Friday, June 5, 2009

Indomie Rasa Presiden atau Presiden Rasa Indomie?


Citra Indomie Naik, Citra SBY Turun (?)

Sebagaimana kita ketahui terpilihnya SBY sebagai presiden dan wapresnya Jusuf Kalla pada tahun 2004 yang lalu lebih banyak disebabkan oleh citranya yang lebih tinggi dari capres lainnya.

Sebagian besar orang termasuk para pengamat politik berpendapat bahwa masyarakat bersimpati kepada SBY karena pada saat itu ia seolah-olah dizalimi petinggi PDIP yang menyatakan SBY adalah jenderal bintang empat yang sikapnya seperti anak kecil.

Saya sendiri berpendapat citra SBY juga terbangun oleh sosok pribadinya yang cukup gagah, simpatik, dan tampak menunjukkan sosok sebagai pekerja keras yang sangat serius. Yang jelas citra SBY terbangun lewat suatu proses yang berlangsung secara alamiah dan wajar, yang pada gilirannya membuat ia terpilih sebagai presiden pada pemilu 2004 yang lalu.

Sekarang menjelang pilpres 2009 ini pencitraan SBY sedang dibangun lewat iklan diberbagai media cetak dan elektronik. Perlu kita ingat bahwa pencitraan lewat iklan bukanlah suatu proses yang alamiah. Iklan politik merupakan rekayasa informasi untuk menarik simpati masyarakat. Karena proses yang tidak alamiah tersebut maka iklan politik seorang capres bisa mengakibatkan dua hal, yaitu naiknya citra sang capres atau sebaliknya justru menurunkan citra sang capres jika iklan yang ditayangkan menimbulkan antipati masyarakat.

Tatkala masa kampanye untuk pemilu presiden belum lagi dimulai, iklan politik ketiga capres dan cawapres sudah sering kita saksikan di berbagai media cetak dan elektronik. Dari sekian banyak iklan politik itu iklan politik SBY yang menggunakan lagu jingle Indomie tampaknya cukup layak untuk dicermati.

Salah satu kalimat dari lagu jingle Indomie yang menarik untuk dicermati adalah kalimat akhir dari lagu jingle tersebut yang berbunyi “Indomie seleraku” yang kemudian diubah menjadi “SBY pesidenku.”

Cukup pastaskah lagu jingle iklan mie instant tersebut dijadikan iklan politik seorang incumbent yang juga seorang calon presiden?
Apakah citra sang incumbent bisa meningkat dengan iklan seperti itu?
Atau sebaliknya, iklan tersebut justru bisa menuai masalah dan menurunkan citra sang capres?

Efektif atau menuai masalah?
Menurut kabar yang saya dengar lagu jingle untuk iklan Indomie diciptakan oleh seorang composer yang bernama A Riyanto. Ia adalah pimpinan band terkenal di masa lalu yang bernama Favorites Group. Sebagai seorang konselor dan instruktur musik saya cukup memahami bahwa A Riyanto adalah seorang composer yang selalu berkarya dengan penuh pertimbangan dalam menentukan keharmonisan lagu dan karakter penyanyi, juga keharmonisan melodi dan isi dari lirik lagu.

A Riyanto pasti sudah mempertimbangkan dengan sangat matang keharmonisan melodi dan lirik lagu jingle untuk iklan Indomie tersebut. Oleh karena itu lagu jingle Indomie ini tentu saja tidak bisa sembarangan dibongkar pasang untuk lirik lagu iklan lain, apalagi untuk pencitraan seseorang yang posisinya adalah incumbent dan calon presiden yang akan datang. Tindakan bongkar pasang lagu seperti itu merupakan contoh tindakan yang kurang santun dan kurang menghargai karya cipta seseorang.

Juru bicara kepresiden Andi Mallarangeng mengatakan hak cipta lagu tersebut akan dihargai. Kata “akan dihargai” menunjukkan bahwa iklan tersebut sudah disiarkan sebelum meminta izin kepada ahli waris dari penciptanya. Apakah tindakan seperti ini menunjukkan penghargaan terhadap hak cipta seseorang?

Lalu, cukup efektifkah pencitraan SBY dilakukan lewat lagu iklan Indomie? Mie instant dan incumbent (capres) adalah dua hal yang terlalu jauh perbedaannya untuk dibongkar pasang menjadi sebuah lagu.

Hal lain yang juga cukup menimbulkan tanda tanya adalah, bisakah pencitraan SBY lewat lagu iklan Indomie berjalan efektif jika iklan tersebut ternyata menuai kritik berbagai pihak setelah beberapa kali ditayangkan?


Marilah kita perhatikan kritik dari dari kubu Mega dan JK
Wakil ketua dewan penasehat Gerindra menyatakan: “Iklan politik SBY dengan menggunakan lagu jingle Indomie terkesan lucu. Iklan mie instant itu cermin ketakutan incumbent sehingga kata-kata “SBY presidenku” seolah sudah berkampanye sebelum jadwal kampanye ditentukan”. Taslam merasa curiga adaya hubungan khusus diantara SBY dan pemilik perusahaan mie instant tersebut.

Sementara itu tim sukses JK-Wiranto, Fuad Bawazier menilai iklan incumbent yang menggunakan lagu jingle iklan Indomie harus diselidiki. Ia khawatir perusahaan itu mendapat intervensi dari incumbent. Jadi KPU dan Bawaslu harus peka.

Pencitraan SBY atau Indomie?
Tampaknya sejak deklarasi SBY-Boediono sebagai capres-cawapres, tim sukses SBY sudah beberapa kali membuat pencitraan yang kurang produktif. Misalnya upacara deklarasi mereka yang sangat mewah, memakan biaya mahal, dan terkesan kurang nasionalis karena mencontoh deklarasi ala Amerika, Obama dan Joe Biden.

Sekarang marilah kita lihat apakah pencitraan SBY lewat iklan Indomie bisa meningkatkan citra SBY atau tidak. Mari kita simak lagi apa yang dikatakan oleh Haryanto Taslam, wakil ketua dewan penasehat Partai Gerindra, yang menyatakan bahwa iklan politik SBY dengan menggunakan jingle iklan Indomie terkesan lucu.

Pernyataan tersebut sangat mungkin ada benarnya, bahkan iklan politik SBY dengan menggunakan lagu jingle iklan Indomie bisa dibuat menjadi lucu-lucuan atau lelucon. Misalnya saja munculnya pelesetan ”SBY presiden mie instant, SBY presiden indomie, atau SBY seleraku.

Apakah pemilik perusahaan mie instant mempunyai hubungan khusus dengan SBY seperti yang diperkirakan oleh Haryanto Taslam? Atau apakah pemilik perusahaan mie instant merupakan pendukung SBY sehingga mereka mendukung SBY dengan cara memasang iklan seperti itu?

Yang jelas citra Indomie itulah yang langsung naik karena iklan mie instant tersebut bisa ditayangkan dalam posisi yang sejajar dengan iklan politik seorang capres incumbent. Dengan kata lain citra Indomie sudah pasti naik karena seolah-olah iklan Indomie tersebut dibintangi oleh seorang presiden. Bukan main, Indomie mungkin cukup layak untuk masuk rekor Muri sebagai satu-satunya iklan yang dibintangi oleh seorang presiden.

Sementara itu citra SBY belum tentu meningkat, bahkan sebaliknya bisa menurun jika masyarakat menilai iklan dengan lagu jingle Indomie tersebut sebagai hal yang tidak patut, atau ditasirkan sebagai mencuri start sebelum kampanye dimulai, karena adanya kata “SBY presidenku”.

Citra sang incumbent pun bisa menurun jika iklan Indomie tersebut dijadikan lucu-lucuan atau pelesetan seperti telah disebutkan di atas. Seorang pembicara dalam acara “Apa Kabar Indonesia Malam” di TV One menyatakan sebuah joke: “Sekarang sudah ada produksi baru dari Indomie yaitu Indomie rasa presiden.


Catatan akhir
Kedaulatan ada di tangan rakyat, oleh karena itu masing-masing diri kita sesunguhnya memiliki kedaulatan pribadi. Mari kita gunakan kedaulatan pribadi tersebut dengan cara bersikap mandiri dalam segala hal termasuk dalam menentukan hak pilih kita masing-masing.

Kita sebaiknya tidak menjadi pribadi yang mudah terpengaruh dengan berbagai iklan politik atau koalisi kelompok pendukung capres-cawapres manapun. Biarkan saja sendainya kubu capres-cawapres itu berkonflik. Kita sebagai masayarakat yang mandiri tetap tenang, damai dan dewasa dengan disertai doa.

Mari kita amati dan nilai terus secara kritis dan objektif, kualitas dari masing-masing capres dan cawapres yang tentunya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kemudian ketika kita sudah sampai pada bilik suara pada pemilu 2009 besok, barulah kita tentukan pilihan kita.

Dengan pertimbangan yang mandiri dan matang mudah-mudahan pada saatnya nanti kita bisa memilih dan akhirnya mendapatkan presiden yang -paling tidak- bisa memberikan sesuatu yang sedikit lebih baik bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Abdi, kompasiana.com, 30 Mei 2009

No comments: