Showing posts with label Rusia. Show all posts
Showing posts with label Rusia. Show all posts

Wednesday, March 16, 2022

Perang Rusia Vs Ukraina dan Butterfly Effect Ekonomi Dunia


Perang antara Rusia Vs Ukraina masih belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Namun yang pasti, efek perang mulai terasa ke berbagai negara, tidak terkecuali Indonesia.

Mengapa perang antara kedua negara itu dapat membuat harga bahan pangan di Indonesia naik? Kita mengenal istilah butterfly effect (efek kupu-kupu) yang diperkenalkan oleh Edward Norton Lorenz. Dia merujuk pada kepakan sayap kupu-kupu di hutan Brasil dapat menghasilkan tornado di Texas. Perubahan kecil sebuah kondisi pada saat awal, namun dapat mengubah secara drastis pada sebuah sistem dalam jangka panjang.

Butterfly effect juga terjadi pada sistem perekonomian dunia sebagai akibat perang. Tentunya perang bukan merupakan sebuah perubahan awal yang kecil. Perang merupakan sebuah perubahan awal yang signifikan. Pengerahan kekuatan militer yang besar juga diwarnai mobilisasi dana yang besar. Perang tidak hanya memakan korban manusia dan fisik, tetapi juga efek setelah perang yang besar. Pengungsian, kolapsnya sistem perekonomian, trauma perang dan juga efek radiasi persenjataan menjadi beban perekonomian.


Kita mengenal istilah global village. Kita sebagai manusia sebenarnya tinggal di sebuah desa global. Manusia saling terkoneksi antara satu dengan lainnya.

Sebagai ilustrasi, di sebuah desa tinggal beberapa keluarga. Pak Ahmad memiliki sebuah warung yang menjual bahan pokok berupa pangan. Pada suatu hari, Pak Ahmad bertengkar hebat dengan sang istri gara-gara makanan yang belum siap ketika Pak Ahmad hendak makan. Istri Pak Ahmad memutuskan tidak mau membantu menjaga toko. Pak Ahmad memutuskan untuk menenangkan diri dengan tidak membuka toko selama beberapa hari. Masyarakat di desa itu mengalami kesulitan membeli bahan pokok pangan akibat toko Pak Ahmad tutup.

Isu keharmonisan keluarga Pak Ahmad dengan cepat menyebar di desa tersebut. Isu itu berkembangan menjadi tidak terkendali dari kejadian sebenarnya. Akibat dari peristiwa ini, ibu-ibu di desa itu membela istri Pak Ahmad. Sedangkan bapak-bapak di desa itu membela Pak Ahmad. Hubungan keluarga di desa ini menjadi tidak harmonis karena kejadian keluarga Pak Ahmad. Anak-anak dari Pak Ahmad juga mengalami stres dan sekarang tinggal sementara di rumah adiknya Pak Ahmad. Keluarga adik Pak Ahmad juga mengalami kesulitan tempat tinggal karena ada tiga orang anak Pak Ahmad yang tinggal di sana.


Ibu-ibu telah memberlakukan sanksi kepada Pak Ahmad dengan tidak belanja di toko Pak Ahmad. Ibu-ibu membeli bahan pangan dari toko Pak Acong. Pak Acong mengalami kenaikan permintaan barang. Sedangkan toko Pak Ahmad menjadi sepi. Ibu-ibu juga melarang bapak-bapak membeli rokok di toko Pak Ahmad. Permintaan dan penawaran barang di desa ini menjadi tidak seimbang. Harga-harga barang utama mengalami kenaikan.

Pak Badu yang biasa mengantar barang dagangan ke toko Pak Ahmad juga terdampak lantaran semakin menurunnya omzet penjualan. Pak Ahmad mengalami kesulitan membayar utang kepada Pak Badu. Pak Badu mengalami kesulitan membayar utang kepada supplier. Akibatnya, Pak Badu juga mengalai kesulitan arus kas.

Cerita singkat di atas ingin menggambarkan bagaimana sebuah kejadian kecil dapat memiliki implikasi besar dan memengaruhi perekonomian. Harga barang dapat naik gara-gara sebuah kejadian kecil. Kepailitan perusahaan dan negara juga dapat terjadi.


Perang antara Ukraina dan Rusia yang diikuti dengan blokade dan sanksi perekonomian telah menimbulkan efek yang berat bagi ekonomi dunia. Ukraina memiliki GDP sebesar US$ 164,5 miliar dan Rusia memiliki GDP sebesar US$ 1.709,6 miliar. Dengan ukuran GDP saja, Ukraina dan Rusia telah menunjukkan besarnya pengaruh perekonomian kedua negara pada ekonomi dunia.

Beberapa negara telah memberlakukan sanksi ekonomi terhadap Rusia. Sanksi akan mengakibatkan keseimbangan permintaan dan penawaran terganggu secara global. Negara-negara tersebut tidak akan membeli barang dari Rusia. Beberapa perusahaan telah meninggalkan kegiatan bisnis di Rusia.

Perusahaan-perusahaan ini harus taat pada peraturan negara di mana dia berasal. Selain itu, perusahaan-perusahaan ini juga akan kesulitan untuk mengirimkan barang jualannya ke Rusia. Perusahaan ini akan mengalami gangguan kinerja dengan kebijakan itu. Kinerja yang menurun akan mengakibatkan kerugian pada investor yang telah menanamkan dananya di perusahaan-perusahaan ini. Efek penurunan kinerja ini akan berbeda-beda antara satu perusahaan dengan perusahaan lainnya. Penurunan kinerja secara massal akan mengakibatkan penurunan terhadap indeks saham gabungan di sebuah bursa efek.


Selain penurunan kinerja perusahaan, transaksi dengan kedua negara juga akan terpengaruh akibat perang dan sanksi. Transaksi ekspor dan impor yang telah ada harus dihentikan. Akibatnya, penawaran barang atau produk akan berkurang. Sebaliknya ada juga barang tertentu yang suplainya akan berlebihan karena permintaan yang berkurang akibat perang.

Perang antara kedua negara tidak hanya mempengaruhi perekonomian dan politik kedua negara, namun efek perang juga mempengaruhi negara-negara lain yang berada di sekitar area perang. Pengungsian, mobilisasi militer dan efek perekonomian akan mengganggu negara-negara sekitar area perang. Kita mengetahui bahwa Polandia menampung pengungsi. Belarusia melakukan mobilisasi militer di perbatasan. NATO juga melakukan mobilisasi kekuatan militer.

Kita juga mengetahui pengaruh perang ini terhadap kegiatan olahraga. Bahkan Roman Abramovich segera menjual klub sepakbola Chelsea akibat perang ini. Selain itu, berapa banyak rute pesawat dan rute kapal yang menghindari melewati daerah sengketa. Semua ini memiliki biaya ekonomi. Akibatnya, biaya transaksi menjadi mahal.

Dengan demikian, kita mengerti mengapa perang di Ukraina dan Rusia dapat mengakibatkan kenaikan harga barang-barang pangan dan sandang di Indonesia. Kita adalah sebuah masyarakat yang tinggal di sebuah global village. Gangguan pada sistem akan memberikan implikasi pada gangguan keseluruhan sistem yang ada. Hal ini dikenal dengan istilah systemic risk. Systemic risk merupakan salah satu risiko di industri keuangan. Janganlah kita berpikir bahwa perang di suatu tempat di muka bumi ini tidak akan mempengaruhi kehidupan di muka bumi lainnya.

Suwinto Johan
Dosen Fakultas Bisnis President University, memiliki pengalaman di industri keuangan lebih dari 25 tahun, dari Citibank (AS) hingga CIMB/Khazanah (Malaysia). Pernah memimpin dan menjadi direktur di beberapa perusahaan pembiayaan di Indonesia: Astra Group, Tifa Finance, Marubeni, dan Mandala. Dia alumnus doktor dari Sekolah Bisnis IPB University dan telah mempublikasi lebih dari 40 jurnal berakreditasi nasional dan international.

OPINI CNBC Indonesia
7 Maret 2022

Thursday, October 14, 2021

Diplomasi Taliban, Strategi atau Kolusi?


Banyak aktivis Islam yang bingung memahami diplomasi yang dilakukan Taliban pasca Amerika menarik mundur tentaranya dari Afghan. Taliban dianggap telah bermain mata dengan China, sebab China meminta Taliban untuk membantu meredam gejolak perlawanan di Uighur. Taliban juga bernegosiasi dengan Iran, yang nota bene negara Syiah musuh Ahlus Sunnah wal Jamaah. Taliban juga sebelumnya berkunjung ke Moscow yang banyak membantai muslim Suriah.

Artikel ini mencoba untuk menjelaskan apakah yang dilakukan Taliban itu sebuah pengkhianatan terhadap prinsip-prinsip Islam dan umat Islam di belahan dunia lain? Ataukah hanya sebuah diplomasi yang jamak dilakukan oleh siapapun demi mendapatkan keuntungan strategis dalam upaya mendirikan negara atau merawat kekuasaan?

Afghanistan menyongsong fajar baru Taliban.

Taliban Mencuri Perhatian
Setelah AS secara fakta menghentikan misi di Afghanistan pada akhir Juli 2021 dan secara resmi pada 11 September 2021, Taliban kembali mencuri perhatian. Betapa tidak, 20 tahun lalu Taliban luluh lantak oleh serbuan mesin perang AS dan sekutunya, kini Taliban kembali menjadi kekuatan besar yang dianggap paling siap untuk mengendalikan Afghanistan. Satu demi satu desa dan kota berhasil direbut dari cengkeraman pemerintah boneka. Sebelumnya sang boneka begitu kuat karena disuplai tenaga oleh induknya, kini setelah sang induk pergi, kembali menjadi kerangka tanpa daya.

Taliban terbukti solid dan punya jaringan luas di seluruh penjuru Afghan. Taliban dimusuhi oleh AS dan sekutu yang karenanya seluruh dunia ikut memusuhinya, tapi Taliban dicintai oleh masyarakat Afghan, setidaknya bagi yang pernah merasakan keamanan di bawah kekuasaannya dahulu. Taliban terbukti lebih efektif dan efisien dalam menangani berbagai keluhan masyarakat. Terutama soal kriminalitas. Polisi pemerintah cenderung korup sehingga tak punya komitmen menyelesaikan permasalahan masyarakat. Sebaliknya pejuang Taliban lebih sigap sehingga dipercaya dan dicintai masyarakat.

Taliban punya pendekatan andalan dalam mencuri hati rakyat, yaitu penegakan hukum menggunakan syariat Islam. Pendekatan ini sangat mujarab di tengah masyarakat yang resah dan nyaris putus asa dengan kekacauan yang berlarut-larut. Masyarakat merasakan manfaat nyata di balik penegakan hukum Islam ini. Kriminalitas bisa dibasmi, masyarakat kembali hidup dengan aman. Kesuksesan ini membuat masyarakat sendiri yang kemudian minta kehadiran Taliban di wilayah mereka agar bisa meredam kriminalitas dan mengembalikan keamanan.


Jika di tengah masyarakat terdapat provokator yang menolak penegakan syariat dan menolak kehadiran Taliban, barulah Taliban bergerak menggunakan kekuatan. Para provokator disikat dengan senjata, demi menghilangkan gangguan penegakan syariat di tengah masyarakat. Inilah jurus kedua yang ditakuti para kriminal yang mengail di air keruh.

Dua mata pisau ini sangat efektif meluaskan kekuasaan Taliban di Afghan. Tentu saja dikombinasi dengan jurus ketiga, yakni edukasi alias dakwah secara persuasif kepada masyarakat. Sebab nama Taliban sendiri mencerminkan itu. Taliban artinya santri, yang sudah pasti sangat perhatian dengan ilmu dan dakwah. Ketika masyarakat tercerahkan ilmu syariat, banyak persoalan yang bisa diselesaikan dengan mudah. Tidak lagi debat kusir, tapi sudah ada hakimnya, yaitu ilmu.

Sebetulnya pendekatan ini bukan cara baru bagi Taliban. Mereka sudah melakukannya sejak tahun 90-an ketika Afghan kacau akibat konflik internal pasca hengkangnya penjajah Uni Sovyet dari Afghan. Para mantan komandan yang punya banyak pengikut saat jihad melawan Uni Sovyet saling berebut kekuasaan. Akibatnya, rakyat jadi korban. Rakyat tak terurus. Kriminalitas merajalela, hukum rimba berlaku secara liar. Kemenangan jihad yang digadang-gadang menjadi fajar baru yang cerah, demi lahirnya kedamaian dan keamanan bagi umat Islam, ternyata jatuh menjadi konflik internal yang kronis dan nyaris melumpuhkan seluruh sendi masyarakat.

Mullah Omar pemimpin Taliban yang legendaris.

Dalam kondisi seperti itu, tiba-tiba muncul sosok unik yang punya gagasan out of the box dalam menyelesaikan kekisruhan. Bukan dengan perang, tapi dengan pendekatan dakwah dan penegakan hukum syariat yang jujur. Karena rakyat sejatinya sudah letih berperang.

Namanya Muhammad Umar. Dipanggil mullah karena keulamaannya. Seperti kyai di Indonesia. Ia menghimpun murid-muridnya untuk bergerak membasmi kriminalitas dan menegakkan hukum syariat di lingkungan mereka. Karenanya nama kelompok ini Taliban –perkumpulan santri.

Prakarsa yang mereka lakukan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Berawal dari lingkup kecil, lama-lama meluas. Awalnya hanya di wilayah Kandahar, kemudian menyebar ke seluruh Afghan. Sampai akhirnya pemerintahan Afghan berhasil diambil alih. Tentu saja perkembangan ini membuat Barat cemas. Jika tak dibendung, bukan hanya tanah Afghan yang dikuasai, bisa saja akan meluas ke negara-negara tetangganya, dan tentunya akan makin sulit dijinakkan.


Ujian Bernama Al-Qaeda
Tahun 2001 menjadi momen bersejarah. Pada 11 September 2001 terjadi serangan terhadap Amerika. Dua menara kembar WTC dihajar pesawat penumpang hingga terbakar dan runtuh. Juga gedung Pentagon, meski tidak banyak kerusakan yang terjadi.

Amerika sebagai imperium penguasa dunia murka sejadi-jadinya. Osama bin Laden sang pemimpin Al-Qaeda dituding sebagai otak pelaku. Padahal ia berada di Afghanistan yang saat itu dikuasai Taliban. Amerika memberi ultimatum kepada Taliban agar menyerahkan Osama bin Laden dan seluruh tokoh Al-Qaeda yang bersembunyi di Afghan. Jika tidak, Taliban akan dihajar. Mullah Umar –sang pemimpin Taliban– menolak ultimatum tersebut. Akibatnya bisa ditebak, mesin perang Amerika dan sekutunya dikerahkan untuk menggulingkan Taliban dan menghancurkan seluruh pelosok Afghan.

Afghanistan luluh lantak. Taliban jatuh. Sejak saat itu penjajahan dimulai. Kemarahan Amerika kepada Al-Qaeda dilampiaskan dengan membantai rakyat Afghan yang dianggap melindunginya. “Kesalahan” Taliban hanya satu, menolak menyerahkan orang yang dituduh Amerika sebagai otak pelaku. Sementara Taliban sendiri bukan pelaku, apalagi rakyat Afghan.

Namun Taliban meski ditumbangkan dari kekuasaan, mereka masih solid di desa-desa dan gunung-gunung. Inilah karunia Allah untuk Afghan, konturnya ekstrim, sehingga mesin perang paling canggih sekalipun kesulitan untuk menyapu seluruh kawasan. Benteng alaminya terlalu banyak dan sulit ditaklukkan.

Pemimpin Al-Qaeda, Osama bin Laden.

Para pejuang Taliban sabar menjalani ujian ini. Mereka tetap semangat menjaga ruh jihad. Sambil bertahan dari gempuran Amerika, mereka menancapkan pengaruh di masyarakat pedesaan yang jauh dari jangkauan pemerintah boneka. Keadaan ini membuat Afghanistan terbelah, ada wilayah yang dikontrol Taliban terutama di pedesaan, ada wilayah yang dikendalikan pemerintah boneka terutama di kota-kota.

Pertanyaan masih tersisa, mengapa Taliban bersikeras menolak menyerahkan Osama bin Laden kepada Amerika padahal terancam akan dibumi-hanguskan oleh Amerika jika menolak? Osama juga bukan warga pribumi Afghan. Ia dan para mujahidin Arab hanyalah warga pendatang. Mengorbankan segelintir orang apalagi pendatang demi keamanan jutaan orang lain apalagi pribumi bukankah sebuah pilihan yang wajar?

Sikap Taliban ini menarik dikaji. Pemahaman terhadap cara berpikir dan sikap Taliban terkait Osama bisa dijadikan sebagai barometer untuk memahami sikap Taliban di kemudian hari. Salah satunya, saat Taliban berkunjung ke China dan melakukan diplomasi di sana. Juga diplomasi dengan Rusia dan Iran.


Ada beberapa alasan yang agaknya menjadi pertimbangan Mullah Umar memilih sikap menolak menyerahkan Osama bin Laden kepada Amerika.

Pertama, Osama muslim, Taliban juga muslim. Saudara seiman pantang dijual kepada orang kafir untuk dipenjara atau dibunuh. Jangankan menjual nyawanya, mencelanya saja dilarang. Catat, Taliban sangat komitmen terhadap aturan yang ada dalam ilmu syariat.

Kedua, Osama dan para mujahidin Arab punya rekam jejak bagus dalam membantu umat Islam Afghan melawan penjajah kafir –Uni Sovyet. Mullah Umar terikat akhlaq Islam, berterima kasih dan membalas budi orang yang pernah membantu. Menjual Osama kepada musuh (kaum kafir) sama saja dengan “habis manis sepah dibuang”. Catat, Taliban menjunjung tinggi akhlaq Islam.

Ketiga, Amerika mengancam (memberi janji) untuk membumi-hanguskan Afghan, tetapi Allah memberi janji akan menolong hamba-Nya sepanjang hambanya menempuh jalan lurus dan membela agama-Nya. Mullah Umar lebih yakin janji Allah dibanding janji Amerika. Karenanya dengan tawakkal kepada Allah, memutuskan menolak permintaan Amerika. Catat, Taliban berpegang kuat pada prinsip aqidah Islam.

Keempat, secara teori fiqh, menjual nyawa mukmin demi menyelamatkan nyawa mukmin yang lain itu tidak boleh dalam Islam. Sebab antara satu nyawa muslim dengan nyawa muslim yang lain posisinya sejajar dan harganya sama. Dalam kasus ini, menjual nyawa Osama bin Laden demi menyelamatkan nyawa ribuan muslim Afghan tidak dibenarkan dalam Islam. Sebab meski jumlahnya berbeda, keduanya sama derajatnya di hadapan Allah. Seandainya Islam membenarkan nyawa dijadikan tumbal nyawa, tentu hal ini akan dijadikan sebagai permainan oleh para penguasa yang gila kekuasaan. Catat, Taliban berpegang pada teori fiqh.


Apa yang ditunjukkan Taliban dalam situasi genting seperti ini bisa dijadikan tonggak barometer untuk memahami prinsip politik Taliban dalam situasi yang lebih mudah di kemudian hari. Garis politik Taliban yang dapat kita simpulkan dari sikapnya tersebut bisa dirinci dalam poin-poin berikut:

Pertama, Taliban tidak berpaham nasionalisme, terbukti berani menanggung resiko berat pada bangsanya sendiri justru karena membela orang asing –Osama bin Laden dan mujahidin Arab lain. Taliban sangat kuat memegang panji keumatan, bukan panji kebangsaan.

Kedua, Taliban komitmen dengan ilmu syar’iy. Bagi Taliban, politik dikendalikan oleh ilmu syar’iy bukan sebaliknya ilmu syar’iy dikendalikan oleh politik.

Ketiga, Taliban setia pada ikatan keimanan. Landasan politiknya iman. Taliban menolak bersekongkol dan berkolusi dengan musuh Allah dan musuh orang-orang beriman, dalam hal ini Amerika, dengan cara mengkhianati teman sendiri sesama mukmin.


Keempat, Taliban tidak mensakralkan solusi politik, juga tidak mensakralkan solusi jihad. Ada kalanya solusinya politik, ada kalanya solusinya jihad bersenjata. Ketika Amerika memaksa perang, dilayani dengan jantan oleh Taliban. Apa yang mereka tunjukkan saat ini dengan melakukan kunjungan ke China, menggambarkan Taliban sudah dewasa. Bagi Taliban, diplomasi politik dan jihad bersenjata adalah dua instrumen yang bisa digunakan sesuai kebutuhan.

Kelima, Taliban ingin menjayakan Islam dan umat Islam, bukan menjayakan bangsa Afghan. Meski Taliban duduk mewakili bangsa Afghan, tapi yang menjadi panglima tetap ilmu syariat dan panji keislaman, bukan nasionalisme nan jahiliyah. Bagi Taliban, persatuan Afghan diadopsi seperlunya untuk menjayakan Islam dan umat Islam, bukan kebalikannya Islam diadopsi seperlunya demi kejayaan bangsa Afghan.

Poin-poin ini sangat berguna untuk membantu memahami diplomasi yang dilakukan Taliban dalam kancah global. Seperti yang mereka lakukan saat ini, bernegosiasi dengan Iran, Rusia, China dan negara-negara lain. Sebelum itu, delegasi Taliban juga sudah mengunjungi Jakarta, tahun 2019 lalu.


Rekam Jejak Sebagai Basic Penilaian
Islam punya konsep niat, yaitu motif dan tujuan yang dicanangkan di awal kegiatan. Ibadah akan dinilai oleh Allah sesuai niatnya. Perjalanan seseorang juga sangat terkait dengan niat awal sebelum melangkahkan kakinya. Awal dari sesuatu akan menentukan proses susudahnya dan perjalanan yang ditempuhnya hingga tujuan. Niat (titik awal), tengah perjalanan dan tujuannya memiliki korelasi kauniyah ajaib yang kerap tak disadari. Ketiganya saling mempengaruhi.

Misalnya, jika di tengah perjalanan terjadi pembelokan dari niat awal, sebuah perjalanan biasanya akan bubar tidak sampai tujuan. Tapi jika terjadi pembelokan dari niat awal, lalu ada upaya untuk mengoreksi dan mengembalikan ke niat awal, perjalanan akan berlanjut dan berumur panjang hingga mencapai tujuan. Inilah sunnah kauniyah yang perlu dipahami terutama oleh para aktifis.

Korelasi ini bisa dijadikan sebagai salah satu alat untuk membaca alur perjalanan seseorang atau kelompok. Terhadap Taliban misalnya, pemahaman kita terhadap perjalanan Taliban saat ini bisa disimpulkan melalui bagaimana Taliban dahulu didirikan. Apa prinsip dan ideologi yang dijadikan haluan. Sepanjang tidak terdengar intrik pembelokan, berarti Taliban sekarang bisa disimpulkan sama dengan Taliban saat awal didirikan.

Teori kauniyah ini penting untuk menepis rumor dan kampanye hitam yang dilemparkan musuh kepada Taliban. Misalnya Taliban dinarasikan menerima syarat yang diajukan China untuk membasmi kelompok perlawanan Uighur sebagai harga dukungan China terhadap Taliban. Narasi ini janggal, sebab Uighur berada di wilayah China, bagaimana cara Taliban membasminya? Selain itu, jika kelompok perlawanan itu berbasis Islam (baca: jihad), track record dan niat awal Taliban yang meniti jalan dakwah dan jihad tidak mungkin menerima klausul seperti itu. Kecuali jika Taliban telah mengalami pembelokan serius dari khittah awal pendiriannya.


Teori ini ada pembandingnya dalam Al-Quran. Yaitu saat Aisyah ra dituduh berzina hanya dengan bukti sumir ia naik onta dan ontanya dituntun oleh seorang Sahabat. Narasi bahwa Aisyah ra selingkuh buktinya lemah (meragukan) karenanya harus dibatalkan oleh fakta bahwa Aisyah ra sejak kecil menjaga kesucian, lahir dari keluarga baik-baik dan berstatus istri Nabi saw serta tidak pernah terdengar isu miring sebelumnya yang menimpa Aisyah ra. Karena itu, track record ini meyakinkan, tidak bisa dibatalkan oleh tuduhan yang meragukan alias masih asumsi.

Taliban didirikan dengan niat menegakkan hukum Allah di tengah umat. Niat awal ini akan terus mengiringi perjalanan Taliban. Kecuali jika Taliban mengumumkan secara resmi bahwa mereka sudah berubah haluan menjadi partai politik yang sekedar mencari kekuasaan. Selama para tokoh Taliban masih konsisten dengan niat awal, apapun sepak terjang mereka dalam diplomasi politik perlu dipahami dalam bingkai niat awal tersebut. Sebab niat awal adalah tonggak kokoh, hanya bisa diabaikan jika muncul tonggak baru yang menggantikan tonggak lama.

Taliban juga sudah kenyang ditarbiyah selama 20 tahun dalam perang panjang melawan kekuatan terbesar dunia. Semua senjata paling canggih dikerahkan, tapi tak mempan juga untuk mencerabut Taliban dari bumi Afghan. Alih-alih tercerabut, Taliban justru mengakar lebih kuat. Tarbiyah ketegaran dan kesabaran panjang ini juga layak dijadikan barometer dalam melihat Taliban.

Dalam konflik panjang dan berdarah ini mereka ditarbiyah dengan izzah Islam. Nyawa mereka dikorbankan demi Islam. Harta mereka dibelanjakan demi Islam. Tenaga dan keringat mereka dikeluarkan demi Islam. Karenanya, Islam pasti mengakar begitu kuat di sanubari mereka. Tak akan mudah digeser oleh nasionalisme Afghan yang sempit.


Tarbiyah yang dialami Taliban terbilang komplit. Taliban berawal dari kelompok kecil, meluaskan kekuasaan dengan ilmu dan peradilan Islam. Ini adalah tarbiyah dalam dakwah. Taliban pernah merebut kekuasaan dan mengelola negara sebelum dihajar Amerika. Ini adalah tarbiyah kekuasaan. Taliban pernah kehilangan kekuasaan itu, kembali bergerilya di hutan dan gunung selama 20 tahun. Kini peluang merebut kembali kekuasaan itu terbuka menyusul hengkangnya Amerika. Ini adalah tarbiyah bagaimana bangkit dari kekalahan dan tarbiyah dari jihad yang pahit.

Dalam seluruh babak tersebut, Taliban konsisten dibimbing ilmu. Jihadnya dipandu ilmu. Peradilan syariatnya dipandu ilmu. Dakwahnya dipandu ilmu. Dan kini diplomasinya juga dipandu ilmu. Tentu sebagai manusia biasa, di sana-sini terdapat kekurangan itu normal. Tapi secara global, in sya-Allah baik. Hingga saat ini kita masih melihat Islam menjadi warna dominan dalam sepak terjang Taliban.

Niat awal dan tarbiyah panjang puluhan tahun dengan menjunjung tinggi Islam dan umat Islam, dengan kawalan ilmu syar’iy yang kuat, agaknya bisa dijadikan jaminan bahwa Taliban sampai saat ini masih berjalan di haluan yang sama dengan apa yang dicanangkan sang pendiri –Mullah Umar. Jika ada tuduhan miring yang dialamatkan kepada Taliban, terpatahkan dengan sendirinya oleh konsistensi mereka dalam menempuh jalan jihad yang amat terjal selama dua dekade lebih, panduan ilmu sepanjang perjalanan mereka dan tonggak niat yang dicanangkan pendirinya. Karenanya, tak sepatutnya kita di sini yang statusnya hanya penonton berburuk sangka kepada Taliban, hanya karena melakukan sejumlah agenda diplomasi dengan China.


Diplomasi dan Kekuasaan
Bicara tentang kekuasaan pada level negara, tak bisa dipisahkan dari diplomasi dan negosiasi politik. Apalagi dalam tahap awal pendirian. Ibarat bayi yang masih merangkak, perlu sokongan negara lain untuk bisa berdiri dan berjalan.

Nabi Muhammad saw memberi contoh bagaimana mempraktekkan diplomasi dalam kerangka mendirikan negara. Tentu saja berdiplomasi dengan musuh Islam. Baik diplomasi yang berakhir dengan kesepakatan tertulis (surat perjanjian) maupun tidak.

Nabi saw setelah tiba di Madinah, segera mengunci pergerakan Yahudi dengan sebuah perjanjian. Orang biasa menyebutnya Piagam Madinah. Isinya, klausul bahwa antara umat Islam penduduk Madinah dengan Yahudi penduduk Madinah terikat dalam satu kesatuan. Jika ada musuh dari luar Madinah, menyerang kota Madinah, siapapun yang diserang baik muslim maupun Yahudi, seluruh warga Madinah harus bersatu padu untuk melawan.

Klausul perjanjian ini dilakukan Nabi saw untuk meredam potensi Yahudi menjadi ancaman bagi masyarakat muslim yang baru tumbuh di Madinah. Pada saat yang sama Nabi saw fokus menghadapi musuh utama, yaitu kekuatan Quraisy sebagai kelanjutan perseteruan semasa di Makkah. Jika Nabi saw menjadikan Yahudi dan Quraisy sebagai dua musuh sekaligus dalam waktu yang sama, tentu Nabi saw akan kewalahan. Satu petarung meski hebat akan sangat sulit mengalahkan dua lawan sekaligus, apalagi ketika masih lemah dan merangkak. Karenanya, Nabi saw menyicilnya satu per satu, tidak semuanya dijadikan musuh sekaligus.


Nabi saw fokus menghadapi musuh jauh di Makkah dengan senjata, sambil meredam musuh dekat dengan diplomasi dan perjanjian. Ketika Quraisy berhasil dijinakkan dengan senjata, barulah urusan Yahudi dibereskan, itupun karena dipicu pengkhianatan Yahudi sendiri yang bersekongkol dengan kaum kafir. Pada fase yang lain, Nabi saw menghadapi Quraisy dengan perjanjian, yaitu Hudaibiyah. Dalam perjanjian ini Nabi saw membelenggu Quraisy sambil fokus menyebarkan dakwah ke berbagai penjuru.

Dengan demikian perang atau perjanjian hanyalah sarana untuk meraih kemenangan. Perang dan perjanjian sama-sama instrumen politik. Kepala negara bisa menggunakan keduanya sesuai kebutuhan situasi, demi kemaslahatan negaranya. Dalam konteks politik Islam, maka maksud dan tujuannya adalah demi kemaslahatan Islam dan umat Islam.

Karena itu, diplomasi yang dilakukan Taliban dengan Rusia, China dan Iran hanyalah cara yang dipilih Taliban untuk meredam musuh eksternal atau musuh jauh. Pada saat yang sama, Taliban fokus menyelesaikan musuh dalam negeri atau musuh dekat, yaitu pemerintah boneka yang disokong penjajah. Jika kita bandingkan, cara yang ditempuh Taliban ini sama persis dengan cara Nabi saw pada fase awal membangun negara di Madinah. Perbedaannya, Nabi saw fokus pada musuh jauh yakni Quraisy Makkah, sambil meredam musuh dekat yakni Yahudi. Sementara Taliban kebalikannya, meredam musuh jauh, sambil fokus menghadapi musuh dekat.

Taliban melakukan diplomasi demi mengamankan agenda mendirikan negara Islam di Afghan tanpa direcoki pihak eksternal. Sementara banyak aktivis Islam di Indonesia berharap Taliban melakukan sesuatu yang sesuai perasaan hatinya yang sedang sensi dengan China, apalagi China juga melakukan kejahatan kepada muslim Uighur. Taliban melakukan sesuatu dengan alasan internal mereka sendiri, sementara penonton menilai Taliban dengan perasaan hatinya sendiri. Jelas tidak nyambung.


Momentum Taliban
Harus diakui, negara terkuat saat ini masih Amerika Serikat. Meski muncul kekuatan penantang yang potensial, China. Kemunculan China menjadi berkah tersendiri bagi Taliban.

Amerika saat ini sudah menemukan musuh potensial yang akan dijadikan sebagai common enemy bagi rakyatnya. Siapa lagi kalau bukan China. Secara ekonomi China sudah sangat kuat, hampir mengalahkan kekuatan ekonomi Amerika. Secara militer, China agresif meluaskan basis kekuatan. Secara politik, China juga pelan tapi pasti menginvasi negara-negara lemah, misalnya negara-negara Afrika. Apalagi didukung jumlah penduduk yang sangat besar, wilayah yang luas dan kepemimpinan yang solid.

Amerika lalu mengalihkan permusuhannya kepada China, yang sebelumnya kepada Islam. Jika laut China selatan dijadikan barometer, kehadiran kapal perang dan kapal induk Amerika dan negara-negara sekutu di sana akhir-akhir ini jelas mengindikasikan China telah resmi didapuk sebagai musuh bersama.

Sudah agak lama Al-Qaeda tidak lagi mengisi berita utama di surat kabar dunia. Tidak lagi terdengar pengeboman atau serangan mematikan terhadap Barat yang dipamerkan Al-Qaeda. Bisa jadi ini sebuah strategi yang sengaja dipilih Al-Qaeda. Bisa juga indikasi melemahnya jaringan Al-Qaeda. Berita tentang konflik Suriah juga mereda, meski perang masih terus berlanjut. Kondisi ini turut mendorong Amerika tidak lagi fokus pada gerakan jihad global. Tapi lebih fokus menghadapi China dan sekutunya.

Panggung utama pertunjukan dunia diisi konflik Amerika vs China, bukan lagi AS vs Al-Qaeda. Taliban mendapat berkah dari situasi ini. Amerika merasa tidak perlu lagi untuk mengeluarkan biaya dan tenaga besar untuk menjinakkan jihadis, toh musuhnya kini bergeser menjadi China. Karena itu, AS tak ragu untuk meninggalkan Afghanistan.


Apalagi jika ditilik secara geografis. Afghanistan berbatasan langsung dengan China dan Iran. Juga tak jauh dari Rusia. China adalah sahabat tradisional Rusia, sejak awal kemunculan Komunisme. Demikian pula Iran, cenderung merapat ke China dan Rusia dibanding ke AS. Jika AS mengeluarkan biaya besar untuk meredam Afghan, yang mendapat keuntungan langsung adalah tiga negara tersebut. Mereka aman dari potensi gangguan dari jihadis di Afghanistan, sementara biaya meredamnya yang menanggung AS. Padahal tiga negara tersebut berstatus musuh utama AS saat ini.

Tiga negara fokus menghadapi AS dan sekutu, sementara AS sibuk menghadapi tiga negara tersebut. Taliban? Seperti terlupakan. Inilah situasi dan kondisi secara kauniyah yang menguntungkan Taliban. Mirip sekali dengan situasi dan kondisi jazirah Arab pada zaman Nabi saw di tengah konflik keras antara Romawi vs Persia. Jazirah Arab seperti terlupakan. Sampai kemudian Islam hadir di jazirah Arab, tumbuh di lingkungan yang relatif bersih dari intervensi kekuatan super pada zamannya, lalu menaklukkan musuh-musuh lokal, barulah kemudian Romawi dan Persia terkejut karena kekuatan Islam tiba-tiba sudah demikian kuat dan tak lama kemudian berhasil menyapu dua imperium tersebut.

Inilah bedanya Islam dengan agama Nasrani. Islam tumbuh di tempat yang netral dari intrik politik negara kuat, sementara Nasrani lahir dan tumbuh di tengah hegemoni Romawi. Palestina adalah salah satu wilayah penting yang dikuasai Romawi, meski bukan ibu kotanya. Karena itu, Nasrani mendapat intervensi kuat dari politik Romawi. Ditambah persekongkolan Yahudi dengan para politisi Romawi. Sementara Makkah, hanya mendapat intervensi dari kekuatan lokal yang relatif kecil pada awal pertumbuhannya, yaitu kabilah Quraisy.

Taliban saat ini seperti mendapat momentum yang sama. Dua kekuatan utama dunia saling bersaing, Taliban terabaikan, karenanya bisa fokus konsolidasi internal dalam bentuk yang paling jernih. Inilah momentum Taliban untuk menguasai Afghanistan secara penuh dan menegakkan hukum Allah dengan jernih tanpa intervensi dari luar. AS juga tidak keberatan mengakui legalitas kekuasaan Taliban kelak, sebab Taliban dianggap bukan lagi ancaman terdekat bagi AS. Kalaupun dianggap ancaman, masih sangat jauh bagi AS, dan yang lebih layak khawatir justru China, Iran dan Rusia karena secara geografis lebih dekat.


Kemenangan Politik Taliban
Melihat momentum ini, Taliban buru-buru melakukan diplomasi ke tiga negara ini. Taliban mengirim delegasi untuk menemui mereka, di wilayah mereka.

Ibaratnya, Taliban mencuri start, dibanding pemerintahan boneka. Delegasi Taliban diterima. Penerimaan ini saja merupakan keuntungan politik. Sama artinya tiga negara tersebut mengakui eksistensi Taliban, bahkan eksistensinya sebagai perwakilan negara Afghanistan.

Sebelumnya, Taliban (dan juga Al-Qaeda) tidak diakui eksistensinya oleh kekuatan politik manapun pasca digulingkan AS tahun 2001. AS dengan jumawa juga bersumpah tidak mau bernegosiasi dengan Taliban (juga Al-Qaeda). Ketika kini delegasi Taliban diterima Rusia, China dan Iran, secara tidak langsung merupakan bentuk pengakuan diplomatik akan eksistensinya. Dan itu hanya kelanjutan dari pengakuan AS yang sebelumnya sudah duduk bernegosiasi dengan wakil Taliban di Qatar sejak 2019 lalu.

Sama dengan perjanjian Hudaibiyah, yang menuliskan nama Muhammad bin Abdullah (kaum Quraisy masih jumawa dengan tidak mengakui Muhammad Rasulullah) sebagai pemimpin entitas politik baru, yang menandakan sebuah pengakuan diplomatik dari musuh. Pengakuan ini disebut oleh Al-Quran dengan fathan mubina (kemenangan besar).

Secara tidak langsung, Rusia, China dan Iran mengakui bahwa Taliban adalah masa depan Afghanistan. Karenanya mereka membicarakan masa depan Afghan dengan Taliban, bukan dengan pemerintah boneka. Sebab mereka tahu, pemerintah boneka kekuatannya tergantung induk semang. Ketika sang induk semang pergi, pemerintah boneka tak lebih sebagai buih yang dengan mudah disingkirkan Taliban. Cepat atau lambat. Hanya soal waktu.


Sunnah Kauniyah Abadi
Pembicaraan Rusia, China dan Iran dengan Taliban menjadi bukti konkrit akan sebuah sunnatullah yang berlaku abadi. Bahwa kekuatan militer menentukan bobot diplomasi. Meski pemerintah boneka dipoles dengan bedak setebal apapun, tak akan membuat harga dirinya naik, sebab secara militer lemah. Sebaliknya Taliban, direndahkan seperti apapun akan tetap tinggi harganya secara diplomasi sebab punya basis kekuatan militer yang solid. Amerika saja dibuat mati kutu selama 20 tahun.

Karena itu, tiga negara tersebut dalam melakukan pembicaraan tentang masa depan Afghanistan, duduknya bersama delegasi Taliban. Bagi mereka Taliban merupakan representasi kekuatan riil yang menjadi penentu masa depan Afghan. Sudah waktunya untuk mengakui eksistensi politik Taliban, meski menyakitkan.

Kaum Quraisy juga awalnya tidak mau mengakui eksistensi politik umat Islam yang dipimpin Rasulullah saw. Tapi dengan makin kuatnya militer Rasulullah saw, mau tidak mau kaum Quraisy duduk berunding dengan Rasulullah saw.

Sunnah kauniyah ini yang bisa menjelaskan mengapa Al-Quran memerintahkan umat Islam agar mempersiapkan kekuatan militer dalam menghadapi kaum kafir. Seperti dalam surat Al-Anfal ayat 60. Tidak cukup hanya kekuatan narasi (dakwah) dan kekuatan ekonomi. Al-Quran mewakili sunnah syar’iyyah karenanya pasti selaras dengan sunnah kauniyah yang sama-sama berasal dari Allah SWT.


Semua negara dengan penduduk mayoritas muslim saat ini baru punya kekuatan sumber daya alam, jumlah penduduk besar, dan sebagian punya kemampuan inovasi teknologi. Keunggulan ini amat kecil harganya secara diplomatik. Dalam bernegosiasi dengan negara-negara kafir yang kuat, modal tersebut tidak cukup berharga untuk bisa menegakkan kepala. Negara-negara muslim cenderung didikte.

Taliban menjadi masa depan yang unik. Mereka punya keunggulan militer, dan warna Islamnya kental, tidak membawa aroma nasionalisme yang biasanya dijadikan celah musuh untuk melemahkan. Duduknya mereka dalam diplomasi mewakili sebuah harga yang mahal, tidak bisa didikte, sebab tangan mereka menggenggam kekuatan militer yang menakutkan. Kepala mereka tegak. Karena itu, kehadiran mereka ke China, Rusia dan Iran, tak sepatutnya dituduh sebagai kolusi dan pengkhianatan perjuangan. Tapi yang benar, mereka hadir ke sana sebagai ksatria yang gagah, bukan sebagai pengemis yang hina.

Taliban ingin fokus menyelesaikan musuh dalam negeri, karenanya tidak mau diganggu oleh musuh luar negeri. Maka Taliban mencoba meyakinkan, bahwa tanah Afghanistan tak akan dijadikan basis serangan kepada negara-negara tersebut. Tapi juga sebaliknya, Taliban minta jaminan bahwa negara-negara tersebut tak melakukan intervensi persoalan dalam negeri Afghanistan. Dengan cara ini, Taliban bisa perang habis-habisan melawan pemerintah boneka, tanpa khawatir ada intervensi dan bantuan apapun dari negara luar kepada pemerintah boneka. Cerdik !

Taliban seolah memotong aliran darah pemerintah boneka. Uluran tangan dari luar diputus melalui perjanjian tersebut. Pemerintah boneka baru saja ditinggal Amerika dan sekutunya, kini mereka ditinggal pula oleh Rusia, China dan Iran. Sementara negara-negara lemah di sekitarnya bisa apa dalam membantu pemerintah boneka. Mereka mengurus diri sendiri saja kesulitan, apalagi membantu negara lain.


Prinsip Aqidah vs Strategi Politik
Banyak aktifis Islam –tidak semuanya– yang tumbuh dan dibesarkan dengan doktrin aqidah. Mereka asing dengan cara pandang fiqh dan muamalat. Dan politik bagian dari fiqh. Doktrin aqidah memang cenderung hitam putih, meski tetap menyisakan khilafiyah dalam banyak masalah. Akibatnya, seolah mereka terpenjara oleh pengalaman itu. Mereka hanya punya satu sudut pandang dalam melihat segala persoalan yaitu perspektif aqidah.

Jika dilihat dengan perspektif aqidah, piagam Madinah yang merangkul kaum Yahudi menjadi satu umat dengan warga muslim Madinah bisa dianggap sebagai bentuk kolusi aqidah. Perspektif aqidah akan melahirkan pertanyaan kritis: Bagaimana mungkin Yahudi yang notabene musuh Islam dijadikan satu barisan bersama muslim? Bukankah ini akan merusak wala muslim?

Bagi para Sahabat yang menjadi saksi peristiwa dan mengetahui secara langsung situasi dan kondisi yang melingkupinya, bisa memahami kebijakan Nabi saw tersebut. Apalagi saat itu belum tampak kejahatan Yahudi kepada umat Islam, karena interaksi dengan Yahudi baru dimulai.

Kebijakan Nabi saw tersebut tidak sepatutnya dilihat dengan kaca mata aqidah. Tapi dengan perspektif strategi politik. Nabi saw ingin fokus menghadapi musuh jauh, maka musuh dekat diredam dulu. Selain itu untuk mengurangi kecurigaan Yahudi bahwa kehadiran Islam akan membuat Yahudi tersingkir dari Madinah. Kesan bersahabat ini sangat penting untuk meluluhkan hati mereka agar menerima Islam.

Demikian pula perjanjian Hudaibiyah. Secara aqidah, tidak sepatutnya Nabi saw terikat perjanjian dengan kaum musyrik. Bukankah hubungan muslim dengan musyrik itu permusuhan, lalu mengapa diikat perjanjian yang berkonsekwensi saling menghormati sesuai isi klausul perjanjian? Bukankah mengkhianati prinsip aqidah?


Dalam masalah pernikahan, mengapa muslim dibolehkan oleh Al-Quran untuk menikahi wanita ahli kitab? Bukankah mereka musyrik? Hubungan muslim dengan musyrik bukankah permusuhan, jika diikat pernikahan bukankah akan menjadi saling mencintai? Banyak aspek syariat akan terasa janggal jika dilihat dengan satu sudut pandang –aqidah saja.

Kelanjutan dari cara pandang aqidah (atau aqidah centris) ini membuat banyak aktivis Islam menilai diplomasi yang dilakukan Taliban sebagai bentuk penyimpangan atau bahkan pengkhianatan. Apalagi di dalam negeri (Indonesia) sedang sensi dengan China selain bahwa China juga banyak melakukan kezaliman terhadap muslim Uighur. Maka diplomasi Taliban dengan China dianggap sebagai pengkhianatan.

Karena itu, penting bagi para aktivis Islam untuk melepaskan cara pandang aqidah centris. Ada kasus yang harus dibedah dengan perspektif Aqidah, ada yang cocoknya dibedah dengan perspektif fiqh, ada yang dibedah dengan perspektif muamalat, ada yang dibedah dengan perspektif taktik strategi politik dan ada yang dibedah dengan sudut pandang dakwah. Maka bedahlah kasus per kasus sesuai perspektif yang relevan, jangan melihat seluruh kasus dengan kaca mata tunggal –Aqidah.

Sebaliknya, cara pandang fiqh centris juga keliru. Seluruh kasus dilihat dengan perspektif tunggal –fiqh. Sebagaimana akan keliru jika melihat setiap kasus dengan perspektif konspirasi centris. Bijaksana adalah saat kita melihat kasus per kasus sesuai perspektif yang relevan, sebagaimana Nabi kita mencontohkan.

والله أعلم بالصواب

Penulis: @elhakimi
arrahmah.id, 10 Agustus 2021

Tuesday, August 28, 2012

Serakah


Paholk, seorang petani Rusia, mendengar kabar bahwa bangsa Bashkir tidak menghargai tanah, ingin ia mencoba peruntungannya di sana. Setelah berminggu-minggu berjalan, sampailah ia di tengah perkampungan bangsa itu, lalu berkata kepada kepala suku, seorang yang gemuk sekali, lucu dan masih biadab.

“Pilihlah tanda yang kau sukai,” kata kepala suku itu acuh tak acuh. “Harganya hanya 1000 rubel.”
“Berapa luas tanahnya?” Paholk bertanya.
“Luas atau tidak, harganya sama saja.”

Akhirnya tercapai persetujuan, luas tanah itu harus dapat dikelilingi Paholk dalam satu hari, mulai dari matahari terbit sampai matahari terbenam. Pada jarak-jarak tertentu, ia harus membuat lubang dengan sekop sebagai tanda, sedangkan orang Bashkir akan mengikutinya dengan bajak agar batas itu jelas.

Tetapi kepala suku itu memperingatkan, “kamu harus sampai kembali di tempat sebermula, jika tidak, maka uang dan tanahmu akan dirampas.”

Paholk setuju. Paginya ia berangkat, dilepas oleh bangsa Bashkir, dihadiri kepala suku mereka. Mereka bersorak ketika Paholk berangkat. Udara dingin, tetapi setelah bangun dari tidur nyenyaknya semalam, Paholk bergerak dengan cepat. Ia tak berhenti sampai jarak yang dicapainya tiga mil. Pada saat itu matahari telah tinggi, hingga punggungnya panas. Diminumnya air persediaannya, lalu meneruskan perjalanan.


Tengah hari, ia berhasrat pulang. Lingkaran tak mungkin lebih besar lagi. Tetapi, makin jauh ia berjalan, tanah semakin subur. Terdapat pula sungai kecil yang jernih seperti yang diinginkannya. Bahkan ada lagi lembah yang subur, yang sangat baik untuk menanam kapas.

Pada suatu tempat, waktu sinar matahari bertambah panas dan persediaan air sudah menipis, ia ingin balik ke kelompok bangsa Bashkir yang masih menunggu di atas sebuah bukit. Tetapi bila demikian, tanah itu tentu tak akan merupakan lingkaran. Tidak, ia harus memiliki tanahnya, berbentuk sebuah lingkaran. Ia akan kaya, melebihi cita-citanya.

Akhirnya, ia berbalik pulang. Tetapi jalan sangat sukar ditempuh. Nafasnya terengah-engah, ia hampir-hampir tak kuat lagi menggali lubang tanda. Jantungnya berdegup keras, lidahnya melekat ke langit-langit mulutnya. Tulang-tulangnya sakit karena kelelahan.

Tetapi ia tak berani istirahat. Dipaksanya tenaganya bekerja terus.

Sekarang ia dapat melihat kelompok bangsa Bashkir itu. Mereka bersorak-sorak memberi semangat. Tetapi matahari telah merendah di daerah barat, semakin merendah dengan cepatnya. Dikumpulkannya seluruh tenaganya yang masih tersisa, kemudian berlari sejauh ratusan meter, lalu jatuh, tidak bergerak.


Ia telah memakai tenaganya berlebihan. Terpikir olehnya andaikata ia tidak melingkari lembah subur itu, semak-semak subur itu, dan memotong pulang dari lembah itu. Sekarang, ia kehilangan uang dan tanahnya.

Dengan susah payah ia berdiri kembali dan meneruskan perjalanannya. Peluh membasahi wajahnya dan membutakan matanya. Hari mulai gelap. Ia jatuh lagi, merangkak ke depan dengan susah payah. Bangsa Bashkir hanya tinggal beberapa meter lagi, ia masih dapat mendengar teriakan-teriakan mereka memberi semangat, masih sempat melihat wajah-wajah mereka.

Namun terlambat. Matahari telah terbenam. Dan ia kalah.

Akan tetapi, mengapakah bangsa Bashkir masih melambai-lambaikan tangan mereka dan bersorak-sorak? Tahulah ia sekarang. Ia berada di tempat yang lebih rendah. Sedang mereka di atas bukit, sehingga masih melihat matahari.

Waktu masih ada. Ia berlari secepat-cepatnya, lalu terjatuh di tengah-tengah bangsa Bashkir dengan wajahnya mencium tanah.

“Aaa …,” kata kepala suku dengan kagum. “Ia kuat dan berhati teguh. Telah luas tanah yang dimilikinya.”

Tetapi Paholk tidak bangkit. Mereka tengadahkan tubuh Paholk. Matanya terbuka dan menatap ke depan. Mati.

Akhirnya, bangsa Bashkir membunyikan tetabuhan, tanda berduka cita. Mereka menggali tanah bagi kuburan Paholk sepanjang enam kaki. Hanya sekiankah tanah yang dibutuhkan oleh seseorang?

Cerpen karya: Leo Tolstoy (1828 – 1910)


Conat Leo Tolstoy adalah seorang bangsawan Rusia yang lahir pada tanggal 28 Agustus 1828. Ia memiliki latar belakang budaya ningrat, pendidikan yang cukup dan kekayaan yang melimpah. Tetapi jemu dengan hidup yang demikian. Pada tahun 1880 ia sengaja menjadi pekerja kasar, dan pada tahun 1888 ia menyerahkan istananya kepada istrinya dan ia sendiri memilih hidup dalam kesengsaraan. Sejalan dengan gaya hidupnya itu, ia membenci orang-orang kaya dan keinginan orang untuk menjadi kaya.

Tuesday, March 22, 2011

Makhluk-makhluk Unik di Laut Putih Kawasan Arktik


Kekayaan laut di Laut Putih, sebuah wilayah laut Arktik di barat laut Rusia, ternyata sangat mengagumkan. Ilmuwan biologi kelautan Alexander Semenov berhasil mengabadikannya dengan kamera.


Ia berhasil menjepret kupu-kupu laut, jenis siput laut yang memiliki 2 bentukan semacam sayap yang tumbuh ke bawah. Hewan berwarna coklat kemerahan itu menggunakan struktur seperti sayap untuk membantunya berenang.


Semenov juga berhasil mengabadikan seekor cacing laut yang bergerak menggunakan bulu serta cacing laut yang bisa memproduksi cahaya. Jenis cacing laut terakhir ini tergolong dalam jenis cacing bersegmen, memiliki struktur serupa kaki yang membantunya bergerak.


Selain itu, ia juga menemukan hewan lunak tak bercangkang, hydrozoa, ikan malaikat dan ragworm. Yang terunik, ia menemukan hewan sebangsa udang berwarna merah muda yang tampaknya adalah seekor pejantan.


"Ini adalah tempat yang unik untuk para ahli biologi kelautan. Pertama kali saya menyelam, saya sungguh terkejut. Laut Putih menunjukkan dunia lain dengan aliennya sendiri, beberapa sangat mengagumkan," kata Semenov tentang Laut Putih seperti dilansir situs the Daily Mail.


Semenov mengatakan, kebanyakan makhluk di Laut Putih itu hanya dikenal oleh beberapa pakar biologi kelautan saja. Terletak di wilayah terpencil, beberapa makhluk bahkan tak bisa dilihat dengan mata telanjang karena sangat kecil ukurannya.


Laut Putih, tempat foto-foto Semenov diambil, merupakan sebuah wilayah terpencil yang hampir tak terjamah. Terletak di wilayah Atlantik utara, di wilayah ini para penyelam bisa melihat hingga kedalaman 40 meter.


Di dekat Laut Putih, Semenov mendirikan White Sea Biological Station. Berlokasi di desa terdekat, stasiun tersebut menjadi pusat penelitian sekaligus pendidikan. Salah satu tujuannya adalah mempelajari kekayaan biota di Laut Putih.


Penulis: Yunanto Wiji Utomo Editor: Tri Wahono


Sumber:
http://sains.kompas.com/read/2011/03/21/23260037/Dunia.Alien.di.Laut.Putih
http://www.dailymail.co.uk/sciencetech/article-1367683/Marine-biologist-Alexander-Semenov-reveals-alien-world-deep-arctic-ice.html

Tuesday, December 22, 2009

UFO Melayang-Layang di Lapangan Merah Moskow


Sebuah benda misterius terlihat di langit kota Moskow. Benda yang dikenali sebagai UFO (Unindetified Flying Object) telah memicu spekulasi bahwa kota itu telah dikunjungi oleh pesawat ruang angkasa asing.

Objek yang besar itu berbentuk piramida dan selama berjam-jam terbang di atas Lapangan Merah di ibukota Rusia. Warnanya abu-abu, namun detilnya samar ditangkap kamera video. Setidaknya ada dua video yang terpisah -satu difilmkan selama siang hari dan satunya lagi pada malam hari- kini menjadi sensasi di ranah online.

Belum ada komentar dari pihak polisi atau pejabat berwenang di Rusia. Laporan adanya objek besar di langit berbentuk piramida mencuat hanya beberapa hari setelah peluncuran rudal Rusia.


Hal ini juga memicu serentetan penampakan UFO di Norwegia. Spiral cahaya yang dramatis terlihat di bagian utara negara itu, yang mendorong teori bahwa itu disebabkan oleh meteor, yang sering disebut Bintang Utara.

Namun, Rusia kemudian mengungkapkan bahwa uji coba penembakan rudal antarbenua telah berakhir dengan kegagalan -ketika pada saat yang sama banyak pengamat menyaksikan pertunjukan cahaya spiral di pagi hari.

Nur Haryanto, SKYNEWS, TEMPO Interaktif, 19 Desember 2009


Giant Pyramid UFO 'Hovers Over Moscow'

A mysterious 'UFO' seen in the sky over Moscow has sparked speculation that the city has been visited by an alien spacecraft.

The pyramid-shaped object was said to have remained for hours over the Red Square in the Russian capital.

The fuzzy grey shape was apparently captured on film in at least two separate videos -one filmed during the daytime and another at night- which became an online sensation.

But sceptics suggested there would be thousands of videos, rather than just two, if the object really had remained in the skies for hours.

Russian police have not commented on the alleged sightings.

The reports of the pyramid come just days after a Russian missile launch set off a spate of UFO sightings in Norway.

The dramatic light spiral seen over the north of the country prompted theories that it was caused by a meteor, the Northern Lights or even aliens.

However, Russia later revealed that its test-firing of a new intercontinental missile had ended in failure - at the same time as observers witnessed the early morning light show.

Sky News, December 18, 2009
http://uk.news.yahoo.com/5/20091218/tod-giant-pyramid-ufo-hovers-over-moscow-870a197.html


UFO pyramid reported over Kremlin

A giant pyramid which appears to be a UFO hovering over the Kremlin has caused frenzied speculation in Russia that it is an alien spacecraft.

The object has been compared to an Imperial Cruiser in the Star Wars films and witnesses estimated it could be up to a mile wide.

Two film clips exist which appear to show the same object and footage has been repeatedly playing on Russian television news channels.

The shots, one taken at night from a car and one during the day, were both filmed by amateurs.

The 'craft' was said to have hovered for hours over Red Square in the Russian capital.

The clips of the 'invasion' have gone to the top of the country's version of YouTube.

The identity of the shape has not been confirmed. Russian reports ruled out a UFO but police refused to comment.

Nick Pope, a former Ministry of Defence UFO analyst, said it was "one of the most extraordinary UFO clips I've ever seen".

"At first I thought this was a reflection but it appears to move behind a power line, ruling out this theory."

A spokesman for aerospace journal Jane's News said: "We have no idea what it is."

Telegraph, 18 Dec 2009
http://www.telegraph.co.uk/news/newstopics/howaboutthat/ufo/6781106/Russian-missile-failure-sparks-UFO-frenzy-in-Norway.html