Showing posts with label Hamid Basyaib. Show all posts
Showing posts with label Hamid Basyaib. Show all posts

Friday, August 18, 2023

Buku, Kuda, Nirwan Ahmad Arsuka


Tiba-tiba suatu sore Nirwan Arsuka muncul di kantor saya di Mampang, dengan sepeda motor yang warna dan modelnya kontan mengingatkan saya pada motor tukang pos yang tiap bulan mengantarkan wesel dari kampung. Dua lapis pakaiannya terbungkus jaket kulit hitam. Kerapatan sapu tangan penutup mulutnya memastikan ia mustahil ditembus debu Jakarta.

Tak jelas ia tinggal di mana, lebih tak jelas lagi pekerjaannya. Maka saya, di pertengahan 1990an itu, mengajaknya tinggal bersama di bedeng kontrakan seluas 5 x 7 m2 yang saya tempati sendirian di kawasan Jagakarsa.

Kami lalu mendirikan PT Paradigma Internasional, menjual ringkasan buku-buku manajemen dan kepemimpinan dari Soundview, Amerika, yang menyeleksi ketat buku-buku bergenre itu, yang terbit 1.500 judul per tahun.

Berkantor di lantai 11 gedung mentereng di Rasuna Said Kuningan, pemberian seorang kenalan yang baik hati, sebentar saja terbukti ia bukan direktur yang mahir mengelola bisnis; dan saya komisaris yang lebih buruk dari penjaga pintu kereta. Tak sampai setahun, ikhtisar Soundview yang bagus itu, dan diterjemahkan dengan baik pula, lenyap tak bersisa. Kami hanya bisa tertawa pahit dan diam-diam sama mengakui bahwa kami memang tak berbakat dagang.


Kami menempati pondok di sisi selatan di deretan tiga rumah itu. Ketika setahun kemudian rumah di ujung utara kosong, ia mengontraknya —dan baru keluar 15 tahun kemudian. Ia sedih karena tiba-tiba pemilik menyatakan ingin memakai rumah itu buat dirinya sendiri. Ia kesal karena baginya rumah dan kampung itu telah membuatnya nyaman. Suasana tenangnya ia nikmati nyaris 24 jam. Lokasinya mudah dicapai, dan yang terpenting: biaya kontraknya murah.

Para tetangga terdekat selalu heran. Hampir tiap minggu ada paket buku dari Amazon datang ke alamatnya. Ia seakan tak membutuhkan apapun di dunia ini selain buku, yang harganya rata-rata mahal. Ruang kerjanya di kamar depan penuh dengan rak buku yang doyong keberatan muatan. Ruang tamunya yang kecil disesaki rak-rak buku yang sama doyongnya. Ia tetap memilih menambah rak untuk buku-buku yang pasti datang nanti, daripada memasang meja-kursi.

Para tamunya tak kurang bahagia berbincang dengannya meski harus bersila di lantai bertikar seadanya. Beberapa tamu tak jarang datang dengan membawa aneka minuman mahal, yang harus ditampung di gelas dan cangkir yang warna-warnanya sesuai jumlahnya. Ia konsisten, rupanya. Anti keseragaman, apalagi penyeragaman. Tak boleh ada gelas-cangkir yang sama.


Tetangga makin heran karena dengan situasi seperti itu, tamunya ada yang datang dengan sedan Mercedes terbaru atau jip Lexus. Saya tak pernah bisa memberi jawaban yang memuaskan setiap tetangga bertanya apa pekerjaan warga pengontrak bedeng yang selalu membungkuk di depan layar komputer itu.

Kami, apalagi kalau seluruh peserta obrolan adalah geng lama Jogja, lebih sering memilih kongko di teras kecilnya. Sebab kondisinya lumayan: ada sofa rotan dengan kemiringan 30 derajat, yang jok busa tipisnya pasti dulu berwarna putih. Plus cahaya bohlam 5 watt.

Tiada yang peduli pada ironi besar bahwa dengan fasilitas semacam itu bahan obrolan adalah soal jatuh dan bangunnya peradaban-peradaban besar dunia, state of the art kesastraan Indonesia, alasan-alasan Seamus Heaney memenangkan Nobel Sastra tahun ini, film-film artistik-filosofis karya sineas Zhang Yimou dan Abbas Kiarostami, buku-buku yang memotret perkembangan mutakhir sains dan teknologi.


Ia mungkin tak selalu setia pada semua hal lain, tapi tidak pada buku. Di kampung halamannya di Dusun Leppe’e, Kabupaten Barru, atau di Makasar setelah ia di masa SD pindah ke sana, ia tersihir oleh serial-serial karya Kho Ping Hoo yang tak pernah tamat. Ia memilih membeli atau menyewa buku daripada menggunakan uang jajannya untuk es cendol dan gorengan yang dijajakan di dekat sekolahannya.

Ia mencuri rokok pamannya dan menjualnya untuk membeli buku. Ketika uangnya habis, dan ia melihat buku yang digilainya di toko buku, ia mencurinya. Dan tertangkap. “Sejak itu saya bersumpah akan membalasnya,” katanya. “Saya harus membalasnya dengan cara menyediakan buku-buku kepada anak-anak tak mampu agar mereka bisa membaca buku.”

Dan sumpah itulah yang diwujudkannya, puluhan tahun kemudian, ketika ia rasa sudah bisa bergerak dengan lebih leluasa; meski ia tak pernah benar-benar lapang dalam soal pemilikan uang.


Ia yakin, jaringan teman-temannya, yang rata-rata menaruh minat besar pada perbukuan, juga para sukarelawan yang ia percaya akan datang sendiri untuk membantu ikhtiarnya, akan bisa membantunya menggerakkan organisasi langka yang tak ada orang yang berani memulainya: Kuda Pustaka, kemudian dibakukan menjadi Pustaka Bergerak. “Jika anak-anak tak mampu itu kesulitan mendatangi pusat-pusat perbukuan di perkotaan,” katanya, “maka bukulah yang harus mendatangi mereka.”

Dan ia benar-benar menyodorkan buku-buku itu kepada anak-anak di tempat-tempat paling terpencil. Di lereng gunung di pedalaman Jawa Barat, di perkampungan nelayan di Sulawesi Selatan, di pedalaman Sumatera Utara. Anak-anak itu tak bisa lolos. Di mana pun mereka berada, buku-buku Nirwan akan mengejar mereka.

Ia mengerahkan semua sarana transportasi yang tersedia: kuda, perahu, sepeda, juga pundak manusia. Keyakinannya terbukti. Begitu banyak orang yang dengan sukarela membantu mengantarkan buku-buku itu, termasuk dengan memanggulnya sambil berjalan kaki, mendaki lereng pegunungan.


“Yang paling mengharukan,” tuturnya, “adalah setiap relawan Pustaka Bergerak mendatangi kampung-kampung terpencil, anak-anak yang sedang bermain langsung berhamburan ingin segera mendapatkan pasokan buku terbaru.”

Ia jengkel setiap mendengar keluhan lama bahwa minat baca anak-anak kita, juga kalangan dewasa, sangat rendah. Baginya masalahnya adalah ketersediaan buku. Jika buku tersedia, seperti yang dibuktikannya dengan kegigihan Pustaka Bergerak, anak-anak maupun orang dewasa di kampung-kampung suka membacanya.

Soal lain, katanya, harus diakui bahwa mutu buku kita —penulisan, ilustrasi dan keseluruhan tampilannya— memang harus terus dibenahi. Ia sendiri di masa kecil menggandrungi seri Time Life, yang mematri minatnya seumur hidup pada sains dan teknologi.

Sampai dua tahun lalu Pustaka Bergerak telah menyalurkan lebih dari 300 ton buku. Dugaannya kembali terbukti. PT Pos Indonesia menggratiskan biaya pengiriman buku-buku itu ke mana pun buku dialamatkan. Di tiap alamat, sudah ada barisan relawan yang siaga menunggu untuk segera menyalurkannya ke banyak titik. Para anggota polisi dengan suka rela mengawal para relawan itu sampai tujuan.


Dengan semua itu Keluarga Besar Alumni Universitas Gadjah Mada tahun lalu menganugerahinya Penghargaan Alumni Berprestasi. Ini melengkapi penghargaan oleh Presiden Joko Widodo yang ia terima sebelumnya.

Sejak lima belasan tahun terakhir, ia meminati kuda dan perkudaan —kuda pula yang ia kawinkan dengan kegairahannya menyebarkan buku, dengan memanfaatkan punggungnya untuk menggendong ratusan buku menapaki jalan-jalan kecil di pedalaman. Terdengar kabar bahwa ia membeli seekor kuda dan menyimpannya di suatu tempat di luar Jakarta. Saya hanya pernah melihat beberapa aksesori untuk keperluan penunggangan kuda, khususnya cambuk kulit yang artistik.

Terdengar pula kabar bahwa ia sedang menulis novel dengan tema kuda. Saya tak pernah berani menanyakan perkembangan penulisannya; tapi saya duga keras novel itu akan lama selesai. Sebagai penulis esai yang hebat, ia menulis dengan sepenuh kesungguhan dan sangat cermat memilih diksi. Untuk karya fiksi, kesungguhan dan kecermatannya pasti digandakannya tiga kali.


Sejak lama ia juga meminati kesastraan. Di sini pun ia mencoba mengawinkannya dengan minat-minatnya yang lain. Ia menyoroti langkanya puisi dan prosa fiksi Indonesia dalam menggarap tema sains.

Ia menyebut, satu-satunya novel, atau yang pertama dalam sastra Indonesia, yang cukup apresiatif terhadap manfaat sains adalah “Bumi Manusia” karya Pramoedya Ananta Toer.

Juga sebaris singgungan atas aspek ini dalam sebuah puisi Sapardi Djoko Damono. Ia cukup gembira dan menghargai penyinggungan ini, betapapun sangat minim; jauh lebih sedikit daripada yang ia harapkan. Ia menulis kritik yang kuat terhadap sisi sains yang dikisahkan oleh sebuah novel Dewi Lestari.

Ia sendiri lebih memilih peran sebagai pemerhati dan sekali-sekali menjalankan fungsi kritikus sastra. Sebagai penulis esai-esai kebudayaan dan dampak sosial-budaya dari perkembangan sains, ia tak bisa disebut tak produktif. Ia menghasilkan tiga jilid kumpulan tulisan, salah satunya hampir seribu halaman.

Fokusnya tetap: keajaiban manusia, yang sering disebutnya “maha manusia.” Sejak mahasiswa ia memang mengagumi Prof. Teuku Jakob, ahli antropologi ragawi bereputasi internasional yang pernah menjabat rektor UGM.


Meski ia tak pernah bekerja sesuai keahliannya sebagai sarjana Teknik Nuklir, minatnya pada sains tak pernah surut. Setahun lalu kami bersama tujuh kawan lain mendirikan ForSains, untuk menyebarkan semacam scientific culture, sebagai pengimbang kecil bagi maraknya religious culture. Sejauh ini buahnya lumayan, berupa media online berisi berita, ide dan temuan-temuan terbaru sains.

Perbukuan dan penulisan selalu lekat di hatinya yang terdalam. Pekan ini, dua tulisannya terbit, sebuah kolom di Kompas, sebuah lagi di majalah Tempo. Ia menulis keduanya dalam kesendiriannya yang hening di lantai 5 apartemen pinjaman dari sahabat lamanya.

Ia tak sempat menyaksikan terbitnya dua kolomnya itu. Saya akan membacakannya untukmu, Nirwan Ahmad Arsuka, Barru 1966 - Jakarta 2023.

Hamid Basyaib
Facebook, 9 Agustus 2023
https://www.facebook.com/hamid.basyaib


Beruntun Duka itu Tiba

Ichan Loulembah. Nirwan Ahmad Arsuka. Lalu Raharja Waluya Jati. Ah, ketiganya memiliki makna dan sumbangan tersendiri dalam perjalanan, pergumulan dan pertumbuhanku.

Ichan kukenal ketika menjadi menjadi jurnalis. Ia menjadi jurnalis dan penyiar terkemuka di Radio Trijaya FM saat aku jadi jurnalis DeTik pada 1992-1994. Lalu persinggungan dan perjumpaan terjadi dengannya, sebagian besar di ranah aktivisme dan gerakan sosial.

Perjumpaan dan pergumulanku dengan Nirwan jauh lebih panjang. Kami aktivis UGM pada kurun yang sama; dia berkuliah di Teknik Nuklir, sedang aku di Sosiologi. Gelanggang Mahasiswa, panggung demonstrasi, dan angkringan menjadi sejumlah ajang perjumpaan yang selalu menghidupkan dan menghangatkan percakapan kami.


Bahkan, ia juga cukup kerap mampir ke ‘markas’ kami di pinggir kali Code pada tahun 88-89 yang kami beri nama “Code 340” —sesuai nomor rumah yang terletak persis di atas tebing kecil di pinggir kali Code itu. Yang kuingat, ia beberapa kali datang pada larut malam, lalu berdiskusi seru diiringi bernyanyi bersama diiringi petikan dari gitarku. Kadang ia menginap atau pulang dini hari.

Mungkin teman se‘markas’ bisa menambah cerita yang sudah lama terkubur itu. Jawil Yahya Biasa Erwan Widyarto Harko Suharko Jusra Abdi dkk.

Belakangan kami bersua lagi saat aku tinggal dan menjadi jurnalis di Jakarta pada 1992-1995. Sementara ia aktivis dan peneliti lepas di berbagai project dan aktivisme. Ia sempat menjadi redaktur Lembar Budaya Kompas selain menjadi Direktur Eksekutif Freedom Institute. Belakangan ia lebih dekat dengan adikku, Hasif Amini, dan sempat tinggal di rumah petak di daerah Poltangan, Pasar Minggu, Jakarta.


Dengan Jati, aku tak pernah terlalu dekat. Pergumulanku dengannya lebih banyak lantaran sejumlah aktivis adik kelasku di UGM, semacam Andi Arief, Arie Djito, Nezar Patria.

Yang kuingat, perjumpaanku terakhir dengannya di sebuah cafe di Sagan sekitar tahun 2017. Waktu itu tak lama seusai Pilkada DKI yang riuh rendah. Aku kencan ngobrol dengan Bung Nezar yang waktu itu masih Pemred di The Jakarta Post, jika tak salah ingat.

Di tengah obrolan hangat bersama keluarga itu bergabunglah Jati, Dadang Juliantara dan Widadi Kasno. Obrolan itu mengasyikkan karena merefleksikan keragaman kubu dan poros politik tapi kami tetap bisa berbincang dengan hangat.


Duka terdalam atas kepergian kalian bertiga, sobat. Maafkan, aku tidak sempat menjumpai dan mengantar kalian menuju peristirahatan terakhir menuju ke keabadian.

Doa terbaik untuk kalian bertiga —yang aku yakin punya mimpi yang sama untuk Indonesia yang lebih baik dan bermartabat. Lanjutkan nongkrong di angkringan di surga.

Lahum Alfatihah ....

Note: Kutulis di atas KA menuju Yogyakarta International Airport

Najib Azca
Dosen Universitas Gadjah Mada
Wasekjen PBNU
https://www.facebook.com/najib.azca


In Memoriam Nirwan Ahmad Arsuka, Nabi yang Membuka Jendela Semesta

Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.

Sahabat kita, pegiat literasi untuk wong cilik dan terpencil di Nusantara telah pergi meninggalkan kita semua. Nirwan, pendiri perpustakaan bergerak itu, telah membuka jendela dunia untuk anak-anak dan warga yang hidup di daerah terpencil. Pustaka Bergerak yang telah menyalurkan buku-buku bacaan ke seluruh pelosok Nusantara adalah legasi Nirwan yang akan dikenang sepanjang masa.

Perkenalanku dengan Nirwan
Nirwan Ahmad Arsuka, 5 September 1967 – 6 Agustus 2023, pernah mengirim tulisan ke redaksi majalah Ulumul Quran (UQ) yang diterbitkan Lembaga Studi Agama dan Filsafat (LSAF), tahun 1990-an. Saat itu aku redaktur UQ, setelah resign dari Badan Tenaga Atom Nasional. Artikel Nirwan membahas sains dan filsafat dalam Islam.

Setelah aku baca, aku putuskan dalam rapat redaksi, tulisan Nirwan lolos, layak muat. Mas Dawam Raharjo sebagai Pemred pun setuju.



api karena antriannya panjang —maklum majalah triwulanan— harus menunggu lama untuk muncul di UQ. Sampai kemudian aku "dipinang" Republika tahun 1993 untuk memilih naskah opini dan menulis tajuk rencana di "koran Islam" itu. Aku lupa, apakah tulisan Nirwan yang bagus tadi jadi dimuat atau tidak oleh redaktur UQ sepeninggalku.

Sejak itulah aku terkesan pada sosok Nirwan, sarjana teknik nuklir UGM yang berpikiran luas dan bernas. Lama aku ingin berkenalan dengan anak muda kreatif ini. Saat itu, aku yakin Nirwan akan menjadi some body. Bukan sebagai ahli nuklir yang berkutat di laboratorium fisika radiasi atau reaktor nuklir, tapi dalam dunia filsafat, puisi, dan literasi.

Betul dugaanku. Di tahun 2000-an dan seterusnya, nama Nirwan Ahmad Arsuka sering muncul di berbagai media massa. Baik sebagai penulis kolom maupun nara sumber. Nirwan pun menjelma menjadi "seleb intelektual" di Indonesia. Publik mengenal Nirwan bukan sebagai fisikawan, tapi budayawan.


Kekagumanku yang lain terhadap Nirwan adalah ketika ia dengan serius membedah hikayat sastra fenomenal dari Bugis, La Galigo. Kitab sastra epik kehidupan ini ditulis dari budaya lisan suku Bugis (konon sudah ada sejak abad ke-13) dan merupakan salah satu karya sastra terbesar di dunia. UNESCO menyebut La Galigo sebagai "Memory of the World".

Karya sastra ini berupa surek (narasi atau serat sastra puitis) yang terdiri dari 6.000 halaman dan 300.000 baris teks. La Galigo menceritakan sebuah kisah asal-usul manusia dan peradabannya. Seperti epik Adam dan Hawa yang kemudian anak cucunya memenuhi bumi dengan dinamika peradabannya.

Pada awal kelahiran La Galigo, surek ini dipercaya oleh leluhur suku Bugis sebagai pedoman hidup. Karena itu surek La Galigo dianggap sakral. La Galigo ditulis dalam huruf asli Bugis kuno yang konon, saat ini, hanya dipahami oleh ratusan orang suku Bugis. Nirwan adalah salah satu orang Bugis yang berusaha memahaminya.

Surek La Galigo dibaca dengan irama seperti Shalawat Nabi atau Dandang Gula karena dipercaya sebagai mantra. Mantra ini dibaca untuk tolak bala, selamatan rumah baru, menyambut musim tanam, upacara pernikahan dan lain-lain.


Hikayat La Galigo dimulai dari kisah penciptaan dunia dan turunnya anak sulung raja langit yang diutus ke bumi (di kawasan Sulawesi Selatan, Luwu). Putra Langit tersebut bergelar Batara Guru. Batara Guru lalu digantikan Batara Lattu, putranya. Batara Lattu memiliki dua anak kembar yang dibesarkan secara terpisah. Sawerigading dan We Tenriabeng.

Saat dewasa dua anak kembar yang dibesarkan secara terpisah ini kembali ke Luwu. Ternyata Saweri dan Tenri saling jatuh cinta. Eiiit, saudara kembar tak bisa dinikahkan. Jika dipersatukan, Langit akan murka.

Pemuda Sawerigading pun sedih. Ia merantau ke Negeri China dengan perahu bersama para pengawal kerajaan.

Dalam perjalanannya menuju China, ia menghadapi banyak ujian hidup. Semuanya bisa dihadapi Sawerigading. Sampai di China, Sawerigading bertemu wanita cantik. Si cantik yang kemudian jadi istrinya itu bernama We Cudai. Dari perkawinan ini, lahirlah La Galigo. Dari hikayat inilah, lahir kisah-kisah lain —semacam serendipity sureq— yang berkaitan dengan kehidupan dan peradaban manusia. Pinjam narasi Nirwan —hikayat La Galigo adalah percakapan manusia dengan semesta. Percakapan ini muncul dalam narasi. Di suku Bugis narasi ini muncul dalam bentuk surek La Galigo.


Menurut Nirwan, dunia jika dikuak intinya, tiada lain adalah narasi. Segala sistem pengetahuan manusia, entah itu filsafat, kosmologi, atau bahkan sastra, dibangun di atas sebuah narasi. Melalui “lidah” manusia, alam semesta mewujudkan dirinya melalui kisah yang tertuang dalam narasi. Dengan kata lain, ujar Nirwan, sepanjang manusia menciptakan narasi tentang hidupnya, maka alam semesta pun mengungkapkan dirinya di hadapan manusia.

Itulah sebabnya, tukas Nirwan, peradaban yang tidak ditopang dengan narasi, lambat laun akan punah. Tidak ada peradaban di mana pun tanpa narasi.

Minat baca Nirwan memang luar biasa —ia melalap sastra, filsafat, sains, kosmologi, sosiologi, politik, dan entah apalagi. Itu tercermin dari tulisan-tulisannya yang tersebar di media cetak dan elektronik. Nirwan pun kemudian lebih dikenal sebagai budayawan, alih-alih fisikawan nuklir.

Nirwan seperti halnya fisikawan cum budayawan Fritjof Capra berusaha mengeksplorasi sains, filsafat, dan sastra hingga bertemu di titik yang sama dalam kosmologi kehidupan. Yaitu: manusia sebagai satu kesatuan antara mikro dan makrokosmos. Jalaluddin Rumi menyebutnya, manusia adalah samudra dalam setitik air.


Betul, manusia yang berasal dari setitik nutfah atau air hina (pinjam Rhoma Irama) kemudian menjelma menjadi penguasa jagat raya. Di era artificial intelligent (AI), era manusia sebagai raja diraja di semesta, niscaya terwujud. Pertanyaannya, apakah sang raja diraja kelak akan memelihara bumi atau menghancurkannya?

Inilah yang saat ini menjadi polemik. Tolong, tanyakan kepada Oppenheimer —bagaimana perasaan hatinya setelah bom atom ciptaannya meledak di Hiroshima dan Nagasaki. Kenapa Oppenheimer tak mau melanjutkan proyek bom hidrogennya? Tampaknya Oppenheimer takut, manusia akan musnah di muka bumi akibat pengetahuannya. Ia akan menyesal sepanjang hidupnya karena menciptakan senjata pemusnah massal yang mengerikan itu. Oppenheimer tampaknya ogah menjadi manusia seperti kisah Frankenstein. Ilmuwan yang menciptakan senjata pemusnah massal yang akhirnya memusnahkan manusia sendiri.

Kembali ke Nirwan. Beruntung, setelah rajin mengikuti pikiran-pikiran Nirwan yang menembus batas, aku berkenalan secara fisik dengannya di perpustakaan Freedom Institute (FI) milik Rizal Mallarangeng di Jalan Proklamasi, Jakarta. Saat itu Nirwan adalah direktur perpus tersebut.

Di era Nirwan inilah FI sangat prestisius. Bukan hanya perpusnya yang ramai, tapi kegiatan diskusinya juga sangat berkualitas. Aku selalu datang di acara-acara diskusi filsafat, sastra, dan budaya di FI.


Di FI, inilah aku berkenalan dengan sosok unik, Ryu Hasan, seorang ahli bedah saraf yang "sarap". Dalam sebuah diskusi yang dikomandani Nirwan, Ryu Hasan yang konon berdarah "habib" ini mempertanyakan, bagaimana Tuhan menghukum manusia yang kode genetik ketuhanan di pita DNA-nya telah dipotong? Bagaimana Tuhan menentukan umur manusia bila kode genetik usianya di benang DNA dipotong?

Ya. Semua kepercayaan dan agama muncul sebagai konsekwensi adanya kode-kode genetik yang ada dalam pita DNA di sel-sel tubuh manusia. Aku tak tahu bagaimana respon Nirwan terhadap perspektif Ryu Hasan. Ini artinya, Nietzsche benar —ketika berbicara bahwa manusia bisa "membunuh" Tuhan. Entahlah! Konsep tentang Tuhan memang absurd. Tidak sesederhana seperti yang dipaparkan Abdul Somad dan Aa Gym.

Satu hal, kini Nirwan dengan "ruh" nya yang tanpa jasad akan mengeksplor di kehidupan baru yang oleh manusia beragama disebut alam akhirat atau alam malakut. Nirwan, apakah hukum fisika ada di alam sana? Apakah narasi masih diperlukan untuk berkomunikasi di alam tanpa materi itu? Apakah ada sastra dan filsafat di kehidupan bidadari dan malaikat?


Kau pasti akan menjawabnya kelak ketika bereinkarnasi menjadi "Avatar" di kehidupan lain. Kelak di alam yang lain, aku ingin mempertanyakan hal tersebut padamu.

Nirwan, kau sekarang pasti memahami kenapa Yesus hidup tanpa istri. Maaf, aku yang sering bertanya, kenapa kau lama menjomblo waktu di FI —kini terpaksa mengakui kehebatanmu. Hidup menjomblo telah membuatmu terbang dengan imajinasi yang liar tentang wanita ideal. Dan ternyata wanita ideal itu hanya ada dalam khayal Khalil Gibran melalui surat-surat cintanya kepada May Ziadah, kekasih imajinatifnya. May Ziadah mungkin adalah "titik nol-nol-nol koma sekian" dari relasi manusia dan semesta seperti dinarasikan hikayat La Galigo. Mungkinkah itu Nirwan?

Melalui tulisan ini, aku ucapkan Selamat Jalan, Nirwan. Dunia literasi kelak akan menyebutmu sebagai nabi. Nabi yang berhasil membangun surga di bumi. Kau telah membuka jendela semesta untuk umat manusia.

Syaefudin Simon
Freelance Columnist
https://www.facebook.com/eldin.ibnuathiyyah

Tuesday, June 7, 2022

Senyum Mujahid Syafii Maarif


Sepeda motor Honda CB 125 Pak Syafii Maarif memasuki kampus UII Jl Cik Di Tiro Jogja, lalu dengan langkah cepat ia menuju kantor majalah Himmah yang kecil di ujung koridor. Ia datang untuk rapat perkenalan dengan pengelola majalah mahasiswa itu. Ia tanpa banyak tanya langsung menerima permohonan untuk menjadi penasihat di sana.

Semua peserta rapat sudah siap, dan Pak Syafii berkata: "Sebelum rapat dimulai, saya ingin tahu yang mana yang namanya Hamid Basyaib." Orang-orang tersenyum. Beberapa menyahut, "Itu yang persis di sebelah Bapak." Ia kontan menoleh ke sebelah kanannya, memandangi saya dengan tajam beberapa saat, sebelum ia berkata, "Oh, Anda rupanya!" Ia tidak menyebut "kamu".

"Tulisan Anda itu tidak benar! Fazlur Rahman tidak seperti yang Anda gambarkan. Dia adalah sarjana Muslim yang sangat bertanggung jawab terhadap Islam. Maryam Jameelah itu bukan tandingannya!" Setelah diam sejenak, "Tapi bahasa Indonesia Anda cantik! Bagus."

Maryam Jameelah (Margaret Marcus) dan Fazlur Rahman.

Ia merujuk artikel tiga halaman berjudul "Fazlur Rahman" yang saya tulis di edisi terbaru majalah Himmah. Saya hanya tersenyum mendengar pembelaan Pak Syafii terhadap gurunya di Universitas Chicago itu; tidak berani menyanggah karena modal saya pas-pasan, hanya berdasarkan buku kecil Maryam Jameelah (Margaret Marcus), eks penganut Yahudi yang antara lain menyebut Fazlur Rahman adalah musuh Islam dari dalam dan karenanya lebih berbahaya daripada musuh yang terbuka.

Lagi pula Pak Syafii belajar bertahun-tahun dari pakar Islam Pakistan yang hebat itu, maka tentu ia lebih mengenalnya (dua tahun kemudian, Agustus 1985, saya sempat menemui Fazlur Rahman, tapi dalam status sebagai pengagum beratnya, saat ia dan isterinya hadir di diskusi di kampus IAIN Sunan Kalijaga dengan moderator Prof. Mukti Ali).

Sejak "insiden" itu kami akrab. Ia, katanya, sangat senang terhadap sikap saya, yang mengritiknya tapi pada saat yang sama memintanya menjadi penasihat majalah yang saya kelola. “Begitu semestinya orang Islam dalam berbeda pendapat! Perbedaan tidak menjadi permusuhan. Kita tetap harus bisa bekerja sama.” Tema ini lalu terus ditekankannya sampai bertahun-tahun kemudian —dengan hasil yang mengecewakannya.

Kiai Hamam Dja'far (Kiri Atas), Arief Budiman (Kiri), Dawam Rahardjo dan Armahedi Mahzar (Kanan).

Kadang Pak Syafii menjemput saya di kampus dan mengajak ke Pesantren Pabelan di dekat Ambarawa (mestinya dekat Borobudur, Magelang -ass). Berboncengan di Honda CB-nya, kami bisa tiba cepat di Pabelan karena tidak melalui jalan raya. Ia hapal jalan-jalan tikus ke sana, masuk dan keluar kampung-kampung di sepanjang jalan Jogja-Pabelan. Sambil terguncang-guncang, saya tanya bagaimana ia bisa tahu jalan-jalan alternatif yang rumit itu. “Dulu saya sering lewat sini,” katanya.

Saya rasa dia enggan menjawab panjang bukan karena harus konsentrasi di tengah jalanan yang buruk. Itu mungkin karena ia enggan mengenang apa yang ia alami dulu: dari beberapa sumber saya dengar ia di masa mudanya sering berjualan kambing ke kampung-kampung untuk mendapatkan nafkah guna menghidupi keluarga kecilnya. Itu kisah yang terlalu panjang, dan pahit, untuk dituturkan oleh seorang doktor yang baru lulus dari universitas top Amerika dan sedang memegang setang motor dengan khusyuk.

Di ruang tamu rumah Kiai Hamam Dja’far di Pabelan, kadang ada Mas Dawam Rahardjo, Arief Budiman, Aldy Anwar, Armahedi Mahzar. Dua yang terakhir adalah tokoh-tokoh ITB, yang punya persambungan dengan Pabelan karena dihubungkan dengan para aktifis Yayasan Mandiri, sekumpulan aktifis mahasiswa ITB, antara lain Sugeng dan Mochtar Abbas, orang Aceh yang kemudian jadi lurah Pabelan berkat dukungan Kiai Hamam.

Aldy Anwar adalah kerabat Haji Agus Salim yang terkenal pintar sebagai mahasiswa Fisika, tapi tidak menyelesaikan studinya, namun menekuni peluang mengembangkan helio energy (sumber matahari) sebagai bagian penting dari ambisi besarnya untuk melahirkan masyarakat yang "hemat energi, kaya nilai".

Buya Syafii Maarif menyambut kedatangan Presiden Jokowi dengan kedua tangan terbuka di rumah beliau di Nogotirto, Gamping, Sleman, Yogyakarta.

Kembali ke Jogja malam hari, Pak Syafii mengembalikan boncengannya ke tempat semula, kampus UII. Sebelum berpisah, ia memaksa saya menerima separuh honor yang didapatnya dari forum Pabelan. Saya menolak, tapi dia melesakkan uang itu ke kantong baju saya. Itu jumlah yang cukup besar untuk seorang mahasiswa miskin.

Padahal di forum itu saya cuma melongo melihat orang-orang pintar bertukar pendapat —yang saya sudah lupa apa isinya— dan tidak ada seorang pun yang mempedulikan kehadiran saya, dan sewajarnya mereka bersikap begitu. Hanya saya sendiri yang peduli terhadap tindak-tanduk setiap peserta, misalnya tentang Mas Dawam Rahardjo, yang bersarung dan menggerogoti apel sendirian, yang cuma bikin ngiler.

Kesibukan masing-masing membuat kami tidak bisa berjumpa sesering dulu. Tapi suatu siang Pak Syafii menjemput saya dan mengajak melihat rumah yang sedang dibangunnya di kompleks baru Nogotirto, di Godean (tepatnya di Gamping -ass). Kami pun melihat-lihat, menerobos barisan kayu yang malang melintang, dan ia menerangkan calon ruang yang ada satu per satu.

“Lumayan besar rumahnya, Pak," saya bilang tentang bangunan sekitar 120 m2 itu. “Ya, ini sebetulnya terlalu besar,” ucapnya. "Ini hanya untuk anak dan isteri saya. Kalau saya sendirian, saya cukup indekos di satu kamar saja.”

Buya Syafii pernah berkumis dan pernah pula memelihara jenggot.

Suatu sore saya mengunjunginya di kampus IKIP tempat ia mengajar. Kabarnya ada ruang baru untuk dosen. Maka saya datang untuk melihat keadaannya. Ternyata yang dimaksud "ruang dosen" itu berupa kamar-kamar 2,5 x 2,5 meter persegi (mungkin juga lebih kecil) yang berbaris seperti WC umum. Saya lihat Pak Syafii seperti terhimpit di antara timbunan buku di meja dan barisan bukunya di rak seadanya.

“Beginilah nasib dosen negeri, kalau Anda mau tahu,” katanya. “Doktor lulusan Amerika pun hanya mendapat ruang kerja begini saja.”

Saya berbasa-basi menghiburnya, meski saya sebetulnya kaget melihat kondisi yang tidak layak itu. Memang mudah disimpulkan bahwa perguruan tinggi kita umumnya tidak memuliakan ilmu meski hal itu adalah urusan utamanya. Spirit itu terlihat dari kondisi ruang dosen yang disediakan.

Universitas kita jauh lebih mementingkan aspek-aspek birokrasi pendidikan dan kepangkatan. Ruang dekan jauh lebih baik daripada ruang dosen. Gedung rektorat pasti merupakan gedung yang paling mentereng di seantero kampus —ruang laboratorium harus dipastikan berada di pojok yang sangat sulit ditemukan. Kini, 40 tahun sejak saya mengunjungi Pak Syafii Maarif di ruang kerjanya yang mini, saya tidak melihat perubahan berarti dalam piramida sosial di kampus-kampus kita.


Ahmad Syafii Maarif pulang ke Jogja dari Chicago di akhir 1983 dengan battle cry “umat Islam seribu tahun berhenti berpikir!” Inilah judul wawancaranya di majalah Prisma; dan diulanginya dalam banyak kesempatan. Simptom itu ia rujukkan pada Abu Hamid Al Ghazali, terutama pada karya monumentalnya, “Ihya Ulumuddin”.

Sudah jamak dianggap oleh kalangan pembaru Islam bahwa kemacetan berpikir di kalangan umat Islam adalah gara-gara terbitnya karya Ghazali itu, yang menekankan purifikasi mental individual. Kalangan Syiah biasanya menyanggah anggapan “kemacetan berpikir” ini dengan menyatakan bahwa itu hanya terjadi di wilayah Sunni. Sedangkan di kalangan penganut Syiah, pemikiran tetap subur; para ulama Syiah biasanya juga merangkap filosof —status yang dianggap identik dengan ketekunan berpikir.

Pengaruh Ghazali sedemikian besar, sampai seorang orientalis Inggris, Montgomery Watt, memastikan bahwa sufi Persia itu adalah orang kedua terpenting dalam Islam setelah Nabi Muhammad dalam mempengaruhi pikiran umat Islam.

Tiga Pendekar dari Chicago: Amien Rais, Nurcholis Madjid, dan Syafii Maarif.

Syafii Maarif —yang sebelumnya tidak dikenal sebagai aktifis pembaru Islam, mungkin karena berasal dari Universitas Cokroaminoto Jogja yang kurang ternama— dengan caranya sendiri ikut dalam barisan pembongkar kebekuan Ghazalian. Ia adalah bagian dari barisan sarjana baru Muslim lulusan universitas Barat, bersama dengan Saifullah Mahyudin, Sahirul Alim, Amien Rais, Kuntowijoyo, Yahya Muhaimin, Ichlasul Amal, Mochtar Mas’oed dan beberapa lainnya.

Berbeda dari mereka semua, Syafii satu-satunya yang menekuni studi Islam, bukan di Al Azhar seperti ribuan santri sebelumnya, tapi di Universitas Chicago, Amerika Serikat —meski “belajar Islam ke Barat” sudah dimulai oleh satu-dua orang dari generasi sebelumnya seperti H.M Rasjidi (Prancis dan Kanada) dan Harun Nasution (Kanada).

Beberapa bulan sesudah kepulangan Syafii, kembali pula Nurcholish Madjid, juga dari Chicago, dan sama-sama dibimbing oleh Fazlur Rahman. Suatu kali Cak Nur diundang berdiskusi di kampus UII bersama Fachry Ali, dengan moderator Habib Chirzin. Acara itu benar-benar menyegarkan. Dan malam harinya diadakan diskusi terbatas di sebuah hotel —semua orang ingin memanfaatkan optimal kehadiran Cak Nur.


Saya terlalu muda untuk punya hak hadir di acara yang sangat terbatas itu. Tapi Pak Syafii mengajak saya, dan dengan itu kursi saya terjamin tersedia di acara itu. Sedikit pun tidak ada materi diskusi itu yang saya ingat. Saya hanya terpesona oleh kecemerlangan Cak Nur yang, menurut Kiai Hamam Dja’far yang pernah sekamar dengan Cak Nur di Pondok Gontor, “ayat Quran dan hadits selalu ada di ujung lidahnya”, sehingga sangat mudah bagi Cak Nur untuk mengeluarkannya setiap ia memerlukannya.

Sambil berjalan keluar dari hotel, Pak Syafii bertanya, “Bagaimana pendapat Anda tentang diskusi tadi?”

“Saya jadi malas belajar, Pak,” jawab saya sekenanya.

“Lho, kenapa?”

“Sekeras apapun saya belajar, saya tidak akan bisa sepintar Nurcholish Madjid .… Orang itu hebat sekali!”

Pak Syafii menyergah, “Tidak benar sikap Anda! Keliru! Anda pasti mampu .…”

Ia bilang ia berangkat ke Amerika untuk mengambil studi S2 pada usia 42 tahun, dan dalam keadaan tidak mengerti apa-apa. “Anda baru 21 tahun sudah jauh lebih mengerti dibanding saya ketika berumur 42. Anda harus doktor di bawah 30 tahun!”

Dari ekspresinya bisa kita tebak bahwa Presiden Jokowi memiliki hubungan yang amat dekat dengan Buya Syafii Maarif.

Ketika Fazlur Rahman ke Jakarta pada 1985, ia mengatakan ia punya dua murid kesayangan di sini. “Nurcholish Madjid adalah mujaddid (pembaru), dan Syafii Maarif adalah mujahid (pejuang),” kata profesor Islamic Studies itu.

Sampai hari-hari terakhirnya, Syafii Maarif —yang dulu kumis tebalnya membuat ia mirip bintang Hollywood Burt Reynolds— menjalankan peran mujahid itu dengan caranya sendiri. Ia terus meneriakkan battle cry “Umat Islam seribu tahun berhenti berpikir”, dengan beragam elaborasi.

Sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah dan kemudian “Buya Guru Bangsa”, belakangan ia mengungkapkan kepedihan hati dan pesimismenya terhadap masa depan Indonesia secara keseluruhan, bukan hanya tentang kondisi umat Islam beserta corak pemikiran keagamaannya.

Ia tak henti meratapi apa yang dipandangnya sebagai kehancuran moralitas elit dan warga dalam berbangsa dan bernegara, dengan nada pesimistik yang terasa terlalu getir dan melampaui situasi sebenarnya.


Barangkali Pak Syafii sengaja menaifkan diri dalam menyuarakan kerisauannya tentang Indonesia. Ia tentu tahu state policies, beserta dampak-dampaknya pada kehidupan sosial warganegara, adalah urusan yang jauh lebih kompleks untuk dinilai semata-mata berdasarkan patokan akhlak religius, perangkat tunggalnya dalam melontarkan kritik-kritiknya yang keras —terhadap pejabat negara, juga elit-elit ormas Islam radikal.

Tapi suara moral Syafii Maarif, yang telah ditabungnya sejak ia remaja di kampung halamannya di Sumpur Kudus, Sumatera Barat, tetaplah diperlukan, termasuk untuk urusan-urusan yang dianggap tak relevan untuk dicampuri oleh mode akhlak individual. Baginya, segala macam perkara di dunia yang sementara ini —dari soal kebersihan WC umum di terminal bis sampai hubungan-hubungan internasional yang rumit dan berdimensi luas— adalah untuk keperluan menyejahterakan Manusia —dengan M besar.

Dan untuk itu semua orang yang mengenalnya cukup dekat pasti mengerti bahwa kehidupan dirinya sendiri adalah monumen yang meyakinkan tentang kebenaran apa yang disampaikannya. Ia sahih. Kerisauannya yang diungkapkan dengan sepenuh kesungguhan tercetus dari kemanusiaannya yang tulus; dari kejujurannya yang tanpa ampun; dari kesederhanaan perilakunya. Dan pasti juga dari ketidakpeduliannya pada pemilikan harta benda.

Ia, yang sampai berumur 40-an mencita-citakan terbentuknya Negara Islam di Indonesia, seakan menjalani hidup dengan kemurungan konstan. Tetapi saya kira jenis kemurungan semacam itulah yang justeru memberinya energi besar untuk mencapai usia 87 tahun.

Kini ia tak lagi murung. Sejak pukul 10 pagi tadi (27 Mei 2022), ia selalu tersenyum.

Hamid Basyaib
Aktivis dan Mantan Wartawan
Menerbitkan sejumlah buku tentang Islam, masalah-masalah sosial, dan politik internasional.

https://www.facebook.com/hamid.basyaib