Tuesday, August 28, 2012

Serakah


Paholk, seorang petani Rusia, mendengar kabar bahwa bangsa Bashkir tidak menghargai tanah, ingin ia mencoba peruntungannya di sana. Setelah berminggu-minggu berjalan, sampailah ia di tengah perkampungan bangsa itu, lalu berkata kepada kepala suku, seorang yang gemuk sekali, lucu dan masih biadab.

“Pilihlah tanda yang kau sukai,” kata kepala suku itu acuh tak acuh. “Harganya hanya 1000 rubel.”
“Berapa luas tanahnya?” Paholk bertanya.
“Luas atau tidak, harganya sama saja.”

Akhirnya tercapai persetujuan, luas tanah itu harus dapat dikelilingi Paholk dalam satu hari, mulai dari matahari terbit sampai matahari terbenam. Pada jarak-jarak tertentu, ia harus membuat lubang dengan sekop sebagai tanda, sedangkan orang Bashkir akan mengikutinya dengan bajak agar batas itu jelas.

Tetapi kepala suku itu memperingatkan, “kamu harus sampai kembali di tempat sebermula, jika tidak, maka uang dan tanahmu akan dirampas.”

Paholk setuju. Paginya ia berangkat, dilepas oleh bangsa Bashkir, dihadiri kepala suku mereka. Mereka bersorak ketika Paholk berangkat. Udara dingin, tetapi setelah bangun dari tidur nyenyaknya semalam, Paholk bergerak dengan cepat. Ia tak berhenti sampai jarak yang dicapainya tiga mil. Pada saat itu matahari telah tinggi, hingga punggungnya panas. Diminumnya air persediaannya, lalu meneruskan perjalanan.


Tengah hari, ia berhasrat pulang. Lingkaran tak mungkin lebih besar lagi. Tetapi, makin jauh ia berjalan, tanah semakin subur. Terdapat pula sungai kecil yang jernih seperti yang diinginkannya. Bahkan ada lagi lembah yang subur, yang sangat baik untuk menanam kapas.

Pada suatu tempat, waktu sinar matahari bertambah panas dan persediaan air sudah menipis, ia ingin balik ke kelompok bangsa Bashkir yang masih menunggu di atas sebuah bukit. Tetapi bila demikian, tanah itu tentu tak akan merupakan lingkaran. Tidak, ia harus memiliki tanahnya, berbentuk sebuah lingkaran. Ia akan kaya, melebihi cita-citanya.

Akhirnya, ia berbalik pulang. Tetapi jalan sangat sukar ditempuh. Nafasnya terengah-engah, ia hampir-hampir tak kuat lagi menggali lubang tanda. Jantungnya berdegup keras, lidahnya melekat ke langit-langit mulutnya. Tulang-tulangnya sakit karena kelelahan.

Tetapi ia tak berani istirahat. Dipaksanya tenaganya bekerja terus.

Sekarang ia dapat melihat kelompok bangsa Bashkir itu. Mereka bersorak-sorak memberi semangat. Tetapi matahari telah merendah di daerah barat, semakin merendah dengan cepatnya. Dikumpulkannya seluruh tenaganya yang masih tersisa, kemudian berlari sejauh ratusan meter, lalu jatuh, tidak bergerak.


Ia telah memakai tenaganya berlebihan. Terpikir olehnya andaikata ia tidak melingkari lembah subur itu, semak-semak subur itu, dan memotong pulang dari lembah itu. Sekarang, ia kehilangan uang dan tanahnya.

Dengan susah payah ia berdiri kembali dan meneruskan perjalanannya. Peluh membasahi wajahnya dan membutakan matanya. Hari mulai gelap. Ia jatuh lagi, merangkak ke depan dengan susah payah. Bangsa Bashkir hanya tinggal beberapa meter lagi, ia masih dapat mendengar teriakan-teriakan mereka memberi semangat, masih sempat melihat wajah-wajah mereka.

Namun terlambat. Matahari telah terbenam. Dan ia kalah.

Akan tetapi, mengapakah bangsa Bashkir masih melambai-lambaikan tangan mereka dan bersorak-sorak? Tahulah ia sekarang. Ia berada di tempat yang lebih rendah. Sedang mereka di atas bukit, sehingga masih melihat matahari.

Waktu masih ada. Ia berlari secepat-cepatnya, lalu terjatuh di tengah-tengah bangsa Bashkir dengan wajahnya mencium tanah.

“Aaa …,” kata kepala suku dengan kagum. “Ia kuat dan berhati teguh. Telah luas tanah yang dimilikinya.”

Tetapi Paholk tidak bangkit. Mereka tengadahkan tubuh Paholk. Matanya terbuka dan menatap ke depan. Mati.

Akhirnya, bangsa Bashkir membunyikan tetabuhan, tanda berduka cita. Mereka menggali tanah bagi kuburan Paholk sepanjang enam kaki. Hanya sekiankah tanah yang dibutuhkan oleh seseorang?

Cerpen karya: Leo Tolstoy (1828 – 1910)


Conat Leo Tolstoy adalah seorang bangsawan Rusia yang lahir pada tanggal 28 Agustus 1828. Ia memiliki latar belakang budaya ningrat, pendidikan yang cukup dan kekayaan yang melimpah. Tetapi jemu dengan hidup yang demikian. Pada tahun 1880 ia sengaja menjadi pekerja kasar, dan pada tahun 1888 ia menyerahkan istananya kepada istrinya dan ia sendiri memilih hidup dalam kesengsaraan. Sejalan dengan gaya hidupnya itu, ia membenci orang-orang kaya dan keinginan orang untuk menjadi kaya.

No comments: