Showing posts with label Amerika Serikat. Show all posts
Showing posts with label Amerika Serikat. Show all posts

Friday, January 16, 2026

Krisis Venezuela dan Risiko Ketergantungan Komoditas


Krisis Venezuela menunjukkan risiko ketergantungan pada minyak dan pentingnya diversifikasi ekonomi. Indonesia harus belajar dari ini untuk menjaga stabilitas dan daya tarik investasi.

“Oil has been a mixed blessing for the developing world. The paradox of plenty is that the same resource that can generate unprecedented wealth can also wreak unprecedented havoc.”
(Minyak bumi telah menjadi berkah sekaligus kutukan bagi negara-negara berkembang. Paradoks kemelimpahan adalah bahwa sumber daya ini dapat menghasilkan kekayaan yang belum pernah terjadi sebelumnya namun sekaligus juga dapat menimbulkan malapetaka yang belum pernah terjadi sebelumnya).

Perkembangan terbaru di Venezuela kembali menempatkan negara kaya minyak tersebut dalam pusaran krisis multidimensi —energi, keuangan, dan geopolitik. Di balik konflik politik yang kerap mendominasi pemberitaan, krisis Venezuela sesungguhnya mencerminkan persoalan yang lebih mendasar: kegagalan mengelola kekayaan sumber daya alam (SDA) secara berkelanjutan di tengah ketergantungan ekstrem pada satu komoditas dan keterisolasian dari sistem keuangan global.

Presiden Venezuela Nicolas Maduro bersama istrinya Cilia Flores, tiba di Heliport Wall Street untuk dibawa ke gedung pengadilan federal di New York, AS, Senin (5/1/2026).

Venezuela memiliki salah satu cadangan minyak terbesar di dunia, diperkirakan lebih dari 300 miliar barel. Namun kekayaan tersebut tidak pernah terkonversi menjadi fondasi ekonomi yang tangguh. Produksi minyak yang pada akhir 1990-an melampaui 3 juta barel per hari, dalam beberapa tahun terakhir anjlok hingga di bawah 1 juta barel per hari. Kombinasi sanksi internasional, lemahnya tata kelola perusahaan migas nasional, serta keterbatasan akses pembiayaan dan teknologi telah melumpuhkan sektor yang selama ini menjadi sumber utama devisa dan fiskal negara itu.

Ketergantungan berlebihan pada minyak menciptakan ilusi kemakmuran jangka pendek, tetapi secara perlahan melemahkan kapasitas negara. Pendapatan SDA yang besar justru menurunkan insentif diversifikasi ekonomi, memperkuat praktik rente, dan mempersempit ruang kebijakan ketika terjadi guncangan eksternal. Dalam kerangka The Paradox of Plenty, krisis Venezuela bukan semata akibat tekanan geopolitik, melainkan hasil akumulasi risiko struktural yang tidak dikelola sejak awal.

Presiden Venezuela Nicolás Maduro. FOTO/nicolasmaduro.org.ve

Perdagangan Global
Dari perspektif perdagangan internasional, pengalaman Venezuela menunjukkan bahwa tekanan ekonomi dewasa ini semakin efektif bekerja melalui instrumen non-tarif. Sanksi finansial, pembatasan sistem pembayaran internasional, pembekuan aset, serta hambatan teknis perdagangan terbukti jauh lebih melumpuhkan dibandingkan proteksionisme tarif konvensional.

Dalam konteks ini, akses pasar yang selama ini diperjuangkan melalui perjanjian perdagangan bebas dan penurunan tarif menjadi kurang bermakna apabila tidak diikuti dengan akses terhadap pembiayaan, asuransi perdagangan, dan sistem logistik global. Negara dapat terlihat terbuka secara formal, namun tertutup secara operasional. Fenomena ini sekaligus menempatkan WTO (World Trade Organization) pada posisi yang semakin terbatas —lebih sebagai rujukan normatif ketimbang mekanisme penegakan aturan yang efektif ketika kepentingan strategis dan keamanan ekonomi dipertaruhkan.


Kebijakan Ekonomi
Bagi Indonesia, krisis Venezuela menyimpan pelajaran penting, terutama dalam konteks investasi, perdagangan, dan risiko kebijakan.

Pertama, diversifikasi ekonomi merupakan prasyarat ketahanan investasi. Ketergantungan pada komoditas primer membuat arus investasi sangat sensitif terhadap fluktuasi harga global dan dinamika geopolitik. Hilirisasi sumber daya alam perlu dijalankan secara kredibel dan konsisten, bukan hanya sebagai strategi peningkatan nilai tambah, tetapi juga sebagai sinyal kepastian kebijakan bagi investor jangka panjang.

Kedua, ketahanan sektor SDA (Sumber Daya Alam) tidak hanya ditentukan oleh besarnya cadangan, melainkan oleh kualitas tata kelola dan integrasi dengan sistem keuangan global. Pengelolaan sektor migas dan pertambangan yang transparan, kepastian kontrak, serta akses terhadap teknologi dan pembiayaan internasional menjadi faktor kunci keberlanjutan investasi. Pengembangan industri baterai kendaraan listrik dan rantai pasok nikel, misalnya, hanya akan berkelanjutan apabila didukung oleh penguatan institusional dan manajemen risiko kebijakan yang memadai.


Ketiga, kelancaran perdagangan internasional semakin ditentukan oleh faktor di luar tarif. Keamanan rantai pasok, ketersediaan pembiayaan dan asuransi ekspor, serta kemampuan mitigasi risiko geopolitik menjadi elemen krusial. Dalam lingkungan global yang semakin terfragmentasi, integrasi Indonesia dalam sistem perdagangan dan keuangan global perlu disertai dengan pembacaan risiko yang lebih tajam dan kebijakan yang adaptif.

Keempat, stabilitas makroekonomi dan kredibilitas kebijakan menjadi jangkar utama kepercayaan pasar. Inflasi yang terkendali, disiplin fiskal, serta konsistensi kebijakan akan menentukan kemampuan Indonesia mempertahankan daya tarik investasi di tengah meningkatnya ketidakpastian global.


Penutup
Krisis Venezuela seharusnya tidak dibaca semata sebagai kegagalan tata kelola negara produsen minyak. Ia merupakan peringatan tentang risiko ketergantungan komoditas tanpa ketahanan sistemik —risiko yang relevan bagi banyak negara berkembang, termasuk Indonesia. Di tengah perlambatan ekonomi global, ketegangan geopolitik, dan semakin melemahnya mekanisme perdagangan multilateral, negara dituntut untuk tidak hanya mengandalkan keunggulan komparatif berbasis SDA, tetapi juga membangun ketahanan kebijakan yang mampu menjaga kepercayaan investor dan kelancaran perdagangan.

Pertanyaan bagi Indonesia bukan lagi apakah sistem perdagangan global akan kembali sepenuhnya berbasis aturan, melainkan seberapa siap kebijakan ekonomi nasional mengelola risiko, menjaga stabilitas, dan memastikan pertumbuhan berkelanjutan dalam lanskap global yang semakin tidak pasti.

Pradnyawati
Direktur Pengamanan Perdagangan Kemendag Periode 2016-2021
Bisnis.com, 12 Januari 2026

Saturday, July 19, 2025

Perang 12 Hari Iran Versus Israel

Benjamin Netanyahu (kiri) dan Ayatullah Ali Khamenei (kanan).

Usai berperang selama 12 hari, Iran dan Israel menghentikan peperangan setelah mengumumkan gencatan senjata. Berikut data dan fakta perang besar Iran Vs Israel.

Sultan tidak berhenti mengucap syukur. Wajahnya semringah ketika menginjakkan kaki di Tanah Air. Dia lega bisa memboyong anak dan istrinya selamat dari gempuran serangan Israel dan Amerika ke wilayah Iran.

Wajah lelah Sultan tidak bisa disembunyikan. Butuh waktu 6 hari perjalanan yang ditempuh Sultan dan belasan WNI untuk sampai ke Indonesia.

Sultan menarik koper sambil menggendong anaknya keluar dari pintu shelter Kalayang, Terminal III Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang. Diikuti istri dan anak Sultan lainnya.

Sultan menjadi satu dari rombongan WNI yang dievakuasi dari Iran. Memanasnya perang Iran dan Israel membuat pemerintah Indonesia mengambil langkah evakuasi.

“Kami sudah sejak Kamis perjalanan dari Iran, jadi sudah 6 hari agak capek,” ucap Fatoni.

Staf KBRI dan WNI Iran di kantor Kedubes RI di Tehran (Foto: Dok. KBRI Iran)

Sultan mengajak anak dan istrinya pindah ke Iran selama berkuliah. Pria asal Samarinda, Kalimantan Timur ini mengaku sudah 3,5 tahun tinggal di Kota Masyhad, wilayah bagian timur Iran itu.

“Saya Sultan Fatoni dari Samarinda, ada di Kota Masyhad selama tinggal di Iran,” ucapnya.

Dia bercerita, Kota Masyhad masih cukup aman hingga dia tinggalkan, Kamis (21/6/2025) lalu. Selama periode perang, hampir tiap hari Sultan mendengar suara tembakan yang diduga peluru dari serdadu Iran yang menembaki drone asing ke kota tersebut.

Penyerangan Israel ke sejumlah wilayah di Iran dilakukan dengan menggunakan drone. Beberapa wilayah yang dia ketahui turut diserang oleh drone Israel adalah bandara.

Langit Iran bergemuruh. Suara dentuman rudal yang dibawa drone Israel terdengar saat menghantam bandara. Serangan Israel itu membuat Sultan dan keluarga cemas. Situasi damai Masyhad berubah mencekam dalam sekejap.

“Katanya yang diserang pakai drone itu kan bandara, dari kota Masyhad sekitar 10 menit,” ucap dia.

Sebelas WNI yang dievakuasi dari Iran tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Selasa (24/6/2025), disambut perwakilan pemerintah usai menempuh perjalanan via Istanbul. (Foto: Kemlu)

Situasi makin terasa tak kondusif setelah Pemerintah Iran menetapkan kondisi siaga perang. Internet dipersempit, situs luar diblokir, hanya aplikasi dan laman dalam negeri yang bisa diakses. “Jadi situs luar tidak bisa dibuka. Jadi hanya situs atau aplikasi buatan dalam negeri saja yang bisa dibuka, atau lokal,” ucapnya.

Sultan bercerita singkat soal perjalanannya keluar dari zona perang di Iran. Sultan bersama istri dan anaknya menempuh perjalanan darat selama satu hari dari Kota Masyhad menuju KBRI di Teheran.

Di kantor Kedutaan Besar RI, Sultan beserta beberapa WNI lain harus menunggu WNI lainnya yang ada di berbagai kota di Iran setelah berhasil dievakuasi.

“Kami dari Masyhad ke KBRI agak jauh, karena harus kumpul di KBRI, satu hari perjalanan menunggu teman-teman dari kota lain kumpul satu hari. Setelah itu baru berangkat dari perbatasan ke Azerbaijan, itu juga satu hari,” terang dia.

WNI yang dievakuasi dari Israel yang saat ini sedang berperang dengan Iran. (Foto: Kemlu.go.id)

Dilansir dari Antara, Ali Murtado (24), mahasiswa Warga Negara Indonesia (WNI) juga bercerita kondisi mencekam di Kota Qom, Iran saat Israel melancarkan serangan. Drone Israel yang membawa rudal terus melintasi langit Qom.

Serangan udara Zionis berhenti beberapa saat. Kadang-kadang berlanjut lagi. Dentuman rudal terjadi di mana-mana. Rudal itu membuat warga Iran berhamburan. Kepanikan terjadi di mana-mana. Serangan itu juga menimbulkan kerusakan sejumlah bangunan.

Proses evakuasi tak kalah berat dan mencekam. Ali harus melakukan perjalanan darat, dan sempat terhenti akibat adanya serangan drone Israel. Hal itu menyebabkan Ali bersama WNI lainnya terpaksa berhenti untuk berlindung di bawah tanah yang telah dipersiapkan Pemerintah Iran.

“Saya sempat mendengar suara ledakan besar sebanyak dua kali dan mayoritas serangan Israel itu berhasil ditepis Iran,” kata Ali.

Ali juga menerangkan selama perjalanan dari Kota Qom menuju Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Teheran lalu melanjutkan perjalanan menuju ke perbatasan Baku, Azerbaijan.


Selama evakuasi menuju Baku, Azerbaijan, para WNI membutuhkan waktu sekitar empat hingga lima hari melalui perjalanan darat.

“Kami menginap satu hari di gedung KBRI, setelah itu jam 07.00 waktu setempat kami berangkat ke perbatasan Iran-Azerbaijan di wilayah Baku. Di sana kami itu menginap selama sekitar dua hari baru diterbangkan ke Istanbul lalu ke Jakarta,” ucap Ali.

Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI) mencatat sebanyak 60 orang warga Negara Indonesia (WNI) yang dievakuasi dari Iran telah kembali ke tanah air.

Kepulangan puluhan WNI ini, melalui proses penerbangan Turkish Airlines (TK 56) dengan jumlah 11 orang dilakukan pada Selasa (24/6/2025), dan 49 orang diterbangkan lewat Doha, Qatar-Jakarta Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) Tangerang, Banten, pada Rabu sore ini (25/6/2025).

Direktur Perlindungan WNI dan BHI Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI, Judha Nugraha di Tangerang mengatakan, dari 49 orang WNI yang dipulangkan saat ini adalah merupakan gelombang kedua tahapan evakuasi dari 97 orang WNI yang dievakuasi dari Iran akibat konflik antara Iran dan Israel.

“Setelah kedatangan 11 WNI di Jakarta yang dievakuasi dari Iran pada tanggal 24 Juni 2025, hari ini akan kembali tiba 48 WNI dan 1 WNA evacuees,” ujarnya.

Gambar yang diambil dari kantor berita The Iranian News pada Selasa (17/6/2025) menunjukkan serangan rudal Iran ke Israel. Rezim Israel telah meminta Iran, melalui mediator barat, untuk menghentikan serangan balasannya.

Usai berperang selama 12 hari, Iran dan Israel menghentikan peperangan setelah mengumumkan gencatan senjata. Kedua negara saling klaim kemenangan. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan, Israel mencapai kemenangan bersejarah dalam perang 12 hari dengan Iran.

“Kami mencapai kemenangan bersejarah, dan kemenangan ini akan bertahan selama beberapa generasi,” kata Netanyahu dalam pernyataannya, pada hari Selasa (24/6/2025), seperti yang dikutip dari Al Jazeera.

Netanyahu mengklaim pasukannya telah menghancurkan fasilitas penting di Arak, Natanz, dan Isfahan. Klaim kemenangan Israel didukung Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Dia menyebut Israel berperang dengan baik melawan Iran sebagai pengganggu Timur Tengah.

Setelah Israel dan Amerika Serikat menyatakan menang, Iran melakukan hal yang sama. Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan, berakhirnya perang dengan Israel merupakan kemenangan besar bagi bangsa Iran dan siap untuk menyelesaikan sengketa dengan Amerika Serikat sesuai dengan kerangka kerja internasional.


Awal Mula Perang Iran Vs Israel
Menilik ke belakang, perang pecah ketika Israel melancarkan serangan udara besar-besaran ke fasilitas nuklir Iran pada hari Jumat, 13 Juni 2025, termasuk ke kompleks pengayaan Natanz dan Pusat Teknologi Nuklir di Isfahan.

Serangan ini juga menargetkan kediaman pejabat militer senior Iran, menewaskan tokoh penting seperti Hossein Salami dan Mohammad Bagheri. Tak tinggal diam. Iran menyerang balik Israel.

Setelah eskalasi peperangan meningkat, Amerika Serikat turun gunung pada 21 Juni 2025. Negara Paman Sam itu langsung menggempur tiga situs nuklir Iran dengan menggunakan bom penghancur bunker.

Iran kembali ngamuk. Pada 23 Juni 2025, Iran membalas dengan meluncurkan rudal ke Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar. Serangan ini menyebabkan kerusakan minimal dan tidak ada korban jiwa, sebagian karena Iran memberikan peringatan sebelumnya kepada Qatar dan AS.

Di hari yang sama, Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa Israel dan Iran telah menyetujui gencatan senjata, yang akan berlaku penuh pada 25 Juni. Meskipun Iran awalnya membantah kesepakatan tersebut, mereka menyatakan akan menghentikan aksi militer jika Israel juga melakukannya.

Sehari setelah gencatan senjata, terjadi pelanggaran awal dengan serangan rudal dari Iran, yang kemudian dibantah oleh Teheran. Israel menegaskan kesiapan untuk merespons jika gencatan senjata dilanggar.


Perbandingan Operasi Militer dan Target Serangan
Iran dan Israel mengusung nama operasi militer yang berbeda baik misi dan sasaran target. Iran mengusung operasi militer yang diberi nama Operation True Promise, sementara Israel mengambil nama Rising Lion.

Dilansir dari Al Jazeera, operasi Rising Lion adalah inisiatif militer dan intelijen Israel untuk melumpuhkan program pengayaan nuklir dan kemampuan militer Iran.

Operasi ini mencakup serangan udara besar-besaran dan misi sabotase rahasia, yang dijalankan tidak hanya oleh Pasukan Pertahanan Israel (IDF) tetapi juga oleh Mossad, badan intelijen Israel.

Channel News Asia menyatakan, operasi dimulai dengan serangkaian serangan udara pada Jumat pagi, yang dikabarkan menghantam puluhan lokasi strategis, termasuk fasilitas utama pengayaan nuklir Iran di Natanz. Ledakan terdengar di seluruh Teheran.

Lebih dari 200 jet tempur Angkatan Udara Israel menyerang lebih dari 100 titik yang diklaim Israel sebagai target nuklir, militer, dan infrastruktur di seluruh Iran. Termasuk fasilitas nuklir utamanya di Natanz, menurut laporan Aljazeera, pada Jumat, 13 Juni 2025.

Mohammad Mehdi Tehranchi dan Fereydoun Abbasi

Akibat serangan itu, dua ilmuwan nuklir utama Iran termasuk di antara enam ilmuwan yang tewas. Kantor berita Iran Tasnim menyebut dua korban itu, Mohammad Mehdi Tehranchi dan Fereydoun Abbasi, sebagai ilmuwan nuklir terkemuka.

Serangan itu juga mengakibatkan tiga petinggi militer Iran meninggal dunia, yakni Mayor Jenderal Mohammad Bagheri selaku Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran, Jenderal Hossein Salami selaku Komandan IRGC, dan Jenderal Gholam Ali Rashid yang memimpin markas pusat militer Iran.

Di kubu Iran, Pejabat Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) dalam sebuah pernyataan usai serangan menegaskan serangan ke Israel tersebut disebut dengan 'Operation True Promise'. Operasi pembalasan berskala besar, yang diluncurkan dengan nama sandi “Ya Ali ibn Abi Talib.”

Dikutip dari Press TV, Analis politik Shabbir Rizvi menjelaskan operasi True Promise merupakan operasi militer yang dilancarkan Iran untuk memenuhi janji balas dendam secara pasti terhadap rezim Israel.


Operasi ini diluncurkan untuk membalas serangan Israel ke Konsulat Iran di Damaskus, Suriah pada 1 April 2024 lalu. Serangan Israel ini meratakan gedung Konsulat Iran dan menyebabkan 12 orang meninggal.

Mereka di antaranya sembilan warga Iran, dua warga Suriah, dan satu warga Lebanon. Dua di antaranya merupakan komandan pasukan elite di Korps Garda Revolusi Iran.

Seperti dilansir media lokal Iran, Press TV, Garda Revolusi Iran (IRGC) dalam pernyataan pertama pada Sabtu (14/4/2024) malam waktu setempat mengumumkan dilancarkannya serangan balasan terhadap Israel, yang disebutnya sebagai Operation True Promise (Operasi Janji Sejati).

“Dalam merespons berbagai kejahatan rezim Zionis, termasuk serangan terhadap bagian konsuler Kedutaan Besar Iran di Damaskus dan kematian martir sejumlah komandan dan penasihat militer negara kami di Suriah, Divisi Dirgantara IRGC meluncurkan puluhan rudal dan drone terhadap target-target tertentu di dalam wilayah pendudukan,” demikian bunyi pernyataan pertama yang dirilis Garda Revolusi Iran.

Gedung konsuler Kedutaan Besar Iran di Damaskus.

Dalam pernyataan kedua, Garda Revolusi Iran menyebut pembalasan dilaksanakan setelah organisasi internasional “bungkam dan mengabaikan” selama 10 hari sejak serangan terjadi di Suriah, terutama Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang tidak mengecam atau menghukum Israel atas serangan mematikan itu —sesuai Pasal 7 Piagam PBB.

Garda Revolusi Iran, dalam pernyataannya, mengklaim rentetan serangan telah “berhasil” menghantam dan menghancurkan target militer Israel.

“Dengan menggunakan kemampuan intelijen strategis, rudal dan drone untuk menyerang target-target pasukan teroris Zionis di wilayah pendudukan, berhasil mengenai dan menghancurkan mereka,” tegas Garda Revolusi Iran dalam pernyataannya.


Jumlah Personel Militer dan Alutsista
Iran memiliki keunggulan signifikan dalam jumlah personel aktif dibandingkan Israel. Iran memiliki sekitar 610.000 personel aktif, sementara Israel hanya memiliki sekitar 169.500. Perbedaan ini sangat mencolok dan menunjukkan fokus Iran pada kekuatan berbasis manusia.

Selain personel aktif, Iran juga memiliki cadangan yang cukup besar, yaitu sekitar 350.000 personel serta anggota paramiliter sebanyak 220.000 personel. Israel, meskipun memiliki personel aktif yang lebih sedikit, memiliki cadangan yang lebih besar, yaitu sekitar 465.000 dan paramiliter 35.000 personel.

Jumlah tersebut tentu belum termasuk masyarakat yang juga terikat pada program wajib militer yang berlaku di kedua negara. Program tersebut berkontribusi pada jumlah personel yang besar.

Dalam hal alat tempur darat, Iran memiliki keunggulan kuantitas yang signifikan. Iran memiliki lebih banyak tank (lebih dari 10.513 vs sekitar 400), artileri (lebih dari 6.798 vs 530), dan kendaraan lapis baja (lebih dari 65.765 vs lebih dari 43.407), Self-propelled artillery (580 vs 650), Towed Artillery (2050 vs 300) dan Mobile Rocket Projectors (775 vs 150) dibandingkan Israel.

Menurut jumlah tersebut, Iran memiliki kekuatan darat yang besar dan mampu melakukan operasi ofensif skala besar. Namun, meskipun kalah dalam jumlah, kualitas tank dan kendaraan lapis baja Israel mungkin lebih unggul.


Israel secara umum dianggap lebih unggul dalam hal kualitas dan teknologi pesawat tempur. Israel memiliki angkatan udara yang sangat modern dan dilengkapi dengan pesawat-pesawat tempur canggih buatan Amerika Serikat, seperti F-35 dan F-16.

Namun dari sisi jumlah, Israel jauh tertinggal dalam jumlah alutsista udara seperti Jet tempur (186 vs 241), Pesawat penyerang (23 vs 39), Pesawat angkut (86 vs 12), Pesawat latih (102 vs 155), Pesawat misi khusus (10 vs 23), Helikopter (129 vs 146), Helikopter serang (12 vs 48) dibandingkan Iran.

Berikutnya alutsista laut, Iran memiliki jumlah kapal selam yang lebih banyak (19 vs 5) dibandingkan Israel. Iran juga memiliki jumlah kapal patroli dan kapal tempur pesisir yang lebih banyak dengan rincian Korvet (3 vs 7), dan Kapal patroli (21 vs 45). Keunggulan lain dari Iran adalah memiliki kapal Mine warfare (1) dan kapal Fregat (7).

Hal ini menunjukkan Iran fokus pada strategi asimetris dalam peperangan laut, yaitu menggunakan kapal-kapal kecil dan cepat untuk menyerang kapal-kapal yang lebih besar.


Biaya Perang Iran Vs Israel
Perang yang terjadi antara Israel dengan Iran selama 12 hari berdampak buruk pada ekonomi Israel. Laporan dari media setempat, negara Zionis itu harus mengeluarkan biaya perang mencapai ratusan juta dolar.

Melansir dari kantor berita Turkiye, Anadolu, Rabu (25/6/2025) Israel menghabiskan sekitar USD 5 miliar pada minggu pertama serangan terhadap Iran, menurut situs web Financial Express. Sedangkan biaya harian perang mencapai USD 725 juta, terdiri dari USD 593 juta digunakan untuk serangan dan USD 132 juta dialokasikan untuk tindakan defensif dan mobilisasi militer.

Situs The Wall Street Journal melaporkan bahwa biaya harian sistem udara antirudal berkisar antara USD 10 juta hingga USD 200 juta untuk Israel.

Bila ditotal, pengeluaran Israel untuk perang dengan Iran mencapai lebih dari USD 12 miliar jika serangan berlangsung selama sebulan, demikian itu menurut Aaron Institute for Economic Policy yang berbasis di Israel.


Data dari lembaga riset Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), pada tahun 2023 Iran menghabiskan sekitar USD 10,3 miliar untuk anggaran militernya. Sebagai perbandingan, Israel pada tahun yang sama mengalokasikan anggaran militer sebesar USD 27,5 miliar.

Selain itu, lembaga think tank yang berbasis di Washington, DC, Council on Foreign Relations melaporkan bahwa Amerika Serikat telah memberikan bantuan militer sedikitnya USD 12,5 miliar kepada Israel dari Oktober 2023 hingga April 2024. Sebelumnya, pada tahun 2022, pengeluaran militer Iran tercatat sekitar USD 6,85 miliar menurut data dari Bank Dunia.

Berdasarkan laporan dari Stockholm International Peace Research Institute, pengeluaran Israel untuk pertahanan pada tahun 2024 mencapai USD 46,5 miliar atau setara Rp 762 triliun (dengan asumsi kurs Rp16.393 per USD). Anggaran ini naik 65 persen. Dari jumlah ini, alokasi untuk pertahanan bahkan 8,8 persen dari PDB.

Dilansir dari Deutsche Welle, anggaran pertahanan Israel pada tahun 2025 hanya USD 38,6 miliar atau setara Rp 632 triliun, dari APBN USD 215 miliar atau setara Rp 3.525 triliun. Menurut seorang penasihat pemerintah, Israel habiskan dana sebesar USD 300 juta (Rp 4,89 triliun) per hari dalam melawan Iran.


Senjata yang Dipakai Iran dan Israel
Perang Iran dan Israel yang melibatkan Amerika Serikat ini menggunakan alutsista dan senjata canggih untuk membombardir wilayah lawan. Berikut jenis rudal dan senjata yang digunakan dalam perang Iran Israel dan AS, dikutip dari berbagai sumber:

Operasi Israel bermaksud untuk mengerdilkan kemampuan nuklir Iran. Israel dilaporkan melibatkan lebih dari 200 pesawat tempur yang menyerang lebih dari seratus target. Video yang dirilis oleh Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menunjukkan sejumlah pesawat yang terlibat dalam operasi tersebut, termasuk F-15I, F-16I, dan F-35I.

Meskipun target yang disebutkan adalah program nuklir Iran, gelombang serangan awal menyerang target yang jauh lebih luas, termasuk militer Iran, lokasi militer konvensional (termasuk produksi dan penyimpanan rudal balistik), dan pertahanan udara.

Israel mengklaim mampu mematahkan 99 persen dari seluruh serangan yang berlangsung selama lima jam tersebut menggunakan sistem pertahanan udara berlapis miliknya: Iron Dome, Arrow, dan David's Sling. Kerja sistem pertahanan yang canggih dan sangat mahal itu didukung pula oleh kekuatan udara dan laut oleh beberapa negara sekutunya.

Iron Dome berfungsi dengan bantuan radar canggih yang mampu mendeteksi dan melacak jalur proyektil yang masuk. Sistem ini kemudian menganalisis apakah roket tersebut akan menghantam area yang dianggap penting —seperti pusat kota atau instalasi strategis.


Selain Irone Dome, Israel mengandalkan sistem jarak jauh Arrow-2 dan Arrow-3 untuk meredam rudal-rudal Iran masuk ke wilayahnya. Arrow-2 dan Arrow-3 punya kemampuan untuk mencegat rudal balistik di luar atmosfer bumi. Sistem Arrow-2 dan Arrow-3 memakai sistem hulu ledak yang bisa bertabrakan dengan target.

Senjata ini dikembangkan BUMN Israel, Aerospace sebagai kontraktor utama. Pengembangan sistem ini juga menggaet Boeing BA.N.

Israel juga punya sistem pertahanan udara jarak menengah Bernama David Sling’s. David Sling's dirancang untuk menembak jatuh rudal balistik yang ditembak dari jarak 100 km sampai 200 km.

Sistem pertahanan ini diproduksi dan dikembangkan BUMN Israel Rafael Advanced System dan perusahaan AS Raytheon Co. David’s Sling juga mampu mencegat pesawat tempur, drone dan rudal jelajah.

Meskipun ketegangan dengan Israel meningkat, Teheran tetap memiliki persenjataan rudal yang canggih, termasuk rudal jelajah, hipersonik, dan balistik —dengan beberapa di antaranya mampu mencapai jarak lebih dari 2.000 kilometer. Iran telah menembakkan lebih dari 450 rudal ke Israel dan 400 pesawat tanpa awak.


Iran mengerahkan drone kamikaze yang sebagian besar adalah drone jarak jauh Shahed-136. Jenis drone ini sama dengan yang diimpor Rusia dari Iran pada 2022 untuk agresinya di Ukraina.

Drone ini bisa meluncur dengan kecepatan 75 mil atau 120 kilometer per jam, drone Shahed-136 diperkirakan bernilai $ 20-40 ribu (Rp 325-649 juta) per unit. Harga yang jauh lebih murah daripada senjata anti-pesawat berbasis rudal.

Untuk rudal balistik, Iran menggunakan beberapa Emad, rudal balistik jarak medium dengan daya jangkau 1.050 mil atau lebih dari 1.600 kilometer. Roket-roket berbahan bakar cair ini melepaskan apa yang disebut maneuverable re-entry vehicle (MARV) sesaat setelah menembus luar angkasa dan menukik kembali ke Bumi.

Rudal dapat memperbaiki arah bidikan saat menukik kembali tersebut, termasuk berpotensi mengunci target kapal perang menggunakan bidikan pencari inframerah-nya.

Video serangan yang dirilis Iran juga memberi dugaan peluncuran tiga jenis lain dari rudal balistik jarak menengah: Kheiber Shekan (Khorramshahr-4), Dezful, Ghadr-110.


Iran dilaporkan telah menggunakan rudal Khorramshahr-4. Ini adalah salah satu rudal balistik jarak menengah (MRBM) paling canggih yang dimiliki Iran. Rudal ini merupakan versi terbaru dari seri Khorramshahr, yang dinamai berdasarkan kota Khorramshahr.

Selain itu, ada Rudal Sejjil-2, rudal balistik jarak menengah hingga jauh (MRBM/IRBM) paling canggih yang dikembangkan Iran, dan merupakan salah satu komponen utama dalam doktrin serangan strategis jarak jauh militer Iran. Rudal ini yang mampu merobek Iron Dome, pertahanan Israel.

Berikutnya, Iran mengandalkan rudal Kheiber yang diperkirakan memiliki jangkauan lebih dari 900 mil dan MARV yang dilepaskannya bisa melesat hingga Mach 5 (hipersonik). Sirip yang ada padanya membantu untuk manuver untuk mencegah intersepsi dan memperbaiki presisi.

Iran juga memiliki rudal Dezful yang punya jarak jangkauan 620 mil tapi disebut-sebut lebih akurat (dengan eror hanya lima meter dari target), dan dapat melesat sampai Mach 7. Sedangkan Ghadr-110 punya spesifikasi daya jangkau 839, 1.025, dan 1.219 mil.


Korban Perang Iran dan Israel
Dampak perang Iran dan Israel terbilang cukup besar. Tidak hanya bangunan rusak, perang skala besar ini menimbulkan ratusan korban jiwa dan ribuan orang luka-luka.

Dilansir dari Al Jazeera, Kamis (26/6/2025), Juru bicara Kementerian Kesehatan Iran mengatakan 627 orang tewas di Iran selama perang 12 hari. Iran juga melaporkan sebanyak 4.870 orang mengalami luka-luka.

Teheran mencatat jumlah korban tertinggi, diikuti oleh Kermanshah, sedangkan Khuzestan, Lorestan, dan Isfahan melaporkan kerugian yang signifikan.

Setidaknya 35 personel Angkatan Pertahanan Udara tewas dalam serangan Israel. Korban tewas ini diyakini termasuk operator radar, spesialis rudal permukaan-ke-udara, dan teknisi yang bertanggung jawab atas sistem peringatan dini.

Letnan Jenderal Gholam Ali Rashid (kiri) dan Mayor Jenderal Ali Shadmani (kanan).

Iran juga mengonfirmasi kematian Mayor Jenderal Ali Shadmani, komandan Markas Pusat Khatam al-Anbiya. Shadmani meninggal karena luka-luka yang dideritanya dalam serangan udara Israel minggu lalu.

Dia baru mengambil alih komando pada 13 Juni, setelah kematian pendahulunya, Letnan Jenderal Gholam Ali Rashid, yang tewas selama fase pembukaan kampanye militer.

Kehilangan kedua komandan tertinggi secara berturut-turut dalam waktu kurang dari dua minggu merupakan pukulan telak bagi struktur kepemimpinan militer Iran.

Mengutip dari Anadolu Agency, otoritas Israel mengatakan sedikitnya 24 orang telah tewas dan ratusan lainnya terluka sejak saat itu dalam serangan rudal Iran.

Serangan rudal balistik dan drone Iran ke Israel menghantam sejumlah situs intelijen dan militer yang sangat sensitif dan penting. Israel menutupi hal ini dengan melakukan penyensoran terhadap media. Jurnalis asing dilarang meliput kerusakan yang terjadi pada target-target sensitif, dan citra satelit pun dibatasi, seperti dikutip dari The Cradle, Kamis (26/6/2025).


Ada puluhan target penting di Israel yang berhasil dihantam rudal Iran selama perang 12 hari dari 13-24 Juni. Target-target tersebut termasuk Kirya Israel (markas besar Kementerian Pertahanan, yang disebut sebagai Pentagon Israel), Kamp Moshe Dayan (pusat pelatihan dan operasi untuk intelijen militer), Pangkalan Udara Tel Nof yang dijaga ketat, Pangkalan Udara Ovda, dan gedung Kementerian Dalam Negeri Israel, di antara beberapa lainnya.

Selain itu, rudal Iran juga berhasil menghancurkan Kilang Minyak Bazan, Pembangkit Listrik Haifa, Pembangkit Listrik Hadera, Pembangkit Listrik Ashdod, pangkalan Aman (Unit 8200), Institut Sains Weizmann, dan Bandara Ben Gurion.

Sekitar vila keluarga Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Caesarea, yang diserang oleh pesawat nirawak Hizbullah pada tahun 2024, juga terkena serangan Iran.

Saat ini, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dibuat pusing karena telah kalah perang dari Iran. Netanyahu makin pusing karena sebanyak 38.700 klaim ganti rugi telah diterima pemerintah Israel sejak awal pertempuran udara dengan Iran pada 13 Juni 2025 lalu.

Laporan dari Yedioth Ahronoth, seperti dilansir Anadolu Agency merinci, 30.809 permintaan ganti rugi untuk kerusakan bangunan, kemudian 3.713 permintaan ganti rugi untuk kerusakan pada kendaraan, dan sebanyak 4.085 permintaan ganti rugi kerusakan fasilitas umum lainnya.

Ayatullah Ali Khamenei (kiri) dan Benjamin Netanyahu (kanan).

Perang 12 Hari dan Kegagalan Misi Netanyahu
Pengamat independen Ori Goldberg mengatakan, Israel bahkan tidak mencapai salah satu dari tujuannya tersebut. Tampaknya Iran telah memindahkan material uranium dari fasilitas Fordow yang diserang Amerika Serikat pada Minggu (22/6/2025) lalu.

Material itu adalah bagian terpenting dari program nuklir. Dan tujuan Netanyahu untuk “melumpuhkan program nuklir” Iran gagal, kata dia, seperti dilansir Aljazeera, Rabu (25/6/2025).

Mengenai tujuan Netanyahu untuk “perubahan rezim” di Iran juga gagal. Israel justru mendapatkan hal yang sebaliknya. Mereka berusaha memicu pemberontakan terhadap rezim Iran dengan membunuh pada pemimpin militer dari berbagai struktur keamanan Iran. Strategi ini didasarkan pada keyakinan kuat Netanyahu bahwa cara terbaik untuk mengacaukan musuh adalah melalui pembunuhan para pemimpin senior.

Tujuannya itu tidak berhasil. Satu-satunya pengecualian yang mungkin adalah dampak kematian Hassan Nasrallah terhadap Hizbullah di Lebanon, tetapi hal itu lebih berkaitan dengan dinamika politik internal Lebanon. Pada semua kasus lainnya, pembunuhan Israel gagal menciptakan perubahan politik besar apa pun.

Bendera Korps Garda Revolusi Iran (IRGC).

Dalam kasus Iran, pembunuhan ini justru menambah dukungan rakyat di sekitar pemerintah. Israel membunuh komandan senior Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), yang mungkin merupakan elemen paling kuat dalam politik Iran saat ini, tetapi juga menjadi salah satu yang paling dibenci oleh masyarakat Iran.

Terlepas dari itu, banyak warga Iran yang sebelumnya menentang Republik Islam, akhirnya mendukungnya. Orang Iran melihat Iran dengan secara keseluruhan diserang, bukan hanya tentang “rezimnya.”

Upaya Israel untuk mengebom “simbol-simbol rezim” hanya memperburuk situasi. Israel mencoba memutarbalikkan serangan udaranya terhadap Penjara Evin, yang terkenal karena penyiksaan tahanan politik. Serangan itu mereka tujukan untuk mempengaruhi pejuang rakyat Iran agar melawan penindasan Republik Islam. Namun, bom Israel hanya memperburuk situasi para tahanan karena pihak berwenang memindahkan banyak dari mereka ke lokasi yang tidak diketahui.


Kerusakan yang ditimbulkan Israel terhadap program nuklir Iran masih tidak jelas. Memang, Israel berhasil membujuk AS untuk menyerang fasilitas nuklir Iran menggunakan bom penghancur bunker, Massive Ordnance Penetrators (MOP). Namun serangan AS itu tidak banyak membantu Israel. Tingkat kerusakan akan sulit dievaluasi karena Iran tidak mungkin memberi akses luar.

Dengan membantu Israel menyerang program nuklir Iran, mereka justru melanggar beberapa aturan utama hukum internasional. Hal ini kemungkinan akan memiliki implikasi jangka panjang. Namun, Trump tidak ikut berperang bersama Israel. Segera setelah serangan itu, pesawat pengebom strategis kembali ke AS.

Sebelum dan sesudah melakukan pengeboman, Trump mengulangi dan menegaskan kembali keinginannya untuk kesepakatan antara AS dan Iran. Hal ini mungkin juga mencakup kesepakatan dengan Israel. Namun tampaknya presiden AS membantu Israel untuk melayani kepentingannya sendiri dan kepentingan sekutunya di Teluk.

Raynaldo Ghiffari Lubabah
Editor dan Reporter Merdeka.com
Jumat, 27 Jun 2025

Thursday, August 26, 2021

Mullah Omar, Pemimpin Taliban Penuh Misteri


Taliban adalah Mullah Mohammed Omar. Mullah Mohammed Omar adalah Taliban. Begitulah masyarakat internasional mengaitkan keduanya dalam politik Afghanistan sejak berhembusnya angin perubahan di negeri penuh konflik itu.

Bagi Taliban, Mullah Omar adalah pahlawan sejati dan sosok yang paling dihormati. Bahkan, informasi seputar kematian sang Mullah pun sempat ditutup-tutupi Taliban.

Pada 5 April 2015, Taliban Afghanistan menerbitkan biografi Mullah Omar. Biografi tersebut dikeluarkan untuk memperingati 19 tahun kepemimpinan Mullah Omar di tengah isu kematiannya yang sangat santer pada waktu itu.

Belum diketahui secara pasti apa alasan sebenarnya Taliban menerbitkan biografi Mullah Omar itu. Beberapa pengamat menduga tindakan tersebut dilakukan lantaran bertumbuhnya paham ISIS di Afghanistan dan banyaknya anggota Taliban yang membelot dan memilih bergabung dengan ISIS.


Biografi pemimpin Taliban itu ditulis dalam 5.000 kata di situs utama milik Taliban. Dalam bografi itu diceritakan tentang semua fakta Omar termasuk mengenai kelahirannya dan bagaimana Mullah Omar diasuh.

Seperti dikutip dari BBC News, Omar diketahui lahir pada 1960 di Desa Chah-i-Himmat, Khakrez, Kandahar. Pria berusia 55 tahun itu berasal dari marga Tomzo dan suku Hotak.

Pemimpin Taliban itu merupakan anak dari Moulavi Ghulam Nabi, seorang tokoh masyarakat di Afghanistan. Omar harus menghadapi kenyataan dan menjadi yatim ketika masih berusia lima tahun.


Titik Balik Mullah Omar
Sepeninggal ayahnya, Omar dan keluarga pindah ke provinsi Uruzgan. Mullah Omar memutuskan bergabung ke kelompok Jihadis setelah adanya serangan pasukan Uni Soviet di Afghanistan sekitar tahun 1980-an.

Saat itu ia masih duduk di sekolah madrasah. Dituliskan, salah satu alasan Mullah Omar memilih bergabung menjadi Jihadis untuk memenuhi panggilan agama.

Seperti seorang ksatria, pria yang disebut paling menggemari senjata granat RPG-7 itu, ikut berperang melawan Rusia pada 1983 dan 1991. Dalam dua pertempuran itu Omar terluka sebanyak empat kali dan kehilangan mata kanannya.

Berkat kegigihannyalah Omar pun dianugerahi gelar Amir Al-Mukminin, gelar yang diberikan kepada pemimpin yang saleh. Omar juga berjasa dengan mengambil alih kota Kabul dan mendirikan Islamic Emirate of Afghanistan.


Yang menarik dalam biografi tersebut, disebutkan Omar merupakan sosok yang sangat karismatik, yang selalu hidup dalam kesederhanaannya serta memiliki selera humor yang tinggi. Ia juga dikenal dengan kepribadiannya yang tenang, tak mudah emosi, ramah, dan rendah hati. Omar tidak memiliki rumah dan juga tak memiliki rekening bank asing.

Pada saat buku itu diterbitkan, Mullah Omar tak pernah diketahui keberadaannya. Namun ia dikatakan masih tetap berhubungan dengan berbagai peristiwa dan kehidupan sehari-hari di Afghanistan.

Departemen Luar Negeri Amerika Serikat bahkan menawarkan hadiah 10 juta dolar AS (dengan kurs Rupiah Rp 14.000 per US Dollar, setara dengan Rp 140 Miliar), bagi siapa saja yang bisa menemukan Mullah Omar. Ia belum pernah terlihat lagi sejak invasi pimpinan AS ke Afghanistan pada 2001. Mullah Omar dikenal sangat mendukung pemimpin Al-Qaidah, Usamah bin Laden.


Saat Amerika sibuk mencari Mullah Omar dan menawarkan hadiah bagi yang bisa menemukannya, ternyata pria pejuang Afghanistan itu tinggal tak jauh dari pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di Provinsi Zabul. Ini menjadi salah satu prank yang dilakukan Mullah Omar dan pasukannya kepada militer AS.

Cerita di atas terkuak dalam sebuah buku yang berjudul The Secret Life of Mullah Omar yang ditulis oleh wartawan Belanda, Bette Dam. Seperti dilaporkan BBC, Senin (11/3/21), dalam buku tersebut diceritakan bahwa Omar tidak pernah bersembunyi di Pakistan seperti yang diyakini oleh AS.

Adapun Omar bersembunyi di sebuah tempat yang jaraknya hanya tiga mil dari Pangkalan Operasi AS di Provinsi Zabul.

Rumah sederhana tempat tinggal Mullah Omar di Provinsi Zabul.

Bette Dam menghabiskan waktu sekitar lima tahun untuk melakukan riset dan mewawancarai anggota Taliban. Dia berhasil berbicara dengan Jabbar Omari yang merupakan pengawal Mullah Omar ketika dia bersembunyi, setelah tersingkirnya rezim Taliban pada 2001.

Omari menyembunyikan pemimpin Taliban tersebut hingga kematiannya karena sakit pada 2013. Setelah jatuhnya Taliban, Omar bersembunyi di sebuah ruang rahasia yang dekat dengan markas AS.

Dalam buku tersebut dituliskan, pasukan AS telah menggeledah satu per satu tempat tinggal di sekitar pangkalan mereka namun tidak menemukan tempat persembunyian Omar. Dia diketahui pindah ke sebuah gedung yang jaraknya hanya tiga mil dari pangkalan AS.

Mullah Omar (Taliban) dan Usamah bin Laden (Al-Qaidah).

Terkadang, Omar bersembunyi di terowongan irigasi untuk menghindari deteksi. Dia meninggal dunia pada 23 April 2013.

Mullah Omar tidak dapat menjalankan kelompok Taliban dari tempat persembunyiannya. Oleh karena itu, Omar menyetujui para pejabat Taliban untuk hadir di Qatar dalam upaya mengakhiri perang panjang di Afghanistan.

Buku The Secret Life of Mullah Omar diterbitkan dalam bahasa Belanda pada Februari 2019. Kini, ada juga edisi bahasa Inggris.

Didi Purwadi, Elba Damhuri
REPUBLIKA.CO.ID
Selasa, 17 Agustus 2021

Tuesday, March 30, 2021

Crisis Countdown: Akhir sebuah Era?


Pada saat rakyat diteror Covid-19 dan berbagai bencana alam, cuaca ekstrim, dan kerusakan lingkungan akibat investasi ekstraktif ugal-ugalan, Pemerintah justru menerbitkan Perpres 7/2021 tentang Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme berbasis Kekerasan yang mengarah pada Terorisme. Pada saat kita membutuhkan modal sosial yang lebih besar, Perpres itu justru menggerogotinya dengan menimbulkan widespread distrust di antara warga negara.

Perpres itu menambah bukti bahwa Pemerintah makin otoriter sambil mengadu domba masyarakat dengan mengandalkan dukungan China dan 9 naga, sekaligus makin terlihat bermaksud menjadikan Republik ini sebagai satelit China dalam kerangka ambisi hegemoniknya melalui OBOR. Sementara mayoritas rakyat ditipu para buzzer bayaran, hal ini jelas tidak dikehendaki oleh AS dan sekutunya termasuk yang di Asia (Jepang, Korea Selatan, Singapura dan Australia). Indonesia harus tetap menjadi pasar bagi produk-produk Barat dan sekutunya, termasuk budaya dan alam pikiran Barat, serta sumber bahan baku bagi industri Barat.


Rakyat Indonesia akan tetap diperlakukan sebagai konsumen dan jongos baik oleh China maupun Barat. Jika China berhasil dengan agendanya di Indonesia, Umat Islam Indonesia akan di-Uyghur-kan karena merupakan potensi besar perlawanan terhadap dominasi China sejak dulu. Walaupun sikap Barat atas Islam mungkin tampak lebih bersahabat, dalam hal ini Barat memiliki kepentingan yang sama dengan China: melawan Islam sebagai musuh dalam skenario the Clash of Civilization and the New Crusades.

Seiring dengan eskalasi ketegangan di Laut Natuna Utara (Laut China Selatan), dan kekalahan AS dalam perang dagang AS-China, saat ini operasi intelijen Barat makin meningkat di Indonesia dalam upaya menghentikan dominasi China di Indonesia, jika perlu dengan menciptakan krisis lalu menjatuhkan rezim pro-China yang sedang berkuasa saat ini.

Berbeda dengan negara-negara berkembang di Afrika, Indonesia memiliki nilai geostrategi yang jauh lebih penting bagi kepentingan Barat. Memastikan Indonesia tunduk pada kepentingan AS adalah penting bagi pelestarian dominasi global AS.

Pertarungan antara 2 raksasa dunia, AS vs China, sementara Garuda Pancasila terjepit di tengah-tengah.

Barat akan memanfaatkan umat Islam untuk melawan China komunis, lalu meninggalkan umat Islam gigit jari jika terjadi pergantian rezim di Indonesia. Ini ibarat mendorong mobil mogok. Oleh karena itu, umat Islam sekarang harus menyiapkan agenda sendiri dan pemimpin muslim alternatif yang mampu memperjuangkan cita-cita proklamasi, yaitu menjadi bangsa yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Tidak boleh lagi umat Islam dimanfaatkan Barat sebagai pendorong mobil rezim yang mogok karena korupsi dan inkompetensi.

Agen-agen intelijen asing saat ini sedang mencari pemicu krisis yang paling efektif, mencoba melakukan penciptaan kondisi krisis. Penanganan covid-19 yang amburadul (tagihan biaya perawatan pasien Covid-19 di banyak rumah sakit mulai tidak dibayar Pemerintah), ekonomi yang makin terpuruk (hutang yang makin menggunung, PHK besar-besaran, pengangguran meningkat, banyak gagal bayar BUMN dan tunjangan PNS), korupsi yang makin menggurita, kesenjangan yang makin meningkat antara segelintir elite ekonomi dan massal rakyat yang makin kesulitan memperoleh sembako, akan meningkatkan resiko kerusuhan sosial.


Umat Islam Indonesia perlu segera melakukan konsolidasi secara mental dan fisik, bersatu melawan agenda nekolimik China dan Barat, lalu bersama semua patriot bangsa memperjuangkan perwujudan Republik Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Era rezim otoriter pro-China ini akan segera berakhir.

Prof. Daniel Mohammad Rosyid, PhD, M.RINA
Guru Besar Fakultas Teknologi Kelautan Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya.
Founder of Rosyid College of Arts

Gunung Anyar, Surabaya, 26 Januari 2021

Tuesday, January 1, 2019

Kisah Pondok Ban Tan dan Surin Pitsuwan


Ya Nabi salam ‘alaika .…
Ya Rasul salam ‘alaika ….
Ya habibie salam ‘alaika ….
Shalawatullah ‘alaika ….

Sekitar 1.000 anak-anak menghampar di lapangan rumput depan pondok. Lautan kerudung dan peci putih, melafalkan shalawat, khusuk dan menggema.

Suasana Pondok Pesantren Ban Tan malam itu terasa unik. Pondok kecil ini dibangun di pedalaman Thailand Selatan. Untuk mencapainya harus terbang dari Bangkok, jaraknya sekitar 750 km ke kota kecil Nakhon Si Thammarat lalu dari airport yang mungil itu, naik mobil kira-kira satu jam ke pedalaman.

Masuk di tengah-tengah desa dan perkampungan umat Budha, disitu berdiri Pondok Ban Tan. Dibangun di awal abad lalu, sekitar tahun 1900-an, dengan beberapa orang murid. Niatnya sederhana, menjaga aqidah umat Islam yang tersebar di kampung-kampung yang mayoritas penduduknya beragama Budha.

Malam itu, melihat wajah anak-anak pondok, seperti kita sedang menatap masa depan. Anak-anak yang dititipkan orang tuanya untuk sekolah ke Pondok, untuk menjaga Ke-Islaman, untuk menjaga sejarah kehadiran Islam di kerajaan Budha ini. Di propinsi ini kehadirannya penuh nuansa damai. Sebuah tradisi yang harus dijaga terus.


Malam itu, setelah berliku perjalanannya, seakan jadi salah satu event puncak untuk keluarga pengasuh pondok ini. Di awal tahun 1967 terjadi perdebatan panjang diantara para guru di pondok ini. Anak tertua Haji Ismail, pemimpin pondok ini, jadi bahan perdebatan. Anak usia 17 tahun itu memenangkan beasiswa AFS untuk sekolah SMA selama setahun di Amerika Serikat.

Pondok Ban Tan seakan goyah. Tak terbayangkan bagi mereka, dari perkampungan Muslim yang kecil, jauh dari keramaian, dan di pedalaman Thailand di tahun 1960-an, cucu tertua pendiri pondok akan dikirimkan ke Amerika.

Umumnya santri-santri cerdas dikirim melanjutkan sekolah ke Jawa atau Kedah atau Kelantan; jika ada dana mereka akan dikirim ke Makkah atau Mesir. Tapi Amerika ?!? Tidak pernah terlintas di benak mereka akan mengirim santri belajar ke Amerika. Saat itu para guru di pondok terpecah pandangannya: separuh, takut anak ini akan berubah bila dikirim ke negeri kufar (istilah yang digunakan dalam perdebatan itu), mereka tidak ingin kehilangan anak cerdas itu.

Setelah perdebatan panjang, Si Kakek, pendiri pondok itu, mengatakan, “saya sudah didik cucu saya ini, saya percaya dia istiqomah dan saya ikhlas jika dia berangkat”. Ruang musyawarah di pondok yang tanpa listrik itu jadi senyap. Tidak ada yang berani melawan fatwa Sang Guru. Haji Ismail, sang ayah, mengangguk setuju. Tidak lama kemudian berangkatlah anak muda tadi ke Amerika.


Tahun demi tahun lewat. Dan dugaan guru-guru pondok itu terjadi benar: anak itu tidak pernah kembali jadi guru atau jadi pengelola pondok. Dia tidak meneruskan mengelola warisan kakek dan ayahnya itu. Dia pergi jauh. Anak muda itu terlempar ke orbit lain.

Malam ini anak yang dulu diperdebatkan itu pulang. Dia pulang bukan sebagai orang asing, dia pulang membawa kebanggaan untuk seluruh keluarga, seluruh pondok dan seluruh rakyat di propinsi kecil ini.

Dia pulang sebagai Sekretaris Jenderal ASEAN. Pondok Ban Tan jadi terkenal, kampung halamannya itu jadi perhatian dunia. Sebelumnya dia adalah Menteri Luar Negeri Thailand, muslim pertama yang jadi Menlu di Negara berpenduduk mayoritas beragama Budha.

Namanya dikenal oleh dunia sebagai Surin Pitsuwan; dikampungnya dia dikenal sebagai Abdul Halim bin Ismail.

Malam ini Surin pulang kampung membawa teman dan koleganya. Sekarang seluruh bangunan pondok ini nampak megah. Setiap bangunan merupakan wujud bantuan dan dukungan dari berbagai negara. Anak ini pulang dengan membawa dukungan dunia untuk pondok mungil di pedalaman ini. 10 orang adiknya (dari satu ayah-ibu) menjadi guru, meneruskan tradisi dakwah di kampung halamannya.


Saya menyaksikan bahwa sesungguhnya, Surin selalu “hadir” di sini, dia membawa dunia. Dia menjadi jembatan lintas peradaban, dia jadi duta Muslim Thailand di panggung dunia.

Dia tidak pernah hilang seperti diduga oleh guru-gurunya. Dia masih persis seperti kata Kakeknya. Sejak pertama kali saya ngobrol dengan Surin Pitsuwan, tahun 2006 yang lalu di Hanoi, tutur kata dan pikirannya seakan mengatakan: isyhadū bi annā muslimūn.

Ramadhan kemarin, saat kami makan malam –Ifthar bersama– di Bangkok, Surin cerita tentang ASEAN Muslim Research Organization Network (AMRON) conference di Walailak University dan ingin mengundang saya ke pondoknya awal Oktober. Saya jawab tidak bisa karena ada rencana acara di Bandung. Sesudah itu, dia kirim beberapa SMS meyakinkan saya, bahwa ke “Ban-Tan” lebih utama daripada ke “Ban-Dung”.

Ketika duduk di Masjid Al-Khalid, bersama ratusan santri, bersyukur rasanya. Merubah jadwal, dari ke Bandung jadi berangkat ke Ban Tan. Saya duduk shalat berjamaah di samping Surin, selesai shalat ratusan tangan mengulur, semua berebut salaman dengannya. Wajah takjub santri-santri itu tidak bisa disembunyikan, mereka semua seakan ingin bisa seperti Surin. Dia seakan jadi visualisasi nyata dari mimpi-mimpi para santri di kampung kecil di pedalaman Thailand.


Malam itu, di pelataran Pondok Ban Tan dibuatkan panggung untuk menyambut. Santri-santri bergantian naik panggung. Mereka peragakan kemahiran bercakap Melayu, Inggris dan Arab. Sebagai puncak acara mereka tampilkan Leke Hulu (Dzikir Hulu). Tradisi tarikat yang sudah dijadikan seni panggung. Seluruh santri ikut berdzikir, gemuruhnya menggetarkan dada.

Besok paginya Syaikhul Islam Thailand, pemimpin muslim tertinggi di Thailand khusus datang dari Songkhla, kota di sisi selatan, untuk sarapan pagi bersama di pondoknya. Kita ngobrol panjang dan saya tanya asal keturunannya, karena garis wajahnya unik; dia jawab kakeknya dari Sumatera, tapi dia keturunan Hadramaut. Mendengar itu, Surin tertawa dan minta kita bersalaman sekali lagi.

Hari itu saya bersyukur dan bersyukur. Saya katakan itu pada Surin bahwa ini perjalanan luar biasa. Tapi dia masih belum puas, Surin panggil salah satu alumni pondoknya (seorang doktor ilmu management) untuk antarkan saya ke Masjid di kampung-kampung pesisir pantai. Surin ingin kenalkan saya dengan ulama yang berasal dari Minangkabau.

Setelah melewati kampung-kampung dan pasar yang sangat-sangat sederhana, saya sampai di rumahnya yang juga sangat sederhana, di belakang Madrasah yang dipimpinnya. Kami berdiskusi tentang suasana di sini, tentang Minang, dan tentang kemajuan. Lalu dia ambil bingkai-bingkai dari lemari, dia tunjukkan beberapa foto orangtuanya, ayahnya dipaksa hijrah dari Maninjau di Ranah Minang karena perlawanan pada Belanda. Kira-kira 90 tahun yang lalu, dia sampai di Thailand Selatan dan jadi guru agama. Mengagumkan, anak-anak muda pemberani memang selalu jadi pilar kokohnya Dinul Islam. Mereka hadir dan hidup berdampingan penuh kedamaian.


Lengkap sudah perjalanan kali ini. Dalam satu rotasi ditemukan dengan komunitas yang kontras. Di Kuala Lumpur, berdialog dengan kalangan bisnis dan politik dalam ASEAN 100 Leadership Forum dengan suasana megah, di Thailand Selatan berdialog dengan kaum Muslim minoritas dengan suasana sederhana, sangat bersahaja.

Sekali lagi kita ditunjukkan betapa hebatnya efek pendidikan. Beri fondasi aqidah, bekali dengan modal akhlaqul karimah, lalu biarkan anak muda terbang mencari ilmu, membangun jaringan (network), merajut masa depan. Anak muda tidak takut menyongsong masa depan. Kelak ia akan pulang, menjawab doa ibunya, menjawab doa ayahnya dengan membawa ilmu, membawa manfaat bagi kampung halamannya, bagi negerinya dan bagi umatnya.

Di airport kita berpisah. Saya pulang  kampung ke Jakarta dan Surin berangkat ke Brussel, memimpin delegasi para kepala pemerintahan ASEAN dalam ASEAN-European Summit.

Hari ini anak yang dulu ditakutkan hilang itu akan memimpin delegasi pemimpin se-Asia Tenggara. Dan, pada hari ini juga Ibunya masih tetap tinggal di Pondok Ban Tan, usia beliau sekitar 90-an tahun, tetap mendoakan anaknya seperti saat melepasnya berangkat sekolah SMA ke Amerika dulu.

Barakallahu lakum . . . .

Just landed in Jakarta; Oct 4, 2010; 00.30 am.
(Sekadar catatan pendek, sebuah perjalanan singkat. Ditulis di pesawat dalam perjalanan pulang ke Jakarta)

Anies Rasyid Baswedan Ph.D
Rektor Universitas Paramadina


Riwayat Singkat Surin Pitsuwan

Surin Pitsuwan lahir di Nakhon Si Thammarat pada 28 October 1949, dan sejak lama menjadi politisi Thai yang disegani. Lulusan Thammasat University, Thailand, ini kemudian berhasil meraih cum laude dari Claremont McKenna College, California, dalam bidang political science pada 1972. Salah seorang fellow pada The Rockefeller Foundation ini meraih MA dari Harvard University dan melakukan riset pada the American University in Cairo sejak 1975 hingga 1977, sebelum ia kembali ke Harvard untuk menerima gelar Ph.D pada 1982.

Karir politiknya dimulai sejak ia duduk sebagai anggota DPR mewakili wilayah Nakhon Si Thammarat dan menjadi Sekretaris DPR pada 1986. Pada 1988 dia ditunjuk sebagai Sekretaris Menteri Dalam Negeri. Kemudian, sejak 1992 hingga 1995 Surin menjadi Wakil Menteri Luar Negeri, sebelum akhirnya ia menjadi Menlu Thailand pada 1997 hingga 2001.

Surin rajin menulis di dua surat kabar berbahasa Inggris di Bangkok sejak 1980 hingga 1992. Pada periode antara 1983 hingga 1984, Surin bekerja di Konggres AS sebagai Congressional Fellow, Congressional Fellowship Program, the Asia Foundation di American Political Science Association (APSA). Disamping itu, ia juga mengajar di Fakultas Hubungan Internasional di American University di Washington, D.C.


Surin Pitsuwan menjadi Chairman pada Forum Regional Association of South East Asian Nations (ASEAN) sejak 1999 hingga 2000. Pada pertemuan tahunan Menlu ASEAN ke-40 di Manila, Juli 2007, secara aklamasi Surin terpilih sebagai Sekjen ASEAN, dan pada 1 Januari 2008 Surin resmi menggantikan Ong Keng Yong dari Singapura.

Surin pernah dianggap sebagai kandidat utama menggantikan Sekjen PBB Kofi Annan, namun sehubungan dengan kondisi politik dalam negeri Thailand, pemerintah Thailand pada saat itu di bawah Thaksin Shinawatra menunjuk mantan Menlunya, Surakiat Sathianthai, untuk maju berkompetisi di PBB. Tapi Surakiat kalah oleh Ban Ki-moon. Banyak akademisi dan analis politik mengatakan, seandainya ketika itu Thailand mengajukan Surin, maka diduga kuat ia akan mengalahkan Ban Ki-moon sebagai pemimpin di PBB.

Catatan Syafiq Basri
https://syafiqb.com/2013/05/05/pondok-ban-tan-anies-baswedan/


Mantan Sekjen ASEAN Surin Pitsuwan Tutup Usia

Mantan Sekretaris Jenderal ASEAN, Surin Pitsuwan, meninggal dunia di usia 68 tahun akibat serangan jantung pada Kamis (30/11/17).

Sebagaimana diberitakan Bangkok Post, Surin terkena serangan jantung saat sedang bersiap berbicara di acara Thailand Halal Assembly 2017 Bangkok International Trade and Exhibition Centre.

Surin kemudian dilarikan ke Rumah Sakit Ramkhamhaeng, di mana dia kemudian dinyatakan meninggal dunia.

Semasa hidupnya, Surin dikenal dunia internasional sebagai Menteri Luar Negeri Thailand sebelum menjadi Sekjen ASEAN yang berdedikasi tinggi.

Lahir pada 28 Oktober 1949, Surin tumbuh menjadi seorang pelajar cemerlang hingga lulus dengan predikat cumlaude dari fakultas ilmu politik Claremont McKenna College, California.

Para pelayat mengusung keranda mantan menteri luar negeri dan sekretaris jenderal ASEAN Surin Pitsuwan dari rumahnya di distrik Muang ke Masjid Tha It di distrik Pak Kret di provinsi Nonthaburi, Thailand pada hari Jumat (1 Desember 2017) untuk pemakaman.
(Foto oleh: Bangkok Post-Tawatchai Kemgumnerd)

Dia lantas melanjutkan studinya di Harvard University, kampus bergengsi yang memberikannya gelar Ph.D pada 1982.

Surin mulai meniti karier politiknya ketika terpilih sebagai Anggota Parlemen yang mewakili Nakhon Si Thammarat sebelum didaulat menjadi Sekretaris Ketua Dewan Perwakilan pada 1986.

Sempat menduduki kursi Asisten Sekretaris Menteri Dalam Negeri Thailand, Surin kemudian ditunjuk menjadi Wamenlu sebelum dilantik sebagai Menlu pada 1997.

Selama menjadi Sekjen ASEAN pada 1999 - 2000, Surin memimpin asosiasi tersebut melalui sejumlah masa berat, seperti upaya membuka Myanmar hingga meningkatnya ketegangan di Laut China Selatan.

Di bawah komando Surin, ASEAN pun mulai menjadi pemain penting di dunia hubungan internasional. Sebuah editorial Jakarta Post bahkan menyebut Surin sebagai Sekjen ASEAN paling produktif sepanjang sejarah asosiasi tersebut.

Hanna Azarya Samosir,
CNN Indonesia, 30 November 2017
https://www.cnnindonesia.com/internasional/20171130163127-106-259278/mantan-sekjen-asean-surin-pitsuwan-tutup-usia


Tanggapan Anies di Facebook

Surin Pitsuwan meninggal dunia, begitu isi pesan singkat yang masuk kemarin sore. Kabar amat mengejutkan. Beberapa waktu kemudian muncul berita, Surin Pitsuwan wafat karena serangan jantung saat akan berbicara dalam Musyawarah Halal Thailand, di Bangkok. Benar-benar berita yang amat mengejutkan.

Usia kami berbeda 20 tahun, tapi persahabatan terasa sangat erat. Secara berkala kami berjumpa dan diskusi panjang setiap bersama-sama hadir di berbagai konperensi.

Saat Almarhum menjabat Sekjen ASEAN, Intensitas pertemuan jadi makin sering. Bahkan anaknya yang kuliah di Amerika dititipkan untuk magang di Kegiatan Indonesia Mengajar. Seselesainya sebagai Sekjen ASEAN di tahun 2013 dan kembali ke Bangkok, Surin menghibahkan mobilnya untuk kegiatan Indonesia Mengajar.

Jika saya ke Bangkok, maka saya temui beliau. Demikin pula sebaliknya, setiap beliau datang ke Jakarta beliau selalu berkabar. Perjumpaan kami terakhir di Jakarta bulan Mei yang lalu. Saat itu kami duduk ngobrol saling bertukar pikiran.


Ini semua mengingatkan saya saat mengunjungi beliau dan keluarganya di Pondok Ban Tan, di Nakhon Si Thammarat, sepulang dari sana saya menulis sebuah catatan tentang kisah perjalanan hidupnya.

https://indonesiana.tempo.co/…/dilepas-ke-orbit-dunia-kisah…

Kisah perjalanan hidupnya adalah inspirasi bagi anak-anak muda di Thailand dan bagi kita semua.

Dari Jakarta kita doakan semoga Almarhum dimuliakan, ditinggikan derajatnya di sisi Allah Swt dan diampuni semua salah dan dosanya. Al-Fatihah ....

Anies Baswedan
1 Desember 2017
https://www.facebook.com/aniesbaswedan/posts/surin-pitsuwan-meninggal-dunia-begitu-isi-pesan-singkat-yang-masuk-kemarin-sore-/1487225437981104/