Showing posts with label Khalifah. Show all posts
Showing posts with label Khalifah. Show all posts

Tuesday, March 3, 2026

Membaca Konflik Sunni–Syiah sebagai Sejarah Kekuasaan


Pendahuluan
Konflik antara Sunni dan Syiah sering dianggap sebagai konflik teologis atau perbedaan aqidah. Padahal jika ditelusuri secara historis, akar konflik tersebut lebih banyak berkaitan dengan persoalan suksesi kekuasaan politik setelah wafatnya Nabi.

Peristiwa-peristiwa penting seperti pembunuhan Ali bin Abi Thalib, tragedi perang di Karbala, hingga rivalitas antara Iran dan negara-negara Arab saat ini adalah mata rantai panjang dari konflik bersejarah tersebut.

Dengan memahami sejarah secara utuh, kita bisa melihat bahwa konflik ini bukan sekadar soal perbedaan madzhab, tetapi juga persoalan politik, masalah dinasti, dan perebutan legitimasi kepemimpinan umat.


Awal Konflik: Perebutan Kepemimpinan Setelah Nabi
Setelah wafatnya Nabi Muhammad, umat Islam menghadapi pertanyaan besar: “Siapa pengganti Rasulullah yang berhak memimpin umat?”

Maka muncullah dua pandangan. Pandangan yang kemudian menjadi madzhab Sunni menyatakan bahwa pemimpin seharusnya dipilih melalui musyawarah umat. Dan melalui perdebatan yang alot dan keras, terpilihlah Abu Bakar sebagai khalifah pertama.

Yang kedua, pandangan yang kemudian menjadi madzhab Syiah berkesimpulan bahwa kepemimpinan umat seharusnya tetap berada dalam lingkup internal keluarga Nabi, yang kemudian diistilahkan dengan Ahlul Bait. Oleh sebab itu yang dianggap paling berhak adalah sahabat Nabi terdekat, yakni Ali bin Abi Thalib, sepupu dan sekaligus menantu Nabi.

Perbedaan ini pada awalnya belum menjadi perpecahan teologis, tetapi hanya merupakan perbedaan ijtihad politik tentang suksesi kepemimpinan paska Nabi.


Pembunuhan Ali dan Awal Konflik Terbuka
Setelah masa tiga khalifah sebelumnya, yakni Abu Bakar, Umar, dan Utsman, Ali akhirnya menjadi khalifah keempat. Namun pada masa pemerintahannya ini dipenuhi konflik tak berkesudahan, termasuk terjadinya perang saudara yang pertama dalam Islam, yang terkenal dengan istilah Perang Jamal (Perang Unta).

Pada tahun 661 M, Ali ––saat itu masih sebagai khalifah–– dibunuh saat shalat subuh di Kufah oleh seorang anggota kelompok ekstremis dan teroris Khawarij bernama Ibnu Muljam.

Kematian Khalifah Ali menjadi titik penting sejarah karena mengakhiri pemerintahan keluarga Nabi (Bani Hasyim) dan membuka jalan bagi dinasti politik baru dari keluarga Umayyah.

Penguasa berikutnya adalah Muawiyah bin Abu Sufyan, pendiri Dinasti Umayyah. Bagi sebagian pendukung Ali, inilah awal perampasan kekuasaan dari keluarga Nabi. Dari Bani Hasyim berpindah ke Bani Umayyah.

Lukisan yang menggambarkan perang dan Tragedi Karbala.

Tragedi Karbala: Luka Sejarah Syiah
Konflik di internal umat Islam mencapai puncaknya pada tahun 680 M. Ketika itu, cucu Nabi, Husain bin Ali, menolak berbaiat kepada khalifah dari Bani Umayyah, yakni Yazid bin Muawiyah. Akibatnya, rombongan kecil Husain dicegat oleh pasukan Umayyah dan dibantai di Karbala.

Tragedi memilukan ini memiliki dampak besar. Husain dan keluarganya dibunuh. Para perempuan keluarga Nabi dijadikan tawanan. Dan yang paling mengerikan, konon kepala (fisik) para syuhada yang dipenggal, dipertontonkan di kota-kota.

Bagi Syiah, Karbala menjadi simbol perlawanan terhadap tirani. Sementara bagi kalangan Sunni, peristiwa ini dianggap tragedi politik yang menyedihkan tetapi bukan menjadi dasar dan alasan bagi pembentukan teologi baru.

Namun secara psikologis, Karbala menjadi trauma kolektif bagi kalangan Syiah selama lebih dari 1300 tahun.

Peta persebaran kekuasaan Islam.

Dinasti-Dinasti dan Politik Madzhab
Setelah itu, sejarah Islam diwarnai oleh perebutan kekuasaan antar dinasti yang tak berkesudahan.

Beberapa contoh: Dinasti Umayyah, Dinasti Abbasiyah, Dinasti Umayyah di Andalusia, Dinasti Fathimiyah, Dinasti Ayubiyah, Dinasti Safawi, dan terakhir Kesultanan Turki Utsmani.

Pada abad ke-16, Dinasti Safawi menjadikan Syiah sebagai Madzhab resmi di Iran. Sejak saat itu, Iran menjadi pusat Syiah. Dan dunia Arab, mayoritas tetap Sunni.

Pada akhirnya perbedaan Madzhab kemudian berubah menjadi identitas geopolitik.

Pembunuhan Imam Ali dalam lukisan modern, berjudul "Kemartiran Imam Ali", hasil karya seniman Yousef Abdinejad.

Kekerasan Antar Madzhab dalam Sejarah
Konflik Sunni–Syiah tidak hanya terjadi satu arah. Contohnya, pada tahun 1802, pasukan Wahabi dari Najd menyerang kota Karbala dan membunuh ribuan penduduk Syiah serta menghancurkan makam Husain.

Di sisi lain, dalam berbagai periode sejarah juga terjadi penindasan terhadap kelompok Sunni di wilayah Syiah.

Ini menunjukkan bahwa konflik tersebut lebih merupakan konflik politik dan kekuasaan daripada konflik agama (madzhab) murni.


Iran Modern dan Revolusi 1979
Perubahan besar terjadi ketika Revolusi Iran 1979 menggulingkan rezim Shah Reza Pahlevi. Pemimpin revolusi kala itu adalah Ayatullah Rohullah Khomeini, yang kemudian mampu membangun negara Syiah modern.

Sejak saat itu Iran menjadi pusat kekuatan Syiah dunia. Iran juga mendukung kelompok Hizbullah di Libanon Selatan, kelompok Hamas di Jalur Gaza, dan menantang dominasi Barat dan Israel di Palestina.

Konflik dengan negara-negara Sunni meningkat karena Arab Saudi dengan Madzhab Wahabi-nya memimpin blok Sunni dan Iran memimpin blok Syiah. Walaupun sebenarnya hal ini lebih bisa dipahami sebagai persaingan geopolitik regional.

Mohammed Abdul-Salam (kiri), juru bicara kelompok Houthi dari Yaman, bertemu Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei di Teheran, Selasa (13/8/2019). Tulisan Arab di tengah adalah semboyan Houthi bertuliskan "Allahu Akbar, Matilah Amerika, Matilah Israel, Terkutuklah Yahudi, Kemenangan untuk Islam".

Konflik Timur Tengah Hari Ini
Hari ini konflik Sunni–Syiah terlihat dalam berbagai konflik regional. Contohnya, perang di Yaman antara pemberontak Houthi yang didukung Iran melawan pemerintah Yaman yang didukung koalisi militer pimpinan Arab Saudi. Demikian juga konflik di Suriah serta rivalitas dominasi geopolitik di Timur Tengah antara Iran versus Arab Saudi.

Iran membangun jaringan kekuatan regional melalui kelompok sekutu, sementara negara Sunni membangun pula koalisi tandingan.

Bahkan baru-baru ini pemimpin tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei dilaporkan tewas dalam serangan militer gabungan Amerika dan Israel, yang menandai eskalasi besar konflik geopolitik di kawasan tersebut.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa konflik Timur Tengah tidak hanya soal agama atau madzhab belaka, tetapi sudah komplikasi yang berkaitan dengan geopolitik dan dominasi kekuasaan global.


Pelajaran Sejarah
Jika melihat sejarah panjang ini, kita dapat menarik beberapa pelajaran. Konflik Sunni–Syiah bermula dari suksesi politik kepemimpinan. Lantas Tragedi Karbala memperdalam luka sejarah. Dinasti-dinasti Islam kemudian menggunakan madzhab sebagai alat legitimasi kekuasaan. Dan di era modern, konflik tersebut berubah menjadi persaingan geopolitik regional.

Dengan kata lain, persaingan Madzhab sering menjadi simbol, tetapi konflik utamanya adalah masalah politik kekuasaan.

Ada yang tak suka bila Sunni dan Syiah kompak bersatu.

Penutup
Dari pembunuhan Ali bin Abi Thalib, tragedi Pertempuran Karbala, hingga rivalitas Iran dan negara-negara Sunni saat ini, sejarah menunjukkan bahwa konflik dalam dunia Islam sering kali berkaitan dengan perebutan legitimasi kepemimpinan.

Namun jika kembali kepada Al-Qurân, kitab ini tidak pernah membagi umat Islam menjadi Sunni atau Syiah. Bahkan istilah “Syiah” dalam arti golongan pendukung yang positif, dialamatkan kepada Nabi Ibrahim yang termasuk dalam golongan pendukung Nabi Nuh.

وَاِنَّ مِنْ شِيْعَتِهٖ لَاِبْرٰهِيْمَ
"Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongannya (Nuh)."
[Ash-Shȃffȃt (37): 83]

Kata “Syiah” dalam arti golongan atau kelompok-kelompok dengan pengertian yang negatif karena berpecah-belah, Al-Qurân menyatakan demikian.

إِنَّ ٱلَّذِينَ فَرَّقُوا۟ دِينَهُمْ وَكَانُوا۟ شِيَعًا لَّسْتَ مِنْهُمْ فِى شَىْءٍ ۚ إِنَّمَآ أَمْرُهُمْ إِلَى ٱللَّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُم بِمَا كَانُوا۟ يَفْعَلُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka menjadi bergolong-golongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu (Muhammad) kepada mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.
[Al-An'ȃm (6): 159]

Tatang Muhajir Isnaini
Pegiat Studi Al-Qurân dari Bekasi
Admin Saluran WAWASAN ALQURAN

Selasa, 3 Maret 2026

Thursday, December 2, 2021

Di Balik Radikalisme dan Terorisme di MUI


MUI kelojotan. Jutaan netizens menuntut pembubaran “LSM” keagamaan yang sudah terlanjur besar itu. Pasalnya, salah seorang elit MUI Pusat di Komisi Fatwa Ahmad Zain An-Najah dicokok Densus 88. Ahmad Zain —tersangka gembong Jamaah Islamiyah ini— adalah kader Muhammadiyah. Dilacak jejak karirnya, Ahmad Zain adalah alumnus Ponpes Ngruki, pimpinan Abu Bakar Ba’asyir; alumnus Universitas Al-Azhar, Mesir; Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah, Cairo; dosen Uhamka dan Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Dua gembong Jamaah Islamiyah lainnya yang diciduk Densus 88 adalah Farid Okbah, tokoh Wahabi alumnus LIPIA dan Anung Al-Hammad, tokoh Persis. Ketiga tokoh Islam ini, bisa dilacak jejak “provokasi”nya yang menyebarkan radikalisme dan terorisme di Google.

Tapi aneh. Meski sudah sekian lama ketiganya malang melintang di dunia dakwah Islam radikal, mereka aman-aman saja. Entah karena organisasi induknya sengaja melindungi, diam, atau tidak tahu akan jejak dan kiprah mereka di dunia dakwah Islam. Baru setelah mereka ditangkap, organisasi induknya cuci tangan. Sebuah cara klasik untuk memutus rantai keterlibatan organisasi dengan tokoh-tokohnya yang terstigma buruk di mata publik.

Abu Bakar Ba'asyir

Pertanyaannya: Kenapa Islam tampak “kedodoran” bila menghadapi kasus radikalisme dan terorisme? Ingat, ketika Osama Bin Laden terbunuh di Abbottabad, Pakistan (2 Mei 2011), ribuan orang simpatisan Osama berkumpul di sejumlah kota mendoakan dan bersaksi atas kebaikan Osama. Ingat ketika Abu Bakar Ba’asyir, ideolog teroris, bebas dari penjara Gunung Sindur, Bogor (08/01/2021) setelah mendekan 15 tahun, kedatangannya di Solo disambut bak pahlawan. Saat pembebasannya, Ba’asyir yang tak pernah mengakui Pancasila sebagai ideologi negara itu, mendapat ucapan selamat dan hormat dari wakil ketua MPR Hidayat Nurwahid.

Sepertinya radikalisme dan terorisme dalam Islam sulit dipisahkan. Setidaknya telah membuat umat bingung —apakah terorisme dan radikalisme itu bagian dari Islam? Atau Islam punya sejarah yang tak terpisahkan dengan radikalisme dan terorisme? Di bawah ini, saya nukilkan kembali tulisan saya yang pernah dimuat di Geotimes, 9 April 2021.


Rabu, 4 Zulhijjah, tahun 23 Hijriyah. Fajar baru saja menyingsing ketika Khalifah Umar bin Khathab datang ke masjid hendak mengimami shalat Subuh. Sebelum shalat, Umar menunjuk beberapa orang di masjid agar meluruskan shaf. Setelah semua shaf sudah lurus dan teratur, Shalat pun siap dilaksanakan. Tapi baru saja Umar mulai niat shalat, tiba-tiba muncul seorang laki-laki di shaf pertama, di belakang Umar. Sang lelaki itu, langsung menikam Umar dengan pisau belatinya berkali-kali. Umar pun roboh. Beberapa jam kemudian Umar tewas akibat luka-lukanya yang parah di perutnya.

Siapa pembunuh kejam itu? Abu Lu’lu’ah Fairuz! Ia seorang budak milik Al-Mughirah bin Syu’bah, berasal dari Persia. Kedatangannya ke Masjid itu sengaja hendak membunuh Umar di pagi buta tersebut. Fairuz dendam kepada Umar —Khalifah Islam yang telah mengalahkan Kerajaan Persia, negara yang amat dibanggakan Fairuz.

Fairuz, seorang radikal. Ia memendam kebencian terhadap Umar yang menghancurkan negeri nenek moyangnya. Ia pun nekad membunuh Umar, melampiaskan dendamnya. Redemption —pinjam istilah pengamat terorisme Nurhuda Ismail— menjadikan Fairuz nekad untuk menebus dosanya akibat tak mampu memberikan sumbangan kepada negeri yang dicintainya ketika dihancurkan Umar.


Dua belas tahun kemudian, hari Jumat, 18 Dzulhijjah, tahun 35 Hijriyah, Khalifah Utsman tewas. Setelah mengepung 40 hari 40 malam, para pemberontak berhasil memasuki kediaman Khalifah. Utsman pun terbunuh ketika sedang membaca Al-Qurȃn. Para pemberontak tersebut, lagi-lagi berasal dari kelompok radikal yang tidak menyukai Khalifah Ustman. Ustman dianggap lembek dan nepotis; tak bisa menjadi khalifah yang baik dan adil.

Lima tahun setelah wafatnya Utsman, Khalifah Ali bin Abi Thalib juga tewas mengenaskan di tangan muslim radikal. Pembunuhnya Abdurrahman ibnu Muljam. Ibnu Muljam seorang ahlussunnah, fasih membaca Al-Qurȃn, dan hafiz (penghafal Al-Qurȃn) yang disegani karena kesalihannya. Ia pernah diutus oleh Khalifah Umar bin Khathab pergi ke Mesir untuk mengajar Al-Qurȃn di Negeri Fir’aun itu.

Ibnu Muljam membunuh Ali karena pengaruh paham radikal Khawarij. Bagi Ibnu Muljam —Khalifah Ali dalam menjalankan pemerintahan tidak berhukum pada Al-Qurȃn. Bayangkan, tiga khalifah generasi utama, ketiganya sahabat terbaik Rasulullah, dalam kurun 40 tahun setelah Hijrah, tewas dibunuh secara mengenaskan.

Tragisnya, para pembunuhnya juga orang-orang Islam. Mereka ekstrim dan radikal. Dari keempat khalifah utama tersebut, hanya Abu Bakar As-Shiddiq yang meninggal wajar tanpa dibunuh. Itulah awal perjalanan sejarah Islam.


Dari gambaran di atas, salahkah jika orang menyatakan Islam itu radikal dan ekstrim? Jika ada orang menuduh Islam seperti itu, jangan marah dulu. Juga tak perlu apriori. Sejarah memang membuktikannya. Radikalisme diakui atau tidak, memang sudah tercatat di awal perkembangan sejarah Islam.

Tiga orang Khalifah al-Rasyidin, yang juga sahabat-sahabat Rasul terdekat —Umar bin Khathab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib— meninggal karena radikalisme. Terlebih lagi setelah perang Siffin, antara kelompok Ali bin Abi Thalib dengan Mu’awiyah, radikalisme Islam makin menjadi-jadi.

Setelah itu, kekhalifahan Islam bermunculan silih berganti —baik dari dinasti Umayyah maupun Abbasiyah— dengan pemerintahan despot dan berlumur darah. Hampir setiap pergantian khlalifah berlangsung dengan cara yang tidak wajar. Dendam, pengkhianatan dan pembunuhan.


Lahirnya kelompok Khawarij yang mengusung doktrin “la hukma illa lillah” (yang lebih tepat menurut Al-Qurȃn sebenarnya; innil-hukmu illa lillah -red.), pada masa itu yang mengkafirkan siapa saja yang berbeda paham dengannya, mengakibatkan ‘orang luar’ melihat Islam sebagai agama teror.

Pasang surut paham dan gerakan radikal ini tercatat dalam perjalanan sejarah Dunia Islam. Meski agama Islam secara esensial dihadirkan Allah melalui Nabi Muhammad sebagai agama damai, tapi paham radikal tersebut tak pernah benar-benar lenyap. Bahkan ketika kelompok Khawarij secara historis telah hilang, paham dan ideologi radikal tetap hidup. Ideologi radikalisme tak pernah mati sepanjang sejarah Islam.

Di zaman modern, ideologi Islam radikal makin menakutkan. Peristiwa 11/9/2001 (9-11), yang menghancurkan World Trade Center, New York, menjadi isu radikalisme agama terpenting di abad 21. Kehadiran Negara Islam Irak dan Siria (ISIS) menambah ketakutan dunia terhadap Islam. Sejak ISIS mendeklarasikan diri sebagai Kekhalifahan Islam, 2004, ratusan ribu orang dibunuh di Irak, Suriah, dan wilayah-wilayah yang dikuasainya.

ISIS makin menakutkan setelah organisasi radikal Islam yang lain seperti Boko Haram di Nigeria, Thaliban di Afghanistan, dan Abu Sayaf di Filipina berbai’at kepada Abu Bakar Al-Baghdadi, Khalifah ISIS. Kehadiran ISIS makin menguatkan keyakinan masyarakat internasional bahwa ideologi Islam radikal tak akan pernah mati.


Saat ini, fenomena radikalisme di dunia internasional makin mencekam karena gerakan-gerakan ideologi radikal dan ekstrim tersebut. Negara-negara Islam dan Timur Tengah menjadi panggung pertunjukan kekejamannya. Dunia kini menyaksikan jutaan pengungsi dari Timur Tengah dan negara-negara Islam lain menyerbu Eropa, Amerika, Kanada, dan Australia. Mereka ketakutan, lari dari negaranya yang terus berperang.

Kini, Suriah, Palestina, Irak, Yaman, Pakistan, Afghanistan, Filipina, Indonesia, Mesir, Libya, Ethiopia, dan Nigeria, —semuanya negara Islam atau mayoritas penduduknya beragama Islam— menjadi tempat yang dianggap berbahaya, karena banyaknya aksi-aksi terorisme yang mengancam kemanusiaan.

Lalu, bagaimana Indonesia —negara dengan jumlah penduduk Islam terbesar di dunia? Akankah digerogoti ideologi Islam radikal yang membahayakan itu? Dunia tak akan pernah melupakan ledakan dahsyat bom Bali satu dan dua. Setelah itu, puluhan bahkan ratusan kasus terorisme menggetarkan Indonesia. Kelompok-kelompok intoleran dan radikal pun tumbuh di mana-mana. Bahkan kelompok intoleran ini —kadang mendapat dukungan sebagian tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh politik, bahkan pegawai negeri.

Setara Institute, misalnya, dalam risetnya menemukan banyak perguruan tinggi negeri ternama yang sudah terpapar virus intoleransi dan radikalisme. Kita masih ingat, bagaimana seorang dosen salah satu perguruan tinggi negeri ternama menjadi “dalang” pemboman di Jakarta. Di pihak lain, banyak organisasi berlabel Islam yang aksi-aksinya mengindikasikan penyebaran intoleransi dan radikalisme.


Gambaran tersebut, jelas sangat mencemaskan masa depan Indonesia yang negaranya berdasarkan Pancasila. Kenapa? Intoleransi dan radikalisme adalah benih-benih terorisme. Orang menjadi teroris awalnya intoleran dulu. Lalu radikal. Kemudian menjadi teroris.

Jadi, jangan anggap remeh meruyaknya intoleransi di sekitar kita. Di tahap ini, sebagian umat beragama masih melindungi intoleransi dengan alasan “keyakinan agama” yang harus dipelihara. Dari intoleransi, tumbuh radikalisme. Pada tahap ini pun, tak sedikit umat mendukungnya —atas nama fanatisme dan pemurnian ajaran agama.

Ketika aksi terorisme meledak, para pendukung intoleransi dan radikalisme cuci tangan, dengan menyatakan tak ada terorisme dalam agama. (Kasus “terciduknya” elit Jamaah Islamiyah di MUI adalah contoh, betapa lembaga keagamaan sering menjadi tempat berkembangbiaknya paham radikalisme dan terorisme).


Sayyidina Ali ketika menyaksikan kaum radikal membentangkan bendera bertuliskan kalimat dua syahadat di hadapannya, menyatakan: “Mereka sesungguhnya kaum kafir dan munafik yang menunggangi Islam untuk memuaskan hawa nafsunya. Mereka adalah musuh-musuh Allah dan Rasulnya.

Apa yang pernah dinyatakan Ali, menantu Rasulullah, kini terbukti. Agama telah ditunggangi kaum radikal dan teroris untuk menghancurkan kemanusiaan atas nama Tuhan. Jauh sekali dengan tujuan Allah menghadirkan Nabi Muhammad di muka bumi: Untuk memperbaiki akhlak manusia dan rahmat bagi alam semesta.

Syaefudin Simon
Wartawan Senior
https://www.tagar.id/opini-di-balik-radikalisme-dan-terorisme-di-mui