Wednesday, August 27, 2025

10 Kabupaten dan 10 Kota Terbaik Dekade Ini


Sepuluh tahun bukan sekadar bilangan kalender; ia adalah cermin yang jujur. Dalam rentang 2014–2024, kita bisa melihat mana daerah yang hanya gemar mengoleksi piagam, dan mana yang tekun membangun institusi yang melayani warga di hari kerja yang biasa: ketika orang tua mengurus akta kelahiran tanpa calo, ketika pedagang kecil mengajukan NIB dari rumah, ketika taman kota bersih tanpa lomba, dan ketika laporan keuangan tidak sekadar rapi, tapi kebijakan anggarannya berdenyut untuk manusia.

Kerangka yang saya pakai sederhana namun ketat. Integritas adalah gerbang nol: kepala daerah yang terjerat vonis korupsi di periode ini, gugur —sekaya apa pun prestasi seremonialnya. Setelah itu, saya nilai IPM (yang mencakup pendapatan/standar hidup, pendidikan, dan kesehatan), penurunan kemiskinan, digitalisasi & transparansi (SPBE), akuntabilitas kinerja (SAKIP), iklim antikorupsi (SPI/MCP KPK), dan kebersihan lingkungan (Adipura). Saya satukan Adipura dengan kualitas kebersihan kota —itu satu napas: pengelolaan sampah, RTH, dan disiplin kolektif menjaga ruang hidup.

Sepuluh kabupaten terbaik dekade ini adalah Banyuwangi, Sumedang, Banyumas, Bone Bolango, Bojonegoro, Jepara, Ciamis, Siak, Sleman, dan Bantaeng.


Banyuwangi membuktikan bahwa digitalisasi bukan kosmetik. SPBE-nya konsisten di papan atas nasional; performa 2023 memantapkan posisi sebagai rujukan interoperabilitas layanan. Keberhasilan itu berpadu dengan SAKIP yang kuat dan disiplin keuangan: kombinasi data keras dan budaya kerja yang menolak setengah hati.

Sumedang adalah eksperimen digital pemerintahan paling tuntas di level kabupaten. SPBE 2023 menembus 4,14 (Memuaskan) —tertinggi di antara kabupaten/kota. Bukan sekadar portal baru, melainkan operating system pelayanan publik yang memaksa standar kolaborasi antardinas. Ini menekan ruang abu-abu dan mengajari birokrasi bekerja bak satu tubuh.

Banyumas meraih SAKIP A berulang kali. Ini menandakan relasi sehat antara anggaran dan hasil. Program kemiskinan, sanitasi, dan pendidikan tidak berhenti di naskah rencana. Di desa, warga merasakan ritmenya: layanan makin dekat, biaya transaksi menurun.

Ciamis dan Sumedang.

Bone Bolango membuka Mal Pelayanan Publik pertama di Gorontalo dengan 269 layanan satu atap. Ini bukan sekadar gedung, melainkan cara pandang: negara menyederhanakan urusan warganya. Tren IPM menanjak, kemiskinan turun, dan disiplin anggaran terjaga.

Bojonegoro diuji apakah windfall migas menjadi mutu hidup, bukan hanya beton. Transparansi anggaran meningkat, akses pendidikan diperkuat, dan indikator kemiskinan bergerak. Daerah kaya diuji bukan di neraca, tetapi di dapur keluarga miskin —dan Bojonegoro memilih jalur sulit itu.

Jepara memadukan disiplin keuangan dan budaya kebersihan yang ajek. Adipura di sini bukan event, melainkan kebiasaan. WTP bukan slogan, melainkan tata kelola harian. Kerapian fiskal bertemu etos lingkungan: dua sisi mata uang kepercayaan publik.

Semarang, Banyumas, Jepara, Madiun, Sleman, Surakarta.

Ciamis meraih Adipura Kencana 2023. Rantai nilai pengelolaan sampah —dari sumber, pemilahan, hingga TPA— dijalankan serius dan menular ke perilaku warga. Kebersihan bukan ‘sehari untuk foto’, tetapi laku harian.

Siak menunjukkan konsistensi panjang dalam Adipura. Daerah ini menata warisan sejarah sembari menjaga kualitas lingkungan. Narasi identitas dan layanan publik saling menguatkan.

Sleman dengan SAKIP A, kesehatan digital, dan pendidikan vokasi menyambungkan sekolah dengan dunia usaha. Pelayanan modern menjadi jembatan antara mimpi anak muda dan pasar kerja.

Bantaeng melahirkan inovasi dari krisis. Brigade layanan darurat dan kesehatan berbasis komunitas menjawab keterbatasan geografis. Ketika bencana datang, yang bergerak lebih dulu bukan spanduk, tapi tangan-tangan terlatih.

Kota Batik Pekalongan.

Berpihak Pada Manusia
Sepuluh kota terbaik adalah Surabaya, Semarang, Madiun, Pekalongan, Denpasar, Balikpapan, Bontang, Bitung, Tangerang, dan Surakarta.

Surabaya menegaskan orkestrasi data-layanan melalui SPBE 2023 dengan skor 4,49. Dari kanal aduan warga hingga integrasi administrasi, teknologi merapatkan jarak negara–warga. Adipura Kencana 2023 kembali ke Surabaya —kebersihan dikelola sebagai budaya bukan proyek.

Semarang memadukan SPBE matang, penanganan banjir presisi, dan transportasi publik yang make sense bagi komuter. Dokumentasi kinerja dan evaluasi internal menunjukkan disiplin yang tumbuh: kerja pemerintahan yang tidak bernafas pendek.

Madiun mencatat kejutan: SPBE 2023 tembus 4,45, tertinggi ketiga nasional. Skala kecil justru memudahkan konsistensi dan kedekatan layanan.

Tangerang, Denpasar, Bojonegoro.

Pekalongan memuncaki SPI KPK 2024 kategori kota dengan skor 82,25. Budaya integritas ini memperkuat setiap rupiah anggaran dan membendung moral hazard di titik layanan.

Denpasar menjaga marwah layanan publik di tengah geliat pariwisata. Kebersihan ruang, pengaturan parkir, dan integrasi administrasi berjalan tanpa gaduh.

Balikpapan meraih Adipura Kencana 2023 kategori kota besar. Kota industri–jasa ini membuktikan kemajuan bisa tetap rapi dan wangi bila tata kelolanya konsisten.

Bontang mengubah stereotip kota industri identik dengan kotor. Adipura Kencana 2023 menjadi rapor lingkungan yang jujur dari TPS 3R hingga TPA.

Bantaeng, Siak, Bitung, Bone Bolango, Bontang, Balikpapan.

Bitung sebagai pusat logistik perikanan menjaga pelabuhan dan kota tetap bersih. Adipura Kencana 2023 menandai disiplin kebersihan yang menyatu dengan denyut ekonomi pelabuhan.

Tangerang memperkuat ekosistem SPBE dari hulu: manajemen risiko, keamanan informasi, dan tata kelola TI formal. Fondasi membosankan di atas kertas ini justru menyelamatkan layanan publik dari downtime dan serangan siber.

Surakarta membangun digitalisasi yang membumi: kanal partisipasi warga, dukungan UMKM, dan dokumentasi kinerja yang rapi. SPBE masuk klaster Sangat Baik, menandai kedewasaan tata kelola yang bertumbuh.

Beberapa kota dan kabupaten tampak gemerlap di satu-dua indikator tapi gugur di gerbang integritas. Kita butuh daftar yang bisa dipertanggungjawabkan ke warga, bukan ke seremoni. WTP misalnya menilai kewajaran laporan, bukan kemurnian moral. Ia harus dipasangkan dengan SPI/MCP. Laporan rapi tanpa integritas hanya menghasilkan pelayanan yang dingin.


Ada hal-hal yang bisa ditiru: SPBE sebagai operating system pemerintahan, SAKIP sebagai kontrak sosial anggaran–hasil, Adipura sebagai budaya, MPP untuk mengurai birokrasi, SPI sebagai ekosistem integritas. Semua membawa pesan sama: ukuran akhirnya adalah apakah hidup warga lebih mudah, sehat, berilmu, dan layak.

Jika sepuluh kabupaten dan sepuluh kota ini menjadi laboratorium kebijakan untuk ditiru, otonomi daerah kembali pada makna asalnya: memerdekakan. Bukan dengan pidato tetapi antrean pendek, data jujur, taman rimbun dan rindang, dan anak-anak pulang sekolah tanpa takut menyeberang.

Ketika suatu pagi Anda mengurus izin dari ponsel dan petugas menyapa dengan nama Anda —itu bukan keajaiban teknologi melainkan buah pemerintahan yang berpihak pada manusia. (H-3)

Hamim Pou,
Pengamat Kebijakan dan Inovasi Daerah.
Ketua DPP Bidang Hubungan Eksekutif Partai NasDem 2024-2029.

Media Indonesia, 25 Agustus 2025


Tambahan Keterangan:
- NIB = Nomor Induk Berusaha
- IPM = Indeks Pembangunan Manusia
- SPBE = Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik
- SAKIP = Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah
- SPI = Survei Penilaian Integritas
- MCP = Monitoring Center for Prevention
- KPK = Komisi Pemberantasan Korupsi
- RTH = Ruang Terbuka Hijau
- WTP = Wajar Tanpa Pengecualian
- TPS 3R = Tempat Pengolahan Sampah Reduce (Mengurangi), Reuse (Menggunakan Kembali), dan Recycle (Mendaur Ulang)
- TPA = Tempat Pembuangan Akhir
- MPP = Mall Pelayanan Publik
- Interoperabilitas adalah kemampuan berbagai sistem, perangkat, atau aplikasi yang berbeda untuk berkomunikasi, bertukar data, dan bekerja sama secara efektif dan terkoordinasi dengan intervensi manusia yang minimal.

Saturday, July 19, 2025

Perang 12 Hari Iran Versus Israel

Benjamin Netanyahu (kiri) dan Ayatullah Ali Khamenei (kanan).

Usai berperang selama 12 hari, Iran dan Israel menghentikan peperangan setelah mengumumkan gencatan senjata. Berikut data dan fakta perang besar Iran Vs Israel.

Sultan tidak berhenti mengucap syukur. Wajahnya semringah ketika menginjakkan kaki di Tanah Air. Dia lega bisa memboyong anak dan istrinya selamat dari gempuran serangan Israel dan Amerika ke wilayah Iran.

Wajah lelah Sultan tidak bisa disembunyikan. Butuh waktu 6 hari perjalanan yang ditempuh Sultan dan belasan WNI untuk sampai ke Indonesia.

Sultan menarik koper sambil menggendong anaknya keluar dari pintu shelter Kalayang, Terminal III Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang. Diikuti istri dan anak Sultan lainnya.

Sultan menjadi satu dari rombongan WNI yang dievakuasi dari Iran. Memanasnya perang Iran dan Israel membuat pemerintah Indonesia mengambil langkah evakuasi.

Kami sudah sejak Kamis perjalanan dari Iran, jadi sudah 6 hari agak capek,” ucap Fatoni.

Staf KBRI dan WNI Iran di kantor Kedubes RI di Tehran (Foto: Dok. KBRI Iran)

Sultan mengajak anak dan istrinya pindah ke Iran selama berkuliah. Pria asal Samarinda, Kalimantan Timur ini mengaku sudah 3,5 tahun tinggal di Kota Masyhad, wilayah bagian timur Iran itu.

Saya Sultan Fatoni dari Samarinda, ada di Kota Masyhad selama tinggal di Iran,” ucapnya.

Dia bercerita, Kota Masyhad masih cukup aman hingga dia tinggalkan, Kamis (21/6/2025) lalu. Selama periode perang, hampir tiap hari Sultan mendengar suara tembakan yang diduga peluru dari serdadu Iran yang menembaki drone asing ke kota tersebut.

Penyerangan Israel ke sejumlah wilayah di Iran dilakukan dengan menggunakan drone. Beberapa wilayah yang dia ketahui turut diserang oleh drone Israel adalah bandara.

Langit Iran bergemuruh. Suara dentuman rudal yang dibawa drone Israel terdengar saat menghantam bandara. Serangan Israel itu membuat Sultan dan keluarga cemas. Situasi damai Masyhad berubah mencekam dalam sekejap.

Katanya yang diserang pakai drone itu kan bandara, dari kota Masyhad sekitar 10 menit,” ucap dia.

Sebelas WNI yang dievakuasi dari Iran tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Selasa (24/6/2025), disambut perwakilan pemerintah usai menempuh perjalanan via Istanbul. (Foto: Kemlu)

Situasi makin terasa tak kondusif setelah Pemerintah Iran menetapkan kondisi siaga perang. Internet dipersempit, situs luar diblokir, hanya aplikasi dan laman dalam negeri yang bisa diakses. “Jadi situs luar tidak bisa dibuka. Jadi hanya situs atau aplikasi buatan dalam negeri saja yang bisa dibuka, atau lokal,” ucapnya.

Sultan bercerita singkat soal perjalanannya keluar dari zona perang di Iran. Sultan bersama istri dan anaknya menempuh perjalanan darat selama satu hari dari Kota Masyhad menuju KBRI di Teheran.

Di kantor Kedutaan Besar RI, Sultan beserta beberapa WNI lain harus menunggu WNI lainnya yang ada di berbagai kota di Iran setelah berhasil dievakuasi.

Kami dari Masyhad ke KBRI agak jauh, karena harus kumpul di KBRI, satu hari perjalanan menunggu teman-teman dari kota lain kumpul satu hari. Setelah itu baru berangkat dari perbatasan ke Azerbaijan, itu juga satu hari,” terang dia.

WNI yang dievakuasi dari Israel yang saat ini sedang berperang dengan Iran. (Foto: Kemlu.go.id)

Dilansir dari Antara, Ali Murtado (24), mahasiswa Warga Negara Indonesia (WNI) juga bercerita kondisi mencekam di Kota Qom, Iran saat Israel melancarkan serangan. Drone Israel yang membawa rudal terus melintasi langit Qom.

Serangan udara Zionis berhenti beberapa saat. Kadang-kadang berlanjut lagi. Dentuman rudal terjadi di mana-mana. Rudal itu membuat warga Iran berhamburan. Kepanikan terjadi di mana-mana. Serangan itu juga menimbulkan kerusakan sejumlah bangunan.

Proses evakuasi tak kalah berat dan mencekam. Ali harus melakukan perjalanan darat, dan sempat terhenti akibat adanya serangan drone Israel. Hal itu menyebabkan Ali bersama WNI lainnya terpaksa berhenti untuk berlindung di bawah tanah yang telah dipersiapkan Pemerintah Iran.

Saya sempat mendengar suara ledakan besar sebanyak dua kali dan mayoritas serangan Israel itu berhasil ditepis Iran,” kata Ali.

Ali juga menerangkan selama perjalanan dari Kota Qom menuju Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Teheran lalu melanjutkan perjalanan menuju ke perbatasan Baku, Azerbaijan.


Selama evakuasi menuju Baku, Azerbaijan, para WNI membutuhkan waktu sekitar empat hingga lima hari melalui perjalanan darat.

Kami menginap satu hari di gedung KBRI, setelah itu jam 07.00 waktu setempat kami berangkat ke perbatasan Iran-Azerbaijan di wilayah Baku. Di sana kami itu menginap selama sekitar dua hari baru diterbangkan ke Istanbul lalu ke Jakarta,” ucap Ali.

Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI) mencatat sebanyak 60 orang warga Negara Indonesia (WNI) yang dievakuasi dari Iran telah kembali ke tanah air.

Kepulangan puluhan WNI ini, melalui proses penerbangan Turkish Airlines (TK 56) dengan jumlah 11 orang dilakukan pada Selasa (24/6/2025), dan 49 orang diterbangkan lewat Doha, Qatar-Jakarta Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) Tangerang, Banten, pada Rabu sore ini (25/6/2025).

Direktur Perlindungan WNI dan BHI Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI, Judha Nugraha di Tangerang mengatakan, dari 49 orang WNI yang dipulangkan saat ini adalah merupakan gelombang kedua tahapan evakuasi dari 97 orang WNI yang dievakuasi dari Iran akibat konflik antara Iran dan Israel.

Setelah kedatangan 11 WNI di Jakarta yang dievakuasi dari Iran pada tanggal 24 Juni 2025, hari ini akan kembali tiba 48 WNI dan 1 WNA evacuees,” ujarnya.

Gambar yang diambil dari kantor berita The Iranian News pada Selasa (17/6/2025) menunjukkan serangan rudal Iran ke Israel. Rezim Israel telah meminta Iran, melalui mediator barat, untuk menghentikan serangan balasannya.

Usai berperang selama 12 hari, Iran dan Israel menghentikan peperangan setelah mengumumkan gencatan senjata. Kedua negara saling klaim kemenangan. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan, Israel mencapai kemenangan bersejarah dalam perang 12 hari dengan Iran.

Kami mencapai kemenangan bersejarah, dan kemenangan ini akan bertahan selama beberapa generasi,” kata Netanyahu dalam pernyataannya, pada hari Selasa (24/6/2025), seperti yang dikutip dari Al Jazeera.

Netanyahu mengklaim pasukannya telah menghancurkan fasilitas penting di Arak, Natanz, dan Isfahan. Klaim kemenangan Israel didukung Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Dia menyebut Israel berperang dengan baik melawan Iran sebagai pengganggu Timur Tengah.

Setelah Israel dan Amerika Serikat menyatakan menang, Iran melakukan hal yang sama. Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan, berakhirnya perang dengan Israel merupakan kemenangan besar bagi bangsa Iran dan siap untuk menyelesaikan sengketa dengan Amerika Serikat sesuai dengan kerangka kerja internasional.


Awal Mula Perang Iran Vs Israel
Menilik ke belakang, perang pecah ketika Israel melancarkan serangan udara besar-besaran ke fasilitas nuklir Iran pada hari Jumat, 13 Juni 2025, termasuk ke kompleks pengayaan Natanz dan Pusat Teknologi Nuklir di Isfahan.

Serangan ini juga menargetkan kediaman pejabat militer senior Iran, menewaskan tokoh penting seperti Hossein Salami dan Mohammad Bagheri. Tak tinggal diam. Iran menyerang balik Israel.

Setelah eskalasi peperangan meningkat, Amerika Serikat turun gunung pada 21 Juni 2025. Negara Paman Sam itu langsung menggempur tiga situs nuklir Iran dengan menggunakan bom penghancur bunker.

Iran kembali ngamuk. Pada 23 Juni 2025, Iran membalas dengan meluncurkan rudal ke Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar. Serangan ini menyebabkan kerusakan minimal dan tidak ada korban jiwa, sebagian karena Iran memberikan peringatan sebelumnya kepada Qatar dan AS.

Di hari yang sama, Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa Israel dan Iran telah menyetujui gencatan senjata, yang akan berlaku penuh pada 25 Juni. Meskipun Iran awalnya membantah kesepakatan tersebut, mereka menyatakan akan menghentikan aksi militer jika Israel juga melakukannya.

Sehari setelah gencatan senjata, terjadi pelanggaran awal dengan serangan rudal dari Iran, yang kemudian dibantah oleh Teheran. Israel menegaskan kesiapan untuk merespons jika gencatan senjata dilanggar.


Perbandingan Operasi Militer dan Target Serangan
Iran dan Israel mengusung nama operasi militer yang berbeda baik misi dan sasaran target. Iran mengusung operasi militer yang diberi nama Operation True Promise, sementara Israel mengambil nama Rising Lion.

Dilansir dari Al Jazeera, operasi Rising Lion adalah inisiatif militer dan intelijen Israel untuk melumpuhkan program pengayaan nuklir dan kemampuan militer Iran.

Operasi ini mencakup serangan udara besar-besaran dan misi sabotase rahasia, yang dijalankan tidak hanya oleh Pasukan Pertahanan Israel (IDF) tetapi juga oleh Mossad, badan intelijen Israel.

Channel News Asia menyatakan, operasi dimulai dengan serangkaian serangan udara pada Jumat pagi, yang dikabarkan menghantam puluhan lokasi strategis, termasuk fasilitas utama pengayaan nuklir Iran di Natanz. Ledakan terdengar di seluruh Teheran.

Lebih dari 200 jet tempur Angkatan Udara Israel menyerang lebih dari 100 titik yang diklaim Israel sebagai target nuklir, militer, dan infrastruktur di seluruh Iran. Termasuk fasilitas nuklir utamanya di Natanz, menurut laporan Aljazeera, pada Jumat, 13 Juni 2025.

Mohammad Mehdi Tehranchi dan Fereydoun Abbasi

Akibat serangan itu, dua ilmuwan nuklir utama Iran termasuk di antara enam ilmuwan yang tewas. Kantor berita Iran Tasnim menyebut dua korban itu, Mohammad Mehdi Tehranchi dan Fereydoun Abbasi, sebagai ilmuwan nuklir terkemuka.

Serangan itu juga mengakibatkan tiga petinggi militer Iran meninggal dunia, yakni Mayor Jenderal Mohammad Bagheri selaku Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran, Jenderal Hossein Salami selaku Komandan IRGC, dan Jenderal Gholam Ali Rashid yang memimpin markas pusat militer Iran.

Di kubu Iran, Pejabat Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) dalam sebuah pernyataan usai serangan menegaskan serangan ke Israel tersebut disebut dengan 'Operation True Promise'. Operasi pembalasan berskala besar, yang diluncurkan dengan nama sandi “Ya Ali ibn Abi Talib.”

Dikutip dari Press TV, Analis politik Shabbir Rizvi menjelaskan operasi True Promise merupakan operasi militer yang dilancarkan Iran untuk memenuhi janji balas dendam secara pasti terhadap rezim Israel.


Operasi ini diluncurkan untuk membalas serangan Israel ke Konsulat Iran di Damaskus, Suriah pada 1 April 2024 lalu. Serangan Israel ini meratakan gedung Konsulat Iran dan menyebabkan 12 orang meninggal.

Mereka di antaranya sembilan warga Iran, dua warga Suriah, dan satu warga Lebanon. Dua di antaranya merupakan komandan pasukan elite di Korps Garda Revolusi Iran.

Seperti dilansir media lokal Iran, Press TV, Garda Revolusi Iran (IRGC) dalam pernyataan pertama pada Sabtu (14/4/2024) malam waktu setempat mengumumkan dilancarkannya serangan balasan terhadap Israel, yang disebutnya sebagai Operation True Promise (Operasi Janji Sejati).

Dalam merespons berbagai kejahatan rezim Zionis, termasuk serangan terhadap bagian konsuler Kedutaan Besar Iran di Damaskus dan kematian martir sejumlah komandan dan penasihat militer negara kami di Suriah, Divisi Dirgantara IRGC meluncurkan puluhan rudal dan drone terhadap target-target tertentu di dalam wilayah pendudukan,” demikian bunyi pernyataan pertama yang dirilis Garda Revolusi Iran.

Gedung konsuler Kedutaan Besar Iran di Damaskus.

Dalam pernyataan kedua, Garda Revolusi Iran menyebut pembalasan dilaksanakan setelah organisasi internasional “bungkam dan mengabaikan” selama 10 hari sejak serangan terjadi di Suriah, terutama Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang tidak mengecam atau menghukum Israel atas serangan mematikan itu —sesuai Pasal 7 Piagam PBB.

Garda Revolusi Iran, dalam pernyataannya, mengklaim rentetan serangan telah “berhasil” menghantam dan menghancurkan target militer Israel.

Dengan menggunakan kemampuan intelijen strategis, rudal dan drone untuk menyerang target-target pasukan teroris Zionis di wilayah pendudukan, berhasil mengenai dan menghancurkan mereka,” tegas Garda Revolusi Iran dalam pernyataannya.


Jumlah Personel Militer dan Alutsista
Iran memiliki keunggulan signifikan dalam jumlah personel aktif dibandingkan Israel. Iran memiliki sekitar 610.000 personel aktif, sementara Israel hanya memiliki sekitar 169.500. Perbedaan ini sangat mencolok dan menunjukkan fokus Iran pada kekuatan berbasis manusia.

Selain personel aktif, Iran juga memiliki cadangan yang cukup besar, yaitu sekitar 350.000 personel serta anggota paramiliter sebanyak 220.000 personel. Israel, meskipun memiliki personel aktif yang lebih sedikit, memiliki cadangan yang lebih besar, yaitu sekitar 465.000 dan paramiliter 35.000 personel.

Jumlah tersebut tentu belum termasuk masyarakat yang juga terikat pada program wajib militer yang berlaku di kedua negara. Program tersebut berkontribusi pada jumlah personel yang besar.

Dalam hal alat tempur darat, Iran memiliki keunggulan kuantitas yang signifikan. Iran memiliki lebih banyak tank (lebih dari 10.513 vs sekitar 400), artileri (lebih dari 6.798 vs 530), dan kendaraan lapis baja (lebih dari 65.765 vs lebih dari 43.407), Self-propelled artillery (580 vs 650), Towed Artillery (2050 vs 300) dan Mobile Rocket Projectors (775 vs 150) dibandingkan Israel.

Menurut jumlah tersebut, Iran memiliki kekuatan darat yang besar dan mampu melakukan operasi ofensif skala besar. Namun, meskipun kalah dalam jumlah, kualitas tank dan kendaraan lapis baja Israel mungkin lebih unggul.


Israel secara umum dianggap lebih unggul dalam hal kualitas dan teknologi pesawat tempur. Israel memiliki angkatan udara yang sangat modern dan dilengkapi dengan pesawat-pesawat tempur canggih buatan Amerika Serikat, seperti F-35 dan F-16.

Namun dari sisi jumlah, Israel jauh tertinggal dalam jumlah alutsista udara seperti Jet tempur (186 vs 241), Pesawat penyerang (23 vs 39), Pesawat angkut (86 vs 12), Pesawat latih (102 vs 155), Pesawat misi khusus (10 vs 23), Helikopter (129 vs 146), Helikopter serang (12 vs 48) dibandingkan Iran.

Berikutnya alutsista laut, Iran memiliki jumlah kapal selam yang lebih banyak (19 vs 5) dibandingkan Israel. Iran juga memiliki jumlah kapal patroli dan kapal tempur pesisir yang lebih banyak dengan rincian Korvet (3 vs 7), dan Kapal patroli (21 vs 45). Keunggulan lain dari Iran adalah memiliki kapal Mine warfare (1) dan kapal Fregat (7).

Hal ini menunjukkan Iran fokus pada strategi asimetris dalam peperangan laut, yaitu menggunakan kapal-kapal kecil dan cepat untuk menyerang kapal-kapal yang lebih besar.


Biaya Perang Iran Vs Israel
Perang yang terjadi antara Israel dengan Iran selama 12 hari berdampak buruk pada ekonomi Israel. Laporan dari media setempat, negara Zionis itu harus mengeluarkan biaya perang mencapai ratusan juta dolar.

Melansir dari kantor berita Turkiye, Anadolu, Rabu (25/6/2025) Israel menghabiskan sekitar USD 5 miliar pada minggu pertama serangan terhadap Iran, menurut situs web Financial Express. Sedangkan biaya harian perang mencapai USD 725 juta, terdiri dari USD 593 juta digunakan untuk serangan dan USD 132 juta dialokasikan untuk tindakan defensif dan mobilisasi militer.

Situs The Wall Street Journal melaporkan bahwa biaya harian sistem udara antirudal berkisar antara USD 10 juta hingga USD 200 juta untuk Israel.

Bila ditotal, pengeluaran Israel untuk perang dengan Iran mencapai lebih dari USD 12 miliar jika serangan berlangsung selama sebulan, demikian itu menurut Aaron Institute for Economic Policy yang berbasis di Israel.


Data dari lembaga riset Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), pada tahun 2023 Iran menghabiskan sekitar USD 10,3 miliar untuk anggaran militernya. Sebagai perbandingan, Israel pada tahun yang sama mengalokasikan anggaran militer sebesar USD 27,5 miliar.

Selain itu, lembaga think tank yang berbasis di Washington, DC, Council on Foreign Relations melaporkan bahwa Amerika Serikat telah memberikan bantuan militer sedikitnya USD 12,5 miliar kepada Israel dari Oktober 2023 hingga April 2024. Sebelumnya, pada tahun 2022, pengeluaran militer Iran tercatat sekitar USD 6,85 miliar menurut data dari Bank Dunia.

Berdasarkan laporan dari Stockholm International Peace Research Institute, pengeluaran Israel untuk pertahanan pada tahun 2024 mencapai USD 46,5 miliar atau setara Rp 762 triliun (dengan asumsi kurs Rp16.393 per USD). Anggaran ini naik 65 persen. Dari jumlah ini, alokasi untuk pertahanan bahkan 8,8 persen dari PDB.

Dilansir dari Deutsche Welle, anggaran pertahanan Israel pada tahun 2025 hanya USD 38,6 miliar atau setara Rp 632 triliun, dari APBN USD 215 miliar atau setara Rp 3.525 triliun. Menurut seorang penasihat pemerintah, Israel habiskan dana sebesar USD 300 juta (Rp 4,89 triliun) per hari dalam melawan Iran.


Senjata yang Dipakai Iran dan Israel
Perang Iran dan Israel yang melibatkan Amerika Serikat ini menggunakan alutsista dan senjata canggih untuk membombardir wilayah lawan. Berikut jenis rudal dan senjata yang digunakan dalam perang Iran Israel dan AS, dikutip dari berbagai sumber:

Operasi Israel bermaksud untuk mengerdilkan kemampuan nuklir Iran. Israel dilaporkan melibatkan lebih dari 200 pesawat tempur yang menyerang lebih dari seratus target. Video yang dirilis oleh Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menunjukkan sejumlah pesawat yang terlibat dalam operasi tersebut, termasuk F-15I, F-16I, dan F-35I.

Meskipun target yang disebutkan adalah program nuklir Iran, gelombang serangan awal menyerang target yang jauh lebih luas, termasuk militer Iran, lokasi militer konvensional (termasuk produksi dan penyimpanan rudal balistik), dan pertahanan udara.

Israel mengklaim mampu mematahkan 99 persen dari seluruh serangan yang berlangsung selama lima jam tersebut menggunakan sistem pertahanan udara berlapis miliknya: Iron Dome, Arrow, dan David's Sling. Kerja sistem pertahanan yang canggih dan sangat mahal itu didukung pula oleh kekuatan udara dan laut oleh beberapa negara sekutunya.

Iron Dome berfungsi dengan bantuan radar canggih yang mampu mendeteksi dan melacak jalur proyektil yang masuk. Sistem ini kemudian menganalisis apakah roket tersebut akan menghantam area yang dianggap penting —seperti pusat kota atau instalasi strategis.


Selain Irone Dome, Israel mengandalkan sistem jarak jauh Arrow-2 dan Arrow-3 untuk meredam rudal-rudal Iran masuk ke wilayahnya. Arrow-2 dan Arrow-3 punya kemampuan untuk mencegat rudal balistik di luar atmosfer bumi. Sistem Arrow-2 dan Arrow-3 memakai sistem hulu ledak yang bisa bertabrakan dengan target.

Senjata ini dikembangkan BUMN Israel, Aerospace sebagai kontraktor utama. Pengembangan sistem ini juga menggaet Boeing BA.N.

Israel juga punya sistem pertahanan udara jarak menengah Bernama David Sling’s. David Sling's dirancang untuk menembak jatuh rudal balistik yang ditembak dari jarak 100 km sampai 200 km.

Sistem pertahanan ini diproduksi dan dikembangkan BUMN Israel Rafael Advanced System dan perusahaan AS Raytheon Co. David’s Sling juga mampu mencegat pesawat tempur, drone dan rudal jelajah.

Meskipun ketegangan dengan Israel meningkat, Teheran tetap memiliki persenjataan rudal yang canggih, termasuk rudal jelajah, hipersonik, dan balistik —dengan beberapa di antaranya mampu mencapai jarak lebih dari 2.000 kilometer. Iran telah menembakkan lebih dari 450 rudal ke Israel dan 400 pesawat tanpa awak.


Iran mengerahkan drone kamikaze yang sebagian besar adalah drone jarak jauh Shahed-136. Jenis drone ini sama dengan yang diimpor Rusia dari Iran pada 2022 untuk agresinya di Ukraina.

Drone ini bisa meluncur dengan kecepatan 75 mil atau 120 kilometer per jam, drone Shahed-136 diperkirakan bernilai $ 20-40 ribu (Rp 325-649 juta) per unit. Harga yang jauh lebih murah daripada senjata anti-pesawat berbasis rudal.

Untuk rudal balistik, Iran menggunakan beberapa Emad, rudal balistik jarak medium dengan daya jangkau 1.050 mil atau lebih dari 1.600 kilometer. Roket-roket berbahan bakar cair ini melepaskan apa yang disebut maneuverable re-entry vehicle (MARV) sesaat setelah menembus luar angkasa dan menukik kembali ke Bumi.

Rudal dapat memperbaiki arah bidikan saat menukik kembali tersebut, termasuk berpotensi mengunci target kapal perang menggunakan bidikan pencari inframerah-nya.

Video serangan yang dirilis Iran juga memberi dugaan peluncuran tiga jenis lain dari rudal balistik jarak menengah: Kheiber Shekan (Khorramshahr-4), Dezful, Ghadr-110.


Iran dilaporkan telah menggunakan rudal Khorramshahr-4. Ini adalah salah satu rudal balistik jarak menengah (MRBM) paling canggih yang dimiliki Iran. Rudal ini merupakan versi terbaru dari seri Khorramshahr, yang dinamai berdasarkan kota Khorramshahr.

Selain itu, ada Rudal Sejjil-2, rudal balistik jarak menengah hingga jauh (MRBM/IRBM) paling canggih yang dikembangkan Iran, dan merupakan salah satu komponen utama dalam doktrin serangan strategis jarak jauh militer Iran. Rudal ini yang mampu merobek Iron Dome, pertahanan Israel.

Berikutnya, Iran mengandalkan rudal Kheiber yang diperkirakan memiliki jangkauan lebih dari 900 mil dan MARV yang dilepaskannya bisa melesat hingga Mach 5 (hipersonik). Sirip yang ada padanya membantu untuk manuver untuk mencegah intersepsi dan memperbaiki presisi.

Iran juga memiliki rudal Dezful yang punya jarak jangkauan 620 mil tapi disebut-sebut lebih akurat (dengan eror hanya lima meter dari target), dan dapat melesat sampai Mach 7. Sedangkan Ghadr-110 punya spesifikasi daya jangkau 839, 1.025, dan 1.219 mil.


Korban Perang Iran dan Israel
Dampak perang Iran dan Israel terbilang cukup besar. Tidak hanya bangunan rusak, perang skala besar ini menimbulkan ratusan korban jiwa dan ribuan orang luka-luka.

Dilansir dari Al Jazeera, Kamis (26/6/2025), Juru bicara Kementerian Kesehatan Iran mengatakan 627 orang tewas di Iran selama perang 12 hari. Iran juga melaporkan sebanyak 4.870 orang mengalami luka-luka.

Teheran mencatat jumlah korban tertinggi, diikuti oleh Kermanshah, sedangkan Khuzestan, Lorestan, dan Isfahan melaporkan kerugian yang signifikan.

Setidaknya 35 personel Angkatan Pertahanan Udara tewas dalam serangan Israel. Korban tewas ini diyakini termasuk operator radar, spesialis rudal permukaan-ke-udara, dan teknisi yang bertanggung jawab atas sistem peringatan dini.

Letnan Jenderal Gholam Ali Rashid (kiri) dan Mayor Jenderal Ali Shadmani (kanan).

Iran juga mengonfirmasi kematian Mayor Jenderal Ali Shadmani, komandan Markas Pusat Khatam al-Anbiya. Shadmani meninggal karena luka-luka yang dideritanya dalam serangan udara Israel minggu lalu.

Dia baru mengambil alih komando pada 13 Juni, setelah kematian pendahulunya, Letnan Jenderal Gholam Ali Rashid, yang tewas selama fase pembukaan kampanye militer.

Kehilangan kedua komandan tertinggi secara berturut-turut dalam waktu kurang dari dua minggu merupakan pukulan telak bagi struktur kepemimpinan militer Iran.

Mengutip dari Anadolu Agency, otoritas Israel mengatakan sedikitnya 24 orang telah tewas dan ratusan lainnya terluka sejak saat itu dalam serangan rudal Iran.

Serangan rudal balistik dan drone Iran ke Israel menghantam sejumlah situs intelijen dan militer yang sangat sensitif dan penting. Israel menutupi hal ini dengan melakukan penyensoran terhadap media. Jurnalis asing dilarang meliput kerusakan yang terjadi pada target-target sensitif, dan citra satelit pun dibatasi, seperti dikutip dari The Cradle, Kamis (26/6/2025).


Ada puluhan target penting di Israel yang berhasil dihantam rudal Iran selama perang 12 hari dari 13-24 Juni. Target-target tersebut termasuk Kirya Israel (markas besar Kementerian Pertahanan, yang disebut sebagai Pentagon Israel), Kamp Moshe Dayan (pusat pelatihan dan operasi untuk intelijen militer), Pangkalan Udara Tel Nof yang dijaga ketat, Pangkalan Udara Ovda, dan gedung Kementerian Dalam Negeri Israel, di antara beberapa lainnya.

Selain itu, rudal Iran juga berhasil menghancurkan Kilang Minyak Bazan, Pembangkit Listrik Haifa, Pembangkit Listrik Hadera, Pembangkit Listrik Ashdod, pangkalan Aman (Unit 8200), Institut Sains Weizmann, dan Bandara Ben Gurion.

Sekitar vila keluarga Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Caesarea, yang diserang oleh pesawat nirawak Hizbullah pada tahun 2024, juga terkena serangan Iran.

Saat ini, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dibuat pusing karena telah kalah perang dari Iran. Netanyahu makin pusing karena sebanyak 38.700 klaim ganti rugi telah diterima pemerintah Israel sejak awal pertempuran udara dengan Iran pada 13 Juni 2025 lalu.

Laporan dari Yedioth Ahronoth, seperti dilansir Anadolu Agency merinci, 30.809 permintaan ganti rugi untuk kerusakan bangunan, kemudian 3.713 permintaan ganti rugi untuk kerusakan pada kendaraan, dan sebanyak 4.085 permintaan ganti rugi kerusakan fasilitas umum lainnya.

Ayatullah Ali Khamenei (kiri) dan Benjamin Netanyahu (kanan).

Perang 12 Hari dan Kegagalan Misi Netanyahu
Pengamat independen Ori Goldberg mengatakan, Israel bahkan tidak mencapai salah satu dari tujuannya tersebut. Tampaknya Iran telah memindahkan material uranium dari fasilitas Fordow yang diserang Amerika Serikat pada Minggu (22/6/2025) lalu.

Material itu adalah bagian terpenting dari program nuklir. Dan tujuan Netanyahu untuk “melumpuhkan program nuklir” Iran gagal, kata dia, seperti dilansir Aljazeera, Rabu (25/6/2025).

Mengenai tujuan Netanyahu untuk “perubahan rezim” di Iran juga gagal. Israel justru mendapatkan hal yang sebaliknya. Mereka berusaha memicu pemberontakan terhadap rezim Iran dengan membunuh pada pemimpin militer dari berbagai struktur keamanan Iran. Strategi ini didasarkan pada keyakinan kuat Netanyahu bahwa cara terbaik untuk mengacaukan musuh adalah melalui pembunuhan para pemimpin senior.

Tujuannya itu tidak berhasil. Satu-satunya pengecualian yang mungkin adalah dampak kematian Hassan Nasrallah terhadap Hizbullah di Lebanon, tetapi hal itu lebih berkaitan dengan dinamika politik internal Lebanon. Pada semua kasus lainnya, pembunuhan Israel gagal menciptakan perubahan politik besar apa pun.

Bendera Korps Garda Revolusi Iran (IRGC).

Dalam kasus Iran, pembunuhan ini justru menambah dukungan rakyat di sekitar pemerintah. Israel membunuh komandan senior Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), yang mungkin merupakan elemen paling kuat dalam politik Iran saat ini, tetapi juga menjadi salah satu yang paling dibenci oleh masyarakat Iran.

Terlepas dari itu, banyak warga Iran yang sebelumnya menentang Republik Islam, akhirnya mendukungnya. Orang Iran melihat Iran dengan secara keseluruhan diserang, bukan hanya tentang “rezimnya.”

Upaya Israel untuk mengebom “simbol-simbol rezim” hanya memperburuk situasi. Israel mencoba memutarbalikkan serangan udaranya terhadap Penjara Evin, yang terkenal karena penyiksaan tahanan politik. Serangan itu mereka tujukan untuk mempengaruhi pejuang rakyat Iran agar melawan penindasan Republik Islam. Namun, bom Israel hanya memperburuk situasi para tahanan karena pihak berwenang memindahkan banyak dari mereka ke lokasi yang tidak diketahui.


Kerusakan yang ditimbulkan Israel terhadap program nuklir Iran masih tidak jelas. Memang, Israel berhasil membujuk AS untuk menyerang fasilitas nuklir Iran menggunakan bom penghancur bunker, Massive Ordnance Penetrators (MOP). Namun serangan AS itu tidak banyak membantu Israel. Tingkat kerusakan akan sulit dievaluasi karena Iran tidak mungkin memberi akses luar.

Dengan membantu Israel menyerang program nuklir Iran, mereka justru melanggar beberapa aturan utama hukum internasional. Hal ini kemungkinan akan memiliki implikasi jangka panjang. Namun, Trump tidak ikut berperang bersama Israel. Segera setelah serangan itu, pesawat pengebom strategis kembali ke AS.

Sebelum dan sesudah melakukan pengeboman, Trump mengulangi dan menegaskan kembali keinginannya untuk kesepakatan antara AS dan Iran. Hal ini mungkin juga mencakup kesepakatan dengan Israel. Namun tampaknya presiden AS membantu Israel untuk melayani kepentingannya sendiri dan kepentingan sekutunya di Teluk.

Raynaldo Ghiffari Lubabah
Editor dan Reporter Merdeka.com
Jumat, 27 Jun 2025

Tuesday, June 10, 2025

Elon Musk Pun Serukan Pemecatan Donald Trump


Aliansi politik kadang lahir dari kepentingan. Tapi lebih sering, ia tumbuh dari mimpi bersama tentang masa depan. Namun, aliansi itu bisa runtuh dalam semalam. Inilah kisah aliansi Donald Trump - Elon Musk yang historik, namun berakhir dalam permusuhan terbuka yang juga historik.

Kisah Donald Trump dan Elon Musk: tragedi atau komedi?

Pada 5 Juni 2025, Elon Musk secara terbuka menyatakan dukungannya terhadap pemakzulan Presiden Donald Trump.

Itu terjadi saat Musk membalas unggahan di platform X (sebelumnya Twitter) dari Ian Miles Cheong, yang menulis:

Trump should be impeached and JD Vance should replace him.
(Trump harus dimakzulkan dan Wapres JD Vance menggantikannya).

Musk menjawab hanya satu kata: “Yes.


Satu kata yang mengguncang. Satu kata yang mengakhiri satu dekade kedekatan dua tokoh besar.

Keesokan harinya, dunia maya menyaksikan gempa susulan yang lebih dahsyat.

Masih di platform X, Elon menulis: “Saatnya menjatuhkan bom besar: @realDonaldTrump tercantum dalam dokumen Epstein. Itulah alasan sebenarnya mengapa dokumen itu belum dipublikasikan. Semoga harimu menyenangkan, DJT!

Dokumen Epstein merujuk pada arsip investigasi Jeffrey Epstein, finansier yang terlibat dalam skandal perdagangan seks dan pelecehan anak di bawah umur.

Jika tuduhan Musk benar, ini bukan sekadar bom. Ini meteor. Mungkin peluru terakhir dalam drama pemakzulan Donald Trump.


Ya. Elon Musk, sang raja teknologi yang pernah duduk di samping meja Presiden, kini berdiri menentang. Amerika terpana. Dunia tertegun. Aliansi yang dahulu tampak kokoh, hancur hanya oleh satu kata.

Mari kita tarik waktu ke belakang, ke tahun 2016. Trump baru saja menang. Hampir seluruh elite Silicon Valley menutup pintu. Tapi Musk melangkah masuk. Ia bergabung dalam Presidential Advisory Forum —melawan arus.

Saya lebih baik berada di meja diskusi, mempengaruhi arah kebijakan, daripada berada di luar dan hanya mengeluh,” ujar Musk saat itu.

Tahun-tahun awal tampak hangat. Di balik layar, Musk melobi kebijakan energi hijau, teknologi luar angkasa, dan kontrak pemerintah. SpaceX tumbuh. Tesla meledak. Mereka tak selalu sejalan, tapi saluran komunikasi tetap terbuka.


Hubungan mereka kembali menguat saat Trump memenangkan Pilpres 2024. Musk memuji pendekatan Trump yang “pro-bisnis” dan terbuka terhadap deregulasi. Ia menghadiri pertemuan informal di Mar-a-Lago dan menyebut Trump “pragmatis yang tak bisa ditebak, tapi mengerti pasar.

Trump membalas pujian itu. Ia menyebut Musk sebagai “jenius paling berguna bagi Amerika.” Ia bahkan menunjuknya sebagai penasihat informal untuk DODGE. Ini Departemen Opportunity, Growth, and Development of the Economy.

Mereka tampil bersama dalam peluncuran proyek broadband pedesaan lewat Starlink. Pada Januari 2025, mereka difoto makan malam bersama para taipan industri. Banyak yang percaya: poros Trump–Musk adalah duet masa depan Amerika. Namun, di balik layar, benih perpecahan mulai tumbuh.


Retaknya aliansi ini bukan hanya soal gagasan. Ini juga benturan kepentingan yang tajam. Trump menyerang subsidi kendaraan listrik —tulang punggung Tesla. Ia menyebut EV (Electric Vehicle) sebagai “produk China yang merusak pekerjaan Amerika.

Musk terkejut. Ia telah memindahkan pabrik Tesla ke Texas. Menyerap puluhan ribu pekerja lokal. Membangun rantai pasok dalam negeri. Namun Trump tetap mengecam EV sebagai pengkhianatan.

Lebih jauh, Trump menyerang Starlink. Ia menyebutnya “alat globalis” dan mengisyaratkan ancaman penyelidikan kongres. Saham Tesla sempat anjlok 6% dalam dua hari setelah pidato Trump. Musk kehilangan lebih dari 14 miliar USD hanya dalam 48 jam.


Namun, yang paling melukai bukanlah kerugian finansial. Tapi rasa dikhianati. Tidak dihargai. Dalam wawancara dengan CNBC pada 4 Juni 2025, Musk berkata: “Saya memberikan banyak hal kepada negara ini. Teknologi, lapangan kerja, bahkan satelit untuk Ukraina dan negara-negara berkembang. Tapi Trump tak pernah mengucap terima kasih. Yang ia tahu hanya menyerang.

Sakit itu datang bukan dari musuh. Tapi dari tangan yang dulu bersalaman sebagai sahabat.

Banyak yang tahu bahwa Elon Musk menyumbangkan sekitar $277 juta. Itu setara Rp4,5 triliun, untuk mendukung kemenangan Donald Trump dan Partai Republik dalam Pemilu 2024.

Jumlah ini menjadikannya donor individu terbesar dalam siklus pemilu tersebut. Dananya disalurkan melalui sejumlah Political Action Committees (PAC), termasuk America PAC yang ia dirikan sendiri.


Dukungan itu bukan sekadar finansial. Ia adalah legitimasi. Dan ketika legitimasi sebesar itu berpaling arah, dunia mendengarnya.

Kini, setelah segala bentuk dukungan itu, Musk justru menyerukan: Setuju Trump dimakzulkan. Dipecat dari kursi presiden.

Sebelumnya, dunia menyaksikan bromance paling berpengaruh di planet ini: Elon Musk dan Donald Trump. Dua raksasa ego. Dua pusat gravitasi kekuasaan. Satu di dunia teknologi. Satu di panggung politik.

Hubungan mereka tampak personal. Penuh gestur saling puji, saling dukung, dan saling tampil. Elon Musk bahkan menyebut dirinya sebagai “teman pertama” presiden.


Kini, bromance itu berubah menjadi permusuhan terbuka. Retakan itu bukan hanya soal bisnis atau regulasi. Ini patah hati ideologis. Persahabatan itu runtuh.

Kita memetik tiga pelajaran dari kisah Donald Trump dan Elon Musk.

Pelajaran pertama: politik bisa menghancurkan persahabatan, bahkan yang tampak tak tergoyahkan. Elon dan Trump adalah simbol bahwa loyalitas personal tidak cukup bila bertentangan dengan prinsip.

Seakrab apa pun hubungan, jika arah moral tak lagi sejalan, perpisahan adalah keniscayaan. Bahkan untuk dua orang yang terbiasa berdiri di pusat panggung, kebenaran kadang datang dari bayangan.


Pelajaran kedua: dunia membutuhkan pemimpin yang berani berkata “tidak.” Elon bukan politisi. Ia tak dibatasi oleh kalkulasi elektoral. Maka saat Trump mengajukan “One Big Beautiful Bill” yang menghapus subsidi mobil listrik, mengancam kontrak SpaceX, dan memperbesar defisit, Musk menolak.

Ia menyebut RUU itu sebagai “menjijikkan.” Mungkin dunia butuh lebih banyak Musk: figur yang rela melawan arus ketika prinsip dikorbankan.

Pelajaran ketiga: retaknya dua tokoh ini adalah simbol pertarungan nilai. Trump mewakili nostalgia, populisme, dan retorika masa lalu. Musk mewakili masa depan, teknologi, dan imajinasi melampaui zaman.

Pecahnya mereka adalah simbol zaman yang sedang berbelok —antara mereka yang ingin mengulang masa lalu, dan mereka yang ingin menciptakan masa depan.


Namun agar pelajaran ini adil, kita juga perlu memberi kritik. Trump sering menggunakan emosi publik untuk tujuan politik jangka pendek. Ia memperlakukan loyalitas sebagai absolut, bukan ruang dialog.

Musk, meski jenius, kadang melompat terlalu cepat. Ia percaya teknologi adalah jawaban segalanya, padahal dunia juga butuh hati, bukan hanya algoritma.

Dari retaknya mereka, kita belajar: yang paling setia bukan kawan, uang, atau kekuasaan —melainkan nilai. Dan dalam sejarah manusia, mereka yang mempertahankan nilai, meski kehilangan segalanya, justru menciptakan warisan yang abadi.

Senator Barry Goldwater dan Presiden AS, Richard Nixon.

Kita pernah melihat kisah serupa dalam sejarah: persahabatan Senator Barry Goldwater dan Richard Nixon.

Goldwater, awalnya pendukung fanatik Nixon, akhirnya memimpin Partai Republik untuk meminta Nixon mundur dalam skandal Watergate. Katanya: “The party is bigger than one man.

Kini sejarah berulang —dengan wajah dan teknologi berbeda. Dalam dunia yang terus berubah, aliansi bisa pecah. Namun nilai seperti rasa hormat, etika, dan visi jangka panjang harus tetap hidup.

Elon Musk, dengan segala kontradiksinya, menunjukkan: Bahkan raksasa pun punya batas kesabaran. Kadang, suara paling jernih datang bukan dari gedung politik, tapi dari mereka yang membangun dunia dengan mimpi dan logika.


Namun, skeptisisme patut diajukan: apakah seruan pemakzulan Trump benar-benar lahir dari integritas? Ataukah ini bentuk balas dendam penuh kalkulasi dari Musk?

Sebagai pemilik platform X, ia menyadari kekuatan narasi publik. Dengan mengalihkan sorotan ke skandal Epstein, Musk tak hanya membalas dendam atas kebijakan Trump yang merugikan bisnisnya. Ia juga mengukuhkan citranya sebagai whistleblower yang berani melawan kekuasaan korup.

Di dunia di mana reputasi adalah mata uang baru, langkah ini bisa jadi kalkulasi genius: mengubah kerugian finansial menjadi keuntungan simbolis. Di zaman yang menghitung reputasi seperti saham, Musk tak meratap saat nilainya jatuh. Ia menciptakan pasar baru: pasar moralitas yang disiarkan langsung dari layar handphone kita.

Jakarta, 7 Juni 2025

Ditulis Oleh: Denny JA
www.facebook.com/DennyJAWorld

Referensi:
• OpenSecrets.org. “Top Individual Contributors: 2024 Cycle.” Center for Responsive Politics. https://www.opensecrets.org
• X.com / @elonmusk tweet, June 5–6, 2025.