Showing posts with label Cak Nun. Show all posts
Showing posts with label Cak Nun. Show all posts

Sunday, February 16, 2025

Aku Sakit, Kau Tak Menjengukku


PADA saat heningnya malam itu, kawan saya tiba-tiba bertemu dengan Nabi Muhammad. Ia kaget setengah mati. Bahkan sangat canggung sikapnya. Barangkali takut, atau, lebih tepat, ia dihinggapi semacam rasa pekewuh yang amat merepotkan hatinya.

Nah, sahabatku,” berkata Nabi, “Kamu sebenarnya sayang sama aku atau tidak, sih?

Agak gelagapan kawan saya menjawab pertanyaan Nabi, “Sayang sih, sayang wahai Nabi ....

Kenapa kamu tidak pernah ingat aku? Kenapa kamu tidak pernah menyebut namaku?

Aduh, Nabi, gimana yaaa, ...” ia gemetar, “bukannya tidak cinta. Tapi mana sempat, ya, Nabi. Waktuku terkuras habis, bahkan kurang, untuk mengingat-ingat Allah dan menggumam-gumamkan nama-Nya. Tiap saat. Tiap detik. Tiap sekon. Tidak ada sela-selanya lagi buat yang lain. Ampuni aku, Nabi. Waktuku benar-benar sudah tidak ada, digantikan oleh Allah. Juga tak ada lagi ruang bagi yang selain Ia. Mulutku, darah dan urat syarafku, hati dan jiwaku seakan sudah hilang lenyap. Tinggal Allah. Allaaah melulu ....


Sungguh tidak enak rasanya. Kawan saya merasa posisinya sangat ruwet. Sebetulnya ia ingin menjelaskan lebih panjang lebar lagi, tapi mungkinkah Kanjeng Nabi Muhammad, Rasul Sakti pamungkas segala derajat ilmu itu, tak mengetahui apa yang ia ketahui?

Misalnya, bukankah Muhammad sendiri yang menganjurkan agar kita umat manusia tidak menumpahkan seluruh hidup mati ini kepada yang selain Allah. Kalau bocor sedikit saja, syirik namanya. Wajah Muhammad tidak boleh kita gambar. Bukankah itu berarti segala apa pun sirna di hadapan Allah? Memangnya apa yang sungguh-sungguh ada selain Ia?

Pada masa mudanya kawan saya itu selalu bertanya: Mengapa orang-orang tua selalu menganjurkan agar kita membaca selawat Nabi dalam situasi-situasi bahaya? Kok aneh. Kalau pesawat oleng, kalau ada dar-der-dor di sana-sini, kalau ada bahaya mengancam, kok malah disuruh membaca selawat yang mendoakan keselamatan Muhammad. Padahal justru kita yang perlu selamat. Sedangkan Muhammad sendiri sudah jelas selamat, terjaga, terpelihara, terpilih di singgasana paling karib di sisi Allah.


Akhirnya, kawan saya memperoleh penjelasan bahwa konteks berselawat adalah keseimbangan jual beli kita semua dengan Muhammad. Semacam take and give. Kita mendoakan Muhammad, berarti kita “pasang radar” untuk memperoleh getaran doa Muhammad bagi keselamatan seluruh umat-Nya. Muhammad itu agung hatinya, amat kasih kepada semua “anak buah”-Nya di muka bumi, amat merasakan segala situasi hati kita, duka derita kita semua.

Kawan saya itu bingung: Tuhan menciptakan seluruh alam semesta ini seolah-olah hanya untuk suatu permainan birokrasi. Sudah jelas semua manusia, bebatuan, pepohonan, angin, langit, jin druhun prayangan, tidak bisa tidak kembali kepada-Nya, tetapi itu harus ditempuh melalui berbagai aturan permainan sandiwara dan kode etik pengembaraan yang dahsyat di satu pihak dan sepele di lain pihak.

Maka, di tengah kegalauan rasa pusing filosofis, permainan bahaya politik, ekonomi dan budaya, serta di tengah simpang siur rahasia hidup yang maha tak terduga, kawan saya itu akhirnya memutuskan untuk memusatkan diri pada Allah saja. Allah, Allaah, Allaaah terus sampai melewati liang lahad, alam barzakh, dan seterusnya nanti.


Tiba-tiba Kanjeng Nabi Muhammad nongol ... menagih cinta. Alangkah tak enak posisi macam ini!

Apa yang terjadi! Ternyata Beliau malah tertawa. “Kamu kok kelihatan takut, sahabatku. Mengapa?

Aku merasa pekewuh, Nabi ....

Nabi tertawa lagi. “Mengapa pakai pekewuh segala? Mungkin kamu orang Jawa, ya? Kamu pikir aku bakal marah atau tersinggung, ya, karena kamu tidak ada waktu lagi untuk ingat aku?

Kawan saya tersipu-sipu.

Coba, apa sih bedanya kamu ingat Allah dengan ingat aku?” berkata Nabi. “Kalau kau menumpahkan seluruh hidupmu untuk Allah, cukuplah itu, sama saja ....


Mendadak Muhammad lenyap dari hadapannya. Kawan saya menarik napas lega. Haihaaata! Ini pertemuan agung, pertemuan agung!

Sebenarnya sudah bisa diduga bahwa Nabi anggun dari Timur Tengah itu bukan tipe manusia cerewet atau pencemburu yang membabi buta. Ia empan papan, dan mengerti inti jagat.

Tapi diam-diam ada yang tetap mengganjal di hati kawan saya. Itu berkaitan dengan rahasia hati yang amat diyakininya, namun belum pernah satu kali pun ia ungkapkan, apalagi kepada manusia, baik di pasar maupun di mesjid.

Pintu rahasia itu pada akhirnya jebol, pada suatu hari, tatkala Allah bertanya kepadanya, “Hai, sebenarnya kamu itu sayang Aku atau tidak, sih?

Modarlah kawan saya. Ketika ia menjawab, “Sayang sih, ya sayang ....” Tuhan terus mengejarnya, persis seperti yang dilakukan oleh Muhammad. “Mengapa kamu tidak pernah ingat Aku? Kenapa kamu tidak pernah menyebut nama-Ku?


Dalam rasa takut yang amat puncak, kawan saya nekat, “Begini, ya, Tuhan. Aku ini orang melarat. Sekolah saja tidak pernah rampung. Kalah terus-menerus di segala persaingan, terutama dalam bidang cari pekerjaan. Makan minumku tak menentu. Bahkan tempat tinggalku juga selalu darurat. Padahal, aku juga tahu amat banyak saudaraku yang sama melaratnya dengan aku, bahkan banyak yang jauh lebih melarat. Aku juga melihat banyak hal yang tidak benar yang dilakukan oleh penguasa-penguasa manusia dalam manajemen alam semesta ini. Dalam persoalan ini, Tuhan ‘kan jauh lebih mengerti dibandingkan dengan aku. Jadi, aku tidak perlu omong soal kemiskinan struktural, monopoli ekonomi, atau kebudayaan jahiliah modern. Seandainya bisa, aku ini maunya sih, punya tangan yang besar, panjang, dan kuat, sehingga mampu mengatasi semua problem ketidakadilan dan ketidakbijaksanaan itu."


Tapi aku, Tuhan ‘kan tahu, tidak punya tangan. Aku tak memiliki kaki. Darahku tak begitu merah lagi. Tulang-belulangku tak lebih dari hanya kayu-kayu kering. Mulutku terbungkam. Aku hanya tinggal memiliki hati untuk menangis.

Tapi aku tidak boleh menangis, bukan? Seluruh waktuku, tenagaku, hidupku, ruang usiaku terkuras habis oleh hal-hal yang kusebutkan itu. Lalu bagaimana mungkin aku sanggup melunasi utang cintaku kepada-Mu? Apakah Engkau masih butuh untuk kuingat dan kusebut nama-Mu?

Aku ini lapar, kau tidak memberiku makan. Aku ini sakit, kau tidak menjengukku. Aku ini kesepian, kau tidak menyapaku ....
” Allah tersenyum. Kalimat-kalimat terakhir itu adalah kata-kata-Nya sendiri.

YK, 4 Februari 1989

Dikutip dari buku “Slilit Sang Kiai,” Emha Ainun Nadjib, Penerbit PT Pustaka Utama Grafiti, Cetakan Ketiga, Mei 1992, hal. 10.

Aslinya dimuat di: Majalah TEMPO, Edisi: 49/18 / Tanggal: 1989-02-04 / Halaman : 27 / Rubrik : KL


Kalau Aku Sakit, Jangan Menjenguk

Tuhan menginformasikan suatu ketegasan salah satu bagian dari ketentuan ciptaannya:

عٰلِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلٰى غَيْبِهٖٓ اَحَدًاۙ ۝٢٦

(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu.
[Al-Jinn (72): 26]

Maka saya tidak bisa melihat hantu, Jin atau Setan. Apalagi Malaikat. Kalau bersama KiaiKanjeng sering diminta mengusir hantu misalnya di Canberra Australia, Roma Italia atau London Inggris dll, itu tidak berarti saya tahu hantu, bisa melihatnya, bisa berkomunikasi dengan mereka, bahkan bisa bernegosiasi atau mengusir mereka dari suatu tempat.


Juga saya tidak punya kemampuan untuk melihat serangan rudal santet atau sebaran tenung, seperti yang KiaiKanjeng alami di Mandar menjelang Pilgub, di Tuban sesudah Pilgub, atau di Karanganyar dan Sukoharjo meskipun tak ada kaitannya dengan pemilihan pejabat apapun. Atau yang terparah yang membuat saya divonis oleh teman-teman Dokter di RS Sardjito UGM Yogya bahwa umur saya paling lama tinggal 3,5 bulan karena hyperteroid parah dan onderdil-onderdil pengolah makanan di tubuh saya sudah hancur hitam legam dihajar dengan uranium.

Saya bukan ustadz ruqyah, bukan dukun pengusir hantu, mistikus penyembuh orang kerasukan. Bukan pula ahli kebatinan atau pakar roh, meskipun banyak dikeluhi dan didesak untuk kegiatan semacam itu. Sesungguhnya saya tidak mengerti apa-apa. Saya hanya menjalankan kewajiban silaturahmi, mempersambungkan terselenggaranya dialektika kasih sayang dan keselamatan di antara sesama manusia.


Seorang perwira militer sakit parah dan sudah sekarat di RS Sardjito tapi tidak kunjung meninggal. Menurut kabar burung orang yang punya simpanan ilmu sakti di badannya, itu bisa menjadi penghalang atau menunda momentum kematiannya. Mana saya tahu. Saya diminta menangani keadaan itu, dan saya datang dengan niat menolong sesama manusia. Saya berkonsentrasi dan berdoa sebisa-bisa saya, kemudian setelah 15-20 menit yang bersangkutan dicabut nyawanya.

Istri almarhum berterima kasih kepada saya dan bertanya: “Berapa biayanya, Pak?” Saya tidak bisa menjawab, kecuali langsung ngacir pergi. Rupanya pengalaman masyarakat membuat mereka berkesimpulan bahwa hal-hal seperti itu adalah masalah profesional. Dan beliau meminta tolong saya dalam konsep bahwa saya adalah dukun profesional.


Berikutnya saya terbang khusus dari Yogya ke Jakarta karena keluarga seorang penyanyi yang sedang koma di RS Pondok Indah minta tolong kepada saya. Saya datang, tanpa pengetahuan dan kemampuan batin apa-apa, ternyata yang bersangkutan lantas meninggal sekitar 20 menit sesudah saya datang. Mereka berteriak-teriak menangisi almarhumah, pihak Rumah Sakit segera memindahkan tubuhnya ke ruang jenazah, diikuti oleh semua keluarganya, sehingga mereka terlupa bahwa di ruangan itu ada saya.

Saya pun ngeloyor pergi. Pindah ke RS Persahabatan di Rawamangun untuk melakukan pekerjaan yang sama. Berikutnya pindah ke RSPAD, seorang Ibu berproses sampai meninggal, dan kemudian saya menitipkan seadanya uang di dompet saya kepada sang suami. Besok lusanya saya mengantarkan istri saya Novia Kolopaking tugas nyanyi di sebuah Gedung, bersama panyanyi Krisdayanti. Sebelum naik panggung, Kris membisiki saya: “Cak, kapan kalau saya sakit tolong Cak Nun tidak usah datang menjenguk.

Lho kenapa?” saya bertanya. Kris menjawab: “Saya mendengar dari teman-teman bahwa kalau ada orang sakit dijenguk Cak Nun lantas meninggal dunia.


Pada kesempatan lain seorang wanita muda dalam keadaan hamil sekitar 5 bulan datang ke Patangpuluhan, mengeluhkan keadaannya dan pasrah bongkokan kepada saya. Seorang teman yang berprofesi pengacara saya mintai tolong menyiapkan kamar untuk tempat tinggal wanita hamil itu. Kan tidak mungkin dia tinggal di kamar saya di Patangpuluhan. Saya support biaya bulanannya sampai saat nanti dia melahirkan.

Banyak orang berpikir bahwa sayalah pasti yang menghamili wanita itu. Sebab kalau tidak, kenapa mau mengurusinya dan membiayainya. Tiba saatnya kelahiran saya bawa ke RS Panti Rapih. Ternyata bayinya sungsang. Saya mengajak Pathing atau Fatih, anggota Sanggar dan Teater Salahuddin yang menemani saya di Patangpuluhan ke Panti Rapih. Kami berdoa bersama memohon kepada Allah agar posisi bayi dinormalkan sehingga kelahirannya pun lancar. Sebab kalau harus pakai operasi caesar, saya harus menandatangani surat pernyataan kesediaan atas nama keluarga si pasien. Dan itu tidak mungkin saya lakukan. Alhamdulillah Tuhan tidak tega kepada saya, sehingga posisi bayi diubah oleh Malaikat dan kemudian kelahiran berlangsung normal.

Cak Nun dan Cak Fuad.

Tapi ternyata setelah bayi lahir sampai beberapa lama, Ibunya tetap tidak mau pergi. Tetap “nggandhol nasib” kepada saya. Akhirnya saya minta Imam Syuhada adik ipar saya untuk melacak latar belakang anak ini. Imam pergi sampai menemukan kampung wanita ini di sebuah desa di Kabupaten Pati. Imam bisa menemukan keluarganya, dan info bahwa anak ini ternyata dihamili oleh Pak Lurah. Keluarganya saya ultimatum untuk datang menjemput anak itu dan diajak kembali ke kampungnya. Puji Tuhan yang memudahkan semua proses pamungkas urusan wanita hamil ini.

Saya tidak mungkin mencatat semua, mendokumentasikan peristiwa-peristiwa semacam ini, termasuk ribuan orang terutama Jamaah Maiyah yang bermimpi saya temui. Bahkan saya ajari kalimat-kalimat wirid, yang ketika ketemu darat, dikonfirmasikan ternyata merupakan untaian wirid yang saya sendiri belum tentu mengetahuinya.

Emha Ainun Nadjib
Dikutip dari: CakNun.com dalam Rubrik Kebon No. 163. Terbit 14 April 2021


Kekasih Tak Bisa Menanti

Lirik : Emha Ainun Nadjib
Lagu: Harry Tjahjono
Album: Taubat (1997)

Akhirnya ‘kan sampai di sini
Di amanat Ilahi Rabbi
Orang-orang tak bisa lagi menanti
Zaman harus segera berganti pagi

Aku tangiskan teririsnya hati
Para kekasih di dusun-dusun sunyi
Terlalu lama mereka didustai
Sampai hanya Tuhan yang menemani

Tuhan
Sudah tidak bisa diperpanjang lagi
Kesabaran, ketabahan
Sesudah diremehkan dan dicampakkan

Ya Allah
Wajah-Mu terpancar dari derita mereka
Bukakanlah Ya Allah
Rahasia sesudah maut yang tak terduga itu
Datanglah kelahiran yang baru

Akhirnya akan sampai di sini
Di arus gelombang yang sejati
Kalau perahu kami adalah tangan-Mu sendiri
Tak satu kekuatan bisa menghalangi

Ya Allah
Sudah tidak bisa diperpanjang lagi
Kesabaran mereka, ketabahan mereka
Sesudah diremehkan dan dicampakkan

Tuhan
Wajah-Mu terpancar dari derita mereka
Bukakanlah Ya Allah
Rahasia-Mu Ya Allah
Sesudah maut yang tak terduga itu
Datanglah kelahiran yang baru
Datanglah kelahiran yang baru


YouTube:
https://www.youtube.com/watch?v=UvJAkGAPSas

Thursday, June 25, 2020

Membangun Imun Lewat Jalan Iman


Bencana besar yang dapat merenggut korban jiwa yang masif dalam perjalanan sejarah umat manusia, bukan hanya karena gempa bumi, gunung meletus, tsunami, cuaca ekstrem, meteor jatuh atau perang dunia, tapi juga wabah virus atau bakteri.

Setidaknya dalam periode per satu abad, pandemi besar menimpa umat manusia. Pertanyaan berkait pandemi bukanlah “apakah wabah itu akan terjadi?”, tapi, “kapan terjadi?”, dan tentu pertanyaan yang lebih penting lagi, “seberapa besar kesiapan umat manusia mengantisipasinya?

Umumnya sebagian besar penduduk bumi tidak pernah benar-benar siap ketika menghadapi pandemi. Semua terkaget pada sesuatu yang begitu halus seperti siluman, tiba-tiba saja menyerang secara masif, dan menyebar dengan amat cepatnya. Serangan yang menimbulkan malapetaka penyakit dan teror ketakutan.


Kehadiran Novel Corona Virus atau SARS Cov-2 yang menimbulkan penyakit Covid-19 menjadi perbincangan paling populer di tahun 2020 ini. Tidak ada berita di media cetak, elektronik hingga akun-akun media sosial setiap orang yang tidak mempergunjingkannya. Laporan-laporan sensus angka positif kesakitan baru, angka kesembuhan, hingga angka kematian, setiap hari di-update oleh pemerintah pusat dan daerah.

Terkhusus bagi “Jamaah Maiyah”, Mbah Nun sendiri setiap hari menuliskan refleksinya dengan sudut pandang yang komprehensif berkaitan dengan wabah Corona ini. Mbah Nun sempat menegaskan “semua tulisan tentang segala sesuatu yang terkait Coronavirus, memakai pola pandangan dan pemetaan yang mengungkapkan keterkaitan antara virus dengan kesehatan jasad, struktur kejiwaan, kekuasaan Tuhan, metode taqwa dan tawakkal, iman, doa, wirid, dzikir, hizib dan seluruh famili konteksnya menurut pola pandang yang saya pakai”.

Tulisan-tulisan tersebut oleh penerbit Bentang kemudian diterbitkan sebagai buku berjudul “Lockdown 309 tahun”. Pendek kata, SARS Cov-2 adalah sosok paling selebritis di tahun 2020 melebihi apapun dan siapapun. Bahkan secara revolusioner, SARS Cov-2 berhasil mengubah tatanan-tatanan pola kehidupan masyarakat modern, betapa terdengar ironis bahwa mahkluk paling kecil ini mampu “menghentikan” putaran mesin dunia.


Perang asimetrik atau “berdamai” dengan Corona?
Berbeda dengan “perang menghadapi bakteri”, ilmu kedokteran sejak lama menginformasikan bahwa tidak ada obat definitif untuk “membunuh” virus. Tata laksana pengobatan medis untuk penyakit infeksi segala jenis virus, sebatas terapi yang sifatnya suportif (bantuan: pernapasan, kebutuhan cairan, pemenuhan gizi dan kalori, penanganan infeksi sekunder bila ada).

Virus adalah penghuni paling senior di planet bumi yang berada di luar taksonomi kemakhlukan yang lazim. Walau memiliki DNA atau RNA, oleh sebagian ahli, status “kemakhlukannya” masih diperdebatkan, apakah ia entitas hidup atau mati? Sebut saja, ia adalah makhluk transisi antara organisme dan an-organisma, berada di luar klasifikasi dari kelompok flora atau fauna, dan terbebas dalam rumusan gender. Ukurannya yang teramat kecil (diilustrasikan 1 mm dibagi sejuta), membuatnya hingga kini mustahil “dibidik oleh peluru farmakologis” buatan manusia.

Virus adalah zombie kimia yang misi utama satu-satunya hanyalah membajak material genetik di dalam sel pada suatu makhluk, agar ia dapat memperbanyak dirinya. Virus hanya bertahan hidup dalam diri makhluk hidup sebagai tuan rumahnya (host). Maka sebenarnya virus “berkepentingan agar host-nya tetap hidup”.

Jenis virus seperti Ebola atau SARS yang menyebabkan tingkat kematian yang tinggi, tidak akan pernah dapat berkembang menjadi pandemik, karena korban yang terinfeksi otomatis berdiam di rumah (ter-lockdown) karena sakitnya yang parah, atau sebagian mungkin tidak selamat. Agar suatu virus dapat menyebar menjadi pandemik ke seluruh dunia dalam hitungan yang singkat, ia harus memiliki “keseimbangan antara tingkat penularan dan efek mematikan”.

Menteri Kesehatan, Terawan bersama 3 pasien Covid-19 pertama yang sudah sembuh.

Novel Corona yang digolongkan sebagai virus dengan penyebab prosentase kematian rendah pada korbannya, memenuhi keseimbangan syarat itu. Namun justru karena prosentase mortalitasnya yang rendah, menjadi amat dikhawatirkan oleh para ahli. Mengapa? Karena dalam rentang masa yang panjang Novel Corona virus pada akhirnya akan menghasilkan akumulasi jumlah korban yang bisa jadi jauh lebih banyak daripada jenis-jenis virus ganas mematikan lainnya.

Di Indonesia kasus resmi pertama mulai dilaporkan pada 2 Maret 2020. Kini (Juni 2020), sudah lebih dari 3 bulan kita “berjuang” dengan berbagai strategi pendekatan. Suatu perjuangan yang tidak mudah, yang telah menimbulkan banyak korban jiwa bagi komunitas yang rentan bahkan hingga kalangan medis. Dan juga berdampak sangat besar terhadap kondisi sosial perekonomian. Hingga hari ini, grafik kasus harian belum memperlihatkan tanda-tanda menuju ke arah landai. Malah belakangan terdengar seruan dari pemerintah untuk “berdamai” dengan Corona? Bagaimana kita memahami seruan tersebut?

Bila istilah “damai” kita posisikan pada term peperangan, maka berdamai tentu memerlukan keterlibatan aktif dari kedua pihak yang berseteru. Mustahil berdamai dengan cara “bertepuk sebelah tangan”. Corona virus sudah tentu adalah entitas yang “tidak punya kehendak” alias bukan wujud yang (berkesadaran) sengaja hadir untuk memerangi manusia, tapi kehadirannya menimbulkan masalah bagi kehidupan manusia.


Kita tentu tidak bisa membayangkan perlawanan model apa yang akan kita lakukan, jika benar seperti yang dikatakan WHO bahwa Novel Corona virus ini akan tetap menyertai hidup manusia hingga akhir zaman! Apakah damai yang dimaksud adalah ungkapan sopan untuk menyebut makna aslinya sebagai “menyerah kalah?” Apakah memang saatnya kini kita berdamai (baca: mengibarkan bendera putih) pada Corona? Suatu saat mungkin kita memang akan hidup berdampingan dengan Novel Corona virus, sebagaimana kini kita hidup berdampingan dengan HIV, Dengue, Hepatitis, dan virus-virus Influenza lainnya yang masih menjadi kerabatnya Corona. Kita bisa berdamai pada Corona sebagai entitas virus, tapi bagaimana cara kita berdamai dengan Corona sebagai pandemi?

Pada dasarnya mayoritas mikro-organisma ditakdirkan hidup secara komensal atau berdampingan dengan manusia. Seorang mikrobiologis lazimnya mengatakan “we never win the battle with microorganism”. Mikroorganisma seperti virus atau bakteri, meskipun wujudnya tidak kasat mata, tapi mereka ada di mana-mana, eksistensinya pada hakikatnya mendunia, “mencengkeram” planet bumi ini. Dalam ungkapan yang lebih sederhana, umat manusia kini menghadapi “musuh” yang tidak terlihat, tersamar, dan bisa ada di mana-mana, sementara manusia tanpa memiliki persenjataan buatan apapun untuk melawannya. Tidak ada pemetaan musuh yang bisa dipastikan dalam berperang melawannya. Oleh karena itu strategi yang kemudian dilancarkan selama ini adalah “menghindar dan sembunyi” (lewat seruan-seruan seperti: social distancing, physical distancing, stay at home, lockdown, Pembatasan Sosial Berskala Besar alias PSBB, dsb).

Bila berkaca pada sejarah wabah di masa-masa yang lalu, strategi-strategi tersebut, bila dilakukan tepat pada momentumnya dan bersabar dalam menjalani prosesnya, maka strategi isolasi dan karantina sesungguhnya dapat efektif menekan pandemik secara signifikan. Namun, efek kolateral bencana akibat Corona berdampak nyaris ke seluruh dimensi kehidupan; resesi ekonomi, pasar lesu, saham anjlok, harga minyak jatuh, PHK massal dan kebangkrutan menghantui banyak sektor industri. Dan mungkin inilah di antara hal yang dijadikannya sebagai alasan pelonggaran atas strategi “menghindar dan sembunyi” (PSBB) ini.


Apabila pada suatu saat atas alasan-alasan itu semua PSBB sudah tidak mungkin lagi dijalankan, maka benteng pertahanan dan perlawanan utama yang dimiliki manusia hanyalah tinggal sistem imunitas yang dimiliki setiap individu. Penyembuhan yang terjadi pada penyakit virus selama ini dikenal dengan istilah “self limiting disease”, yang lagi-lagi diperankan oleh Antibodi tubuh. Istilah itu secara verbatim, mungkin bermasalah jika dilihat dari perspektif tauhid. Pada hakikatnya, umat manusia selama ini dapat selamat dan bertahan dari kepunahan menghadapi pandemi, karena “karunia Ilahi” berupa sistem imunitas yang begitu canggih yang ada di dalam tubuhnya.

Tuhanlah wujud yang bertanggung jawab menghadirkan pasukan-pasukan perlawanan untuk menghadapi segala ancaman dan bahaya dari invasi mikroorganisma. Kalimat “penyakit dapat sembuh sendiri secara spontan!” terdengar aneh di telinga kaum beriman. Tapi di zaman dimana paradigma ilmu harus serba terukur, terindera dan dapat dibuktikan, maka ungkapan kehadiran dan campur tangan Tuhan dipandang sebagai bukan sesuatu yang saintifik ilmiah.

Bila disepakati bahwa imunitas tubuh adalah “KATA KUNCI” satu-satunya dalam menghadapi serangan infeksi virus, maka tidakkah segala wacana tentang apa atau bagaimana upaya-upaya untuk menghadirkan atau memperkuat sistem imunitas dalam diri kita seharusya lebih banyak dieksplorasi? Menghadapi persoalan global yang menyangkut seluruh umat manusia ini, tidakkah seyogyanya segala jenis diskursus yang berniat baik hingga penelitian yang sahih, diizinkan dan dibuka selebar-lebarnya? Apalagi toh hingga kini juga belum ada solusi yang sifatnya final dan tuntas.


Jalan-jalan atau metode-metode apa saja yang dapat kita lakukan?
Secara umum, ada dua metode untuk menghadirkan dan memperkuat sistem imunitas kita; secara eksternal dengan vaksinasi dan secara internal dengan memperbarui pola-pola kehidupan. Vaksinasi adalah upaya secara sengaja memasukkan kuman yang telah dilemahkan ke dalam tubuh kita, agar tubuh teraktivasi untuk membentuk imunitas baru dan spesifik untuk menghadapi kuman yang sesungguhnya. Namun, berkait dengan novel Corona virus, WHO memprediksi keberadaan vaksin paling cepat baru tersedia pada 2021. Maka perhatian utama kita, mestinya dicurahkan pada upaya-upaya memperkuat sistem imunitas tubuh secara internal.

Dalam tulisan kali ini, izinkan saya mentadabburi pola-pola kehidupan yang dimungkinkan memperkuat imunitas yang digali dari jalan-jalan keimanan.

Lima jalan Iman memperkuat Imun
1. Kebersihan diri dan memutus rantai infeksi
Bila di dunia kesehatan ada semboyan “kebersihan adalah pangkal kesehatan”, maka dalam term agama ada pesan yang nilai dan maknanya lebih tinggi lagi bahwa “kebersihan adalah bagian dari keimanan”. Dalam semboyan itu, seolah-olah dikatakan bahwa, orang yang hidupnya tidak bersih lahir dan batin, maka imannya tidak sempurna. Iman mempersyaratkan bagi pelakunya untuk hidup bersih lahir dan batin.

Kebersihan yang komprehensif mencakup seluruh spektrum dimensi kehidupan. Jauh sebelum WHO menjadikan cuci tangan 6 langkah sebagai protokol kesehatan yang penting, Rasulullah Saw, misalnya, menganjurkan umatnya untuk mencuci kedua telapak tangannya saat pertama kali bangun dari tidur (HR. Bukhari).


Aktivitas rutin harian lainnya menjaga kebersihan lahir dan batin ini juga lewat berwudhu. Wudhu selain mensucikan hadats juga membersihkan 7 anggota tubuh yang terpapar dunia luar dan membasuh 5 panca indera (penglihatan, pendengaran, penghidu, lidah perasa dan kulit sentuhan). Pada kulit manusia, ada sekitar 180 miliar mikrobioma. Di karang gigi kita ada sekitar 1 trilyun mikrobioma dan sekitar 100 milyar hidup di air liur kita.

Wudhu dalam konteks ini merupakan tindakan “pengenceran populasi mikroorganisme” tersebut, sehinga menurunkan risiko penyimpangan oportunistik bagi diri kita. Dalam tata laksana wudhu ada aktivitas yang cukup langka dijalani orang yakni istinsyaq, membasuh hidung dengan cara menghisap air bersih dari lubang hidung lalu mengeluarkannya kembali. Aktivitas demikian di luar wudhu, hanya dilakukan oleh dokter THT ketika mereka tengah melakukan irigasi nasal untuk membersihkan area lubang hidung hingga wilayah nasopharyng yang tersembunyi. Mbah Nun dalam suatu kesempatan acara Maiyah juga pernah mengatakan, perbanyak berwudhu untuk menghadapi pandemi Corona ini.

Segala aktivitas thaharah (bersuci) memiliki kontribusi dalam memutus mata rantai penularan penyakit infeksi, dus mengurangi beban berat bagi sistem imunitas kita.


2. Makan yang halal serta thoyib dan Imunitas
Di antara teori asal-usul keberadaan virus Novel Corona adalah kebiasaan masyarakat di pasar Wuhan, yang memperdagangkan hewan-hewan liar eksotik untuk dikonsumsi. Presiden ahli penyakit infeksi Dr. Asok Kurup mengatakan “manusia dan satwa-satwa liar tidak ditakdirkan hidup berdampingan”, jika dipersatukan dalam rentang waktu yang lama seperti di pasar Wuhan maka akan terjadi wabah seperti ini!

Di antara hewan yang sempat menjadi sorotan adalah kelelawar. Kelelawar menjadi menarik dibahas karena ia merupakan hewan yang “unik”; ia satu-satunya mamalia yang dapat terbang, hidup secara nokturnal (daur hidup malam hari) dan sekujur tubuhnya menjadi inang komensal bagi Corona virus.

Dr Leong Hoe Nam, ahli infeksi dari Mount Elizabeth Centre Singapore setelah mengetahui apa yang berlangsung di pasar Wuhan, dalam sebuah film dokumenter berjudul “Corona Virus The Silent Killer” mengatakan: “Kita harus mempertimbangkan kembali, apa-apa yang layak kita konsumsi”. Bila dikaitkan dengan sebuah hadits (riwayat Al-Baihaqi), kelelawar adalah di antara hewan yang jangankan diperkenankan untuk dikonsumsi, untuk dibunuh pun dilarang.


Tuhan secara tersurat memerintahkan manusia untuk memperhatikan makanannya (QS 80: 24). Bahan-bahan untuk mengganti struktur bagian tubuh yang aus dan rusak tentu diambil dari makro dan mikronutrient dari zat-zat yang terkandung dalam makanan. Bila dianalogikan produk furniture, maka suatu produk akan lebih bermutu jika dirakit dari bahan mentah yang kualitasnya tinggi pula, begitu pula tubuh kita. Rumus mendasar Al-Quran, manusia diperintahkan untuk mengkonsumsi makanan yang halal dan thoyib. Halal berarti sah secara hukum Fiqh, sementara thoyib adalah makanan yang kondisinya baik secara kualitas, proporsional sesuai kondisi, dan memenuhi kaidah higienis serta standar gizi. Kualitas dan kelengkapan makanan penting untuk membangun sistem imunitas.

Dalam buku “Lockdown 309 tahun”, mbah Nun sekilas menyinggung bahan bumbu dapur dari rempah-rempah sbb: ada semacam “atmosfer atau tradisi rempah-rempah” yang sudah melingkupi keseharian badan rakyat dan udara Indonesia sejak dahulu kala, sehingga ada semacam imunitas khas Indonesia yang dunia ilmu pengetahuan belum memahaminya. Secara logis, apa yang dimakan oleh seseorang tentu akan mempengaruhi konstitusi tubuhnya. “You are what you eat”, begitu kata kalangan Nutrisionist.

Di antara bahan rempah-rempah yang tersaji di bumi Nusantara, telah dikenal dan diteliti dapat menjadi bahan imunomodulator (penguat sistem imunitas) seperti: kunyit, jahe, kunir, kayu manis, cengkeh, bawang putih, bawang merah dll. Dengan mengkonsumsi bahan-bahan alami, segar, asli dari sumber sendiri di bumi khatulistiwa yang kaya kandungan mineral dan disirami matahari tropis, In syaAllah status imunitas kita akan lebih terjaga dengan baik.


3. Puasa dan Imunitas
Penelitian di University of Southern California menginformasikan bahwa puasa memicu “saklar regenerasi”, yang mendorong meregenerasi seluruh sistem kekebalan tubuh. Selama rentang panjang kita mengkonsumsi sesuatu, selain menghasilkan kalori, makanan yang dikonsumsi itu juga menyisakan “sampah-sampah” metabolik berupa protein yang rusak. Periode lapar selama berpuasa membuat tubuh akan membersihkan “sel-sel zombie”, menyapu bersih elemen-elemen dalam diri yang menua, yang tidak efisien dan yang rusak.

Ada mekanisme yang diistilahkan sebagai proses Autofagi selama berpuasa. Adalah Prof. Dr Yoshinori Ohsumi, pada tahun 2016, mendapat hadiah Nobel Fisiologi setelah meneliti dengan baik peristiwa Autofagi tersebut. Autofagi merupakan suatu proses yang membantu menjaga keseimbangan antara pembentukan, pemecahan, dan daur ulang produk-produk sel. Proses Autofagi ini adalah mekanisme utama yang digunakan sel untuk mengalokasikan ulang nutrien dari proses yang tidak perlu kepada proses yang lebih penting. Ketika seseorang mengalami sensasi “lapar”, maka sistem dalam tubuhnya akan mencoba menghemat energi dan salah satu hal yang dilakukannya adalah mendaur ulang banyak sel kekebalan yang tidak diperlukan, terutama yang mungkin “rusak” untuk diresintesis kembali.


Para ilmuwan di University of Southern California juga menyebut puasa selama 3 hari dapat meregenerasi seluruh sistem kekebalan tubuh; termasuk memperbaiki kualitas imunitas pada kelompok yang rentan seperti orangtua dan mereka yang menjalani kemoterapi.

Puasa ibarat menjalani “tune up” rutin mesin metabolisme. Ada berbagai puasa yang ritmenya dapat dilakukan yang terkategori dalam ritme tahunan, bulanan, mingguan, atau harian.

Tune up tahunan: puasa Ramadhan dan puasa Syawal.
Tune up bulanan: puasa Ayyamul Bidh di setiap tanggal 13, 14 dan 15 H.
Tune up mingguan: puasa Senin-Kamis.
Tune up harian: puasa Daud.

Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui” (QS 2: 184). Berpuasa memperbaiki kualitas imunitas kita.


4. Shalat Tahajud dan Imunitas
Shalat merupakan simbol totalitas ketundukan seorang hamba kepada Khalik-Nya yang diekspresikan dengan ketundukan seluruh dimensi diri (hati, akal dan raga).

Dengan bahasa populer, mungkin dapat dikatakan bahwa dalam ibadah shalat terkandung aspek Olah Rasa, Olah Rasio sekaligus Olah Raga. Orang yang dengan disiplin, tertib dan teratur beraudiensi dengan Allah Tuhan pemilik semesta jagat ini, hatinya akan tenteram karena tidak ada yang lebih tenteram di dalam hidup ini kecuali hati yang selalu tersambung kepada-Nya. Hati yang sadar bahwa Dia Maha Memelihara dan Melindungi hamba-hamba-Nya. Hati yang mengerti bahwa Allah tidak pernah bosan untuk senantiasa membuka Rahmat dan Kasih Sayang-Nya setiap waktu. Hati yang paham bahwa Dia melarang rasa putus asa hinggap di hati para hamba-Nya dan hati yang mengerti pada-Nyalah tergenggam segala perbendaharaan yang ghaib.

Orang-orang yang senantiasa mentadabburi semua fenomena sunatullah (segala penciptaan-Nya di langit dan di bumi) dalam rangkaian bacaan shalat, akalnya akan terasah cerdas. Dan orang yang selalu bergerak menyesuaikan dengan gerakan-gerakan fitrah dalam ibadah shalat dengan kaifiyat yang benar penuh thuma’ninah fisiknya akan sehat. Orang yang melakukan shalat, hatinya akan tenang, pikirannya cerdas dan fisiknya sehat.

Adalah Prof Moh. Sholeh yang membuat disertasi penelitian berjudul “Pengaruh Shalat Tahajud Terhadap Peningkatan Perubahan Respon Ketahanan Tubuh Imunologik: Suatu Pendekatan Psikoneuroimunologi”. Ringkasnya, hasil penelitian yang kabarnya mendapat sertifikasi WHO ini, memberi kesimpulan bahwa orang yang melakukan shalat Tahajud secara kontinu, tepat gerakannya (kaifiyat-nya), maka secara medis aktivitas itu dapat menumbuhkan respons ketahanan tubuh, khususnya peningkatan imunoglobin M, G, A dan limfosit.


5. Jalan-jalan Spiritual (Doa, Sholawat dan Istighfar)
Izinkan saya mengutip doa dan dzikir yang mudah dan sederhana untuk diamalkan “Ucapkan: Qul huwallahu ahad (Surat Al-Ikhlash) dan dua surat pelindung (Al-Falaq dan An-Naas) ketika sore dan pagi hari sebanyak tiga kali, maka surat tersebut akan melindungimu dari segala mara bahaya”. (H.R Tirmidzi).

Rasulullah Saw bersabda, “Seorang hamba yang berkata (berdoa) pada pagi setiap hari, dan pada sore setiap malam, sebanyak tiga kali: bismillahilladzi laa yadhurru ma’as-mihi syai-un fil ardhi wa laa fissamaa-i, wa huwas samii’ul ‘aliim. (Dengan nama Allah yang bila disebut, segala sesuatu di bumi dan langit tidak akan berbahaya, Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui), maka tidaklah berbahaya baginya apapun juga” (Akan terhindarlah dia dari bahaya apa saja). (HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmizi, Nasa’i dan Ibnu Majah).

Di dalam Quran ada ayat yang menyatakan “Dan Allah sekali-sekali tidak akan mengadzab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidak pula Allah mengadzabmu, sedang engkau minta ampun kepada-Nya” (QS 8:33). Mentadabburi kutipan ayat tersebut, maka ada dua perkara yang dapat menyelamatkan kita dari azab, yakni “Ber-shalawat dan ber-istighfar”.

Bagi orang beriman, Corona virus bukanlah urusan medis murni semata yang terlepas dari kekuasaan Ilahi. Orang beriman tidak memutus segala peristiwa terestrial di bumi ini dengan tautan transendental di langit. Doa-doa dapat menjadi senjata untuk menghadapi ancaman dan marabahaya bagi kehidupan kita. Rasulullah bersabda, “Doa adalah senjata seorang Mukmin dan tiang (pilar) agama serta cahaya langit dan bumi.” (HR Abu Ya’la). Pada-Nya sepenuhnya kita sandarkan keselamatan hidup kita dan kita bermohon untuk ketepatan memahami dan memaknai peristiwa yang ada.


Epilog
Kapankah Pandemi ini berakhir? Jawabannya wallahu a’lam. Tentu semua kita berharap agar kita dapat segera kembali menjalani kehidupan seperti sediakala, normal yang memang normal. Bila berkaca pada rekam jejak kerabat Corona, sesama keluarga virus-virus Influenza yang pernah hadir sebagai pandemik di dunia ini, maka masa kehadiran mereka adalah sbb:

Flu Spanyol H1N1: 1918- 1919 (durasi 1,5 tahun).
Flu Asia H2N2: 1957-1958 (1 tahun).
Flu Hongkong H3N2: 1968-1969 (1 tahun).
Flu Burung H5N1 1997-2019: (22 tahun).
Flu Babi, mutasi Influenza A subtipe H1N1: 2009-sekarang.
SARS: 2002-2004 (2 tahun).
MERS: 2012-2015 (3 tahun).

Bercermin pada sejarah tersebut, belum ada pandemi yang berlangsung di bawah durasi satu tahun, maka terbayangkah di hadapan kita dan sudah siapkah kita bila memang perjuangan “melawan” pandemi Corona ini akan berlangsung lama?

RSUD Kudungga, Sangatta, Kalimantan Timur, dan insert dr, Ade Hashman, Sp. An.

Ketika seruan untuk “social distancing” mulai dikendorkan, ketika dengan “terus terang” pemerintah mengatakan “berdamai” (baca: menyerah?) pada pandemi, maka bagaimana bila saatnya kita lebih mengkampanyekan seruan untuk memperkokoh “spiritual connecting”?

Dalam buku Lockdown 309 Tahun, Mbah Nun mengatakan, “Kalian tidak punya pertahanan badan, tidak punya vaksin jasad, tetapi tidak pula berikhtiar untuk membangun pertahanan qudrah, pertahanan ruhaniyah, memohon kasih sayang Allah. Apakah kalian memang diam-diam punya mindset bahwa Allah itu tidak berkuasa? Sehingga dalam keadaan darurat pun tidak ada upaya vertikal untuk memohon perlindungan Tuhan?

Malah seharusnya, sebagaimana atmosfer yang ada di Maiyah, kerinduan untuk “gondhelan ning klambine Kanjeng Nabi” memperkokoh pertalian “segitiga cinta dan dialektika syafaat” sejak dari awal kita gaungkan sebagai pilar-pilar utama dalam menghadapi wabah ini.

Tapi…, adakah “orang modern” yang mau percaya ?????

Sangatta, 7 Juni 2020

dr. Ade Hashman, Sp. An.
Jamaah Maiyah,
Sehari-hari adalah dokter spesialis anestesi di RSUD Kudungga Sangatta.
CAKNUN.COM

Wednesday, November 9, 2016

Umat Islam Indonesia Dijadikan Gelandangan di Negerinya Sendiri


Andaikan kalah di satu pertempuran (battle), tidak mengagetkan bagi pasukan yang bersiap menjalani peperangan (war) yang panjang. Raka’at pertama yang umpamanya kurang utuh, pasti mendorong raka’at-raka’at berikutnya akan menjadi lebih utuh dan khusyu. Umat Islam Indonesia tidak memuncakkan perjuangannya pada 4 November 2016, sebab mereka menata nafas untuk Jurus Raka’at Panjang dalam sejarahnya yang penuh tantangan, ancaman dan penderitaan.

Selama ini saya diberi gambaran bahwa sesudah pemecah-belahan Uni Sovyet, Balkanisasi dan Arab Spring, sekarang ada formasi baru persekongkolan internasional yang bekerja keras dan sangat strategis untuk menghancurkan Islam dan Indonesia. Kemudian agak lebih mengarah: merampok kekayaan Negara Indonesia dengan cara memecah belah Bangsa Indonesia dan utamanya Umat Islam. Sekarang tampaknya semakin terlihat penggambaran baru yang lebih spesifik dan akurat.

Yakni bahwa NKRI bukan akan dihancurkan, melainkan akan dimakmurkan, tetapi bukan untuk rakyat Indonesia. Kedaulatan politik, bangunan konstitusi, pasal-pasal hukum, tanah dan modal, alat-alat produksi, serta berbagai perangkat kehidupan dan penghidupan ––tidak lagi berada di tangan kedaulatan Bangsa Indonesia. Rakyat Indonesia tetap dikasih makan dan bisa ikut kecipratan sedikit kemakmuran, asalkan rela menjadi pembantu rumahtangga, karyawan, kuli, khadam dan jongos yang setia dan patuh kepada Penguasa baru NKRI, yang merupakan kongsi dari Dua Adidaya dunia. Syuraqoh, alias keserakahan, diteknokrasi sedemikian rupa.


Sukar saya hindari penglihatan bahwa yang paling sengsara di antara bangsa dan rakyat Indonesia adalah Umat Islam, karena mereka didera dua penjajahan. Di samping ada paket penguasaan atas NKRI, terdapat juga disain untuk mendevaliditasi Islam di kalangan pemeluknya. Ini berposisi sebagai cara atau strategi penguasaan NKRI, maupun sebagai tujuan itu sendiri untuk memaksimalkan de-Islamisasi kehidupan bangsa Indonesia. NKRI tidak boleh menjadi Negara Islam, artinya boleh menjadi Negara Agama selain Islam.

Hampir selama 40 tahun, intensif 20-an tahun belakangan, saya keliling jumpa rakyat rata-rata 10.000 orang perminggu untuk ikut memelihara ke-Indonesiaan, keutuhan NKRI, persatuan dan kesatuan antar golongan apapun yang dinding-dindingnya mungkin etnik, agama, parpol, madzhab, aliran, muara-muara kepentingan, segmen-segmen dan level. Agenda saya adalah membesarkan hati mereka, merabuki optimisme penghidupan dan keyakinan akan masa depan mereka. Kalau orang bilang pluralisme, mereka saya himpun dan ayomi sebagai semacam keindahan orkestrasi. Kalau disebut toleransi, saya carikan formula, aransemen, modulasi sosial untuk puzzling dan saling paham atas batas-batas di tengah kemerdekaan.

Kalau ada kelompok terlibat bentrok dengan lainnya, saya disuruh menambal dan menyatukan kembali. Kalau ada yang diserbu, saya ditugasi untuk menyiapkan segala sesuatu untuk melindungi dan menampung. Saya minta kepada Tuhan agar dianugerahi ilmu untuk menemani rakyat, agar berada dalam keseimbangan hubungan, meracik skala prioritas dan tata-etika untuk disepakati, dengan menomorsatukan keutuhan kemanusiaan dan kebangsaan. Saya ditarik untuk menemani mereka mencari solusi-solusi dalam rembug pengetahuan atau diskusi ilmu dan kasih sayang, minimal 5 jam, bahkan sering berlangsung hingga dihentikan oleh Subuh.


Akan tetapi saya dan kami semua diam-diam ditikam dari belakang. Kami dimunafiki: bilangnya satu dalam perbedaan, tapi diam-diam di belakang punggung menciptakan pecahan-pecahan, menanam perilaku yang menimbulkan amarah, kebencian, permusuhan dan dendam. Saya mengajak kaum Muslimin untuk “la ikroha fiddin” dan memahami metoda-metoda tasammuh atau toleransi, untuk secara rasional menata ke-Indonesiaan. Tetapi diam-diam Kaum Muslimin digerogoti dari belakang: pergerakan-pergerakan sangat taktis dan strategis dari upaya-upaya de-Islamisasi penduduk kampung-kampung, de-Islamisasi Kraton, hingga de-Islamisasi Pemerintahan Nasional, dengan plan dan timeline yang seksama, sangat kentara, bahkan terang-terangan dengan arogansi dan keculasan.

Bahkan Kaum Muslimin dicuci otaknya secara nasional untuk mempercayai bahwa demokrasi tetap gagal selama pemimpin nasionalnya berasal dari mayoritas. Demokrasi tercapai sempurna kalau pucuk pimpinannya adalah tokoh minoritas. Kalau mayoritas berkuasa itu artinya diktator mayoritas dan intoleransi. Kalau minoritas berkuasa itu maknanya demokrasi dan keadilan. Kalau orang Islam dibunuh, itu perjuangan melawan radikalisme dan fasisme. Kehancuran Islam adalah tegaknya keadilan dunia dan berkibarnya demokrasi. Penguasaan atas Kaum Muslimin dilakukan atas dasar subyektivitisme Ras dan Agama para pelakunya, kalau Kaum Muslimin menolaknya dituduh rasis dan pelaku SARA. Umat Islam dipaksa untuk menerima kehendak kekuasaan, dan kalau menolak mereka disebut memaksakan kehendak. Umat Islam diinjak, kalau bereaksi dituduh tidak toleran, anarkis dan radikal.

Sebenarnya selama puluhan tahun terakhir, proses pengikisan hak milik, penjebolan kedaulatan dan penguasaan harta benda Ibu Pertiwi, juga pencurangan cara berpikir tentang mayoritas-minoritas seperti itu sudah berlangsung. Tetapi kemudian, sukar saya elakkan pandangan, bahwa melalui rekayasa penyelenggaraan kepengurusan yang baru atas institusi Negara, dengan tiga tajaman di ujung Trisula politiknya, serta pendayagunaan seluruh perangkat lembaga pengelolaan itu, termasuk kerjasama proaktif dengan media-media informasi tertentu, pun jangan lupa sebagian tokoh dan institusi atau organisasi Islam tertentu yang dipekerjakan: hal itu dipacu maksimal dan total. Sampai Tanah Air Ibu Pertiwi Indonesia bukan lagi milik pribumi asli Indonesia. Dari kursi nomer satu di puncak kuasa hingga sejengkal tanah di pelosok desa, akan berangsur-angsur menjadi bukan lagi milik rakyat Indonesia.


Logika normalnya, siapa menolak kenyataan itu, akan hanya tersisa tempat untuk menjadi gelandangan di kampung sendiri. Dan kalau memberontak, akan dibunuh dengan berbagai jenis dan kadar pembunuhan. Kalau pemberontakannya sangat merepotkan, maka harus dimusnahkan. Rakyat Indonesia dikelabuhi secara intelektual, dininabobo secara mental, ditipudaya secara politik dan hukum, ditelikung secara ideologi, dikanak-kanakkan melalui tayangan-tayangan, disesatkan pengetahuannya, dikebiri keksatriaannya, serta ditidak-seimbangkan cara pandang kehidupannya.

Para ilmuwan, aktivis atau para tradisionalis penghitung sejarah dipersilahkan menjelaskan bebendu sejarah yang sedang deras dilangsungkan itu melalui tema Perang Asia Pasifik, Perang Asimetris, Kubhilai Khan seri-II, Manifestasi Dajjal yang “mensorgakan neraka dan menerakakan sorga”, kulit dan mata Ya’juj Ma’juj, “wong jawa gari separo cina landa gari sakjodho”, tafsir baru 500 tahun Sabdopalon Noyogenggong, atau apapun. Yang pasti rakyat asli Nusantara Indonesia sedang dikurung oleh perampokan dan penjarahan besar-besaran, di mana mereka belum ada 10% pun menyadarinya.

Kalau para pejuang kebenaran 411 tidak memperoleh goal yang dimaksudkannya pada ‘pertempuran awal’, tidak boleh kaget dan malah perlu introspeksi total. Misalnya, karena medan perang dan sasaran tembaknya dipersempit menjadi hanya Al-Maidah 51, yang di dalam ketersediaan pasal pidana tidak sukar untuk di-syubhat-kan. Tidak ada tonjokan tentang kasus-kasus korupsi, reklamasi, atau penyiapan Jakarta untuk pilot project disain penjajahan nasional. Lebih 90% kejahatan manusia tidak selalu bisa dijangkau oleh hukum: ketidak-berbudayaan dalam memimpin, ‘hawa’ negatif eksistensinya, kejinya ucapan, brutalnya tindakan, aura dan nuansa kebenciannya kepada Islam, dst.


Pejuang 411 terfokus pada setitik hilir dan belum menemukan determinasi terhadap hulunya yang dahsyat. Juga para pejuang 411 tidak tepat untuk meneruskan himbauan atau desakan kepada para pelaku sistem kekuasaan, institusi, pejabat pemerintahan atau atasan-atasan, agar turut menembak sasaran yang mereka tembak. Sebab harus berjaga-jaga siapa tahu mereka semua adalah bagian dari suatu formasi kekuatan yang justru bertugas menjaga jangan sampai sasaran itu kena tembak.

Umat Islam perlu melakukan ke dalam dirinya sendiri (Islam dan Kaum Muslimin) muhasabah komprehensif. Kaum Muslimin tidak bisa menunda waktu lagi untuk lebih meng-Islamkan dirinya, sebab itulah modal paling kuat untuk mempertahankan Indonesia. Kaum Muslimin di setiap titik harus menyelenggarakan tahqiqi ke-Islaman sampai ke anak-anak dan cucu-cucu mereka. Menyusun tradisi budaya kependidikan Ta’limul Islam, Tafhimul Islam, Ta’riful Islam, Tarbiyatul Islam hingga tertradisikan Ta’dibul Islam. Setiap lingkaran Muslimin memastikan perkumpulan yang berlatih bersama untuk tidak ditimpa kemalasan berpikir, berpuasa dari egosentrisme kelompok, melawan tradisi amarah, atau memasrahkan persoalan-persoalan kepada para pemimpin, padahal pada saat yang sama sesungguhnya mereka tidak benar-benar percaya kepada pemimpin.

Umat Islam tidak perlu melemahkan dirinya terus menerus dengan khilafiyah dan ikhtilafiyah, apalagi dengan tema-tema furuíyah. Aliran-aliran (produk tafsir) ke-Islaman tidak bisa mengelak lagi untuk mulai duduk bersama, ber-majlis-fatwa bersama, memandu umat mereka berhimpun dan bersatu di dalam kebijakan sejarah “wa amruhum syuro bainahum”. Mengkonsisteni keseimbangan berpikir, keadilan sikap, cerdas kapan hitam-putih kapan warna-warni, serta memastikan bahwa Umat Islam tidak dipersatukan oleh kebencian bersama kepada pihak yang memusuhi mereka. Melainkan berukhuwah sejati karena iman kepada Allah, cinta kepada Kanjeng Nabi dan penjunjungan kepada Al-Quran yang Allah Sendiripun maha bekerja untuk menjaganya.


Termasuk tidak membiarkan kebiasaan mudah kagum, gampang terhanyut, mentakhayulkan idola, Satrio Piningit, Ratu Adil, atau bahkan Imam Mahdi, tanpa mengelaborasinya dengan akal sehat dan rahasia firman. Syukur akhirnya Allah menghidayahi Umat Islam untuk memiliki keridlaan sebagai “ummatan wahidah”, umat yang satu dan selalu menyatu. Dengan kepemimpinan yang juga satu, yang Allah sendiri Maha Pengangkat dan Pelantiknya. Mohon mafhum ini bukan gagasan tentang Imamah.

Salah satu modal Kaum Muslimin adalah mereka yang memusuhinya beranggapan dan meyakini, bahwa berdasarkan teori peperangan: Kaum Muslimin Indonesia kalah hampir di semua segi. Modalnya, pengorganisasiannya, kohesi keumatannya, mesiunya, penguasaan medan dan cuacanya, soliditas pasukan-pasukannya yang jahr maupun yang sirr. Mereka juga menyangka bahwa hizbullah 4 Nov adalah gambaran maksimal kekuatan Kaum Muslimin.

Ada sejumlah dimensi, kekuatan, aura, energi, probabilitas “min haitsu la yahtasib”, immanensi “inna nahnu nazzalnadzdzikro wa inna lahu lahafidhun”, rahasia “wamakaru wamakarallah wallahu khoirul makirin” dst, dst, yang semua penguasa di dunia sejak zaman Nabi Nuh hingga Abrahah serta para adikuasa abad-abad mutakhir, tidak pernah serius memperhitungkannya. Apalagi untuk konteks Nusantara Penggalan Sorga dengan sejarah tanah liat dan Tapel, dengan Iblis Smarabhumi dan Izroil, yang dianggap klenik dan khoyal, sehingga akan membuat mereka salah sangka di ujung penjajahannya atas tanah berkah ini. Fa’álul-lima Yurid, Allah Maha Bekerja mewujudkan kehendakNya.


Saya sendiri, bersama saudara-saudara yang bersama saya, hanyalah manusia, sehingga lemah dan tak berdaya. Yang Maha Kuat dan Maha Berdaya adalah Allah swt. Dan dengan segala ketidakberdayaan itu saya sudah berkali-kali membisikkan ke telinga para syuraqoh penindas manusia dan penganiaya nilai-nilai hakiki Tuhan yang hari-hari ini sedang berbuat adigang-adigung-adiguna di Tanah Air Indonesia: “Tolong dipikir ulang, agar tidak menyesal kemudian.”

Ke mana-manapun berpuluh tahun saya menghimpun para pecinta Allah, berupaya menambah jumlah hamba-hamba agar dicintai Allah, “mengelola arus positif dan negatif menjadi cahaya”. Saya sedih oleh permusuhan, selalu menikmati persaudaraan dengan semua makhluk Tuhan, dan saya tidak bahagia harus bersiap untuk kemungkinan lainnya.

Yogyakarta, 8 November 2016

Muhammad Ainun Nadjib
alias Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)
https://caknun.com/2016/ummat-islam-indonesia-dijadikan-gelandangan-di-negerinya-sendiri/

Monday, May 12, 2014

Opera Sabung: Sabung Capres, Karapan Capres


Cak Nun membuka diskusi sesi kedua dengan meminta beberapa jama’ah untuk naik keatas panggung, serta melemparkan beberapa pertanyaan terkait tentang siapa calon presiden yang sudah muncul di masyarakat saat ini, meskipun belum secara resmi dideklarasikan dan didaftarkan di KPU. Beberapa nama yang muncul adalah Jokowi, Akbar Tanjung, Abu Rizal Bakrie, Surya Paloh, Prabowo, Anies Baswedan dan lain-lain.

Cak Nun kemudian bertanya lagi “Dari semua Capres yang ada, ada berapa fakta yang anda ketahui? Misalnya Jokowi, nama aslinya siapa, nama orang tuanya siapa, keturunan siapa, prestasinya apa, botoh (bandar)-nya siapa saja, sponsornya siapa saja, duit sponsornya berapa. Dari sekian fakta ini ada berapa yang anda ketahui?” Cak Nun melanjutkan, “Kalau anda tahu bahwa ini bukan kacang, apakah anda akan memakan kacang ini?”

Dari sekian fakta yang anda ketahui tentang salah seorang capres, dari mana anda dapatkan sumber informasinya. Misalkan anda mendapatkan informasi tersebut berasal dari media, anda pribadi kepada media tingkat kepercayaannya itu berapa persen?

Misalnya ada rumor, si A siap 5 triliun asalkan wakilnya Jokowi adalah Jusuf Kalla. Kemudian Si B siap juga 5 triliun asalkan wakilnya Jokowi adalah Akbar Tanjung. Kemudian si C siap 5 triliun juga dengan syarat wakil Jokowi adalah Gita Wirjawan atau Pramono Edhie Wibowo. Ini hanya rumor. Tetapi mungkin si Ibu kemudian mempersyaratkan yang jadi wakil Jokowi adalah Puan Maharani atau Prananda Prabowo. Kemudian si Ibu berfikir  bahwa Jokowi masih harus di-back-up oleh Militer, kemudian muncul opsi Luhut Panjaitan, Hendro Priyono atau Ryamizad Ryacudu. Ini hanya rumor. Sayangnya masyarakat kita sekarang menelan rumor tersebut. Padahal orang yang menelan rumor adalah orang yang akan celaka. Karena ini rumor, maka bagi kita kabar ini tidak legitimated, sehingga kita singkirkan rumor ini.

Ada 4 idiom dalam Islam ketika mengambil keputusan; Ilmul Yaqin, Haqqul Yaqin, Ainul Yaqin dan Udzunul Yaqin. Ilmul Yaqin itu adalah metode yang digunakan dalam mengambil keputusan berdasarkan pengetahuan yang kita miliki. Haqqul Yaqin adalah metode yang diambil setelah melakukan pertimbangan yang masak, entah berasal dari intuisi, firasat dan sebagainya. Ainul Yaqin adalah metode yang digunakan dalam mengambil keputusan berdasarkan apa yang dilihat dengan mata. Dan Udzunul Yaqin adalah metode pengambilan keputusan yang diambil hanya dengan pertimbangan apa yang didengar. Dan metode keempat inilah yang sedang kita lakukan sekarang dimana metode ini merupakan metode terlemah dari keempat metode yang ada.

Jika diibaratkan sebuah rel, maka Pemilu di Indonesia ini sudah berjalan diatas rel yang sudah dibangun, karena secara konstitusi, undang-undang dan aturannya sudah berlaku sesuai dengan yang diputuskan. Namun, tidak ada yang mempertanyakan akhir tujuan dari rel tersebut. Yang kita lakukan sekarang hanya berjalan diatas rel yang tidak kita ketahui dimanakah stasiun pemberhentian akhir rel tersebut.

Ical, Jokowi, Prabowo, Cak Nun, dan Anies Baswedan.

Dari 4 metode pengambilan keputusan tadi, kita saat ini sedang berada didalam tahun dimana kita akan mengambil keputusan dengan metode “Udzunul Yaqin”, berdasarkan apa yang kita dengar.

Wahyu pertama diawali dengan kata Iqra’. Kata Iqra’ ini merupakan sebuah kata yang paling keramat dari Allah untuk supaya manusia itu belajar. Untuk memahami ayat ini kita harus meneruskan sampai selesai, tidak hanya berhenti di Iqra’ saja. Iqra’ bismirabbika-l-ladzi khalaq. Kata Iqra’ di ayat ini tidak dapat berdiri sendiri karena harus dengan didampingi dengan “bismirabbika”, dan “bismirabbika” ini ada argumentasinya yaitu “alladzi khalaq”. Dan “alaldzi khalaq” ini ada uraian dan penjelasannya pada ayat selanjutnya yaitu “khalaqa-l-insaana min ‘alaq”, dan seterusnya sampai ayat terakhir dari surat Al-Alaq ini karena ada konstelasinya sampai ayat terakhir.

Cak Nun meminta jama’ah agar mempelajari kembali surat Al-Alaq ini untuk bekal menghadapi Pemilu yang akan berlangsung kurang dari sebulan lagi. Pemilihan Legislatif masih mungkin terjadi, namun pemilihan presiden belum tentu terjadi. Karena mungkin terjadi sesuatu yang tidak kita sangka-sangka, bukan hanya deadlock tapi juga tetesan darah. Dan belum tentu kita akan menemui bulan Juni yang kita idam-idamkan sebelumnya. Jadi Iqra’ ini cakupannya sangat luas. Karena begitu banyak orang yang dicelakakan oleh apa yang didengar, apa yang dilihat dan apa yang dibaca.

“Kira-kira poin apa yang membedakan antara membaca tanpa berlandaskan Allah dengan membaca yang menggunakan landasan Allah?” Cak Nun kembali melempar pertanyaan kepada jama’ah. Ada kemungkinan lain bahwa manusia saat ini membaca berdasarkan selain Allah, bisa saja berdasarkan kepentingan atau nafsu.

Allah ketika berbicara kuantitatif menggunakan kalimat “yaa ayyuha-n-naas”, sedangkan jika Allah ingin berbicara secara kualitatif maka Allah menggunakan kalimat “yaa ayyuha-l-ladziina aamanuu”. Nah kata Iqra’ di dalam wahyu pertama tadi dapat kita simpulkan bahwa kalimat itu ditujukan kepada seluruh manusia meskipun Allah tidak menyebutkan kalimat “yaa ayyuha-n-naas”. Di Kenduri Cinta ini sudah lama kita tidak mengenal terminologi laki-laki dan perempuan, karena kita di sini semua manusia. Laki-laki dan perempuan itu ketika anda berada di kamar bersama suami atau istri anda.

Alasan Allah supaya engkau mempelajari sesuatu dengan Nama Allah karena Allah merupakan pencipta alam semesta. Kemudian pada ayat selanjutnya disebutkan bahwa Allah menghadirkan dirinya tidak berada pada posisi baik-Nya, benar-Nya, dahsyat-Nya, hebat-Nya melainkan mulia-Nya. “Iqra’ warabbukal-akram”. Jadi ternyata Allah memiliki anjuran permanen, yaitu anda mau kaya, mau jadi petani, mau jadi apa saja itu silahkan. Hal ini tidak menjadi ukuran bahwa seseorang menjadi tinggi derajatnya atau tidak, melainkan output kehidupanmu itu kemuliaan atau bukan, itu yang menjadi ukuran permanen yang sudah disampaikan oleh Allah. Dalam ayat lain disebutkan “Inna akramakum ‘indallahi atqaakum”, jadi perlombaannya manusia bukan urusan kaya, terkenal, hebat melainkan perlombaan kemuliaan. Kebaikan itu satu sisi, tetapi ia harus bekerja sama dengan kebenaran dan keindahan agar menjadi kemuliaan.

Iqra' !!! Baca, baca dan baca !!!

Ada orang kuat, orang pintar, orang berkuasa, orang kaya dan orang baik atau mulia. Kita harus bisa menentukan urutan-urutan strata ini sesuai dengan derajat yang tertinggi. Apabila kita berhasil mengurutkannya maka kita akan sangat jelas melihat apa yang terjadi di Indonesia saat ini. Di Indonesia saat ini orang kaya adalah posisi yang paling atas dan yang paling diidam-idamkan oleh banyak orang. Orang pintar menggunakan kepintarannya agar dia menjadi kaya. Orang kuasa menggunakan kekuasaannya untuk memperkaya dirinya. Orang kuat menggunakan kekuatannya untuk memperkaya diri. Bahkan orang baik (mulia) pun menggunakan apa yang dimilikiknya untuk menjadi orang kaya. Maka kita melihat fenomena ustadz-ustadz yang muncul di televisi saat ini adalah produk dari kegagalan manusia Indonesia dalam menempatkan dirinya.

Dalam sejarah berkembangnya Islam di Indonesia. Pada abad ke 7 Islam sudah masuk ke Indonesia dibawa oleh para pedagang, namun tidak dipercaya oleh masyarakat di Nusantara karena mereka tidak percaya kepada orang kaya. Namun ketika Walisongo memperkenalkan Islam kepada masyarakat Nusantara, Islam dapat diterima dan menyebar luas karena masyarakat sangat percaya kepada orang mulia. Namun yang terjadi sekarang justru terbalik, kita lebih menginginkan menjadi orang kaya, bukan menjadi orang baik. Karena orang kaya menjadi tujuan utama, maka yang terjadi adalah orang kuat, orang pinter, orang kuasa semua berlomba-lomba menjadi orang kaya.

Bahkan orang-orang baik: kyai, nyai, aktivis organisasi keagamaan yang seharusnya berada di posisi tertinggi pun ingin menjadi orang kaya. Maka kita dapat melihat sekarang para calon bupati, calon legislatif mendekati kyai-kyai agar mendapat tambahan suara agar ia dapat terpilih dalam pemilihan umum.

Cak Nun bercerita tentang Kyai Muzzammil yang ingin mengajak Cak Nun untuk bertemu Gus Mus untuk memberi masukan kepada kyai-kyai NU karena di Jogja baru saja ada tema diskusi berjudul “Kyai-kyai dan Ulama mengawal Demokrasi”. Kesimpulan Kyai Muzzammil adalah tidak mungkin seorang kyai mengawal demokrasi karena mayoritas dari para kyai saat ini justru menjadi pemain di dalam demokrasi. Mereka memproposalkan pondok pesantrennya kepada pemerintahan yang berkuasa untuk dijadikan kekuatan agar kyai-nya tersebut menjadi kaya.

Media massa yang saat ini berhasil memposisikan dirinya berada di luar politik praktis demokrasi pun tidak melakukan pengawalan, melainkan justru mengambil keuntungan dari apa yang terjadi dalam karut-marut dunia politik di Indonesia. Dan apabila mereka melakukan kesalahan, mereka tidak ditangkap Polisi karena mereka memiliki Dewan Pers.

Kalau anda hanya Iqra’ tapi tidak menggunakan “bismirabbika-l-ladzi khalaq”, maka anda akan tertipu, terjebak, dan terperosok terus ke dalam lubang yang sama. Jadi akan lebih baik anda mendapat pertanyaan-pertanyaan daripada jawaban-jawaban, karena dengan pertanyaan-pertanyaan anda dapat mencari lebih banyak dan dapat melatih diri anda sehingga mencerdaskan fikiran anda.

General Daendels tua (kiri) dan Daendels muda (kanan).

Cak Nun melemparkan pertanyaan-pertanyaan yang sedianya akan disampaikan oleh Mas Agung. “Bagaimana proses terjadinya hujan?” Secara ilmu fisika air yang dimasak akan menguap pada suhu 100 derajat celcius, sekarang air laut itu suhu panasnya apakah cukup untuk menguapkan air untuk menjadi awan kemudian turunlah air hujan?

Pertanyaan selanjutnya adalah tentang jalan yang dibangun oleh Daendels. Jalan sepanjang 1000 km hanya dibangun oleh Daendels dalam jangka waktu 3 tahun. Apakah hal ini logis? Salah seorang jama’ah yang kebetulan merupakan sarjana teknik sipil mengatakan bahwa hal tersebut sangat mustahil dilakukan dalam jangka waktu 3 tahun berdasarkan keadaan geografis yang ada saat itu. Karena dibutuhkan alat berat yang lebih moderen dan sumber daya manusia yang sangat banyak untuk menyelesaikan pembangunan jalan tersebut. Maka pertanyaannya, apakah Daendels benar-benar telah membangun jalan tersebut?

“Kalau kepada Allah, anda harus laa raiba fiihi, tetapi kepada selain Allah anda harus raiba fiihi”, Cak Nun mengingatkan jama’ah agar selalu mempertanyakan apa saja di dunia ini, salah satunya tentang fakta sejarah yang ada di Indonesia karena sejarah yang ada di Indonesia ini merupakan buatan Belanda.

“Anda tidak usah meyakini sesuatu yang tidak benar-benar anda tahu. Itulah gunanya kita ngomong tentang Opera Sabung, supaya anda tidak mengunyah sesuatu yang benar-benar anda tidak tahu”, lanjut Cak Nun. Anda pernah ke pabrik gula? Di pabrik gula di Jawa Timur itu ada satu alat besar berupa gilingan besar yang beratnya mencapai 200 ton. Barang itu tiba-tiba ada di sebuah pabrik gula di Jember dan beberapa pabrik gula di Jawa Timur. Pertanyaannya adalah itu bikinnya gilingan sebesar 200 ton itu bagaimana? Kalau dibikin di tempat itu, kenapa setelahnya di tempat itu tidak dibikin lagi oleh orang-orang disana? Atau dibikin di tempat lain, misalnya di Jakarta (Sunda Kelapa), bagaimana ngangkut alat tersebut, yang beratnya 200 ton? Padahal jembatan yang ada sekarang saja maksimal 50 Ton. Dan kita tidak pernah mencari tahu tentang hal ini? Apakah ketika Belanda datang kesini kita itu hanya petani yang punya cangkul saja?

Kembali ke pabrik gula, Belanda itu kan datang kesini untuk mengangkut hasil-hasil bumi, salah satunya gula, tetapi kenapa Belanda membikin pabrik gula justru jauh dari pelabuhan Sunda Kelapa yang merupakan pelabuhan utama saat itu? Nah ternyata konsumen utama dari gula itu sendiri adalah penduduk Jawa Tengah dan Jawa Timur yang suka meminum teh manis, sedangkan Jawa Barat penduduknya lebih menyukai teh pahit yang tidak menggunakan gula sebagai pemanis. Maka dapat disimpulkan bahwa pabrik gula itu konsumen utamanya adalah penduduk Jawa sendiri. Jadi apakah pabrik gula itu benar-benar buatan Belanda?

Cak Nun memancing jama’ah dengan mempertanyakan terkait dengan kereta api. “Itu rel kereta api yang katanya dibangun oleh Belanda itu jika dikumpulkan di Negeri Belanda apakah mampu menampung?” Siapakah yang membikin rel tersebut? Dimana dibuatnya? Apabila dibikin di Belanda berarti harus ada sekian ribu ton besi yang harus diangkut kesana, kemudian diangkut kesini lagi? Bukankah itu sama saja pedagang gila? Dimana sekarang pabrik gerbong lokomotif yang skalanya lebih bagus dari bikinan Jepang? Yaitu di Madiun, INKA yang dulu disebut Balai Yasa. Cuma kok kenapa bikinnya di Madiun? Kalau memang Belanda yang inisiatif membikin Kereta Api di Indonesia, sangat tidak logis untuk membangun pabrik kereta api di Madiun.

Rel kereta api, siapa yang bikin dan siapa yang punya?

“Saya cuma ingin mengatakan kepada anda, anda itu ndak goblok, anda itu tidak rendah, anda itu tidak tertinggal. Cuma anda itu diapusi (ditipu) oleh sejarah yang dibikin oleh Belanda”. Lanjut Cak Nun. “Mas, anda punya handphone Samsung? Itu made in mana? Korea? Dikamplengi kon karo arek-arek TKI ndik Korea. Anda punya mobil Hyundai dan sebagainya, kamu pikir siapa yang mbikin barang-barang itu. Kalau memang ndak mau diakui bahwa itu buatan Indonesia, maka made in wong Indonesia. Mas, kalau pengusaha-pengusaha kita percaya kepada rakyatnya, sebenarnya kita mau bikin apa saja anak-anak kita bisa”.

Cak Nun melanjutkan tentang banyaknya jumlah kios servis handphone di Indonesia. “Adakah diantara mereka yang sekolah handphone?” Pertanyaan-pertanyaan ini sengaja ditujukan kepada jama’ah oleh Cak Nun untuk membangkitkan kepercayaan diri, sehingga untuk mencari pemimpin salah satu syaratnya adalah dia yang percaya kepada rakyatnya sendiri. Cak Nun kemudian bercerita tentang banyaknya TKI-TKI ilegal di Korea yang dilindungi oleh perusahaan-perusahaan dan pemerintah di sana, karena Korea membutuhkan mereka. Di Korea, TKI asal Indonesia lulusan Tsanawiyah bisa menjadi mandor di sebuah pabrik. Mereka cukup belajar sebulan dua bulan, kemudian mereka expert.

“Saya ingin pemimpin-pemimpin itu percaya kepada rakyatnya? Emang ada rakyat Indonesia yang hidup makmur karena pemerintahnya? Yang ada adalah kemakmuran rakyat diganggu oleh pemerintahnya”, lanjut Cak Nun.

“Kopassus itu nomor 3 terhebat di dunia dengan fasilitas yang seadanya, hanya kalah sama Mossad dan SAS, tapi kalau dengan Green Barret mereka menang”. Cak Nun melanjutkan tentang kurangnya tingkat kepercayaan perusahaan-perusahaan di Indonesia kepada sekolah-sekolah Islam. Yang terjadi kemudian adalah lulusan sekolah-sekolah Islam tadi menjadikan ceramah sebagai salah satu pekerjaan yang bisa digunakan untuk mencari uang. Kemudian mereka dipekerjakan oleh para biro travel umrah untuk menjadi pemandu ibadah umrah dan haji dengan menyusun doa-doa yang sangat panjang yang kemudian dihafalkan oleh para jama’ah umrah dan haji.

“Secara sosiologis, seandainya ada 1000 Amrozi, 1000 Imam Samudera muncul itu tidak membuat saya heran”, lanjut Cak Nun. Karena mereka yang lulusan sekolah Islam (pesantren) tidak mendapatkan tempat untuk bekerja. Maka kita tidak heran kalau kemudian muncul teroris dari kalangan santri. Alhamdulillah yang muncul sebagai teroris hanya sekian persen, yang lainnya menjadi ustadz yang ceramah di beberapa tempat. Ini akibat kurangnya kepercayaan Indonesia sendiri kepada kalangan santri.

“Jangan meremehkan apapun, kalau ada orang yang bilang akan ada banjir darah di Jawa Timur, jangan bilang ya jangan bilang tidak. Tanya kepada Allah. Kalau ada orang bilang hati-hati setelah bulan April, jangan bilang ya jangan bilang tidak. Lihat gunung mana yang paling lemah lempengan batu-batunya untuk menahan Mandoro Geni dan lava dari Gunung Merapi yang meyebar dari Aceh sampai ke Flores. Jangan terkecoh dengan gunung-gunung yang berstatus waspada karena nanti tiba-tiba akan meletus gunung-gunung yang tidak waspada, karena vulkanologi sudah tidak mampu membaca perilaku dan karakter gunung-gunung. Anda sekarang perlu belajar lebih tinggi lagi untuk mengetahui tentang itu”, lanjut Cak Nun.

Negeri yang dikelilingi Mandoro Geni alias Ring of Fire.

“Carilah pemimpin satu diantara tiga, pemimpin yang bener-bener dicintai oleh rakyat, pemimpin yang ditakuti oleh rakyat atau pemimpin yang dicintai dan ditakuti oleh rakyat”.

“Aku tidak tega kepada Jokowi, hatiku tidak tega, aku kasihan kepada dia, aku tidak melanjutkan kalimatku karena engkau akan sangat terkejut. Tapi ingatlah bahwa aku sangat cinta kepada semuanya dan aku tidak tega kepada dia. Tapi saya tidak akan kemukakan fakta apapun karena anda belum iqra’ bismirabbika-l-ladzi khalaq”.

“’allama-l- insaana ma lam ya’lam, pada ayat ini Allah memposisikan diri-Nya sebagai Sang Maha Guru yang mengajarkan kepada manusia tentang apa-apa yang tidak diketahui. Pernahkah anda bertanya kepada Allah?”, lanjut Cak Nun. Selama ini manusia kebanyakan menghadap Allah hanya ketika meminta rizqi, tapi sangat jarang yang bertanya dan berguru kepada Allah.

Secara spontan, Mbak Inna Kamarie bersama Mas Beben Jazz and friends membawakan lagu “Kompor Mleduk” dan “Hujan Gerimis” karya Benyamin Suaeb yang dibawakan dengan aransemen Jazz. Dan juga Cak Nun meminta mas Beben memainkan beberapa nada untuk dikolaborasi dengan Qira’ah.

Setelah itu ceramah kembali dilanjutkan, “Gubernur Majapahit yang terakhir setelah Demak berdiri itu namanya Nyulaewa, seorang China. Ia dituntut oleh masyarakat Majapahit asli agar membangun kembali kebesaran Majapahit di tengah kerajaan Demak. Tapi karena gagal kemudian ia dihancurkan oleh rakyatnya sendiri. Jadi kalau kamu punya kemauan apa-apa, hati-hati, tolong dihitung bener-bener. Kamu kawin di Solo belum selesai, terus kamu kawin di Jakarta. Baru saja kawin di Jakarta, kamu mau kawin lagi dengan janda yang lebih kaya dan lebih gede badannya. Saya cinta janda itu, tetapi ayo dihitung bareng-bareng, hati-hati, tidak segampang itu. Indonesia tidak bisa selamat oleh keinginan-keinginan semacam itu. Indonesia hanya bisa selamat oleh perundingan bersama untuk menemukan yang terbaik, untuk menemukan titik tengah yang terbaik, khairul umuuri awsatuhaa”.

Kekeliruan memahami Islam akhir-akhir ini adalah karena kita salah mengidentifikasi Islam itu sendiri hanya berdasarkan kulitnya saja. Islam itu pada hakikatnya bersifat kualitatif meskipun pada saat-saat tertentu bersifat kuantitatif. Shalat itu penting, namun yang lebih penting lagi adalah output dari shalat itu sendiri. Shalat merupakan sebuah input yang menghasilkan output yaitu akhlak (perilaku) yang baik. Kesalahan kita sekarang adalah shalat dijadikan output, sehingga kita sangat mudah menilai Islam atau tidaknya seseorang dilihat dari ibadahnya saja yang seharausnya merupakan sebuah input. Umpama warung, maka yang penting itu adalah hasil dari masakannya, enak atau tidak.

“Fokus anda di dalam beribadah itu pahala atau Allah? Surga atau Allah?” Cak Nun merespon pertanyaan jama’ah tentang pahala. “Kalau kamu berfokus kepada Allah, engkau tidak peduli akan ditempatkan di surga atau neraka”.

Ka'bah di Makkah sebagai kiblat dunia.

“Ibaratnya begini, saya punya kebun mangga, kemudian kamu datang ke kebun saya, mbantuin nyapu-nyapu di kebun saya, ndak minta mangga. Justru yang khawatir adalah saya, sehingga kemudian saya pasti akan kasih kamu mangga yang banyak”. Lanjut Cak Nun. “Jadi shalat kamu itu menyembah Allah atau pahala? Kamu sujud dihadapan ka’bah itu kamu sujud kepada ka’bah atau kepada Allah?”

“Jadi bodohlah orang yang mengutamakan jasad”. Cak Nun menambahkan penjelasan tentang kiblat. Bahwa ka’bah adalah kiblat bagi mereka yang shalat di Masjidil Haram. Masjidil Haram merupakan kiblat bagi mereka yang berada di Makkah. Makkah sendiri adalah kiblat bagi mereka yang tinggal di Saudi Arabia, dan Saudi Arabia adalah kiblat bagi mereka yang berada di luar negara Saudi Arabia.

Pahala itu penting, tetapi jangan lupa bahwa itu bukanlah fokus yang utama. Dan jangan sekali-kali memasti-mastikan Tuhan. Allah itu merdeka, karena Dia adalah pemilik utuh alam semesta ini, dan Allah berhak merubah aturan-aturan yang sudah ada. Allah berhak dan berkuasa penuh atas semua keputusan-keputusan yang ada. Allah berhak memasukkan orang yang berkali-kali umrah sekalipun ke dalam neraka.

“Sesungguhnya seluruh proses kehidupan ini mengandung pertaruhan”, Cak Nun merespon jama’ah yang bertanya tentang judi. Seluruh hidup ini mengandung spekulasi, bahkan seorang ibu yang sedang melahirkan adalah salah satu spekulasi dalam kehidupannya. Tidak ada seorang pun yang bisa memastikan bahwa dia akan tumbuh dari bayi menjadi orang yang dewasa atau sampai tua.

Rasulullah setiap malam itu menangis tetapi bukan dalam rangka menangis karena dirinya, melainkan menagisi umatnya. Beliau tidak pernah mengeluh atas hidup beliau yang menderita. Beliau tidak pernah marah kepada orang yang melempar batu ke kepalanya. Yang dilakukan oleh Rasulullah adalah menangisi umatnya.

Dalam Islam dikenal istilah fastabiqul khairat. Apapun yang kita lakukan dalam kehidupan ini adalah perlombaan dalam hal kebaikan, bukan perlombaan tentang keunggulan satu sama lain. “Jangan pernah merasa sedikit pun kita merasa unggul atas orang lain”, lanjut Cak Nun. “Ndak boleh unggul dari orang lain, yang kamu lakukan adalah bermain sepakbola yang baik, kalah atau menang adalah hasil dari bermain sepakbolamu, bukan tujuanmu”.

“Judi itu dilarang agar jangan sampai anda menjadi kecanduan, dan uangmu habis hanya untuk berjudi”.

Bung Karno, Presiden pertama Indonesia, dan Muhammad Ainun Najib alias Cak Nun, akankah jadi Presiden Indonesia selanjutnya ?

“Menurut anda masalah Indonesia ini apabila menggunakan istilah penyakit, apakah sudah berada pada stadium 5?” Cak Nun merespon jama’ah yang menanyakan tentang kesediaan menjadi Presiden dan kekhawatirannya apabila Cak Nun menjadi Presiden kemudian tidak bisa hadir di acara Kenduri Cinta.

“Menurut anda, apabila anda saya tuntut menjadi Presiden apa reaksi anda? Pada saat semua orang tahu bahwa penyakit Indonesia yang sedemikian komplikasinya yang hampir tidak bisa disembuhkan, kok ada orang yang mau mencalonkan diri menjadi Presiden, apa niatnya?” Cak Nun memberi bekal pertanyaan kepada jama’ah yang hadir.

Wirid-nya kan jelas, in lam takun ‘alayya ghadlabun falaa ubaali. Asalkan Allah ndak marah sama saya, apa saja saya mau. Menderita saya mau, berjuang saya mau. Saya ndak jadi apa-apa ya mau, jadi apa-apa ya mau. Ndak ada bedanya bagi saya. Dan andaikan saya berada di dalam struktur pemerintahan, jangan khawatir saya lantas tidak bisa berada di sini”. Tutup Cak Nun.

Tak terasa waktu menunjukkan pukul 04:02 WIB, Kenduri Cinta dipuncaki dengan doa bersama oleh Syeikh Nursamad Kamba.

Cuplikan dari reportase Kenduri Cinta Maret 2014
Red KC, Fahmi Agustian,
http://www.caknun.com/2014/opera-sabung-sabung-capres-karapan-capres/