Showing posts with label Nabi Muhammad. Show all posts
Showing posts with label Nabi Muhammad. Show all posts

Tuesday, March 3, 2026

Membaca Konflik Sunni–Syiah sebagai Sejarah Kekuasaan


Pendahuluan
Konflik antara Sunni dan Syiah sering dianggap sebagai konflik teologis atau perbedaan aqidah. Padahal jika ditelusuri secara historis, akar konflik tersebut lebih banyak berkaitan dengan persoalan suksesi kekuasaan politik setelah wafatnya Nabi.

Peristiwa-peristiwa penting seperti pembunuhan Ali bin Abi Thalib, tragedi perang di Karbala, hingga rivalitas antara Iran dan negara-negara Arab saat ini adalah mata rantai panjang dari konflik bersejarah tersebut.

Dengan memahami sejarah secara utuh, kita bisa melihat bahwa konflik ini bukan sekadar soal perbedaan madzhab, tetapi juga persoalan politik, masalah dinasti, dan perebutan legitimasi kepemimpinan umat.


Awal Konflik: Perebutan Kepemimpinan Setelah Nabi
Setelah wafatnya Nabi Muhammad, umat Islam menghadapi pertanyaan besar: “Siapa pengganti Rasulullah yang berhak memimpin umat?”

Maka muncullah dua pandangan. Pandangan yang kemudian menjadi madzhab Sunni menyatakan bahwa pemimpin seharusnya dipilih melalui musyawarah umat. Dan melalui perdebatan yang alot dan keras, terpilihlah Abu Bakar sebagai khalifah pertama.

Yang kedua, pandangan yang kemudian menjadi madzhab Syiah berkesimpulan bahwa kepemimpinan umat seharusnya tetap berada dalam lingkup internal keluarga Nabi, yang kemudian diistilahkan dengan Ahlul Bait. Oleh sebab itu yang dianggap paling berhak adalah sahabat Nabi terdekat, yakni Ali bin Abi Thalib, sepupu dan sekaligus menantu Nabi.

Perbedaan ini pada awalnya belum menjadi perpecahan teologis, tetapi hanya merupakan perbedaan ijtihad politik tentang suksesi kepemimpinan paska Nabi.


Pembunuhan Ali dan Awal Konflik Terbuka
Setelah masa tiga khalifah sebelumnya, yakni Abu Bakar, Umar, dan Utsman, Ali akhirnya menjadi khalifah keempat. Namun pada masa pemerintahannya ini dipenuhi konflik tak berkesudahan, termasuk terjadinya perang saudara yang pertama dalam Islam, yang terkenal dengan istilah Perang Jamal (Perang Unta).

Pada tahun 661 M, Ali ––saat itu masih sebagai khalifah–– dibunuh saat shalat subuh di Kufah oleh seorang anggota kelompok ekstremis dan teroris Khawarij bernama Ibnu Muljam.

Kematian Khalifah Ali menjadi titik penting sejarah karena mengakhiri pemerintahan keluarga Nabi (Bani Hasyim) dan membuka jalan bagi dinasti politik baru dari keluarga Umayyah.

Penguasa berikutnya adalah Muawiyah bin Abu Sufyan, pendiri Dinasti Umayyah. Bagi sebagian pendukung Ali, inilah awal perampasan kekuasaan dari keluarga Nabi. Dari Bani Hasyim berpindah ke Bani Umayyah.

Lukisan yang menggambarkan perang dan Tragedi Karbala.

Tragedi Karbala: Luka Sejarah Syiah
Konflik di internal umat Islam mencapai puncaknya pada tahun 680 M. Ketika itu, cucu Nabi, Husain bin Ali, menolak berbaiat kepada khalifah dari Bani Umayyah, yakni Yazid bin Muawiyah. Akibatnya, rombongan kecil Husain dicegat oleh pasukan Umayyah dan dibantai di Karbala.

Tragedi memilukan ini memiliki dampak besar. Husain dan keluarganya dibunuh. Para perempuan keluarga Nabi dijadikan tawanan. Dan yang paling mengerikan, konon kepala (fisik) para syuhada yang dipenggal, dipertontonkan di kota-kota.

Bagi Syiah, Karbala menjadi simbol perlawanan terhadap tirani. Sementara bagi kalangan Sunni, peristiwa ini dianggap tragedi politik yang menyedihkan tetapi bukan menjadi dasar dan alasan bagi pembentukan teologi baru.

Namun secara psikologis, Karbala menjadi trauma kolektif bagi kalangan Syiah selama lebih dari 1300 tahun.

Peta persebaran kekuasaan Islam.

Dinasti-Dinasti dan Politik Madzhab
Setelah itu, sejarah Islam diwarnai oleh perebutan kekuasaan antar dinasti yang tak berkesudahan.

Beberapa contoh: Dinasti Umayyah, Dinasti Abbasiyah, Dinasti Umayyah di Andalusia, Dinasti Fathimiyah, Dinasti Ayubiyah, Dinasti Safawi, dan terakhir Kesultanan Turki Utsmani.

Pada abad ke-16, Dinasti Safawi menjadikan Syiah sebagai Madzhab resmi di Iran. Sejak saat itu, Iran menjadi pusat Syiah. Dan dunia Arab, mayoritas tetap Sunni.

Pada akhirnya perbedaan Madzhab kemudian berubah menjadi identitas geopolitik.

Pembunuhan Imam Ali dalam lukisan modern, berjudul "Kemartiran Imam Ali", hasil karya seniman Yousef Abdinejad.

Kekerasan Antar Madzhab dalam Sejarah
Konflik Sunni–Syiah tidak hanya terjadi satu arah. Contohnya, pada tahun 1802, pasukan Wahabi dari Najd menyerang kota Karbala dan membunuh ribuan penduduk Syiah serta menghancurkan makam Husain.

Di sisi lain, dalam berbagai periode sejarah juga terjadi penindasan terhadap kelompok Sunni di wilayah Syiah.

Ini menunjukkan bahwa konflik tersebut lebih merupakan konflik politik dan kekuasaan daripada konflik agama (madzhab) murni.


Iran Modern dan Revolusi 1979
Perubahan besar terjadi ketika Revolusi Iran 1979 menggulingkan rezim Shah Reza Pahlevi. Pemimpin revolusi kala itu adalah Ayatullah Rohullah Khomeini, yang kemudian mampu membangun negara Syiah modern.

Sejak saat itu Iran menjadi pusat kekuatan Syiah dunia. Iran juga mendukung kelompok Hizbullah di Libanon Selatan, kelompok Hamas di Jalur Gaza, dan menantang dominasi Barat dan Israel di Palestina.

Konflik dengan negara-negara Sunni meningkat karena Arab Saudi dengan Madzhab Wahabi-nya memimpin blok Sunni dan Iran memimpin blok Syiah. Walaupun sebenarnya hal ini lebih bisa dipahami sebagai persaingan geopolitik regional.

Mohammed Abdul-Salam (kiri), juru bicara kelompok Houthi dari Yaman, bertemu Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei di Teheran, Selasa (13/8/2019). Tulisan Arab di tengah adalah semboyan Houthi bertuliskan "Allahu Akbar, Matilah Amerika, Matilah Israel, Terkutuklah Yahudi, Kemenangan untuk Islam".

Konflik Timur Tengah Hari Ini
Hari ini konflik Sunni–Syiah terlihat dalam berbagai konflik regional. Contohnya, perang di Yaman antara pemberontak Houthi yang didukung Iran melawan pemerintah Yaman yang didukung koalisi militer pimpinan Arab Saudi. Demikian juga konflik di Suriah serta rivalitas dominasi geopolitik di Timur Tengah antara Iran versus Arab Saudi.

Iran membangun jaringan kekuatan regional melalui kelompok sekutu, sementara negara Sunni membangun pula koalisi tandingan.

Bahkan baru-baru ini pemimpin tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei dilaporkan tewas dalam serangan militer gabungan Amerika dan Israel, yang menandai eskalasi besar konflik geopolitik di kawasan tersebut.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa konflik Timur Tengah tidak hanya soal agama atau madzhab belaka, tetapi sudah komplikasi yang berkaitan dengan geopolitik dan dominasi kekuasaan global.


Pelajaran Sejarah
Jika melihat sejarah panjang ini, kita dapat menarik beberapa pelajaran. Konflik Sunni–Syiah bermula dari suksesi politik kepemimpinan. Lantas Tragedi Karbala memperdalam luka sejarah. Dinasti-dinasti Islam kemudian menggunakan madzhab sebagai alat legitimasi kekuasaan. Dan di era modern, konflik tersebut berubah menjadi persaingan geopolitik regional.

Dengan kata lain, persaingan Madzhab sering menjadi simbol, tetapi konflik utamanya adalah masalah politik kekuasaan.

Ada yang tak suka bila Sunni dan Syiah kompak bersatu.

Penutup
Dari pembunuhan Ali bin Abi Thalib, tragedi Pertempuran Karbala, hingga rivalitas Iran dan negara-negara Sunni saat ini, sejarah menunjukkan bahwa konflik dalam dunia Islam sering kali berkaitan dengan perebutan legitimasi kepemimpinan.

Namun jika kembali kepada Al-Qurân, kitab ini tidak pernah membagi umat Islam menjadi Sunni atau Syiah. Bahkan istilah “Syiah” dalam arti golongan pendukung yang positif, dialamatkan kepada Nabi Ibrahim yang termasuk dalam golongan pendukung Nabi Nuh.

وَاِنَّ مِنْ شِيْعَتِهٖ لَاِبْرٰهِيْمَ
"Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongannya (Nuh)."
[Ash-Shȃffȃt (37): 83]

Kata “Syiah” dalam arti golongan atau kelompok-kelompok dengan pengertian yang negatif karena berpecah-belah, Al-Qurân menyatakan demikian.

إِنَّ ٱلَّذِينَ فَرَّقُوا۟ دِينَهُمْ وَكَانُوا۟ شِيَعًا لَّسْتَ مِنْهُمْ فِى شَىْءٍ ۚ إِنَّمَآ أَمْرُهُمْ إِلَى ٱللَّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُم بِمَا كَانُوا۟ يَفْعَلُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka menjadi bergolong-golongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu (Muhammad) kepada mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.
[Al-An'ȃm (6): 159]

Tatang Muhajir Isnaini
Pegiat Studi Al-Qurân dari Bekasi
Admin Saluran WAWASAN ALQURAN

Selasa, 3 Maret 2026

Sunday, February 16, 2025

Aku Sakit, Kau Tak Menjengukku


PADA saat heningnya malam itu, kawan saya tiba-tiba bertemu dengan Nabi Muhammad. Ia kaget setengah mati. Bahkan sangat canggung sikapnya. Barangkali takut, atau, lebih tepat, ia dihinggapi semacam rasa pekewuh yang amat merepotkan hatinya.

Nah, sahabatku,” berkata Nabi, “Kamu sebenarnya sayang sama aku atau tidak, sih?

Agak gelagapan kawan saya menjawab pertanyaan Nabi, “Sayang sih, sayang wahai Nabi ....

Kenapa kamu tidak pernah ingat aku? Kenapa kamu tidak pernah menyebut namaku?

Aduh, Nabi, gimana yaaa, ...” ia gemetar, “bukannya tidak cinta. Tapi mana sempat, ya, Nabi. Waktuku terkuras habis, bahkan kurang, untuk mengingat-ingat Allah dan menggumam-gumamkan nama-Nya. Tiap saat. Tiap detik. Tiap sekon. Tidak ada sela-selanya lagi buat yang lain. Ampuni aku, Nabi. Waktuku benar-benar sudah tidak ada, digantikan oleh Allah. Juga tak ada lagi ruang bagi yang selain Ia. Mulutku, darah dan urat syarafku, hati dan jiwaku seakan sudah hilang lenyap. Tinggal Allah. Allaaah melulu ....


Sungguh tidak enak rasanya. Kawan saya merasa posisinya sangat ruwet. Sebetulnya ia ingin menjelaskan lebih panjang lebar lagi, tapi mungkinkah Kanjeng Nabi Muhammad, Rasul Sakti pamungkas segala derajat ilmu itu, tak mengetahui apa yang ia ketahui?

Misalnya, bukankah Muhammad sendiri yang menganjurkan agar kita umat manusia tidak menumpahkan seluruh hidup mati ini kepada yang selain Allah. Kalau bocor sedikit saja, syirik namanya. Wajah Muhammad tidak boleh kita gambar. Bukankah itu berarti segala apa pun sirna di hadapan Allah? Memangnya apa yang sungguh-sungguh ada selain Ia?

Pada masa mudanya kawan saya itu selalu bertanya: Mengapa orang-orang tua selalu menganjurkan agar kita membaca selawat Nabi dalam situasi-situasi bahaya? Kok aneh. Kalau pesawat oleng, kalau ada dar-der-dor di sana-sini, kalau ada bahaya mengancam, kok malah disuruh membaca selawat yang mendoakan keselamatan Muhammad. Padahal justru kita yang perlu selamat. Sedangkan Muhammad sendiri sudah jelas selamat, terjaga, terpelihara, terpilih di singgasana paling karib di sisi Allah.


Akhirnya, kawan saya memperoleh penjelasan bahwa konteks berselawat adalah keseimbangan jual beli kita semua dengan Muhammad. Semacam take and give. Kita mendoakan Muhammad, berarti kita “pasang radar” untuk memperoleh getaran doa Muhammad bagi keselamatan seluruh umat-Nya. Muhammad itu agung hatinya, amat kasih kepada semua “anak buah”-Nya di muka bumi, amat merasakan segala situasi hati kita, duka derita kita semua.

Kawan saya itu bingung: Tuhan menciptakan seluruh alam semesta ini seolah-olah hanya untuk suatu permainan birokrasi. Sudah jelas semua manusia, bebatuan, pepohonan, angin, langit, jin druhun prayangan, tidak bisa tidak kembali kepada-Nya, tetapi itu harus ditempuh melalui berbagai aturan permainan sandiwara dan kode etik pengembaraan yang dahsyat di satu pihak dan sepele di lain pihak.

Maka, di tengah kegalauan rasa pusing filosofis, permainan bahaya politik, ekonomi dan budaya, serta di tengah simpang siur rahasia hidup yang maha tak terduga, kawan saya itu akhirnya memutuskan untuk memusatkan diri pada Allah saja. Allah, Allaah, Allaaah terus sampai melewati liang lahad, alam barzakh, dan seterusnya nanti.


Tiba-tiba Kanjeng Nabi Muhammad nongol ... menagih cinta. Alangkah tak enak posisi macam ini!

Apa yang terjadi! Ternyata Beliau malah tertawa. “Kamu kok kelihatan takut, sahabatku. Mengapa?

Aku merasa pekewuh, Nabi ....

Nabi tertawa lagi. “Mengapa pakai pekewuh segala? Mungkin kamu orang Jawa, ya? Kamu pikir aku bakal marah atau tersinggung, ya, karena kamu tidak ada waktu lagi untuk ingat aku?

Kawan saya tersipu-sipu.

Coba, apa sih bedanya kamu ingat Allah dengan ingat aku?” berkata Nabi. “Kalau kau menumpahkan seluruh hidupmu untuk Allah, cukuplah itu, sama saja ....


Mendadak Muhammad lenyap dari hadapannya. Kawan saya menarik napas lega. Haihaaata! Ini pertemuan agung, pertemuan agung!

Sebenarnya sudah bisa diduga bahwa Nabi anggun dari Timur Tengah itu bukan tipe manusia cerewet atau pencemburu yang membabi buta. Ia empan papan, dan mengerti inti jagat.

Tapi diam-diam ada yang tetap mengganjal di hati kawan saya. Itu berkaitan dengan rahasia hati yang amat diyakininya, namun belum pernah satu kali pun ia ungkapkan, apalagi kepada manusia, baik di pasar maupun di mesjid.

Pintu rahasia itu pada akhirnya jebol, pada suatu hari, tatkala Allah bertanya kepadanya, “Hai, sebenarnya kamu itu sayang Aku atau tidak, sih?

Modarlah kawan saya. Ketika ia menjawab, “Sayang sih, ya sayang ....” Tuhan terus mengejarnya, persis seperti yang dilakukan oleh Muhammad. “Mengapa kamu tidak pernah ingat Aku? Kenapa kamu tidak pernah menyebut nama-Ku?


Dalam rasa takut yang amat puncak, kawan saya nekat, “Begini, ya, Tuhan. Aku ini orang melarat. Sekolah saja tidak pernah rampung. Kalah terus-menerus di segala persaingan, terutama dalam bidang cari pekerjaan. Makan minumku tak menentu. Bahkan tempat tinggalku juga selalu darurat. Padahal, aku juga tahu amat banyak saudaraku yang sama melaratnya dengan aku, bahkan banyak yang jauh lebih melarat. Aku juga melihat banyak hal yang tidak benar yang dilakukan oleh penguasa-penguasa manusia dalam manajemen alam semesta ini. Dalam persoalan ini, Tuhan ‘kan jauh lebih mengerti dibandingkan dengan aku. Jadi, aku tidak perlu omong soal kemiskinan struktural, monopoli ekonomi, atau kebudayaan jahiliah modern. Seandainya bisa, aku ini maunya sih, punya tangan yang besar, panjang, dan kuat, sehingga mampu mengatasi semua problem ketidakadilan dan ketidakbijaksanaan itu."


Tapi aku, Tuhan ‘kan tahu, tidak punya tangan. Aku tak memiliki kaki. Darahku tak begitu merah lagi. Tulang-belulangku tak lebih dari hanya kayu-kayu kering. Mulutku terbungkam. Aku hanya tinggal memiliki hati untuk menangis.

Tapi aku tidak boleh menangis, bukan? Seluruh waktuku, tenagaku, hidupku, ruang usiaku terkuras habis oleh hal-hal yang kusebutkan itu. Lalu bagaimana mungkin aku sanggup melunasi utang cintaku kepada-Mu? Apakah Engkau masih butuh untuk kuingat dan kusebut nama-Mu?

Aku ini lapar, kau tidak memberiku makan. Aku ini sakit, kau tidak menjengukku. Aku ini kesepian, kau tidak menyapaku ....
” Allah tersenyum. Kalimat-kalimat terakhir itu adalah kata-kata-Nya sendiri.

YK, 4 Februari 1989

Dikutip dari buku “Slilit Sang Kiai,” Emha Ainun Nadjib, Penerbit PT Pustaka Utama Grafiti, Cetakan Ketiga, Mei 1992, hal. 10.

Aslinya dimuat di: Majalah TEMPO, Edisi: 49/18 / Tanggal: 1989-02-04 / Halaman : 27 / Rubrik : KL


Kalau Aku Sakit, Jangan Menjenguk

Tuhan menginformasikan suatu ketegasan salah satu bagian dari ketentuan ciptaannya:

عٰلِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلٰى غَيْبِهٖٓ اَحَدًاۙ ۝٢٦

(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu.
[Al-Jinn (72): 26]

Maka saya tidak bisa melihat hantu, Jin atau Setan. Apalagi Malaikat. Kalau bersama KiaiKanjeng sering diminta mengusir hantu misalnya di Canberra Australia, Roma Italia atau London Inggris dll, itu tidak berarti saya tahu hantu, bisa melihatnya, bisa berkomunikasi dengan mereka, bahkan bisa bernegosiasi atau mengusir mereka dari suatu tempat.


Juga saya tidak punya kemampuan untuk melihat serangan rudal santet atau sebaran tenung, seperti yang KiaiKanjeng alami di Mandar menjelang Pilgub, di Tuban sesudah Pilgub, atau di Karanganyar dan Sukoharjo meskipun tak ada kaitannya dengan pemilihan pejabat apapun. Atau yang terparah yang membuat saya divonis oleh teman-teman Dokter di RS Sardjito UGM Yogya bahwa umur saya paling lama tinggal 3,5 bulan karena hyperteroid parah dan onderdil-onderdil pengolah makanan di tubuh saya sudah hancur hitam legam dihajar dengan uranium.

Saya bukan ustadz ruqyah, bukan dukun pengusir hantu, mistikus penyembuh orang kerasukan. Bukan pula ahli kebatinan atau pakar roh, meskipun banyak dikeluhi dan didesak untuk kegiatan semacam itu. Sesungguhnya saya tidak mengerti apa-apa. Saya hanya menjalankan kewajiban silaturahmi, mempersambungkan terselenggaranya dialektika kasih sayang dan keselamatan di antara sesama manusia.


Seorang perwira militer sakit parah dan sudah sekarat di RS Sardjito tapi tidak kunjung meninggal. Menurut kabar burung orang yang punya simpanan ilmu sakti di badannya, itu bisa menjadi penghalang atau menunda momentum kematiannya. Mana saya tahu. Saya diminta menangani keadaan itu, dan saya datang dengan niat menolong sesama manusia. Saya berkonsentrasi dan berdoa sebisa-bisa saya, kemudian setelah 15-20 menit yang bersangkutan dicabut nyawanya.

Istri almarhum berterima kasih kepada saya dan bertanya: “Berapa biayanya, Pak?” Saya tidak bisa menjawab, kecuali langsung ngacir pergi. Rupanya pengalaman masyarakat membuat mereka berkesimpulan bahwa hal-hal seperti itu adalah masalah profesional. Dan beliau meminta tolong saya dalam konsep bahwa saya adalah dukun profesional.


Berikutnya saya terbang khusus dari Yogya ke Jakarta karena keluarga seorang penyanyi yang sedang koma di RS Pondok Indah minta tolong kepada saya. Saya datang, tanpa pengetahuan dan kemampuan batin apa-apa, ternyata yang bersangkutan lantas meninggal sekitar 20 menit sesudah saya datang. Mereka berteriak-teriak menangisi almarhumah, pihak Rumah Sakit segera memindahkan tubuhnya ke ruang jenazah, diikuti oleh semua keluarganya, sehingga mereka terlupa bahwa di ruangan itu ada saya.

Saya pun ngeloyor pergi. Pindah ke RS Persahabatan di Rawamangun untuk melakukan pekerjaan yang sama. Berikutnya pindah ke RSPAD, seorang Ibu berproses sampai meninggal, dan kemudian saya menitipkan seadanya uang di dompet saya kepada sang suami. Besok lusanya saya mengantarkan istri saya Novia Kolopaking tugas nyanyi di sebuah Gedung, bersama panyanyi Krisdayanti. Sebelum naik panggung, Kris membisiki saya: “Cak, kapan kalau saya sakit tolong Cak Nun tidak usah datang menjenguk.

Lho kenapa?” saya bertanya. Kris menjawab: “Saya mendengar dari teman-teman bahwa kalau ada orang sakit dijenguk Cak Nun lantas meninggal dunia.


Pada kesempatan lain seorang wanita muda dalam keadaan hamil sekitar 5 bulan datang ke Patangpuluhan, mengeluhkan keadaannya dan pasrah bongkokan kepada saya. Seorang teman yang berprofesi pengacara saya mintai tolong menyiapkan kamar untuk tempat tinggal wanita hamil itu. Kan tidak mungkin dia tinggal di kamar saya di Patangpuluhan. Saya support biaya bulanannya sampai saat nanti dia melahirkan.

Banyak orang berpikir bahwa sayalah pasti yang menghamili wanita itu. Sebab kalau tidak, kenapa mau mengurusinya dan membiayainya. Tiba saatnya kelahiran saya bawa ke RS Panti Rapih. Ternyata bayinya sungsang. Saya mengajak Pathing atau Fatih, anggota Sanggar dan Teater Salahuddin yang menemani saya di Patangpuluhan ke Panti Rapih. Kami berdoa bersama memohon kepada Allah agar posisi bayi dinormalkan sehingga kelahirannya pun lancar. Sebab kalau harus pakai operasi caesar, saya harus menandatangani surat pernyataan kesediaan atas nama keluarga si pasien. Dan itu tidak mungkin saya lakukan. Alhamdulillah Tuhan tidak tega kepada saya, sehingga posisi bayi diubah oleh Malaikat dan kemudian kelahiran berlangsung normal.

Cak Nun dan Cak Fuad.

Tapi ternyata setelah bayi lahir sampai beberapa lama, Ibunya tetap tidak mau pergi. Tetap “nggandhol nasib” kepada saya. Akhirnya saya minta Imam Syuhada adik ipar saya untuk melacak latar belakang anak ini. Imam pergi sampai menemukan kampung wanita ini di sebuah desa di Kabupaten Pati. Imam bisa menemukan keluarganya, dan info bahwa anak ini ternyata dihamili oleh Pak Lurah. Keluarganya saya ultimatum untuk datang menjemput anak itu dan diajak kembali ke kampungnya. Puji Tuhan yang memudahkan semua proses pamungkas urusan wanita hamil ini.

Saya tidak mungkin mencatat semua, mendokumentasikan peristiwa-peristiwa semacam ini, termasuk ribuan orang terutama Jamaah Maiyah yang bermimpi saya temui. Bahkan saya ajari kalimat-kalimat wirid, yang ketika ketemu darat, dikonfirmasikan ternyata merupakan untaian wirid yang saya sendiri belum tentu mengetahuinya.

Emha Ainun Nadjib
Dikutip dari: CakNun.com dalam Rubrik Kebon No. 163. Terbit 14 April 2021


Kekasih Tak Bisa Menanti

Lirik : Emha Ainun Nadjib
Lagu: Harry Tjahjono
Album: Taubat (1997)

Akhirnya ‘kan sampai di sini
Di amanat Ilahi Rabbi
Orang-orang tak bisa lagi menanti
Zaman harus segera berganti pagi

Aku tangiskan teririsnya hati
Para kekasih di dusun-dusun sunyi
Terlalu lama mereka didustai
Sampai hanya Tuhan yang menemani

Tuhan
Sudah tidak bisa diperpanjang lagi
Kesabaran, ketabahan
Sesudah diremehkan dan dicampakkan

Ya Allah
Wajah-Mu terpancar dari derita mereka
Bukakanlah Ya Allah
Rahasia sesudah maut yang tak terduga itu
Datanglah kelahiran yang baru

Akhirnya akan sampai di sini
Di arus gelombang yang sejati
Kalau perahu kami adalah tangan-Mu sendiri
Tak satu kekuatan bisa menghalangi

Ya Allah
Sudah tidak bisa diperpanjang lagi
Kesabaran mereka, ketabahan mereka
Sesudah diremehkan dan dicampakkan

Tuhan
Wajah-Mu terpancar dari derita mereka
Bukakanlah Ya Allah
Rahasia-Mu Ya Allah
Sesudah maut yang tak terduga itu
Datanglah kelahiran yang baru
Datanglah kelahiran yang baru


YouTube:
https://www.youtube.com/watch?v=UvJAkGAPSas

Thursday, May 19, 2022

Al-Quran Turun Sekaligus, yang Bertahap itu Penyampaiannya



BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Al-Qurȃn yang “turun” kepada Muhammad semacam software yang di install ke komputer. Semuanya, sekaligus. Tidak berhuruf. Tidak bersuara. Sedangkan aktual penyampaiannya (pembacaan lahiriah ayatnya) baru dilakukan secara berangsur-angsur, sesuai konteks kejadian, sebab dan kebutuhan.

Al-Qurȃn yang turun itu hanya “setitik tinta” (Nun), yang mengandung semua hal. Atau juga, maaf, seperti setetes sperma yang mengandung semua informasi dan struktur tentang manusia.

Jadi, Al-Qurȃn batiniah itu sangat sederhana. But, it encompasses the whole things. The story of everything. Seluruh rahasia alam semesta ada padanya. Dengan demikian, Al-Qurȃn yang asli merupakan Tuhan itu sendiri. Sederhananya, Kalam Ilahi. Pengetahuan Dia. Ya, Dia juga.


Dengan demikian, ketika Al-Qurȃn “turun” kepada Muhammad, Muhammad berubah menjadi Al-Qurȃn. Jadi ‘Tuhan’ (wahdah al-wujud). Jadi Kalam-Nya. Maka tak heran, seluruh ucapan, gerak gerik dan diamnya Muhammad bernilai suci (maksum). Muhammad menjadi dimensi, sinyal atau frekuensi (tajalli) ketuhanan itu sendiri. Keseluruhan diri Muhammad menjadi Wahyu (hadits). “Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain adalah wahyu yang diwahyukan” (QS. An-Najm: 3-4).

Jadi, malam “turunnya” Al-Qurȃn adalah malam turunnya Malaikat dan Ruh. Sebenarnya, Al-Qurȃn yang bersifat batiniah memang Malaikat dan Ruh.

Jangan selalu membayangkan malaikat itu semacam manusia yang bersayap. Jangan. Malaikat itu “sinyal ilahiah”. Kode-kode supra-kosmik yang mengandung energi dan informasi-informasi suci. Malaikat itu frekuensi, sinyal-sinyal ketuhanan. Muraqabah. Ia hidup. Ia juga disebut “cahaya”. Bahkan cahaya Tuhan itu sendiri. Sangat murni, powerful dan halus sekali.


Kalau anda “didatangi”, mampu menangkap atau tersambung dengan malaikat; anda akan mendapat sinyal (pengetahuan-pengetahuan), wahyu atau ilham dari Tuhan. Ilmu laduni itu sendiri sebenarnya adalah ilmu bagaimana cara jiwa kita dapat “naik” (ittihad) ke alam malakut. Atau cara agar kekuatan-kekuatan malakutiyah bisa hadir, turun (hulul) ke jiwa kita. Kalau terhubung dengan malaikat, berarti anda sudah mulai terhubung dengan Tuhan. Karena, malaikat itu (sinyal/pesan/wakil/utusan) Tuhan. Kalau anda sudah memperoleh sinyal (malaikat) Tuhan, ya anda jadi malaikat. Jadi pembawa pesan Tuhan. Jadi Jibril ‘alaihissalam (Ruh). Terserah anda punya sayap atau tidak.

Kemudian, ketika disebut Al-Qurȃn itu “turun” kepada Muhammad, anda harus tahu siapa itu Muhammad. Muhammad itu bukanlah sekedar Muhammad sebagai makhluk biologis, “basyar”. Melainkan Muhammad sebagai makhluk spiritual, “insan wahyu” (QS. Al-Kahfi: 110).


Dalam pengertian terakhir ini, Muhammad adalah “jiwa universal”, sosok bumi yang sudah membumbung ke alam ukhrawi. Muhammad yang sudah menempuh perjalanan spiritual (suluk/khalwat) adalah Muhammad yang jiwanya telah terhubung ke pusat server pengetahuan alam semesta (Lauh Mahfudz). Jaringan atau matriks ruhaninya sudah sampai disana. Disitulah Al-Qurȃn, Asma dan Pengetahuan Tuhan tersimpan. Tidak ada yang mampu menjangkau area rahasia qurani ini, “kecuali oleh orang-orang yang disucikan” (QS. Al-Waqiah: 79). Di sini disebut “orang-orang”. Artinya bukan Muhammad saja. Siapa saja yang bersedia menempuh jalan kesucian, akan mampu “menyentuh” alam Quran yang hakiki. Alam mukjizat. Alam malakut, alam ketuhanan itu sendiri.

Makanya para pewaris nabi, para imam dan wali-wali juga dilabeli “suci” (maksum). Karena pada kadar tertentu mampu menjangkau batin atau kekeramatan Al-Qurȃn. Lisannya sudah terkoneksi dengan alam Ruh. Sehingga, bacaan Al-Qurȃn mereka mampu mengusir jin dan setan. Mampu membelah laut dan melahirkan banyak keajaiban supra-rasional. Bahkan diri mereka sendiri sudah jadi “Al-Qurȃn”. Kullu jasad-nya karamah. Sampai bumi pun takut untuk memakan jasadnya. Disini kita paham, bahwa Al-Qurȃn adalah diri imam. Imam adalah Al-Qurȃn.


Maka jangan dikatakan syirik kalau ada orang yang mengumpulkan rambut, kuku, baju, atau sandal milik Nabi dan orang-orang suci. Semua itu berdimensi Al-Qurȃn. Ada pancaran energi ilahiahnya. Bahkan makamnya pun bernilai suci. Seperti sucinya tembok Kakbah. Padahal itu cuma tembok. Tapi ada elemen az-Dzikr yang larut dalam itu semua.

Ingat, Quran yang “asli” bukan kertas dan huruf-huruf yang dicetak oleh perusahaan Arab, Turki, China atau Jerman. Tapi yang di alam Ruh. Yang tidak berhuruf dan bersuara. Tidak ada tajwid dan lantunan. Tidak ada irama dan langgam. Maka sucikanlah ruh kita, sehingga ruh rendah kita akan tersambung dengan Ruh yang lebih tinggi (Ruhul Quddus), yakni esensi Al-Qurȃn.


Jadi, itulah sedikit uraian untuk menengahi perdebatan “turunnya” Al-Qurȃn. Apakah menyeluruh dan sekaligus, sebagaimana terindikasi dari kata “inzal” dan “hu” (anzalna”hu” -QS. Alqadar: 1, QS. Al-Baqarah: 185); atau berangsur-angsur seperti tersurat pada kata “tanzil” (QS. Al-Isra: 106) dan “tartil” (QS. Al-Furqan: 32-33). Batin Al-Qurȃn turun sekaligus ke “langit bumi” (“dada” Muhammad). Sementara lahiriah penyampaiannya kepada umatnya memerlukan waktu sampai 22 tahun, sesuai kebutuhan. Butuh kasus untuk mengaktualkan masing-masing ayat.

Sesungguhnya, Al-Qurȃn itu bukan hanya 6236-an ayat yang tercatat dalam 30 juz. His ayat is limitless. Kalam Tuhan tidak terbatas. Ia terus berbicara sepanjang zaman. Bagi yang mampu mendengar. Bagi yang mampu menemukan.

Demikian refleksi kami, yang senantiasa mengharap bimbingan Ruh Suci Kekasih-Nya, pada 29 Ramadhan 1441 H ini. Semoga amal ibadah kita diterima Allah SWT.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.

Said Muniruddin
Rector The Zawiyah for Spiritual Leadership
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web: saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG: @saidmuniruddin

Tuesday, January 29, 2013

Pikiran Benih Perbuatan


Orang Inggris punya ungkapan: You are what you think. Pepatah Arab mengatakan: Innamal afkaru ummahatul a’mal. Sesungguhnya pemikiran itu induk perbuatan. Telah banyak kajian psikologi dilakukan yang hasilnya membenarkan formula di atas.

Bahwa perbuatan seseorang itu pada mulanya berakar pada pemikiran. Orang yang selalu berpikir untuk menjadi orang kaya, maka dia akan lebih peka melihat setiap peluang usaha dan tindakan yang mendatangkan kekayaan. Begitu pun orang yang pikirannya selalu ingin korupsi dan maling, maka yang dicari adalah peluang untuk mewujudkan pikirannya dalam tindakan nyata.

Kalau seseorang dalam pikirannya tidak ada pikiran untuk mencuri, kalaupun ada peluang, maka dia tidak akan tergerak karena memang dalam hati dan pikirannya tidak ada ketertarikan ke arah sana. Hubungan antara pikiran dan orientasi tindakan sangatlah mudah diamati dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan terdekat. Dalam dunia kampus, mahasiswa yang tengah menulis skripsi atau disertasi akan sangat familier dan peka dengan urusan literatur yang mendukung risetnya.


Tukang ojek yang pikirannya selalu mengharapkan penumpang, matanya sangat peka kalau ada orang yang membutuhkan jasa ojek. Demikianlah, betapa dekatnya hubungan antara pikiran dan tindakan, sehingga para orang bijak, pendidik, bahkan kitab suci, selalu mengajarkan agar cawan hati dan pikiran jangan sampai diisi untuk menampung sampah berupa pikiran dan keinginan yang kotor. Lebih celaka lagi, jangan sampai kita menjadi pemulung sampah pikiran dan emosi sebagai bahan gosip yang sama sekali tidak produktif, bahkan destruktif.

Di era keterbukaan dan ketersediaan media komunikasi semacam telepon seluler, Facebook dan Twitter, mudah sekali dijumpai sampah-sampah pikiran dan emosi yang pada urutannya akan menggerakkan tindakan. Perilaku porno dan kejahatan seksual pada awalnya berada dalam pikiran yang dipasok oleh sampah-sampah informasi.

Penelitian psikologi mengatakan bahwa pikiran dan imajinasi yang tertampung dalam sel-sel otak sesungguhnya tak ada bedanya apakah itu sekadar imajinasi atau realitas empiris. Semuanya terekam dalam sel-sel syaraf otak yang disebut synapses. Jadi ketika otak membayangkan sesuatu, hal itu telah terjadi pada tataran imajinasi dan pemikiran dan akan terwujud menjadi tindakan dan realis empiris ketika ada peluang.


Hasil kajian ini mengingatkan saya pada ayat al-Quran yang menyatakan: Allah mengetahui apa yang kamu perlihatkan dan apa yang tersembunyi dalam dirimu. Lebih lanjut lagi Nabi Muhammad mengajarkan, janganlah kita suka berandai-andai dengan pikiran negatif karena pikiran itu merupakan doa. Lagi-lagi, hasil kajian neuro-psikologi memperkuat sabda Nabi tersebut bahwa ide, gagasan, imajinasi, dan keinginan yang hidup dalam memori sel otak merupakan kekuatan yang senantiasa memerlukan saluran untuk menjelma menjadi kenyataan. Memori dalam sel otak itu bagaikan penghuni sebuah kota yang saling berkenalan dan berdiskusi sehingga melahirkan pemikiran sintetis yang terkadang mengejutkan. Thinking out of the box.
Oleh karena itu, sangat masuk akal, berbagai temuan teknologi yang hebat-hebat seperti pesawat terbang itu pada mulanya adalah mimpi dan imajinasi. Bahkan, benih perubahan sosial dan revolusi sebuah bangsa pada mulanya merupakan imajinasi sekelompok orang, yang kemudian menyebar menjadi gagasan kelompok dan massa yang pada urutannya menjadi kekuatan raksasa bagaikan air bah atau tsunami.


Benih pikiran akan semakin terang dan powerful kalau dihayati dan dipahami secara mendalam melalui proses perenungan panjang dalam suasana hening, sebagaimana Muhammad merenung di Gua Hira. Atau Musa di Bukit Sinai. Atau Sidharta Gautama di bawah Pohon Bodhi. Pikiran positif-konstruktif yang terang pada urutannya akan melahirkan tindakan yang terarah dengan disertai kemantapan. Pikiran yang kacau akan melahirkan tindakan yang juga kacau.

Pikiran besar dan mulia akan melahirkan tindakan besar dan mulia. Sebaliknya, pikiran kerdil juga akan melahirkan tindakan yang kerdil. Demikianlah, kita mesti mengajari dan menanamkan pada anak-anak kita gagasan besar dan terpuji agar nantinya mereka jadi pelaku sejarah dengan tindakan besar dan terpuji.

Tak kalah pentingnya, siapa pun yang menjadi pemimpin, entah dalam tubuh pemerintahan ataupun perusahaan, mesti menyadari bahwa kepemimpinan itu bermula dari imajinasi, pikiran, dan wawasan yang kemudian dituangkan dalam program dan tindakan. Pemimpin itu adalah juga pemimpi.

Komaruddin Hidayat
Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah
SINDO, 25 Januari 2013