Literasi algoritma bukan lagi masalah teknis. Ini adalah kompetensi kewarganegaraan baru di dunia digital: untuk membaca dan menilai bagaimana perhatian diarahkan, opini dibentuk dan preferensi dibangun secara halus. Tanpa literasi algoritma, generasi muda akan hidup di dunia rekomendasi otomatis. Apa yang terjadi pada musim politik, mayoritas pengguna medsos berpikir bahwa timeline mereka penuh dengan narasi yang didukung oleh kebanyakan orang, padahal itu hasil algoritma.
Kini, apa yang kita lihat sebagai realitas sebenarnya adalah efek dari ‘echo chamber’, ruang gema, di mana algoritma menghasilkan konten yang mirip dengan apa yang sebelumnya disukai atau dibagikan pengguna. Itu sebabnya ruang informasi menjadi cenderung homogen, tidak beragam. Orang menjadi semakin yakin bahwa pandangan kelompoknya mendominasi masyarakat. Hoaks kesehatan yang menyebar selama pandemi juga menunjukkan hal ini.
Konten emosional dan kontroversial lebih mungkin menjadi viral daripada informasi berbasis sains yang membutuhkan pemikiran tenang dan rasional. Jika kita menonton satu video teori konspirasi, jenis video itu akan terus disarankan selamanya. Dari sudut pandang psikologis, ini dapat menjadi masalah serius, karena kita menjadi rentan terhadap bias konfirmasi: kecenderungan percaya kepada apa yang kita dengar dan lihat. Algoritma memberi makan bias ini, menambah paparan informasi sejenis secara berkelanjutan.
Bagi remaja, kenyataan demikian tidak sekadar persoalan kognitif, tetapi juga emosional, dan bahkan psikologis. Masyarakat yang sangat bergantung pada media sosial cenderung pada perbandingan yang ekstrem. Anak muda merasa tertinggal secara finansial atau karier hanya karena apa yang dilihat adalah realitas yang dipoles. Jika dibiarkan, generasi mendatang mungkin hidup di dunia buatan yang tampak luas tetapi sebenarnya sempit dan dapat membatasi imajinasi masa depan.
Di era ekonomi digital, perhatian manusia merupakan komoditas bernilai tinggi. Jika seseorang melihat di layar lebih lama, berarti lebih berharga secara ekonomi. Algoritma dirancang untuk membuat pengguna tetap terlibat selama mungkin; sering kali dengan penekanan pada sentuhan emosi. Perasaan marah, takut, kagum, atau iri menciptakan interaksi digital. Secara teori, ini baik untuk bisnis, tetapi dalam praktiknya stabilitas emosional pengguna dapat terpengaruh tanpa mereka menyadarinya.
Fenomena ‘doomscrolling’ menjadi umum di kalangan anak muda Indonesia. Pola konsumsi informasi berubah. Mereka menghabiskan berjam-jam mencari hal-hal buruk: kekerasan, konflik sosial, dan bencana. Paparan informasi demikian dapat membawa kecemasan, kelelahan mental, dan kurangnya harapan untuk masa depan. Fenomena serupa adalah budaya viral yang juga dapat membuat pengguna berpartisipasi dan mendapatkan visibilitas instan dalam berita.
Masalah sebenarnya bukan pada teknologi, tetapi pada ketidakmampuan kita mempelajari informasi dengan cara yang lebih tepat. Generasi Z membutuhkan apa yang disebut psikologi sebagai jarak reflektif: yakni kemampuan untuk berhenti dan menarik napas sebelum bereaksi terhadap rangsangan digital. Literasi algoritma mengajarkan kita bahwa tidak semua yang trending layak diikuti. Sikap ini menumbuhkan kedewasaan dan kematangan dalam mengetahui apa yang informatif, manipulatif, atau hanya sensasional belaka.
Sekolah perlu melakukan lebih dari sekadar mengajarkan etika media kepada siswa. Mereka perlu dilatih tentang bagaimana data dikumpulkan, bagaimana sistem rekomendasi bekerja, dan mengapa bias ada dalam proses otomatis. Internet bukanlah tempat yang netral bagi semua pengguna, jadi diskusi kelas nyata membantu siswa memahami apa yang sebenarnya terjadi di balik gemerlap layar. Posisikan algoritma sebagai teman belajar, bukan penjajah.
Universitas juga perlu melatih mahasiswa untuk dapat membaca sistem secara kritis dan adaptif. Literasi algoritma tidak hanya harus diajarkan dalam program studi teknologi, tetapi juga menjadi pengetahuan lintas disiplin. Pendidikan, psikologi, dan ilmu sosial perlu dilibatkan untuk mempersiapkan mahasiswa dengan penalaran tajam menghadapi transformasi digital global. Bagaimanapun, pusat kendali harus dikembalikan kepada manusia, bukan mesin.
Dalam keluarga, dengan bahasa yang sederhana memiliki potensi untuk mengajarkan kesadaran digital kepada anak-anak sejak dini. Tidak perlu mengetahui kode pemrograman: Cukup tanyakan kepada anak-anak, “Mengapa konten ini muncul?” atau “Apakah ini fakta?” Percakapan demikian dapat mengarahkan pada metakognisi dan pemikiran autentik di era algoritmik. Namun, literasi tidak boleh berhenti pada penerimaan teknologi semata. Ada potensi besar untuk memanfaatkan algoritma secara efektif dan kreatif jika generasi muda tahu cara menggunakannya.
Kita bersyukur, tidak sedikit pendidik yang telah menggunakan sistem rekomendasi untuk menyebarkan konten pembelajaran, kesehatan mental, dan literasi keuangan. Media massa juga perlu meningkatkan jurnalisme untuk menggambarkan bagaimana berita digital disajikan kepada masyarakat umum dengan lebih terbuka. Transparansi bukan hanya tentang kredibilitas institusi; itu juga merupakan bagian penting dari pendidikan publik untuk mencegah orang terjebak dalam jaring informasi manipulatif.
Pada akhirnya, yang dibutuhkan sekarang ialah keseimbangan antara keterampilan teknis dan kedewasaan moral dalam penggunaan teknologi. Literasi algoritma harus menjadi proyek budaya jangka panjang bagi masyarakat digital. Generasi Z berada di ambang sejarah: untuk ditempatkan di tangan mesin atau makhluk yang mampu memanipulasinya secara sadar. Jika pendidikan, keluarga, dan ruang publik bersatu, algoritma tidak lagi menjadi kekuatan tak terlihat. Mereka dapat menjadi alat kemajuan demokratis untuk masa depan.
Khoiruddin Bashori
Psikolog di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta
MEDIA INDONESIA, 13 April 2026






No comments:
Post a Comment