Showing posts with label Facebook. Show all posts
Showing posts with label Facebook. Show all posts

Wednesday, February 13, 2019

Simalakama Digitalisasi untuk Media Jurnalistik


Bagaimana menghadapi kawan sekaligus lawan? Bagaimana memperlakukan kompetitor yang juga kolaborator? Inilah yang sedang dihadapi industri media terkait mesin pencari, agregator berita, dan media sosial.

Frenemy! Kata ini sering digunakan untuk menjelaskan ambivalensi posisi media baru di hadapan media lama. Kawan (friend) sekaligus lawan (enemy). Nikos Smyrnaios (2015) memiliki padanan lain: coopetition: kerja sama (cooperation) sekaligus persaingan (competition).

Disebut “kawan” karena mesin pencari, agregator berita dan media sosial memudahkan produksi dan distribusi berita. Hari ini menjadi wartawan menjadi lebih mudah. Informasi, data, dan perspektif begitu melimpah.

Distribusi berita juga memiliki banyak opsi. Wartawan dapat mengunggah berita di akun Facebook pribadi. Kunjungan ke portal berita sebagian besar diperantarai mesin pencari atau agregator berita. Stasiun televisi dapat promosi siaran di kanal Youtube. Dalam konteks ini media baru adalah “kawan”.


Namun, media baru juga menjadi “lawan” karena mereka sesungguhnya juga perusahaan media yang hidup dari proses komodifikasi informasi. Media baru bertarung langsung dengan media lama, berebut perhatian khalayak dan kue iklan. Mereka bahkan memanfaatkan pasokan berita dari media jurnalistik dengan cuma-cuma.

Besaran dan kapitalisasi media baru bertumbuh dengan pesat, sementara media lama yang mereka manfaatkan pasokan beritanya justru menyusut.

Lalu, apa makna jurnalisme sebagai “isme” ketika orang dapat leluasa menyebarkan tulisan yang apriori, sepihak, dan menghakimi? Apa makna jurnalisme jika tulisan semacam itu juga diperlakukan sama dengan tulisan yang memenuhi kaidah jurnalistik baku?

Tom Nichols dalam buku The Death of Expertise (2017) menjelaskan fenomena runtuhnya standar penilaian ilmiah. Euforia media sosial ditandai dengan ketidakmampuan kolektif untuk membedakan antara yang informatif dan spekulatif, yang proporsional dan yang berlebihan, bohong dan fakta.


Dilema jurnalistik
Runtuhnya standar penilaian ilmiah menimbulkan dilema bagi pengelola media jurnalistik. Apakah mesti mengikuti model penyajian informasi yang instan, patah-patah, sepihak, khas media sosial?

David Levy, Direktur The Reuters Institute for the Study of Journalism Universitas Oxford, mengingatkan, jika media jurnalistik mengikuti model penyajian informasi demikian, mereka  sebenarnya sedang terjerumus ke habitat kompetitor: Facebook, Twitter, Youtube.

Untuk bertahan hidup, media jurnalistik perlu menyajikan hal yang berbeda dan lebih baik.  Namun, yang berkembang justru sebaliknya. Banyak media jurnalistik mengikuti tren penyajian informasi yang instan, patah-patah, ekspresif ala media sosial. Dilema digitalisasi ini juga terlihat saat pengelola media jurnalistik mendapat tawaran kolaborasi dengan raksasa digital seperti Google dan Facebook.


Juni 2015, Google meluncurkan proyek News Lab untuk mengasah kemampuan jurnalis memanfaatkan aplikasi atau fitur Google untuk mencari, verifikasi, dan analisis data.

Untuk merespons Facebook Instant Articles, Google juga meluncurkan Accelerated Mobile Pages (AMP) Februari 2016. Sebuah proyek open source untuk penyajian berita menarik dan cepat dalam format mobile.

Ketika digitalisasi telah menjadi keniscayaan, inisiatif kolaborasi membuka peluang baru bagi media jurnalistik. Namun, sesungguhnya News Lab, AMP, juga Digital News Initiative, adalah “proyek rayuan” untuk pengelola media jurnalistik. Latar belakangnya adalah sejumlah gugatan hukum terhadap Google di Eropa karena memanfaatkan konten jurnalistik secara sepihak, tanpa imbal balik ke media produsen.

Raju Narisetti (atas) dan Sasha Koren (bawah).

Raju Narisetti, CEO of Gizmodo Media Group, menilai “proyek rayuan” itu sebagai kerja sama timpang. Google mendapat nama baik dan legitimasi memanfaatkan berita dari media jurnalistik. Media jurnalistik mendapat transfer teknologi. Namun, apakah teknologi itu dapat diolah untuk keuntungan ekonomi?

Kerja sama ditawarkan karena mereka membutuhkan pasokan informasi lebih banyak, pengguna lebih banyak, data pengguna internet (user behavior data) lebih banyak, untuk pengembangan produk kecerdasan buatan, machine-learning dan iklan digital tertarget.

Pada pengelola media jurnalistik yang ada adalah coba-coba. Setelah mengaplikasikan AMP untuk optimalisasi berita, mereka meraba-raba bagaimana monetisasinya.

Menurut Sasha Koren, editor The Guardian US Mobile Innovation Lab, pengelola media jurnalistik umumnya tidak tahu persis cara AMP bekerja. Bagi mereka, mesin pencari dan algoritma adalah kotak hitam, bahkan saat dalam genggaman.

Google dan Facebook, dua raksasa digital yang mendominasi jagat maya saat ini.

Beban berat
Inisiatif kolaborasi seperti News Lab, AMP, Digital News Initiative juga Facebook Instant Articles tetap menjadi beban berat media jurnalistik karena tidak tahu caranya menopang hidup media jurnalistik.

Seperti ditegaskan Koren, mereka semakin jauh terikat pada model kemitraan dengan Google, Facebook, dan lain-lain, karena masyarakat terkondisikan mengonsumsi dan mencerna informasi dengan aplikasi dan fitur mereka.

Akhirnya media jurnalistik  sangat terdikte oleh Google dan Facebook. Sementara urusan bertahan hidup, mereka mesti mencari jalan sendiri-sendiri.

Grant Whitmore (tengah) dkk. dalam suatu acara Daily News Innovation Lab.

Mengutip Grant Whitmore dari The New York Daily News, kebaikan-kebaikan Google, Facebook, dan lain-lain tidak sepenuhnya altruistik. Semakin banyak mereka membantu, semakin dalam kita tergantung pada mereka ....

Kita membutuhkan jurnalisme bermartabat untuk melawan hoaks. Namun, untuk bertahan hidup saja media jurnalistik sudah susah dan sangat kerepotan.

Jadi perlu langkah-langkah afirmatif untuk menopang daya hidup media jurnalistik di tengah lanskap media yang demikian pesat berubah.

Agus Sudibyo
Head of New Media Research Center ATVI Jakarta
KOMPAS, 12 Februari 2019

Saturday, May 5, 2018

Peran Ilmuwan Sosial di Era Mahadata


Di era data melimpah atau mahadata (big data) dewasa ini, dalam banyak hal peran ilmuwan sosial tergusur oleh siapa saja yang mampu menganalisis data melimpah untuk keperluan praktis tertentu.

Kecenderungan elektabilitas tokoh atau partai politik menjelang pemilu yang ditimba dari analisis mahadata, misalnya, dewasa ini tengah menjadi kecenderungan. Mahadata sebagai himpunan data (data set) yang luar biasa besar jumlahnya, sedemikian rumit dan tak terstruktur dipakai sebagai basis analisis yang dengan aplikasi rumus algoritma tertentu mampu menghasilkan data baru yang bahkan realtime. Penggunaannya tak sekadar sebatas bidang ekonomi dan bisnis, tetapi juga politik.

Mark Zuckerberg, founder dan owner Facebook.

Hingga kini masih hangat perbincangan kasus kontroversial yang menyebabkan Mark Zuckerberg dimintai kesaksiannya oleh Kongres Amerika Serikat terkait kebocoran data pengguna Facebook. Data tersebut berikut jutaan data pengguna media sosial lainnya telah dimanfaatkan Cambridge Analytica, perusahaan yang didirikan Steve Bannon, mantan ketua tim strategi Gedung Putih, untuk kampanye Pilpres AS 2016 dalam rangka memenangkan Trump.

Sebagai pemilik Facebook, Zuckerberg mengaku tak dapat mengemban tanggung jawabnya dengan baik, melakukan kesalahan besar, dan meminta maaf. Fenomena menghebohkan publik internasional ini segera memicu kesadaran bersama tentang rentannya data pribadi di media sosial untuk disalahgunakan dan aspek perlindungannya atas data pribadi tersebut.


Fenomena ilmu-ilmu sosial di era mahadata telah menarik perhatian Menteri Sekretaris Negara Pratikno dalam uraian orasinya pada pelantikan pengurus Himpunan Indonesia untuk Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (HIPIIS), di Jakarta, 17 April 2018.

Pratikno mengingatkan ragam konsekuensi baru yang menyertai revolusi industri 4.0, terutama terkait banyaknya jenis pekerjaan yang diambil alih oleh mesin atau perangkat kecerdasan artifisial. Namun demikian, dia melihat ilmuwan sosial masih tetap memiliki peran penting dalam mempertahankan tradisi berpikir mendalam (deep thinking) dalam bingkai nilai-nilai kemanusiaan guna membangkitkan kreativitas manusia. Mereka berperan membingkai makna, menganalisis secara mendalam potensi keuntungan dan risiko hal-hal baru di tengah era mahadata yang berkecenderungan mengondisikan cara berpikir instan, artifisial, serba cepat, praktis, dan pragmatis.

Masalah berpegang pada nilai, digarisbawahi pula oleh Ketua HIPIIS Muhadjir Effendy, bahwa kendatipun arah perkembangan ilmu sosial sangat lekat dengan teknologi, tetapi imajinasi, kreativitas, empati, kemampuan berjejaring, negosiasi dan pengambilan keputusan berdasarkan pertimbangan norma, tetap tak tergantikan (KOMPAS, 18/4/2018). Penegasan ini mengingatkan bahwa pada hakikatnya ilmu sosial merupakan roh dari segala ilmu karena terdapat dimensi norma dan nilai-nilai kemanusiaan yang dijadikan pegangan.

"Big Data, got it. Now, what?"

Berpikir mendalam
Tradisi berpikir mendalam itulah yang membuat ilmuwan sosial tetap penting dan diperlukan, walaupun terkesan terpinggirkan. Banyak kajian tentang hakikat berpikir mendalam, tetapi yang cukup populer bisa merujuk Garry Kasparov, Deep Thinking: Where Machine Intelligence Ends and Human Creativity Begins (2017).

Buku Kasparov, pemain catur terbesar sepanjang masa yang pensiun pada 2005 ini, mengisahkan pengalamannya kalah tipis dari superkomputer IBM Deep Blue pada 1997. Fenomena manusia melawan mesin itu bagaimanapun mengingatkan bahwa kecerdasan buatan (artificial intelligence) semakin menjadi lawan tanding kecerdasan alamiah manusia yang tak dapat diremehkan.

Revolusi industri 4.0 merefleksikan pengalaman Kasparov itu ke konteks lebih luas. Keberlimpahan data, kecerdasan buatan, dan hal-hal penting lainnya pasca-internet, semakin menantang. Kendatipun demikian, Presiden Joko Widodo dan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dalam konteks ini mengingatkan untuk juga melihat sisi peluang. Di ranah ilmu-ilmu sosial merujuk Mensesneg Pratikno, peluangnya mengerucut pada penguatan tradisi berpikir dan pemberi makna mendalam serta penumbuh kreativitas (human creativity).


Peran ilmuwan sosial
Masalahnya, bagaimana ilmuwan sosial mampu berkonsentrasi mempertahankan tradisi berpikir mendalam dan kreatif, justru di tengah kompleksitas tantangan zaman now? Dalam konteks ini, ilmuwan sosial harus tetap berikhtiar dengan berpikir kritis dan bersikap obyektif dalam bingkai nilai-nilai kemanusiaan, terlepas dari posisinya apakah di lingkaran kekuasaan atau tidak.

Sebagai ilmuwan sosial yang tersohor pada masanya, Soedjatmoko pernah mengingatkan pentingnya "dimensi manusia" dalam pembangunan. Ini artinya, ilmuwan sosial harus tetap berdiri di barisan paling depan sebagai juru ingat, agar proses-proses pembangunan tidak melupakan "dimensi manusia".

Ilmuwan sosial harus tetap bekerja berbasis riset disertai kemampuan reflektif yang bertumpu pada nilai-nilai kemanusiaan. Ilmuwan sosial tetap menjadikan perguruan tinggi dan lembaga-lembaga riset akademis sebagai basis pengembangan keilmuan. Ilmuwan sosial bukan entitas bebas nilai. Mereka bekerja dalam bingkai nilai-nilai kemanusiaan dan peradaban.


Mereka punya tanggung jawab sosial dan kemanusiaan kendatipun tetap bekerja secara obyektif dan akademis. Kontribusi pemikirannya sangat diperlukan dalam merespons masalah-masalah bangsa yang beragam, dari soal demokrasi hingga masa depan integrasi bangsa. Ilmuwan sosial dapat mengedepankan pendekatan optimistis dalam memaknai pembangunan di tengah ragam realitas obyektif permasalahan bangsa.

Peran ilmuwan sosial membentang dari pemikiran dan perencanaan pembangunan, pembingkai makna berbagai fenomena sosial kebangsaan, hingga sikap kritis dalam mengingatkan peran dan tanggung jawab kelembagaan negara dan politik dalam tradisi demokrasi. Ilmuwan sosial juga jembatan perkembangan teknologi dan realitas sosial ke dalam pertimbangan cermat dan mendalam dalam proses pengambilan kebijakan, pun pemberi alternatif solusi masalah krusial kebangsaan dan perawat akal sehat kolektif. Yang terakhir ini penting tatkala dinamika komunikasi media sosial sarat dengan propaganda kebohongan (hoaks).

M Alfan Alfian
Dosen Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Nasional
dan Pengurus Pusat HIPIIS
KOMPAS, 30 April 2018

Sunday, October 19, 2014

Ben Affleck dan Islam Maya


Aktor Ben Affleck secara tegas membela Islam dalam sebuah acara TV secara langsung. Acara bincang-bincang Real Time with Bill Maher --yang tayang di stasiun televisi Amerika Serikat HBO-- berubah menjadi perdebatan sengit tentang Islam ketika Bill Maher dan penulis terkenal Sam Harris bicara tentang Islam radikal.

Sang pemeran The New Batman ini menyebut mereka telah melakukan stereotipisasi terhadap umat Islam. Bagi banyak kalangan, boleh jadi kasus Ben Affleck menghasilkan anomali. Ini bisa dipahami karena sikap Ben Affleck, seorang Barat dan non-Muslim, keluar dari bilik tradisional dan repertoar umum bahwa Islam yang dihadirkan oleh media Barat adalah Islam yang sudah di-setting, ‘ditundukkan’, atau dijinakkan oleh pihak-pihak resisten terhadap Islam.

Pilihan sikap Affleck, seorang penganut Protestan yang tampil sebagai advokat bagi wajah dan umat Islam, memperlihatkan efek simalakama stigmatisasi Islam dan Muslim. Pemojokan dan stereotip secara konstan terhadap Islam dan Muslim dari media Barat justru membangkitkan para pembela Islam dari lingkungan Barat sendiri.

Beberapa aktor Hollywood; Angelina Jolie, Rihanna, Selena Gomez, Mark Ruffalo, Coldplay, Penelope Cruz, Javier Bardem, yang Pro-Palestina.

Alih-alih membuat orang makin benci dengan Islam dan perilaku umatnya dengan agenda setting yang canggih, yang justru lahir adalah tren oposisi internal dari pihak yang bukan berasal dari lingkungan Islam sendiri. Bila sebelumnya media Barat konsisten membela para penghujat Islam dari lingkungan Islam dan Barat, kini yang mulai berlaku adalah munculnya para pembela Islam dari lingkungan Barat sendiri.

Aksi advokatif Ben Affleck ini sebetulnya bagian dari barisan kafilah panjang pekerja seni Hollywood yang makin tercerahkan lewat sisi kemanusiaan. Nama-nama semisal Angelina Jolie, Rihanna, Selena Gomez, Mark Ruffalo, Coldplay, Penelope Cruz, Javier Bardem, dan Russell Brand adalah sejumlah aktor dan artis Hollywood yang menghendaki kemerdekaan Palestina sewaktu krisis Gaza beberapa waktu lalu.

Secara pribadi agaknya pembelaan Ben Affleck terkait erat dengan pengalaman debutnya dalam berbagai layar lebar, semisal ketika membintangi film Argo yang bercerita tentang pembebasan pegawai Kedutaan Amerika saat Revolusi Islam Iran terjadi dan gerakan anti-Amerika begitu kuat. Pengalaman menggarap Argo dan pemahamannya tentang Islam membuatnya berani membela Islam meski bukan penganut Islam.

Inilah sikap toleran dalam memahami bagaimana seharusnya agama itu bisa saling menerangi, bukan saling membunuh. Meski dengan sikapnya itu, ia harus menghadapi serangan dari berbagai pihak.

Kesalahfahaman Barat terhadap Islam, sampai kapan?

Efek bumerang, hasil buah simalakama, atau konsekuensi pagar makan tanaman dari politik stigmatisasi Islam oleh media Barat telah melahirkan apa yang bisa disebut sebagai “Islam maya”, yakni wajah Islam yang dibentuk secara online. Hari ini Islam tak lagi dipahami lewat “Islam media”, lewat media-media konvensional semisal buku, majalah, atau koran.

Lebih dari itu, “Islam maya” membuat orang menatap dan memahami Islam dan kaum Muslim lewat jalur sosial media dan citizen journalism (jurnalisme warga). Pelbagai tulisan, foto, dan berita menyangkut Islam dan kaum Muslim menjadi lebih personal, cepat, dan tak dibatasi oleh bilik-bilik pembatas, semisal harga yang mahal, akses yang sulit, hingga levelisasi pemahaman.

Acara Real Time with Bill Maher yang menampilkan Ben Affleck menyibak tabir eksklusivisme media bahwa pemegang hak paten atas interpretasi Islam tidak lagi sepenuhnya ditentukan oleh media arus utama (mainstream media), tapi sudah beralih kepada para pemilik akun jaringan medsos (media sosial) yang bisa dimiliki oleh siapa saja dan di mana saja.

Ben Affleck adalah pemeran utama dalam film Argo yang berkisah tentang pembebasan pegawai Kedutaan Amerika saat Revolusi Islam Iran.

Deretan komentar maupun kutipan status di Facebook atau Twitter merespons objektivitas Ben Affleck menyangkut pembajakan terhadap Islam, ternyata jauh lebih mempengaruhi wacana publik ketimbang siaran berita atau pendapat pakar di berbagai stasiun TV atau media cetak.

Benar bahwa pemahaman Islam yang hanya bersandar kepada kombinasi dari internet, media sosial, dan mobilitas dunia maya berisiko terjerembab ke dalam pubertas keagamaan yang bercirikan meningkatnya ekspresi keagamaan secara cepat, tapi tidak punya imunitas akidah yang kokoh sehingga mengakibatkan penurunan kualitas keimanan yang jauh lebih cepat.

Meskipun begitu, kehadiran “Islam maya” berkat media sosial dan jurnalisme warga dipercayai kuat akan menarik umat Islam untuk tidak lagi malu-malu mengaktualisasikan keberagamaannya di satu sisi dan mengundang kalangan luar Islam untuk menghapus pola-pola sistematis yang mendiskreditkan Islam di sisi lain.

Donny Syofyan,
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
REPUBLIKA, 11 Oktober 2014

Ben Affleck, beserta isteri (Jennifer Garner) dan putra-putri mereka.

Ben Affleck yang bernama lengkap Benjamin Geza Affleck (lahir 15 Agustus 1972; umur 42 tahun) adalah aktor, sutradara, dan produser Amerika yang pernah memenangkan penghargaan Academy Award kategori penulis cerita terbaik lewat film Good Will Hunting tahun 1997. Ia berkarier di film sejak era pertengahan 1990-an berawal lewat sebuah peran di film Mallrats (1995) dan Chasing Amy (1997). Dia dikenal sebagai aktor utama pria papan atas Hollywood dan pernah bemain dalam film-film sukses berdana besar seperti Armageddon (1998), Pearl Harbor (2001), Changing Lanes (2002), The Sum of All Fears (2002) dan Daredevil (2003). Ia pernah berkolaborasi peran bersama adik laki-lakinya, aktor Casey Affleck.

Affleck pernah menjalin hubungan dengan aktris papan atas Hollywood, Gwyneth Paltrow tahun 1998. Setelah putus dari Paltrow, ia menjalin hubungan dengan penyanyi kelas dunia Jennifer Lopez pada tahun 2002, namun keduanya berpisah dan gagal bertunangan pada tahun 2004. Kemudian pada tahun yang sama Afflek kembali menjalin hubungan dengan aktris Hollywood Jennifer Garner, lawan mainnya dalam film Daredevil. Affleck menikah dengan Garner pada 29 Juni 2005. Pernikahan mereka membuahkan dua orang putri: Violet Anne Affleck (lahir Desember 2005), Seraphina Rose Elizabeth Affleck (lahir Januari 2009) dan seorang putra: Samuel Garner Affleck (lahir Februari 2012).

http://id.wikipedia.org/wiki/Ben_Affleck

Tuesday, January 29, 2013

Pikiran Benih Perbuatan


Orang Inggris punya ungkapan: You are what you think. Pepatah Arab mengatakan: Innamal afkaru ummahatul a’mal. Sesungguhnya pemikiran itu induk perbuatan. Telah banyak kajian psikologi dilakukan yang hasilnya membenarkan formula di atas.

Bahwa perbuatan seseorang itu pada mulanya berakar pada pemikiran. Orang yang selalu berpikir untuk menjadi orang kaya, maka dia akan lebih peka melihat setiap peluang usaha dan tindakan yang mendatangkan kekayaan. Begitu pun orang yang pikirannya selalu ingin korupsi dan maling, maka yang dicari adalah peluang untuk mewujudkan pikirannya dalam tindakan nyata.

Kalau seseorang dalam pikirannya tidak ada pikiran untuk mencuri, kalaupun ada peluang, maka dia tidak akan tergerak karena memang dalam hati dan pikirannya tidak ada ketertarikan ke arah sana. Hubungan antara pikiran dan orientasi tindakan sangatlah mudah diamati dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan terdekat. Dalam dunia kampus, mahasiswa yang tengah menulis skripsi atau disertasi akan sangat familier dan peka dengan urusan literatur yang mendukung risetnya.


Tukang ojek yang pikirannya selalu mengharapkan penumpang, matanya sangat peka kalau ada orang yang membutuhkan jasa ojek. Demikianlah, betapa dekatnya hubungan antara pikiran dan tindakan, sehingga para orang bijak, pendidik, bahkan kitab suci, selalu mengajarkan agar cawan hati dan pikiran jangan sampai diisi untuk menampung sampah berupa pikiran dan keinginan yang kotor. Lebih celaka lagi, jangan sampai kita menjadi pemulung sampah pikiran dan emosi sebagai bahan gosip yang sama sekali tidak produktif, bahkan destruktif.

Di era keterbukaan dan ketersediaan media komunikasi semacam telepon seluler, Facebook dan Twitter, mudah sekali dijumpai sampah-sampah pikiran dan emosi yang pada urutannya akan menggerakkan tindakan. Perilaku porno dan kejahatan seksual pada awalnya berada dalam pikiran yang dipasok oleh sampah-sampah informasi.

Penelitian psikologi mengatakan bahwa pikiran dan imajinasi yang tertampung dalam sel-sel otak sesungguhnya tak ada bedanya apakah itu sekadar imajinasi atau realitas empiris. Semuanya terekam dalam sel-sel syaraf otak yang disebut synapses. Jadi ketika otak membayangkan sesuatu, hal itu telah terjadi pada tataran imajinasi dan pemikiran dan akan terwujud menjadi tindakan dan realis empiris ketika ada peluang.


Hasil kajian ini mengingatkan saya pada ayat al-Quran yang menyatakan: Allah mengetahui apa yang kamu perlihatkan dan apa yang tersembunyi dalam dirimu. Lebih lanjut lagi Nabi Muhammad mengajarkan, janganlah kita suka berandai-andai dengan pikiran negatif karena pikiran itu merupakan doa. Lagi-lagi, hasil kajian neuro-psikologi memperkuat sabda Nabi tersebut bahwa ide, gagasan, imajinasi, dan keinginan yang hidup dalam memori sel otak merupakan kekuatan yang senantiasa memerlukan saluran untuk menjelma menjadi kenyataan. Memori dalam sel otak itu bagaikan penghuni sebuah kota yang saling berkenalan dan berdiskusi sehingga melahirkan pemikiran sintetis yang terkadang mengejutkan. Thinking out of the box.
Oleh karena itu, sangat masuk akal, berbagai temuan teknologi yang hebat-hebat seperti pesawat terbang itu pada mulanya adalah mimpi dan imajinasi. Bahkan, benih perubahan sosial dan revolusi sebuah bangsa pada mulanya merupakan imajinasi sekelompok orang, yang kemudian menyebar menjadi gagasan kelompok dan massa yang pada urutannya menjadi kekuatan raksasa bagaikan air bah atau tsunami.


Benih pikiran akan semakin terang dan powerful kalau dihayati dan dipahami secara mendalam melalui proses perenungan panjang dalam suasana hening, sebagaimana Muhammad merenung di Gua Hira. Atau Musa di Bukit Sinai. Atau Sidharta Gautama di bawah Pohon Bodhi. Pikiran positif-konstruktif yang terang pada urutannya akan melahirkan tindakan yang terarah dengan disertai kemantapan. Pikiran yang kacau akan melahirkan tindakan yang juga kacau.

Pikiran besar dan mulia akan melahirkan tindakan besar dan mulia. Sebaliknya, pikiran kerdil juga akan melahirkan tindakan yang kerdil. Demikianlah, kita mesti mengajari dan menanamkan pada anak-anak kita gagasan besar dan terpuji agar nantinya mereka jadi pelaku sejarah dengan tindakan besar dan terpuji.

Tak kalah pentingnya, siapa pun yang menjadi pemimpin, entah dalam tubuh pemerintahan ataupun perusahaan, mesti menyadari bahwa kepemimpinan itu bermula dari imajinasi, pikiran, dan wawasan yang kemudian dituangkan dalam program dan tindakan. Pemimpin itu adalah juga pemimpi.

Komaruddin Hidayat
Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah
SINDO, 25 Januari 2013

Tuesday, November 24, 2009

Negeri Tercinta Anggodonesia


Hiruk-pikuk persoalan yang membelit Komisi Pemberantasan Korupsi, yang menjerat dua unsur pimpinan nonaktif Chandra M Hamzah dan Bibit Samad Rianto, menjadi isu terpopuler di sejumlah media massa selama berbulan-bulan.

Berbagai kejadian besar, mulai dari ledakan bom di JW Marriott dan The Ritz-Carlton, penyergapan teroris Ibrohim di Temanggung, Jawa Tengah, penangkapan gembong teroris Noordin M Top, hingga gempa besar di Padang Sumatera Barat, tak mampu mengalihkan perhatian publik dari perkara KPK.

Hingga kini, kepedulian publik juga terasa kental jika mengamati dunia cyber, melalui sejumlah jejaring sosial semacam Facebook dan Twitter. Gerakan dukungan terhadap Chandra dan Bibit pun masih terus menggelembung.

Luapan kekritisan publik tampak nyata, natural, dan otentik di kedua jejaring itu. Sasaran kritik mulai dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Polri, Kejaksaan Agung, dan tentu tak ketinggalan Anggodo. Pengguna Twitter juga tak ragu melemparkan kritiknya terkait masalah KPK itu ke akun Twitter milik Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring.

Kekritisan warga Facebook dan Twitter tak hanya tertuang dalam kritik-kritik pedas dan menggelitik, tetapi juga rekaan gambar hingga karikatur.


Di salah satu akun Facebook milik seorang berinisial YPT, misalnya, salah satu gambar rekaan memuat wajah Anggodo menghiasi lembaran uang kertas pecahan Rp 500.000. Di bawah gambar tersebut tertulis keterangan: ”Agar proses suap-menyuap lebih mudah pemerintah melalui Bank Indonesia mengeluarkan pecahan baru Rp 500.000,00. Jadi nyuap pejabat pemerintah gak perlu pake koper lagi”.

Anggodo tampaknya menjadi salah satu favorit sasaran komentar ataupun sindiran di dunia cyber. Seorang pemilik akun Facebook berinisial AL, misalnya, Sabtu (21/11) malam, menulis dalam statusnya, ”Negeri tercinta, Anggodonesia”.

Menanggapi serangan berbagai sindiran, pengacara Anggodo, Bonaran Situmeang, mengatakan, pihaknya tidak akan mempermasalahkan hal itu. ”Kami biarkan saja karena sebenarnya mereka tidak mengerti apa yang mereka lakukan. Tersinggung sih tersinggung, tapi kami maafkan. Karena seandainya mereka tahu apa yang mereka perbuat, mereka pasti tidak melakukannya,” kata Bonaran.

Di kalangan wartawan, suara Anggodo juga cukup diminati. Saat Mahkamah Konstitusi memperdengarkan rekaman sadapan pembicaraan telepon Anggodo, hampir semua wartawan yang meliput ikut merekam. Selain untuk kepentingan berita, rupanya beberapa wartawan menjadikan rekaman suara Anggodo itu sebagai ringtone telepon seluler. Bagian-bagian yang dipilih tentunya yang amat melukai hati nurani bangsa ini.

Sarie Febriane
KOMPAS, 22 November 2009