Friday, July 10, 2009

Komedi Putar 2009, LAGI...LAGI...LA...GI...LA...GILA !!!


Survei IDM: Elektabilitas Mega-Prabowo Ungguli Pasangan Lain

Elektabilitas pasangan capres/cawapres Megawati Soekarnoputri-Prabowo Subianto unggul dibandingkan kedua pasangan lain. Mega-Prabowo mengantongi 44,82 persen, disusul SBY-Boediono sebanyak 27,5 persen dan terakhir adalah pasangan JK-Wiranto 12,6 persen.

Demikian hasil survei kedua yang dilakukan Indonesia Development Monitoring (IDM) mulai 17 Juni sampai 3 Juli 2009. Survei tersebut dilakukan pada 3.700 responden atau lebih banyak 44,67 persen dari survei pertama.

Juru bicara IDM, Maulana Bungaran, menjelaskan survei tersebut dilakukan pada 3.700 responden dengan confidence interval sebesar 1,61 persen pada confidence 95 persen. Dengan jumlah populasi 170 juta dan penarikan sample dilakukan dengan metode multistage random sampling.

"Sebanyak 1.183 responden terpilih diwawancarai lewat tatap muka dan telepon, sedangkan 2.175 responden disurvei melalui pertanyaan yang dikirim lewat SMS, satu pewawancara bertugas untuk 75 responden," ujar Maulana dalam konferensi pers hasil survei IDM mengenai elektabilitas capres/cawapres, Sabtu (4/7) di Hotel Lumire, Jakarta.

Untuk menghindari bias, kata dia, maka responden hanya diberikan satu pertanyaan tentang siapa capres/cawapres pilihan para responden.

Lebih jauh, ia menjelaskan IDM adalah lembaga independen dan membiayai sendiri semua survei yang dilakukannya. "Ini dana intern, kita tidak menerima dana dari pihak mana pun, apalagi yang berkepentingan dengan pilpres," ujar Maulana.

KOMPAS.com, 4 Juli 2009


Hasil Survei Indonesia Development Monitoring
Mega-Prabowo Kalahkan SBY-Boediono
Megawati Soekarnoputri dan Prabowo Subianto meraih 44,82 persen

Survei lembaga Indonesia Development Monitoring (IDM) terhadap 3.700 responden pada 17 Juni-3 Juli 2009 menunjukkan elektabilitas pasangan calon presiden dan wakil presiden, Megawati Soekarnoputri dan Prabowo Subianto, paling tinggi dibanding dua pasangan kandidat lainnya (44,82 persen).

Menurut survei itu, elektabilitas pasangan SBY-Boediono berada diurutan kedua yaitu 27,5 persen. Sedangkan pasangan Jusuf Kalla dan Wiranto berada di urutan terakhir, dengan perolehan dukungan 26,57 persen.

Hasil survei Indonesia Development Monitoring ini dilaunching di Hotel Lumerie, Jakarta Pusat, Sabtu 4 Juli 2009.

Survei IDM menggunakan metode Multistage Random Sampling. 3.700 responden dengan confidence interval sebesar 1.61 persen pada confidence level 95 persen.

Sebanyak 1.183 responden diwawancarai lewat tatap muka dan telepon. Sedangkan 2.517 responden melalui pertanyaan pesan singkat (SMS).

Siswanto, Sandy Adam Mahaputra, VIVAnews, 4 Juli 2009


IDM: Putaran Kedua Tanpa SBY-Boediono

Dari dua kali survei yang dilakukan Indonesia Development Monitoring (IDM) diperoleh hasil elektabilitas pasangan capres-cawapres, SBY-Boediono, semakin menurun. Jika hal tersebut terus berlanjut, dikhawatirkan pasangan capres-cawapres bernomor urut 2 itu tidak akan mengikuti putaran kedua pilpres mendatang.

Demikian dikatakan juru bicara IDM Maulana Bungaran pada konferensi pers Elektabilitas Capres/Cawapres 2009, Sabtu (4/7) di Hotel Lumire, Jakarta.

Pada survei pertama yang dilakukan tanggal 1-16 Juni dengan total 2.047 responden, pasangan SBY-Boediono mendapat perolehan 30,43 persen. Adapun pada survei kedua yang dilakukan pada 17 Juni-2 Juli dengan jumlah 3.700 responden, elektabilitas SBY-Boediono menurun menjadi 27,15 persen.

Penurunan tersebut, kata Maulana, disebabkan oleh banyaknya "kecelakaan politik" yang terjadi belakangan ini. Kecelakaan tersebut antara lain adalah "pukulan telak" JK tentang iklan pilpres satu putaran yang dianggap tidak demokratis. Kemudian kasus selebaran tentang istri Boediono yang diduga dilakukan oleh pendukung SBY, dan terakhir adalah pernyataan Andi Mallarangeng yang dituding berbau SARA.

Melihat hal tersebut, Maulana menilai pasangan SBY-Boediono harus bekerja keras meningkatkan elektabilitasnya, mengingat semakin menipisnya perbedaan dengan pasangan JK-Wiranto. "Jika trennya seperti ini terus, maka tidak tertutup kemungkinan bahwa pilpres satu putaran untuk pasangan SBY-Boediono akan terjadi, dalam artian pasangan SBY-Boediono tidak lulus ke putaran kedua," tandasnya.

KOMPAS.com, 4 Juli 2009


IDM: Mega-Prabowo Teratas, SBY-Boediono Paling Bawah

Berdasarkan data terakhir yang masuk sebanyak 17 provinsi dari hasil quick count yang dilakukan The Institute Indonesia Development Monitoring (IDM), pasangan Megawati-Prabowo unggul, disusul dengan JK-Wiranto, dan paling bawah SBY-Boediono.

"Pasangan Megawati-Prabowo mendapat 38,83 persen, JK-Wiranto 31,29 persen, dan paling bawah SBY-Boediono 30,35 persen," ungkap Arief Poyuono, Dewan Pendiri IDM saat jumpa pers hasil quick count Pilpres 2009 di Jakarta, Rabu (8/7).

Berdasarkan data yang ditunjukkan kepada wartawan, pasangan Megawati-Prabowo unggul di lima provinsi, yaitu Jawa Tengah, Maluku, Sulawesi Utara, Jawa Timur, dan Bali.

Sementara itu, pasangan JK-Wiranto unggul di enam provinsi, yaitu Aceh, Maluku Utara, Sulawesi Selatan, Jambi, Papua Barat, dan Gorontalo.

Pasangan SBY-Boediono unggul di enam provinsi yaitu Papua, Sumatera Utara, Banten, Riau, Jawa Barat, dan DKI Jakarta.

Arief mengatakan, sampel yang diambil dari 3.000 TPS yang tersebar di seluruh Indonesia dengan teknik pengambilan sampel kombinasi stratified-cluster random sampling. "Polling kami akurat. Tidak lebih dari 1,74 persen tingkat kepercayaannya," ujarnya.

IDM, lanjut Arief, juga melakukan penghitungan cepat di empat negara, yaitu Hongkong, Belanda, Malaysia, dan Singapura. "Kita akan update terus data yang sudah masuk ke pusat," katanya.

KOMPAS.com, 8 Juli 2009


IDM Institute: Megawati-Prabowo Menang

Hasil hitung cepat (quick count) pemilihan presiden yang dilakukan Indonesian Development Monitoring (IDM) Institute berbeda dengan lembaga survei lainnya. IDM Institute di Jakarta, Kamis (9/7), mengumumkan pasangan Megawati Sukarnoputri-Prabowo Subianto menempati posisi teratas dalam perolehan suara, yaitu 37,45 persen.

Posisi kedua ditempati Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono dengan 31,7 persen suara dan terakhir pasangan Jusuf Kalla-Wiranto yang meraih 30,78 persen. Hitung cepat IDM Institute ini merupakan hasil survei di 3.000 tempat pemungutan suara (TPS) di 33 provinsi di Indonesia.

Sementara hasil hitung cepat Lembaga Survei Indonesia (LSI), Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial atau LP3ES, Pusat Kajian Kebijakan dan Pembangunan Strategis (Puskaptis), serta Cirus Surveyor Groups yang bekerja sama dengan SCTV menempatkan SBY-Boediono di posisi teratas dengan rata-rata perolehan suara 60 persen. Di tempat kedua adalah Megawati-Prabowo dan ketiga JK-Wiranto. Namun, data resmi yang akan dipakai menentukan pasangan presiden dan wakil presiden terpilih adalah hitungan manual Komisi Pemilihan Umum.

Tim Liputan 6 SCTV, 9 Juli 2009


IDM Salahkan Metode Quick Count Lembaga Lain

Berbeda dengan hasil quick count sejumlah lembaga survei lainnya, hasil survei Indonesia Development Monitoring (IDM) justru menunjukkan pasangan Mega-Prabowo unggul dengan raihan suara sebesar 37.45 persen. Sedangkan pasangan SBY-Boediono di posisi kedua dengan 31.7 persen. Terakhir pasangan JK-Wiranto yang mendapatkan 30.78 persen suara.

Mengenai perbedaan ini, koordinator peneliti IDM, Arif Soeyono menjelaskan bahwa pihaknya sangat meragukan validitas hasil quick count yang dilakukan lembaga survei lainnya.

"Ini jelas tidak benar. Lembaga survei lain menggunakan margin error. Padahal ilmu survei opini tidak mengenal margin error. Itu hanya dipakai dalam survei barang, sementara yang kita survei ini kan manusia", kata Arief.

Menurutnya survei IDM lebih akurat, karena menggunakan confident level 95 persen dan confident interval 1.74 persen. IDM melakukan pengumpulan data di 33 provinsi dengan sampel 5000 TPS dan 3.560.000 responden.

Dalam konferensi persnya di Jakarta Kamis (9/7), IDM juga membeberkan sejumlah temuan yang menunjukkan besarnya jumlah golput dan masyarakat yang tidak bisa memilih. Menurut data IDM 49 persen pemilih dalam pilpres ini tidak bisa menggunakan hak pilihnya.

"Mereka itu terdiri buruh sebesar 73.2 persen, mahasiswa 65.4 persen, dan 77.3 persen dari pemilih luar negeri. Umumnya mereka ini adalah kaum urban yang tidak memilih karena berada di luar daerah pemilihannya", kata Arif.

Arif juga menyayangkan ihwal quick count yang dijadikan sebuah pembenaran oleh kubu capres tertentu. Menurutnya dengan temuan besarnya jumlah warga yang tidak bisa memilih membuat pemenang dalam pilpres ini sangat tidak legitimated.

"Ini jelas telah terjadi pemerkosaan terhadap ilmu survei. Hasil quick count itu kan karya keilmuan, jangan dijadikan pedoman sebagai sebuah hasil akhir", ujar Andi.

KOMPAS.com, 9 Juli 2009


Lembaga Survey Abal-abal Hanya Modal Kebodohan

abuwaras:
Bener2 katro!
Rapat pleno Komisi Pemilihan Umum akhirnya menetapkan daftar pemilih tetap (DPT) untuk Pemilu Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) pada 8 Juli 2009 dengan total 176.367.056 pemilih.
Hasil quick qount IDM (Indonesia Development Monitor Institute) di 17 propinsi dari total suara sebanyak 2.912.529.
Cuman pake Total 2 Juta sample doang sudah berani mengumumkannya kepada Publik...
Punya siapa sih ini Lembaga Survey?

ranger yellow:
cuman 3 juta kurang salah lagi............
ck....ck....ck.....
bakalan gak dipakai lagi nih salahnya ngawur banget tuh....

bethe:
Tenang...sebentar lagi juga nyusul 2 lembaga survey lain yang membubarkan diri karena malu.

ranger yellow:
Pertama LRI secara gentle mengakui kesalahannya
sekarang menunggu IDM secara gentle mengakui kebodohannya dan kesalahannya.....
tapi kayaknya gak mungkin, karena panutanya Megawati-Prabowo alias GAWAT-BO aja gak mau secara gentle mengakui kekalahannya!!!

oblivious:
LRI mang taruhan kemaren, kalo pilpres berlangsung satu putaran mereka akan membubarkan diri...dan terbukti gentle mengakui kesalahannya.
yg lain mungkin biasa tuh, pke jurus 'MUKA TEMBOK' persis kaya jungjunannya.

Oma Irama:
IDM kan "Inginnya Dukung Megawati". Jadi afafun kondisinya, kalo menurut IDM Megawati harus menang, biar fun tidak sesuai dengan suara rakyat.
Lembaga yg kebanyakan minum air cucian kaki memang selalu mendem seferti itu, namanya jg IDM, "Institut Doyan Mendem".

mister09:
Ya maklumlah IDM baru dapet proyek... jadi msh belajar...nah fatalnya langsung error.. hasilnya..he...he... lucunya lagi tuh si Budiman Sudjatmiko dgn bangganya mengumumkan hasil tsb... wong error kog bangga.. Man..man..
btw lumayan buat hiburan diantara survey2 yg lainnya.


dede bgr:
pake metodologi apa sih?...bikin malu lembaga survey yang lain geli gue dengernya juga.

Oma Irama:
Fake metode ngibul ala Megawati dan Metode Culik ala Jendral Kancil..

okok:
IDM dibelain sama Prabowo lho....
Bang Oma....Hati-hati bisa diculik lho....

Oma Irama:
Aaaah...Jenderal Kancil...itu ya..? Hehehehe, sekarang tak funya fower afa2 selain harta....

mukegile.return:
Hush.. masih ada Kuda tuh... yiiihaaaaa... cowboys.

ketaren:
Yang mau minum air cucian kaki....
Lumayan buat ngobatin rasa kecewa....

Oma Irama:
Ooo..kuda liar itu ya...?
Cafresnya malah felihara Kebo Liar...
Biarlah jadi feternak saja..., karena ternyata TAK MAMFU jadi FRESIDEN & WKL FRESIDEN....

okok:
Lah khan Rencananya si Mas Bowo mau ngelamar Anaknya Kebo, Tapi Ditolak sama Si Mboknya kebo....
Eh malah Si Mboknya Kebo Ngelamar Mas Bowo karena Mas Bowo paling ganteng.
Back to topic yah.....
Eh tadi gua lihat di TV one, masih ada lembaga Survey yang mengatakan suara Mega-Pro 10% lebih baik daripada hasil yang ditayangkan KPU dan lembaga quick count, menurut Budiman Sudjatmiko.....
Gua yakin nih lembaga surveynya adalah IDM........
Kasian PDIP pake lembaga survey yang abal-abal.... yang bisa dibeli sama duit.

int2k:
38,83 + 31,29 + 30,35 = 100,47

okok:
Buset ngitung aja salah!!!!!!!


absd:
hihi survey abal-abal tanpa bekal Ilmu Statistik yg mantab.

austin316:
kayaknya yg bertugas di IDM pada ga lulus...trutama mata kuliah statistic.
gile...demi duit muke ude ga peduli...kasihan anak cucunya di kehidupan nyata.
hmm...apa mungkin jenis manusia ras baru ya?

Oma Irama:
IDM kan Institusi Dukung Mega, jadi gak beda jauh sama yg didukungnya....
nonightistoolong: (no night is too Long)
ternyata itungan mereka fiktif 0.47 % ya.
he he he jadi gini nih lembaga survey yang didukung jendral impoten itu, habis tereak2 DPT gak bener, eh ternyata ngedukung lembaga survey pemakai data fiktif.

abuwaras:
Kelebihan 0.47 % kalau dikalikan dengan Total Sampling yg mereka ambil, yaitu sebesar 2.912.529, maka ada DATA FIKTIF sebesar 13.689 Pemilih. Kalau masing2 TPS misalkan diasumsikan ada 500 suara pemilih, maka mereka sudah menciptakan Jumlah TPS Fiktif sebanyak 27 TPS Fiktif.
Hohohohohh, Bikin Data Survey saja pakai Mark Up data, sudah keliatan kalao orang2 IDM tukang Mark Up Project juga, sebab bisa saja Survey yg dilakukan IDM ini adalah Project pesanan dari MEga Pro....

Bener2 Bodohnya minta ampun...!

Sumber: detikForum

No comments: