Showing posts with label Doa. Show all posts
Showing posts with label Doa. Show all posts

Tuesday, August 30, 2022

Doa Orang Terzalimi dalam Kasus KM 50


Nabi SAW bersabda "ittaqi da'watal mazluumi, fainnahu laisa bainahaa wa bainallahi hijaabun" (Berhati-hatilah terhadap doa orang yang terzalimi, sesungguhnya antara ia yang teraniaya dan Allah tidak ada penghalang -- HR Bukhari-Muslim)

Marak berita atau tulisan yang mengaitkan peristiwa terbunuhnya Brigadir Joshua di Duren Tiga dengan doa Habib Rizieq Shihab (HRS) saat diadili di Pengadilan Negeri Jakarta Timur atau mubahalah keluarga 6 anggota Laskar FPI di Dewan Dakwah Indonesia (DDI). Seperti diketahui bahwa Kadiv Propam atau Kasatgasus bersama anggota tim ternyata terlibat dalam penanganan Kasus Km 50.


Adapun doa HRS yang dibacakan di kursi pesakitan Pengadilan Negeri Jakarta Timur adalah permohonan kepada Allah agar pelaku, perekayasa, serta semua yang terlibat dalam pembunuhan keji atas enam anggota Laskar FPI di Jalan Tol Jakarta - Cikampek Km 50 itu dihukum dan dihancurkan dengan sehancur-hancurnya oleh Allah SWT.

Demikian juga mubahalah keluarga keenam syuhada yang meyakini bahwa putera mereka telah dianiaya dan dibunuh oleh aparat dengan keji. Mereka memohon kepada Allah bagi yang berdusta untuk mendapat balasan laknat dan adzab dari Allah SWT. Karena keluarga itu merasa terzalimi akibat cerita sandiwara pihak Kepolisian.


Doa dan permohonan kepada Allah SWT baik yang dilakukan HRS maupun oleh keluarga keenam anggota FPI nampaknya mulai menunjukkan bukti-bukti. Hebatnya bukti-bukti itu timbul dari peristiwa unik di rumah dinas Kadiv Propam Irjen Pol Ferdy Sambo. Bahkan ada persamaan modus yang kemudian terbongkar jalan ceritanya.

Persamaan itu soal tembak-menembak, aparat yang dikorbankan, rusak dan hilangnya CCTV, rekayasa alat bukti, penganiayaan, pembunuhan berencana, hingga Komnas HAM yang ditengarai ikut dalam permainan. Semoga kasus Duren Tiga dapat membuka tabir kejahatan dalam kasus Km 50. Karena ternyata Divisi Propam ikut menangani kasus pembunuhan 6 laskar FPI. Ada indikasi kuat keterlibatan Irjen Ferdy Sambo entah sebagai Kadiv Propam atau Kasatgassus dalam peristiwa terbunuhnya 6 laskar FPI.


Doa adalah senjata orang beriman, penegak agama, cahaya langit dan bumi (HR Abu Ya'la). Doa juga alat mengubah kemungkaran walau dikategorikan sebagai selemah-leman iman, karena ada cara mengubah selain dengan kekuatan tangan dan perkataan. Ketika mukmin merasa dirinya tidak berdaya maka do'a adalah enerji pamungkas.

Doa orang-orang yang terzalimi dalam kasus Km 50 akan didengar Allah SWT. Sehingga, pada saatnya kelak, peristiwa ini akan terkuak dengan sebenarnya termasuk para pelaku dan perencananya. Penjahat itu dapat bersembunyi beberapa saat tetapi tidak untuk selama-lamanya. Kini ada kunci pembuka yang Allah berikan dan kunci itu menempel di pintu rumah dinas mantan Kadiv Propam Polri Irjen Pol Ferdy Sambo.


Kasus Km 50 adalah hutang Polri dan hutang pemerintahan Jokowi yang harus segera dibayar. Kesadaran untuk membuka skenario jahat dalam kasus Km 50 akan lebih baik daripada menunggu penagihan paksa oleh Allah Yang Maha Kuasa. Doa HRS dan mubahalah dari keluarga enam anggota Laskar FPI serta sakit hati jutaan kaum muslimin yang peduli pada peristiwa itu akan menggetarkan dan menggoyahkan sendi-sendi kekuasaan para pelaku kezaliman.

Kesombongan dan kebohongan itu berbatas ruang dan waktu. Tak akan abadi selamanya.

M. Rizal Fadillah
Pemerhati Politik dan Kebangsaan
FNN, Bandung, 13 Agustus 2022

Friday, March 19, 2010

S o p i r


Khusus di pagi itu W, melihat ke luar jendela, ke arah langit yang masih belum terang penuh, dan bertanya, atau berdoa, atau berharap-harap cemas: -"Tuhan seluruh alam, akan bebaskah kita hari ini dari kebencian?"- sambil tak sadar ia pakai kata "kita" di kalimat itu. Seakan-akan "Tuhan" termasuk subyek yang ikut bertanya. Mungkin karena ia tak tahu di mana Tuhan -jangan-jangan Tuhan akrab merasuk ke dalam dirinya- atau mungkin karena ia makin merasa, di dunia yang berhari-hari dipanasi politik dan maki-maki dan suara bising di TV, Tuhan juga perlu teman untuk melawan kebencian dan kebisingan.

W, perempuan berumur 43 tahun itu, menyukai hening, -bukan karena hening punya makna religius yang dalam, tapi karena hening, di kota besar ini, semacam ruang yang bisa bebas dari kolonisasi suara yang menjerit-jerit: dominasi enam pengeras suara sehabis subuh dan knalpot ribuan sepeda motor yang melintas tak jauh dari rumahnya. Hening itu sebentar, tapi begitu berharga dan mengejutkan -seperti anggrek putih yang sendirian di kebun di sebelah kamarnya itu, kebun dengan tiga batang pohon dan 3 x 3 meter persegi petak rumput. Anggrek itu di sana tampak yang paling beda, sebuah selingan, sebuah surprise.

Kalau hidup tanpa surprise, apa jadinya dengan Penciptaan? W bertanya pada diri sendiri. Ia ingat seseorang mengutip Kant: "Die Sch pfung ist niemals vollendet". Penciptaan tak pernah usai. Pagi bukanlah serangkaian repetisi.


Ia memang merasa bisa bersyukur, pagi ini yang ia dapatkan adalah sejuk yang baru. Mungkin karena setelah beberapa malam yang gerah dan pengap, kebun itu memberinya oksigen yang seakan-akan datang buat pertama kali. Atau mungkin karena burung-burung. Tanpa mengenal mana yang prenjak dan mana yang kutilang, ia dengarkan kicau sehabis gelap itu seperti harapan yang kembali. Ternyata tak semua bisa digusur gedung-gedung kota yang mengalahkan pepohonan tempat beberapa makhluk hinggap dan hidup. Seperti halnya tak semua dibinasakan oleh bising. Biarpun cuma beberapa menit. Kata akhir mengenai kehidupan ini belum bisa diucapkan.

Tapi benarkah? Benarkah selingan dan surprise ringkas itu punya makna yang lebih besar dalam hidup -terutama hidup di kota yang luas tapi berjubel itu? Bisakah ia masih berharap dari manusia, bukan dari burung dan kembang?

Pengantar koran datang. Ia malas membaca halaman pertama: terlalu banyak kabar dan statemen buruk. Ia malas membaca halaman opini: terlalu banyak tulisan yang tak memberinya jawab terhadap yang diucapkannya tadi tentang kebencian. Ia hanya membaca halaman iklan, kemudian melupakannya.

Setelah sarapan kecil, ia putuskan untuk pergi lebih pagi ke kantor. Ia tinggalkan secarik kertas dengan pesan kepada suaminya yang baru akan pulang siang nanti dari Yogya, menengok T, anak mereka yang bersekolah di sana: "Makanan sudah aku siapkan di kulkas".

Lalu ia berjalan ke ujung gang, menunggu taksi.


Sopir taksi itu mengenal betul jalan ke arah kantornya di Kemang Timur. Sambil duduk di jok belakang, W mencoba mengirim beberapa pesan pendek lewat telepon genggamnya ke asistennya. Tapi tiba-tiba matanya tertarik ke sebuah foto keluarga yang tak lazim tertempel di dasbor: sepasang suami-istri dan seorang anak perempuan. Pasti sopir itu dan keluarganya.

"Ini anak saya, Bu," tiba-tiba sopir itu berkata, tahu bahwa penumpang di belakangnya memperhatikan foto itu.

"Dia besok akan dioperasi otaknya," katanya lagi.

"Kenapa, Pak?"

"Dia sering pingsan. Dia sudah SMA, anaknya pinter, rapornya bagus. Tapi dia sering pingsan dan harus berhenti bersekolah. Kata dokter, ada cairan dalam otaknya yang mengganggu. Mungkin karena sering jatuh dulu waktu kecil."

"Dia anak kami satu-satunya, Bu. Saya bikin apa saja supaya dia bisa sembuh. Saya orang miskin. Tapi dia harus selamat."


"Pasti mahal sekali biayanya, Pak?"

"Saya berusaha dapat surat keterangan tanda miskin, Bu. Aduh, bukan main susahnya. Saya datang bolak-balik ke kantor Kecamatan Balaraja -kami tinggal di Tangerang- dan selalu ditolak. Malah nggak dilayani. Delapan kali, Bu. Delapan kali saya ke sana, menghadap. Membawa surat lengkap dari RT, RW, kelurahan...."

"Sampai sekarang belum dapat surat itu?"

"Akhirnya saya marah, Bu. Saya meledak, begitulah. Saya bilang pada ibu-ibu petugas yang menerima surat-surat itu, 'Apa ibu-ibu nggak pernah punya anak, nggak pernah anaknya sakit?' Saya bilang, 'Baca, nih, Bu, baca: apa yang tertulis di surat dari lurah saya ....'"

"Akhirnya mereka baca...."

"Lalu?" tanya W.

"Ternyata ibu-ibu itu masih punya hati, Bu. Mereka nangis setelah membaca. Mereka kasih saya surat keterangan itu. Jadi Alhamdulillah, saya bisa bawa anak saya ke dokter untuk dioperasi tanpa bayar...."

"Syukurlah, Pak, saya ikut senang," sahut W.

Tiba-tiba nada suara sopir itu berubah. "Tapi saya nyesel, Bu, saya jadi sedih banget."

"Saya sedih banget kok saya sampai marah-marah kepada para petugas di kecamatan itu. Itu kurang patut, kan, Bu. Sewenang-wenang, namanya...."


W terdiam.

Ia ingat sejuk tadi pagi, setelah malam yang gerah. Ia ingat burung. Ia ingat kembang anggrek. Ia merasakan sesuatu yang mengguncangkan hatinya. Ia bersyukur berjumpa dengan seorang yang seperti jadi jawab untuk doanya tadi pagi. Tapi sengajakah Tuhan membuat keadaan begitu muram hingga selingan seperti kisah sopir itu jadi sangat berarti? Bila demikian apa kehendak-Nya?

W turun dari taksi. Sopir itu berkata: "Doakan, ya Bu, anak saya supaya selamat."

Di kantor, di mejanya, ia berdoa. Untuk seorang anak perempuan yang tak dikenalnya. Tapi ia makin tahu Tuhan tak bisa diduga. Mungkin Ia pertama-tama adalah pengguncang hati. Selebihnya Penciptaan berjalan. Belum selesai.

Goenawan Mohamad
http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/03/15/CTP/mbm.20100315.CTP133011.id.html

Sunday, August 23, 2009

Berlindung Dari 5 Kesombongan


Ya Allah hamba berlindung kepadaMu dari kesombongan orang berkuasa, yang berdiri gagah tanpa punya malu karena merasa diri mereka lebih tinggi dari rakyatnya, padahal rakyatnya itulah yang meletakkannya di kursi dan membiayai hidup mereka, namun rakyat itu pulalah yang menjadi sasaran dari palu dan senapan para penguasa.

Ya Allah hamba berlindung kepadaMu dari kesombongan orang kaya, yang berjalan acuh tak acuh dan mendongakkan kepalanya karena merasa dirinya lebih penting dibanding orang-orang lainnya, padahal orang banyak itulah sumber penghidupan dan kekayaannya, namun orang banyak itu pulalah yang selalu disuruh siap dibeli kehormatannya dengan uang dan harta mereka.

Ya Allah hamba berlindung kepadaMu dari kesombongan orang pandai, yang selalu merasa lebih hebat dari orang lainnya, sehingga ia membuka mulutnya lebar-lebar dan memuntahkan hujan kata-kata yang berasal dari perasaan pandai dan hebat di dalam dirinya, padahal inti kepandaian adalah kesanggupan untuk mendengarkan serta kerendahan hati untuk tidak banyak membuka mulut, dan puncak tertinggi keterpelajaran berbanding sejajar dengan tingkat kesadaran atas kebodohan diri.



Ya Allah hamba berlindung kepadaMu dari kesombongan orang masyhur yang selalu merasa lebih khusus dibanding orang-orang di sekitarnya, yang menyangka bahwa kemasyhuran adalah kelebihan derajat atas orang lainnya, yang mengira bahwa kemasyhuran adalah sama dengan keunggulan dan kehebatan, yang perilakunya mengandalkan "karena aku masyhur maka aku hebat", bukan membuktikan bahwa "karena aku bermanfaat maka aku (terpaksa) masyhur".

Ya Allah hamba berlindung kepadaMu dari kesombongan orang alim saleh, yang ke mana-mana sibuk merasa bahwa yang selain dirinya adalah najis, yang tidak punya kemampuan lain kecuali merasa dirinya suci dan selalu benar, yang beranggapan bahwa Tuhan adalah anak buahnya, bahwa para Nabi dan Rasul adalah staf dan karyawannya untuk melaksanakan kepentingan-kepentingan diri dan golongannya.


Emha Ainun Nadjib
kenduricinta.com

Monday, July 6, 2009

Berlindung Dari 5 Kesombongan


Ya Allah hamba berlindung kepadaMu dari kesombongan orang berkuasa, yang berdiri gagah tanpa punya malu karena merasa diri mereka lebih tinggi dari rakyatnya, padahal rakyatnya itulah yang meletakkannya di kursi dan membiayai hidup mereka, namun rakyat itu pulalah yang menjadi sasaran dari palu dan senapan para penguasa.

Ya Allah hamba berlindung kepadaMu dari kesombongan orang kaya, yang berjalan acuh tak acuh dan mendongakkan kepalanya karena merasa dirinya lebih penting dibanding orang-orang lainnya, padahal orang banyak itulah sumber penghidupan dan kekayaannya, namun orang banyak itu pulalah yang selalu disuruh siap dibeli kehormatannya dengan uang dan harta mereka.


Ya Allah hamba berlindung kepadaMu dari kesombongan orang pandai, yang selalu merasa lebih hebat dari orang lainnya, sehingga ia membuka mulutnya lebar-lebar dan memuntahkan hujan kata-kata yang berasal dari perasaan pandai dan hebat di dalam dirinya, padahal inti kepandaian adalah kesanggupan untuk mendengarkan serta kerendahan hati untuk tidak banyak membuka mulut, dan puncak tertinggi keterpelajaran berbanding sejajar dengan tingkat kesadaran atas kebodohan diri.



Ya Allah hamba berlindung kepadaMu dari kesombongan orang masyhur yang selalu merasa lebih khusus dibanding orang-orang di sekitarnya, yang menyangka bahwa kemasyhuran adalah kelebihan derajat atas orang lainnya, yang mengira bahwa kemasyhuran adalah sama dengan keunggulan dan kehebatan, yang perilakunya mengandalkan "karena aku masyhur maka aku hebat", bukan membuktikan bahwa "karena aku bermanfaat maka aku (terpaksa) masyhur".

Ya Allah hamba berlindung kepadaMu dari kesombongan orang alim saleh, yang ke mana-mana sibuk merasa bahwa yang selain dirinya adalah najis, yang tidak punya kemampuan lain kecuali merasa dirinya suci dan selalu benar, yang beranggapan bahwa Tuhan adalah anak buahnya, bahwa para Nabi dan Rasul adalah staf dan karyawannya untuk melaksanakan kepentingan-kepentingan diri dan golongannya.


Emha Ainun Nadjib
kenduricinta.com, 26 Juni 2009