Thursday, September 22, 2022

Azyumardi Azra dan Sikap Mental Konspiratif


Dalam makalah di muktamar ABIM, Prof Azyumardi membahas potensi kebangkitan peradaban Muslim. Berikut ini sebuah catatan dari Asro Kamal Rokan.

Ketika dipercaya memimpin Dewan Pers, Mei 2022, banyak harapan masyarakat pers pada Prof Dr Azyumardi Azra, terutama untuk memperkuat kebebasan pers. Prof Edi ––begitu biasa disapa–– dikenal independen, sangat kritis, prodemokrasi, dan tentu cendekiawan. Ini modal besar sebagai penjaga yang tangguh kebebasan pers dari berbagai intervensi dan tekanan.

Lima bulan setelah ditetapkan sebagai Ketua Dewan Pers dari unsur masyarakat, Prof Edi wafat, Ahad (18 September 2022) pukul 12.30 di Rumah Sakit Serdang, Selangor, Malaysia. Keterangan resmi Rumah Sakit Serdang, yang dikutip Kedutaan Besar RI di Kuala Lumpur, Ahad, menyebutkan Prof Edi menderita kelainan jantung.

Perjalanan terakhir Prof Azyumardi Azra menuju Malaysia.

Pada Jumat (16/9/2022) dalam penerbangan Jakarta ke Kuala Lumpur, Prof Edi mendadak sesak napas dan dipasang oksigen. Tiba di Bandara KLIA, cendekiawan Muslim itu dilarikan ke RS Serdang untuk perawatan lanjutan. Penasihat Ikatan Setiakawan Wartawan Malaysia-Indonesia (Iswami) Datuk Zakaria Abdul Wahab, setelah mendapat info, langsung ke RS Serdang.

Menurutnya, Prof Edi dalam kondisi tidak sadar. Mantan Pemimpin Redaksi Kantor Berita Bernama Malaysia tersebut terus memberikan kabar kepada kami melalui WhatsApp Group.

Dan, Ahad siang, kabar meninggalnya Prof Edi kami terima. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun, telah pergi seorang guru, cendekiawan, dan sahabat baik. Tokoh sederhana, yang kepadanya wibawa, marwah, dan martabat pers diharapkan semakin tegak, semakin independen.


Prof Azyumardi berada di Malaysia memenuhi undangan sebagai pembicara seminar internasional Angkatan Belia Islam Malaysia (ABIM) di Bangi Convention Center, Kajang, Malaysia, Sabtu (17/9). Seminar ini bertema “Masa Depan Peradaban Kosmopolitan Islam ––Membina Optimistik Generasi Baharu”.

Prof Edi rencananya akan berbicara pada sesi pertama, Sabtu pagi, membawa makalah berjudul “Nusantara untuk Kebangkitan Peradaban: Memperkuat Optimisme dan Peran Umat Islam Asia Tenggara”. Makalah tersebut tidak sempat dibacakan Prof Edi, selamanya.

Dalam makalah 22 halaman, yang diedarkan kepada peserta muktamar ABIM, Prof Edi membahas potensi kebangkitan peradaban Muslim. Secara demografis di seluruh dunia, tulis Prof Azyu, jumlah kaum Muslimin meningkat secara signifikan, diperkirakan lebih dari 1,9 miliar jiwa (2022), agama kedua terbesar setelah Kristianitas (Katolik dan Protestan digabungkan).


Dengan jumlah yang terus meningkat itu, kaum Muslim memiliki potensi kian besar pula; tidak hanya untuk membangun peradaban Muslim, tetapi juga pada peradaban dunia secara keseluruhan.

Tetapi potensi itu belum bisa diwujudkan, belum dapat menjadi aset, bahkan sering lebih merupakan liabilities. Ini karena kebanyakan penduduk Muslim tinggal di negara-negara berkembang, bahkan terkebelakang. Kondisi pendidikan tidak kompetitif, di bawah standar. Banyak murid putus sekolah. Tidak punya masa depan untuk memajukan diri sendiri, apalagi peradaban Muslim dan peradaban dunia.

Sementara itu, ada negara-negara Muslim kaya raya berkat minyak, mendatangkan windfall terus menerus karena kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Tetapi, tulis Prof Edi, windfall tersebut justru menambah beban negara-negara Muslim yang tidak memiliki sumber daya alam BBM. Bahkan sebaliknya, mereka mensubsidi negara-negara kaya minyak tersebut.

Windfall itu tidak mengalir ke negara-negara Muslim miskin dalam bentuk grant atau investasi. Jika ada, jumlahnya tidak signifikan, boleh dikatakan hanya berupa tetesan belaka.


Karena itulah, menurut Prof Edi ––yang meraih gelar Master of Art (MA) di Universitas Columbia tahun 1988–– negara-negara Muslim yang miskin atau berkembang harus mengandalkan sumber-sumber lain, termasuk menambah utang dari negara-negara atau lembaga-lembaga keuangan Barat seperti Bank Dunia (World Bank) dan Dana Moneter Internasional (IMF). Keadaan ini menambah ketergantungan pada Barat, yang jelas memiliki implikasi ekonomis, politis, dan bahkan psikologis di kalangan umat Islam.

Salah satu dampak psikologis itu, tulis Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah ini, menguatnya sikap mental konspiratif; bahwa para penguasa negara-negara Muslim berkolaborasi dengan Barat, misalnya, mengembangkan ekonomi pasar yang liberal di negara-negara Muslim dengan mengorbankan potensi-potensi ekonomi dalam masyarakat Muslim sendiri.

Dampak lebih lanjut dari psikologi konspiratif ini dengan segera mengalir ke dalam kehidupan politik, dalam bentuk ketidakpercayaan pada rezim berkuasa, yang dapat mendorong instabilitas politik di banyak negara Muslim.


Menurut Prof Edi, psikologi konspiratif lebih jauh lagi menjadikan kalangan Muslim —khususnya sebagian ulama, pemikir dan aktivis Muslim— terperangkap ke dalam sikap defensif, apologetik, dan reaksioner; terpenjara ke dalam enclosed mind atau captive mind, mentalitas tertutup yang penuh kecurigaan dan syak wasangka.

Akibatnya, tulis Prof Edi, kalangan Muslim seperti ini lebih asyik pula dalam masalah-masalah furu’iyyah (percabangan), baik dalam bidang sosial, budaya, pemikiran dan keagamaan. Buahnya adalah keterjerambaban ke dalam tindakan dan aksi-aksi yang kurang produktif dalam upaya memajukan peradaban Muslim. Karena itu, jika kita mau berbicara tentang kemajuan peradaban Muslim, sudah waktunya kaum Muslimin membebaskan diri dari psikologi konspiratif dan enclosed mind.

Harapannya, kaum Muslimin lebih mengkonsentrasikan diri pada upaya-upaya kreatif dan produktif daripada terus dikuasai sikap defensif, apologetik, dan reaksioner yang sering eksesif.


Dalam seminar "Masa Depan Peradaban Kosmopolitan Islam" di Malaysia, yang tidak sempat dihadirinya tersebut, Prof Azyu mengajukan sejumlah usulan untuk kebangkitan peradaban ––yang dapat dilakukan Indonesia dan Malaysia, negara di luar Timur Tengah.

Prasyarat utama adalah stabilitas politik. Menurutnya, demokrasi Indonesia yang telah diadopsi dan dipraktikkan sejak 1999 masih perlu dikonsolidasikan dalam tiga hal: basis konstitusional-legal, kelembagaan (parpol, legislatif dan eksekutif), dan budaya politik. Hanya dengan konsolidasi lebih lanjut dapat ditegakkan good governance, penegakan hukum, dan kohesi sosial.

Sedangkan di Malaysia, menurutnya, juga mendesak perlu konsolidasi kekuatan politik umat Islam yang tercerai-berai dalam beberapa tahun terakhir. Keadaan ini jelas tidak menguntungkan untuk mempertahankan hegemoni politik dan kekuasaan Melayu, baik di eksekutif maupun legislatif. Juga tidak menguntungkan bagi pertumbuhan ekonomi yang mutlak perlu bagi kemajuan puak Melayu khususnya.

Konsolidasi demokrasi dan politik di kedua negara berpenduduk mayoritas Muslim ini mutlak untuk pembangunan peradaban utama juga meniscayakan partisipasi publik dalam proses politik demokrasi dengan segala ekses negatif yang sudah sampai pada titik yang tidak bisa dimundurkan lagi.


Tetapi juga jelas, tulis Prof Azyu, proses politik demokrasi di Malaysia dan Indonesia masih menyisakan banyak masalah, sejak dari fragmentasi politik, kepincangan politik, oligarki politik, korupsi, dan tidak fungsionalnya check and balances.

Prof Azyu percaya, kunci utama kebangkitan peradaban Islam adalah pendidikan. Pendidikan di Indonesia dan Malaysia, bukan hanya harus mencapai pemerataan (equity), tapi juga harus semakin berkualitas sejak dari tingkat dasar, menengah sampai pendidikan tinggi. Hanya dengan pendidikan seperti itu, kaum muda negeri ini dapat bertransformasi bersama menuju kemajuan peradaban.

Dalam konteks itu, pendidikan tinggi khususnya harus dikembangkan, bukan sekadar teaching higher institution —atau universitas pengajaran— tetapi sekaligus menjadi research institution. Proses pendidikan di perguruan tinggi sudah waktunya berbasiskan riset.


Pentingnya pendidikan tidak hanya dibahas Prof Azyumardi di seminar-seminar. Ia melakukannya. Ketika dipercaya sebagai Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) 1998-2002, ia melakukan perubahan besar. IAIN Syarif Hidayatullah diubah statusnya menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta pada 2002. Ini diikuti perguruan tinggi keagamaan Islam Negeri (PTKIN) lainnya.

Prof Azyumardi membangun Kampus UIN Jakarta menjadi lebih modern, melakukan transformasi besar-besaran, mengembangkan program studi, dan mendirikan sejumlah fakultas. Di antaranya Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Fakultas Sains dan Teknologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Kesehatan, dan Fakultas Kedokteran.

Azyu berkeinginan generasi muda Islam menguasai teknologi, sosial, ekonomi, dan kedokteran ––yang pada Abad Pertengahan silam melahirkan pemikir-pemikir besar Islam.

Mantan wartawan majalah Panjimas yang menjadi Ketua Dewan Pers.

Transformasi
Sukses di UIN, nama Prof Azyumardi semakin dikenal luas, tidak saja sebagai pemikir Islam, tapi juga pendidik yang membumikan gagasannya. Ketika Redaktur Pelaksana Republika Nasihin Masha mengajukan nama Azyumardi sebagai penulis kolom tetap "Resonansi", sebagai Pemimpin Redaksi Republika saat itu, saya langsung setuju. Sejak 2003 itu, Azyumardi menjadi pengisi tetap kolom "Resonansi" hingga akhir hayatnya.

Kolomnya digemari. Tidak seperti umumnya akademisi, tulisan Azyumardi lebih cair dan mudah dimengerti. Kalimatnya efektif. Ini mungkin karena Azyu, yang juga wartawan, terbiasa menggunakan bahasa jurnalistik. Tulisan-tulisan Azyu di kolom "Resonansi", selain berisi berbagai gagasan, juga tentang kehadirannya dalam sejumlah seminar internasional.

Semasa hidup, Azyu sering diundang sebagai pembicara seminar-seminar internasional di mancanegara. Ia juru bicara yang baik dalam mempromosikan Islam rahmatan lil 'alamin di masyarakat yang mencurigai Islam. Sepanjang hidupnya diisi dengan belajar dan mendidik.

Mendapatkan gelar kehormatan dari Ratu Elizabeth II dari Kerajaan Inggris dan juga bintang kehormatan dari Pemerintah Jepang yang diserahkan oleh Kaisar Akihito.

Azyu orang Asia Tenggara pertama yang diangkat sebagai Guru Besar Kehormatan Universitas Melbourne, Australia (2004-2009). Carroll College, Montana, USA, memberinya Honoris Causa. Lebih dari 44 buku telah diterbitkan dan puluhan artikel telah ditulis dalam bahasa Indonesia, Inggris, Arab, Italia, dan Jerman.

Selain itu dia juga merupakan anggota Dewan Penyantun, penasihat dan Guru Besar Tamu di beberapa universitas di mancanegara; dan juga lembaga riset dan advokasi demokrasi internasional.

Gagasan dan pemikiran Azyu melintasi batas-batas negara. Ratu Elizabeth II dari Kerajaan Inggris menghormatinya dengan memberi gelar Commander of the Most Excellent Order of British Empire (CBE), 2010. Azyu adalah satu-satunya akademisi Indonesia yang menerima penghargaan tinggi tersebut.


Pemerintah Jepang juga memberinya bintang The Order of the Rising Sun: Gold and Silver Star, yang diserahkan Kaisar Akihito dan Perdana Menteri Shinzo Abe di Tokyo, Jepang (2017). Lelaki berpenampilan sederhana ini termasuk The 500 Most Influential Muslim Leaders (2009) dalam bidang keilmuan.

Prof Azyumardi Azra telah pergi menemui Sang Maha Pencipta, yang menentukan hidup manusia. Tapi, cendekiawan besar dan Guru Bangsa ini, tidak benar-benar pergi dan hilang. Puluhan buku, ratusan makalah yang berisi gagasan dan pemikirannya ––juga ilmu serta keteladanan yang diwariskannya–– akan tetap hidup dan bahkan akan berkembang sebagai kekayaan yang tidak ada habis-habisnya.

Selamat jalan Guru ....

Jakarta, 19 September 2022

Asro Kamal Rokan
Pemimpin Redaksi Harian Republika (2003-2005),
Pemimpin Umum LKBN Antara (2005-2007),
Anggota Dewan Kehormatan PWI Pusat (2018-2023)

REPUBLIKA, 20 September 2022

Tuesday, August 30, 2022

Doa Orang Terzalimi dalam Kasus KM 50


Nabi SAW bersabda "ittaqi da'watal mazluumi, fainnahu laisa bainahaa wa bainallahi hijaabun" (Berhati-hatilah terhadap doa orang yang terzalimi, sesungguhnya antara ia yang teraniaya dan Allah tidak ada penghalang -- HR Bukhari-Muslim)

Marak berita atau tulisan yang mengaitkan peristiwa terbunuhnya Brigadir Joshua di Duren Tiga dengan doa Habib Rizieq Shihab (HRS) saat diadili di Pengadilan Negeri Jakarta Timur atau mubahalah keluarga 6 anggota Laskar FPI di Dewan Dakwah Indonesia (DDI). Seperti diketahui bahwa Kadiv Propam atau Kasatgasus bersama anggota tim ternyata terlibat dalam penanganan Kasus Km 50.


Adapun doa HRS yang dibacakan di kursi pesakitan Pengadilan Negeri Jakarta Timur adalah permohonan kepada Allah agar pelaku, perekayasa, serta semua yang terlibat dalam pembunuhan keji atas enam anggota Laskar FPI di Jalan Tol Jakarta - Cikampek Km 50 itu dihukum dan dihancurkan dengan sehancur-hancurnya oleh Allah SWT.

Demikian juga mubahalah keluarga keenam syuhada yang meyakini bahwa putera mereka telah dianiaya dan dibunuh oleh aparat dengan keji. Mereka memohon kepada Allah bagi yang berdusta untuk mendapat balasan laknat dan adzab dari Allah SWT. Karena keluarga itu merasa terzalimi akibat cerita sandiwara pihak Kepolisian.


Doa dan permohonan kepada Allah SWT baik yang dilakukan HRS maupun oleh keluarga keenam anggota FPI nampaknya mulai menunjukkan bukti-bukti. Hebatnya bukti-bukti itu timbul dari peristiwa unik di rumah dinas Kadiv Propam Irjen Pol Ferdy Sambo. Bahkan ada persamaan modus yang kemudian terbongkar jalan ceritanya.

Persamaan itu soal tembak-menembak, aparat yang dikorbankan, rusak dan hilangnya CCTV, rekayasa alat bukti, penganiayaan, pembunuhan berencana, hingga Komnas HAM yang ditengarai ikut dalam permainan. Semoga kasus Duren Tiga dapat membuka tabir kejahatan dalam kasus Km 50. Karena ternyata Divisi Propam ikut menangani kasus pembunuhan 6 laskar FPI. Ada indikasi kuat keterlibatan Irjen Ferdy Sambo entah sebagai Kadiv Propam atau Kasatgassus dalam peristiwa terbunuhnya 6 laskar FPI.


Doa adalah senjata orang beriman, penegak agama, cahaya langit dan bumi (HR Abu Ya'la). Doa juga alat mengubah kemungkaran walau dikategorikan sebagai selemah-leman iman, karena ada cara mengubah selain dengan kekuatan tangan dan perkataan. Ketika mukmin merasa dirinya tidak berdaya maka do'a adalah enerji pamungkas.

Doa orang-orang yang terzalimi dalam kasus Km 50 akan didengar Allah SWT. Sehingga, pada saatnya kelak, peristiwa ini akan terkuak dengan sebenarnya termasuk para pelaku dan perencananya. Penjahat itu dapat bersembunyi beberapa saat tetapi tidak untuk selama-lamanya. Kini ada kunci pembuka yang Allah berikan dan kunci itu menempel di pintu rumah dinas mantan Kadiv Propam Polri Irjen Pol Ferdy Sambo.


Kasus Km 50 adalah hutang Polri dan hutang pemerintahan Jokowi yang harus segera dibayar. Kesadaran untuk membuka skenario jahat dalam kasus Km 50 akan lebih baik daripada menunggu penagihan paksa oleh Allah Yang Maha Kuasa. Doa HRS dan mubahalah dari keluarga enam anggota Laskar FPI serta sakit hati jutaan kaum muslimin yang peduli pada peristiwa itu akan menggetarkan dan menggoyahkan sendi-sendi kekuasaan para pelaku kezaliman.

Kesombongan dan kebohongan itu berbatas ruang dan waktu. Tak akan abadi selamanya.

M. Rizal Fadillah
Pemerhati Politik dan Kebangsaan
FNN, Bandung, 13 Agustus 2022

Thursday, July 28, 2022

RRC Cemas Menghadapi Fenomena Anies Baswedan!


Di awal musim dingin yang datang lebih cepat, para petinggi China berdiskusi di ruang luas berwarna merah yang didominasi potret raksasa Mao Zedong, pendiri rezim komunis China. Di sana ada pejabat intelijen, urusan luar negeri, ekonomi, media, pakar ASEAN, dan pakar Indonesia. Tapi ruang terasa sepi seperti hutan belantara.

Lalu, Presiden, Xi Jin Ping memecahkan kesunyian. “Apakah hasil pilpres Indonesia akan melestarikan status quo?” Satu per satu para pejabat itu mengemukakan pendapat dengan hati-hati. Intinya, kepentingan China di Indonesia belum aman.

Kalau Anies Baswedan memenangkan pertarungan, pendulum politik Indonesia akan berayun lebih ke tengah. Bahkan, landscape politik Indo-Pasifik akan berubah,” kata pakar ASEAN.


Mereka beranggapan, Anies akan meninjau ulang deal-deal bisnis bidang infrastruktur dan pertambangan Indonesia-China —yang oleh pakar Indonesia dianggap tidak fair— sebagaimana dulu dilakukan PM Malaysia Mahathir Mohamad.

Dia itu nasionalis tulen, sekaligus cendekiawan ekonomi dan politik yang cerdik. Tidak mudah menghadapi dia. Lagi pula, populeritas China di sana (Indonesia) merosot tajam belakangan ini akibat ketidakarifan kita memperlakukan bangsa yang sepanjang sejarahnya terdapat banyak simpul gerakan anti-China,” kata pakar Indonesia.

Mereka juga membahas kemungkinan berubahnya landscape politik Indo-Pasifik bila Anies memimpin Indonesia. Pembahasan dari perspektif Indonesia berjalan begini: Dari sisi geopolitik, mestinya Indonesia —dengan perbedaan budaya, sejarah, dan besaran ekonomi dibanding dengan bangsa ASEAN lain— berperan sebagai game changer di kawasan untuk sebesar-besar keuntungan bangsa.


Faktanya, Jakarta tak memainkan peran yang seharusnya di tengah persaingan kita bersama Rusia versus AS-Sekutu di kawasan. Penyebabnya, presiden Indonesia tak punya visi tentang Indo-Pasifik. Akibatnya, kementerian luar negerinya tak punya pedoman yang otoritatif dalam menjalankan politik regional, terutama dalam hubungan dengan kita, sehingga politik luar negerinya terasa mandul. Menterinya lebih memilih main aman.

Maka kita, juga lawan kita, terpaksa mengabaikan Jakarta. “Memang aneh, negeri yang begitu besar tak memahami dirinya sendiri, apalagi memahami lingkungannya,” kata pakar Indonesia. Bahkan, posisinya sebagai big brother ASEAN pun tergerus.

Kita sudah mulai menyingkirkan peran Jakarta. Lihat, ketika krisis Myanmar kian suram, yang mengganggu keamanan, ekonomi, dan kinerja ASEAN, Indonesia hanya jadi penonton setelah sedikit usaha. Peran kita di sana justru lebih menentukan. Kini, bisa dikatakan Myanmar telah menjadi “milik” kita setelah Kamboja. Dengan demikian, konsep sentralitas ASEAN di Indo-Pasifik yang dikembangkan Indonesia kehilangan makna karena, mau tak mau, Jakarta harus beradaptasi dengan kehendak kita. Ternyata mudah saja menelikung ASEAN.


Sebentar lagi, berkat kemampuan ekonomi, politik, dan militer kita, cepat atau lambat seluruh ASEAN akan jatuh ke lingkungan pengaruh (sphere of influence) kita. Untuk itu, kita harus secepatnya taklukan Indonesia lebih dulu. Kalau berhasil, teori domino akan berlaku: satu demi satu bangsa ASEAN akan luruh. Untuk tujuan itu, kita harus lebih agresif mengobral investasi mumpung rezim di sana menjadikan investasi asing sebagai sokoguru pembangunan ekonominya. Utang juga harus kita berikan sebanyak yang mereka minta. Kalau kita berhasil menjerat Indonesia dengan utang (debt trap), klaim kita atas Laut Natuna Utara (sebelumnya disebut Laut China Selatan) bisa jadi tak mendapat resistensi berarti.

Sekarang saja Jakarta segan bermasalah dengan kita. Padahal, bargaining position mereka vis a vis kita cukup besar. “Bukankah kita akan sangat rugi bila harus juga berkonflik dengan Indonesia ketika kita butuh teman strategis menghadapi musuh?” kata pejabat urusan luar negeri.

Kita tahu, dalam menghentikan upaya ekspansi kita di Laut China Selatan, AS-Inggris-Australia membentuk aliansi militer bernama Quad. AS juga, bersama Jepang, Australia, dan India membentuk AUKUS. Mereka bilang, tujuan Quad dan AUKUS adalah menjaga LCS dan Indo-Pasifik tetap menjadi kawasan bebas navigasi dan inklusif. Namun, sesungguhnya mereka hendak membatasi lebensraum (living space) kita, yang sangat kita butuhkan dalam menjaga momentum perkembangan kita menjadi adidaya tunggal.


Pandangan AS dan sekutunya sebenarnya sejalan dengan visi Indonesia tentang sentralitas ASEAN di Indo-Pasifik. Namun, ASEAN punya jalan sendiri yang tidak konfrontatif menghadapi kita. Akibat ASEAN Way ini, dalam pembentukan Quad maupun AUKUS, Indonesia tidak dimintai pendapatnya. “Padahal, negeri ini beresiko besar bila terjadi konflik militer terbuka antara kita dan AS-Sekutu,” kata pejabat militer.

Kita harus bantu Rusia agar bisa memenangkan perang Ukraina karena dengan demikian rencana kita menduduki Taiwan dengan bantuan Rusia akan mudah terlaksana. Kemenangan mudah kita di Taiwan akan menggentarkan ASEAN, khususnya Indonesia, untuk berpikir seribu kali kalau mau menghalangi kehendak kita. Mungkin sekali musuh kita telah menghubungi Jakarta untuk ikut serta dalam aliansi-aliansi itu mengingat posisi geografisnya yang sangat strategis. Namun, Jakarta menolak.

Hal ini bisa difahami karena Indonesia tak mau terlihat berseberangan dengan kita. Musuh kita hanya mau menarik ASEAN ke dalam kerja sama militer. Tentu saja ini pikiran yang bodoh. Seharusnya mereka membanjiri ASEAN dengan duit sebagaimana yang kita lakukan. Itu pun belum tentu mereka mendapatkan hasil maksimal karena mustahil ASEAN yang lemah bersedia bermusuhan dengan negara raksasa seperti kita, yang kemajuannya akan membuat ASEAN kecipratan rezeki. Namun, keadaan akan berubah bila Anies memimpin Indonesia.


Apakah dia akan mengambil sikap anti-China? Apakah dia akan mengutak-atik masalah Muslim Uighur?” Tanya presiden Xi Bopeng. “Tentu saja tidak. Anies seorang yang sangat rasional, yang pandai mengubah kelemahan menjadi kekuatan,” kata ketua intelijen yang mendapat laporan dari Jakarta. Pakar Indonesia menambahkan, “Terlalu besar ruang yang dapat ia eksploitasi untuk menguatkan posisi bangsanya menghadapi kita.

Dia adalah figur internasional yang punya jalinan pertemanan dengan institusi-institusi bergengsi di seluruh dunia. Ini karena pemikiran dan komitmen demokrasi dan HAM yang mendapat simpati luas. Mengingat ada keluhan rakyat Indonesia tentang kerja sama ekonomi dengan kita, yang dianggap terlalu menguntungkan kita, sangat mungkin Anies akan meninjau kembali. Dulu, dengan sangat berani dia menghentikan proyek reklamasi di Teluk Jakarta yang didukung penguasa karena merugikan banyak pihak.

Dia sangat mahir mengangkat martabat orang, kelompok, atau entitas, sebagaimana dia lakukan atas Kota Jakarta dan masyarakatnya. Gagasannya sambung menyambung secara tidak terduga dan selalu mempesona. “Anies seperti kepiting, kita akan selalu tidak tahu ke mana ia akan bergerak kalau disentuh. Orang seperti ini tidak mudah kita kalahkan,” kata pakar Indonesia.


Besarnya dukungan yang dia peroleh dari musuh kita akan meningkatkan bargaining position Indonesia. Mungkin kita harus melepaskan klaim kita atas Laut Natuna Utara untuk meneguhkan pertemanan kita dengan Indonesia,” kata pejabat urusan luar negeri.

Kita juga terpaksa harus bersedia berunding ulang dengan dia mengenai konsesi-konsesi tambang dan proyek infrastruktur karena desakannya untuk itu akan sangat populer. Dan kita tak dapat menekannya secara ekonomi karena mudah saja dia mengganti posisi kita dengan negara lain.

Ingat, tambang-tambang nikel di berbagai daerah di Indonesia yang telah kita kuasai juga diminati banyak negara. Bukankah nikel, bahan utama baterei, adalah komoditas masa depan ketika dunia berkomitmen segera meninggalkan bahan bakar fosil?” Kata pejabat ekonomi.

Menurutnya, Anies akan mengeksploitasi ketidakadilan dalam perjanjian-perjanjian investasi yang banyak menyerap tenaga kerja kita, padahal pengangguran di negeri itu cukup tinggi. “Mengenai Uighur?” Menurut pejabat urusan luar negeri, kita memang punya teman ormas Islam terbesar di sana yang mungkin akan membentengi posisi kita di sana. Toh juga, dunia Islam mendiamkannya.


Jadi, mestinya ruang Anies untuk bermanuver terkait itu ini terbatas. Namun, pemimpin ormas besar itu telah berganti yang mungkin akan mengambil jarak dengan kita demi mengakomodasi aspirasi AS dan sekutunya. Juga untuk memainkan peran pengimbang di antara ormas lain dalam negeri yang kritis terhadap kita. Dan, sekali lagi, kita tak dapat memperkirakan langkah apa yang akan diambil Anies. Yang jelas, kalau dia terpilih, narasi Islamofobia yang dipakai pendahulunya untuk membungkam lawan akan dihentikan. Dan landscape Islam di Indonesia juga akan berubah.

Tentu saja dia bukan seorang Islamis yang mempromosikan politik Islam. Andai saja dia melakukan itu, pemerintahannya akan langsung kolaps,” kata ketua intelijen. Yang akan dilakukan Anies adalah mempersatukan bangsa yang terbelah. Untuk itu, kaum Muslim konservatif yang selama ini ditindas akan dikembalikan hak-haknya yang sama dengan warga negara lain. Ini konsekuensi dari komitmennya yang kuat pada pluralisme, demokrasi, dan HAM, serta demi konsolidasi sumber daya bangsa yang sangat dibutuhkan untuk melangkah maju.


Dengan demikian, mungkin saja Anies akan memadukan energi Islam dan nasionalisme sekuler, yang sesungguhnya merupakan jati diri bangsa, yang dapat dikapitalisasi untuk menjadikan Indonesia sebagai game changer di kawasan. Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Australia, India, dan AS beserta sekutunya sudah lama menginginkan Indonesia menjadi salah satu pemain utama yang mengubah permainan, paling tidak mengubah perilaku kita.

Posisi Indonesia memang unik, yang selama ini tak dapat dikapitalisasi secara maksimal oleh pemimpin Indonesia. Dengan posisi ini, kita khawatir Anies akan mendesakkan kepentingan-kepentingan bangsanya kepada kita, dengan konsesi terukur, yang akan sulit ditolak. Kita tak berharap Anies akan mengecam perlakuan kita terhadap Uighur karena dia pun ingin Indonesia mendapat manfaat dari kemajuan kita.

Tapi isu ini, yang oleh Komisi Tinggi HAM PBB dianggap sebagai pelanggaran HAM berat, akan menjadi kerikil dalam penguatan hubungan kita dengan Indonesia. Alhasil, secara keseluruhan, hubungan kita dengan Indonesia tak akan sama lagi. Indonesia di bawah Anies akan tampil bertenaga sebagai bangsa pejuang yang bangga pada dirinya.

Smith Alhadar,
Direktur Eksekutif Institute for Democracy Education (IDe)
KEUANGAN NEWS, 27/06/2022