Showing posts with label Afghanistan. Show all posts
Showing posts with label Afghanistan. Show all posts

Thursday, October 14, 2021

Diplomasi Taliban, Strategi atau Kolusi?


Banyak aktivis Islam yang bingung memahami diplomasi yang dilakukan Taliban pasca Amerika menarik mundur tentaranya dari Afghan. Taliban dianggap telah bermain mata dengan China, sebab China meminta Taliban untuk membantu meredam gejolak perlawanan di Uighur. Taliban juga bernegosiasi dengan Iran, yang nota bene negara Syiah musuh Ahlus Sunnah wal Jamaah. Taliban juga sebelumnya berkunjung ke Moscow yang banyak membantai muslim Suriah.

Artikel ini mencoba untuk menjelaskan apakah yang dilakukan Taliban itu sebuah pengkhianatan terhadap prinsip-prinsip Islam dan umat Islam di belahan dunia lain? Ataukah hanya sebuah diplomasi yang jamak dilakukan oleh siapapun demi mendapatkan keuntungan strategis dalam upaya mendirikan negara atau merawat kekuasaan?

Afghanistan menyongsong fajar baru Taliban.

Taliban Mencuri Perhatian
Setelah AS secara fakta menghentikan misi di Afghanistan pada akhir Juli 2021 dan secara resmi pada 11 September 2021, Taliban kembali mencuri perhatian. Betapa tidak, 20 tahun lalu Taliban luluh lantak oleh serbuan mesin perang AS dan sekutunya, kini Taliban kembali menjadi kekuatan besar yang dianggap paling siap untuk mengendalikan Afghanistan. Satu demi satu desa dan kota berhasil direbut dari cengkeraman pemerintah boneka. Sebelumnya sang boneka begitu kuat karena disuplai tenaga oleh induknya, kini setelah sang induk pergi, kembali menjadi kerangka tanpa daya.

Taliban terbukti solid dan punya jaringan luas di seluruh penjuru Afghan. Taliban dimusuhi oleh AS dan sekutu yang karenanya seluruh dunia ikut memusuhinya, tapi Taliban dicintai oleh masyarakat Afghan, setidaknya bagi yang pernah merasakan keamanan di bawah kekuasaannya dahulu. Taliban terbukti lebih efektif dan efisien dalam menangani berbagai keluhan masyarakat. Terutama soal kriminalitas. Polisi pemerintah cenderung korup sehingga tak punya komitmen menyelesaikan permasalahan masyarakat. Sebaliknya pejuang Taliban lebih sigap sehingga dipercaya dan dicintai masyarakat.

Taliban punya pendekatan andalan dalam mencuri hati rakyat, yaitu penegakan hukum menggunakan syariat Islam. Pendekatan ini sangat mujarab di tengah masyarakat yang resah dan nyaris putus asa dengan kekacauan yang berlarut-larut. Masyarakat merasakan manfaat nyata di balik penegakan hukum Islam ini. Kriminalitas bisa dibasmi, masyarakat kembali hidup dengan aman. Kesuksesan ini membuat masyarakat sendiri yang kemudian minta kehadiran Taliban di wilayah mereka agar bisa meredam kriminalitas dan mengembalikan keamanan.


Jika di tengah masyarakat terdapat provokator yang menolak penegakan syariat dan menolak kehadiran Taliban, barulah Taliban bergerak menggunakan kekuatan. Para provokator disikat dengan senjata, demi menghilangkan gangguan penegakan syariat di tengah masyarakat. Inilah jurus kedua yang ditakuti para kriminal yang mengail di air keruh.

Dua mata pisau ini sangat efektif meluaskan kekuasaan Taliban di Afghan. Tentu saja dikombinasi dengan jurus ketiga, yakni edukasi alias dakwah secara persuasif kepada masyarakat. Sebab nama Taliban sendiri mencerminkan itu. Taliban artinya santri, yang sudah pasti sangat perhatian dengan ilmu dan dakwah. Ketika masyarakat tercerahkan ilmu syariat, banyak persoalan yang bisa diselesaikan dengan mudah. Tidak lagi debat kusir, tapi sudah ada hakimnya, yaitu ilmu.

Sebetulnya pendekatan ini bukan cara baru bagi Taliban. Mereka sudah melakukannya sejak tahun 90-an ketika Afghan kacau akibat konflik internal pasca hengkangnya penjajah Uni Sovyet dari Afghan. Para mantan komandan yang punya banyak pengikut saat jihad melawan Uni Sovyet saling berebut kekuasaan. Akibatnya, rakyat jadi korban. Rakyat tak terurus. Kriminalitas merajalela, hukum rimba berlaku secara liar. Kemenangan jihad yang digadang-gadang menjadi fajar baru yang cerah, demi lahirnya kedamaian dan keamanan bagi umat Islam, ternyata jatuh menjadi konflik internal yang kronis dan nyaris melumpuhkan seluruh sendi masyarakat.

Mullah Omar pemimpin Taliban yang legendaris.

Dalam kondisi seperti itu, tiba-tiba muncul sosok unik yang punya gagasan out of the box dalam menyelesaikan kekisruhan. Bukan dengan perang, tapi dengan pendekatan dakwah dan penegakan hukum syariat yang jujur. Karena rakyat sejatinya sudah letih berperang.

Namanya Muhammad Umar. Dipanggil mullah karena keulamaannya. Seperti kyai di Indonesia. Ia menghimpun murid-muridnya untuk bergerak membasmi kriminalitas dan menegakkan hukum syariat di lingkungan mereka. Karenanya nama kelompok ini Taliban –perkumpulan santri.

Prakarsa yang mereka lakukan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Berawal dari lingkup kecil, lama-lama meluas. Awalnya hanya di wilayah Kandahar, kemudian menyebar ke seluruh Afghan. Sampai akhirnya pemerintahan Afghan berhasil diambil alih. Tentu saja perkembangan ini membuat Barat cemas. Jika tak dibendung, bukan hanya tanah Afghan yang dikuasai, bisa saja akan meluas ke negara-negara tetangganya, dan tentunya akan makin sulit dijinakkan.


Ujian Bernama Al-Qaeda
Tahun 2001 menjadi momen bersejarah. Pada 11 September 2001 terjadi serangan terhadap Amerika. Dua menara kembar WTC dihajar pesawat penumpang hingga terbakar dan runtuh. Juga gedung Pentagon, meski tidak banyak kerusakan yang terjadi.

Amerika sebagai imperium penguasa dunia murka sejadi-jadinya. Osama bin Laden sang pemimpin Al-Qaeda dituding sebagai otak pelaku. Padahal ia berada di Afghanistan yang saat itu dikuasai Taliban. Amerika memberi ultimatum kepada Taliban agar menyerahkan Osama bin Laden dan seluruh tokoh Al-Qaeda yang bersembunyi di Afghan. Jika tidak, Taliban akan dihajar. Mullah Umar –sang pemimpin Taliban– menolak ultimatum tersebut. Akibatnya bisa ditebak, mesin perang Amerika dan sekutunya dikerahkan untuk menggulingkan Taliban dan menghancurkan seluruh pelosok Afghan.

Afghanistan luluh lantak. Taliban jatuh. Sejak saat itu penjajahan dimulai. Kemarahan Amerika kepada Al-Qaeda dilampiaskan dengan membantai rakyat Afghan yang dianggap melindunginya. “Kesalahan” Taliban hanya satu, menolak menyerahkan orang yang dituduh Amerika sebagai otak pelaku. Sementara Taliban sendiri bukan pelaku, apalagi rakyat Afghan.

Namun Taliban meski ditumbangkan dari kekuasaan, mereka masih solid di desa-desa dan gunung-gunung. Inilah karunia Allah untuk Afghan, konturnya ekstrim, sehingga mesin perang paling canggih sekalipun kesulitan untuk menyapu seluruh kawasan. Benteng alaminya terlalu banyak dan sulit ditaklukkan.

Pemimpin Al-Qaeda, Osama bin Laden.

Para pejuang Taliban sabar menjalani ujian ini. Mereka tetap semangat menjaga ruh jihad. Sambil bertahan dari gempuran Amerika, mereka menancapkan pengaruh di masyarakat pedesaan yang jauh dari jangkauan pemerintah boneka. Keadaan ini membuat Afghanistan terbelah, ada wilayah yang dikontrol Taliban terutama di pedesaan, ada wilayah yang dikendalikan pemerintah boneka terutama di kota-kota.

Pertanyaan masih tersisa, mengapa Taliban bersikeras menolak menyerahkan Osama bin Laden kepada Amerika padahal terancam akan dibumi-hanguskan oleh Amerika jika menolak? Osama juga bukan warga pribumi Afghan. Ia dan para mujahidin Arab hanyalah warga pendatang. Mengorbankan segelintir orang apalagi pendatang demi keamanan jutaan orang lain apalagi pribumi bukankah sebuah pilihan yang wajar?

Sikap Taliban ini menarik dikaji. Pemahaman terhadap cara berpikir dan sikap Taliban terkait Osama bisa dijadikan sebagai barometer untuk memahami sikap Taliban di kemudian hari. Salah satunya, saat Taliban berkunjung ke China dan melakukan diplomasi di sana. Juga diplomasi dengan Rusia dan Iran.


Ada beberapa alasan yang agaknya menjadi pertimbangan Mullah Umar memilih sikap menolak menyerahkan Osama bin Laden kepada Amerika.

Pertama, Osama muslim, Taliban juga muslim. Saudara seiman pantang dijual kepada orang kafir untuk dipenjara atau dibunuh. Jangankan menjual nyawanya, mencelanya saja dilarang. Catat, Taliban sangat komitmen terhadap aturan yang ada dalam ilmu syariat.

Kedua, Osama dan para mujahidin Arab punya rekam jejak bagus dalam membantu umat Islam Afghan melawan penjajah kafir –Uni Sovyet. Mullah Umar terikat akhlaq Islam, berterima kasih dan membalas budi orang yang pernah membantu. Menjual Osama kepada musuh (kaum kafir) sama saja dengan “habis manis sepah dibuang”. Catat, Taliban menjunjung tinggi akhlaq Islam.

Ketiga, Amerika mengancam (memberi janji) untuk membumi-hanguskan Afghan, tetapi Allah memberi janji akan menolong hamba-Nya sepanjang hambanya menempuh jalan lurus dan membela agama-Nya. Mullah Umar lebih yakin janji Allah dibanding janji Amerika. Karenanya dengan tawakkal kepada Allah, memutuskan menolak permintaan Amerika. Catat, Taliban berpegang kuat pada prinsip aqidah Islam.

Keempat, secara teori fiqh, menjual nyawa mukmin demi menyelamatkan nyawa mukmin yang lain itu tidak boleh dalam Islam. Sebab antara satu nyawa muslim dengan nyawa muslim yang lain posisinya sejajar dan harganya sama. Dalam kasus ini, menjual nyawa Osama bin Laden demi menyelamatkan nyawa ribuan muslim Afghan tidak dibenarkan dalam Islam. Sebab meski jumlahnya berbeda, keduanya sama derajatnya di hadapan Allah. Seandainya Islam membenarkan nyawa dijadikan tumbal nyawa, tentu hal ini akan dijadikan sebagai permainan oleh para penguasa yang gila kekuasaan. Catat, Taliban berpegang pada teori fiqh.


Apa yang ditunjukkan Taliban dalam situasi genting seperti ini bisa dijadikan tonggak barometer untuk memahami prinsip politik Taliban dalam situasi yang lebih mudah di kemudian hari. Garis politik Taliban yang dapat kita simpulkan dari sikapnya tersebut bisa dirinci dalam poin-poin berikut:

Pertama, Taliban tidak berpaham nasionalisme, terbukti berani menanggung resiko berat pada bangsanya sendiri justru karena membela orang asing –Osama bin Laden dan mujahidin Arab lain. Taliban sangat kuat memegang panji keumatan, bukan panji kebangsaan.

Kedua, Taliban komitmen dengan ilmu syar’iy. Bagi Taliban, politik dikendalikan oleh ilmu syar’iy bukan sebaliknya ilmu syar’iy dikendalikan oleh politik.

Ketiga, Taliban setia pada ikatan keimanan. Landasan politiknya iman. Taliban menolak bersekongkol dan berkolusi dengan musuh Allah dan musuh orang-orang beriman, dalam hal ini Amerika, dengan cara mengkhianati teman sendiri sesama mukmin.


Keempat, Taliban tidak mensakralkan solusi politik, juga tidak mensakralkan solusi jihad. Ada kalanya solusinya politik, ada kalanya solusinya jihad bersenjata. Ketika Amerika memaksa perang, dilayani dengan jantan oleh Taliban. Apa yang mereka tunjukkan saat ini dengan melakukan kunjungan ke China, menggambarkan Taliban sudah dewasa. Bagi Taliban, diplomasi politik dan jihad bersenjata adalah dua instrumen yang bisa digunakan sesuai kebutuhan.

Kelima, Taliban ingin menjayakan Islam dan umat Islam, bukan menjayakan bangsa Afghan. Meski Taliban duduk mewakili bangsa Afghan, tapi yang menjadi panglima tetap ilmu syariat dan panji keislaman, bukan nasionalisme nan jahiliyah. Bagi Taliban, persatuan Afghan diadopsi seperlunya untuk menjayakan Islam dan umat Islam, bukan kebalikannya Islam diadopsi seperlunya demi kejayaan bangsa Afghan.

Poin-poin ini sangat berguna untuk membantu memahami diplomasi yang dilakukan Taliban dalam kancah global. Seperti yang mereka lakukan saat ini, bernegosiasi dengan Iran, Rusia, China dan negara-negara lain. Sebelum itu, delegasi Taliban juga sudah mengunjungi Jakarta, tahun 2019 lalu.


Rekam Jejak Sebagai Basic Penilaian
Islam punya konsep niat, yaitu motif dan tujuan yang dicanangkan di awal kegiatan. Ibadah akan dinilai oleh Allah sesuai niatnya. Perjalanan seseorang juga sangat terkait dengan niat awal sebelum melangkahkan kakinya. Awal dari sesuatu akan menentukan proses susudahnya dan perjalanan yang ditempuhnya hingga tujuan. Niat (titik awal), tengah perjalanan dan tujuannya memiliki korelasi kauniyah ajaib yang kerap tak disadari. Ketiganya saling mempengaruhi.

Misalnya, jika di tengah perjalanan terjadi pembelokan dari niat awal, sebuah perjalanan biasanya akan bubar tidak sampai tujuan. Tapi jika terjadi pembelokan dari niat awal, lalu ada upaya untuk mengoreksi dan mengembalikan ke niat awal, perjalanan akan berlanjut dan berumur panjang hingga mencapai tujuan. Inilah sunnah kauniyah yang perlu dipahami terutama oleh para aktifis.

Korelasi ini bisa dijadikan sebagai salah satu alat untuk membaca alur perjalanan seseorang atau kelompok. Terhadap Taliban misalnya, pemahaman kita terhadap perjalanan Taliban saat ini bisa disimpulkan melalui bagaimana Taliban dahulu didirikan. Apa prinsip dan ideologi yang dijadikan haluan. Sepanjang tidak terdengar intrik pembelokan, berarti Taliban sekarang bisa disimpulkan sama dengan Taliban saat awal didirikan.

Teori kauniyah ini penting untuk menepis rumor dan kampanye hitam yang dilemparkan musuh kepada Taliban. Misalnya Taliban dinarasikan menerima syarat yang diajukan China untuk membasmi kelompok perlawanan Uighur sebagai harga dukungan China terhadap Taliban. Narasi ini janggal, sebab Uighur berada di wilayah China, bagaimana cara Taliban membasminya? Selain itu, jika kelompok perlawanan itu berbasis Islam (baca: jihad), track record dan niat awal Taliban yang meniti jalan dakwah dan jihad tidak mungkin menerima klausul seperti itu. Kecuali jika Taliban telah mengalami pembelokan serius dari khittah awal pendiriannya.


Teori ini ada pembandingnya dalam Al-Quran. Yaitu saat Aisyah ra dituduh berzina hanya dengan bukti sumir ia naik onta dan ontanya dituntun oleh seorang Sahabat. Narasi bahwa Aisyah ra selingkuh buktinya lemah (meragukan) karenanya harus dibatalkan oleh fakta bahwa Aisyah ra sejak kecil menjaga kesucian, lahir dari keluarga baik-baik dan berstatus istri Nabi saw serta tidak pernah terdengar isu miring sebelumnya yang menimpa Aisyah ra. Karena itu, track record ini meyakinkan, tidak bisa dibatalkan oleh tuduhan yang meragukan alias masih asumsi.

Taliban didirikan dengan niat menegakkan hukum Allah di tengah umat. Niat awal ini akan terus mengiringi perjalanan Taliban. Kecuali jika Taliban mengumumkan secara resmi bahwa mereka sudah berubah haluan menjadi partai politik yang sekedar mencari kekuasaan. Selama para tokoh Taliban masih konsisten dengan niat awal, apapun sepak terjang mereka dalam diplomasi politik perlu dipahami dalam bingkai niat awal tersebut. Sebab niat awal adalah tonggak kokoh, hanya bisa diabaikan jika muncul tonggak baru yang menggantikan tonggak lama.

Taliban juga sudah kenyang ditarbiyah selama 20 tahun dalam perang panjang melawan kekuatan terbesar dunia. Semua senjata paling canggih dikerahkan, tapi tak mempan juga untuk mencerabut Taliban dari bumi Afghan. Alih-alih tercerabut, Taliban justru mengakar lebih kuat. Tarbiyah ketegaran dan kesabaran panjang ini juga layak dijadikan barometer dalam melihat Taliban.

Dalam konflik panjang dan berdarah ini mereka ditarbiyah dengan izzah Islam. Nyawa mereka dikorbankan demi Islam. Harta mereka dibelanjakan demi Islam. Tenaga dan keringat mereka dikeluarkan demi Islam. Karenanya, Islam pasti mengakar begitu kuat di sanubari mereka. Tak akan mudah digeser oleh nasionalisme Afghan yang sempit.


Tarbiyah yang dialami Taliban terbilang komplit. Taliban berawal dari kelompok kecil, meluaskan kekuasaan dengan ilmu dan peradilan Islam. Ini adalah tarbiyah dalam dakwah. Taliban pernah merebut kekuasaan dan mengelola negara sebelum dihajar Amerika. Ini adalah tarbiyah kekuasaan. Taliban pernah kehilangan kekuasaan itu, kembali bergerilya di hutan dan gunung selama 20 tahun. Kini peluang merebut kembali kekuasaan itu terbuka menyusul hengkangnya Amerika. Ini adalah tarbiyah bagaimana bangkit dari kekalahan dan tarbiyah dari jihad yang pahit.

Dalam seluruh babak tersebut, Taliban konsisten dibimbing ilmu. Jihadnya dipandu ilmu. Peradilan syariatnya dipandu ilmu. Dakwahnya dipandu ilmu. Dan kini diplomasinya juga dipandu ilmu. Tentu sebagai manusia biasa, di sana-sini terdapat kekurangan itu normal. Tapi secara global, in sya-Allah baik. Hingga saat ini kita masih melihat Islam menjadi warna dominan dalam sepak terjang Taliban.

Niat awal dan tarbiyah panjang puluhan tahun dengan menjunjung tinggi Islam dan umat Islam, dengan kawalan ilmu syar’iy yang kuat, agaknya bisa dijadikan jaminan bahwa Taliban sampai saat ini masih berjalan di haluan yang sama dengan apa yang dicanangkan sang pendiri –Mullah Umar. Jika ada tuduhan miring yang dialamatkan kepada Taliban, terpatahkan dengan sendirinya oleh konsistensi mereka dalam menempuh jalan jihad yang amat terjal selama dua dekade lebih, panduan ilmu sepanjang perjalanan mereka dan tonggak niat yang dicanangkan pendirinya. Karenanya, tak sepatutnya kita di sini yang statusnya hanya penonton berburuk sangka kepada Taliban, hanya karena melakukan sejumlah agenda diplomasi dengan China.


Diplomasi dan Kekuasaan
Bicara tentang kekuasaan pada level negara, tak bisa dipisahkan dari diplomasi dan negosiasi politik. Apalagi dalam tahap awal pendirian. Ibarat bayi yang masih merangkak, perlu sokongan negara lain untuk bisa berdiri dan berjalan.

Nabi Muhammad saw memberi contoh bagaimana mempraktekkan diplomasi dalam kerangka mendirikan negara. Tentu saja berdiplomasi dengan musuh Islam. Baik diplomasi yang berakhir dengan kesepakatan tertulis (surat perjanjian) maupun tidak.

Nabi saw setelah tiba di Madinah, segera mengunci pergerakan Yahudi dengan sebuah perjanjian. Orang biasa menyebutnya Piagam Madinah. Isinya, klausul bahwa antara umat Islam penduduk Madinah dengan Yahudi penduduk Madinah terikat dalam satu kesatuan. Jika ada musuh dari luar Madinah, menyerang kota Madinah, siapapun yang diserang baik muslim maupun Yahudi, seluruh warga Madinah harus bersatu padu untuk melawan.

Klausul perjanjian ini dilakukan Nabi saw untuk meredam potensi Yahudi menjadi ancaman bagi masyarakat muslim yang baru tumbuh di Madinah. Pada saat yang sama Nabi saw fokus menghadapi musuh utama, yaitu kekuatan Quraisy sebagai kelanjutan perseteruan semasa di Makkah. Jika Nabi saw menjadikan Yahudi dan Quraisy sebagai dua musuh sekaligus dalam waktu yang sama, tentu Nabi saw akan kewalahan. Satu petarung meski hebat akan sangat sulit mengalahkan dua lawan sekaligus, apalagi ketika masih lemah dan merangkak. Karenanya, Nabi saw menyicilnya satu per satu, tidak semuanya dijadikan musuh sekaligus.


Nabi saw fokus menghadapi musuh jauh di Makkah dengan senjata, sambil meredam musuh dekat dengan diplomasi dan perjanjian. Ketika Quraisy berhasil dijinakkan dengan senjata, barulah urusan Yahudi dibereskan, itupun karena dipicu pengkhianatan Yahudi sendiri yang bersekongkol dengan kaum kafir. Pada fase yang lain, Nabi saw menghadapi Quraisy dengan perjanjian, yaitu Hudaibiyah. Dalam perjanjian ini Nabi saw membelenggu Quraisy sambil fokus menyebarkan dakwah ke berbagai penjuru.

Dengan demikian perang atau perjanjian hanyalah sarana untuk meraih kemenangan. Perang dan perjanjian sama-sama instrumen politik. Kepala negara bisa menggunakan keduanya sesuai kebutuhan situasi, demi kemaslahatan negaranya. Dalam konteks politik Islam, maka maksud dan tujuannya adalah demi kemaslahatan Islam dan umat Islam.

Karena itu, diplomasi yang dilakukan Taliban dengan Rusia, China dan Iran hanyalah cara yang dipilih Taliban untuk meredam musuh eksternal atau musuh jauh. Pada saat yang sama, Taliban fokus menyelesaikan musuh dalam negeri atau musuh dekat, yaitu pemerintah boneka yang disokong penjajah. Jika kita bandingkan, cara yang ditempuh Taliban ini sama persis dengan cara Nabi saw pada fase awal membangun negara di Madinah. Perbedaannya, Nabi saw fokus pada musuh jauh yakni Quraisy Makkah, sambil meredam musuh dekat yakni Yahudi. Sementara Taliban kebalikannya, meredam musuh jauh, sambil fokus menghadapi musuh dekat.

Taliban melakukan diplomasi demi mengamankan agenda mendirikan negara Islam di Afghan tanpa direcoki pihak eksternal. Sementara banyak aktivis Islam di Indonesia berharap Taliban melakukan sesuatu yang sesuai perasaan hatinya yang sedang sensi dengan China, apalagi China juga melakukan kejahatan kepada muslim Uighur. Taliban melakukan sesuatu dengan alasan internal mereka sendiri, sementara penonton menilai Taliban dengan perasaan hatinya sendiri. Jelas tidak nyambung.


Momentum Taliban
Harus diakui, negara terkuat saat ini masih Amerika Serikat. Meski muncul kekuatan penantang yang potensial, China. Kemunculan China menjadi berkah tersendiri bagi Taliban.

Amerika saat ini sudah menemukan musuh potensial yang akan dijadikan sebagai common enemy bagi rakyatnya. Siapa lagi kalau bukan China. Secara ekonomi China sudah sangat kuat, hampir mengalahkan kekuatan ekonomi Amerika. Secara militer, China agresif meluaskan basis kekuatan. Secara politik, China juga pelan tapi pasti menginvasi negara-negara lemah, misalnya negara-negara Afrika. Apalagi didukung jumlah penduduk yang sangat besar, wilayah yang luas dan kepemimpinan yang solid.

Amerika lalu mengalihkan permusuhannya kepada China, yang sebelumnya kepada Islam. Jika laut China selatan dijadikan barometer, kehadiran kapal perang dan kapal induk Amerika dan negara-negara sekutu di sana akhir-akhir ini jelas mengindikasikan China telah resmi didapuk sebagai musuh bersama.

Sudah agak lama Al-Qaeda tidak lagi mengisi berita utama di surat kabar dunia. Tidak lagi terdengar pengeboman atau serangan mematikan terhadap Barat yang dipamerkan Al-Qaeda. Bisa jadi ini sebuah strategi yang sengaja dipilih Al-Qaeda. Bisa juga indikasi melemahnya jaringan Al-Qaeda. Berita tentang konflik Suriah juga mereda, meski perang masih terus berlanjut. Kondisi ini turut mendorong Amerika tidak lagi fokus pada gerakan jihad global. Tapi lebih fokus menghadapi China dan sekutunya.

Panggung utama pertunjukan dunia diisi konflik Amerika vs China, bukan lagi AS vs Al-Qaeda. Taliban mendapat berkah dari situasi ini. Amerika merasa tidak perlu lagi untuk mengeluarkan biaya dan tenaga besar untuk menjinakkan jihadis, toh musuhnya kini bergeser menjadi China. Karena itu, AS tak ragu untuk meninggalkan Afghanistan.


Apalagi jika ditilik secara geografis. Afghanistan berbatasan langsung dengan China dan Iran. Juga tak jauh dari Rusia. China adalah sahabat tradisional Rusia, sejak awal kemunculan Komunisme. Demikian pula Iran, cenderung merapat ke China dan Rusia dibanding ke AS. Jika AS mengeluarkan biaya besar untuk meredam Afghan, yang mendapat keuntungan langsung adalah tiga negara tersebut. Mereka aman dari potensi gangguan dari jihadis di Afghanistan, sementara biaya meredamnya yang menanggung AS. Padahal tiga negara tersebut berstatus musuh utama AS saat ini.

Tiga negara fokus menghadapi AS dan sekutu, sementara AS sibuk menghadapi tiga negara tersebut. Taliban? Seperti terlupakan. Inilah situasi dan kondisi secara kauniyah yang menguntungkan Taliban. Mirip sekali dengan situasi dan kondisi jazirah Arab pada zaman Nabi saw di tengah konflik keras antara Romawi vs Persia. Jazirah Arab seperti terlupakan. Sampai kemudian Islam hadir di jazirah Arab, tumbuh di lingkungan yang relatif bersih dari intervensi kekuatan super pada zamannya, lalu menaklukkan musuh-musuh lokal, barulah kemudian Romawi dan Persia terkejut karena kekuatan Islam tiba-tiba sudah demikian kuat dan tak lama kemudian berhasil menyapu dua imperium tersebut.

Inilah bedanya Islam dengan agama Nasrani. Islam tumbuh di tempat yang netral dari intrik politik negara kuat, sementara Nasrani lahir dan tumbuh di tengah hegemoni Romawi. Palestina adalah salah satu wilayah penting yang dikuasai Romawi, meski bukan ibu kotanya. Karena itu, Nasrani mendapat intervensi kuat dari politik Romawi. Ditambah persekongkolan Yahudi dengan para politisi Romawi. Sementara Makkah, hanya mendapat intervensi dari kekuatan lokal yang relatif kecil pada awal pertumbuhannya, yaitu kabilah Quraisy.

Taliban saat ini seperti mendapat momentum yang sama. Dua kekuatan utama dunia saling bersaing, Taliban terabaikan, karenanya bisa fokus konsolidasi internal dalam bentuk yang paling jernih. Inilah momentum Taliban untuk menguasai Afghanistan secara penuh dan menegakkan hukum Allah dengan jernih tanpa intervensi dari luar. AS juga tidak keberatan mengakui legalitas kekuasaan Taliban kelak, sebab Taliban dianggap bukan lagi ancaman terdekat bagi AS. Kalaupun dianggap ancaman, masih sangat jauh bagi AS, dan yang lebih layak khawatir justru China, Iran dan Rusia karena secara geografis lebih dekat.


Kemenangan Politik Taliban
Melihat momentum ini, Taliban buru-buru melakukan diplomasi ke tiga negara ini. Taliban mengirim delegasi untuk menemui mereka, di wilayah mereka.

Ibaratnya, Taliban mencuri start, dibanding pemerintahan boneka. Delegasi Taliban diterima. Penerimaan ini saja merupakan keuntungan politik. Sama artinya tiga negara tersebut mengakui eksistensi Taliban, bahkan eksistensinya sebagai perwakilan negara Afghanistan.

Sebelumnya, Taliban (dan juga Al-Qaeda) tidak diakui eksistensinya oleh kekuatan politik manapun pasca digulingkan AS tahun 2001. AS dengan jumawa juga bersumpah tidak mau bernegosiasi dengan Taliban (juga Al-Qaeda). Ketika kini delegasi Taliban diterima Rusia, China dan Iran, secara tidak langsung merupakan bentuk pengakuan diplomatik akan eksistensinya. Dan itu hanya kelanjutan dari pengakuan AS yang sebelumnya sudah duduk bernegosiasi dengan wakil Taliban di Qatar sejak 2019 lalu.

Sama dengan perjanjian Hudaibiyah, yang menuliskan nama Muhammad bin Abdullah (kaum Quraisy masih jumawa dengan tidak mengakui Muhammad Rasulullah) sebagai pemimpin entitas politik baru, yang menandakan sebuah pengakuan diplomatik dari musuh. Pengakuan ini disebut oleh Al-Quran dengan fathan mubina (kemenangan besar).

Secara tidak langsung, Rusia, China dan Iran mengakui bahwa Taliban adalah masa depan Afghanistan. Karenanya mereka membicarakan masa depan Afghan dengan Taliban, bukan dengan pemerintah boneka. Sebab mereka tahu, pemerintah boneka kekuatannya tergantung induk semang. Ketika sang induk semang pergi, pemerintah boneka tak lebih sebagai buih yang dengan mudah disingkirkan Taliban. Cepat atau lambat. Hanya soal waktu.


Sunnah Kauniyah Abadi
Pembicaraan Rusia, China dan Iran dengan Taliban menjadi bukti konkrit akan sebuah sunnatullah yang berlaku abadi. Bahwa kekuatan militer menentukan bobot diplomasi. Meski pemerintah boneka dipoles dengan bedak setebal apapun, tak akan membuat harga dirinya naik, sebab secara militer lemah. Sebaliknya Taliban, direndahkan seperti apapun akan tetap tinggi harganya secara diplomasi sebab punya basis kekuatan militer yang solid. Amerika saja dibuat mati kutu selama 20 tahun.

Karena itu, tiga negara tersebut dalam melakukan pembicaraan tentang masa depan Afghanistan, duduknya bersama delegasi Taliban. Bagi mereka Taliban merupakan representasi kekuatan riil yang menjadi penentu masa depan Afghan. Sudah waktunya untuk mengakui eksistensi politik Taliban, meski menyakitkan.

Kaum Quraisy juga awalnya tidak mau mengakui eksistensi politik umat Islam yang dipimpin Rasulullah saw. Tapi dengan makin kuatnya militer Rasulullah saw, mau tidak mau kaum Quraisy duduk berunding dengan Rasulullah saw.

Sunnah kauniyah ini yang bisa menjelaskan mengapa Al-Quran memerintahkan umat Islam agar mempersiapkan kekuatan militer dalam menghadapi kaum kafir. Seperti dalam surat Al-Anfal ayat 60. Tidak cukup hanya kekuatan narasi (dakwah) dan kekuatan ekonomi. Al-Quran mewakili sunnah syar’iyyah karenanya pasti selaras dengan sunnah kauniyah yang sama-sama berasal dari Allah SWT.


Semua negara dengan penduduk mayoritas muslim saat ini baru punya kekuatan sumber daya alam, jumlah penduduk besar, dan sebagian punya kemampuan inovasi teknologi. Keunggulan ini amat kecil harganya secara diplomatik. Dalam bernegosiasi dengan negara-negara kafir yang kuat, modal tersebut tidak cukup berharga untuk bisa menegakkan kepala. Negara-negara muslim cenderung didikte.

Taliban menjadi masa depan yang unik. Mereka punya keunggulan militer, dan warna Islamnya kental, tidak membawa aroma nasionalisme yang biasanya dijadikan celah musuh untuk melemahkan. Duduknya mereka dalam diplomasi mewakili sebuah harga yang mahal, tidak bisa didikte, sebab tangan mereka menggenggam kekuatan militer yang menakutkan. Kepala mereka tegak. Karena itu, kehadiran mereka ke China, Rusia dan Iran, tak sepatutnya dituduh sebagai kolusi dan pengkhianatan perjuangan. Tapi yang benar, mereka hadir ke sana sebagai ksatria yang gagah, bukan sebagai pengemis yang hina.

Taliban ingin fokus menyelesaikan musuh dalam negeri, karenanya tidak mau diganggu oleh musuh luar negeri. Maka Taliban mencoba meyakinkan, bahwa tanah Afghanistan tak akan dijadikan basis serangan kepada negara-negara tersebut. Tapi juga sebaliknya, Taliban minta jaminan bahwa negara-negara tersebut tak melakukan intervensi persoalan dalam negeri Afghanistan. Dengan cara ini, Taliban bisa perang habis-habisan melawan pemerintah boneka, tanpa khawatir ada intervensi dan bantuan apapun dari negara luar kepada pemerintah boneka. Cerdik !

Taliban seolah memotong aliran darah pemerintah boneka. Uluran tangan dari luar diputus melalui perjanjian tersebut. Pemerintah boneka baru saja ditinggal Amerika dan sekutunya, kini mereka ditinggal pula oleh Rusia, China dan Iran. Sementara negara-negara lemah di sekitarnya bisa apa dalam membantu pemerintah boneka. Mereka mengurus diri sendiri saja kesulitan, apalagi membantu negara lain.


Prinsip Aqidah vs Strategi Politik
Banyak aktifis Islam –tidak semuanya– yang tumbuh dan dibesarkan dengan doktrin aqidah. Mereka asing dengan cara pandang fiqh dan muamalat. Dan politik bagian dari fiqh. Doktrin aqidah memang cenderung hitam putih, meski tetap menyisakan khilafiyah dalam banyak masalah. Akibatnya, seolah mereka terpenjara oleh pengalaman itu. Mereka hanya punya satu sudut pandang dalam melihat segala persoalan yaitu perspektif aqidah.

Jika dilihat dengan perspektif aqidah, piagam Madinah yang merangkul kaum Yahudi menjadi satu umat dengan warga muslim Madinah bisa dianggap sebagai bentuk kolusi aqidah. Perspektif aqidah akan melahirkan pertanyaan kritis: Bagaimana mungkin Yahudi yang notabene musuh Islam dijadikan satu barisan bersama muslim? Bukankah ini akan merusak wala muslim?

Bagi para Sahabat yang menjadi saksi peristiwa dan mengetahui secara langsung situasi dan kondisi yang melingkupinya, bisa memahami kebijakan Nabi saw tersebut. Apalagi saat itu belum tampak kejahatan Yahudi kepada umat Islam, karena interaksi dengan Yahudi baru dimulai.

Kebijakan Nabi saw tersebut tidak sepatutnya dilihat dengan kaca mata aqidah. Tapi dengan perspektif strategi politik. Nabi saw ingin fokus menghadapi musuh jauh, maka musuh dekat diredam dulu. Selain itu untuk mengurangi kecurigaan Yahudi bahwa kehadiran Islam akan membuat Yahudi tersingkir dari Madinah. Kesan bersahabat ini sangat penting untuk meluluhkan hati mereka agar menerima Islam.

Demikian pula perjanjian Hudaibiyah. Secara aqidah, tidak sepatutnya Nabi saw terikat perjanjian dengan kaum musyrik. Bukankah hubungan muslim dengan musyrik itu permusuhan, lalu mengapa diikat perjanjian yang berkonsekwensi saling menghormati sesuai isi klausul perjanjian? Bukankah mengkhianati prinsip aqidah?


Dalam masalah pernikahan, mengapa muslim dibolehkan oleh Al-Quran untuk menikahi wanita ahli kitab? Bukankah mereka musyrik? Hubungan muslim dengan musyrik bukankah permusuhan, jika diikat pernikahan bukankah akan menjadi saling mencintai? Banyak aspek syariat akan terasa janggal jika dilihat dengan satu sudut pandang –aqidah saja.

Kelanjutan dari cara pandang aqidah (atau aqidah centris) ini membuat banyak aktivis Islam menilai diplomasi yang dilakukan Taliban sebagai bentuk penyimpangan atau bahkan pengkhianatan. Apalagi di dalam negeri (Indonesia) sedang sensi dengan China selain bahwa China juga banyak melakukan kezaliman terhadap muslim Uighur. Maka diplomasi Taliban dengan China dianggap sebagai pengkhianatan.

Karena itu, penting bagi para aktivis Islam untuk melepaskan cara pandang aqidah centris. Ada kasus yang harus dibedah dengan perspektif Aqidah, ada yang cocoknya dibedah dengan perspektif fiqh, ada yang dibedah dengan perspektif muamalat, ada yang dibedah dengan perspektif taktik strategi politik dan ada yang dibedah dengan sudut pandang dakwah. Maka bedahlah kasus per kasus sesuai perspektif yang relevan, jangan melihat seluruh kasus dengan kaca mata tunggal –Aqidah.

Sebaliknya, cara pandang fiqh centris juga keliru. Seluruh kasus dilihat dengan perspektif tunggal –fiqh. Sebagaimana akan keliru jika melihat setiap kasus dengan perspektif konspirasi centris. Bijaksana adalah saat kita melihat kasus per kasus sesuai perspektif yang relevan, sebagaimana Nabi kita mencontohkan.

والله أعلم بالصواب

Penulis: @elhakimi
arrahmah.id, 10 Agustus 2021

Thursday, August 26, 2021

Mullah Omar, Pemimpin Taliban Penuh Misteri


Taliban adalah Mullah Mohammed Omar. Mullah Mohammed Omar adalah Taliban. Begitulah masyarakat internasional mengaitkan keduanya dalam politik Afghanistan sejak berhembusnya angin perubahan di negeri penuh konflik itu.

Bagi Taliban, Mullah Omar adalah pahlawan sejati dan sosok yang paling dihormati. Bahkan, informasi seputar kematian sang Mullah pun sempat ditutup-tutupi Taliban.

Pada 5 April 2015, Taliban Afghanistan menerbitkan biografi Mullah Omar. Biografi tersebut dikeluarkan untuk memperingati 19 tahun kepemimpinan Mullah Omar di tengah isu kematiannya yang sangat santer pada waktu itu.

Belum diketahui secara pasti apa alasan sebenarnya Taliban menerbitkan biografi Mullah Omar itu. Beberapa pengamat menduga tindakan tersebut dilakukan lantaran bertumbuhnya paham ISIS di Afghanistan dan banyaknya anggota Taliban yang membelot dan memilih bergabung dengan ISIS.


Biografi pemimpin Taliban itu ditulis dalam 5.000 kata di situs utama milik Taliban. Dalam bografi itu diceritakan tentang semua fakta Omar termasuk mengenai kelahirannya dan bagaimana Mullah Omar diasuh.

Seperti dikutip dari BBC News, Omar diketahui lahir pada 1960 di Desa Chah-i-Himmat, Khakrez, Kandahar. Pria berusia 55 tahun itu berasal dari marga Tomzo dan suku Hotak.

Pemimpin Taliban itu merupakan anak dari Moulavi Ghulam Nabi, seorang tokoh masyarakat di Afghanistan. Omar harus menghadapi kenyataan dan menjadi yatim ketika masih berusia lima tahun.


Titik Balik Mullah Omar
Sepeninggal ayahnya, Omar dan keluarga pindah ke provinsi Uruzgan. Mullah Omar memutuskan bergabung ke kelompok Jihadis setelah adanya serangan pasukan Uni Soviet di Afghanistan sekitar tahun 1980-an.

Saat itu ia masih duduk di sekolah madrasah. Dituliskan, salah satu alasan Mullah Omar memilih bergabung menjadi Jihadis untuk memenuhi panggilan agama.

Seperti seorang ksatria, pria yang disebut paling menggemari senjata granat RPG-7 itu, ikut berperang melawan Rusia pada 1983 dan 1991. Dalam dua pertempuran itu Omar terluka sebanyak empat kali dan kehilangan mata kanannya.

Berkat kegigihannyalah Omar pun dianugerahi gelar Amir Al-Mukminin, gelar yang diberikan kepada pemimpin yang saleh. Omar juga berjasa dengan mengambil alih kota Kabul dan mendirikan Islamic Emirate of Afghanistan.


Yang menarik dalam biografi tersebut, disebutkan Omar merupakan sosok yang sangat karismatik, yang selalu hidup dalam kesederhanaannya serta memiliki selera humor yang tinggi. Ia juga dikenal dengan kepribadiannya yang tenang, tak mudah emosi, ramah, dan rendah hati. Omar tidak memiliki rumah dan juga tak memiliki rekening bank asing.

Pada saat buku itu diterbitkan, Mullah Omar tak pernah diketahui keberadaannya. Namun ia dikatakan masih tetap berhubungan dengan berbagai peristiwa dan kehidupan sehari-hari di Afghanistan.

Departemen Luar Negeri Amerika Serikat bahkan menawarkan hadiah 10 juta dolar AS (dengan kurs Rupiah Rp 14.000 per US Dollar, setara dengan Rp 140 Miliar), bagi siapa saja yang bisa menemukan Mullah Omar. Ia belum pernah terlihat lagi sejak invasi pimpinan AS ke Afghanistan pada 2001. Mullah Omar dikenal sangat mendukung pemimpin Al-Qaidah, Usamah bin Laden.


Saat Amerika sibuk mencari Mullah Omar dan menawarkan hadiah bagi yang bisa menemukannya, ternyata pria pejuang Afghanistan itu tinggal tak jauh dari pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di Provinsi Zabul. Ini menjadi salah satu prank yang dilakukan Mullah Omar dan pasukannya kepada militer AS.

Cerita di atas terkuak dalam sebuah buku yang berjudul The Secret Life of Mullah Omar yang ditulis oleh wartawan Belanda, Bette Dam. Seperti dilaporkan BBC, Senin (11/3/21), dalam buku tersebut diceritakan bahwa Omar tidak pernah bersembunyi di Pakistan seperti yang diyakini oleh AS.

Adapun Omar bersembunyi di sebuah tempat yang jaraknya hanya tiga mil dari Pangkalan Operasi AS di Provinsi Zabul.

Rumah sederhana tempat tinggal Mullah Omar di Provinsi Zabul.

Bette Dam menghabiskan waktu sekitar lima tahun untuk melakukan riset dan mewawancarai anggota Taliban. Dia berhasil berbicara dengan Jabbar Omari yang merupakan pengawal Mullah Omar ketika dia bersembunyi, setelah tersingkirnya rezim Taliban pada 2001.

Omari menyembunyikan pemimpin Taliban tersebut hingga kematiannya karena sakit pada 2013. Setelah jatuhnya Taliban, Omar bersembunyi di sebuah ruang rahasia yang dekat dengan markas AS.

Dalam buku tersebut dituliskan, pasukan AS telah menggeledah satu per satu tempat tinggal di sekitar pangkalan mereka namun tidak menemukan tempat persembunyian Omar. Dia diketahui pindah ke sebuah gedung yang jaraknya hanya tiga mil dari pangkalan AS.

Mullah Omar (Taliban) dan Usamah bin Laden (Al-Qaidah).

Terkadang, Omar bersembunyi di terowongan irigasi untuk menghindari deteksi. Dia meninggal dunia pada 23 April 2013.

Mullah Omar tidak dapat menjalankan kelompok Taliban dari tempat persembunyiannya. Oleh karena itu, Omar menyetujui para pejabat Taliban untuk hadir di Qatar dalam upaya mengakhiri perang panjang di Afghanistan.

Buku The Secret Life of Mullah Omar diterbitkan dalam bahasa Belanda pada Februari 2019. Kini, ada juga edisi bahasa Inggris.

Didi Purwadi, Elba Damhuri
REPUBLIKA.CO.ID
Selasa, 17 Agustus 2021

Tuesday, October 2, 2012

Pidato Ahmadinejad di Sidang PBB ke-64


Bismillahirrahmanirrahim
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin.
Wasshalatu wassalamu ‘ala sayyidina wanabiyyina ‎Muhammad wa alihi al-thahirin wa shahbihi al-muntajabin.‎ Allahumman ‘ajjil liwaliyyikal faraj wal ‘afiata wan nashr. Waj‘alna min khairi ansharihi ‎wa a‘wanih walmustasyhadina baina yadaih.‎


Bapak ketua, rekan-rekan yang terhormat; bapak dan ibu hadirin sekalian.

Saya mengucapkan syukur kepada Allah yang Maha Besar atas kesempatan dapat hadir kembali di ‎forum dunia yang penting ini. Selama empat tahun lalu saya telah berbicara kepada Anda sekalian ‎mengenai problem utama dunia, sebab dan faktor-faktor asli munculnya problem ini, ‎kekuatannya dan pentingnya meninjau kembali pemikiran dan perbuatan para pemilik ‎kekuataan sekaligus solusinya. ‎

Ada dua aliran pemikiran yang saling bertentangan. Pertama, berdasarkan prinsip ‎mendahulukan kepentingan materialnya atas orang dan bangsa lain. Demi menguasai dunia dan ‎memaksakan kehendaknya terhadap bangsa-bangsa lain mereka memperluas ketidakadilan ‎dan kezaliman, kemiskinan dan penderitaan, agresi dan penipuan. Hasil dari cara pandang ini ‎menggambarkan keputusasaan dan masa depan yang kelam kepada manusia.‎

Kedua, berdasarkan prinsip keimanan kepada Allah yang Maha Esa dan mengikuti ajaran-‎ajaran para Nabi Ilahi. Aliran pemikiran ini menginginkan terciptanya dunia yang penuh ‎dengan rasa aman, bebas, sejahtera, perdamaian yang berkelanjutan berdasarkan keadilan dan ‎spiritual bagi seluruh umat manusia dengan tetap menghormati kemuliaan manusia dan cinta ‎kepada sesama. Sebuah aksi, yang menghormati setiap manusia, bangsa, budaya tradisional ‎yang tak ternilai, kebangsaan dan kemanusiaan, yang menuntut dihapuskannya diskriminasi ‎dari dunia dan kesetaraan semua di hadapan hukum yang berdasarkan keadilan dalam ‎memanfaatkan segala fasilitas, kesempatan belajar, kesempurnaan manusia dan kemajuan. ‎Cara pandang ini berusaha mewujudkan masa depan penuh harapan.‎

Saya berbicara tentang mendesaknya perubahan mendasar dalam cara pandang terhadap ‎dunia, manusia dan pentingnya menciptakan sistem yang adil dan insan yang baru demi ‎terciptanya esok yang cemerlang.‎

Saudara-saudara dan rekan-rekan sejawat.‎

Hari ini, sebagai kelanjutan dari pembicaraan saya yang dahulu, saya ingin menjelaskan ‎beberapa poin tentang pelbagi dimensi perubahan yang harus diwujudkan.‎


Poin Pertama
Situasi yang menguasai dunia saat ini jelas tidak mungkin dapat dilanjutkan. Kondisi sepihak ‎dan tidak diidamkan saat ini bertentangan dengan fitrah manusia dan bahkan bertentangan ‎dengan tujuan penciptaan dunia dan manusia. Kini tidak mungkin lagi menciptakan kekayaan ‎semu uang kertas dan menyuntik kekayaan tidak riil bernilai puluhan trilyun dolar kepada ‎ekonomi dunia. Setelah menciptakan defisit anggaran luar biasa, inflasi, problem ekonomi ‎dan sosial, apa yang dihadapi ini hendak dialihkan kepada negara-negara lain, bahkan ‎berusaha memindahkan kekayaan negara-negara lain kepada ekonomi negara-negara tertentu.‎

Mesin ekonomi kapitalis, kendali yang tercerai-berai, dengan sistem tidak adil telah berada di ‎ujung jalan, tidak dapat dipakai lagi dan tidak mampu mempertahankan keseimbangannya ‎yang hanya memiliki satu sisi.‎

Periode pemaksaan ide kapitalisme yang tak berperasaan, pemaksaan selera dan animo satu ‎kelompok khusus kepada masyarakat internasional, ekspansi hegemoni terhadap dunia ‎dengan nama globalisasi dan era kekaisaran, telah berakhir. Masa penghinaan terhadap ‎bangsa-bangsa dan pemaksaan politik standar ganda sudah tamat.‎

Bila dikatakan keberhasilan sebagian negara merealisasikan keinginannya sebagai satu-‎satunya tolok ukur ada atau tidak adanya kebebasan dan demokrasi; berada di bawah bendera ‎kebebasan dengan melakukan segala penipuan dan ancaman terburuk dicitrakan sebagai ‎demokrasi dan diktator dianggap demokrat; semua ini jelas buruk dan tidak memiliki ‎legitimasi. Sudah bukan zamannya lagi sebagian menjadikan dirinya sebagai definisi ‎demokrasi dan kebebasan, menganggap dirinya sebagai tolok ukurnya dan saat melanggar, ‎mereka meletakkan dirinya sebagai hakim dan eksekutornya. Sementara pada saat yang sama ‎mereka juga memerangi negara-negara yang berdasarkan demokrasi hakiki.‎

Namun penyebaran kebebasan global dan kesadaran bangsa-bangsa di dunia tidak akan ‎membiarkan terus watak tidak benar ini. Dengan alasan inilah mayoritas bangsa-bangsa, ‎termasuk rakyat Amerika menanti perubahan luas, dalam dan riil. Itulah mengapa mereka ‎menyambut baik slogan perubahan dan akan terus menyambutnya.‎


Siapa yang dapat menggambarkan kemungkinan berlanjutnya pemaksaan politik tidak ‎manusiawi di Palestina? Bertentangan dengan segala tolok ukur kemanusiaan, mereka ‎mengusir satu bangsa dari rumah-rumah mereka secara paksa di bawah todongan senjata dan ‎propaganda bohong selama 60 tahun. Mereka menyerang rakyat Palestina dengan segala cara ‎tidak manusiawi dan dengan peluru kendali, bahkan dengan senjata terlarang. Sebaliknya, mereka bahkan ‎merampas hak rakyat Palestina untuk membela diri. Lebih aneh lagi, di hadapan ‎ketercengangan masyarakat internasional, mereka malah menyebut agresor dan penjajah ‎sebagai pihak yang “cintai damai” dan “benar”, sementara rakyat yang terzalimi disebut “teroris”.‎

Bagaimana mungkin kejahatan para penjajah terhadap anak-anak dan wanita, perusakan ‎tempat-tempat tinggal, tanah pertanian, sekolah-sekolah dan rumah-rumah sakit mendapat ‎perlindungan mutlak sebagian negara, sementara para pria dan wanita tertindas yang ‎dianggap bersalah hanya dikarenakan membela rumah dan tanah airnya berada di bawah ‎blokade bahan pangan, air, obat-obatan dan pembersihan etnis. Bahkan diupayakan untuk ‎mencegah rekonstruksi bangunan-bangunan mereka yang rusak akibat agresi brutal 22 hari ‎rezim Zionis Israel, padahal musim dingin akan tiba. Para agresor dan pendukungnya ‎meneriakkan slogan membela hak asasi manusia, sementara pada saat yang sama ‎memanfaatkan slogan ini guna menekan pihak lain. Kini tidak dapat lagi diterima kelompok ‎minoritas dengan jaringan rumit disertai desain yang tidak manusiawi menguasai ekonomi, ‎politik dan budaya dunia. Mereka menerapkan perbudakan modern dan menjadikan martabat ‎seluruh bangsa dunia, bahkan Eropa dan Amerika sebagai korban ketamakan rasialisme.‎

Tidak dapat diterima bila sebagian yang berasal dari ribuan kilometer jauhnya dari kawasan ‎Timur Tengah, melakukan intervensi militer yang mengakibatkan terjadinya pembunuhan, ‎perang, teror, ancaman dan agresi. Namun sensitifitas bangsa-bangsa di kawasan akan nasib dan ‎keamanan nasionalnya, teriakan protes terhadap ketidakadilan, agresi dan dukungan mereka ‎kepada masyarakat sebangsa dan seagama yang tertindas disebut sebagai aksi perlawanan ‎terhadap perdamaian dan campur tangan urusan dalam negeri negara lain. Perhatikan dengan ‎baik kondisi yang terjadi di Irak dan Afghanistan!‎

Kini, tidak bisa lagi melakukan pendudukan militer terhadap satu negara dengan slogan ‎melawan terorisme dan narkotika, sementara produksi narkotika menjadi berkali lipat, ‎wilayah terorisme menjadi lebih luas, ribuan orang tak berdosa tewas, cidera dan mengungsi, ‎infrastruktur hancur dan keamanan regional terancam. Lucunya, para pelaku utama tragedi ‎kemanusiaan ini malah terus menuduh pihak lain sebagai pihak yang harus bertanggung ‎jawab.‎


Kini, tidak bisa lagi meneriakkan slogan persahabatan dan solidaritas kepada bangsa-bangsa ‎namun bersamaan dengan itu mereka memperluas pangkalan-pangkalan militer di dunia, ‎termasuk di Amerika Latin.‎

Kondisi yang ada tidak dapat dilanjutkan. Kini tidak mungkin logika militerisme mampu ‎memajukan politik ekspasi dan anti kemanusiaan. Logika kekuatan dan ancaman akan ‎memunculkan dampak yang lebih buruk dan menambah masalah yang telah ada.‎

Tidak dapat diterima bila anggaran belanja militer sebagian negara mencapai beberapa kali ‎lipat dari bujet militer seluruh negara di dunia; ekspor senjata yang pertahunnya mencapai ‎ratusan miliar dolar; penyimpanan senjata kimia, biologi dan nuklir; pembukaan pangkalan ‎militer dan pengerahan pasukan di pelbagai penjuru dunia; namun di saat yang sama mereka ‎masih menuduh pihak lain melakukan politik militerisme. Mereka berusaha menghalangi ‎kemajuan pengetahuan seluruh bangsa di dunia dengan menyalahgunakan fasilitas dunia dan ‎dengan mengangkat slogan-slogan bohong diantaranya slogan melawan perlombaan senjata.‎

Tidak dapat diterima bila Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) dan Dewan Keamanan PBB ‎yang semestinya berperan mewakili seluruh bangsa dan negara dan pengambilan ‎keputusannya berdasarkan sistem paling demokratis ternyata justeru berada di bawah kendali ‎dan pengaruh segelintir negara dan hanya melayani kepentingan mereka.‎

Pada prinsipnya, di dunia yang pemikiran, budaya dan opini publik menjadi faktor penentu, ‎kondisi seperti ini tak bisa dipertahankan. Harus ada tindakan nyata untuk melakukan ‎perubahan yang mendasar.


Poin Kedua
Perubahan harus dilakukan di dua ranah; ranah teori dan ranah praktis dalam struktur dan ‎metode secara mendasar.‎ Tidak mungkin mengubah kondisi yang ada dan menciptakan dunia yang ideal dengan ‎prinsip pemikiran dan metode yang menjadi penyebab utama semua problem masyarakat ‎manusia. ‎

Pemikiran Liberalisme dan Kapitalisme yang menghegemoni dunia, yang telah memisahkan ‎manusia dari akhlak dan “langit”, bukan hanya tidak membawa kebahagiaan kepada umat ‎manusia, tapi malah menjadi faktor kesengsaraan termasuk perang, kemiskinan dan ‎penderitaan. Semua menyaksikan bagaimana struktur ekonomi timpang yang berada di ‎bawah pengawasan kebijakan politik yang menggerus kepentingan bangsa-bangsa di seantero bumi demi ‎keuntungan sejumlah kecil pemodal tak bermoral.‎

Struktur politik dan ekonomi pasca Perang Dunia II yang dibangun dengan niat hegemoni ‎dunia sudah tidak mampu lagi menjamin keadilan dan keamanan yang berkelanjutan.‎

Para penguasa yang hatinya tidak pernah bergetar dengan cinta kepada manusia, bakal ‎mengorbankan ide keadilan dalam dirinya. Mereka tidak pernah memberikan hadiah ‎perdamaian dan persahabatan kepada umat manusia.‎

Sebagaimana Marxisme telah tumbang dan hanya dapat ditemukan dalam sejarah, dengan ‎pertolongan Allah, Kapitalisme juga akan bernasib sama. Karena berdasarkan Sunnah Ilahi, ‎yang disebut al-Quran sebagai prinsip, kebatilan bak melukis di atas air, bakal lenyap dan ‎hanya yang memberikan manfaat kepada manusia akan tetap dan langgeng. Semua harus ‎waspada betapa tujuan imperialisme, diskriminasi dan aksi tak manusiawi tidak ‎dapat diraih hanya dengan mengubah slogan semata-mata dan dengan paket usulan baru.‎

Dunia membutuhkan perubahan mendasar dan semua harus saling bekerjasama agar ‎perubahaan terjadi di jalur yang benar. Di bawah perubahaan mendasar ini tidak boleh ada ‎pengecualian baik pribadi maupun negara dan tidak ada yang lebih dibandingkan yang lain. ‎Tidak boleh terjadi ada pemaksaan keinginan hanya dengan mengklaim dirinya sebagai ‎pemimpin dunia.‎


Poin Ketiga
Penyebab utama segala problema masyarakat internasional adalah menjauhnya sebagian ‎penguasa dari moral, nilai-nilai kemanusiaan dan ajaran para Nabi Ilahi. Patut disayangkan ‎dalam mayoritas hubungan utama dunia, cinta, pengorbanan demi keselamatan dan ‎kebahagiaan orang lain, penekanan terhadap keadilan dan kehormatan manusia telah diambil ‎alih oleh egoisme, kerakusan yang tidak pernah puas dan kenikmatan individu yang tak ‎terbatas.‎

Penyembahan kepada Allah yang Esa telah diserahkan kepada penyembahan diri, bahkan ‎sebagian malah meletakkan dirinya pada posisi Tuhan. Tanpa memiliki kelayakan manusiawi ‎mereka bersikeras memaksakan apa yang dipahami dan diinginkannya kepada dunia. Kebohongan telah mengambil tempat kebenaran, kemunafikan di tempat kejujuran dan ‎egoisme menggantikan pengorbanan.‎

Tipu muslihat dalam berinteraksi disebut kecakapan dan diplomasi. Penjarahan kekayaan ‎negara lain disebut pembangunan dan pengembangan, penjajahan tanah air bangsa lain ‎diistilahkan pemberian hadiah kebebasan dan demokrasi, dan penindasan bangsa lemah ‎dianggap membela hak asasi manusia.‎

Saudara-saudara dan rekan-rekan yang terhormat.

Menyelesaikan masalah dunia dan menciptakan keadilan dan perdamaian hanya akan ‎terwujud dengan tekad dan solidaritas seluruh bangsa dan negara di dunia. Periode dua kutub ‎yang berasal dari sistem hegemoni dan kekuasaan beberapa negara atas dunia telah berakhir.‎

Hari ini kita harus bangkit dengan komitmen bersama menghadapi kondisi yang ada, ‎menindaklanjuti perubahan secara serius dan berusaha dalam partisipasi dan perjuangan ‎bersama agar kita semua dapat kembali pada nilai-nilai akhlak, manusiawi dan fitrah.‎

Para Nabi Ilahi dan orang-orang saleh diutus ke dunia untuk mengenalkan hakikat manusia ‎dan tanggung jawab individu dan sosial manusia.‎

Kesucian, iman kepada Allah yang Esa, Hari Perhitungan, penerapan keadilan di dunia dan ‎akhirat, pencarian kebahagiaan hakiki dalam kebahagiaan orang lain menggantikan ‎kedengkian dan egoisme, dan melayani orang lain sebagai ganti dari penguasaan atas orang ‎lain merupakan puncak ajaran para Nabi Ilahi dari Nabi Adam, Nuh hingga Ibrahim, Musa, ‎Isa dan Rasulullah Muhammad Saw, penutup silsilah para Nabi.‎

Mereka semua diutus untuk mencegah terjadinya perang, melenyapkan diskriminasi dan ‎kemiskinan, memberantas kebodohan dan menciptakan kemakmuran bagi seluruh umat ‎manusia. Bila pemikiran “penantian” akan datangnya pemerintahan yang terbaik dan pemerintahan dari orang-orang yang saleh ‎menjadi pemikiran global dan kita semua berusaha mewujudkannya demi kebahagiaan seluruh dunia, maka saat itulah ‎harapan akan perubahan menjadi lebih realistis dan lebih berkembang.‎


Poin Keempat
Menurut saya ada beberapa agenda penting di hadapan kita. Sekjen PBB dan Ketua Majelis ‎Umum PBB dapat menyusun program berdasarkan agenda tersebut dan menjadi pelopor ‎dalam mengambil langkah-langkah penting di jalan ini.‎

‎1. Perubahan struktur Perserikatan Bangsa Bangsa dan mengubahnya menjadi satu lembaga ‎yang sesuai dengan harapan masyarakat saat ini, netral, adil, berpengaruh kuat dalam hubungan internasional, termasuk perubahan ‎struktur Dewan Keamanan, penghapusan diskriminasi keistimewaan hak veto, pemberian ‎segera dan secara penuh hak-hak rakyat Palestina dengan menyelenggarakan referendum ‎yang bebas dan menjadi sarana bagi kehidupan harmonis antara umat Islam, Kristen dan Yahudi di ‎Palestina dan menghentikan intervensi di Irak, Afghanistan, Timur Tengah, Afrika, Amerika ‎Latin, Asia dan Eropa.‎

Pemerintahan yang kafir dapat diterima tapi tidak untuk pemerintahan yang zalim. Ini adalah ucapan Nabi ‎Muhammad Saw. Kezaliman dan pelanggaran HAM di Palestina seperti berlanjutnya ‎pengusiran warga Palestina pemilik asli tanah air Palestina yang tinggal di Baitul Maqdis, serta perusakan rumah-rumah oleh penjajah al-Quds. Demikian pula di Afghanistan dan Pakistan, kezaliman yang ‎serupa dilakukan lewat pengeboman udara dan kezaliman di penjara Guantanamo yang sangat disesalkan karena hingga kini belum ditutup. Belum lagi di penjara-penjara rahasia di Eropa.‎

Berlanjutnya kondisi seperti ini mengakibatkan semakin bertambahnya kedengkian dan ‎kekerasan. Kezaliman dan agresi harus dicegah. Patut disesalkan, bagaimana laporan-laporan ‎resmi terkait aksi-aksi brutal rezim Zionis Israel di Jalur Gaza tidak dipublikasikan secara ‎lengkap. Sekjen PBB yang terhormat punya kewajiban berat yang harus dilakukan. ‎Masyarakat internasional sudah tidak sabar menanti para agresor Gaza dan pembantai rakyat ‎yang lemah diadili dan dijatuhi hukuman.‎

‎2. Perubahan struktur ekonomi berdasarkan hubungan ekonomi yang etis dan manusiawi di ‎dunia demi melayani kebutuhan manusia berlandaskan keadilan yang kongkret. ‎Hubungan ekonomi yang mampu mengaktualkan potensi dan kemampuan bangsa-bangsa, ‎memberi hadiah kesejahteraan kepada seluruh umat manusia dan dapat menjamin kehidupan ‎bagi generasi mendatang.‎

‎3. Perubahan hubungan politik internasional, membangun hubungan berdasarkan perdamian ‎dan persahabatan yang berkelanjutan, mencabut sampai ke akar-akarnya perlombaan ‎senjata, mengakhiri politik destruktif, melucuti senjata nuklir, kimia, dan biologi, dan ‎mempersiapkan sarana bagi pemanfaatan teknologi modern dan damai demi kemajuan umat ‎manusia.‎

‎4. Perubahan struktur budaya, penghormatan kepada adat-istiadat dan tradisi bangsa-bangsa, ‎menyebarkan akhlak, spiritual dan memperkuat sendi-sendi keluarga yang hangat, langgeng ‎dan sejahtera sebagai tiang penyangga masyarakat yang bahagia.‎

‎5. Perhatian global terhadap upaya perlindungan lingkungan hidup manusia dan menjaga ‎undang-undang dan hukum internasional guna mencegah kerusakan kekayaan alam yang tak ‎dapat diperbaharui.‎


Poin Kelima
Bangsa Iran pasca pemilu presiden yang meriah dan benar-benar bebas telah menandai babak ‎baru kemajuan nasional dan interaksi luas dengan dunia, dan dengan suara mayoritas ‎menyerahkan tanggung jawab berat di pundak saya. Di sini saya mengumumkan kesiapan ‎bangsa Iran yang besar demi terciptanya peradaban dan negara Republik Islam Iran sebagai satu dari ‎pemerintah maju dunia yang paling demokratis untuk ikut secara aktif dalam sebuah program ‎yang adil dan berdasarkan prinsip saling menghormati demi menghilangkan kekhawatiran ‎dan problema umat manusia dengan memanfaatkan segala kapasitas budaya, politik dan ‎ekonominya.‎

Bangsa Iran adalah termasuk korban terbesar terorisme. Di dekade pertama ‎revolusinya yang sudah berumur tiga puluh tahun saat ini, Iran mampu menghalau invasi militer dari luar. ‎Bangsa kami selalu menjadi sasaran kebencian pihak-pihak yang suatu hari mendukung ‎agresi Saddam ke Iran bahkan mereka memanfaatkan senjata kimia saat itu, sementara di hari lainnya ‎mereka mengerahkan pasukan ke Irak dengan alasan ingin melenyapkan kejahatannya.‎

Bangsa Iran menginginkan dibangunnya dunia yang penuh dengan keindahan dan kasih ‎sayang bagi setiap bangsa dan seluruh umat manusia. Bangsa ini mengumumkan siap ‎melestarikan perdamaian dan keamanan bagi seluruh bangsa berdasarkan keadilan, ‎spiritualitas dan kehormatan manusia di samping upaya pembelaan dengan segenap kekuatan ‎atas hak-hak legalnya.‎

Demi terealisasinya semua tujuan ini, bangsa kami siap menyambut hangat tangan yang ‎diulurkan dengan jujur. Tidak ada bangsa yang merasa tidak membutuhkan perubahan dalam ‎melalui jalan kesempurnaan ini. Kami menyambut baik perubahan riil dan manusiawi, dan ‎siap berperan serta dalam perubahan dunia yang mendasar.‎

Berdasarkan hal ini saya menekankan;‎

Satu-satunya jalan keselamatan adalah kembali pada tauhid dan keadilan. Ini harapan dan ‎kesempatan terbesar di setiap masa dan generasi. Tanpa iman kepada Allah, komitmen ‎kepada pelaksanaan keadilan dan melawan ketidakadilan dan diskriminasi, sistem dunia tidak ‎akan terbentuk menjadi lebih baik.

Manusia adalah inti keberadaan sebuah sistem. Ciri khas manusia ada pada sisi kemanusiaannya. ‎Hakikat inilah yang menuntut akan keadilan, kesucian, cinta, ilmu, makrifat dan seluruh ‎kesempurnaan akhlak lainnya. Harus ada dukungan dan kesempatan bagi setiap manusia untuk ‎meraih nilai-nilai kemanusiaan ini. Menghapus satu dari dimensi hakikat ini sama artinya ‎dengan mennghapus kemanusiaan. Ini adalah unsur kolektif yang mengikat seluruh umat ‎manusia dan membentuk pondasi perdamaian, keamanan dan persahabatan.‎

Agama-agama Ilahi memperhatikan seluruh dimensi kehidupan manusia termasuk ‎penghambaan kepada Allah, akhlak, keadilan, melawan kezaliman dan berusaha menciptakan ‎pemerintahan yang adil dan saleh. Nabi Ibrahim as adalah penyeru tauhid di hadapan ‎Namrud, Nabi Musa as di hadapan Firaun dan Nabi Isa serta Nabi Muhammad saw berdiri ‎kokoh menghadapi orang-orang zalim di masanya. Sikap tegar mereka sampai pada tahapan ‎diancam mati dan diusir dari negerinya. Tanpa keteguhan dan protes, ketidakadilan tidak ‎akan tercerabut dari dunia.‎


Poin Terakhir
Rekan-rekan dan saudara-saudara yang tercinta.‎

Dunia saat ini tengah mengalami perubahan. Sesuai janji Allah kepada manusia, nasibnya ‎dibangun berdasarkan kehidupan thayyibah dan manusiawi. Akan tiba suatu masa di mana ‎keadilan akan berlaku menyeluruh dan global dan setiap manusia akan dihormati dan dimuliakan. Pada ‎saat itu jalan kesempurnaan spiritual manusia akan terbuka dan perjalanannya menuju Allah ‎dan manifestasi asma Allah bakal terwujud. Manusia harus sampai pada satu titik di mana ‎simbol ilmu dan hikmah, rahmat dan belas kasih, keadilan, kekuasaan dan kreativitas, ‎kedermawanan dan kemurahan semuanya berasal dari Allah, Pencipta alam semesta.

Semua ini bakal terwujud di bawah pemerintahan manusia sempurna, insan Ilahi yang ‎dipersiapkan untuk akhir zaman, keturunan Rasulullah saw; yakni Imam Mahdi (af). Beliau ‎akan datang untuk merealisasikan tugas besar dunia dengan diiringi Nabi Isa bin Maryam as ‎dan manusia-manusia suci lainnya. Inilah pemikiran “penantian”. Penantian kepemimpinan ‎segala kebaikan dan pemerintahan saleh. Sebuah pemikiran global, fitrah dan sumber harapan ‎bangsa-bangsa akan perubahan dunia.‎

Dengan bantuan manusia-manusia mukmin dan saleh, mereka akan mewujudkan kebebasan, kesempurnaan, kemajuan, keamanan, ‎ketenangan, perdamaian dan keindahan, bagi seluruh umat manusia. Mereka akan datang untuk memberangus perang dan ‎agresi dan menghadiahkan segala ilmu, spiritualitas dan persahabatan kepada dunia.‎

Sungguh benar, masa depan manusia yang cemerlang akan segera tiba.‎

Saudara-saudara, mari kita nantikan periode indah itu dan dalam komitmen bersama kita turut ‎memberikan sumbangsih yang selayaknya guna mempersiapkan sarana demi terciptanya ‎masa depan ini.‎

Hidup cinta dan spiritual …‎
Hidup perdamaian dan keamanan …‎
Hidup keadilan dan kebebasan …‎

Terima kasih kepada seluruh hadirin.‎

Wassalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.