Showing posts with label Cahaya. Show all posts
Showing posts with label Cahaya. Show all posts

Wednesday, April 19, 2023

Kartini dan Al-Qurȃn


Kebanyakan orang tidak tahu ––karena tidak diberi tahu–– bahwa Kartini merupakan orang yang berjasa besar dalam dakwah Al-Qurãn, khususnya terhadap orang Jawa.

Sebagai anak cerdas dan kritis, Kartini tidak bisa menerima begitu saja cara pendidikan agama yang kolot. Bila ia berani menusuk uluhati pemerintah kolonial Belanda dengan penanya yang sangat tajam, ia pun mampu menampar guru agamanya dengan lidahnya yang tak kalah tajam.

Suatu hari, dalam acara rutin pengajian, Kartini menanyakan makna ayat-ayat Al-Qurãn yang diajarkan gurunya. Tapi, alih-alih mendapat jawaban yang memuaskan, sang guru malah jadi murka, dan kemudian mengusir Kartini dari ruang pengajian.

KH Muhammad Sholeh bin Umar atau Kiai Sholeh Darat, dan kutipan awal surat Ibrahim yang menginspirasi RA Kartini dengan frasa "Habis Gelap (Dzulumat) Terbitlah Terang (Nur)".

Mungkin pengalaman itu menyebabkan Kartini menderita luka jiwa (trauma) yang dalam, sehingga pernah mogok shalat dan mengaji. Melalui surat yang ditulisnya untuk E.E. Abendanon, bertanggal 15 Agustus 1902, Kartini bercerita:

“Waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang aku tak tahu apa perlunya dan apa manfaatnya. Aku tidak mau lagi membaca Al-Qurãn, belajar menghafalkan perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya. Jangan-jangan para ustadz dan ustadzahku pun tidak tahu artinya .…”

Kartini mengatakan bahwa seandainya ia diberi tahu arti kata-kata (Al-Qurãn) yang diajarkan, maka selanjutnya ia akan mempelajari semuanya. Tapi tuntutannya itu malah membuatnya didakwa telah melakukan dosa. “Kitab yang mulia itu terlalu suci sehingga kami tidak boleh mengetahui artinya,” keluh Kartini kepada Abendanon pula.


Pengetahuannya tentang agama Islam memang masih sangat dangkal. Karena itulah dalam beberapa suratnya ia pun banyak mengkritik perilaku masyarakat Jawa, terutama kebiasaan para bangsawan dan kaum pria dalam berpoligami, yang dianggap sebagai mewakili ajaran Islam.

Namun otaknya tidak pernah berhenti memikirkan agama yang telah ‘dihadiahkan’ orangtuanya sejak ia lahir. Lewat surat kepada sahabat penanya, Stella Zeehandelaar, seorang wanita Yahudi yang tinggal di Belanda, Kartini menuangkan isi hatinya:

“Soal agama Islam, tak dapat kuceritakan, Stella. Agama ini melarang umatnya membicarakannya dengan pemeluk agama lain. Sejujurnya, aku memeluk agama Islam karena nenek moyangku beragama Islam. Bagaimana aku bisa mencintai agamaku, bila aku tidak mengenalnya? Tidak boleh mengenalnya? Al-Qurãn terlalu suci untuk diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun. Di sini tak ada orang yang mengerti bahasa Arab.

Di sini orang diajari membaca Al-Qurãn, tapi tidak mengerti apa yang dibacanya. Aku menganggap hal itu sebagai perbuatan gila; mengajarkan orang membaca tanpa mengajarkan makna yang dibacanya. Sama saja seperti kau mengajariku membaca buku bahasa Inggris dan aku harus hafal seluruhnya, tanpa kau terangkan arti sepatah kata pun dalam buku itu. Bila aku ingin mengenal dan memahami agamaku, aku harus pergi ke tanah Arab untuk mempelajari bahasanya di sana .…”


Tak ada cerita atau pengakuan (lewat surat-suratnya) bahwa ia pernah ingin pergi ke Arab untuk memperdalam agama Islam. Yang jelas, pengusiran itu rupanya tidak membuat kartini putus asa. Rasa penasaran untuk mengetahui isi Al-Qurãn membawanya pergi ke rumah seorang pamannya, bupati Demak bernama Pangeran Aria Hadiningrat, yang hari itu sedang mengadakan acara pengajian keluarga. Kartini bergabung bersama para wanita bangsawan yang mengikuti pengajian dari balik tirai.

Pemimpin pengajian itu adalah KH Muhammad Sholeh bin Umar, seorang alim besar dari Darat, Semarang, yang biasa mengajar di berbagai kabupaten di sepanjang pesisir utara. Hari itu sang kiai membahas surat Al-Fatihah, yang ternyata membuat Kartini terpesona. Setelah pengajian selesai, Kartini mendesak pamannya untuk mengantarnya menghadap sang kiai. Melalui tulisan Fadhila Bc Hk, cucu Kiai Sholeh Darat, kita dapat mengetahui dialog di bawah ini.

“Kiai, ijinkanlah saya bertanya: bagaimana hukumnya bila orang berilmu menyembunyikan ilmunya?” tanya Kartini kepada sang kiai.

“Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?” sang kiai balik bertanya.

“Kiai, baru sekali ini saya mengetahui arti surat pertama dalam Al-Qurãn, yang ternyata begitu indah dan menggetarkan hati. Saya heran, mengapa selama ini para ulama melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al-Qurãn ke bahasa Jawa? Bukankah Al-Qurãn itu justru kitab pimpinan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?” kata Kartini.


Pertanyaan Kartini itu sangat menyentuh hati sang kiai, sehingga akhirnya ia berusaha menerjemahkan Al-Qurãn ke bahasa Jawa.

Tanggal 8 November 1903, ketika Kartini terpaksa harus menikah (menjadi istri keempat) dengan bupati Rembang, Joyodiningrat, Kiai Sholeh Darat menghadiahinya sebuah kitab berjudul Faizhur Rahman fi-Tafsiril-Qurãn, yang berisi terjemahan 13 juz Al-Qurãn (dari surat Al-Fatihah sampai surat Ibrahim) hasil karya sang kiai sendiri.

Tapi sayangnya pekerjaan itu tidak bisa ia tuntaskan, karena sang kiai keburu meninggal. Meskipun demikian, mulai saat itulah sebagian isi Al-Qurãn dikenal oleh Kartini, dan ia pun mempelajarinya dengan giat. Tapi tidak lama. Belum lagi usia pernikahannya mencapai setahun, tanggal 17 September 1904, Kartini meninggal.


Kartini lahir di tengah keluarga bangsawan, dikungkung adat Jawa dan dihujani pengaruh pemikiran Barat melalui sekolahnya, Europeesche Lagere School (sekolah dasar untuk anak-anak Eropa), lewat bacaan, dan kemudian lewat persahabatannya dengan sejumlah wanita Belanda dan Yahudi. Di antara mereka ada yang merupakan aktifis feminis, tokoh politik, guru, dan bahkan pendeta. Mereka mendekati Kartini dengan tujuan membaratkan dan mengkristenkan wanita cerdas itu.

Tapi usaha mereka tidak sepenuhnya berhasil. Kartini, yang kakek dari garis ibunya ––Kiai Haji Madirono–– adalah seorang guru agama di Telukawur, Jepara, tetap teguh memeluk Islam sampai akhir hayatnya.

Seandainya ia berumur panjang, tidak mustahil bila Kartini pun bisa tampil memperjuangkan cita-citanya mengembangkan agama Islam. Kesan itu setidaknya tertangkap dari surat yang ditulisnya untuk Nellie Van Kol, seorang wanita penulis dan humanis, yang tampak paling berusaha keras mengkristenkan Kartini. Kartini menolak propaganda temannya itu secara halus.

“Semoga kami mendapat rahmat, (agar) dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam layak dicintai,” kata Kartini.

(AH, Dari berbagai sumber).

Ahmad Haes, 19 April 2013
https://ahmadhaes.wordpress.com/2013/04/19/kartini-dan-al-quran-2/

Monday, May 25, 2009

Tangan Kosmik yang Menjangkau Cahaya


INDAH - Ketika 'bintang sekarat' bernama PSR B1509-58 beraktivitas, dan kebetulan berada di dekat awan gas bernama RCW 89, maka pemandangan indah dan menarik ini pun bisa terlihat, sebagai satu dari jutaan peristiwa di luar angkasa sana.
Foto: P. Slane, et al./NASA/CXC/SAO.

Bintang-bintang pulsar adalah bintang yang kecil dan bisa disebut hampir mati, namun masih punya kekuatan besar. Bintang-bintang jenis ini, biasanya berputar dengan kecepatan tinggi dan menerangi sekelilingnya, kerapkali dengan cahaya-cahaya indah bak tampilan siluman. PSR B1509-58 adalah nama bagi salah satu bintang jenis itu, yang diberikan oleh badan antariksa AS, NASA.

Sebagaimana ditulis Space.com beberapa waktu lalu, dan dikutip oleh Yahoo, Selasa (7/4), PSR B1509-58 sebenarnya sudah lama dianggap tidak aktif karena kehabisan "bahan bakar", dan berubah menjadi bentangan ruang udara dengan diameter sekitar 12 mil saja. Namun yang menarik, berdasarkan sebuah gambar terkini dari observatorium Chandra X-Ray milik NASA, "mantan" bintang itu baru saja menghadirkan pemandangan unik yang luar biasa.

Berkas sinar X bertenaga tinggi dari sebuah nebula di sekitar PSR B1509-58, telah menghasilkan cahaya berwarna biru, yang berkembang menjadi bentuk serupa tangan kosmik raksasa yang seolah tengah menjangkau berkas sinar kosmik merah abadi. Kini, bintang pulsar tersebut tengah berputar "gila-gilaan" dengan kecepatan tujuh putaran per detik -sebagaimana lazimnya rotasi bintang sejenis- dan melepaskan energi ke sekeliling yang akhirnya menghadirkan pemandangan itu.

Bidang magnetik yang sangat kuat, 15 trilyun kali lebih kuat daripada bidang magnetik bumi, diperkirakan juga ikut mempengaruhi. Kombinasi kekuatan itulah yang mengarahkan angin berenergi penuh elektron dan ion, bergerak menjauh dari bintang pulsar tersebut. Dan saat elektron-elektron melintasi nebula magnetik itu, mereka menyebarkan radiasi energinya dalam bentuk sinar X.

Sementara itu, cahaya merah itu sendiri sebenarnya adalah awan gas yang lokasinya cukup berdekatan, bernama RCW 89, yang diberi energi hingga berpendar oleh "jari-jari tangan"-nya nebula PSR B1509-58 tersebut. Demikian penjelasan dari para astronom sejauh ini.

Pemandangan ini membentang sepanjang kurang lebih 150 tahun cahaya (1 tahun cahaya adalah jarak yang ditempuh oleh cahaya dalam satu tahun yakni sekitar 6 trilyun mil atau 10 trilyun km, Red) itu, berjarak sekitar 17 ribu tahun cahaya dari bumi.

Artinya lagi, apa yang bisa terlihat sekarang itu, sebenarnya adalah apa yang terjadi pada 17 ribu tahun cahaya yang lalu, yang berkas cahaya (gambarnya) baru bisa ditangkap sekarang oleh lensa buatan manusia.

jpnn.com, 7 April 2009


A small, dense object only 12 miles in diameter is responsible for this beautiful X-ray nebula that spans 150 light years. At the center of this image made by NASA's Chandra X-ray Observatory is a very young and powerful pulsar, known as PSR B1509-58, or B1509 for short. The pulsar is a rapidly spinning neutron star which is spewing energy out into the space around it to create complex and intriguing structures, including one that resembles a large cosmic hand.