia akan dianggap merendahkan wanita. Namun sebaliknya bagi wanita, silakan minta tolong pada pria untuk mengangkat barang berat, maka para pria harus melakukannya dengan senang hati karena itu memang sudah tugasnya.
• Pria wajib membayari wanita makan, sedangkan wanita tidak.
• Wanita tidak harus pandai memasak untuk pria, tetapi pria tidak boleh menolak apabila diminta untuk melakukan pekerjaan wanita di dapur.
• Pria wajib bekerja dan membiayai keluarga, sedangkan wanita boleh bekerja dan boleh tidak.
• Wanita selalu diprioritaskan dan diperlakukan istimewa, misalnya, ketika naik kendaraan umum yang berdesak-desakan. Di tempat hiburan ada program khusus yang dirancang untuk wanita, misalnya ladies nite di nite club, yang gratis bagi wanita sedangkan pria harus bayar.
• Apabila ada musibah bencana atau perang, dahulukan wanita dan anak kecil, tapi biarkanlah pria mati duluan.
• Apabila ada pria menggoda wanita secara vulgar maka disebut pelecehan dan dapat dilaporkan ke pihak berwenang, sedang bila wanita menggoda pria secara vulgar hanya disebut agresif dan bila dilaporkan tidak akan ada yang percaya.
• Ada undang-undang tentang kekerasan terhadap wanita, tapi apabila ada kekerasan yang dilakukan wanita terhadap pria malah dianggap sebagai pahlawan pemberani.
• Tidak apa-apa bila wanita menyentuh pria, tapi bila pria menyentuh wanita maka akan disebut tidak sopan, tidak tahu etika, kurang ajar dsb.
• Di dunia hiburan -kalangan artis dan selebritis- banyak sekali pria yang berdandan serta berpenampilan wanita, dan umumnya laris di pasaran alias banyak job. Namun hampir tidak ada wanita yang berdandan serta berpenampilan pria.


Dan berkat media yang selalu menayangkan wanita cantik dan seksi, maka pria-pria jadi lebih memuja kecantikan dibanding kepribadian seorang wanita. Akibatnya, wanita dapat melakukan apa saja yang buruk dan tidak berkenan namun demikian para pria tetap saja berkumpul dan memperebutkannya.

Saya pernah pergi dinner dengan seorang wanita yang baru dikenal. Ketika menjemput dia di rumahnya, apa yang dilakukannya membuat saya langsung ilfeel. Begitu masuk ke dalam mobil, dia langsung menaikkan kakinya dan duduk ala warteg. Sambil berkata, "Eh gue naikin kaki yah ... gue emang orangnya begini, apa adanya." Dan saya tidak pernah menghubunginya lagi sejak saat itu.

Kejadian yang lain, saya pernah pergi nonton dengan seorang wanita. Ketika saya mengajak dia untuk dinner dengan teman-teman saya yang lain, dia bukannya berinteraksi dengan teman-teman saya dan bersosialisasi layaknya manusia normal, tapi malahan sibuk sendiri dengan Blackberry dan Facebook. Hal itu membuat suasana sungguh tidak nyaman. Dan jelas, saya yang merasa malu, karena saya yang mengajak dia.

Dan seiring pengalaman saya dengan begitu banyak wanita, saya menemukan bahwa ternyata sedikit sekali wanita yang masih bersikap sebagai wanita. Wanita zaman sekarang telah kehilangan kewanitaannya.

Saya tidak akan tertarik pada wanita yang tidak wanita. Sama seperti halnya wanita tidak akan tetarik pada pria yang tidak pria: cengeng, labil dan tidak punya prinsip.


Margareth Thatcher sendiri dijuluki 'Wanita Bertangan Besi', apakah Anda bisa membayangkan apabila Anda menjadi anaknya? Atau suaminya? Apakah itu sosok wanita sejati yang diidamkan oleh setiap pria? Apabila Anda perhatikan, hampir semua wanita-wanita berkarir sukses yang berdiri di puncak, biasanya selalu kesepian dan tetap melajang hingga usia lanjut, atau selalu gagal dalam hubungan rumah-tangganya, nikah-cerai dsb.

Dan masih banyak lagi contoh-contoh nyata yang saya yakin sering Anda lihat sehari-harinya di sekitar Anda. Wanita MENUNTUT pria agar bersikap sebagai gentleman, menghargai dan memperlakukan wanita dengan penuh hormat, tapi mereka sendiri tidak mau bersikap seperti seorang lady dan menghormati pria. Parahnya, mereka merasa tidak perlu berubah, karena, toh, dengan bersikap semaunya pun, semua pria sudah bertekuk lutut dan mengantri dengan ngarep di hadapan mereka.


Feminisme yang kebablasan
Salah satu penyebab mengapa wanita-wanita seperti itu tetap eksis dan makin bertingkah, adalah karena pria-pria tetap menginginkan mereka meskipun mereka bukanlah wanita yang layak untuk dijadikan pasangan.

Terserah Anda menilai saya sexist atau stereotyping. Yang jelas itu adalah kenyataannya. Dari zaman batu hingga zaman postmodern sekarang ini, kenyataan itu tetap berlaku. Harap diingat bahwa saya tidak berbicara soal harkat dan martabat: sebagai manusia, wanita dan pria semuanya sejajar.


Jangan salah paham. Saya sangat setuju dengan persamaan hak wanita untuk memperoleh pendidikan setinggi mungkin, memilih karir atau profesi yang mereka inginkan, memiliki hak politik, memiliki hak perlindungan hukum, dsb.

Saya berbicara soal peran dan mentalitas. Dalam hal hubungan romansa, wanita dan pria punya peran dan posisi yang berbeda. Dan ini yang tidak diketahui oleh banyak orang dan menjadi sumber masalah romansa mereka.

Dengan pola pikir 'be yourself' yang selalu digembar-gemborkan di mana-mana lewat media, kita mulai melenceng dari peran kita yang seharusnya. Wanita mulai menjadi maskulin dengan slogan fun, fearless, and female dan girl power. Dan pria mulai menjadi feminin dengan menjadi terlalu sensitif secara emosional dan metroseksual. Dan inilah yang menyebabkan banyak orang mengeluh tidak dapat menemukan pasangan yang tepat. Mereka sudah memilih peran yang salah sejak dari awal!

Dewasa ini, wanita yang mampu mengalahkan pria di segala hal dianggap hebat dan dikagumi, dan pria yang cengeng, tidak takut untuk menangis dan menunjukkan kelemahannya dianggap pria yang sejati.

Tapi jujur saja, tidak ada pria yang menyukai wanita yang kasar, dominan, tukang ngatur, terlalu girl power dan cuek. Sama seperti tidak ada wanita yang menyukai pria yang terlalu sensitif, sedikit-sedikit mellow, panik dan terbawa perasaan.


Peggy Giordano, seorang professor sosiologi di Amerika Serikat, pada Majalah TIME edisi September 2006, membeberkan hasil penelitiannya selama beberapa tahun: pria-pria generasi sekarang lebih sensitif tentang cinta dan romansa daripada wanita. Mereka tidak ada niat bermain-main atau memanfaatkan wanita dalam hubungan romansa, karena itu pria lebih serius dalam menjalin sebuah hubungan. Anggapan bahwa pria hanya menginginkan seks dan bersenang-senang sudah dipatahkan lewat penelitian ini. This is the new age of romance, where the boys want to get married and the girls just want to have fun! Para pria ingin serius membangun rumah tangga, tapi para wanita hanya ingin suka-suka saja.

Kalau Anda bertanya pada orang-orang tua atau kakek-nenek kita, Anda akan mendengar kisah-kisah romansa yang begitu sederhana dan indah. Mereka bertemu, saling jatuh cinta, menikah dan hidup bahagia hingga hari ini. Karena 30-50 tahun yang lalu belum ada deviasi sosial yang kita lihat seperti sekarang ini. Orang-orang di zaman itu mengikuti peranan mereka yang seharusnya.


Di zaman itu, men were men and women were women. That's why it's relatively easy to find the mate of your life. It's so natural.

Jadi pelajaran apa yang bisa Anda ambil dari semua ocehan panjang lebar ini? Dan bagaimana pengetahuan ini dapat memperbaiki kehidupan romansa Anda?


Sederhana saja: ANDA HARUS PUNYA STANDAR.

Wanita saja punya standar. Mereka tahu dengan jelas pria seperti apa yang mereka inginkan. Pria yang maskulin, dewasa, mapan, mampu bersikap tegas, tidak emosional, memiliki integritas, bisa memimpin sebuah hubungan dan dapat membimbing serta melindungi mereka. Dengan kata lain, wanita hanya menginginkan pria sejati.

Karena itu, Anda pun harus punya standar
Wanita seperti apa yang Anda inginkan? Wanita yang cantik dan seksi tapi tidak tahu caranya bersikap seperti seorang wanita? Atau wanita yang tahu caranya menghargai dan menghormati Anda sebagai seorang pria, yang tahu caranya membawa diri dan bersikap di hadapan teman-teman atau keluarga Anda. Wanita yang memiliki kualitas keibuan yang penyayang, lemah lembut, halus tutur katanya, yang membuat Anda yakin bahwa Anda dapat mempercayakan anak-anak Anda kelak dalam perawatannya? Dengan kata lain, seorang wanita sejati yang dapat Anda banggakan.


Apabila Anda menginginkan seorang wanita sejati, maka mulai sekarang janganlah menjadikan kecantikan atau bentuk tubuh seorang wanita sebagai prioritas Anda. Jadilah tegas. Katakan TIDAK apabila Anda menemukan wanita yang tidak wanita. Dia tidak layak untuk seorang pria sejati seperti Anda. Sudah cukup banyak pria berkualitas yang jatuh bergelimpangan dan hancur hanya karena wanita yang sebenarnya tidak layak untuk dikejar. Janganlah menjadi pria-pria tersebut.

Tapi tentu, sebelum Anda menuntut hak, Anda pun harus melakukan kewajiban Anda. Rasanya tidak adil apabila Anda menuntut wanita menjadi wanita sedangkan Anda sendiri belum menjadi pria yang layak untuk mendapatkan mereka. Karena itu lakukan segala macam cara untuk meningkatkan kualitas Anda sebagai pria. Salah satu hal yang dapat Anda lakukan adalah dengan mengikuti HSMS 2009: Revolusi Romansa, di mana saya dan para instruktur lainnya akan membahas habis bagaimana caranya bersikap sebagai seorang pria sejati dalam dunia romansa.

Sahabat Anda,
Kei Savourie
http://hitmansystem.com/tentang-wanita/180.html

1 comment:

ahmad haes said...

Feminisme melahirkan 'generasi sungsang', menjungkir-balikkan fitrah. Di bawah telapak kaki ibu tidak lagi terdapat sorga tapi sudah berganti dengan neraka. Begitu - kira-kira - kesimpulan tulisan ini.