Showing posts with label Ki Hajar Dewantara. Show all posts
Showing posts with label Ki Hajar Dewantara. Show all posts

Tuesday, May 7, 2019

Pendidikan Era Baru


Dunia pendidikan belakangan ini disibukkan dengan kelatahan diskusi tentang ancaman era disrupsi, dengan semburan ultimatum doomsday scenarios tanpa jalan keluar yang terang.

Padahal, sepanjang sejarah peradaban manusia, kehidupan telah berkali-kali mengalami disrupsi. Zaman batu berakhir bukan karena batunya habis, melainkan karena penemuan teknologi perunggu sebagai “pengubah permainan” (game changer). Zaman perunggu berakhir bukan karena perunggu habis, melainkan karena penemuan teknologi besi sebagai pengubah permainan, dan seterusnya.

Kalaupun ada yang berbeda, hal itu terletak pada tingkat kerapatan dan skala disrupsi yang ditimbulkan. Apabila pada zaman dulu jarak antardisrupsi itu beringsut lambat —karena kelambanan penemuan teknologi baru— pada masa kini rentang antardisrupsi begitu rapat, dengan implikasi yang lebih luas cakupannya dan dalam penetrasinya.

Dengan tendensi kerapatan dan intensitas disrupsi seperti itu, apa implikasinya bagi dunia pendidikan? Apakah itu berarti akan mengubah prinsip-prinsip pokok pendidikan atau perubahan yang diperlukan hanya terletak pada pendekatan dan metodologinya saja?


Harus diinsafi bahwa dengan kerapatan dan intensitas disrupsi, dunia pendidikan tak bisa dikembangkan sebagai pabrik tenaga “siap pakai”. Apabila pendidikan terlalu fokus menyiapkan peserta didik untuk menguasai keterampilan tertentu, kecepatan kedatangan teknologi baru akan segera mengedaluwarsakan keterampilan yang diberikan. Dengan kata lain, daya sintas dunia pendidikan tak bisa mengandalkan pendekatan berbasis tantangan dan ancaman (threat based), tetapi harus dikembangkan berbasis penguatan kapabilitas (capability based).

Dunia pendidikan tidak disiapkan sebagai pemasok “batu bata” hanya karena ledakan permintaan batu bata, melainkan pemasok “tanah liat” yang memiliki elastisitas untuk  memenuhi ragam keperluan. Pendidikan berbasis kapabilitas menuntut penyiapan peserta didik sebagai manusia pembelajar seumur hidup; manusia yang selalu update dengan perkembangan baru dengan kesediaan terus belajar memperbarui dirinya untuk bisa menjawab segala macam tantangan. Pada titik ini, kedatangan zaman baru tidak berarti mengubah hakikat prinsip pendidikan.


Menumbuhkan mental kreatif
Prinsip pendidikan seumur hidup (lifelong education) justru harus dibudayakan lebih sungguh. Suhu pendidikan kita, Ki Hadjar Dewantara, secara visioner mendefinisikan pendidikan sebagai “proses belajar menjadi manusia seutuhnya dengan mempelajari dan mengembangkan kehidupan (mikrokosmos dan makrokosmos) sepanjang hidup.

Manusia pembelajar harus dibekali dengan dua macam kemampuan. Di satu sisi harus memiliki kelenturan untuk menyesuaikan diri dengan angin perubahan. Di sisi lain harus memiliki akar yang kuat agar tidak mudah roboh diterjang angin. Yang pertama memerlukan daya kreatif. Yang kedua memerlukan daya karakter.

Dalam menumbuhkan manusia pembelajar yang kreatif, tugas dunia pendidikan adalah menumbuhkan mental kreatif (creative mind). Mengikuti Peter H Diamandis, MD (2018), setidaknya ada lima karakteristik mentalitas yang perlu dibudayakan peserta didik. Jiwa sungguh mencintai (passion) terhadap apa yang dirasa sebagai bakat, minat, pilihan, dan impian seseorang. Kuncinya adalah mengupayakan ketersingkapan potensi diri dengan mengalami secara langsung aktivitas pengembaraan, ragam kegiatan, dan percobaan (experiential learning).


Mendorong rasa ingin tahu (curiosity) dengan memfasilitasi proses eksperimentasi dan penemuan. Peserta didik perlu diberikan keterampilan untuk belajar mengajukan pertanyaan, hipotesis, mendesain eksperimentasi, mengumpulkan data, dan merumuskan kesimpulan. Memberi kesempatan pada “keliaran” imajinasi dengan membiarkan alam terkembang menjadi guru. Memangkas program-program pengajaran yang terstruktur dengan basis hafalan karena bisa mengerdilkan imajinasi.

Perkembangan imajinasi siswa bisa difasilitasi dengan permainan berselancar di dunia maya. Karya-karya sastra dan film superhero serta science fiction juga bisa merangsang penjelajahan imajinasi.

Membangkitkan pikiran kritis (critical thinking) sebagai pelita hidup. Untuk bisa mengarungi kehidupan era baru, dengan beragam ide yang saling bertentangan, berebut klaim, misinformasi, berita negatif dan bohong, belajar terampil berpikir kritis dapat membantu mengurangi kesesatan, kegaduhan, dan pembodohan. Keteguhan hati (persistence) untuk mengarungi percobaan dan tantangan. Bahwa segala percobaan dan impian itu memerlukan keuletan perjuangan jangka panjang. Sekolah bisa memfasilitasi pengembangan keteguhan ini lewat ajang kompetisi dalam semangat kolaborasi, juga dengan narasi figur-figur ternama yang mampu bangkit dari kesulitan dan keterpurukan.


Menumbuhkan karakter
Usaha menumbuhkan kapabilitas kreatif peserta didik itu hanya bisa menghasilkan karya dan keluaran (output) yang konstruktif serta produktif jika dibarengi kekuatan karakter yang memberikan landasan nilai integritas dan etos kerja. Pendidikan karakter diperlukan untuk menempa siswa menjadi pribadi baik (karakter individu) sekaligus warga negara baik (karakter kolektif). Antara karakter individu dan karakter kolektif bisa dibedakan, tetapi tak bisa dipisahkan.

Untuk menjadi pribadi yang baik, Thomas Lickona (2011) menengarai ada sembilan nilai inti karakter pribadi yang harus ditumbuhkan: keberanian (courage), keadilan (justice), kebaikan hati (benevolence), rasa terima kasih (gratitude), kebijaksanaan (wisdom), mawas diri (reflection), rasa hormat (respect), tanggung jawab (responsibility), dan pengendalian diri (temperance).

Tentang bagaimana menjadi warga negara yang baik, Jonathan Haidt (2012) menengarai ada enam nilai inti moral publik sebagai basis karakter kolektif kewargaan: peduli terhadap bahaya yang mengancam keselamatan bersama (care); rasa keadilan dan kepantasan (fairness); kebebasan dengan menjunjung tinggi hak-hak dasar manusia (liberty); kesetiaan pada institusi, tradisi, dan konsensus bersama (loyalty); respek terhadap otoritas yang disepakati bersama (authority); serta menghormati nilai-nilai yang dipandang paling “mulia” (sanctity). Dalam konteks Indonesia, keenam nilai inti moral publik itu sudah terkandung dalam Pancasila.


Pergeseran pendekatan
Semuanya itu memerlukan pergeseran atau penyesuaian pada pendekatan dan metodologi pendidikan. Menurut Christiaan Henny (2016), ada beberapa hal yang patut diperhatikan sebagai karakteristik pendekatan dan metodologi pendidikan masa depan. Aktivitas belajar di ruang kelas mengalami pembalikan (flipped classroom). Dengan fasilitas e-learning, pelajar bisa memiliki lebih banyak kesempatan belajar pada aneka tempat dan waktu, juga bisa belajar jarak jauh dan belajar sendiri. Dengan demikian, aktivitas di ruang kelas bisa kebalikan dari pendekatan pembelajaran konvensional. Aspek-aspek teoretis yang biasanya disampaikan di ruang kelas bisa dipelajari di luar kelas; sebaliknya aspek praktis yang biasanya jadi pekerjaan rumah justru dikerjakan di ruang kelas secara interaktif. Ruang kelas menjadi wahana mendiskusikan hal-hal yang belum jelas, juga menjadi ajang kerja kelompok untuk mengaitkan hal-hal yang teoretis ke dalam praktik.

Pembelajaran mengalami personalisasi (personalizing learning). Para pelajar akan belajar dengan alat-alat pembelajaran sesuai kapabilitas dirinya. Pelajar yang memiliki kecakapan di atas rata-rata pada subyek-subyek tertentu akan ditantang dengan tugas dan pertanyaan yang lebih berat. Adapun pelajar yang mengalami kesulitan akan mendapatkan kesempatan lebih banyak hingga bisa mencapai level yang dikehendaki. Pelajar akan mendapatkan peneguhan secara positif, yang bisa mengatasi kehilangan kepercayaan diri. Guru-guru akan dapat mengenali secara lebih jelas, pelajar mana yang memerlukan bantuan dalam bidang apa.

Keterbukaan pilihan bebas (free choice). Meski setiap subyek yang diajarkan mengarah ke tujuan yang sama, jalan yang ditempuh pelajar untuk mencapai tujuan tersebut bisa dan boleh berbeda. Pelajar akan bisa memodifikasi proses belajar dengan alat-alat pembelajaran yang dirasa cocok dengannya. Para pelajar akan belajar dengan beragam peralatan, program, dan teknik sesuai dengan preferensinya. Untuk itu, pelajar harus disertakan dalam penyusunan kurikulum. Guru lebih berperan sebagai mentor pendamping, pengarah, pendorong, dan penghubung siswa dengan dunia luar.


Pembelajaran berbasis proyek (project-based learning). Mengikuti kecenderungan pilihan karier pekerjaan di era baru, yang tak terlalu terikat (freelance), para pelajar hari ini harus diadaptasikan pada praktik pembelajaran dan pekerjaan berbasis proyek. Mereka harus belajar menerapkan keterampilannya dalam jangka pendek pada ragam situasi. Hal ini harus mulai diperkenalkan pada sekolah menengah. Pada jenjang ini, keterampilan berorganisasi, kolaborasi, dan pengaturan waktu juga dapat diajarkan sebagai modal dasar untuk dikembangkan pada karier akademik selanjutnya.

Perluasan pengalaman lapangan (field experience). Karena teknologi dapat memfasilitasi secara lebih efisien pembelajaran aspek teoretis pada domain tertentu, kurikulum akan memberikan ruang bagi pengembangan keterampilan dalam pengalaman langsung. Sekolah/universitas akan menyediakan kesempatan lebih luas untuk meraih keterampilan dalam dunia nyata sesuai dengan preferensinya. Kurikulum akan menciptakan lebih banyak ruang bagi pelajar untuk menjalani pemagangan, proyek kolaborasi, dan mentoring. Ujian akan berubah secara mendasar. Karena platform pembelajaran akan menilai kapabilitas pelajar pada setiap langkah, mengukur kompetensi mereka atas dasar pertanyaan dan jawaban boleh jadi tak lagi relevan. Kompetensi pelajar akan diukur dengan memperhatikan perkembangan selama proses belajar dan aplikasi pengetahuan mereka dalam praktik di lapangan.

Sebagai tambahan, kemampuan belajar sendiri itu perlu prasyarat literasi yang kuat: kecakapan menghitung, membaca, menulis, dan menutur. Dengan kehadiran komputer penghitung dan software analisis statistik yang canggih, kecerdasan yang harus lebih diasah adalah kemampuan interpretasi data. Media komunikasi boleh berubah, tetapi kapasitas baca-tulis harus tetap diperkuat. Kemunculan era disrupsi jangan jadi pembenar untuk menelantarkan kapasitas literasi. Pendidikan sekolah dasar jadi tumpuan untuk membudayakan minat baca, tradisi menulis, dan menutur. Tanpa daya interpretasi, daya baca, daya tulis, dan daya menutur, perkembangan kreativitas manusia tak akan memiliki landasan yang kuat.


Semua pergeseran dalam pendekatan dan metodologi pendidikan itu harus seiring dengan transformasi pendidikan karakter. Pengembangan karakter merupakan pendekatan holistik yang menghubungkan dimensi moral pendidikan dengan ranah sosial dan sipil kehidupan siswa. Dalam pendidikan karakter, moral itu ditangkap (caught) dengan keteladanan, bukan diajarkan (taught) dengan hafalan. Cara mengajarkannya tak terisolasi dalam mata pelajaran tersendiri, tetapi melekat dengan seluruh rangkaian kurikulum dan melibatkan peran komunitas. Sifat-sifat karakter yang dikehendaki harus merembesi lingkungan belajar siswa, baik dalam kelas, jalan masuk, gimnasium, kafetaria, lapangan olahraga, maupun tempat-tempat lain yang kemudian terhubung dengan praktis moral dalam realitas masyarakat.

Secara singkat dapat disimpulkan bahwa pendidikan itu benih harapan. Apabila masyarakat dilanda kekisruhan, kemandekan, dan keterpurukan, serta tak tahu kunci emansipasinya, jurus pamungkasnya adalah pendidikan. Pendidikan benih harapan harus memprioritaskan pengembangan manusia pembelajar yang kreatif dan berkarakter. Proses pendidikan harus mampu mengembangkan kreativitas berbasis keragaman kecerdasan insani dengan panduan kompas nilai yang dapat menjaga keselarasannya dengan tertib kosmos dan harmoni dunia. Dengan cara itu, menurut Ki Hadjar Dewantara, manusia pembelajar bisa memayu hayuning sarira, memayu hayuning bangsa, memayu hayuning bawana (bermanfaat bagi diri, bermanfaat bagi bangsa, bermanfaat bagi dunia).

Yudi Latif
Dosen Universitas Negeri Yogyakarta
KOMPAS, 2 Mei 2019

Tuesday, January 23, 2018

Yang Hilang, Telah Pulang ke Rumah


Ibarat ada keluarga yang telah lama merantau dan pulang ke rumah, hal yang sama saya lihat dalam pemikiran Ki Hadjar Dewantara, sang pamong bangsa. Gagasan-gagasan penting pedagog kritis itu telah kembali ke rumah pendidikan nasional kita. Namun, eksekusi terhadapnya ternyata masih setengah hati.

Muhadjir Effendy begitu diangkat sebagai Mendikbud langsung menyadari bahwa roh pendidikan yang ada di Kemdikbud sebenarnya tinggal sepertiga. Bayangkan saja, dari tiga konsep penting pendidikan Ki Hadjar, hanya satu yang secara eksplisit menjadi spirit Kemdikbud, yaitu tut wuri handayani. Lantas, ing ngarso sung tulodo dan ing madya mangun karsa selama ini dikemanakan?

Tak heran jika Muhadjir pernah mengungkap keinginannya untuk mengubah nomenklatur Kemdikbud sehingga logonya lengkap mencerminkan pemikiran Ki Hadjar. Usulan mengubah nomenklatur ini tentu saja memiliki banyak dampak, bukan hanya dari sisi penamaan, melainkan juga dari sisi pembiayaan, seperti penggantian logo, kop surat resmi, dan papan nama di lembaga pendidikan dan sekolah-sekolah kita. Namun, lebih dari sekadar keinginan mengganti nomenklatur, saya melihat usulan unik Mendikbud ini sebagai pemantik kesadaran publik bahwa ada sesuatu yang hilang dalam kinerja Kemdikbud selama ini.


Kinerja Kemdikbud sebenarnya mulai mengalami proses transisi menjadi lebih baik sejak kepemimpinan Anies Baswedan. Ia menggemakan dua kata kunci penting, yaitu ekosistem pendidikan dan pelibatan publik. Sayangnya, ide cemerlang ini kurang sistematis diimplementasikan. Pelibatan publik akhirnya hanya dipahami sebagai terbentuknya panitia seleksi untuk memilih jabatan penting di kementerian. Atau di tingkat sekolah, bahkan jatuh pada anekdot sekadar kebijakan orangtua mengantar anak ke sekolah pada hari pertama, tetapi lupa menjemput.

Ketika Muhadjir mendapat mandat melanjutkan kepemimpinan Anies, pelibatan publik ini lebih diperkuat lagi secara sistematis melalui penguatan peranan komite sekolah. Munculnya Permendikbud Nomor 75 Tahun 2016 tentang Komite Sekolah menunjukkan keseriusan pemerintah dalam memperkuat pelibatan publik di tingkat satuan pendidikan, yaitu orangtua, terutama melalui struktur komite sekolah sebagai salah satu mitra penting pendidikan.

Bukan hanya itu, peranan orangtua dalam pendidikan anak juga ingin dikuatkan melalui kebijakan tentang hari sekolah melalui Permendikbud No 23/2017. Sayangnya, niat baik ini tidak ditangkap publik dengan baik, terutama media massa, sehingga yang dipahami publik melalui media adalah konsep full day school (FDS). Padahal, Kemdikbud tidak pernah sama sekali mengeluarkan kebijakan FDS.


Revolusi kopernikan
Keluarnya Peraturan Presiden No 87/2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) di satu sisi menghentikan polemik FDS yang menyita waktu, perhatian, dan tenaga, tetapi juga sekaligus merupakan kesungguhan pemerintah dalam rangka memulangkan gagasan-gagasan pendidikan genial Ki Hadjar yang selama ini terabaikan di rumah sendiri.

Pasal-pasal dalam Perpres tentang PPK secara eksplisit menyebutkan kekhasan pedagogi pendidikan yang selama ini menjadi trade mark Ki Hadjar, seperti konsep trisakti jiwa manusia, yaitu pikiran, rasa, dan kemauan (cipta-rasa-karsa) dan kodrat "dasar" (dimensi biologis individu) dan "ajar" (dimensi sosial pembentukan karakter) dalam pendidikan. Pendidikan yang utuh semestinya mengintegrasikan empat dimensi pengolahan hidup manusia, yaitu olah hati, olah pikir, olah rasa, dan olah raga. PPK juga secara eksplisit menggemakan kembali konsep tripusat pendidikan Ki Hadjar, yaitu sinergi antara keluarga (orangtua), sekolah (alam perguruan), dan masyarakat (alam pergerakan).

Konsep Ki Hadjar secara eksplisit tecermin dalam definisi PPK sebagai "gerakan pendidikan di bawah satuan pendidikan untuk membentuk karakter peserta didik melalui olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olah raga dalam kerja sama antara orangtua, sekolah, dan masyarakat sebagai bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM)".


Era di mana Ki Hadjar hidup dalam literatur sejarah pedagogi sering disebut sebagai revolusi kopernikan pendidikan. Zaman itu ditandai ditemukannya kesadaran akan pentingnya sang anak. Apabila Copernicus membalik pandangan umum bahwa bukan Matahari yang mengitari Bumi, melainkan sebaliknya, revolusi kopernikan dalam dunia pendidikan ditandai dengan pembalikan pusat pembelajaran: dari sang guru ke sang anak. Sang anaklah yang kini menjadi pusat dalam keseluruhan proses pembelajaran.

Pandangan bahwa pusat pendidikan ini ada dalam diri anak tampil dari para pemikir sezamannya, seperti Maria Montessori, Ovide Decroly, Karl Groos, John Dewey, dan Friedrich FrÖebel. Pusat seluruh proses pendidikan adalah sang anak, bukan guru. Revolusi kopernikan pendidikan ini mengubah struktur filosofi pendidikan sehingga mengakibatkan perubahan dalam konsep pendidikan, peran dan cara mengajar guru, pemilihan materi pembelajaran dan metode evaluasi serta penilaian. Gagasan Ki Hadjar sangat dipengaruhi oleh revolusi kopernikan pendidikan pada zamannya.


Setengah hati
Ironisnya, gagasan Ki Hadjar tampaknya ditanggapi dan diterapkan setengah hati. Ini tecermin dari struktur Kurikulum 2013 dan implementasi dari beberapa kebijakan yang kurang tepat.

Pertama, pendidikan utuh dan menyeluruh. Salah satu gagasan genial Ki Hadjar adalah pendidikan sebagai proses pembentukan watak anak Indonesia yang merdeka, berpusat pada sang anak, membebaskan kreativitas agar diri anak-anak bertumbuh dalam keseluruhan dimensinya, baik secara fisik, psikologis, sosial, estetis, intelektual, etis, maupun spiritual melalui pendekatan kepamongan.

Faktanya, struktur kurikulum kita membebani peserta didik dengan sangat banyak mata pelajaran, padat isi, dan ketat dalam sistem evaluasi. Beratnya materi pelajaran ini membuat proses pendidikan akhirnya hanya fokus pada kemampuan akademis peserta didik, sehingga dimensi pendidikan yang lain terabaikan, terutama pembentukan karakter. Mendikbud pernah menyampaikan usulan untuk menyederhanakan mata pelajaran pada jenjang sekolah dasar. Jumlah mata pelajaran untuk jenjang pendidikan dasar perlu lebih disederhanakan sehingga pendidikan bisa fokus pada pembentukan karakter peserta didik. Namun, gagasan ini berhenti dalam ide.


Kedua, banyaknya isi kurikulum yang harus diajarkan membuat guru sibuk pada persiapan tugas-tugas administrasi. Ini belum ditambah lagi dengan sistem penilaian yang menguras tenaga, pikiran, dan energi; mulai dari penilaian kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Apalagi, dalam setiap penilaian ini guru harus membuat penjelasan deskriptif tentangnya. Alih-alih memberi ruang bagi guru untuk menjadi pamong bagi peserta didik, seperti kehendak ideal pemikiran Ki Hadjar, guru bahkan menjadi semacam robot. Ia sibuk mengajarkan pengetahuan yang kering dan tidak menarik.

Ketiga, sistem evaluasi kita masih fokus untuk memotret kemampuan akademis peserta didik melalui berbagai macam ujian, mulai dari penilaian harian, penilaian akhir semester, ujian sekolah berstandar nasional (USBN), dan ujian nasional (UN). Semua ini berfokus hanya pada satu dimensi, yaitu kemampuan akademis-intelektual peserta didik. Alternatif penilaian dan evaluasi untuk memotret otentisitas sikap spiritual dan sosial masih perlu dikembangkan lagi.


Keempat, dari sisi tripusat pendidikan, kolaborasi antara sekolah dan rumah belum terbentuk sebagai tradisi yang melahirkan habitus pendidikan yang baik. Komite sekolah masih sering dicap sebagai tukang stempel kebijakan sekolah untuk menarik dana dari para orangtua murid. Partisipasi orangtua murid dalam pendidikan anak juga masih lemah. Kolaborasi sekolah dan rumah perlu diperkuat lagi karena orangtua tetaplah merupakan pendidik utama dari peserta didik.

Pulangnya gagasan Ki Hadjar di rumah pendidikan nasional perlu kita rayakan sebagaimana kita menemukan anak yang hilang. Namun, hal ini membutuhkan sikap terbuka, reflektif, dan kritis. Caranya adalah dengan mulai mempertanyakan dan mengkritisi berbagai praksis pendidikan yang sudah ada, yang belum atau kurang selaras dengan gagasan genial Ki Hadjar Dewantara, sang pamong bangsa.

Doni Koesoema A
Pemerhati Pendidikan,
Pengajar di Universitas Multimedia Nusantara, Serpong
KOMPAS, 20 Januari 2018

Friday, May 30, 2014

Pemimpin


Pemilu merupakan sarana mencari pemimpin. Pemimpin bukan sekadar pengumbar janji. Ia juga bukan yang paling populer di mata media dan tinggi elektabilitasnya di tangan lembaga survei.

Bagi Jim Clemmer (2009), pemimpin harus mampu membuat perbedaan. Itulah semangat utama yang mesti dimiliki seorang pemimpin. Tampil beda dengan gagasan yang kuat akan mengantarkan seseorang menduduki posisi penting dalam pemerintahan.

Seorang pemimpin, bagi pemikir terkemuka Amerika Utara itu, juga harus memiliki keotentikan. Para pemikir yang otentik membangun kepercayaan yang menjembatani celah-celah pemisah antara “kami dan mereka”. Para pemimpin seperti itu memiliki integritas dan konsistensi yang tinggi. Mereka mengembangkan lingkungan yang penuh keterbukaan dan transparansi, yang menampilkan masalah-masalah yang sebenarnya.


Pemimpin, dengan demikian, mampu menyuarakan kata “kita”. Kata kita merupakan wahana membangun ideologi yang bersifat mementingkan kebersamaan, menanggung duka dan suka, saling membantu, menolong, serta mengingatkan. Ke-kita-an harus menjadi ancangan dan sikap seorang pemimpin. Pemimpin hadir bukan untuk “kami dan mereka”, tapi untuk “kita”.

Pemimpin itu berintegritas. Integritas seorang pemimpin dapat dilihat dari sepak terjang (track record) sejak ia masuk di gelanggang politik. Integritas itu terbangun atas usaha dan karya pribadi yang mempribadi. Ia hadir bukan karena polesan dan goresan wartawan. Namun, tulus ikhlas bekerja, berusaha, dan berkarya sekaligus menjadi panutan bagi masyarakat. Inilah dalam bahasa Ki Hajar Dewantara yang disebut sebagai ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.

Lebih lanjut, seorang pemimpin selayaknya mempunyai konsistensi yang tinggi. Konsistensi itu dapat dilihat dari kata dan laku. Apa yang mereka ucapkan merupakan janji suci kehidupan. Kata bukan hanya menggerakkan lidah, tapi juga  mewujud dalam keseharian, sehingga ia tak mudah mengumbar janji. Kata dan laku seorang pemimpin harus selaras, sabda pandita ratu, tan kena wala-wali.


Ketika pemaknaan kepemimpinan menyentuh pada ranah ini, sebuah bangsa akan dipimpin dengan kebijaksanaan. Kebijaksanaan akan mengantarkan pada kemakmuran dan keadilan. Hal itu lantaran seorang pemimpin sadar betul akan eksistensi dirinya. Ia bukanlah pejabat publik yang pantas untuk selalu dihormati dan dipuja-puji. Namun ia adalah pelayan masyarakat yang siap mendengar keluh-kesah dan bergerak cepat dalam menyelesaikan persoalan bangsa. Ia selalu bekerja sekuat tenaga untuk kemakmuran bangsanya, bukan kepentingan pribadi dan kroni-kroninya.

Tahta merupakan amanat kepemimpinan. Artinya, seorang pemimpin harus mempunyai jiwa yang bersih dan selalu berjuang (bertekad) untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat. Kesejahteraan rakyat menjadi program utama seorang pemimpin bangsa. Seorang pemimpin bangsa harus mau dan rela meninggalkan (meletakkan) segala atribut yang pernah melekat dalam dirinya ketika menjadi pemimpin (presiden). Tanpa hal itu, akan sulit mewujudkan kepemimpinan yang berpihak pada kesejahteraan rakyat.

Pada akhirnya, mari mencermati sosok calon pemimpin bangsa Indonesia dalam hajatan pemilihan presiden 9 Juli. Pilihlah pemimpin yang bisa ngemong (mengasuh) dan menjadi pamong praja (pemimpin peradaban).

Benni Setiawan,
Dosen Universitas Negeri Yogyakarta
TEMPO.CO, 24 Mei 2014

Sunday, June 2, 2013

Cultural Leadership Cak Nun (I)


Rabu, 24 April 2013, Cak Nun diundang sebagai pembicara dalam Program Sekolah Staf dan Pimpinan Bank Indonesia (SESPIBI) Angkatan XXXI, Tahun 2013 yang mengangkat tema: “Menyiapkan Kepemimpinan yang Tangguh dan Inovatif dalam Menghadapi Berbagai Perubahan dan Turbulensi yang Dihadapi Saat Ini”. Secara khusus, Cak Nun diminta untuk membawakan topik Cultural Leadership. Program SESPIBI ini merupakan jenjang pendidikan karier tertinggi bagi pejabat Bank Indonesia (BI). Pesertanya berasal dari kepala-kepala divisi yang akan diangkat ke level direktur. Tahun ini ada 48 peserta, mayoritas berasal dari BI, sebagian yang lain berasal dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan ada satu orang yang berasal dari Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK).

Berangkat dari tawaran Cak Nun sebelum acara, sesi yang berlangsung dari pukul 08.30 sampai 11.30 itu dibagi menjadi dua. Satu jam pertama Cak Nun dimohon untuk berlaku sebagai “Kiai Ceret” untuk menuangkan pengalaman-pengalaman dan pandangan-pandangan beliau terkait dengan tema yang dimaksud. Dua jam setelah itu barulah Cak Nun berlaku sebagai “Kiai Genthong” di mana para peserta bertindak sebagai subyek utama dalam diskusi, nyidhuk (mengambil) apapun yang mereka ingin ketahui dan pelajari dari beliau.

“Saya pribadi mengenal Cak Nun sebagai pimpinan dari grup musik yang sangat saya suka, yakni Kiai Kanjeng. BI pernah mengundang Kiai Kanjeng untuk pentas di sini. Di samping itu, Cak Nun juga seorang sastrawan. Banyak sekali tulisan-tulisan beliau baik berupa puisi maupun dalam bentuk-bentuk lain yang kebanyakan dalam bentuk sastra relijius,” ujar moderator acara memperkenalkan Cak Nun kepada para peserta.

“Banyak sekali pengalaman Cak Nun yang bisa ditimba, karena telah terbiasa bergaul dengan berbagai lapisan masyarakat dari yang paling bawah sampai yang paling atas. Pengalaman Cak Nun terkait pula dengan kepemimpinan beliau dalam membawa misi-misi budaya, termasuk membentuk grup musik, dan juga membina anak sulungnya (Sabrang Mowo Damar Panuluh alias Noe) untuk menjadi vokalis handal di grup band Letto. Silahkan nanti kita tanya apa saja di sesi kedua.”


“Moderator kita ini terlalu terbiasa dengan kata benda, padahal yang nomor satu dalam hidup ini adalah kata kerja. Meskipun kata kerja itu pada tahap-tahap yang berbeda akan sampai juga pada kata benda, tapi sifatnya kehidupan adalah kata kerja,” ujar Cak Nun mengawali sesi pertama.

Kalau Anda melihat Indonesia sebagai kata benda, Anda akan kebingungan dengan Indonesia Orde Lama, Indonesia Orde Baru, Indonesia Reformasi. Tapi kalau Anda ngomongnya Indonesia itu kata kerja, cara berpikir kita akan menjadi lebih dinamis dan relatif. Semua yang diceritakan tentang Emha tadi itu adalah kata benda-kata benda yang merupakan samaran-samaran hidup saya. Jadi aslinya saya tidak seperti itu.

“Yang kedua, saya tidak merasa punya kredibilitas di bidang apapun untuk berada di acara ini bersama Anda semua, tapi saya datang karena etika, karena sopan-santun, karena sudah diundang. Karena saya dianggap bisa ngomong, ya sudah saya ngomong. Bahwa nanti terbukti kalau saya tidak bisa memenuhi apa yang Anda minta, itu salahnya yang ngundang,” kata Cak Nun yang langsung disambut tawa para peserta.

“Nomor tiga, saya sengaja tidak pakai assalamu ‘alaikum karena saya sudah pakewuh sejak lama sekali sama Tuhan karena selama ini orang-orang Indonesia mengucapkan assalamu ‘alaikum tapi tidak ada satu pun yang mengerti itu apa. Banyak sekali ucapan assalamu ‘alaikum di sini, tapi mereka tidak bersungguh-sungguh ber-assalamu ‘alaikum di antara mereka. Saya lihat Tuhan akhir-akhir ini banyak cemberut karena ini,” selorohnya.

Anda agaknya agak takut kalau sudah mulai ngomong tentang Tuhan. Maksud saya gini lho, assalamu ‘alaikum itu kan satu MOU (Memorandum of Understanding) yang diucapkan oleh satu pihak ke pihak lain, dan lantas pihak lain menjawabnya. MOU ini ada beberapa tahap. Maka ketika saya mengucapkan assalamu ‘alaikum kepada Anda, berarti saya menyampaikan jaminan keselamatan Anda paling tidak dalam tiga hal.

Yang pertama, hartamu pasti selamat kalau sama saya. Saya tidak akan bikin policy apapun yang akan merugikan hartamu. Yang kedua, martabatmu selamat di hadapan saya. Dan yang ketiga, keselamatan juga untuk nyawamu. Lalu kemudian Anda menjawab dengan wa ‘alaikum salam, itu berarti Anda sudah sign MOU di antara kita untuk saling menjaga tiga hal itu.

Mohon maaf ini jadi kayak ceramah ustadz. Aslinya ustadz itu tidak ada di Quran, tidak ada di Hadits. Ustadz itu karangan kapitalisme. Itu caranya orang untuk cari duit. Sama seperti bank syariah. Seharusnya kalau sudah menjadi bank syariah kan dia bukan lagi bank umum, tapi nyatanya kan keduanya tetap ada. Misalkan bank Mandiri, walaupun sudah ada yang syariah (Mandiri Syariah), namun yang umum (konvensional) masih tetap ada. Jadi ternyata masalahnya (syariah atau tidak) bukan prinsip, tapi soal mana yang menguntungkan. Maka kalau untuk segmen tertentu pakai syariah, dan untuk segmen yang lain pakai yang biasa.


Cak Nun kemudian menjelaskan tahapan-tahapan dari penjaminan keselamatan yang terkandung dalam ucapan salam. Setelah ‘kontrak’ assalamu ‘alaikum, ada frasa wa rahmatullah, kemudian ada wa barakatuh.

Tuhan itu sudah kasih rahmat kepada Anda semua. Dia kasih hidung Anda mancung, kasih rambut Anda tumbuh, kasih Anda tidak perlu mengatur jam berapa Anda kencing, kasih batasan terhadap tinggi badan, kasih batasan pada pertumbuhan gigi. Kalau satu saja dicabut oleh-Nya, Anda sudah sangat kerepotan.

Kalau nggak karena Tuhan memberi batas-batas, celakalah hidup manusia. Itulah rahmat. Rahmat bukan hanya berupa limpahan rizqi, tapi juga dalam bentuk batasan-batasan rizqi. Ada orang yang celaka karena ingin melewati batasan itu. Maka Puji Tuhan yang telah membatasi.

Rahmat Tuhan ini harus kita manage, harus kita kelola dengan aturan-aturan, dengan sistem-sistem hukum, dengan konstitusi sampai aturan-aturan pemerintah, keputusan presiden, kode etik di berbagai institusi, atau apa saja yang merupakan satu sistem kenegaraan atau kebudayaan atau peradaban, supaya ada transformasi dari rahmat menjadi barokah.

Kalau tidak ada pengelolaan ilmu dan sistem, maka padi tidak akan pernah menjadi beras, beras tidak akan menjadi nasi, nasi hanya akan berhenti menjadi nasi tanpa pernah jadi nasi gurih, nasi uduk. Itu semua kan butuh ilmu dan sistem pengelolaan.

Di antara rahmat dan barokah itu maka diperlukan negara, diperlukan BI, diperlukan sistem banking, diperlukan kesenian, departemen-departemen. Ini disebut ijtihad kalau dalam istilah agama, yaitu daya pikir yang terus-menerus untuk menguak bagaimana padi menjadi beras, menjadi nasi, dan menjadi aplikasi yang bermacam-macam.

Itulah kenapa saya bangga menjadi orang Indonesia, karena orang Indonesia merupakan satu-satunya negara, bangsa, etnik, yang punya kosakata detil mengenai beras. Kalau Bahasa Inggris hanya mengenal beras dalam kata rice, kita menyebutnya sebagai padi atau pari ketika masih di sawah, gabah ketika sudah dipanen, beras ketika sudah digiling, dan nasi atau sego ketika sudah dimasak. Itu kan karena kebudayaan kita jauh lebih tua dan jauh lebih matang daripada kebudayaan mereka.

Kembali ke konsep rahmat dan barokah, menurut saya BI adalah pemimpin transformasi dari padi ke beras, dari beras ke nasi. Wah, kalau langsung ke BI agak tidak enak juga saya, karena kalau ngomong BI kita bisa ke mana-mana, bisa ke Neolib, bisa ke IMF, Briggs. Saya nggak enak, dan saya nggak akan menyalahkan siapa-siapa kok. Saya cinta sama bangsa Indonesia dan saya maklum kalau presiden bilang kekayaannya ada 9 M. Nggak apa-apa, karena kebohongan kan tidak bisa dihindarkan di Indonesia ini.


Bebek Slamet juga bakal ketawa kalau dengar presiden kita kekayaannya cuma 9 M, wong Bebek Slamet saja puluhan miliar. Cuma kan nggak bisa nggak bohong kalau di Indonesia. Indonesia bukan tanah yang subur untuk kejujuran. Gimana mau nggak bohong, nanti orang lain yang bohongin kita. Gimana mau nggak curang, dia curang sama kita kok. Kenapa harus berbuat baik ke mereka, mereka saja nggak berbuat baik ke kita. Jadi di Indonesia ini saya sangat maklum kalau ada banyak orang korupsi, membunuh, karena mereka memang tidak aman di sini.

Mau berbuat baik nggak aman, agama dieksploitasi, dan budaya kemiskinan kita sangat tinggi. Orang-orang kaya itu sangat punya budaya dan mental kemiskinan. Budaya kemiskinan itu artinya orang yang sangat tergantung kepada keamanan materi. Kalau saya kan orang agak kaya, artinya saya nggak jelas punya uang berapa, bisa makan atau tidak, anak saya sekolahnya gimana, itu benar-benar urusan dinamis setiap hari. Bisa apa nggak, saya nggak tahu. Karena saya kaya raya, wis matek urip bah-bah lah (mau hidup atau mau mati terserahlah).

Kebanyakan orang kan nggak punya keberanian untuk seperti itu, maka mereka harus terus memastikan laba sebanyak-banyaknya dengan modal sekecil-kecilnya, maka mereka pakai ideologi kapitalisme dan seterusnya.

Kembali ke assalamu ‘alaikum warrahmatullahi wabarakatuh saya kira halangan kita sekarang ini adalah kita terus bertengkar di antara rahmat dan barokah. Nggak ada sistem yang kita sepakati. Ganti-ganti terus dari Orla ke Orba, ganti lagi di Reformasi. Kita tahun 2014 akan mengalami perubahan-perubahan lagi. Para investor di seluruh dunia juga sudah siap-siap karena dianggap akan ada renasionalisasi aset-aset negara, seperti misalnya ada regulasi yang melarang ekspor bahan mentah. Akan ada perubahan-perubahan besar dan yang disangka akan melakukan perubahan itu adalah salah seorang mantu mantan presiden, padahal bukan dia. Akan ada orang lain yang melakukan hal-hal itu. Ini pokoknya dunia sedang berspekulasi. Kalau saya kembalikan ke BI, saya kira BI adalah pemimpin transformasi rahmat supaya jadi barokah, sebab banyak rahmat tidak menjadi barokah.

Bedanya rahmat dan barokah itu teori universalnya seperti ini: hujan itu rahmat karena dia tidak memilih pada siapa dia datang. Siapa saja yang keluar ruangan, dia kehujanan. Tuhan ini nggak milih, misal orang yang korupsi tidak dikenai hujan. Rahmat itu dikasih Tuhan ke siapa saja. Maling ya dikasih rahmat. Siapa saja (dikasih rahmat).

Uang curian untuk beli soto itu ya tetap enak sotonya, karena sifatnya sifat rahmat. Kalau barokah itu sesuatu yang telah diregulasi dengan kemauan-kemauan dan aturan-aturan Tuhan. Maka, orang kaya bisa bangkrut kalau urusannya barokah. Sementara orang yang tidak ‘kaya-kaya amat’ bisa lancar hidupnya.

Menurut saya BI adalah ujung tombak dari pengaturan lalu-lintas rizqi dari rahmat Allah itu supaya menjadi barokah bagi seluruh bangsa Indonesia.


Empat Jenis Manusia
Kalau soal kepemimpinan budaya, saya kira tidak sukar. Kita bisa ambil dari sangat banyak wacana, cuma apa itu masalahnya di BI? Maka doa saya adalah; ini yang saya hadapi adalah manusia-manusia BI baru yang mengambil baiknya dari Orba, mengambil baiknya dari Reformasi, manusia-manusia BI baru yang tidak harus merupakan produk dari BI yang sebelum-sebelumnya, karena ada dinamika yang bermacam-macam. Pokoknya ini adalah generasi terbaru yang mengambil yang terbaik untuk bangsa, untuk rakyat, sehingga dia menjadi manusia BI baru sebagaimana sekarang lahir juga manusia-manusia Indonesia baru dari generasi muda yang bukan merupakan produk dari televisi yang kayak gitu, dari koran yang kayak gitu, dari kebudayaan yang kayak gitu, dari berbagai manipulasi agama yang terus-menerus.

Agama ini dikapitalisasi nggak karu-karuan. Kata ‘syariat’ pun dikapitalisasi. Kata ‘Al’ jadi jualan laris, kata ‘Gus’ jadi barang dagangan, juga kata ‘wali’ yang menjadi marketable. Gus Dur itu sekarang jadi wali kesepuluh. Jadi langsung loncat dari Sunan Kalijaga ke Gus Dur, tanpa bapaknya dan mbahnya, Gus Dur jadi wali. Padahal peristiwa 10 November itu hasil dari resolusi jihad Bapak dan Mbahnya Gus Dur. NU besar juga karena yang mendirikan Mbahnya Gus Dur. Sekarang yang jadi wali malah Gus Dur.

Itu sudah menjadi komoditas. Yang kemarin nyetiri saya saja sekarang jadi Gus, jadi pejabat tinggi di provinsi. Kemarin dia masih ngambil ban bekas, sekarang sudah jadi Gus. Dan Gus ini nggak bisa dilacak asal-usulnya, dan orang modern tidak peduli apa itu Gus, apa itu kiai, apa itu syekh, habib, maulana. Ini sudah jadi komoditas semua.

Kalau saya misalnya mau jadi wali, gampang sekarang ini. Saya tinggal pergi ke travel biro atau ke televisi. Padahal kan; laa ya’riful wali ilal wali. Sekarang jadi; laa ya’riful wali ilal travel biro wa EO. EO itu yang menciptakan Gus Dur jadi wali. Sampai sekarang ini bahkan ada walisongo Jawa Timur. Kalau Walisongo kan ada yang dari Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Sekarang ada Walisongo Jawa Timur, yang dari Walisongo dikurangi 4, kemudian empatnya dicarikan di Jawa Timur. Caranya mencari adalah yang gampang dilewati rute bus travelnya. Mereka bikin wali-wali yang mudah dicapai oleh travel. Itu yang namanya budaya kemiskinan. Orang sudah tidak percaya kepada rizqi Allah. Orang hanya percaya pada apa yang dia ambil, pada apa yang dia curi, apa yang dia mark-up, apa yang dia kolusi, apa yang dia manipulasi.

Kalau Sunan Kalijaga kan doanya Allahuma tuhno, Allahuma tekno. Itu wiridannya. Tuhno itu kalau butuh ono, kalau pas butuh ada. Tekno itu kalau entek ono, kalau pas habis ada. Sunan Kalijaga membatasi umatnya di situ. Kamu nggak usah kaya tapi kalau pas butuh, ada. Saya penganut ini. Saya nggak kaya, tapi asal pas saya butuh selalu ada, mbuh bagaimana caranya. Butuh di sini bukan hanya uang, tapi juga apa saja. Saya tidak percaya ada kekayaan yang sungguhan, saya tidak percaya ada orang kuat yang sungguhan, saya tidak percaya ada orang sakti.

Kalau saya singkat, kebudayaan kita itu luar biasa kayanya. Kita bisa ambil kearifan kepemimpinan dari Jawa, Madura, Sunda, Mandar, Bugis, tinggal ambil yang mana. Kita bisa ambil sedikit dari budaya, sedikit dari agama.


Misalnya Pak Harto, dalam memimpin dia cuma pakai dua ilmu, yaitu pranoto mongso dan katuranggan. Pranoto mongso adalah kemampuan untuk membaca musim. Ini dunia sedang begini, negara sedang begitu, cocoknya ikut Uni Soviet atau Amerika atau China, seperti itulah yang dinamakan membaca musim. Pak Harto tidak menggunakan ilmu-ilmu modern tapi dia merasakan dengan ilmu musim. Dari situ dia ambil policy dasar. Untuk menerapkan policy yang sudah ditentukan dengan pranoto mongso tadi, Pak Harto butuh memilih orang. Menteri Penerangan siapa, Menko ini siapa, Direktur BI siapa. Dalam menentukan siapa diletakkan di posisi mana, Pak Harto pakai ilmu katuranggan.

Katuranggan itu berasal dari kata turangga, artinya kuda. Jadi, ilmu tentang watak berasal-usul dari pengetahuan para pemelihara kuda terhadap . Kalau orang mempelajari kuda, dia akan melihat berbagai macam watak manusia terdapat pada kuda. Kalau Anda ahli kuda, cukup dengan melihat gambar di lutut depannya saja Anda sudah tahu umurnya berapa, larinya secepat apa, staminanya tinggi apa tidak. Ilmu kuda ini kemudian ditransfer menjadi ilmu tentang watak manusia, katurangganing manungsa.

Jadi kalau mau pilih staf, kita mesti mengenal wataknya. Watak ini berdasarkan konfigurasi atau terminologi apa? Kalau dalam pandangan politik, ada empat jenis manusia di setiap lingkungan, yaitu manusia pencetus, manusia pendiri, manusia pemelihara, dan manusia pendobrak.

Manusia pencetus adalah manusia yang selalu membicarakan hal-hal baru, selalu gelisah, tapi kerjaannya cuma begitu. Dia digaji untuk itu saja, jangan disuruh tertib di kantor. Begitu sudah mencetuskan ide baru, habis staminanya. Dia adalah bagian mencetuskan. Jangan disuruh mendirikan atau memelihara, karena pasti hancur nanti. Sehebat-hebat pencetus, dia tidak punya keberanian sejarah untuk mendirikan. Dia ada di belakang founding fathers.

Manusia pendiri atau perintis adalah manusia-manusia yang berani membangun. Merekalah yang bikin NKRI, bikin ini, bikin itu. Mereka adalah jenis manusia yang mendapat fadhilah dari Tuhan untuk mendirikan. Tapi pendiri juga belum tentu mampu memelihara, maka mayoritas manusia sebenarnya ditakdirkan untuk menjadi manusia pemelihara.

Manusia pemelihara nggak ikut berpikir, nggak ikut mencari, nggak ikut mendirikan, tapi begitu sudah ada, dia yang setia memelihara. Pegawai negeri yang di bawah-bawah itu kan biasanya katuranggan pemelihara. Dia rajin, absen pagi dan sore, wataknya pemelihara.

Jenis keempat adalah manusia pendobrak. Karakternya hampir mirip dengan manusia jenis pertama, yakni pencetus. Pendobrak ini bagian yang nggak setuju terus. Semua dibantah olehnya. Dia bisanya mengkritisi, tapi giliran disuruh bikin nggak bisa. Dia ini bagian nyacat atau mencela. Ada manusia yang memang oleh Tuhan diijinkan untuk menjadi juru cela. Maka jangan kaget kalau di antara kita ada yang ahli di bagian situ. Selama ini kan yang ahli atau pakar itu kan yang ekspertasinya di wilayah kedua atau ketiga, padahal ekspertasi kan luas. Ada orang yang memang kerjaannya nyacat terus ben dino, dan itu bagus untuk kita yang memang ingin dinamis. Orang ini kalau tidak dibayar akan berbahaya bagi masyarakat, jadi mending bayar dia khusus untuk mencela di wilayah tertentu. Di wilayah selain itu, jangan mencela siapa-siapa. Dia punya kecerdasan untuk mencela, tapi dia hanya diperbolehkan mencela di ruang rapat kantor saja lho ya, di luar kantor tidak boleh. Di luar itu dia harus berbudaya.

Berbudaya itu mencari yang baik dari yang buruk-buruk. Kalau yang terjadi di masyarakat sekarang kan justru mencari yang buruk-buruk dari yang baik. Ada orang baik dicari buruknya terus, sementara pekerjaan kebudayaan adalah ada orang seburuk apapun, kita cari baiknya, hingga kita nanti sampai di tahap di mana tidak ada yang tidak indah, tidak ada yang tidak nikmat, tidak ada yang tidak berguna. Ibaratnya dalam musik, tidak ada yang fals.

Fals itu tidak ada. Yang ada adalah bunyi tidak terletak di tempatnya bersama harmoninya. Kalau dia diletakkan berjejer dengan yang satu konfigurasi dengan dia, dia nggak fals. Ini kalau seandainya workshop musik, saya tunjukkan kepada Anda. Dia punya konfigurasi harmoni sendiri.


Tidak ada yang buruk, tidak ada kecelakaan, tidak ada kerugian dalam hidup ini. Kita pernah mengalami kehancuran saat Orba, Orla, Reformasi, banyak sekali, tapi saya melihat tidak ada masalah. Memang hidup seperti itu. Yang penting kita tahu yang disebut manajemen itu apa. Manajeman itu bukan bagaimana menyusun uang. Kalau saya, manajemen adalah bagaimana tidak punya kerjaan tapi bisa nyekolahke anak-anak. Itu kan manajemen banget. Bagaimana nggak punya gaji tetap tapi bisa survive, itulah manajemen. Nek gajimu sakmene digawe ngene, dudu manajemen iku, tapi kasir.

Manajemen itu bagaimana kita tidak punya beras tapi bisa bikin nasi. Kalau dalam al-Quran namanya min haitsu laa yahtasib. Allah memberimu rizqi melalui jalan dan metode yang di luar perhitunganmu. Dan itu adalah jaminan Allah setiap hari kepada orang yang selalu meletakkan hatinya dekat dengan Dia.

Saya pribadi bisa mendapatkan cash dari langit. Satu contoh, saya didatangi kiai-kiai tua, ada di antaranya yang sudah 94 tahun usianya. Saya nangis karena nggak punya uang untuk nyangoni, maka saya masuk kamar, wudlu, kemudian sisiran. Di atas lemari saya dapat 40 juta, cash. Hal-hal seperti itu bisa saja terjadi, tapi syaratnya adalah saya tidak boleh mengambil sedikit pun untuk saya sendiri. Maka saya bagikan semua kepada tamu-tamu saya itu.

Tapi orang Indonesia kan nggak percaya sama Tuhan, maka kerjaannya mencuri terus, curang terus. Dia tidak percaya sama begitu banyak kemungkinan rizqi dalam kehidupan. Saya punya sekolahan, lebih banyak daripada yang didirikan oleh Direktur BI. Saya bisa mengadakan forum-forum Padhangmbulan setiap bulan di 6 kota, sekarang sudah 21 tahun, saya biayai sendiri. Dengan massa ratusan atau ribuan, forum-forum saya berlangsung tanpa sponsor, tanpa biaya dari siapa-siapa. Tanpa keamanan, tanpa izin, dan itu sudah semenjak Orba. Orang datang dari jam delapan malam sampai jam tiga pagi, sampai hari ini. Kemarin di TIM kami sampai jam 03.30, di Jogja tanggal 17 sampai jam 04.00, berlangsung terus-menerus karena min haitsu laa yahtasib.

Allah itu bukan milik para ustadz. Allah adalah milik kita semua, Dia sangat dekat sama kita. Dia sangat lucu, penuh humor, sangat penuh kasih-sayang. Dia tidak membutuhkan sopan-santun yang pura-pura.

Tentang ilmu katuranggan jelas ya. Itulah kenapa Pak Harto memilih Harmoko untuk menjadi Menteri Penerangan sampai akhir meskipun kita nggak suka. Pak Harto tahu persis bahwa Pak Harmoko adalah tipe pemelihara. Sampai hari ini dia masih memelihara apa yang bisa dia pelihara. Ini saya tanya langsung ke Pak Harto mengapa dia pindah dari Pak Moerdani, padahal Pak Moerdani itu berjasa sama Pak Harto, dia menemukan dukunnya Pak Harto yang ke-39 di Aceh sehingga Benny Moerdani diangkat menjadi Dukun Gajah Putih. Sebelum itu teorinya ada 39 dukun Pak Harto, tapi baru ketemu 38. Saya ketemu dukun-dukunnya Pak Harto di mana-mana.

Tentang dukun ini juga ada teorinya sendiri. Dukun itu apa, kiai itu apa. Anda jangan salah sangka bahwa dukun ini pasti jelek dan kiai pasti baik, karena dukun masih bekerja untuk mendapat uang, sementara kiai biasanya nggak kerja tapi dapat uang. Jadi kan masih mending dukun.


Belajar Kepemimpinan dari Lokalitas yang Arif
Untuk kepemimpinan, kita bisa belajar kepada Ki Hajar Dewantara. Pemimpin itu nomor satu harus ing ngarso sung tulodho, mampu memberi teladan. Teladannya bukan hanya dalam hal akhlak tapi juga dalam keterampilan, dalam profesionalisme, dalam kepekaan, dalam kedekatan budaya dengan karyawan. Teladan yang saya maksud adalah keteladanan yang utuh.

Kalau dia sudah bisa mempengaruhi karyawan atau bawahannya untuk beratmosfer seperti dia, maka kemudian dia tidak perlu menjadi contoh lagi. Tahap kedua adalah ing madya mangun karso, bercampur di antara semua anak buahnya untuk melakukan apa-apa yang telah dia teladankan sebelumnya.

Kemudian tahap ketiga adalah tut wuri handayani. Syarat kepemimpinan kebudayaan, semua pemimpin itu menyiapkan dirinya untuk tut wuri handayani, bukan dari presiden malah jadi ketua Demokrat. Itu kan hanya mungkin dilakukan oleh orang pikun. Dia harusnya makin lama makin mandhita, makin siap untuk tidak menjadi apa-apa. Dia harusnya bersih dan tetap dihormati setelah tidak menjadi presiden, maka dia tut wuri handayani. Kalau sekarang kan dia malah ing ngarso ora tulodho.

Konsep dari Ki Hajar Dewantara ini sangat jelas kok. Sekarang Taman Siswa ‘mati’ karena ajaran-ajaran Ki Hajar Dewantara tidak kita akselerasi. Kita lebih percaya pada Cornell atau Berkeley, kita lebih percaya pada filosofi Barat.

Padahal Ki Hajar atau Ki Ajar ini kalau di Jawa merupakan sebutan bagi orang yang dianggap mempunyai ilmu yang melebihi ilmu masyarakat umum. Kalau ilmu yang dimiliki adalah ilmu agama, maka dia disebut Yai. Tapi setiap orang Jawa dalam sopan-santun kebahasaan menambah nama orang dengan Ki. Yai ditambah dengan Ki, menjadi Kiyai.

Tapi diam-diam kita telah ‘menghancurkan’ Ki Hajar Dewantara dengan menghancurkan filosofi dan kosakata kita. Sekarang kata ‘ajar’ atau ‘hajar’ diplesetkan secara negatif dengan arti ‘memukuli’. Ya sudah, hancur kan jadinya?

Contoh lain adalah kata ‘akal’. Dalam Bahasa Arab, kata kerja dari ‘aql adalah ya’qil. Ya’qil merupakan pekerjaan nomor satu bagi manusia. Allah selalu mengatakan afala ta’qiluun, kenapa kamu tidak pakai akal. Mengakali seharusnya berarti memperlakukan segala sesuatu dengan akal. Tapi sekarang ‘mengakali’ artinya mencurangi, meliciki. Ini kan pengkhianatan sangat besar terhadap bahasa-Nya Tuhan. Berapa ratus kali dalam al-Quran kata itu disebut?

Kata ‘ajar’ ini khas Jawa. Nabi Ismail lahir dari seorang ibu bernama Hajar. Hajar ini orang luar Arab yang nggak ngerti geografi Arab, nggak ngerti di mana sumber air, maka dia bolak-balik mencari air sampai akhirnya ketemu air zam-zam itu. Hajar ini kan bukan orang Arab. Kita cari ke mana-mana, ke Rusia, ke Afrika, dan cuma di Jawa kita temukan kata ‘hajar’ yang paling relevan. Berarti istrinya Ibrahim yang baru ini sepertinya orang Jawa –atau katakanlah orang Indonesia.

Hajar punya anak Ismail yang kemudian menurunkan orang Arab. Kalau dari istri yang satunya, lahir Ishaq. Turunan Ishaq menjadi Yahudi. Dunia ini dikuasai oleh dua klan itu. Yang punya duit adalah turunan Ismail, (namun) yang mengelola duit adalah turunan Ishaq, seperti Soros, IMF.

Nah, kita ini masalahnya ada di perempatan jalan. Kita ini turunan yang mana? Ataukah jangan-jangan kita lebih tua daripada Ibrahim?

Maka suatu hari jangan mau taat sama (klan) Ismail dan Ishaq, karena mereka adalah cucu-cucu kita. BI pada suatu hari harus menjadi lembaga keuangan dunia, dan Indonesia yang mengatur keuangan dunia karena kekayaan Allah di muka bumi dipusatkan di Indonesia. Jangan boleh Freeport seenaknya.

Bersambung ….