Showing posts with label Tahanan. Show all posts
Showing posts with label Tahanan. Show all posts

Tuesday, March 25, 2014

Catatan Harian Anas Urbaningrum (12)

Anas Urbaningrum dan Gede Pasek Suardika beserta isteri masing-masing.

Kamis, 16 Januari 2014. Sambil menunggu mereka kembali, saya berolahraga di lantai sembilan. Ini adalah hari pertama saya diperbolehkan berolahraga. Informasinya, saya tidak boleh bertemu Andi Mallarangeng ketika berolahraga. Demikian sebaliknya.

Ketika olahraga, para tahanan tetap harus memakai identitas Tahanan KPK. Jika untuk aktivitas non-olahraga harus pakai rompi, maka untuk olahraga diwajibkan memakai kaos warna biru berkerah kuning dan di bagian belakang ada tulisan “Tahanan KPK”. Untuk olahraga cukup naik lift ke lantai 8, lalu naik tangga ke lantai 9. Di lantai 9 ini ada kamar tahanan dan sebagian adalah “lapangan terbuka” di puncak Gedung KPK.

Olahraga adalah tuntutan kesehatan. Kalau hanya makan, tidur dan berpikir di kamar tahanan, pastilah akan mengganggu kesehatan. Apalagi jika mental tidak kokoh dan jiwa tidak tenang, dijamin sebentar saja akan kolaps. Karena itu, memaksa diri untuk olahraga adalah pilihan yang paling bertanggung jawab. Bagi tahanan yang tidak ada larangan bertemu dengan tahanan lain, bisa berolahraga dua kali sehari, pagi dan sore. Budi Santoso, misalnya, bebas olahraga pagi dan sore. Sama halnya dengan Budi Mulya dan Ahmad Fathanah. Ada beberapa yang lain juga dapat kesempatan serupa.


Selesai buka puasa dan shalat Maghrib, Rudi dan Budi tiba. Rupanya sidang Rudi ditunda Selasa pekan depan. Ada apa? Karena jadwal persidangan sangat banyak sehingga waktunya tidak memungkinkan. Hal yang sama dialami oleh Deviardi, pada kasus yang terkait dengan Rudi. Ketika olahraga di lantai 9, Deviardi mengenalkan diri dan ketika ditanya oleh Akil Mochtar, dia menjawab sidang untuk dia ditunda. Alasannya sama, persidangan penuh.

Budi hari ini diputus hakim berupa pidana penjara selama delapan tahun dan membayar uang pengganti sebanyak Rp. 17 milyar. Tentu saja Budi tidak puas dengan putusan hakim itu. Sebagai pihak yang ditipu oleh Sukotjo S Bambang, dia merasa diperlakukan tidak adil. Tetapi ada putusan yang membuat dia lega, yakni seluruh asset yang telah disita dikembalikan dan ditempatkan sebagaimana semula. Ini yang dianggapnya sebagai bagian dari putusan yang seharusnya.

Apakah akan banding? Budi masih pikir-pikir. Kesan saya dia akan menerima putusan yang pahit, karena musimnya sedang tidak bagus terhadap perkara-perkara yang banding dan kasasi. Mungkin dia akan cari waktu yang tepat untuk upaya hukum lanjutan.


Budi menjelaskan bahwa proses persidangan di Pengadilan Tipikor hanyalah sandiwara. Tak ada gunanya melakukan perlawanan hukum di dalam persidangan. Mau dihadirkan kesaksian-kesaksian dan fakta-fakta yang mematahkan dakwaan JPU (Jaksa Penuntut Umum) sebaik apa pun, tetap saja tuntutan yang diajukan sama dengan dakwaan. Hakimnya sudah dikepung opini untuk hanya menjatuhkan bahwa terdakwa bersalah. Hakim bukan memutuskan soal salah dan benar, tetapi hanya memutuskan berapa besar hukuman. Mengapa? Karena (dianggap) sudah pasti bersalah dan (karenanya) harus diputuskan bersalah.

Pengalaman dan pandangan Budi tentu menarik bagi Rudi yang tengah memasuki persidangan, dan untuk Wawan yang salah satu kasusnya sudah selesai pemberkasan. Dan tentu saja buat saya yang baru tahap awal pemeriksaan.

Kata Budi, penjelasan dan bantahan terdakwa, keterangan saksi yang mematahkan dakwaan dan keterangan ahli yang menguntungkan terdakwa tidak terserap dengan baik, bahkan cenderung diabaikan saja. Makanya konsep dakwaan dan tuntutan JPU seperti copy paste saja.


Dinamika persidangan dengan segala macam kesaksian, keterangan, penjelasan dan bantahan yang bermutu dan berbasis fakta sekalipun tidak akan bermakna di mata JPU. Siapa JPU? Ya KPK itu sendiri. Penyidik dan penuntut ada di lembaga yang sama. Satu atap dan menyatu di KPK. Siapa yang mengarahkan penyidik dan penuntut? Ya sudah jelas Pimpinan KPK. Berapa tahun seorang terdakwa dituntut misalnya, itu arahan Pimpinan KPK.

Meskipun begitu konteksnya, Prof. Rudi tidak berkecil hati. Semangat untuk membela harkat dan martabat diri dan mencari keadilan tidaklah surut. Dia merencanakan di setiap sidang akan membuat semacam “summary” poin-poin apa dari dakwaan JPU yang berhasil dipatahkannya. Harapannya adalah publik jadi tahu dan hakim akan mempertimbangkan hal tersebut ketika kelak putusan dijatuhkan. Sedangkan Wawan tidak banyak bicara. Tetapi tampak pula semangatnya untuk berjuang demi yang terbaik. Tidak tampak kegelisahan yang mengganggu.

Siapa pun tahu bahwa perjuangan saya akan berat, karena ada tambahan faktor-faktor non hukum yang terus bekerja. Termasuk mesin opini yang terus digalang dengan kekuatan yang sangat hebat.

(Bersambung)

Sumber:
www.asatunews.com

Tuesday, March 18, 2014

Catatan Harian Anas Urbaningrum (11)


Kamis, 16 Januari 2014. Hari ini adalah jadwal dijenguk keluarga. Kamis jam 10-12 adalah kesempatan bertemu wajah-wajah lain diluar kami berempat dan penjaga. Khususnya keluarga, kerabat, handai taulan dan sahabat.

Waktunya diatur ketat dan pendek. Pasti ada alasannya. Kalau mau panjang ya jangan jadi tahanan begitu logikanya. Sama dengan ucapan Johan Budi, “Kalau Anas mau nyaman, ya tidur saja di hotel”.

Bagi para petugas yang berkuasa di rutan, makin ketat, makin tegas, makin bikin sulit tahanan dan keluarganya, mungkin dianggap sebagai prestasi. Itu kata beberapa tahanan lama yang saya dengar. Saya tidak peduli dengan kesulitan-kesulitan dan pembatasan-pembatasan yang saya rasakan sebagai tahanan. Silahkan saja dilaksanakan, meski acap kali tidak rasional.

Selesai saya tulis surat balasan untuk Akmal, Nawal, Najih dan Najma, serta surat khusus untuk sahabat-sahabat aktivis PPI, saya bersiap menuju ruang jengukan. Dalam pikiran saya pastilah banyak keluarga dan sahabat yang akan bertemu.Ternyata yang bisa masuk hanya istri saya Tia, Mbak Dina dan Aci.

Teman-teman adalah orang-orang yang merdeka dalam berpikir dan merdeka dalam bersikap.

Tiga perempuan yang lain terhalang di lobi KPK, menunggu izin dari penyidik. Namun sampai selesai jam 12 siang, sahabat-sahabat yang lain tetap tidak bisa masuk. Alasan petugas karena penyidik tidak ada di tempat, karena sedang ada penggeledahan. Apakah semua? Semua tidak ada di tempat, begitu kata petugas penjaga rutan. Padahal tim penyidik saya ada 10 orang. Apakah info dari petugas itu benar? Saya tidak bisa mengkonfirmasi.

Tapi, ya sudahlah. Sebagai tahanan kategori “tapol” saya tak dalam posisi banyak menuntut, bahkan untuk hal-hal yang biasanya diperbolehkan bagi tahanan yang lain. Itu konsekuensi biasa saja. Apalagi teman-teman diluar terus melakukan usaha-usaha untuk menjelaskan kepada publik tentang apa yang terjadi. Meskipun itu inisiatif mandiri mereka, tetap saja akan dikaitkan dengan saya.

Wajar kalau ada persepsi bahwa itu atas perintah saya atau hasil koordinasi dengan saya, walau kenyataannya tidak. Teman-teman adalah orang-orang yang merdeka dalam berpikir dan merdeka dalam menyikapi perkembangan keadaan sesuai dengan informasi, pengetahuan dan pemahaman mereka. Mereka punya indera sosial, politik, dan hukum untuk dapat mencerna apa yang terjadi dan bagaimana memberikan respons.

Minimal ada komunikasi, meskipun hanya berupa tulisan pendek.

Agar ada komunikasi, saya menulis surat pendek untuk teman-teman yang dilarang masuk, seperti Saan Mustopa, Sudewo, Andy Soebjakto, Nur Iswan, Tridianto, Aidul Fitri dan yang lain-lain. Beberapa di antara mereka sudah datang dua atau tiga kali untuk menjenguk, tetapi nasibnya belum cocok. Surat saya isinya sederhana: permohonan maaf, saran untuk bersabar dan informasi bahwa nama mereka sudah ada dalam daftar yang saya serahkan kepada penyidik, baik langsung maupun melalui penasihat hukum. Surat itu saya titipkan kepada Tia. Minimal ada komunikasi, meskipun hanya berupa tulisan pendek.

Dari keluarga, selain dapat kiriman logistik, baju-baju ganti dan beberapa peralatan lain, saya dapat banyak titipan bacaan, doa, amalan untuk memperkuat jalur spiritual. Spiritualitas adalah kekuatan dan jalur yang tak terbantahkan. Hal ini memang transenden, tetapi saya yakini nyata.

Kembali ke kamar, Prof. Rudi, Budi dan Wawan sudah siap. Rudi dan Budi berbatik panjang. Wawan berbaju putih panjang. Tentu saja semua dengan baju kebesaran Tahanan KPK. Semuanya cakep dan rapi. Bahkan saya menggoda Wawan, apakah kalau diperiksa penyidik harus rapi seperti dia? Semua tertawa. Lalu keluar alasan karena harus lewat lobi dan disorot kamera. Mirip pertunjukan sirkus.

Semua tahanan harus bermain sirkus dulu di depan wartawan dan disorot kamera.

Bagi setiap tahanan yang dieksekusi, harus lewat lobi KPK dan diantar oleh mobil KPK. Meskipun ruang tahanannya di KPK. Apakah di bawah atau di atas yang bisa pakai lift dalam gedung. Semua tahanan harus bermain sirkus dulu di depan wartawan dan disorot kamera. Motivasinya pastilah untuk mempermalukan, atau dalam bahasa resminya memberikan efek jera.

Bagi tahanan yang di bawah, kalau berangkat dan pulang pemeriksaan juga harus lewat lobi untuk dipertemukan dengan kamera. Berbeda dengan tahanan di lantai atas. Cukup turun dengan memakai lift saja, tanpa harus bersentuhan dengan wartawan di depan pintu masuk. Rapi anti kusut jadi penting untuk kesan yang tidak negatif tentang kesehatan jasmani dan rohani.

Persis jam 13.00 mereka bertiga berangkat. Wawan diperiksa penyidik di Gedung KPK, Prof. Rudi dan Budi ke pengadilan Tipikor (Tindak Pidana Korupsi) yang letaknya masih berada di Jl. HR Rasuna Said juga. Untuk Prof. Rudi akan menjalani sidang pemeriksaan sedangkan Budi akan mendengarkan putusan hakim. Keduanya berangkat dengan tujuan yang berbeda: yang satu mendengarkan putusan, yang satu berkesempatan bertanya kepada para saksi.

(Bersambung)

Sumber:
www.asatunews.com

Friday, March 14, 2014

Catatan Harian Anas Urbaningrum (10)


Rabu, 15 Januari 2014. Beda halnya dengan Budi Santoso. Pengusaha asal Pontianak ini pada hari Kamis akan menghadapi vonis. Kasusnya terkait dengan Djoko Susilo. Dia tampak sudah pasrah dan siap apa pun putusan hakim. Yang dia protes adalah awalnya kasus ini sudah ditangani oleh polisi dan dirinya sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh Mabes Polri. Atas kebijakan dan perintah Presiden kepada Kapolri, seluruh kasus yang terkait simulator SIM harus diserahkan dan ditangani KPK.

Selain itu, dia merasa sudah jatuh tertimpa tangga. Sudah ditipu Rp 94 miliar kok malah jadi korban hukum di KPK? Sementara, yang menipu malah berada dalam perlindungan LPSK. Persisnya saya belum pernah mendalami kasusnya seperti apa. Yang jelas, sebagai kenalan baru, Budi sangat ramah dan mudah bergaul.

Dia juga tampak sebagai tipe yang loyal kepada kawan-kawannya. Sebagai pengusaha, dia mengeluh atas iklim bisnis dan praktik penegakan hukum di Indonesia yang tidak pasti dan tidak adil. Dia banyak cerita tentang kondisi dan praktik-praktik di lapangan yang mengerikan. Budi Santoso dituntut 12 tahun dan besok menanti putusan hakim. Yang jelas, ia tampak sudah siap.

Tubagus Chaeri Wardana dengan pengacara Adnan Buyung Nasution dan timnya.

Beda, Prof Rudi, beda Budi Santoso, dan beda lagi dengan Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan. Dia baru saja ditetapkan sebagai tersangka kasus alkes di Banten bersama Atut, kakaknya. Wawan yang tipenya lebih pendiam tidak mudah ditangkap reaksi dan sikapnya. Yang saya lihat dia juga tetap tenang. Tidak kelihatan gusar atau marah-marah.

Sama dengan saya, Wawan juga didampingi Bang Buyung (Adnan Buyung Nasution) dan timnya sebagai penasihat hukum. Ada juga Firman Wijaya di dalamnya. Tadi sore setelah Bang Buyung dkk bertemu saya di Posko Rutan, Wawan berkesempatan bertemu dan konsultasi. Pasalnya, besok Wawan akan diperiksa sebagai tersangka terkait Akil Mochtar. Tentu Wawan membutuhkan konsultasi dan juga pengacara yang besok akan mendampinginya. Saya sendiri tadi belum banyak bicara tentang langkah-langkah hukum dan strategi dalam menghadapi sangkaan dan nanti dakwaan dengan para penasihat hukum. Bang Buyung baru tanya-tanya informasi seputar penahanan dan bagaimana kondisi saya di tahanan.

Gang "Empat Sekawan" main gaple: Prof Rudi, Mas Budi, Anas, dan Kang Wawan.

Setelah saya terlepas dari isolasi, kami berempat banyak waktu untuk ngobrol dan diskusi, baik di meja makan maupun di kamar Rudi dan Wawan. Sebagai sesama tahanan, kompak dan perasaan senasib adalah pilihan satu-satunya. Saling menyuguhkan dan bahkan saling bersih-bersih piring dan alat-alat makan setelah selesai. Pokoknya, mirip kerjaaan anak kos.

Bahkan, saya mendapat pelajaran main gaple. Profesor memberi briefing bagaimana prinsip-prinsip permainan gaple.Ternyata, model permainannya sederhana saja sehinggga dengan cepat saya bisa mengerti. Untuk kali pertama, saya ikut main gaple dalam gang “Empat Sekawan”. Siapa yang kalah? Ternyata semua berkesempatan kalah. Secanggih apa pun kemampuan mereka bertiga bermain kartu, selalu ada ruang misteri, karena kartunya tertutup. Sehebat apa pun orang merencanakan hidupnya, selalu ada misteri yang mengiringinya. Hidup mengandung elemen misteri sebagaimana alam yang terkembang di depan mata kita.

Panta Rei, semua bergerak, semua berubah. Tak ada yang kekal, tiada yang abadi.

Profesor Rudi, Wawan, Budi Santoso, dan saya adalah bagian dari kekayaan Tuhan tentang misteri hidup itu. Begitu pula yang lain. Semua perjalanan hidup dipandu oleh dinamika antara rencana manusia dan misteri yang dikirim Tuhan. Hidup yang sesungguhnya adalah hari ini. Yang kemarin sudah menjadi sejarah, tak bisa diubah. Besok belum terjadi. Apa yang akan terjadi besok, kita tak pernah tahu. Definisi terkini tentang hidup adalah apa yang kita jalani hari ini. Hanya itu. Selebihnya adalah rencana-rencana dan ikhtiar-ikhtiar yang akan bertemu dengan garis batas ketentuan dan takdir Tuhan.

Panta Rei. Semua bergerak, semua berubah. Tak ada yang kekal, tiada yang abadi. Keabadian adalah wilayah prerogratif Tuhan. Perubahan terus-menerus adalah ruang ikhtiar yang disediakan Tuhan untuk manusia yang berada di dalamnya. Di situlah kita akan bertemu dengan kadang kala rasa manis, kadang kala rasa getir.

(Bersambung)

Sumber:
www.asatunews.com

Monday, March 10, 2014

Catatan Harian Anas Urbaningrum (9)


Rabu, 15 Januari 2014. Kembali pagi ini saya bangun jam 03.30 pagi. Setelah wudlu, dilanjutkan shalat Tahajud dan shalat Hajat, sambil menunggu panggilan azan Subuh. Di sela-sela itu, saya makan tempe goreng dan minum air putih cukup banyak. Ada niat untuk berpuasa saja hari ini.

Selesai shalat Subuh dan mengaji, saya baca-baca buku dan tanpa terasa kemudian tertidur lagi. Baru bangun sekitar jam tujuh, ketika ada pergantian petugas jaga.

Setelah mata melek sempurna, terdengar suara panggilan dari Prof Rudi Rubiandini, mengajak saya sarapan pagi. “Sudah disiapkan, Mas,” begitu katanya. Saya sempat mikir-mikir apakah ikut sarapan pagi atau jadi berpuasa saja hari ini. Akhirnya, saya memutuskan tidak jadi berpuasa dan kemudian sarapan berempat dengan Prof Rudi, Mas Budi, dan Kang Wawan.

Acara ILC di TV One membahas tema "Ucapan Terima Kasih" Anas Urbaningrum.

Sambil sarapan, kami berdiskusi dan ngobrol ngalor-ngidul, termasuk membahas isu-isu yang dimuat media. Tadi malam, Prof Rudi membisikkan bahwa acara ILC di TV One sedang membahas tema tentang saya. Entah dari mana Prof Rudi mendapat informasi itu. Yang jelas, memang benar adanya, acara bincang-bincang dari klub para pengacara di TV One itu membahas ucapan terima kasih saya ketika keluar dari gedung KPK menuju ruang tahanan.

Beberapa hari ini, Prof Rudi tengah mempersiapkan diri untuk sidang pada hari Kamis. Saya lihat bahan-bahannya dia pelajari dengan sungguh-sungguh. Mulai dari Berita Acara Pemeriksaan (BAP) para saksi hingga dakwaan dari jaksa penuntut umum (JPU) KPK. Semua BAP itu dibaca dengan teliti oleh Prof Rudi. Di bagian tertentu diberi tanda, mana keterangan di BAP saksi yang merugikan dan mana yang menguntungkan. Sebagai Guru Besar ITB, persiapan yang baik agaknya telah menjadi kebiasaannya. Kesiapan akademis.

Sebagai Guru Besar ITB, Prof Rudi Rubiandini mempersiapkan diri untuk sidang di pengadilan Tipikor dengan kesiapan akademis.

Prof Rudi bersemangat ingin mematahkan dakwaan jaksa yang berdasarkan BAP para saksi yang sudah dipahaminya secara baik. Bagian-bagian yang dianggap penting di-stabilo dan diberi tanda merah atau hijau. Merah sebagai tanda merugikan dan hijau sebagai tanda menguntungkan.

Pikir saya, boleh juga cara Profesor Rudi dalam mempersiapkan diri. Kami menggoda, jangan sampai lulus terlalu baik. Cukup Cum Laude saja. Beliau menjawab dengan tertawa, “Namanya juga ikhtiar.

(Bersambung)

Sumber:
www.asatunews.com

Tuesday, March 4, 2014

Catatan Harian Anas Urbaningrum (8)


Rabu, 15 Januari 2014. Hingga hari ini, Akmal, Nawal, Najih, dan Najma belum bisa ketemu menjenguk saya. Sebaiknya memang tidak usah dulu untuk sementara waktu. Alhamdulillah, mereka diwakili oleh surat masing-masing.

Surat tertutup khusus untuk ayahnya di tahanan. Saya dengar bahkan ibunya pun tidak boleh mengintip apa isi surat-surat itu. Menulis surat adalah perjuangan tersendiri buat anak-anak seusia mereka, terutama Najih dan Najma. Tapi kalau Akmal dan Nawal sudah lumayan kemampuan menulisnya.

Akmal menulis suratnya di selembar kertas merah. Judul depannya “SEPERTI WARNA SURAT INI, ABAH HARUS BERANI!” Isi suratnya meminta saya untuk tetap semangat, tetap tegar, menghadapi apa pun yang terjadi.

Bapaknya harus punya keyakinan yang teguh atas apa pun yang dilakukan orang. Kalau bapaknya tidak apa-apa, Akmal tidak apa-apa. Akmal juga menulis bahwa suratnya adalah pengganti kehadirannya, karena dia tidak bisa menemui dan menemani.

Nawal suka gaya saya ketika datang ke KPK.

Surat Nawal agak berbeda. Di sampul luarnya ditulis “Kalau amplopnya sudah dibuka, tidak boleh diterima. Karena kalau sudah terbuka berarti kurirnya yang salah.” Tersenyum saya membaca tulisan Nawal di amplop surat. Ternyata benar adanya. Surat Nawal ada di dalam amplop rangkap tiga!

Isi suratnya, pada bagian awal menanyakan kabar. Lalu menceritakan bahwa pada tanggal 10 Januari 2014 dia melihat abahnya datang ke KPK. Dia menulis bahwa dia suka gaya saya ketika datang dengan guyonan. Tetapi, protes karena lama menunggu di TV. Nawal menceritakan, ia menunggu berita di TV sambil bikin candaan singkatan: KPK = Komisi Paling Kepo.

Dalam suratnya, Nawal juga protes kenapa kasih hadiah tahun baru ke SBY, tetapi belum ada hadiah untuk Nawal. Sama dengan Akmal, Nawal minta abahnya tetap semangat dan pantang menyerah, sambil terus berdoa dari Yogya.

Tak tega rasanya kalau tidak memberi statement, karena para wartawan sudah menunggu sejak pagi.

Memang, ketika sampai di KPK, saya bikin kelakar ringan. Saya bilang, “Benar informasi yang menyebutkan Anas tidak mau dipanggil KPK. Nama saya Anas, kok dipanggil KPK? Ya, jelas tidak mau. Istri dan anak-anak saya memanggil Abah. Teman-teman ada yang memanggil Mas dan Cak. Jadi, jangan dipanggil KPK,” begitu canda saya.

Mengapa bercanda? Karena, hal-hal yang lebih serius sudah saya sampaikan kepada teman-teman wartawan di Durensawit, sebelum shalat Jumat. Ketika datang ke KPK setelah shalat Jumat, saya merasa tak perlu lagi bikin pernyataan serius. Tetapi, karena wartawan sudah menunggu dari pagi dan jumlahnya sangat banyak, tak tega rasanya kalau tidak memberi statement yang bisa mereka setor ke redaktur masing-masing.

Ya, sudah, bikin guyonan saja, biar ada berita untuk teman-teman wartawan di KPK. Mungkin Akmal dan Nawal menunggu saya lewat berita di TV sama dengan para wartawan yang menunggu sejak pagi.

Surat panggilan memang menyebut jam 10.00 pagi. Tapi karena harus menemui wartawan yang sudah beberapa hari menunggu di Durensawit terlebih dulu, maka saya baru berangkat ke KPK setelah shalat Jumat di Masjid Matraman dan makan siang di Restoran Sederhana, Pasar Rumput, langganan lama yang cukup lama tidak disambangi. Saya bergerak dari Pasar Rumput persis jam 13.30 dan tiba di Gedung KPK sekitar jam 13.45.

Saya bangga, walaupun Najih harus menerima beban tapi dia rela berkorban.

Lain halnya dengan Najih. Isinya singkat saja: “Abah, aku akan support Abah sampai Najih meninggal.” Ditutup dengan, “OK. Cuman ini yang bisa Najih tulis.” Di bawah tertulis: “Your Son, Najih.” Sedangkan Najma lebih singkat lagi: “Abah, semoga berhasil, ya, dan tetap sehat, dari Najma,” lalu ada tanda tangannya. Najih kelas 5 SD dan Najma kelas 3 SD. Suratnya singkat, padat, dan jelas.

Tetapi, Najih punya titipan spesial, yaitu sebuah bantal-guling. Sejak kecil, Najih tak bisa lepas dari bantal-gulingnya. Guling itulah yang dibawa ke mana pun dia pergi, baik ke luar kota atau ke luar negeri. Kalau tanpa guling itu, tidurnya gelisah. Guling itu sejak lama diberi nama “Bambang” untuk menggambarkan kedekatannya dan sudah dianggap semacam “teman”. Hari ini, guling itu diserahkan kepada saya untuk menjadi teman di tahanan.

Saya membayangkan betapa berat dia melepaskan “Bambang”. Tetapi, hari ini, “Bambang” dilepaskan dan diserahkan kepada abahnya. Sungguh saya merasa Najih telah mengorbankan apa yang dianggapnya berharga. Saya pun bertanya-tanya, apakah nanti malam Najih bisa tidur pulas?

Jangan-jangan dia gelisah karena ditinggal “Bambang”-nya. Malah, jadi saya yang gelisah, sambil merasa bangga bahwa Najih rela berkorban. Sudah harus menerima beban, ia masih mau merelakan berpisah dengan “teman tidur”-nya.

(Bersambung)

Sumber:
www.jurnal3.com

Saturday, March 1, 2014

Catatan Harian Anas Urbaningrum (7)

Moment yang tak terlupakan, saat dilempar telur di depan gedung KPK.

Selasa, 14 Januari 2014. Alhamdulillah, pagi ini, setelah gerak-gerak sedikit lalu mandi, badan segar dan penuh semangat. Pasalnya, dalam status sebagai hari libur nasional, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW adalah salah satu hari untuk bisa dijenguk keluarga. Dijenguk itu maknanya bisa bertemu, kangen-kangenan, komunikasi langsung, kiriman logistik jasmani dan rohani, termasuk intelektual, penggantian baju kotor ke baju bersih dan tentu saja bisa keluar dari kamar tahanan. Bayangkan, betapa pentingnya waktu atau jadwal jenguk bagi tahanan.

Pagi ini, kondisi lebih segar karena isolasi sudah bisa ditembus. Mestinya belum bisa dan masih dilarang untuk ke luar kamar. Tetapi selalu saja ada jalan yang bisa dikreasi dan itu pasti bagian dari petunjuk Tuhan. Ternyata, Tuhan mengirim bau pesing sebagai jalan untuk membuka isolasi. Pasti aneh dianggapnya. Bagaimana bisa?

Mungkin karena tekanan dari bawah makin kuat, dari lubang air buangan untuk mandi, bau itu makin keras serangannya ke hidung. Pintu dibuka pun tidak sanggup mengatasinya. Saya tanyakan ke Damuri. Bagaimana baunya? Dia jujur mengakui bahwa sengatannya makin hebat. Saya minta tolong dia untuk lapor kepada Kepala Rutan Bapak Arifuddin. Isinya adalah laporan kondisi kamar dan keluhan bahwa serangan bau itu mulai bikin saya “mabuk”.

Definisi “mabuk” di sini adalah mulai pusing-pusing dan mual. Karena itu, alternatifnya, saya meminta izin sementara pindah istirahat, bergabung dengan Prof Rudi, Budi, dan Wawan, atau saya tetap di kamar yang sekarang tetapi lubang pembuangan kamar mandinya ditutup untuk mengurangi hebatnya bau pesing. Jika ditutup, saya harus mandi di kamar mandi mereka bertiga.

Ternyata, Tuhan mengirim bau pesing di ruang tahanan sebagai jalan untuk membuka isolasi.

Kepala rutan segera merespons dengan cara yang minimalis. Dikirimlah seorang petugas cleaning service dengan membawa semprotan pengharum! Jelas bukan solusi sama sekali. Saya perintahkan sang petugas untuk masuk ke kamar mandi dan merasakan baunya. Saya bilang, “Mau disemprot pakai parfum atau pengharum sepuluh biji pun tak akan bisa melawan bau.” Jalan satu-satunya adalah menutup lubang air. Sebentar kemudian dia bilang memang bau dan dia akan kembali lapor kepada Kepala Rutan. Tak lama setelah itu datanglah petugas untuk urusan itu, semacam office boy khusus untuk memperbaiki kerusakan-kerusakan kecil dan mengecek jika ada permintaan atau complaint dari penghuni rutan. Namanya Edi, orangnya pendek, kekar, dan cekatan.

Edi tahu persis sejarah kamar itu. Dulunya dapur dan di bawahnya ada tempat pembuangan kotoran. Dulu ketika kamar itu dipakai memang semua lubang ditutup dan kamar mandi tidak dipakai. Kamar mandi kembali dipakai untuk menyambut kehadiran saya. Dia diperintahkan untuk memfungsikan kembali kamar mandi, salah satunya dengan membuka lubang air. Makanya dia segera tahu apa yang harus segera ditutup. Karena dialah yang sebelumnya membuka dan sekarang dia yang harus menutup kembali. Mirip lagu dangdut.

Saya kan hanya menjalankan perintah, Pak,” katanya sambil tersenyum.

Dalam waktu 30 menit, semuanya sudah beres. Bau berkurang drastis, meskipun tidak hilang. Sebagai konsekuensinya, kamar mandi tidak bisa dipakai. Inilah jalan menuju berakhirnya isolasi. Tetapi Kepala Rutan berpesan kepada Damuri agar Anas hanya boleh ke luar kamar untuk mandi saja. Saya bilang, “iya, tidak masalah.” Dalam hati saya, sehari saya bisa mandi berkali-kali. Masih juga ada kesempatan wudlu dan buang air. Intinya, isolasi sudah bisa diakhiri. Berkat bau, isolasi selesai.

Akhirnya bisa duduk berempat dengan: Kang Wawan, Prof. Rudi, dan Mas Budi.

Praktis sejak tadi malam, saya bebas masuk-keluar kamar dengan dalih ke kamar mandi. Apalagi, para senior di kamar sebelah selalu mengajak untuk ke kamarnya. Alasannya ada kopi, ada kue, ada buah, intinya mengajak gabung untuk ngobrol-ngobrol, ketawa-ketawa, dan saling membunuh waktu yang panjang. Untuk kali pertama pula saya bisa duduk berempat di meja makan kecil di kamar sebelah.

Karena itu pula, pagi ini kami berempat merencanakan, merumuskan, dan mengusulkan sesuatu kepada Kepala Rutan atas hak kami mendapat kunjungan keluarga. Biasanya, ketika libur nasional, para tahanan menemui keluarga di hall lantai 1 yang biasa dipakai shalat Jumat. Semua dikumpulkan di situ. Kami punya usul baru, yakni tetap menggunakan ruang jengukan di lantai bawah (basement) Gedung KPK. Kami meminta tolong kepada petugas jaga, Timur Pakpahan, untuk menelepon atau SMS kepada Kepala Rutan. Tidak lama kemudian ada jawaban singkat, “Akan dipikirkan.” Meskipun jawabannya kurang menggembirakan, kami merasa masih ada peluang. Benar saja. Menjelang jam 10.00 ada jawaban yang intinya usulan diterima dan diizinkan.

Kami berangkat bersama ke depan, ke ruang jengukan keluarga, diantar oleh Timur Pakpahan. Ada empat ruangan, pas untuk masing-masing kami dan keluarga. Berkah hari ini makin bertambah dengan kesempatan berkenalan dengan keluarga Prof Rudi, Mas Budi, dan Kang Wawan. Di antara mereka, saya baru kenal Airin, istri Wawan. Dulu hadir pada Musda Partai Demokrat Banten setelah terpilih menjadi Walikota Tangerang Selatan. Kebetulan Partai Demokrat mendukung Airin dan saya ikut pidato saat kampanye di hari terakhir. Saling kenal di antara keluarga itu penting, agar kalau ada urusan apa-apa bisa koordinasi. Alhamdulillah, tadi keluarga saling berkenalan dan bertukar nomor kontak. Rencana berhasil, target tercapai.

Pertama kali bertemu dengan istri sejak 'mondok' di KPK. Cerita tetap beda dengan rupa.

Hari ini adalah kesempatan pertama bertemu Tia, istri saya. Kemarin, hari Senin baru adik dan beberapa penasihat hukum yang sempat jenguk di ruang posko rutan. Tia datang bersam Mbak Dina (kakak ipar saya), Yunianto Wahyudi alias Mustang, Dzamrusyamsi, Dandy Setiawan, dan Yogi Gunawan. Tiga nama terakhir hanya sebentar karena namanya tak tercantum dalam daftar nama keluarga. Ketat sekali. Ketat, tertib, dan hampir lemah logika. Tetapi petugas kan hanya menjalankan perintah saja.

Kami ngobrol sebagaimana layaknya keluarga. Kalau tidak bertemu istri untuk waktu yang lebih lama dari sekarang, itu hal biasa. Tapi itu karena ada tugas ke luar kota atau luar negeri. Bukan tidak bisa bertemu karena 'mondok' di tahanan KPK. Tentu pertemuan terasa spesial. Meskipun lewat Luthfie (adik Anas), kabar kondisi saya telah sampai ke Tia, namun bertemu langsung dan menyaksikan saya sehat adalah jalan terbaik untuk tenang. Cerita tetap beda dengan rupa. Kabar tidak bisa menggambarkan semuanya.

Selain kangen-kangenan, saya berkesempatan untuk tanda tangan urusan administrasi PPI. Ada SK untuk kepengurusan PPI Sumatera Barat yang besok, 15 Januari 2014, akan melaksanakan pelantikan. Lewat Gede Pasek Suardika, saya berpesan agar semua agenda PPI tetap dijalankan sesuai rencana, termasuk pelantikan di berbagai daerah. Penahanan saya bukan alasan PPI tak bergerak dan berhenti. Harus tetap berjalan dan bergerak seperti komitmen dan semangat awal.

PPI harus berani membangun tradisi baru, yakni tak tergantung pada figur. Seperti saya jelaskan dan tegaskan berkali-kali, PPI tidak boleh diidentikkan dengan Anas atau Anas identik dengan PPI. PPI bukan properti Anas dan keluarga Anas. PPI adalah kumpulan komitmen, semangat, idealisme, tanggung jawab, kecakapan, keberanian, dan tenaga pergerakan dari anak-anak bangsa yang terbuka dan majemuk untuk mencintai dan bekerja demi Indonesia yang lebih baik.

Ada Anas atau tidak ada Anas, PPI harus tetap berjalan. PPI harus hadir dengan logika organisasi yang terlembaga, bukan logika personalisasi. Meskipun berat, karena modal utamanya adalah semangat dan keberanian, percobaan sejarah ini harus ditempuh sehingga bisa memberi warna baru sekecil apa pun. Apakah ini akan berhasil? Biarlah sejarah yang memutuskan. Yang penting adalah ikhtiar sungguh-sungguh dengan bermodalkan optimisme dan kerja keras.

Di antara para pengunjung yang menjenguk keluarganya masing-masing, saat itu saya baru kenal Airin, istri Wawan.

Saya juga menandatangani urusan keluarga, yaitu rapor anak-anak. Tugas orang tua yang paling simpel adalah tanda tangan rapor anak-anaknya sebelum dikembalikan ke pihak sekolah. Selama ini, urusan anak-anak --Akmal, Nawal, Najih, dan Najma-- detailnya diurus oleh Tia. Hal-hal yang prinsip saja yang kami putuskan bersama. Selain karena istri saya lebih telaten dan waktunya lebih memungkinkan, anak-anak sejak kecil memang sudah terbiasa dengan pola itu. Saya banyak di luar, Tia fokus di dalam. Anehnya, yang bertugas tanda tangan tetap saja saya, padahal Tia yang lebih berhak. Tradisinya begitu. Ya, sudah, saya laksanakan saja dengan ikhlas dan penuh tanggung jawab.

Soal anak memang selalu menjadi pikiran dan perhatian. Tak ada orang tua yang tidak terkena rumus itu, terkecuali yang mau dikategorikan tak bertanggung jawab.

Sejak awal serangan pemberitaan miring dan tuduhan-tuduhan yang menyangkut kasus hukum, anak-anak saya pelan-pelan melakukan adaptasi. Adaptasi yang dipaksa keadaan. Pasti anak-anak seusia Akmal, Nawal, Najih, dan Najma masih terbatas pengetahuan dan pemahamannya tentang apa yang terjadi. Pasti juga pemberitaan-pemberitaan yang bergelombang dahsyat punya pengaruh kepada anak-anak.

Yang saya syukuri adalah anak-anak paham bapaknya berada di dunia politik yang keras dan apa yang terjadi adalah terkait dengan apa yang menjadi peran bapaknya. Pada saatnya kelak mereka akan memiliki kapasitas yang cukup untuk melihat dan mencerna apa yang terjadi. Yang pasti, saya merasa telah membebani anak-anak dengan sesuatu yang tidak seharusnya dan tidak tepat waktunya. Mereka masih anak-anak untuk menerima beban yang terlalu berat.

(Bersambung)

Sumber:
www.asatunews.com

Catatan Harian Anas Urbaningrum (6)


Senin, 13 Januari 2014. Jam 03.20, saya bangun. Sekitar sepuluh menit kemudian Amir memanggil dari tempat duduknya. Saya memang berpesan agar dibangunkan jam 03.30 pagi. Mengapa? Selain berusaha dapat jatah waktu shalat malam, hari ini adalah hari Senin. Kalau tidak ada halangan, biasanya Senin-Kamis adalah waktu jeda makan siang hari. Selain melestarikan ajaran puasa Senin-Kamis, ini juga sekaligus usaha mengendalikan berat badan yang terus bertambah dalam beberapa tahun terakhir ini.

Tawaran sarapan pagi dari kolega (Rudi, Budi, Wawan) saya tolak halus. “Tadi saya mendahului sarapan roti jam empat pagi,” saya menjelaskan.

Tentu mereka paham. Selain memang puasa Senin-Kamis diajarkan, hati kecil saya ingin berat badan saya berangsur turun: untuk kesehatan, untuk efisiensi baju dan celana, dan untuk kepantasan juga. Tidak pantas rasanya kalau berat badan bertambah atau bertahan selama menjadi “santri” Abraham Samad. Jadi, terlalu kuat alasan saya untuk berpuasa Senin-Kamis.

Sesuai jadwal yang disampaikan Kepala Rutan Arifuddin bahwa Senin boleh dijenguk keluarga, maka selesai mandi dan shalat Dluha, saya meminta tolong Damuri, penjaga pengganti Amir, untuk tanya kepada Arifuddin. Saya khawatir keterputusan informasi dan kabar akan membuat keluarga gelisah.


Rudi, Budi, dan Wawan juga bersiap-siap menemui keluarga. Ternyata, yang dibawa Damuri bukan kabar bagus. Kata Kepala Rutan, keluarga belum bisa menjenguk karena belum ada surat dari penyidik. Tentu saja saya agak kecewa. Maka, sabar menjadi makin penting.

Meskipun dilarang bertemu keluarga, informasi harus sampai. Sekurang-kurangnya mengabarkan kondisi kesehatan. Caranya, saya tulis surat pendek buat Tia.

Bagaimana bisa sampai ke tangan Tia? Saya menitipkan surat itu ke Wawan. Pesan saya, kalau bisa nanti Airin Rachmi Diany (istri Wawan) kontak Saan Mustopa, kemudian Saan bisa antar surat itu ke rumah. Hanya jalur itu yang memungkinkan. Jalur keluarga Rudi dan Budi belum ada yang nyambung dengan keluarga atau teman-teman saya.

Ketika tidak punya pilihan karena belum diizinkan bertemu keluarga, yang bisa saya lakukan adalah berdiam di kamar. Pilihan terbaik adalah menambah rakaat shalat Dluha dan saya lanjutkan dengan shalat Tasbih. Tentu saja durasi shalat Tasbih agak panjang. Subhanallah, tak sampai lima menit setelah selesai shalat Tasbih, Damuri kembali masuk dan membawa kabar baik. Kabar apa? Ternyata saya sudah boleh bertemu keluarga dan penasihat hukum.

Anas dan kawan-kawan bercanda dengan Sutan Bhatoegana.

Segera saya ganti kostum. Sarung berganti celana, baju harus dibalut rompi kebesaran tahanan KPK warna oranye. Baju-baju kotor saya siapkan dan sejurus kemudian bergerak ke ruang posko rutan. Pertemuan tidak boleh dilakukan di tempat tahanan-tahanan lain menerima keluarga. Salah satu alasannya karena saya tidak boleh bertemu dengan Andi Mallarangeng. Alasan lain saya tak tahu. Pokoknya tidak boleh.

Alhamdulillah, walau waktu tinggal tersisa 45 menit dari jatah penjengukan, saya bertemu adik saya, Anna Luthfie, dan beberapa pengacara --Firman Wijaya, Handika Wongso, Indra Nathan, dan Marlon Tobing. Yang paling penting adalah mengabarkan secara langsung kondisi saya. Meskipun tidak bersentuhan dengan jatah makanan dari KPK, Alhamdulillah saya tetap sehat, karena ada tiga kawan yang selalu berbagai ketika waktunya makan. Adik saya dan lawyer tanya, dari mana dan makan apa selama tiga hari ini. Saya jawab sambil berkelakar, “Ada kiriman dari malaikat.” Tenang saja di mana-mana ada malaikat.

Saya ceritakan juga peristiwa pemeriksaan dan penahanan hari Jumat silam. Garis besarnya saja, tidak lengkap dengan teperinci. Saya sampaikan juga bahwa sejak Jumat malam saya diisolasi di kamar dan tidak boleh keluar sama sekali. Bahkan untuk ke kamar Rudi, Budi, dan Wawan yang berada dalam blok yang sama, tetap dilarang keras.

Semua penjaga menyampaikan bahwa mereka hanya menjalankan perintah. Bahkan, pintu harus dikunci. Kalau butuh apa-apa bisa memanggil penjaga, semisal minta air panas untuk minum atau urusan lain. Kepada Anas memang ada perlakuan khusus, mungkin dianggap harus diisolasi dan belum boleh bersosialisasi. Saya bilang ke lawyer, tidak perlu dipersoalkan, karena saya ingin menjalani kebijakan isolasi ini secara alamiah saja.


Keluhan saya satu-satunya terhadap kamar tahanan adalah baunya yang pesing dan menyengat. Memang ada bubuk kopi dan arang hitam yang ditaruh untuk melawan bau itu. Tetapi rupanya kekuatan sang bau terlalu perkasa untuk ditundukkan oleh kekuatan bubuk kopi dan arang. Mirip pertarungan antara kekuasaan vs kaum tertindas.

Hal-hal lain di kamar itu tidak ada keluhan, karena harus disadari bahwa yang saya tempati itu adalah kamar tahanan, bukan kamar pribadi, bukan kamar hotel.

Atas hebatnya kekuatan bau tersebut, saya meminta tolong agar Damuri mau membuka pintu kamar. Kalau pintu kamar dibuka, udara yang agak segar bisa masuk sehingga bau tidak terlalu kuat. Karena semua terpantau CCTV, Damuri ditanya kepala rutan. “Kenapa pintu kamar tidak terkunci? Jangan dibuka-buka pintu kamar Anas!” Begitulah pertanyaan dan arahannya. Damuri lantas menjelaskan bahwa kamar saya bau dan saya meminta agar pintu dibuka. Setelah diberi penjelasan itu, Kepala Rutan membolehkan pintu dibuka sedikit. Tetapi, Damuri diperintahkan untuk memastikan agar Anas tidak keluar-keluar dari kamar. Padahal, sama sekali tidak. Bagaimana bisa keluar kamar jika pintu dikunci dari luar? Isolasi adalah isolasi. Tidak masalah untuk saya jalani, meskipun itu hanya khusus untuk Anas.

(Bersambung)

Sumber:
www.asatunews.com

Monday, February 24, 2014

Catatan Harian Anas Urbaningrum (Bagian 5)


Ahad,12 Januari 2014. Mengapa ucapan terima kasih juga kepada Endang Tarsa dan Bambang Sukoco? Karena, keduanya sebagai penyidik yang melaksanakan penahanan. Keduanya yang tanda tangan berita acara penahanan. Endang memulai dengan kalimat, “Tidak enak ini saya sampaikan kepada Pak Anas.

Saya langsung potong dengan jelas dan tegas, agar mereka menyampaikan kepada saya tugas untuk menahan. Perhitungan saya memang akan ditahan pada hari ketika saya datang ke KPK.

Wajah Endang kelihatan agak gugup ketika menyampaikan hal itu. Lebih gugup lagi adalah Bambang yang ketika itu tidak berkata-kata. Menurut saya, mestinya Bambang sebagai ketua tim yang menyampaikan. Entah mengapa, Endang yang menjadi jubirnya. Mungkin karena senior atau faktor lain.

Terima kasih karena mereka berdua sudah mengeksekusi penahanan saya berdasarkan surat perintah penahanan yang diteken (ditanda-tangani) Abraham Samad. Saya hargai itu, meskipun kelihatan agak gugup dan tidak enak hati, keduanya melaksanakan tugasnya dengan baik sesuai perintah pimpinan.

Sebetulnya ada lagi penyidik lain, M Rifai, polisi asal Grobogan, Jawa Tengah, yang ikut nimbrung ngobrol soal penahanan. Lalu, ada juga perempuan penyidik, namanya Salmah, yang sejak awal masuk-keluar ruang pemeriksaan untuk koordinasi dengan Endang dan Bambang. Penampilannya dingin tanpa seulas senyum pun. Dari mereka berempat, Salmah yang paling tampak tampil sebagai penyidik.


Lalu apa kaitan ucapan terima kasih kepada Heri Muryanto? Dia adalah ketua tim penyidik ketika kasus saya ini mulai dipandang harus diseriusi. Bersama beberapa penyidik lain, dia ditugaskan sebagai “juru masak” Harrier menjadi kasus gratifikasi Hambalang.

Penjelasan saya tentang mobil Harrier yang bukan gratifikasi, apalagi dari Adhi Karya yang menggarap proyek Hambalang, kalah dengan cerita palsu Nazaruddin dan pegawainya yang bernama Marisi Matondang. Cerita palsu yang meyakinkan itulah yang oleh Heri dinaikkan menjadi kasus gratifikasi dengan segala lika-likunya, termasuk pembocoran sprindik.

Heri pasti dianggap berjasa dan semoga segera mendapat promosi jabatan. Wajar jika saya mengenang nama Heri Muryanto dan mengucapkan terima kasih.

Pastilah yang paling dibahas dan disorot adalah ucapan terima kasih saya kepada Pak SBY (Susilo Bambang Yudhoyono). Saya berkeyakinan, berdasarkan apa yang saya alami di Partai Demokrat, apa yang saya dengar dan rasakan, dan saya analisis, Pak SBY secara langsung atau tidak langsung punya peran untuk mentransmisikan masalah politik internal Partai Demokrat menjadi masalah hukum di KPK. Pidato politik dan hukum yang dilakukan di Jeddah, Arab Saudi, jelas merupakan tekanan dan intervensi.


Proses pengambilalihan kewenangan saya sebagai Ketua Umum Partai Demokrat dan perintahnya agar saya berkonsentrasi menghadapi masalah hukum adalah penggiringan politik yang nyata bersamaan dengan saat-saat krusial penetapan saya menjadi tersangka.

Boleh saja Pak SBY berdalih tidak melakukan intervensi. Bisa saja pernyataan saya ini dibantahnya dengan cara yang paling canggih dan meyakinkan. Atau, dia membantah lewat para pembantu dan pengacaranya, apakah Djoko Suyanto, Ruhut Sitompul, Palmer Situmorang, atau Heru Lelono. Tetapi, Pak SBY dan mereka semua tidak bisa membantah fakta-fakta yang diproduksi oleh Pak SBY sendiri.

Pernyataan dan analisis dapat dibantah, tapi apakah fakta bisa dibantah dan disembunyikan?

Seperti cara Heru Lelono membantah saya lewat wawancara dengan harian Rakyat Merdeka, 12 Januari 2014, halaman 2. Dengan cara yang meyakinkan, Heru membantah Pak SBY intervensi. Kalau Pak SBY intervensi, berarti itu sama saja melecehkan KPK. Ini bahasa yang sering saya dengar di dalam bantahan-bantahan itu.

Bahkan, Heru tak segan-segan berbohong dengan mengaku pernah mengatakan kepada saya —disebutnya “sahabat saya Anas”— bahwa kebenaran ini suatu saat akan terungkap. Sebab, kesalahan itu hanya sementara bisa disembunyikan.

Saya ingat betul dan yakin betul bahwa Heru tidak pernah mengatakan itu kepada saya, apalagi terkait dengan kasus di KPK. Jangankan mengatakan, pernah ketemu atau komunikasi saja tidak. Sejak saya di Partai Demokrat, hanya beberapa kali saya bertemu Heru di Cikeas. Itupun tidak perna bicara serius, hanya menyapa dan ngobrol ringan. Sejak saya di DPR dan Pak SBY menjadi presiden periode kedua, belum pernah saya berkomunikasi dengan yang bersangkutan. Bagaimana dia bisa menyampaikan pesan itu kepada saya, kecuali pesan imajiner? Atau, jangan-jangan, pesan itu sebenarnya untuk orang lain yang dekat dengan dia?


Menjelang tidur, saya sempat ngobrol agak panjang dengan Amir Ishak, petugas jaga yang baru dapat giliran malam. Asalnya dari Kebumen, Jawa Tengah. Orangnya enak, ramah, dan cepat akrab.

Sabar saja, Pak Anas. Nasib kita sama,” begitu nasihatnya.

Dia menjelaskan, maksudnya sama-sama sepi, tak ada hiburan, tak ada tontonan. Bedanya, dia menjaga, saya dijaga. Sebagaimana petugas yang lain, jatah jam jaga adalah setengah hari alias 12 jam. Tugas Amir hari ini akan berakhir pagi nanti jam tujuh.

Saya sabar mendengarkan dia bercerita tentang sejarah politik dan kerajaan zaman dulu. Dengan fasih, dia menjelaskan naik-turunnya kerajaan-kerajaan di Jawa, sejak Tumapel, Singosari, Kediri, Majapahit, Demak, Pajang, dan Mataram. Datang dan perginya raja-raja Jawa itu dia jelaskan dengan terperinci mirip guru sejarah. Menarik karena wawasan sejarahnya cukup bagus. Saya hanya khusyuk mendengarkan sembari kasih komentar tambahan sedikit-sedikit.

Inti dari sejarah politik kerajaan-kerajaan Jawa dulu adalah politik “bumi hangus”. Setiap pemenang selalu menghancurkan yang dikalahkan. Kerajaan diluluh-lantakkan dan yang dianggap berharga dibawa pergi oleh pemenang perang. Pusat kerajaan yang kalah diratakan dengan tanah sehingga yang tersisa tinggal kenangan. Jikapun ada, hanya bekas-bekas reruntuhan atau situs yang tak lagi utuh. Politik bumi hangus dan dendam tak berkesudahan hampir menjadi model politik sampai Indonesia memasuki zaman modern.

(Bersambung)
Sumber:
www.asatunews.com

Catatan Harian Anas Urbaningrum (Bagian 4)

Anas Urbaningrum dan Edhie Baskoro Yudhoyono alias Ibas.

Ahad,12 Januari 2014. Malam tadi, Thohari diganti oleh orang Kalasan, Yogyakarta, yang tinggi, besar, tegap, dan berkepala plontos. Namanya Surajan. Pagi ini kembali ada pergantian petugas jaga. Kali ini orang asli Nganjuk bernama Warseno. Semuanya sama, eks tentara, tepatnya polisi militer di Guntur, Jakarta. Sebelum pergi, Surajan menitipkan bungkusan plastik. “Ini titipan dari Pak Fathanah untuk Pak Anas,” katanya sembari pamit dan mengenalkan petugas jaga yang baru, Warseno.

Dari Warseno, saya dapat informasi masih ada dua orang lagi yang bertugas bergantian. Namanya Amir Ishak dan Damuri. Warseno orangnya juga enak dan grapyak, khas orang Jawa Timur. Dari Warseno, saya sempat pinjam alat pel untuk bersih-bersih lantai. Biar lebih bersih dan segar.

Budi sempat melihat dan melontarkan ledekan. Dia meledek sambil menawarkan diri untuk mengepel. Saya jawab, sebagai bekas anak indekos, urusan bersih-bersih lantai bukanlah hal yang asing.

Dia lalu bertanya, apakah saya pernah membaca buku tentang Mandela. Saya menjawab, pernah menonton filmnya. Dia menasihati saya agar tenang dan sabar sebagai “tapol” (tahanan politik). Saya tidak tahu kenapa dia menyebut saya tapol.


Bagi siapa saja yang berada dalam tahanan, merasa kemerdekaannya diambil, saling menasihati untuk tenang dan sabar adalah hal penting dan relevan. Dia bilang, zaman berputar. Saya jawab, semua akan berlalu.

Dia bilang, siapa yang zalim akan dapat karmanya. Saya jawab, akan kembali kepada dirinya atau anak keturunannya, bisa langsung atau tidak langsung, bisa tunai, bisa juga dicicil.

Budi bilang, kalau umur panjang, ia akan melihat bagaimana karma itu bekerja. Saya menjawab, tidak usah menunggu dan mengharapkan begitu, karena semua berlaku atas ketentuan Tuhan. Kalau Tuhan menimpakan mudarat kepada makhluk-Nya, siapa pun tak dapat menghalangi. Kalau Tuhan mendatangkan rahmat, juga tidak bisa dicegah oleh kekuatan apa pun. Tetapi, saya setuju karma akan datang, tidak perlu dijemput atau diberitahu alamatnya, karena sudah punya alamat masing-masing yang akan didatangi.

Anas (Ketua Umum Partai) dan Ibas (Sekretaris Jenderal Partai), akrab karena 'Politik'.

Rupanya, media massa menjadikan Anas sebagai berita utama. Ada berita tentang kiriman makanan dan surat dari Tia yang ditolak petugas. Ada berita tentang tantangan KPK kepada Anas untuk bicara tentang keterlibatan Ibas (Edhie Baskoro Yudhoyono) kepada penyidik.

Kata Johan Budi, pernyataan harus disertai fakta dan bukti. Jangan asal ngomong. Tentu saja apa yang disampaikan Johan Budi itu benar adanya. Meskipun begitu, tidak bisa dihindari kesan melindungi Ibas. Sama dan sejalan dengan beberapa pernyataan dia sebelumnya. Kalau keterangan menyangkut Ibas selalu dijawab harus divalidasi dulu. Tidak harus dipanggil karena harus divalidasi dulu. Wajar saja, karena Ibas adalah anak presiden. Tidak mungkin anak presiden tidak mendapat perlakuan khusus.

Sama dengan Abraham yang berkali-kali statement-nya mirip dengan lawyer. Pernyataan Ketua KPK itu jika dicermati sudah menempatkan dirinya sebagai benteng hukum atau pengacara Ibas. Bahkan, pada suatu kesempatan malah menyerang Yulianis, seorang saksi, yang ia sebut sebagai orang aneh. Dibilang aneh karena hanya bicara dan tidak pernah tertuang ke dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP). Meskipun itu kemudian diprotes oleh Yulianis dan dinyatakan sudah termuat di dalam BAP, Abraham belum pernah berani merespons protes Yulianis tersebut.


Di media juga dibahas pernyataan yang katanya tidak lazim. Ucapan terima kasih saya dianggap statement kontradiktif atau kode-kode. Silakan saja dibahas dan dianalisis seperti apa. Kata-kata saya itu sudah menjadi milik publik dan bebas dipandang dari berbagai sudut, tergantung pada siapa yang melihatnya. Tafsirnya bebas dan demokratis.

Ucapan terima kasih kepada Ketua KPK, Abraham Samad layak disampaikan karena pada akhirnya saya ditahan juga. Berita tentang rencana penahanan saya sudah banyak (beredar) pada bulan Ramadan (tahun 2013) silam. Waktu itu disampaikan kepada publik bahwa penahanan akan dilaksanakan setelah Lebaran. Lalu ada perubahan alasan, ditahan setelah selesai audit investigasi BPK. Ternyata belum juga ditahan. Kemudian ada pernyataan beberapa kali yang intinya minggu depan dan minggu depan.

Karena belum juga ditahan, para wartawan tetap rajin memburu pernyataan pimpinan KPK. Jawabannya, pokoknya nanti akan ditahan. Begitu penjelasannya. Karena belum ditahan juga, kemudian muncul alasan kekhawatiran kalau ditahan malah bisa bebas demi hukum. Waktu terus berjalan, kemudian lahir wacana ditahan sebelum akhir tahun 2013. Dan belakangan ada alasan, karena ruang tahanan di KPK sudah penuh, lalu ada pernyataan lain menunggu selesainya pembangunan Rutan (Rumah Tahanan) KPK di Guntur serta serah-terimanya kepada KPK. Bahkan, Tempo pernah merilis foto calon ruang tahanan untuk Anas di Guntur.


Jadi, ketika Jumat, 10 Januari 2014, terbit surat perintah penahanan yang diteken Abraham Samad, segala ketidakpastian dan silang-sengkarut alasan tentang belum ditahannya Anas selesai sudah.

Wartawan dan saya tidak perlu lagi bertanya-tanya kapan dan di mana akan ditahan. Kita boleh khawatir karena makin banyak alasan penundaan penahanan serta alasan yang berubah-ubah dan berbeda-beda akan menurunkan kredibilitas sang pembuat alasan. Saya sendiri juga tidak lagi dikejar-kejar pertanyaan tentang kesiapan ditahan dan sejenisnya.

Jadi, ucapan terima kasih itu saya sampaikan karena Abraham telah membuat dan meneken (menandatangani) surat yang membuat pasti kapan dan di mana saya ditahan. Kepastian untuk saya, untuk keluarga saya, untuk media, dan bahkan kepastian untuk Abraham sendiri.

(Bersambung)

Sumber:
www.asatunews.com

Sunday, February 23, 2014

Catatan Harian Anas Urbaningrum (Bagian 3)


Sabtu, 11 Januari 2014. Tentu saja normal kalau saya bersedih atas hilangnya kebebasan di ruang tahanan. Tidak bisa berinteraksi normal dengan istri, anak-anak, dan keluarga besar. Tidak bisa bergaul dengan teman-teman dan para sahabat. Ruang hidup menjadi sempit, dibatasi tembok, pintu, petugas jaga, dan kewenangan penyidik. Ringkas kalimat, irama kehidupan berganti dari merdeka menjadi tidak merdeka. Status tahanan, berbaju kebesaran tahanan KPK, ditempatkan di kamar yang untuk sementara tidak boleh keluar sama sekali —makan, minum, mandi, shalat, dan tidur di tempat yang sama. Transformasi drastis dari kesempatan menjadi kesempitan.

Alhamdulillah, sedihnya adalah sedih biasa. Bukan sedih yang tak terkendali. Tidak perlu murung, marah-marah, atau bersungut-sungut. Sedih manusiawi yang harus dikelola menjadi energi positif. Saya meyakini ini adalah suratan takdir yang telah ditulis Gusti Allah dalam ketetapan-Nya. Ya, harus dilalui, dihadapi, dilewati dengan ikhlas dan penuh ikhtiar mencari dan menemukan keadilan. Tidak ada selembar daun pun yang jatuh tanpa pengetahuan dan ketetapan Tuhan, apalagi atas diri seorang manusia bernama Anas. Pasti semuanya sudah sesuai tulisan takdir Tuhan.

Saya teringat ayat Tuhan, “Apa yang tidak kamu sukai belum tentu buruk buat kamu.” Kira-kira intinya begitu. Saya berusaha husnudzan semoga peristiwa ini menjadi jalan untuk menemukan ilmu dan hikmah yang diajarkan Tuhan di tempat-tempat sempit dan jauh dari kesenangan dan kenyamanan.


Sabar menjadi penting. Katanya, sabar itu bagian penting dari iman. Sabar terhadap musibah, kesedihan, kekurangan, kesempitan, ketakutan adalah ajaran iman yang penting. Orang baru berteori dengan sabar ketika belum dapat musibah. Ketika datang musibah, sabar menantang untuk dipraktikkan.

Di ruang tahanan ini ada kesempitan, di tempat lain mungkin ada kesempitan yang lebih. Di sini ada kesedihan. Di tempat lain pasti ada kesedihan juga. Di sini ada ketidaknyamanan, di tempat lain menyebar pula ketidaknyamanan. Bahkan mungkin di tempat-tempat kesenangan dan kekuasaan, ada pula ketakutan dan ketidaknyamanan, karena tenang adalah urusan jiwa. Di tempat yang tenang dan nyaman belum tentu jaminan ada jiwa yang tenang pula.


Barangkali banyak yang tidak bisa tidur pulas, tidak seperti nikmatnya tidur yang saya rasakan di ruang tahanan ini pada malam pertama.

(Bersambung)

Sumber:
www.asatunews.com

Saturday, February 22, 2014

Catatan Harian Anas Urbaningrum (Bagian 2)


Sabtu, 11 Januari 2014.Pak Haji, sudah jam empat pagi,” begitu suara keras Timur Pakpahan membangunkan saya.

Iya, Bang, terima kasih,” saya menyahut.

Saya memang berpesan kepada Timur untuk membangunkan kalau sudah jam empat pagi. Alhamdulillah, permintaan itu dipenuhi dengan baik.

Malam pertama ditahan ternyata tidur saya nyenyak. Bahkan lebih awal tidur dari waktu biasanya. Jika hari-hari biasanya tidur jam satu dini hari ke atas, tadi malam saya sudah tertidur sekitar jam 23.00. Tidur pulas, tidur berkualitas. Kok bisa? Rupanya Gusti Allah kasih anugerah tidur pulas berkualitas.

Setelah shalat Subuh, kembali saya tidur. Sekitar jam tujuh, saya bangun karena ada suara Timur lagi. Dia mengenalkan petugas jaga penggantinya. Namanya Thohari, orang Trenggalek. Sama dengan Timur, rupanya Thohari adalah pensiunan tentara.

Kulo asli Trenggalek, Pak Anas,” begitu Thohari mengenalkan asalnya.

Nggih, tonggo dhewe,” saya merespons dengan bahasa Jawa. Dia juga menyebut bertetangga dengan Priyo Budi Santoso di Trenggalek.


Muncul pula Rudi Rubiandini, masih pakai kopiah putih. Rupanya mau mengaji. Setelah berbaik hati kemarin malam meminjamkan sajadah, sarung, dan handuk. Hari ini, saya dipinjamkan buku-buku dan majalah. Alhamdulillah. Terima kasih, Prof.

Ada buku Tadabbur al-Quran, Obat Penawar Hati yang Sedih, majalah Trubus, Time, dan Traveller. Sungguh buku dan bahan bacaan menjadi teman berharga di tahanan.

Buku dan bacaan adalah menu untuk pikiran. Shalat dan zikir bagiannya hati. Lalu, bagaimana dengan urusan perut? Terus terang tadi malam saya sengaja tidak makan. Soalnya, kiriman makanan karena satu dan lain hal belum bisa sampai. Hanya kiriman pakaian, roti, dan air minum kemasan yang tiba. Di ruang pemeriksaan, saya tidak makan, tidak minum, meskipun disediakan. Di dalam ruangan tahanan juga ada jatah makan malam: nasi merah, sayur, dan telur rebus. Saya hanya ambil telur rebusnya. Alhamdulillah, Rudi memberi saya roti, wafer, dan kue mirip kue bolu. Itu yang, Bismillah, saya sikat. Bukan urusan lapar atau tidak lapar. Ini hanya urusan berhati-hati. Berhati-hati saja kadang kala terpeleset, apalagi kalau ceroboh.

Sebagai tahanan, pagi ini saya dapat jatah kue nagasari. Ada tiga biji dikemas dalam kotak plastik. Sebetulnya kue nagasari termasuk enak dan favorit saya, tetapi saya tidak sentuh. Sisa wafer tadi malam saya habiskan. Tetapi yang namanya rezeki kalau mau datang, ya, datang saja. Rupanya Budi Santoso dan Rudi sarapan bareng. Saya dapat kiriman nasi bungkus ikan cakalang. Saya tidak tahu dipesan dari mana, tapi yang jelas rasanya maknyus. Terhadap nasi bungkus itu saya husnudzan saja dan menjadi menu sarapan pagi yang bersejarah: makan pagi pertama di ruang tahanan.


Nasi bakar cakalang itu kembali hadir saat makan siang. Berarti ketika sarapan ada stok sisa untuk jatah makan siang. Jatah makan siang resmi dari KPK tidak saya makan. Tentu saja tidak boleh mubazir dan ada caranya agar tidak mubazir dan tetap bermanfaat. Makan siang makin spesial karena ada minuman cokelat panas. Rupanya Rudi hobinya cokelat panas. Kalau Wawan lebih suka wedang jahe panas.

Jadi untuk urusan makan minum, Alhamdulillah, tidak ada masalah. Para senior, Prof Rudi, Kang Wawan, dan Mas Budi berbaik hati. Mungkin kasihan ada yunior yang belum bisa dapat kiriman dari keluarganya. Selebihnya pasti karena terpanggil perasaan senasib dikurung di lantai bawah Gedung KPK.

Hari ini pula saya sempat baca koran. Tentu saja, semua berita utamanya tentang Anas, dengan gaya penulisan masing-masing dan arah politik redaksinya sendiri-sendiri. Foto yang paling dramatis ada di Koran Tempo. Gambarnya adalah Anas yang kaget dilempar telur. Gambarnya menarik dan dramatis. Lalu, saya teringat peristiwa tadi malam. Selain memberi keterangan pers sedikit sebelum masuk ke ruang tahanan, dalam kondisi terjepit dan berdesak-desakan ada orang memukul pakai telur. Tangannya hanya sedikit menyentuh kepala, telurnya yang telak. Rasanya seperti keramas pakai telur. Inilah yang boleh disebut Jumat Keramas.

Sesampai di Posko Rutan KPK, saya tanya, siapa tadi yang memukul pakai telur. Tidak ada yang tahu siapa orangnya. Saya hanya pesan kepada petugas keamanan KPK yang mengantar saya agar yang bersangkutan jangan diapa-apakan. Saya khawatir ada yang memukul balik. Dari koran baru ketahuan, yang bersangkutan bernama Aryanto, Ketua LSM Gempita, Palmerah, Jakarta Barat. Apa pun motifnya, apakah inisiatif pribadi atau ada yang menyuruh, Aryanto tidak perlu diapa-apakan. Saya mendoakan semoga apa yang dilakukan itu mendatangkan kepuasan bagi dirinya atau pihak yang memesannya —jika ada. Hikmahnya adalah saya mandi keramas, rambut jadi bersih. Jumat Keramas!

(Bersambung)

Sumber:
www.asatunews.com

Catatan Harian Anas Urbaningrum (Bagian 1)


Jumat, 10 Januari 2014. Kamarnya agak luas. Lumayan untuk ukuran kamar tahanan dibanding yang saya bayangkan, seperti kamar waktu dulu indekos di Surabaya atau Jakarta. Tempat tidurnya kecil, cukup untuk satu orang. Ada kamar mandi dan toilet yang dibatasi tembok. Ada pula wastafel dan rak piring kecil. Pokoknya mirip kamar indekos mahasiswa.

Penjaganya adalah pensiunan tentara yang baru direkrut. Namanya Timur Pakpahan, orang Siantar, yang sejak 1978 masuk Jakarta. Kami ngobrol santai ngalor-ngidul, termasuk cerita-cerita di kalangan militer dan politik. Kesan saya, dia orangnya enak.

Ketika masuk, saya langsung disambut beberapa penghuni yang sudah lebih awal bermukim di sini. Sebut saja Rudi Rubiandini. Malah, saya dapat pinjaman sarung, sajadah, dan handuk, sambil menunggu kiriman dari rumah. Ada pula Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan dan Budi Santoso, yang memperkenalkan diri sebagai teman Djoko Susilo. Mereka kompak bilang selamat datang.

Sabar saja, Mas,” begitu pesan dan nasihat mereka.

Tentu, saya sudah membayangkan akan ditahan ketika berangkat dari rumah. Alhamdulillah, ketika pamit kepada Tia, saya sudah dibekali dengan kalimat dukungan ikhlas, ridho, dan doa agar kuat. Memperjuangkan keyakinan tidak bersalah di medan yang berat adalah tantangan tersendiri. Apalagi di KPK, lembaga yang dianggap selalu benar dan hampir tanpa kritik, karena kritik kepada KPK dianggap sebagai pro-koruptor. KPK memegang kekuasaan yang nyaris absolut. Modal ridho dan doa dari istri buat saya adalah energi tersendiri yang spesial nilainya.

Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan, Anas Urbaningrum, Rudi Rubiandini.

Seperti yang saya sampaikan ketika ke luar pintu KPK dengan baju kebesaran tahanan, yang tanda tangan surat perintah penahanan adalah Abraham Samad, Ketua KPK yang gagah perkasa karena sering mengatakan hanya takut kepada Tuhan. Abraham adalah calon komisioner KPK yang menjelang fit and proper test di DPR datang ke Durensawit, tengah malam, untuk meminta dukungan. Abraham datang diantar Salahuddin Alam, teman saya di Partai Demokrat asal Sulawesi.

Malam itu, tanpa saya minta, Abraham menyampaikan komitmen untuk saling dukung dan saling menjaga sebagai sesama anak muda. Ternyata, di dalam proses saya menjadi tersangka terdapat peran serius Abraham, yang bahkan menyampaikan harus pakai cara kekerasan. Istilah yang dipakai adalah “pakai kekerasan dikit”. Tentu saja dalam kalimat itu terkandung makna memaksa atau pemaksaan atau keharusan. Entah maksudnya memaksa dari segi waktu atau dari segi substansi perkara yang disangkakan.

Surat perintah penahanan disampaikan dan diberikan oleh penyidik yang memeriksa. Rupanya sprindik ada dua, yaitu No 14 dan No 14-A tanggal 22 Februari dan 15 Maret 2013. Ketua tim adalah Bambang Sukoco dan di dalam tim itu ada penyidik senior dari Polri, Endang Tarsa. Di dalam sprindik No 14-A itulah Nama Endang Tarsa tercantum. Jadi, jumlah penyidik cukup banyak. Kalau tidak salah sepuluh orang, yakni empat penyidik pada sprindik No 14 dan enam orang pada sprindik No 14-A. Kedua sprindik itu diteken oleh Bambang Widjojanto.

Dijelaskan oleh Endang Tarsa bahwa sprindik No 14-A terbit untuk membantu tim penyidik dalam perkara sprindik No 14. Membantu tentu maknanya memperkuat karena tim sebelumnya dirasa belum cukup. Istilah Endang: “Saya hanya membantu Pak Bambang Sukoco.

Saya lirik, Bambang hanya tersenyum mendengar keterangan Endang.


Dalam tim penyidik pertama berdasarkan sprindik No 14 ada nama Bakti Suhendrawan, yang kabarnya adalah teman Agus Harimurti Yudhoyono di SMA Taruna Nusantara, Magelang. Fakta itu dibilang menarik bisa, dibilang biasa-biasa saja dan kebetulan juga bisa.

Pada kesempatan awal, saya bertanya tentang frasa “dan atau proyek-proyek lainnya” di dalam surat pemanggilan dan ternyata kata-kata itu berdasarkan pada sprindik yang diteken BW itu. Baik pada sprindik No 14 maupun pada sprindik No 14-A bunyi kalimatnya sama. Endang menjelaskana bahwa memang dasar surat panggilan berawal dari sprindik dan itulah simpulan gelar perkara. Hal itu tidak perlu dijelaskan di surat panggilan, cukup di jelaskan ketika pemeriksaan.

Ketika saya desak, apa itu maksudnya, dia menjawab, misalnya proyek pembangunan gedung Biofarma, pembangunan universitas-universitas, pembangunan gedung pajak —sesuatu yang saya tidak tahu maksudnya.

Saya menyampaikan usulan dan permintaan. Jika itu yang dimaksud, agar disiapkan surat pemanggilan baru yang secara jelas menyebutkan nama-nama proyek tersebut. Tetap saja tidak bisa, katanya. Karena dasarnya dari sprindik dan saksi-saksi sudah dipanggil dengan bunyi kalimat tersebut.

Kemudian penyidik lain, Salmah, membawakan contoh surat kepada saksi. Intinya, pokoknya tidak bisa, karena sudah sesuai prosedur dan sprindik. Meskipun berkali-kali saya katakan itu sebagai terobosan dan tidak melanggar aturan serta tidak bertentangan dengan sprindik, bahkan sebagai upaya kerja sama, tetap saja ditolak.


Endang Tarsa adalah penyidik senior yang juga Pelaksana Tugas Direktur Penyidikan KPK. Tentu saja pengalamannya panjang dan dianggap bisa menangani kasus saya sesuai arah keputusan KPK. Saya tidak tahu apakah ada pejabat setingkat direktur penyidik yang “turun gunung” menjadi anggota dari anak buahnya sendiri. Tentu saja ini kehormatan, karena untuk kasus gratifikasi Harrier dan atau yang lain-lain diturunkan penyidik senior kelas tinggi.

Tetapi, yang tidak saya sangka-sangka, Endang sempat bertanya tentang PPI. “Sudah ada di mana saja?” Begitu dia bertanya sambil bilang bahwa hal itu untuk pengetahuan saja.

Tentu pertanyaan menarik itu saya jawab juga. Karena, tidak ada yang rahasia dan perlu disembunyikan tentang PPI.

Ketika saya tanya tentang identitas Bambang Sukoco, dia menyebut sebagai alumni Yosodipuro. Tentu saya mengerti yang dimaksud, yakni markas HMI Cabang Solo. Dia bilang pernah menjadi bendahara pada zaman Adib Zuhairi menjadi Ketua Umum HMI Cabang Solo. Bambang mengaku kenal Johny Nur Ashari, Kholiq Muhammad, Yulianto, Dwiki Setiawan, serta beberapa teman saya dari HMI Solo.

Ada kesan, Bambang agak segan. Bahasa tubuhnya kurang nyaman dan sering menunduk.


Saya bilang kepada Bambang, tidak perlu memanggil “Pak”, panggil saja “Mas”. Dia bilang, “Iya, Pak. Iya, Mas.” Kadang panggil “Mas”, kadang panggil “Pak”. Terasa benar agak kikuk, meskipun saya berusaha mencairkan suasana agar santai. Kalau benar dia alumni HMI Solo seangkatan Adib Zuhairi, pasti dia agak tahu tentang saya zaman itu. Tetapi, saya menghormati posisi dan tugasnya sebagai ketua tim penyidik kasus saya. Sebagai penyidik yang berasal dari kepolisian dan sekarang sudah menjadi pegawai tetap KPK, Bambang tengah menjalani tugas dari pimpinan.

Ketika saya tanyakan, “Kok bisa saya jadi tersangka gratifikasi Harrier?” Dia hanya tertawa.

Kok aneh, saya bisa jadi TSK di KPK untuk kasus gratifikasi Harrier?” Dia tertawa lagi.

Buat saya, tawa Bambang punya makna besar dan saya yakin hatinya bergejolak.

Yang jelas, hari ini, Jumat, 10 Januari 2014, saya ditahan di lantai bawah KPK. Pasti ada yang senang dan bahagia dengan penahanan ini. Ada pula yang bersedih. Ada yang tertawa. Ada yang menangis. Itulah dua sisi kehidupan yang tak terpisahkan. Saya harus memandangnya biasa saja, karena pasti tidak ada yang kekal. Semua akan berganti. Semua akan berlalu.

(Bersambung)

Sumber:
www.asatunews.com