Tuesday, July 29, 2008

Ulama Masa Depan

Ustadz Kulyubi Ismangoen dan Ustadz Edy Purnomo

1 comment:

Kulyubi Ismangun said...

60 TAHUN NEGARA ISRAEL DAN MAKNA ZIONIS
Pembentukan negara Israel pada tanggal 15 Mei 1948 adalah peristiwa yang paling penting dalam sejarah orang Yahudi di masa modern.

Setelah masa pengasingan selama hampir 2000 tahun, bangsa Yahudi kembali ke tanah airnya, daerah kecil sekali di Timur Tengah, tempat yang mereka impikan, rindukan dan doakan selama berabad-abad di seluruh penjuru dunia.

Jutaan orang Yahudi yang sudah kembali ke Israel sebelum maupun sesudah didirikannya negara Israel, dan orang-orang yang baru saja datang, bukanlah para kolonial yang datang ke tempat jauh dan tak dikenal, namun mereka adalah orang-orang yang kembali ke tanah air mereka, tempat agama, budaya, bahasa dan identitas bangsa berpadu. Tempat yang menjadikan mereka sebagai bangsa.

Sudah lebih dari 3000 tahun tanah Israel adalah kampung halaman bagi orang Yahudi. Bahkan setelah mereka dideportasi dari tanah mereka oleh Kerajaan Roma setelah pengrusakkan Bait di Yerusalem, sekelompok Yahudi tetap bertahan di tanah ini. Sebagian besar yang terpaksa keluar, tidak pernah bisa melupakan tanah air mereka, dan mendoakannya untuk berabad-abad agar bisa kembali ke Yerusalem, ke Zion.

Antisemitisme– fenomena kebencian terhadap orang Yahudi dikarenakan agama Yahudi yang berbeda, menyebabkan orang Yahudi selama berabad-abad hidup dalam minoritas, dilemahkan dan dianiaya. Antisemitisme adalah kebencian, yang sering bergabung dengan aksi kekerasan brutal terhadap orang Yahudi, hanya karena masalah agama dan karena keteguhan hati untuk mempertahankan jalan hidup yang berbeda sebagai kaum minoritas.

Ratusan tahun atas kebencian dan penganiyaan tersebut berpuncak pada satu peristiwa yang paling bersejarah dalam sejarah Israel dan sejarah dunia, the Holocoust.

Pembunuhan orang Yahudi oleh Jerman selama Perang Dunia II, the Shoah, bukan sekedar kasus “pemusnahan sebuah bangsa”. Saat itu adalah saat pertamakalinya dalam sejarah manusia, pembunuhan besar-besaran atas jutaan manusia dilaksanakan secara sistematik dan terencana. Enam juta orang Yahudi, satu setengah juta di antaranya adalah anak-anak, terbunuh di kamp Nazi Jerman, hanya karena mereka adalah orang Yahudi.

Gerakan nasional Yahudi, Zionisme, dimulai di Eropa pada pertengahan abad ke-19, bertahun-tahun sebelum terjadinya Holocaust. Zionisme sebagai pemikiran politis bertujuan untuk memanggil kembali orang Yahudi untuk pulang ke tanah airnya yang kuno dan memperbaharui kemerdekaannya sebagai negara modern.

Karena itu, Zionisme menyandang 2 misi. Yang pertama adalah kembalinya orang Yahudi ke tanah airnya dan menjalani kehidupan normal sebagaimana layaknya semua bangsa-bangsa di di dunia. Misi lainnya adalah untuk menciptakan tempat berlindung yang aman bagi semua orang Yahudi yang teraniaya, dengan memiliki negara sendiri dan mampu mempertahankan diri sendiri.

Para pemimpin Zionisme tidak pernah mengabaikan kenyataan bahwa tanah Israel, yang saat itu berada di bawah kekuasaan Inggris, bukanlah tanah kosong. Banyak orang Arab tinggal di sana. Mereka adalah orang-orang Palestina yang melihat tanah ini sebagai tanah mereka dan mereka berkeinginan juga untuk menyatakan hak atas bangsa mereka.

Oleh karena konflik teritorial antara Arab dan Yahudi atas penguasaan daerah itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa pada bulan November 1947 mengambil keputusan supaya daerah itu terbagi dua dan dua negara berdaulat yang terpisah akan didirikan di sana. Satu negara yang disebut Negara Yahudi dan satu negara lagi yag disebut Palestina. Para pemimpin Zionisme dengan segera memutuskan untuk menerima petisi PBB. Arab dengan sepenuhnya menolak petisi tersebut. Seluruh dunia Arab menolak ide pendirian negara Yahudi di Timur Tengah. Dengan penolakan ini, mereka pun tidak mengakui pendirian Palestina untuk menjadi negara yang merdeka dan bebas. Kalau saja pengakuan itu ada maka Palestinapun saat ini akan merayakan kemerdekaannya ke-60.

Saat ini, selama 60 tahun berlalu, Israel dengan sepenuhnya mengakui hak Palestina untuk memerintah negaranya. Israel berpendapat bahwa cara untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah adalah dengan tercapainya kompromi teritorial yang memungkinkan kedua belah pihak hidup bertetangga dengan baik dalam suasana damai.

60 tahun setelah pembentukkannya, demokrasi di Israel berkembang. Israel memiliki masyarakat yang dinamis dan pluralistik dengan kebudayaan yang kaya. Israel menjadi pusat penting untuk kreativitas dan inovasi dalam beraneka ragam bidang.Israel memiliki sejumlah universitas dan institut yang beberapa di antaranya dikenal di seluruh dunia.

Keberadaan Israel adalah sebuah kenyataan. Siapapun yang memilih untuk mengabaikan fakta ini adalah mereka yang mengabaikan kebenaran realitas. Sekelompok kecil yang memilih kebijakan untuk “tidak mengenali” negara Israel menjadi marginal dan irelevan.

Israel akan tetap melakukan segala-galanya dalam upaya mencapai kompromi bersejarah dengan negara-negara tetangganya sehingga akhirnya dapat menyelesaikan konflik di Timur Tengah. Kami sangat berharap bahwa kompromi ini dapat dicapai dalam waktu dekat demi kepentingan semua bangsa di Timur Tengah.