Wednesday, April 14, 2021

Ratu Surga Lia Eden: Akhir Sebuah Teater Panjang?


Sastrawan Masdan suatu sore pergi ke bandara Halim Perdanakusumah untuk menjemput malaikat Jibril. Ia datang bersama selusin anggota lain jamaah Salamullah ciptaan Lia Aminduddin. Tidak jelas pesawat apa yang ditumpangi Jibril, tapi Paduka Baginda Lia Eden memastikan bahwa sang malaikat akan tiba sore itu.

Hingga pesawat terakhir mendarat, Masdan dkk tidak melihat Jibril. Semua penumpang yang turun adalah manusia. Ternyata Jibril memang batal mendarat sore itu. Baginda Lia Eden meralat infonya. Masdan dkk tidak kecewa. Pasti Paduka Lia sedikit meleset dalam akurasi info dari langit yang diterimanya. Paduka Lia adalah manusia biasa. Dan manusia adalah sarang kekeliruan dan kealpaan.

Tokoh panutannya itu mustahil berbohong dan hanya bermaksud mempermainkan Masdan dkk dengan menyuruh mereka ke bandara. Mereka pulang dengan senyum sabar, meski tanpa Jibril -- tokoh yang sejak lama memukau Masdan dan kadang menjadi objek lukisannya; ia juga pernah menulis cerita pendek "Setangkai Melati di Sayap Jibril", jauh sebelum ia menganut ajaran Salamullah.

Bertahun-tahun kemudian, Masdan, yang menjadi pengikut Lia Eden bersama isterinya, seorang psikolog dan penulis tekun yang menulis sejumlah buku anak-anak, menyatakan diri keluar dari Salamullah. Isterinya bertahan. "Dia lebih memilih Ibu Lia daripada saya," kata Masdan kepada saya tentang isterinya. "Saya keberatan dengan praktek-praktek yang menjurus pada penyiksaan diri. Tapi isteri saya tetap mau menerima dan menjalankannya. Akhirnya saya putuskan bercerai saja."


Ia menceritakan bentuk-bentuk penyiksaan diri itu; melibatkan pembakaran terhadap bagian-bagian tubuh tertentu, dengan doktrin: semua lubang adalah sumber setan dan kejahatan. Isteri Masdan meninggal beberapa tahun kemudian.

Apakah Masdan kemudian tidak percaya lagi pada Paduka Lia dan ajaran-ajarannya? Ia tak menjawab tegas. "Saya percaya isteri saya itu adalah Dewi Kwan Im," katanya dengan kalem, merujuk mitologi masyhur China kuno. Apakah dia masih percaya sampai sekarang, setelah keluar dari Salamullah dan bercerai dari Dewi Kwan Im? "Ya, saya masih percaya," Masdan tersenyum bijak.

Tak lama setelah pembatalan kedatangan Jibril, Dwidjo seorang anggota lain Salamullah mendapat perintah khusus -- juga bersumber pada bisikan yang didengar Lia Eden dengan telinga batinnya. Instruksinya spesifik: Dwidjo, pria berusia awal 50-an, seorang ahli kertas lulusan Jerman, harus mengabarkan bahwa dunia akan segera kiamat, dengan naik kuda di sepanjang Jalan Thamrin dan Sudirman.

Dan ia harus mengumumkannya dengan tiupan terompet -- tentulah diilhami sangkakala malaikat Israfil. Begitulah, di bawah terik matahari pukul 12, ia berkuda sendirian, menapak pelan-pelan di jalan utama itu dengan sekali-sekali meniup terompetnya. Tampaknya kemudian polisi menertibkannya. Tidak mengapa. Misi toh sudah dijalankan dengan baik. Sangkakala tanda kiamat akan segera tiba sudah ditiup bertalu-talu di sepanjang miracle mile itu.

Diantara para tokoh yang pernah menjadi bagian dari Jamaah Salamullah, Lia Eden.

Seperti semua ajaran serupa, Salamullah memiliki mekanisme ganjaran dan hukuman bagi pengikutnya, meski tampaknya bentuk-bentuknya belum dibakukan. Tapi salah satu hukuman lazim adalah larangan bicara. Dan itulah yang harus diterima Saif, seorang wartawan senior, bekas kolega saya di sebuah koran. Ia tak memberitahu pelanggaran apa yang telah diperbuatnya, tapi ia menjelaskan hukuman yang ditimpakan kepadanya: dilarang bicara selama sebulan penuh.

Bayangkan repotnya saya waktu itu, karena saya masih harus mewawancarai orang, bahkan memimpin rapat kepanitiaan yang saya ketuai di koran itu,” kata Saif -- nama samaran, seperti semua nama lain yang muncul di tulisan ini. Saif yang cerdas, ia sarjana teknik kimia, tak pernah kehabisan akal untuk mengatasi beban hukuman itu.

"Saya menuliskan pertanyaan di depan orang yang saya wawancarai," katanya, penuh kemenangan. "Saya juga memimpin rapat dengan menuliskan ucapan-ucapan saya di papan tulis." Semua peserta kebingungan. Rapat jadi agak tersendat. Tapi toh semuanya akhirnya berjalan lancar. Acaranya sukses. Jika ia tak menjalankan hukuman itu, sangat mungkin semua urusan Saif justeru akan semakin runyam. Jika memang salah, akui dan jalani saja konsekuensinya.

Tapi Saif keberatan ketika vonis larangan bicara itu dijatuhkan kepada anak anggota jamaah yang berusia enam tahun. Ia sangat prihatin, katanya. "Saya tidak tega, karena anak dalam usia segitu justeru sedang sangat ingin bicara banyak," katanya. Keberatannya tidak pernah sampai ke telinga Paduka Lia.

Para anggota Jamaah Salamullah, Lia Eden.

Saif, kawan saya sejak masa mahasiswa, memang orang baik yang mudah tersentuh hatinya, dan setia pada teman. Suatu hari ia datang ke kantor saya di Jalan Tendean Jakarta dengan tergopoh-gopoh dan wajah tegang. "Jakarta sebentar lagi tenggelam!" katanya, setengah berteriak, ketika saya temui.

"Ibu Lia mendapat wahyu bahwa akan ada banjir yang sangat besar, dan Jakarta pasti tenggelam," katanya lagi. "Kamu cepat-cepatlah mengungsi, mumpung masih ada waktu. Anak dan isteri saya sudah saya ungsikan ke Sukabumi." Kapan malapetaka itu akan datang? "Kira-kira dua minggu lagi." Maka Saif memanfaatkan waktu yang tersisa untuk mengabari sahabat-sahabatnya -- dan ia memilih untuk menyampaikan langsung, tak cukup lewat telepon.

Ketika banjir besar itu tak terjadi, Saif tidak minta maaf atas infonya yang telah membuat saya cemas; ia pun tak menjelaskan kenapa banjir besar itu batal. Tapi saya duga, seperti biasa: Paduka Lia kemudian menerima wahyu ralat pada menit-menit terakhir. Saif, seperti semua saudaranya sejamaah Salamullah, selalu punya kesanggupan mental dan intelektual untuk menerima versi apapun yang disampaikan Baginda Lia.

Hanya Madari, seorang kolumnis ternama, yang kemudian membangkang Paduka dengan keras dan keluar dari jamaah -- karena, katanya, Rp 60 juta uang miliknya hilang di markas jamaah itu di kawasan Senen, Jakarta Pusat. "Bajingan!" katanya berulang kali. Seorang rekannya, doktor ahli Islam, tetap menjadi pengikut Salamullah hingga meninggal dunia beberapa tahun lalu.

Rekan lain, juga seorang doktor dan dosen ahli Islam, dengan tak banyak ribut kemudian menjauhkan diri dari lingkaran Lia Eden. Ia harus dianggap melibatkan diri di sana untuk keperluan riset tentang fenomena spiritualisme di perkotaan. Case closed.

Sang Bunda Ratu Surga, Lia Eden, dengan berbagai macam pakaian kebesarannya.

Lia Aminuddin turut dalam arus mode pembuatan kerajinan bunga kering di pertengahan 1980-an. Ia makin serius menekuninya, hingga mendirikan perusahaan produsen bunga kering. Sebuah yayasan sosial yang menyantuni narapidana mengontaknya, memintanya mengajari para napi agar mereka punya keterampilan untuk mencari nafkah sekeluarnya dari penjara.

Lia memenuhi permintaan itu dengan sepenuh hati, dan tak lama kemudian para napi mampu menghasilkan produk bunga kering yang sesuai standar. Lia menampung hasil kerja mereka. Ia menggabungkannya dengan produknya sendiri dan menjualnya. Cepatnya perusahaan Lia mekar mencerminkan bisnis kembang kering itu mendatangkan profit yang baik.

Bisnis itu, juga pelatihan napi yang ditanganinya, terus berjalan lancar hingga awal 1990-an, ketika ia mulai yakin sedang berpacaran dengan jin -- jin laki-laki.

Semua sanggahan dan nasihat kawan dan kerabat agar ia kembali berpikir normal hanya memperkuat keyakinannya, dan kemudian mengklaim diri sebagai Bunda Maria -- sebelumnya ia hanya menyatakan sekadar berjumpa dengan figur yang disucikan oleh agama Kristen itu.

Keyakinannya mengalahkan semua nasihat dan keprihatinan orang-orang dekatnya tentang jalan hidup yang ditapakinya. Seiring surutnya bisnis kembang keringnya, ia terus menerima wahyu. Perlahan-lahan suatu lingkaran pengikut setia terbentuk.

Lia Aminuddin alias Lia Eden.

Seperti di India, Timur Tengah dan Afrika, misalnya, selalu ada saja yang percaya pada klaim superioritas spiritual seperti yang dinyatakan Lia. Mereka inilah yang segera menjadi pengikutnya, sambil rajin menularkan keyakinannya kepada siapa saja, membuat lingkaran pengikut Lia pelan-pelan melebar.

Mungkin Lia sendiri yakin jamaahnya suatu kali pasti membesar, sebagaimana banyak kelompok serupa yang dimulai dengan lingkaran kecil, kemudian sukses sebagai sistem ajaran mapan yang dianut oleh ratusan juta atau miliaran orang.

Dengan jumlah pengikut yang bertambah, meski tidak dalam rombongan-rombongan besar, karir spiritual Lia mulai diperhatikan publik ketika pada 1999 ia membuat perhelatan di Pelabuhan Ratu Sukabumi, untuk menantang penguasa Pantai Selatan yang sangat masyhur, Nyai Roro Kidul.

Ia memimpin shalat berjamaah di sana (ia belum punya sistem ritual sendiri), dan puncak acara adalah teriakan tantangan Lia, sambil menghunus sebilah keris. "Allahu Akbar!" pekiknya. "Lepaskanlah hamba dari kutukan Roro Kidul!" Keris 20 cm yang ditekankan di dadanya kabarnya melukainya; tapi beritanya tak muncul di media. Media juga tak menjelaskan apa sebetulnya yang telah dilakukan nyai terkenal itu kepada Lia, sampai ia merasa terkungkung oleh kutukan sang nyai.

Lia Eden dan sastrawan Danarto.

Dada Lia mungkin terluka, tapi liputan media dan dengan demikian perkembangan jamaahnya mendapat perhatian makin besar -- suatu iklan murah. Ia membangun markas di sebuah villa di Puncak, dan tak lama kemudian massa membakarnya habis karena keberatan dengan kegiatan Salamullah yang mereka yakini menyebarkan ajaran sesat. Ia memindahkan markas besarnya ke rumah pribadinya yang cukup besar di Senen.

Lia makin gencar memproduksi surat-surat wahyu untuk dikirimkan ke sejumlah orang dan instansi pemerintah. Organisasinya tertata makin rapi. Surat-surat berisi kabar gembira dan ancaman itu, sebagai konsekuensi logis jika seseorang atau suatu lembaga pemerintah tidak melakukan apa yang dianjurkannya, bisa setebal 50 halaman.

Surat-surat itu dicetak di atas kertas berkop "God's Kingdom" atau "Kerajaan Tahta Suci Tuhan". Seorang juru tulis yang piawai, Manhar, mantan aktifis politik yang gigih, dengan tekun mencatat dan mengedit ucapan-ucapan Lia untuk dikemas sebagai surat kepada publik. Manhar yang loyal total sangat terpukul ketika dua tahun lalu diusir oleh Baginda Lia dari markas, atas dosa yang tidak dia jelaskan kepada saya. Ia memohon ampun, tapi wahyu tak bisa ditawar. Ia terpaksa keluar, lalu menumpang di kamar indekos anak tirinya di dekat markas, agar ia tetap bisa dekat dengan markas yang masih menjadi tempat tinggal isteri dan dua anak kandungnya, sepasang gadis remaja kembar. Ia ingin terus mengabdi. Ia memohon agar tetap diberi kesempatan untuk sekadar menyirami tanaman di halaman markas Tahta Suci Tuhan. "Wahyu bukan objek untuk tawar menawar," kata Ratu Surga.

Sebagian anggota Jamaah Salamullah, Lia Eden.

"Saya tidak tahu bagaimana cara melanjutkan hidup," kata Manhar kepada saya. "Seluruh hidup saya berpusat pada jamaah. Saya sangat tidak siap menghadapi dunia luar."

Ia memang jarang sekali keluar markas -- suatu transformasi ekstrem untuk seorang aktifis politik yang pernah membentuk komite pemantau pemilu bersama sejumlah tokoh nasional. Kadang ia bersama beberapa anggota jamaah mengunjungi kawan-kawan lama. Tapi mereka tidak mau menyantap makanan dan minuman yang disuguhkan dengan gratis. Setidak-tidaknya mereka harus memberikan jasa kepada tuan rumah -- yang lazim adalah berupa pemijitan. Makanan dan minuman di rumah kawan adalah imbalan bagi jasa pijit yang mereka berikan.

Setelah tiga bulanan dipersona-non-grata-kan oleh Baginda Lia Eden, dan selama masa itu Manhar menumpang di rumah kakaknya di Cengkareng sambil membuka warung kecil, ia suatu sore dengan gembira mengabarkan kepada saya: "Alhamdulillah, saya sekarang sudah kembali ke jamaah. Ini nomor baru saya."

Orientasi hidup Manhar pulih, dan ia siap untuk kembali mencatat wahyu Paduka Lia, sambil menyelinginya dengan menyirami tanaman di markas Ratu Surga bersama isteri dan kedua puteri kembarnya.

Lia Aminuddin alias Lia Eden diiringi oleh para anggota jamaahnya.

Dua kali pemenjaraaan, masing-masing 2 tahun dan 2,5 tahun pada 2006 dan 2009, tak menyurutkan aksi-aksi spiritual Lia Aminuddin. Pada kasus pertama, ia dituduh dengan pasal penistaan agama. Ia ditangkap, dan kepada polisi yang menangkapnya ia mengajukan tawaran: bebaskanlah dirinya, dan sebagai imbalannya ia akan menghentikan luapan lumpur Lapindo Sidoradjo dan letusan Gunung Merapi Jogja. Majelis hakim mendengar tawaran simpatik itu, tapi mereka tetap berpegang pada bunyi undang-undang.

Siapapun yang peduli pada konsistensi akan kesulitan menghadapi Lia Eden. Klaim dan instruksinya, juga gelar-gelar yang ia sematkan kepada dirinya sendiri maupun kepada anggota-anggota utama jamaahnya, berubah-ubah.

Semula ia menyatakan dipacari jin dan berjumpa dengan Bunda Maria (tak perlu ditanyakan soal kaitan keduanya), kemudian dia sendirilah yang menjelma menjadi Bunda Maria. Tak lama kemudian ia menjadi Jibril, tapi posisi ini lalu dialihkan kepada orang lain. Ia sendiri kemudian duduk di singgasana Tahta Suci Tuhan, tanpa eksplisit mengklaim bahwa dialah Tuhan. Ia hanya menyatakan ada kerajaan di surga, dan dialah ratunya -- jadi lebih tepat disebut keratuan, bukan kerajaan.

Apakah Lia Eden berkehendak untuk meramu 3 agama besar?

Penampilan fisiknya pun berganti-ganti. Begitu juga kursi singgasananya. Ia pernah mencoba beberapa warna untuk jubah kebesarannya, hijau, coklat, lalu merasa mantap dengan putih, sama dengan busana resmi para anggotanya. Pakaian itu identik dengan ihram haji, bentangan kain 7 meter yang dililit-lilitkan begitu rupa hingga menjadi pakaian penutup aurat.

Ia pernah memakai tiara mahkota, lalu berganti dengan akar dan daun seperti yang dikenakan Yesus Kristus, dengan tongkat yang berganti-ganti pula -- dengan desain tiruan mentah atas benda-benda serupa di kerajaan-kerajaan sungguhan seperti Inggris atau Vatikan. Mungkinkah pembisiknya lebih dari satu malaikat, dengan selera artistik mereka masing-masing?

Ia juga pernah menggunduli habis rambutnya, seperti para bikhuni Budha. Persentuhannya dengan Budhisme ini cukup aneh, sebab program utama Lia (setidaknya salah satu yang utama, sebelum kemudian mungkin berubah) adalah mempersatukan Yahudi, Kristen dan Islam. Baginya, keterpisahan ketiganya itulah sumber segala masalah manusia, sebagai individu maupun warga global. Ia rupanya tak peduli dengan penganut agama-agama lain, yang jumlahnya tak kalah dari gabungan pengikut ketiga agama tersebut.

Penggunaan nomenklatur agama-agama mapan oleh Lia menunjukkan ia tidak sanggup menciptakan sesuatu yang sama sekali baru, meski ia mengklaim membawa ajaran yang berbeda dari semua agama yang pernah ada. Ia terutama tak mampu keluar dari nomenklatur agama yang diakrabinya sejak lahir, Islam. Maka ia meminjam Jibril, sangkakala Israfil, busana ihram, nama Salamullah -- meski nama ini kemudian terbenam oleh beberapa nama lain.

Lia Eden ingin mendatangkan Jibril dengan kendaraan UFO.

Sejak keluar dari penjara pada 2011, aktifitas publik Lia sangat berkurang. Produksi surat-surat kabar gembira dan ancaman nyaris berhenti. Reorganisasi internal kelompoknya pun tampak sudah semakin mapan. Dan seperti di dunia material, Lia Eden pun bertendensi dinastik. Yang dijadikan orang kedua dalam struktur ajaran dan organisasinya adalah anaknya sendiri, Ahmad Mukti, bukan orang lain, yang tampaknya telah mendapat posisi mapan sebagai Yesus Isa Almasih.

Mungkin lagu-lagu ciptaannya tetap mengalir. Jumlahnya beratus-ratus, menurut Saif. "Ajaib, Bunda Lia tidak bisa main piano, tidak mengerti musik, tapi mampu menciptakan banyak sekali lagu!" katanya, meyakinkan saya bahwa junjungannya itu memang mendapat sesuatu yang mukjizati dari luar sejarah. Jika tidak, mana mungkin ibu rumah tangga biasa itu mampu menciptakan karya seni yang memprasyaratkan kemampuan musik?

Setelah sekian lama surut, pada 2015 Lia mengirim surat 38 halaman kepada Presiden Jokowi. Ia minta izin agar lapangan Monas dibolehkan untuk dijadikan lokasi pendaratan pesawat UFO yang ditumpangi Jibril -- suatu penundaan yang cukup panjang sejak sastrawan Masdan menjemputnya di bandara Halim sekian belas tahun sebelumnya. Jibril, kata Lia, perlu datang di Jakarta untuk membereskan begitu banyak masalah yang dihadapi Indonesia.


Spiritualisme seperti yang dianut Lia memang sering menunjukkan minat besar pada urusan material, bahkan kadang dalam bentuk politik yang spesifik: ia pernah mendesak agar Ahok dijadikan presiden jika Indonesia ingin selamat.

Seperti terhadap semua figur sejenis, juga para dukun, fanatisme pengikut Lia Eden selalu sanggup menyediakan segala macam pembenaran bagi aneka inkonsistensi dan ketakterbuktian banyak nubuatnya. Mereka tetap percaya. Kami mendengar dan kami menaati, kata mereka, bahkan ketika apa yang mereka dengar berubah-ubah, dan mereka tak menemui kesulitan apapun untuk menaati instruksi yang berubah-ubah itu.

Kejutan terakhir muncul pada Minggu pagi, 11 April 2021. Jamaah Tahta Suci Tuhan mengabarkan: Paduka Baginda Lia Eden telah wafat dua hari sebelumnya, dan jenazahnya akan dikremasi -- ia, dalam usia 73, memilih cara Budha sebagai babak penutup hidupnya.


Dengan mangkatnya Ratu Surga, apakah teater panjangnya akan berakhir? Belum tentu. Banyak preseden tentang keberlanjutan teater serupa di mana-mana setelah kematian pendirinya. Apalagi Baginda Lia sudah lama menyiapkan anaknya sendiri yang potensial sebagai penerus ajaran.

Gereja Scientology di Amerika, misalnya, semakin makmur di tangan putera nabi Ron Hubbard. Anak-anak Sung Myung Moon, nabi Kristen yang pernah datang di Jakarta, melanjutkan pengelolaan gereja-gereja raksasanya (megachurch) di Amerika dan Korea Selatan, selain merambah banyak bisnis lain, termasuk industri dan perdagangan senjata.

Akumulasi modal Lia selama karirnya mungkin tidak sebesar Hubbard dan Pendeta Sung, karena itu kita belum tahu apa yang akan dikerjakan oleh para pengikutnya yang merasa hampa dan gelisah. Kita juga belum tahu apakah Jibril menghentikan bimbingannya setelah telinga batin Lia Aminuddin tak mungkin lagi dibisiki sesuatu.

Barangkali ajaran Tahta Suci Tuhan Salamullah Eden akan mengering, seperti bunga-bunga Lia Aminuddin.

Hamid Basyaib
Senin, 12 April 2021
https://www.facebook.com/hamid.basyaib

Tuesday, March 30, 2021

Crisis Countdown: Akhir sebuah Era?


Pada saat rakyat diteror Covid-19 dan berbagai bencana alam, cuaca ekstrim, dan kerusakan lingkungan akibat investasi ekstraktif ugal-ugalan, Pemerintah justru menerbitkan Perpres 7/2021 tentang Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme berbasis Kekerasan yang mengarah pada Terorisme. Pada saat kita membutuhkan modal sosial yang lebih besar, Perpres itu justru menggerogotinya dengan menimbulkan widespread distrust di antara warga negara.

Perpres itu menambah bukti bahwa Pemerintah makin otoriter sambil mengadu domba masyarakat dengan mengandalkan dukungan China dan 9 naga, sekaligus makin terlihat bermaksud menjadikan Republik ini sebagai satelit China dalam kerangka ambisi hegemoniknya melalui OBOR. Sementara mayoritas rakyat ditipu para buzzer bayaran, hal ini jelas tidak dikehendaki oleh AS dan sekutunya termasuk yang di Asia (Jepang, Korea Selatan, Singapura dan Australia). Indonesia harus tetap menjadi pasar bagi produk-produk Barat dan sekutunya, termasuk budaya dan alam pikiran Barat, serta sumber bahan baku bagi industri Barat.


Rakyat Indonesia akan tetap diperlakukan sebagai konsumen dan jongos baik oleh China maupun Barat. Jika China berhasil dengan agendanya di Indonesia, Umat Islam Indonesia akan di-Uyghur-kan karena merupakan potensi besar perlawanan terhadap dominasi China sejak dulu. Walaupun sikap Barat atas Islam mungkin tampak lebih bersahabat, dalam hal ini Barat memiliki kepentingan yang sama dengan China: melawan Islam sebagai musuh dalam skenario the Clash of Civilization and the New Crusades.

Seiring dengan eskalasi ketegangan di Laut Natuna Utara (Laut China Selatan), dan kekalahan AS dalam perang dagang AS-China, saat ini operasi intelijen Barat makin meningkat di Indonesia dalam upaya menghentikan dominasi China di Indonesia, jika perlu dengan menciptakan krisis lalu menjatuhkan rezim pro-China yang sedang berkuasa saat ini.

Berbeda dengan negara-negara berkembang di Afrika, Indonesia memiliki nilai geostrategi yang jauh lebih penting bagi kepentingan Barat. Memastikan Indonesia tunduk pada kepentingan AS adalah penting bagi pelestarian dominasi global AS.

Pertarungan antara 2 raksasa dunia, AS vs China, sementara Garuda Pancasila terjepit di tengah-tengah.

Barat akan memanfaatkan umat Islam untuk melawan China komunis, lalu meninggalkan umat Islam gigit jari jika terjadi pergantian rezim di Indonesia. Ini ibarat mendorong mobil mogok. Oleh karena itu, umat Islam sekarang harus menyiapkan agenda sendiri dan pemimpin muslim alternatif yang mampu memperjuangkan cita-cita proklamasi, yaitu menjadi bangsa yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Tidak boleh lagi umat Islam dimanfaatkan Barat sebagai pendorong mobil rezim yang mogok karena korupsi dan inkompetensi.

Agen-agen intelijen asing saat ini sedang mencari pemicu krisis yang paling efektif, mencoba melakukan penciptaan kondisi krisis. Penanganan covid-19 yang amburadul (tagihan biaya perawatan pasien Covid-19 di banyak rumah sakit mulai tidak dibayar Pemerintah), ekonomi yang makin terpuruk (hutang yang makin menggunung, PHK besar-besaran, pengangguran meningkat, banyak gagal bayar BUMN dan tunjangan PNS), korupsi yang makin menggurita, kesenjangan yang makin meningkat antara segelintir elite ekonomi dan massal rakyat yang makin kesulitan memperoleh sembako, akan meningkatkan resiko kerusuhan sosial.


Umat Islam Indonesia perlu segera melakukan konsolidasi secara mental dan fisik, bersatu melawan agenda nekolimik China dan Barat, lalu bersama semua patriot bangsa memperjuangkan perwujudan Republik Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Era rezim otoriter pro-China ini akan segera berakhir.

Prof. Daniel Mohammad Rosyid, PhD, M.RINA
Guru Besar Fakultas Teknologi Kelautan Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya.
Founder of Rosyid College of Arts

Gunung Anyar, Surabaya, 26 Januari 2021

Friday, February 26, 2021

Wakaf, Katolik, Dan Koperasi


Ketimbang menyerahkan dana wakaf kepada pemerintah, umat Islam perlu belajar kepada jemaah Katolik dalam mengelola dananya sendiri.

Dua tahun lalu, saya berkunjung ke Koperasi Keling Kumang di Sintang, Kalimantan Barat. Ini salah satu koperasi terbesar di Indonesia. Bermula dari credit-union, yaitu kerjasama simpan pinjam antarjemaah yang dimotori oleh Gereja Katolik, Keling Kumang tumbuh menjadi usaha bisnis yang besar.

Keling Kumang kini beranggotakan 170.000 petani dan punya aset senilai Rp 1,4 triliun. Mereka memiliki sistem perbankan sendiri, beberapa toko swalayan, hotel, sekolah SMK (dengan 1.000 lebih murid), dan bahkan bulan lalu meresmikan universitas - Institut Teknologi Keling Kumang.


Belum lama lalu, Keling Kumang juga membeli 100 hektare hutan primer untuk dilestarikan dan dijadikan objek ekowisata. Mereka tidak lagi cuma mencari uang, tapi bahkan sudah lebih jauh: menyelamatkan hutan tropis Kalimantan dari agresi investasi sawit. Mereka melakukan diversifikasi ke pertanian nonsawit: kakao, kopi, dan teh.

Ketika bisnis membesar, Keling Kumang juga bisa menarik sumber-sumber daya manusia muda dengan pendidikan bagus, termasuk alumni universitas luar negeri.

Keling Kumang sendiri dirintis antara lain oleh Munaldus Nerang (Liu Ban Fo), yang memperoleh gelar sarjana dari ITB dan pascasarjana dari sebuah universitas di Amerika.

Munaldus Nerang (Liu Ban Fo).

Kinerja bisnis anak-anak usaha Keling Kumang belum semuanya bagus, dan masih terbuka untuk disempurnakan.

Tapi, komunitas Suku Dayak di pedalaman Kalimantan ini membuka mata saya bahwa rakyat kebanyakan (petani) ternyata bisa mengembangkan kapasitas serta meningkatkan kesejahteraan ekonomi-sosial dengan sumber daya sendiri. Tanpa bantuan pemerintah, tanpa donor asing, tanpa investasi dari luar.

Keling Kumang adalah salah satu contoh koperasi bagus yang tidak cuma menghasilkan laba ekonomi tapi juga punya maslahat sosial serta kelestarian alam.

Keling Kumang adalah salah satu pengecualian dalam dunia perkoperasian di Indonesia: negeri dengan 200.000 koperasi, tapi sebagaian besar merupakan koperasi abal-abal karena dibangun dari atas.


Salah satu kunci sukses Keling Kumang adalah membangun koperasi dari bawah, bertumpu pada pondasi modal sosial para jemaah gereja di pedesaan.

Model ekonomi komunitas seperti itulah yang layak dipelajari oleh umat Islam, agar bisa memanfaatkan dananya, termasuk dana wakaf, benar-benar untuk kemaslahatan umat, khususnya di pedesaan.

Masjid-masjid desa semestinya menjadi pusat komunitas (community center). Masjid tak cuma tempat shalat tapi juga tempat petani dan nelayan membicarakan masalah sosial dan ekonomi secara berjamaah (bersama-sama), termasuk bagaimana memanfaatkan dana wakaf secara berdaya-guna.


Organisasi seperti NU, Muhammadiyah, Lazis, atau Dompet Dhuafa perlu memperkuat peran manajerial nazhir (pengelola dana wakaf), tapi bukan dalam bentuk seperti yang diinginkan pemerintah.

Melalui Gerakan Nasional Wakaf Uang yang tempo hari diluncurkan Presiden Jokowi, pemerintah cenderung akan mengiming-imingi para nazhir "capital gain" dari dana wakaf yang diputar di bursa saham dan obligasi. Itu akan menghisap dana dari bawah ke pusat-pusat kapital.

Ketimbang mengabdikan dana wakaf untuk kepentingan pemerintah maupun usaha besar, para nazhir harus diperkuat untuk bisa menginvestasikan sebagian dananya ke ekonomi lokal pedesaan, khususnya di sektor pertanian, perikanan dan kehutanan rakyat. Seperti konsep Koperasi Keling Kumang yang diilhami oleh Gereja Katolik.

Oleh: Farid Gaban
Kamis, 28 Januari 2021
Editor: Agus Dwi
RMOL.ID
https://rmol.id/read/2021/01/28/472606/wakaf-katolik-dan-koperasi