Showing posts with label Virus. Show all posts
Showing posts with label Virus. Show all posts

Thursday, September 9, 2021

Penanganan Pandemi: Turbulensi Kehidupan


Hari-hari terakhir ini lukisan kehidupan anak bangsa amat memprihatinkan, mencekam, bahkan menakutkan. Hampir setiap kali kita membuka postingan pesan Facebook, WAG atau Twitter, berderet panjang berita tentang teman, adik, kakak, ibu, ayah atau sanak saudara lainnya yang terinfeksi Covid-19, dirawat di rumah sakit, diisolasi mandiri, dijemput ambulans, sekarat di tempat tidur, hingga mengembuskan napas terakhir.

Juga, berita-berita media tentang rumah sakit-rumah sakit yang kewalahan menampung pasien, kelangkaan tabung oksigen, jalan-jalan yang ditutup, antrean di pemakaman —semuanya adalah lukisan muram anak bangsa yang tengah berjuang keras untuk hidup.

Semua ini tidak hanya tentang aroma ketakutan, kesedihan dan derai air mata, tetapi juga tentang lorong ketakpastian hidup. Anak bangsa ini ada di lorong panjang ketakpastian itu: antara terinfeksi atau imun, sehat atau sakit, negatif atau positif, pulih atau meninggal, tetap di rumah atau bepergian, dapat makan atau kelaparan, terus bekerja atau diberhentikan.


Pasung ketidakpastian ini menelikung segenap lapisan masyarakat, setiap kelas sosial, semua kelompok gaya hidup, seluruh suku dan segala ras —tidak ada yang tersisa. Inilah titik ambang batas (threshold) dalam dunia kehidupan, yang menyisakan kebimbangan dan kegamangan hidup —the turbulence of lifeworld.

Dalam segala keterbatasan, manusia tentu berupaya melepaskan diri dari telikung ketakpastian ini. Misalnya, upaya pemerintah memberlakukan aturan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat mulai tanggal 3 Juli 2021 yang lalu di beberapa wilayah.

Meskipun belum maksimal, setidaknya ada efek perubahan gerak-gerik masyarakat —individu, kelompok, komunitas— ke arah kepatuhan terhadap protokol kesehatan.

Meningkatnya penjualan beberapa jenis vitamin dan suplemen setidaknya juga menjadi indikator bahwa masyarakat berusaha meningkatkan imunitas tubuh mereka. Artinya, dalam telikung ketidakpastian, gerakan "perang melawan virus" itu tetap hidup!


Turbulensi sosial
Pandemi Covid-19 —khususnya varian baru Delta— layaknya hantaman tsunami, telah menimbulkan kekacauan, ketakpastian dan turbulensi dalam kehidupan sosial. Efek kepanikan dari turbulensi ini telah mengancam ketahanan fisik, sosial, ekonomi dan budaya.

Turbulensi secara filosofis adalah keadaan antara atau mengambang: antara keberaturan dan kekacauan, antara kepenuhan dan kehampaan, antara determinisme dan indeterminisme, antara ada dan tiada, antara yang dapat diprediksi dan tak-dapat diprediksi, antara integrasi dan disintegrasi, antara kesatuan dan keterpecahan, antara sehat dan sakit, atau antara hidup dan mati. (Serres, 1998)

Turbulensi lahir karena ada pengganggu atau recok (noise), seperti virus atau parasit. Dan, Covid-19 adalah sang pengganggu itu, yang merecoki kehidupan anak bangsa.


Virus dan parasit sama-sama pembonceng, perecok, pembajak dan penumpang gelap pada tubuh manusia sebagai inang, yang dapat menimbulkan efek kerusakan multi-dimensi. Ada hubungan asimetris antara parasit dan inang. Inang memberi semuanya, dan tak mengambil apapun.

Sebaliknya, parasit mengambil semuanya dan tidak memberi apapun. (Serres, 1995). Pandemi Covid-19 menimbulkan turbulensi kehidupan karena ia merecoki kehidupan biologis, sosial, ekonomi, politik dan kultural anak bangsa, bahkan merusak peradaban —the noise of civilization.

Turbulensi menciptakan ambang batas yang bersifat multidimensi: fisik, sosial, psikis dan kultural. Ambang batas adalah sesuatu yang mengambang atau terombang-ambing pada garis batas. (Kristeva, 1991). Pandemi Covid-19 telah menciptakan titik ambang batas fisik: antara imun dan terinfeksi, antara sehat dan sakit, antara hidup dan mati.

Ia juga menciptakan kondisi ambang batas psikis: antara aman dan terancam, antara tenang dan takut, antara lepas dan terkungkung. Ia juga menciptakan ambang batas sosial: antara berkumpul dan berjarak, antara kebebasan dan isolasi, antara integrasi dan disintegrasi. Kondisi ambang batas ini telah memperkelam lorong ketakpastian.


Covid-19 telah menimbulkan kekacauan, keacakan dan ketakpastian dalam aneka skala. Ketakpastian lalu membawa pada kondisi ketakter-prediksi-an maksimum pada aneka sistem, karena tingginya jumlah pilihan-pilihan dan sifatnya yang acak: sosial, ekonomi, politik, budaya, seni. (Campbell, 1984).

Tetapi, harus diingat, recok sudah setua sejarah penciptaan manusia, yang sudah ada sejak awal kejadian manusia di bumi. Iblis yang merayu Adam dan Hawa agar memakan buah kuldi adalah satu bentuk recok pertama. Recok kemudian menjadi "panggung belakang" dari seluruh sejarah kehidupan manusia hingga kini dan juga seterusnya nanti. (Serres, 1998).

Selain itu, pandemi Covid-19, layak pula menjadi sebuah bahan refleksi diri tentang makna kehidupan. Beban derita dan ketakutan yang dialami manusia akibat pandemi Covid-19 memang tidak terlukiskan. Akan tetapi, dalam kondisi normal, bukankah manusia itu juga virus dan parasit?

Meniru perilaku virus, manusia juga pembonceng dan recok bagi manusia lain serta alam. Manusia menguras sumberdaya alam demi pemuasan hasrat, tanpa pernah memberi apapun sebagai imbalan. Manusia juga "mempermudah" pandemi Covid 19, karena virus "membonceng" pada kemudahan yang disediakan teknologi produksi, transportasi, dan distribusi global ciptaan manusia.


Meskipun demikian, "perang melawan virus" toh harus tetap digelar demi mempertahankan hidup. "Bio-politik" adalah jalan politik untuk mempertahankan hidup dalam sebuah sistem dan kondisi yang ada. Sementara, bio-power adalah "hidup yang menjadi sasaran komando politik," (Foucault, 1986).

Anak bangsa kini terlibat di kedua bentuk "politik" ini. Di satu pihak, setiap orang harus mempertahankan hidup dalam ancaman hebat pandemi, dengan segala cara. Di pihak lain, pemerintah menggunakan otoritasnya untuk mengatur, mengendalikan dan membatasi masyarakat, demi mengurangi dampak pandemi Covid-19.

Konflik terjadi, ketika ada jurang antara bio-politik dan bio-power, yaitu kontradiksi antara gerak-gerik masyarakat dalam mempertahankan hidup dan gerak gerik pemerintah dalam mengatur masyarakat. Kian besar jurang antara gerak-gerik masyarakat dan pengaturan pemerintah, kian besar efek turbulensi dan ketakpastian yang ditimbulkan dalam perang melawan virus, seperti yang terjadi di beberapa negara.

Sebaliknya, kian melekat chemistry (kecocokan) antara suasana batin masyarakat dan langkah kebijakan, program dan gerak-gerik pemerintah, kian tangguh mesin perang anak bangsa melawan virus.


Resiliensi budaya
Seberat apapun beban kehidupan, respons melawan virus harus diberikan, untuk tetap bertahan hidup. Resiliensi adalah respons kognitif, perilaku dan emosi yang fleksibel terhadap aneka kesulitan, yang sangat ditentukan oleh sikap dalam menghadapinya.

Ia adalah jalan untuk membangun kebertahanan dan bangkit dari kesulitan yang bersifat disruptif, seperti pandemi Covid-19. (Neenan, 2018).

Aneka cara, metode, dan teknik telah dilakukan oleh berbagai elemen bangsa untuk meningkatkan kebertahanan menghadapi efek pandemi. Proses pemulihan mungkin akan panjang, yang akan menciptakan kebiasaan-kebiasaan baru. (Fiksel, 2015)

Akan tetapi, resiliensi harus didukung oleh pemahaman komprehensif, terintegrasi dan mendalam tentang virus dengan segala dimensinya. Selain sudut pandang virologi, virus harus dilihat dari sudut pandang lebih luas dan terintegrasi: sosial, politik, ekonomi, budaya, seni dan keagamaan.


Patografi adalah pendekatan lintas-disiplin macam ini, sebagai ramuan narasi historis, biologis, sosial, politik, ekonomi dan kultural penyakit dan penularannya. Inilah metanarasi tentang krisis atau penyakit di ruang-waktu tertentu, termasuk pandemi Covid-19 dan aneka variannya. (MacPhail, 2014)

Dalam perang melawan Covid-19, selain lintas-disiplin, diperlukan pula pendekatan lintas-sektoral dan lintas-institusional. Pada tingkat akademis, perlu dihasilkan pemikiran, konsep, sistem, bentuk atau produk-produk terkait virus melalui aneka temuan ilmiah lintas-disiplin, yang melibatkan aneka disiplin kedokteran, virologi, sains, teknologi, sosiologi, ekonomi, psikologi, kebudayaan, seni, dan lain-lain.

Pada tingkat kepemerintahan, perlu kebijakan, program dan tindakan lintas-sektoral dan lintas-institusional terintegrasi. Pada tingkat masyarakat, perlu gerakan akar rumput tingkat individu, komunal dan sosial dalam semangat "gotong royong" mengatasi masalah bersama, melampaui segala perbedaan sosial-politik.


Selain itu, perlu optimalisasi dan integrasi atas tiga upaya yang tengah dilakukan. Pertama, memaksimalkan kepatuhan terhadap prosedur kesehatan yang sudah digariskan secara nasional. Kedua, memaksimalkan imunitas diri sesuai dengan kemampuan, dan bila memungkinkan menemukan gagasan-gagasan inovatif terkait kebertahanan dan imunitas.

Ketiga, intensifikasi pendekatan diri kepada Tuhan melalui doa, karena agama mengajarkan bahwa segala penyakit pasti ada obatnya. Memang, virus tak bisa dibasmi karena ia bagian historis keseimbangan alam. Tetapi, ia harus dilawan untuk meredam guncangan turbulensi dan efek merusaknya pada kehidupan.

Semoga anak bangsa diberi kekuatan, imunitas dan kesehatan.

Yasraf Amir Piliang
Pemikir sosial dan kebudayaan ITB
KOMPAS, 22 Juli 2021

Thursday, January 7, 2021

Tentang Puzzle Virus China

Dany Shoham dan rekarupa Covid-19.

Setelah tepat setahun sejak Coronavirus Wuhan menginfeksi dunia akhir Desember 2019, aku teringat lagi kesaksian Dany Shoham, mantan intelejen Israel yang mengatakan bahwa Coronavirus 2019 ini adalah senjata biologis China. Shoham melaporkan fasilitas senjata biologi China tahun 2015, jauh sebelum Coronavirus Wuhan dilepaskan ke dunia.

Dr. Dany Shoham sendiri adalah peneliti senior di Pusat Kajian Strategis Begin-Sadat, Universitas Bar Ilan, Israel dan mengkhususkan diri pada perang biologi dan kimia di Timur Tengah dan seluruh dunia.

Dengan sumber daya yang dimiliki oleh Mossad, pelatihannya yang bisa jadi diasah bertahun-tahun, termasuk kemampuan lembaganya untuk memproduksi senjata biologis, apakah pernyataan Dany Shoham tidak layak untuk dipercaya bahwa China memang sengaja menginfeksi dunia dengan Coronavirus (SARS-CoV-2)-nya?

Xi Jinping

Walau China sendiri membantahnya, namun fakta-fakta yang ada dan dipungut satu persatu akan melengkapi puzzle pandemi ini.

Dengan laporan lengkap beberapa fasilitas laboratorium China yang diungkap Shoham sebagai dasar kesaksiannya, program intensif pelatihan kesehatan di banyak kota di China sejak 6 bulan sebelum wabah menyebar, perintah rahasia penimbunan logistik perusahaan-perusahaan yang berkait dengan China untuk kebutuhan China sebelum wabah, beberapa perilaku pengusaha China dalam pasar bursa yang mengindikasikan perilaku tidak biasa sesaat sebelum wabah dimulai dan kebijakan pemerintah China sebelum dan sesudah wabah, apakah jawaban atas puzzle siapa pelakunya tidak mengarah kepada China?

Alangkah anehnya bila fakta yang sedemikian terang menjadi tak terlihat oleh mata telanjang awam sekalipun.


Untuk memperkuat jawaban, mungkin pertanyaan yang paling wajar untuk dinyatakan adalah siapa yang paling diuntungkan dari wabah Coronavirus ini?

Atau minimal yang paling cepat dan paling besar mendapat keuntungan dari pandemi ini?

Senjata biologi ini adalah senjata yang jauh melebihi kemampuan bom atom yang pernah ada dan dibuat saat ini ditinjau dari luasnya dampak sosial, kesehatan, politik , budaya dan hankam yang ditimbulkan maupun jatuhnya korban itu sendiri di seluruh dunia. Praktis hampir semua negara dunia merasakan luka akibat pandemi ini.

Belum pernah ada senjata sedahsyat ini sepanjang sejarah dunia.


Walau data keterlibatan China sebagai “biangnya” berusaha dikaburkan, namun bagi yang jernih pikir dan nuraninya niscaya akan melihat benang merahnya, betapa jahatnya senjata biologi virus China ini.

Bahkan mungkin saja pemerintah China sendiri tidak mengira bahwa dampaknya akan sebesar ini, hanya mereka diam dan hanya dibicarakan dalam lingkungan yang sangat rahasia.

Apakah negara-negara di dunia hanya akan berkutat pada upaya mengatasi pandemi ini tanpa ada upaya untuk menghukum China sama sekali?

Apakah negara dunia sedemikian pemaaf sehingga melupakan kerja sembrono China ini yang bila hanya melihat dampak, maka termasuk kelalaian yang menyebabkan matinya mendekati 2 jutaan orang dan akan terus bertambah?

Kehidupan malam di kota Wuhan.

Sementara dunia masih berkutat pada pandemi, Wuhan sudah bersuka ria, klub-klub dugem sudah dibuka, seakan mentertawakan orang-orang di seluruh dunia yang tengah sekarat.

China berusaha secepat mungkin tarik keuntungan bisnis dari musibah virus oleh China ini. Dan tak pelak China mendapat keuntungan besar dari pandemi ini untuk memajukan berbagai kepentingannya.

Strategi rampok rumah tetanggamu yang tengah kebakaran seperti yang diajarkan Sun Tzu tengah digencarkan China sekarang.

Apakah negara-negara di dunia akan diam saja? Dan tidak membalas perilaku mereka dengan melepaskan senjata biologis di dalam negeri China agar lumpuh dan berhenti memanipulasi dunia? Entahlah ....

Penulis:
Adi Ketu
Catatanadiketu.wordpress.com

Laporan Dany Shoham:
China’s Biological Warfare Programme, An Integrative Study with Special Reference to Biological Weapons Capabilities by Dany Shoham
https://idsa.in/system/files/jds/jds_9_2_2015_DanyShoham.pdf

Bioterrorism
http://www.shalom-magazine.com/Print.php?id=490305


Tim WHO yang Selidiki Asal-usul Virus Corona di China, Tertunda

Tertundanya misi yang telah lama direncanakan oleh para pakar dari WHO ke China untuk menyelidiki asal-usul pandemi Covid-19 "bukan hanya masalah visa", kata Beijing pada Rabu (6/1/2021).

Satu tahun setelah wabah virus corona dimulai, para pakar kesehatan internasional diperkirakan akan tiba di China pekan ini untuk mengeksplorasi awal munculnya virus corona, yang pertama kali muncul di akhir tahun 2019 di kota Wuhan.

Namun, niat tersebut diindikasikan dihalangi maksud yang sangat politis.

Melansir AFP pada Rabu (6/1/2021), misi sensitif tersebut telah diliputi oleh penundaan dan politik, dengan adanya kekhawatiran akan ditutup-tutupi asal-usul virus corona itu oleh Beijing.

Hua Chunying

Juru bicara kementerian luar negeri China, Hua Chunying mengatakan kepada wartawan pada Rabu (6/1/2021) bahwa pembicaraan antara kedua belah pihak terus berlanjut mengenai "tanggal pasti dan detail kunjungan kelompok ahli tersebut".

"Masalah penelusuran asal-usul virus corona sangat rumit. Untuk memastikan kerja tim ahli internasional di China berjalan lancar, kami harus melakukan prosedur yang diperlukan dan membuat pengaturan yang relevan," kata Hua.

Dia mengatakan negara itu "melakukan yang terbaik untuk menciptakan kondisi yang baik bagi kelompok ahli internasional untuk datang ke China".


Pada Selasa kepala Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan kepada wartawan bahwa Beijing belum menyelesaikan izin untuk kedatangan tim tersebut.

Sehingga, ia mengatakan "sangat kecewa dengan berita itu", dalam teguran yang jarang terjadi di Beijing dari badan PBB.

Awal pekan ini pihak berwenang China menolak untuk mengkonfirmasi tanggal pasti dan rincian kunjungan WHO, sebuah tanda dari kepekaan misi yang abadi.

WHO sebelumnya mengatakan China telah memberikan izin untuk kunjungan tim pakar internasional yang beranggotakan 10 orang.

Hua berdalih China "menempatkan kepentingan besar dan secara aktif berkomunikasi dengan WHO".

Penulis dan Editor:
Shintaloka Pradita Sicca
Kompas.com, 6 Januari 2021

Thursday, June 25, 2020

Membangun Imun Lewat Jalan Iman


Bencana besar yang dapat merenggut korban jiwa yang masif dalam perjalanan sejarah umat manusia, bukan hanya karena gempa bumi, gunung meletus, tsunami, cuaca ekstrem, meteor jatuh atau perang dunia, tapi juga wabah virus atau bakteri.

Setidaknya dalam periode per satu abad, pandemi besar menimpa umat manusia. Pertanyaan berkait pandemi bukanlah “apakah wabah itu akan terjadi?”, tapi, “kapan terjadi?”, dan tentu pertanyaan yang lebih penting lagi, “seberapa besar kesiapan umat manusia mengantisipasinya?

Umumnya sebagian besar penduduk bumi tidak pernah benar-benar siap ketika menghadapi pandemi. Semua terkaget pada sesuatu yang begitu halus seperti siluman, tiba-tiba saja menyerang secara masif, dan menyebar dengan amat cepatnya. Serangan yang menimbulkan malapetaka penyakit dan teror ketakutan.


Kehadiran Novel Corona Virus atau SARS Cov-2 yang menimbulkan penyakit Covid-19 menjadi perbincangan paling populer di tahun 2020 ini. Tidak ada berita di media cetak, elektronik hingga akun-akun media sosial setiap orang yang tidak mempergunjingkannya. Laporan-laporan sensus angka positif kesakitan baru, angka kesembuhan, hingga angka kematian, setiap hari di-update oleh pemerintah pusat dan daerah.

Terkhusus bagi “Jamaah Maiyah”, Mbah Nun sendiri setiap hari menuliskan refleksinya dengan sudut pandang yang komprehensif berkaitan dengan wabah Corona ini. Mbah Nun sempat menegaskan “semua tulisan tentang segala sesuatu yang terkait Coronavirus, memakai pola pandangan dan pemetaan yang mengungkapkan keterkaitan antara virus dengan kesehatan jasad, struktur kejiwaan, kekuasaan Tuhan, metode taqwa dan tawakkal, iman, doa, wirid, dzikir, hizib dan seluruh famili konteksnya menurut pola pandang yang saya pakai”.

Tulisan-tulisan tersebut oleh penerbit Bentang kemudian diterbitkan sebagai buku berjudul “Lockdown 309 tahun”. Pendek kata, SARS Cov-2 adalah sosok paling selebritis di tahun 2020 melebihi apapun dan siapapun. Bahkan secara revolusioner, SARS Cov-2 berhasil mengubah tatanan-tatanan pola kehidupan masyarakat modern, betapa terdengar ironis bahwa mahkluk paling kecil ini mampu “menghentikan” putaran mesin dunia.


Perang asimetrik atau “berdamai” dengan Corona?
Berbeda dengan “perang menghadapi bakteri”, ilmu kedokteran sejak lama menginformasikan bahwa tidak ada obat definitif untuk “membunuh” virus. Tata laksana pengobatan medis untuk penyakit infeksi segala jenis virus, sebatas terapi yang sifatnya suportif (bantuan: pernapasan, kebutuhan cairan, pemenuhan gizi dan kalori, penanganan infeksi sekunder bila ada).

Virus adalah penghuni paling senior di planet bumi yang berada di luar taksonomi kemakhlukan yang lazim. Walau memiliki DNA atau RNA, oleh sebagian ahli, status “kemakhlukannya” masih diperdebatkan, apakah ia entitas hidup atau mati? Sebut saja, ia adalah makhluk transisi antara organisme dan an-organisma, berada di luar klasifikasi dari kelompok flora atau fauna, dan terbebas dalam rumusan gender. Ukurannya yang teramat kecil (diilustrasikan 1 mm dibagi sejuta), membuatnya hingga kini mustahil “dibidik oleh peluru farmakologis” buatan manusia.

Virus adalah zombie kimia yang misi utama satu-satunya hanyalah membajak material genetik di dalam sel pada suatu makhluk, agar ia dapat memperbanyak dirinya. Virus hanya bertahan hidup dalam diri makhluk hidup sebagai tuan rumahnya (host). Maka sebenarnya virus “berkepentingan agar host-nya tetap hidup”.

Jenis virus seperti Ebola atau SARS yang menyebabkan tingkat kematian yang tinggi, tidak akan pernah dapat berkembang menjadi pandemik, karena korban yang terinfeksi otomatis berdiam di rumah (ter-lockdown) karena sakitnya yang parah, atau sebagian mungkin tidak selamat. Agar suatu virus dapat menyebar menjadi pandemik ke seluruh dunia dalam hitungan yang singkat, ia harus memiliki “keseimbangan antara tingkat penularan dan efek mematikan”.

Menteri Kesehatan, Terawan bersama 3 pasien Covid-19 pertama yang sudah sembuh.

Novel Corona yang digolongkan sebagai virus dengan penyebab prosentase kematian rendah pada korbannya, memenuhi keseimbangan syarat itu. Namun justru karena prosentase mortalitasnya yang rendah, menjadi amat dikhawatirkan oleh para ahli. Mengapa? Karena dalam rentang masa yang panjang Novel Corona virus pada akhirnya akan menghasilkan akumulasi jumlah korban yang bisa jadi jauh lebih banyak daripada jenis-jenis virus ganas mematikan lainnya.

Di Indonesia kasus resmi pertama mulai dilaporkan pada 2 Maret 2020. Kini (Juni 2020), sudah lebih dari 3 bulan kita “berjuang” dengan berbagai strategi pendekatan. Suatu perjuangan yang tidak mudah, yang telah menimbulkan banyak korban jiwa bagi komunitas yang rentan bahkan hingga kalangan medis. Dan juga berdampak sangat besar terhadap kondisi sosial perekonomian. Hingga hari ini, grafik kasus harian belum memperlihatkan tanda-tanda menuju ke arah landai. Malah belakangan terdengar seruan dari pemerintah untuk “berdamai” dengan Corona? Bagaimana kita memahami seruan tersebut?

Bila istilah “damai” kita posisikan pada term peperangan, maka berdamai tentu memerlukan keterlibatan aktif dari kedua pihak yang berseteru. Mustahil berdamai dengan cara “bertepuk sebelah tangan”. Corona virus sudah tentu adalah entitas yang “tidak punya kehendak” alias bukan wujud yang (berkesadaran) sengaja hadir untuk memerangi manusia, tapi kehadirannya menimbulkan masalah bagi kehidupan manusia.


Kita tentu tidak bisa membayangkan perlawanan model apa yang akan kita lakukan, jika benar seperti yang dikatakan WHO bahwa Novel Corona virus ini akan tetap menyertai hidup manusia hingga akhir zaman! Apakah damai yang dimaksud adalah ungkapan sopan untuk menyebut makna aslinya sebagai “menyerah kalah?” Apakah memang saatnya kini kita berdamai (baca: mengibarkan bendera putih) pada Corona? Suatu saat mungkin kita memang akan hidup berdampingan dengan Novel Corona virus, sebagaimana kini kita hidup berdampingan dengan HIV, Dengue, Hepatitis, dan virus-virus Influenza lainnya yang masih menjadi kerabatnya Corona. Kita bisa berdamai pada Corona sebagai entitas virus, tapi bagaimana cara kita berdamai dengan Corona sebagai pandemi?

Pada dasarnya mayoritas mikro-organisma ditakdirkan hidup secara komensal atau berdampingan dengan manusia. Seorang mikrobiologis lazimnya mengatakan “we never win the battle with microorganism”. Mikroorganisma seperti virus atau bakteri, meskipun wujudnya tidak kasat mata, tapi mereka ada di mana-mana, eksistensinya pada hakikatnya mendunia, “mencengkeram” planet bumi ini. Dalam ungkapan yang lebih sederhana, umat manusia kini menghadapi “musuh” yang tidak terlihat, tersamar, dan bisa ada di mana-mana, sementara manusia tanpa memiliki persenjataan buatan apapun untuk melawannya. Tidak ada pemetaan musuh yang bisa dipastikan dalam berperang melawannya. Oleh karena itu strategi yang kemudian dilancarkan selama ini adalah “menghindar dan sembunyi” (lewat seruan-seruan seperti: social distancing, physical distancing, stay at home, lockdown, Pembatasan Sosial Berskala Besar alias PSBB, dsb).

Bila berkaca pada sejarah wabah di masa-masa yang lalu, strategi-strategi tersebut, bila dilakukan tepat pada momentumnya dan bersabar dalam menjalani prosesnya, maka strategi isolasi dan karantina sesungguhnya dapat efektif menekan pandemik secara signifikan. Namun, efek kolateral bencana akibat Corona berdampak nyaris ke seluruh dimensi kehidupan; resesi ekonomi, pasar lesu, saham anjlok, harga minyak jatuh, PHK massal dan kebangkrutan menghantui banyak sektor industri. Dan mungkin inilah di antara hal yang dijadikannya sebagai alasan pelonggaran atas strategi “menghindar dan sembunyi” (PSBB) ini.


Apabila pada suatu saat atas alasan-alasan itu semua PSBB sudah tidak mungkin lagi dijalankan, maka benteng pertahanan dan perlawanan utama yang dimiliki manusia hanyalah tinggal sistem imunitas yang dimiliki setiap individu. Penyembuhan yang terjadi pada penyakit virus selama ini dikenal dengan istilah “self limiting disease”, yang lagi-lagi diperankan oleh Antibodi tubuh. Istilah itu secara verbatim, mungkin bermasalah jika dilihat dari perspektif tauhid. Pada hakikatnya, umat manusia selama ini dapat selamat dan bertahan dari kepunahan menghadapi pandemi, karena “karunia Ilahi” berupa sistem imunitas yang begitu canggih yang ada di dalam tubuhnya.

Tuhanlah wujud yang bertanggung jawab menghadirkan pasukan-pasukan perlawanan untuk menghadapi segala ancaman dan bahaya dari invasi mikroorganisma. Kalimat “penyakit dapat sembuh sendiri secara spontan!” terdengar aneh di telinga kaum beriman. Tapi di zaman dimana paradigma ilmu harus serba terukur, terindera dan dapat dibuktikan, maka ungkapan kehadiran dan campur tangan Tuhan dipandang sebagai bukan sesuatu yang saintifik ilmiah.

Bila disepakati bahwa imunitas tubuh adalah “KATA KUNCI” satu-satunya dalam menghadapi serangan infeksi virus, maka tidakkah segala wacana tentang apa atau bagaimana upaya-upaya untuk menghadirkan atau memperkuat sistem imunitas dalam diri kita seharusya lebih banyak dieksplorasi? Menghadapi persoalan global yang menyangkut seluruh umat manusia ini, tidakkah seyogyanya segala jenis diskursus yang berniat baik hingga penelitian yang sahih, diizinkan dan dibuka selebar-lebarnya? Apalagi toh hingga kini juga belum ada solusi yang sifatnya final dan tuntas.


Jalan-jalan atau metode-metode apa saja yang dapat kita lakukan?
Secara umum, ada dua metode untuk menghadirkan dan memperkuat sistem imunitas kita; secara eksternal dengan vaksinasi dan secara internal dengan memperbarui pola-pola kehidupan. Vaksinasi adalah upaya secara sengaja memasukkan kuman yang telah dilemahkan ke dalam tubuh kita, agar tubuh teraktivasi untuk membentuk imunitas baru dan spesifik untuk menghadapi kuman yang sesungguhnya. Namun, berkait dengan novel Corona virus, WHO memprediksi keberadaan vaksin paling cepat baru tersedia pada 2021. Maka perhatian utama kita, mestinya dicurahkan pada upaya-upaya memperkuat sistem imunitas tubuh secara internal.

Dalam tulisan kali ini, izinkan saya mentadabburi pola-pola kehidupan yang dimungkinkan memperkuat imunitas yang digali dari jalan-jalan keimanan.

Lima jalan Iman memperkuat Imun
1. Kebersihan diri dan memutus rantai infeksi
Bila di dunia kesehatan ada semboyan “kebersihan adalah pangkal kesehatan”, maka dalam term agama ada pesan yang nilai dan maknanya lebih tinggi lagi bahwa “kebersihan adalah bagian dari keimanan”. Dalam semboyan itu, seolah-olah dikatakan bahwa, orang yang hidupnya tidak bersih lahir dan batin, maka imannya tidak sempurna. Iman mempersyaratkan bagi pelakunya untuk hidup bersih lahir dan batin.

Kebersihan yang komprehensif mencakup seluruh spektrum dimensi kehidupan. Jauh sebelum WHO menjadikan cuci tangan 6 langkah sebagai protokol kesehatan yang penting, Rasulullah Saw, misalnya, menganjurkan umatnya untuk mencuci kedua telapak tangannya saat pertama kali bangun dari tidur (HR. Bukhari).


Aktivitas rutin harian lainnya menjaga kebersihan lahir dan batin ini juga lewat berwudhu. Wudhu selain mensucikan hadats juga membersihkan 7 anggota tubuh yang terpapar dunia luar dan membasuh 5 panca indera (penglihatan, pendengaran, penghidu, lidah perasa dan kulit sentuhan). Pada kulit manusia, ada sekitar 180 miliar mikrobioma. Di karang gigi kita ada sekitar 1 trilyun mikrobioma dan sekitar 100 milyar hidup di air liur kita.

Wudhu dalam konteks ini merupakan tindakan “pengenceran populasi mikroorganisme” tersebut, sehinga menurunkan risiko penyimpangan oportunistik bagi diri kita. Dalam tata laksana wudhu ada aktivitas yang cukup langka dijalani orang yakni istinsyaq, membasuh hidung dengan cara menghisap air bersih dari lubang hidung lalu mengeluarkannya kembali. Aktivitas demikian di luar wudhu, hanya dilakukan oleh dokter THT ketika mereka tengah melakukan irigasi nasal untuk membersihkan area lubang hidung hingga wilayah nasopharyng yang tersembunyi. Mbah Nun dalam suatu kesempatan acara Maiyah juga pernah mengatakan, perbanyak berwudhu untuk menghadapi pandemi Corona ini.

Segala aktivitas thaharah (bersuci) memiliki kontribusi dalam memutus mata rantai penularan penyakit infeksi, dus mengurangi beban berat bagi sistem imunitas kita.


2. Makan yang halal serta thoyib dan Imunitas
Di antara teori asal-usul keberadaan virus Novel Corona adalah kebiasaan masyarakat di pasar Wuhan, yang memperdagangkan hewan-hewan liar eksotik untuk dikonsumsi. Presiden ahli penyakit infeksi Dr. Asok Kurup mengatakan “manusia dan satwa-satwa liar tidak ditakdirkan hidup berdampingan”, jika dipersatukan dalam rentang waktu yang lama seperti di pasar Wuhan maka akan terjadi wabah seperti ini!

Di antara hewan yang sempat menjadi sorotan adalah kelelawar. Kelelawar menjadi menarik dibahas karena ia merupakan hewan yang “unik”; ia satu-satunya mamalia yang dapat terbang, hidup secara nokturnal (daur hidup malam hari) dan sekujur tubuhnya menjadi inang komensal bagi Corona virus.

Dr Leong Hoe Nam, ahli infeksi dari Mount Elizabeth Centre Singapore setelah mengetahui apa yang berlangsung di pasar Wuhan, dalam sebuah film dokumenter berjudul “Corona Virus The Silent Killer” mengatakan: “Kita harus mempertimbangkan kembali, apa-apa yang layak kita konsumsi”. Bila dikaitkan dengan sebuah hadits (riwayat Al-Baihaqi), kelelawar adalah di antara hewan yang jangankan diperkenankan untuk dikonsumsi, untuk dibunuh pun dilarang.


Tuhan secara tersurat memerintahkan manusia untuk memperhatikan makanannya (QS 80: 24). Bahan-bahan untuk mengganti struktur bagian tubuh yang aus dan rusak tentu diambil dari makro dan mikronutrient dari zat-zat yang terkandung dalam makanan. Bila dianalogikan produk furniture, maka suatu produk akan lebih bermutu jika dirakit dari bahan mentah yang kualitasnya tinggi pula, begitu pula tubuh kita. Rumus mendasar Al-Quran, manusia diperintahkan untuk mengkonsumsi makanan yang halal dan thoyib. Halal berarti sah secara hukum Fiqh, sementara thoyib adalah makanan yang kondisinya baik secara kualitas, proporsional sesuai kondisi, dan memenuhi kaidah higienis serta standar gizi. Kualitas dan kelengkapan makanan penting untuk membangun sistem imunitas.

Dalam buku “Lockdown 309 tahun”, mbah Nun sekilas menyinggung bahan bumbu dapur dari rempah-rempah sbb: ada semacam “atmosfer atau tradisi rempah-rempah” yang sudah melingkupi keseharian badan rakyat dan udara Indonesia sejak dahulu kala, sehingga ada semacam imunitas khas Indonesia yang dunia ilmu pengetahuan belum memahaminya. Secara logis, apa yang dimakan oleh seseorang tentu akan mempengaruhi konstitusi tubuhnya. “You are what you eat”, begitu kata kalangan Nutrisionist.

Di antara bahan rempah-rempah yang tersaji di bumi Nusantara, telah dikenal dan diteliti dapat menjadi bahan imunomodulator (penguat sistem imunitas) seperti: kunyit, jahe, kunir, kayu manis, cengkeh, bawang putih, bawang merah dll. Dengan mengkonsumsi bahan-bahan alami, segar, asli dari sumber sendiri di bumi khatulistiwa yang kaya kandungan mineral dan disirami matahari tropis, In syaAllah status imunitas kita akan lebih terjaga dengan baik.


3. Puasa dan Imunitas
Penelitian di University of Southern California menginformasikan bahwa puasa memicu “saklar regenerasi”, yang mendorong meregenerasi seluruh sistem kekebalan tubuh. Selama rentang panjang kita mengkonsumsi sesuatu, selain menghasilkan kalori, makanan yang dikonsumsi itu juga menyisakan “sampah-sampah” metabolik berupa protein yang rusak. Periode lapar selama berpuasa membuat tubuh akan membersihkan “sel-sel zombie”, menyapu bersih elemen-elemen dalam diri yang menua, yang tidak efisien dan yang rusak.

Ada mekanisme yang diistilahkan sebagai proses Autofagi selama berpuasa. Adalah Prof. Dr Yoshinori Ohsumi, pada tahun 2016, mendapat hadiah Nobel Fisiologi setelah meneliti dengan baik peristiwa Autofagi tersebut. Autofagi merupakan suatu proses yang membantu menjaga keseimbangan antara pembentukan, pemecahan, dan daur ulang produk-produk sel. Proses Autofagi ini adalah mekanisme utama yang digunakan sel untuk mengalokasikan ulang nutrien dari proses yang tidak perlu kepada proses yang lebih penting. Ketika seseorang mengalami sensasi “lapar”, maka sistem dalam tubuhnya akan mencoba menghemat energi dan salah satu hal yang dilakukannya adalah mendaur ulang banyak sel kekebalan yang tidak diperlukan, terutama yang mungkin “rusak” untuk diresintesis kembali.


Para ilmuwan di University of Southern California juga menyebut puasa selama 3 hari dapat meregenerasi seluruh sistem kekebalan tubuh; termasuk memperbaiki kualitas imunitas pada kelompok yang rentan seperti orangtua dan mereka yang menjalani kemoterapi.

Puasa ibarat menjalani “tune up” rutin mesin metabolisme. Ada berbagai puasa yang ritmenya dapat dilakukan yang terkategori dalam ritme tahunan, bulanan, mingguan, atau harian.

Tune up tahunan: puasa Ramadhan dan puasa Syawal.
Tune up bulanan: puasa Ayyamul Bidh di setiap tanggal 13, 14 dan 15 H.
Tune up mingguan: puasa Senin-Kamis.
Tune up harian: puasa Daud.

Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui” (QS 2: 184). Berpuasa memperbaiki kualitas imunitas kita.


4. Shalat Tahajud dan Imunitas
Shalat merupakan simbol totalitas ketundukan seorang hamba kepada Khalik-Nya yang diekspresikan dengan ketundukan seluruh dimensi diri (hati, akal dan raga).

Dengan bahasa populer, mungkin dapat dikatakan bahwa dalam ibadah shalat terkandung aspek Olah Rasa, Olah Rasio sekaligus Olah Raga. Orang yang dengan disiplin, tertib dan teratur beraudiensi dengan Allah Tuhan pemilik semesta jagat ini, hatinya akan tenteram karena tidak ada yang lebih tenteram di dalam hidup ini kecuali hati yang selalu tersambung kepada-Nya. Hati yang sadar bahwa Dia Maha Memelihara dan Melindungi hamba-hamba-Nya. Hati yang mengerti bahwa Allah tidak pernah bosan untuk senantiasa membuka Rahmat dan Kasih Sayang-Nya setiap waktu. Hati yang paham bahwa Dia melarang rasa putus asa hinggap di hati para hamba-Nya dan hati yang mengerti pada-Nyalah tergenggam segala perbendaharaan yang ghaib.

Orang-orang yang senantiasa mentadabburi semua fenomena sunatullah (segala penciptaan-Nya di langit dan di bumi) dalam rangkaian bacaan shalat, akalnya akan terasah cerdas. Dan orang yang selalu bergerak menyesuaikan dengan gerakan-gerakan fitrah dalam ibadah shalat dengan kaifiyat yang benar penuh thuma’ninah fisiknya akan sehat. Orang yang melakukan shalat, hatinya akan tenang, pikirannya cerdas dan fisiknya sehat.

Adalah Prof Moh. Sholeh yang membuat disertasi penelitian berjudul “Pengaruh Shalat Tahajud Terhadap Peningkatan Perubahan Respon Ketahanan Tubuh Imunologik: Suatu Pendekatan Psikoneuroimunologi”. Ringkasnya, hasil penelitian yang kabarnya mendapat sertifikasi WHO ini, memberi kesimpulan bahwa orang yang melakukan shalat Tahajud secara kontinu, tepat gerakannya (kaifiyat-nya), maka secara medis aktivitas itu dapat menumbuhkan respons ketahanan tubuh, khususnya peningkatan imunoglobin M, G, A dan limfosit.


5. Jalan-jalan Spiritual (Doa, Sholawat dan Istighfar)
Izinkan saya mengutip doa dan dzikir yang mudah dan sederhana untuk diamalkan “Ucapkan: Qul huwallahu ahad (Surat Al-Ikhlash) dan dua surat pelindung (Al-Falaq dan An-Naas) ketika sore dan pagi hari sebanyak tiga kali, maka surat tersebut akan melindungimu dari segala mara bahaya”. (H.R Tirmidzi).

Rasulullah Saw bersabda, “Seorang hamba yang berkata (berdoa) pada pagi setiap hari, dan pada sore setiap malam, sebanyak tiga kali: bismillahilladzi laa yadhurru ma’as-mihi syai-un fil ardhi wa laa fissamaa-i, wa huwas samii’ul ‘aliim. (Dengan nama Allah yang bila disebut, segala sesuatu di bumi dan langit tidak akan berbahaya, Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui), maka tidaklah berbahaya baginya apapun juga” (Akan terhindarlah dia dari bahaya apa saja). (HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmizi, Nasa’i dan Ibnu Majah).

Di dalam Quran ada ayat yang menyatakan “Dan Allah sekali-sekali tidak akan mengadzab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidak pula Allah mengadzabmu, sedang engkau minta ampun kepada-Nya” (QS 8:33). Mentadabburi kutipan ayat tersebut, maka ada dua perkara yang dapat menyelamatkan kita dari azab, yakni “Ber-shalawat dan ber-istighfar”.

Bagi orang beriman, Corona virus bukanlah urusan medis murni semata yang terlepas dari kekuasaan Ilahi. Orang beriman tidak memutus segala peristiwa terestrial di bumi ini dengan tautan transendental di langit. Doa-doa dapat menjadi senjata untuk menghadapi ancaman dan marabahaya bagi kehidupan kita. Rasulullah bersabda, “Doa adalah senjata seorang Mukmin dan tiang (pilar) agama serta cahaya langit dan bumi.” (HR Abu Ya’la). Pada-Nya sepenuhnya kita sandarkan keselamatan hidup kita dan kita bermohon untuk ketepatan memahami dan memaknai peristiwa yang ada.


Epilog
Kapankah Pandemi ini berakhir? Jawabannya wallahu a’lam. Tentu semua kita berharap agar kita dapat segera kembali menjalani kehidupan seperti sediakala, normal yang memang normal. Bila berkaca pada rekam jejak kerabat Corona, sesama keluarga virus-virus Influenza yang pernah hadir sebagai pandemik di dunia ini, maka masa kehadiran mereka adalah sbb:

Flu Spanyol H1N1: 1918- 1919 (durasi 1,5 tahun).
Flu Asia H2N2: 1957-1958 (1 tahun).
Flu Hongkong H3N2: 1968-1969 (1 tahun).
Flu Burung H5N1 1997-2019: (22 tahun).
Flu Babi, mutasi Influenza A subtipe H1N1: 2009-sekarang.
SARS: 2002-2004 (2 tahun).
MERS: 2012-2015 (3 tahun).

Bercermin pada sejarah tersebut, belum ada pandemi yang berlangsung di bawah durasi satu tahun, maka terbayangkah di hadapan kita dan sudah siapkah kita bila memang perjuangan “melawan” pandemi Corona ini akan berlangsung lama?

RSUD Kudungga, Sangatta, Kalimantan Timur, dan insert dr, Ade Hashman, Sp. An.

Ketika seruan untuk “social distancing” mulai dikendorkan, ketika dengan “terus terang” pemerintah mengatakan “berdamai” (baca: menyerah?) pada pandemi, maka bagaimana bila saatnya kita lebih mengkampanyekan seruan untuk memperkokoh “spiritual connecting”?

Dalam buku Lockdown 309 Tahun, Mbah Nun mengatakan, “Kalian tidak punya pertahanan badan, tidak punya vaksin jasad, tetapi tidak pula berikhtiar untuk membangun pertahanan qudrah, pertahanan ruhaniyah, memohon kasih sayang Allah. Apakah kalian memang diam-diam punya mindset bahwa Allah itu tidak berkuasa? Sehingga dalam keadaan darurat pun tidak ada upaya vertikal untuk memohon perlindungan Tuhan?

Malah seharusnya, sebagaimana atmosfer yang ada di Maiyah, kerinduan untuk “gondhelan ning klambine Kanjeng Nabi” memperkokoh pertalian “segitiga cinta dan dialektika syafaat” sejak dari awal kita gaungkan sebagai pilar-pilar utama dalam menghadapi wabah ini.

Tapi…, adakah “orang modern” yang mau percaya ?????

Sangatta, 7 Juni 2020

dr. Ade Hashman, Sp. An.
Jamaah Maiyah,
Sehari-hari adalah dokter spesialis anestesi di RSUD Kudungga Sangatta.
CAKNUN.COM