Showing posts with label Ilmu. Show all posts
Showing posts with label Ilmu. Show all posts

Friday, July 17, 2015

Tidak Punya Perasaan


Gejala hilangnya perasaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara cenderung semakin meluas belakangan ini. Para pejabat menuntut kenaikan gaji ––yang sebenarnya sudah tinggi–– agar lebih dilipatgandakan lagi, sementara rakyatnya setengah mati mencari uang buat bertahan hidup sehari-hari.

Kita pun menyimak ada anak yang membunuh orangtuanya sendiri, atau sebaliknya orangtua yang tega membunuh anaknya sendiri. Hanya gara-gara uang seharga satu bungkus rokok, orang bisa berbunuh-bunuhan.

Sementara di pihak lain para koruptor yang tertangkap basah tanpa rasa malu bahkan dengan bangga unjuk ketawa di depan kamera. Para anggota DPR minta jatah Rp 20 miliar per orang setiap tahun, sementara pensiunan para guru besar hanya digaji Rp 4 juta setiap bulan, hampir setara dengan UMR yang dituntut oleh para buruh.


Lewat laku
Tidak ada lagi kebenaran rasa. Tenggang rasa sudah lenyap. Orang hanya mau mengenali perasaannya sendiri, dan tidak peduli perasaan orang lain. Orang yang tidak peduli pada perasaan orang lain itulah yang disebut tidak punya perasaan lagi.

Yang berkembang sekarang ini adalah kebenaran dalih pikiran, bukan kebenaran pikiran yang sesungguhnya. Dalih pikiran itu senantiasa bersandar pada bunyi UU dan peraturan yang dibuat manusia sendiri, yang mungkin dibikin tanpa perasaan juga.

Bagaimana kita dapat menghukum sekian tahun kepada seorang nenek renta yang dituduh mencuri sekian batang kayu di hutan pemerintah? Putusan pengadilan ini menunjukkan tidak adanya perasaan dan pikiran sekaligus, bila dibandingkan dengan putusan pengadilan koruptor kelas teri yang dijatuhi hukuman yang hampir mirip.

Benar atau tidak benar itu sama sekali bergantung pada penjelasan pikiran. “Manusia intelektual itu adalah makhluk yang suka penjelasan,” begitu tulis novelis Saul Bellow dalam bukunya, Mr Sammler's Planet (1969). Meskipun novel atau karya sastra dan karya seni pada umumnya merupakan penjelasan dari perasaan (pengalaman), tetapi baru diakui kebenarannya kalau ada kritikus yang mampu menjelaskannya secara pikiran.


Sebaliknya, pada pertengahan abad XIX, pujangga Mangkunegara IV dalam karyanya, Wedhatama, menyebut bahwa ilmu itu terjadinya lewat laku, melalui perbuatan. Memang yang dimaksud adalah “ngelmu” yang berarti pengetahuan mistik, pengetahuan rasa, bukan semata pengetahuan kebenaran pikiran.

Apa yang dimaksud dengan “perasaan” itu agak berbeda dengan yang kita maksud sekarang, yang hanya meliputi perasaan indrawi, perasaan interaktif sesama manusia atau dengan alam, dan perasaan terdalam di hati nurani. Rasa, dalam tradisi tua di Indonesia, adalah kategori religius, perasaan yang amat mendalam akibat pengalaman “kemenyatuan” dengan Yang Maha Esa. Laku atau rasa ini tidak dapat dijelaskan dengan pikiran manusia yang terbatas.

Kandidat doktor Susilo Kusdiwanggo dalam risetnya di masyarakat adat Ciptagelar, Sukabumi, Jawa Barat, mendapat penjelasan dari salah seorang ketua adat setempat. Bahwa, untuk mengetahui Tuhan (makrifat), orang harus menggarap tanah dengan benar, menanam padi dengan benar, hingga menuai padi, menyimpan dan menumbuknya dengan benar (sesuai adat). Selama itu Anda lakukan, Anda akan mengenal Tuhan. Ilmu itu terjadinya lewat laku. Lewat penghayatan, lewat pengalaman, dan juga lewat perasaan.


Bagi nenek moyang bangsa Indonesia, menjumpai dan mengenal Yang Maha Esa itu dengan jalan melakukan kerja hidup sehari-hari. Dengan bekerja itulah terjadi penghayatan rasa “mistik” dengan Tuhan. Setiap langkah kerja mereka sehari-hari sesungguhnya adalah laku ibadah. Itulah sebabnya, nenek moyang bangsa Indonesia memiliki cara-cara tertentu untuk melakukan sesuatu bagi kepentingan hidup sehari-hari mereka. Memiliki alat-alat tertentu yang telah dipolakan, memiliki syarat jender tertentu dan doa tertentu sebelum bekerja.

Tradisi budaya religius Indonesia menyadari bahwa setiap perubahan di dunia dan dalam hidup mereka, Tuhan senantiasa hadir dan merawat prosesnya. Perubahan dari biji, lalu tumbuh menjadi benih hingga mengeluarkan padi yang bernas adalah atas kehendak dan kerja-Nya. Demikian pun perubahan dari padi menjadi beras, tiada lain juga atas izin-Nya.

Bahkan perubahan beras menjadi nasi atau tumpeng juga atas sepengetahuan-Nya. Karena kesadaran yang demikian itulah, nenek moyang kita merasakan ketakjuban akan mukjizat kuasa Tuhan setiap hari. Mereka bukan hanya peka rasa, tetapi juga tinggi rasa dan memiliki perasaan yang mendalam. Bahwa kerja Tuhan Yang Maha Esa itu sungguh mengagumkan luar biasa dalam mengawal setiap perubahan sekecil dan sebesar apa pun di alam semesta ini. Alhasil “Gusti Allah mboten nate sare” ––Tuhan memang tidak pernah tidur.


Kearifan yang ditinggalkan
Kebenaran itu adanya di tindakan, di penghayatan atas tindakan itu. Bukan sekedar dalam kata-kata, juga bukan pula hanya dalam pikiran. Karena pikiran tidak pernah mengubah apa pun, baik dirinya maupun dunia, kecuali bila telah diwujudkan dalam laku tindakan. Dalam hal ini, mistisisme tidak harus merupakan penjelasan filosofis dari hasil pikiran belaka, tetapi berlaku pula dalam praksis kenyataan hidup sehari-hari.

Itulah makna perasaan yang gejalanya mulai ditinggalkan dan dilupakan bangsa ini. Memang perasaan masih punya, hanya saja, perasaan yang berhubungan dengan kepentingan dirinya sendiri, sembari menolak perasaan orang lain. Kearifan lama di berbagai budaya daerah di Indonesia menyatakan bahwa; “aku tiada lain dari kamu, aku adalah kamu sebagai aku, keadaanku adalah keadaanmu dan keadaanmu adalah keadaanku.” Hal ini sudah lama hilang dari ingatan rasa dan perasaan bangsa ini.

Pernyataan-pernyataan serupa itu juga terdapat dalam banyak kitab suci umat manusia, yang menunjukkan bahwa kearifan lokal Indonesia itu sebenarnya juga universal. Jadi, apakah lebih baik tidak punya pikiran daripada tidak punya perasaan? Karena bila tidak punya pikiran kita masih manusia, namun bila tidak punya perasaan, niscaya kita bukan manusia lagi.

Jakob Sumardjo,
Budayawan
KOMPAS, 2 Juli 2015

Tuesday, July 7, 2015

Ramadhan yang Bahari


Sebenarnya apa arti Ramadhan bagi kita, manusia Indonesia? Apa arti puasa wajib di bulan suci itu? Terus terang, saya agak khawatir dengan jawaban-jawaban yang tersedia untuk itu, terutama ketika mengacu pada praksisnya. Setidaknya di sebagian atau bahkan bisa jadi di kalangan mayoritas publik kita.

Seperti biasa, saya tidak akan memenuhi tulisan ini dengan berbagai kutipan, mengenai makna, hikmah, hingga aturan fikih tentang puasa, baik dari kitab suci, hadits, maupun ungkapan para ulama yang berijtihad. Saya hanya ingin melihat dan belajar bagaimana praksisnya dalam keseharian kita. Karena sesungguhnya ayat-ayat yang suci itu ada dalam hidup dan dunia di sekeliling kita, di mana arti, makna dan hikmahnya terhijab oleh fakta, data, dan peristiwa (fenomena) yang ada dan terjadi di sekitar kita, setiap hari, setiap saatnya. Ayat dan kitab menjadi kosong bila ia hanya menjadi catatan kaki (footnote), bukan menjadi rekam jejak (footprint).

Macam sebuah pertanyaan, sebenarnya kita melaksanakan puasa Ramadhan itu sungguh karena (perintah) Allah, atau hanya karena ia sudah menjadi tradisi (yang begitu kuat terinternalisasi sejak kita kanak-kanak)? Bila karena satu sebab, misalnya, kita tidak puasa atau batal puasanya, kita sungguh merasa dosa (lantaran paham maksudnya) atau sekadar merasa ‘bersalah’ karena tradisi tubuh itu kita langgar? Semacam kita merasa bersalah (bisa jadi berdosa) karena suatu kali tidak mengikuti perintah orangtua, padahal biasanya selalu?

Semacam juga kita merasa bersalah bangun kesiangan karena terbiasa bangun lebih dini; merasa bersalah tidak mudik karena tertradisikan untuk selalu mudik; merasa bersalah bolos sekolah karena sejak PAUD kita diajarkan untuk selalu masuk sekolah? Dan seterusnya ....

Selain santapan jasmani, manusia juga sangat perlu diberi santapan rohani.

Maka saya bertanya kepada seorang sahabat, yang sejak usia 5 tahun hingga 50 tahun kemudian, tidak pernah bolong puasa Ramadhannya, apakah dia masih berpuasa setelah menonton sepotong video porno, sebagaimana hobinya? “Masih dong,” katanya. “Itu artinya kamu tidak minum dan makan, kan?” tanya saya lagi. “Kecuali sebelum imsak tadi,” jawabnya polos. Saya pun tersenyum, seperti terlihat bangga padanya.

Saya tidak membenarkan sahabat saya. Namun, tampaknya ia menjadi representan atau simbol sekurangnya dari cara kita berpuasa Ramadhan. Selama kita tidak makan dan minum, perut tetap berpuasa, tetapi bagian-bagian lain (mata, telinga, lidah, kata-kata, pikiran, hati, dsb) ternyata tidak berpuasa, kita merasa sah melanjutkan ibadah Ramadhan itu, dan turut berbuka bersama yang lain.

Maka saya akan tetap berpuasa ketika saya asyik menggosip atau menggunjingkan orang, teman, atau sendiri kita. Saya akan tetap bukber, tarawih, dan mengaji tiap malam, sahur dan berpuasa hingga maghrib, walau mata dan telinga saya melihat dan mendengar hal tak senonoh, pikiran kita mengotori akal sehat, bahkan mengutil rezeki orang lain hingga mencuri uang negara alias korupsi, lalu mendermakan sebagian kecilnya untuk infak, zakat, sumbangan masjid, panti asuhan, atau sekadar takjil gratis.

Bila ada 10 bagian dari diri kita yang ‘ilahiah’ ini ternyata ada satu bahkan sembilan bagian tidak menjalankan aturan puasa, tapi perut tetap menjalankannya, kita akan menyatakan, “Saya (masih) puasa.” Mungkin kurang berkualitas puasanya, kata sebagian secara apologetik. Puasa ternyata secara sosial ada grade-nya. Lalu apa grade-nya bila sebagian besar, tujuh hingga sembilan bagian dari kita, kecuali perut, tidak puasa? Jawaban akan beragam, tentu. Namun, apakah bukan kenyataan itu menunjukkan ketidakutuhan integritas kita, keterbelahan pribadi dan keyakinan kita, sikap hipokrit kita?

Kemarau spiritual tak cukup hanya dibasahi dengan air segelas.

Mengurangi ‘lebih dari lebih’
Ada fakta lain yang dapat dibuktikan bila Anda mau dan mampu? Bahkan seorang wadam atau waria, yang bermata pencaharian menjual jasa ‘seksual’ di malam hingga dini hari, masih ada yang tetap puasa dan mengaji saat subuh sepulang dari kerja atau ‘praktik’-nya. “Karena saya harus mengajari dan membiasakan kedua anak saya, mendengar suara orang ngaji saat ia bangun pagi. Apalagi jika itu suara bapaknya,” salah seorang dari wadam itu bercerita.

Tahukah Anda, bila seorang muncikari atau germo menawarkan (tepatnya mendagangkan jasa seksual) dari anak buahnya, setelah ia buka puasa dan shalat maghrib?

Bahkan sang PSK pun sebagian ‘libur’ siang untuk menjalankan ibadah Ramadhan dan melanjutkan kerjanya setelah puasa hari itu lewat. Bagaimana pikiran dan hati kita mendengar, melihat, dan coba memahami semua realitas itu? Saya tak bisa menggambarkan. Bahkan bukan hanya mata dan hati, pikiran pun menitikkan air yang menetes tanpa dapat kita usap atau keringkan.

Tidak seluruh fakta saya mewakili mayoritas, tentu saja. Namun, contoh-contoh yang saya sebut mewakili pertanyaan spiritual, sikap dan tindak beragama kita, Islam khususnya, puasa Ramadhan dalam hal ini. Ini menjadi refleksi untuk segala ibadah kita di bagian yang lain, agama yang lain, sikap spiritual dan keberagamaan kita. Karena segalanya adalah hasil dari proses dan dinamika kebudayaan kita. Semua itu adalah hasil dari kita bermasyarakat, berbangsa, dan berbudaya. Sebagian, mau tak mau, diakui jujur atau tidak, adalah juga bagian dari diri kita, jati diri bangsa kita.


Ramadhan, yang para ustadz pasti menyatakan adalah bulan yang kita tunggu, yang kita harus berterima kasih karena masih dipertemukan dengannya, ternyata tidaklah selalu kita posisikan sebagaimana makna, hikmah, nilai, dan berkah yang terkandung di dalamnya. Di mana puasa, khususnya Ramadhan, sekurangnya adalah sebuah exercise yang sangat-sangat penting bagi kaum muslim, bukan untuk membatasi, tapi ‘mengurangi’ apa pun yang selama ini ‘berlebih’ ia lakukan, konsumsi, misalnya, dan seterusnya.

Telah sejak 1,5 milenia lalu Islam datang dengan kesadaran akan dunia yang sangat modern, dunia yang ditandai oleh adagium to have more not to be more. Dunia yang menawarkan bahkan mengimperasi kita untuk mendapatkan lebih dan ‘lebih dari lebih’. Sesungguhnya, bahkan makanan dan minuman yang kita telan setiap hari berlebih. Menimbulkan ‘lebihan-lebihan’ dalam bentuk lemak, kolesterol, asam urat, hipertensi, atau hiperkalemia dan lainnya, sehingga untuk itu kita membutuhkan berbagai sarana/jasa baru seperti fitness center, kursus yoga, program diet, hingga operasi plastik ––yang notabene berbiaya tinggi–– hanya untuk menghilangkan atau mengurangi apa yang begitu rajin kita buat berlebih.

Puasa Ramadhan adalah peringatan dan latihan untuk kita hidup ‘kurang’. Dengan mengurangi makan dan minum hanya di dua waktu saja, kita mestinya sadar, ternyata hidup kita tidak kurang apa pun. Tidak kurang fit, tidak kurang sadar, tidak kurang kreatif, tidak kurang rezeki, dst. Lalu kenapa kita harus makan minum berlebih, 3 kali atau lebih, plus camilan, jajanan, dan sebagainya?

Dan apa yang terjadi dalam tradisi Ramadhan kita? Di saat kita diminta untuk ‘kurang’, justru uang belanja kita semasa Ramadhan meningkat tajam hingga 200% bahkan lebih! Di saat kita berusaha kembali ‘fitri’ agar diri kita lahir kembali sebagai manusia (muslim) baru, kita malah berpesta pora. Bahkan hanya untuk makan dua hari Lebaran saja kita menyediakan makanan yang cukup untuk satu minggu, dengan nilai yang mungkin 1.000% lebih mahal dari biasanya.

Puasa adalah training disiplin spiritual.

Kita berlebih dengan beli baju baru, sepatu baru, cat rumah baru, mungkin kendaraan baru, mudik dengan biaya aduhai mahal, dan seterusnya. Lalu kita pun sepanjang Ramadhan memerah keringat dan air mata lebih banyak untuk menambal beban yang luar biasa itu. Tindak menyimpang bahkan manipulatif atau koruptif harus dilakukan demi tradisi itu. Betapa Ramadhan telah membuat kita justru menjadi begitu rakus akan semua yang bersifat material dan yang duniawi!

Lalu apa kedudukan, fungsi, peran, dan hikmah Ramadhan selama ini, selama bertahun, ber-dekade, dan ber-abad bagi kita kaum muslim Indonesia? Adakah praksis ibadah Ramadhan kita membantu bangsa, pemerintah, juga membantu diri kita sendiri, untuk merintis atau menciptakan perbaikan atau pembaharuan, setidaknya dalam sikap mental, perilaku, moralitas, atau integritas? Apakah ada dalam diri kita, kelompok kita, atau bangsa kita ini pernah mengalami ‘kefitrian’, pembaharuan diri, atau semacam renaissance kecil setiap usai Ramadhan?

Bila semua jawaban di atas negatif, tidakkah kita selayaknya becermin pada eksposisi faktual di atasnya dan merenung: kenapa semua itu terjadi? Kenapa ia menjadi masif, kolektif, dan ––entah sedikit atau banyak–– kita berada di dalamnya? Apa yang keliru, dalam diri kita, agama kita, sikap keberagamaan kita, atau ...?


Puasa bahari itu
Tentu saja saya tidak akan menuding. Apalagi kepada hal-hal yang bersifat religius, entah itu tauhid, syariah, atau fikihnya, apalagi kepada para ulama yang bijaksana. Akan lebih baik kita memeriksa diri kita sendiri, bila ternyata cara kita beragama selama ini ternyata selalu diselubungi ––jika tidak dinternalisasi–– oleh ilusi. Ilusi akan kenyataan yang sangat material, yang sesungguhnya pragmatis hedonis, yang justru melawan atau mengkhianati agama kita sendiri, tepatnya telah mengkhianati kedalaman spiritualitas kita.

Kedalaman spiritualitas yang saya maksudkan ialah spiritualitas dari bangsa ini yang sesungguhnya memiliki basis sangat luhur dan mulia. Maaf bila saya harus katakan sekali lagi, dan akan berulang kali, basis itu ada dalam sebuah peradaban yang bernama bahari, maritim kata sebagian orang. Basis itu sangat sederhana sebenarnya. Seorang yang berilmu (dari bahasa Arab ‘ilm, masdarnya, ‘alim atau allamah untuk berilmu dan ‘ulama transliterasi jamaknya dalam Melayu), tidak akan dianggap alim, apalagi disebut ulama, bila pengetahuannya hanya berhenti pada memori atau sistem kognitifnya.

Semua yang dia ketahui akan menjadi (disebut) ilmu ketika ia menjelma dalam praksis, dalam hidup kesehariannya. Terutama dalam kemaslahatan sosial dari semua tindakan-tindakannya, baik yang mental maupun fisikal. Ngelmu kuwi kalakone kanthi laku, begitu kearifan Jawa mengatakan. Maka, seorang ulama, misalnya, dalam dunia bahari, tidak diukur dari kecakapan lisan, retorika atau jumlah kutipan yang ia slogankan, tapi dari faedah dan akibat baik perbuatan dan produksi kulturalnya. Orang Jawa menyebut apa pun yang seperti itu dengan ‘ki’ atau ‘kiai’.

Wasbir 'ala ma yaquluna, wahjurhum hajran jamiila.

Bila seseorang secara kognitif tahu banyak, belajar lama, baca banyak, mungkin doktor atau profesor di banyak lembaga, tentu ia memosisikan dirinya ‘lebih tahu’ dari yang lain. Ada perasaan dominan, suprematif atau otoritatif, yang pada tingkat mental menjadi semacam arogansi, keangkuhan, dan untuk kaum medioker menjadi sikap yang tengik.Tegak bahkan tengadah, melihat yang lain lebih kecil atau lebih di bawah.

Seorang ulama atau kiai dalam hidup bahari, justru sebaliknya. Sistem kognisi berperan, tapi tidak utama, sebagai bagian wajar dari pengetahuan secara keseluruhan. Karena, ilmu dalam tradisi bahari tidak berhenti pada chip atau server di otak bagian kiri kita saja, tetapi ia menjalar dan mengendap di kulit, tangan, jari, dengkul, bahu, mata, telinga, rambut, jantung, darah, dan seluruhnya. Seluruh bagian kemanusiaan kita yang ‘ilahiah’ itu berilmu.

Ilmu, bila itu datang dari ayat-ayat suci, sudah menjelma ke dalam hidup dan diri kita. Kitalah ayat-ayat itu. Karenanya, dalam adab bahari sesungguhnya praktik atau dimensi spiritual itu sudah menyatu dalam hidup (keseharian) kita. Tidak terpisah. Apalagi menjadi semacam logos tersendiri yang struktur dan metode artifisialnya berbeda. Karena apa yang imanen itu sesungguhnya transenden.


Bukankah Nabi Muhammad sendiri mempraktikkan itu? Sebagai Nabi, tentu saja ia tidak sekadar membaca Al-Quran, tetapi ia menjelmakannya, menjadikan dirinya sebagai the living Quran, Quran yang hidup. Sehingga apa yang ia katakan dan perbuat adalah contoh terbaik dari praksis Al-Quran, menjadikan semua laku-perbuatannya sebagai Sunnah dan tauladan indah, sebagai tandem satu-satunya dari Al-Quran itu sendiri. Tidakkah Islam sesungguhnya adalah hikmah dari kata ‘guru’ dalam adab bahari?

Guru dalam adab bahari kita kenal sebagai akronim. ‘Gu’ berarti digugu, diacu dan dijadikan patokan atau rujukan. Dan ‘Ru’ berarti ditiru, dicontoh, atau menjadi eksemplar yang bisa diikuti? Maka dalam Islam, kita mengacu pada Al-Quran dan meniru atau mencontoh model hidup Nabi-Nya. Sebagaimana ulama, kita mengacu pada nilai, moralitas, hingga etika dan estetikanya, dan lalu kita mengikuti, meniru, meneladani cara-cara hidupnya sebagai santri.

Bukankah itu ––tak hanya sebaiknya–– berlaku pada semua ibadah kita. Terlebih dalam puasa Ramadhan. Bukankah sekadar retorika atau apologia saja bila puasa hanya terjadi pada perut atau 2-3 bagian tubuh lainnya? Tidakkah praksis (dari puasa) itu menggambarkan secara langsung ilmu dan keimanan kita? Apakah kita akan membiarkan ––sebagai manusia bahari–– puasa kita cacat dan tambal sulam, yang merupakan refleksi dari keimanan kita?

Saya percaya, Anda akan menjawabnya dengan negatif.
Alhamdulillah.

Radhar Panca Dahana,
Budayawan
MEDIA INDONESIA, 29 Juni 2015

Monday, April 21, 2014

Ilmu Bertanya


Suatu hari Ayah bertanya: “Opo rumangsamu nek wong nganggur kuwi ora dosa?” (Apa menurutmu kalau orang menganggur itu tidak dosa?)

Pertanyaan itu membuat saya terhenyak dan tersentak. Betapa tidak, waktu itu saya sudah berumur di atas 20 tahun, putus kuliah dan punya kegiatan menjadi guru mengaji privat serta menulis aneka macam tulisan, juga aktif di Pramuka, kelompok drama dan sastra, ikut membimbing gerakan gerak jalan atau hiking dalam grup pecinta alam dan sebagainya. Saya juga menemani anak-anak muda sebaya yang orangtuanya menjadi korban politik tahun 1960-an.

Pendeknya, hidup penuh kesibukan, dalam kartu C7 atau kartu untuk mengambil honor di Kantor Pos tertulis pekerjaan saya adalah: "Pengarang". Ketoke (kayaknya) hebat bener! Tapi Ayah dengan jeli melihat apa yang saya lakukan itu bukan pekerjaan yang benar-benar pekerjaan. Itu semua baru semacam kesibukan untuk mengisi waktu, dan memang amatiran.

Pertaayaan itu saya renungkan dan saya menemukan makna bahwa dengan pertanyaan itu Ayah ternyata sedang (1) memberi tahu bahwa selama ini saya masih termasuk dalam kategori menganggur, (2) Ayah melarang saya menganggur dan tidak boleh meneruskan kegiatan yang kurang jelas bagi masa depan, (3) menyuruh saya bekerja yang serius dan definitif.


Jadi, orang Jawa itu kalau bertanya ternyata bisa mengandung maksud memberi tahu, melarang, atau menyuruh, bahkan sangat mungkin mengandung kemarahan. Dengan bertanya itu berarti, Ayah sudah jengkel dan marah melihat hidup saya yang leda-lede (tidak menentu) waktu itu.

Berkat pertanyaan itulah saya kemudian “njranthal” atau lari pontang-panting naik kereta api menuju Jakarta. Ada saudara –adiknya nenek– dua orang yang mengajak saya ke Jakarta untuk mencari kerja. Saya berniat untuk bekerja tenan (sungguh-sungguh), apa pun pekerjaan itu.

Di Jakarta, saya diminta ikut hidup di rumahnya. Dan pada hari pertama, dia –induk semang saya itu– sudah meneriakkan doktrin hidup di Jakarta dengan berkata; “Le, neng Jakarta kuwi nek pengin mangan yo kerja, kerja opo wae. (Nak, di Jakarta itu kalau mau makan ya harus kerja, kerja apa saja.) Jual abu (gosok), atau apalah. Kalau tidak bekerja maka kau tidak berhak makan sebutir nasipun!” Akibatnya, dan risikonya, sebelum saya mendapat pekerjaan yang definitif, maka saya bekerja di rumah itu menjadi tukang kebun dan pembantu rumah tangga, yang pekerjaannya mulai dari memotong rumput, membersihkan kaca jendela, membersihkan WC, ikut belanja ke pasar, membayarkan rekening listrik, mengambilkan rapot anaknya dan sebagainya.


Predikat guru mengaji privat, guru pramuka, penulis sastra, pemain drama, semua saya tanggalkan dan saya lebur dalam kehidupan sehari-hari yang keras khas Jakarta. Saya diberi uang saku satu dua ribu sebulan dan karcis bis kota. Saya beruntung karena di rumah itu ada ribuan buku dan kitab, maklum yang empunya rumah pernah menjadi Kepala Litbang Depag yang kemudian aktif menjadi salah satu direktur pada Departemen Agama, badan atau bagian khusus yang menyelenggarakan haji. Saya beruntung di rumah itu ada mesin ketik. Maka naluri menulis saya kumat (kambuh). Naluri berkumpul dengan komunitas sastra juga kumat, akhirnya juga kumpul dengan kelompok drama.

Di waktu luang saya pun menulis, berkunjung ke Gelanggang Remaja Bulungan, ke Warung Poci Bulungan, juga ke Senen, ke TIM, ke Menteng Raya Enam Dua, dan sering dolan (berkunjung) ke kantor majalah anak-anak Kawanku. Saya meneruskan menulis untuk majalah Kawanku, meliput kegiatan sastra di Bulungan dan TIM dan beritanya saya kirim ke Harian Masa Kini. Saya juga ikut pendidikan wartawan di Jakarta Utara, di Jalan Gunung Sahari. Dan puncaknya ketika saya diminta ikut menjadi Pegawai Musiman di Kantor Haji Depag. Kerja 24 jam, honor besar, makan dan minum terjamin, kadang dapat bonus rokok yang saya berikan pada teman-teman di Sanggar 62.

Dan belajar kerja keras seperti ini saya alami selama satu tahun tetapi saya rasakan seperti sepuluh tahun. Lalu saya sakit tipes (typhus) karena menyaksikan bagaimana korupnya departemen yang seharusnya diisi orang-orang suci itu. Saya lalu dirawat di rumah sakit Fatmawati selama sebulan. Dan setelah sembuh saya lalu pulang ke Yogya.


Sampai di Yogya, saya diminta untuk bergabung dengan harian Masa Kini sebagai wartawan, lalu sebagai redaksi lembar budaya. Saya tak melamar, tetapi dilamar. Agar lebih efektif, saya pun kost di pinggir kali Code. Kemudian saya mengalami rangkap kerja di LP3Y, lalu di penerbit Shalahuddin Press, dan sebagainya. Lalu potongan hidup saya pun diwarnai dengan kerja keras super sibuk penuh waktu dengan merangkap pekerjaan sebagai wartawan, editor buku, menulis karya sastra, dan bernaung dengan berbagai komunitas atau semacam LSM untuk melakukan pelatihan dan pendampingan. Dan sampai hari ini saya masih dapat menikmati kerja keras seperti itu. Dan itu semua terjadi berkat sebuah pertanyaan sederhana yang dilontarkan oleh Ayah saya, yang sekarang sudah almarhum.

Kembali ke judul tulisan di atas, yaitu tentang ilmu bertanya. Maka paling tidak, orang yang ingin bertanya itu harus atau perlu mengerti (1) apa yang ditanyakan, (2) merumuskan pertanyaan dengan tepat, (3) tahu persis siapa yang menjadi tujuan pertanyaan itu, (4) tahu bagaimana caranya bertanya, (5) tujuan atau efek pertanyaannya pun dia ketahui dengan jelas, dan yang ke (6) dia berani bertanya. Kalau ke-enam hal itu, dan ditambah juga dengan (7) tahu saat yang tepat untuk bertanya, maka ada harapan pertanyaan yang dia lontarkan akan mampu mengubah keadaan.

Jadi, bertanya saja ternyata ada ilmunya. Tidak asal bertanya. Demikianlah semoga bermanfaat.

Penulis: Mustofa W Hasyim

Mustofa W Hasyim sedang memaparkan sesuatu dihadapan teman-teman komunitasnya. (foto: caknun.com)

Mustofa W Hasyim adalah penulis puisi, cerpen, novel, esai, laporan, resensi, naskah drama, cerita anak-anak, dan tulisan humor sejak 70-an. Aktif di komunitas Persada Studi Klub Malioboro, bersama Emha Ainun Najib (Cak Nun), Umbu Landu Paranggi dkk. Juga aktif di Komunitas Insani Yogyakarta, Teater Melati. Saat di Jakarta bergaul dalam Kelompok Poci Bulungan, Sanggar Enam Dua dan bergaul dengan satu dua anggota Kelompok Sembilan. Juga pernah bekerja sebagai wartawan dan pengasuh kolom di berbagai surat kabar dan editor di berbagai penerbit. Anggota Dewan Kebudayaan Kota Yogyakarta dan Lembaga Seni Budaya Muhammadiyah DIY. Terakhir beliau merupakan salah satu pendiri Majlis Ilmu Nahdlatul Muhammadiyyin.

Sumber:
https://www.facebook.com/notes/mustofa-w-hasyim/ilmu-bertanya/10151253020773899

Tuesday, November 22, 2011

Pidato Gaddafi


Wahai rakyat.
Hancurkan semua perpustakaan dan toko buku yang cahaya kebenaran tidak bersinar meneranginya! Cahaya yang menuntun manusia dan membawa mereka ‘keluar dari kegelapan menuju terang’. Tetapi dukung mereka semua yang selain itu, yang asli, yang diharapkan rakyat dan diridhai Tuhan.
Dan yang demikian itu harus terus dipertahankan.

Wahai rakyat.
Bakar dan hancurkan semua kurikulum yang mengotori akal kita dengan pelajaran yang dangkal!
Hancurkan kurikulum yang dirancang selama rezim reaksioner! Kurikulum yang dipaksakan oleh tangan-tangan tersembunyi kolonialisme kepada bangsa kita.

Setelah hari ini, rakyat tidak lagi memerlukan para kaki-tangan dan perantara hipokrit penipu, meskipun mereka membawa Injil, Quran, Komunisme, Kapitalisme atau teori apapun.
Sekarang, rakyat tidak butuh penipuan, apakah dari ‘Kanan’ atau ‘Kiri’.

Rakyat sekarang butuh kehancuran dari belenggu-belenggu yang mengikat dan menjerat mereka.
Rakyat butuh aturan mereka sendiri, dan ingin membangun masa depan mereka menurut keinginan dan harapan mereka sendiri.

Hancurkan setiap cabang ilmu pengetahuan yang tak membumi dan tak bisa diletakkan untuk mengabdi kepentingan rakyat, karena itu bukanlah ilmu pengetahuan yang benar!

(Mu’ammar Gaddafi, as-Sijjil al-Qawmi, vol. 4, pp. 505-4)

Tuesday, January 26, 2010

DEMOKRASI: Antara Kedaulatan Ilmu dan Kedaulatan Kambing


Pria yang ramah dan cerdas ini, sebelum belakangan menjadi orang rumahan, dulu merupakan orang lapangan yang langkah da’wahnya sudah merambah hampir seluruh propinsi di Indonesia. Kenapa sekarang betah tinggal di rumah? “Terlalu asyik mengajar orang lain bisa membuat kita lupa mengajar diri dan keluarga. Padahal, diri dan keluarga itulah sasaran da’wah yang pertama dan harus diutamakan.” Begitulah jawaban diplomatisnya. “Tapi suatu hari, saya juga akan terjun ke lapangan lagi,” katanya.

Tapi, siapa sih dia? Dia menolak namanya dipublikasikan, apalagi disertai fotonya. Yang pasti, dari obrolan sekitar dua jam, yang berkisar pada fungsi dan peran Al-Qurãn di zaman sekarang, tulisan di bawah ini adalah hasilnya.

Tolong jelaskan, bagaimanakah Al-Qurãn menjawab tantangan zaman?

Pertanyaan itu saya sambut dengan pertanyaan lagi. Pertama, apa tantangannya? Kedua, tahu tidak cara mendapatkan jawaban dari Al-Qurãn? Sejarah menegaskan bahwa Al-Qurãn turun sebagai response (jawaban) atas satu challenge (tantangan). Itu yang terjadi pada masa Nabi. Kini juga bisa terjadi, peran Al-Qurãn sebagai respon seperti dulu itu berulang, atau sebenarnya tetap demikian. Ibarat alat, dia tidak akan kehilangan fungsi. Tapi, masalahnya, maukah kita memfungsikannya?


Bila tantangannya, misalnya, demokrasi?

Demokrasi bukan tantangan bagi Al-Qurãn. Tapi, sebaliknya saya menantang, bisakah prinsip demokrasi diubah, dari kedaulatan rakyat menjadi kedaulatan ilmu?


Maksud Bapak?

Kedaulatan rakyat itu kan sama dengan kedaulatan kambing! Akhirnya yang muncul ke permukaan adalah serigala. Kenapa? Karena serigala berilmu, punya strategi dan taktik untuk membuat kambing memilih mereka sebagai pemimpin, sehingga mereka jadi bebas makan kambing toh?

Jadi, seperti kata Nurcholis bahwa demokrasi bisa membuat tuyul terpilih jadi presiden?

Ya, karena itu tadi, prinsip kedaulatan rakyat.


Tapi katanya suara rakyat adalah suara Tuhan.

Jadi, Tuhan berbicara melalui rakyat, begitu? Yang saya tahu, Tuhan berbicara melalui kitab-Nya, kepada para rasul-Nya. Lalu para rasul itulah yang berbicara kepada rakyat, menyampaikan ajaran Tuhan. Bila si rakyat menerima ajaran Tuhan, otomatis mereka akan menyuarakan ajaran Tuhan. Mereka akan berani berkata kepada para pemimpin, “Hai, kalian jangan korupsi!” misalnya.

Tapi bila ajaran Tuhan tidak ada di otak mereka, bisa-bisa mereka malah menggemakan suara Setan! Artinya, bisa saja suara rakyat memang identik dengan suara Tuhan, bila si rakyat itu memang tahu suara Tuhan dan mereka menyuarakan aspirasi Tuhan, bukan aspirasi perut mereka. Bila mereka hanya menyuarakan aspirasi perut, atau aspirasi libido (seks) seperti kata Freud, ya suara rakyat identik dengan suara Setan. Bila rakyat sudah mewakili aspirasi Setan, wajar saja bila mereka memilih tuyul atau setan gundul sebagai pemimpin. Lalu, di lapangan informasi, misalnya, bertebaranlah media massa yang menawarkan pornografi dan pornoaksi.


Lalu, yang Bapak maksud dengan kedaulatan ilmu?

Saya maksud dengan kedaulatan ilmu adalah ilmu sebagai imam atau pemimpin. Seperti kata Nabi, ilmu adalah imam bagi amal (perilaku) manusia. Tapi kebanyakan manusia bergerak, hidup, mengikuti tradisi atau bahkan kelatahan saja. Kebanyakan manusia tidak mempertanyakan apakah yang mereka lakukan setiap hari itu benar atau tidak menurut ukuran suatu ilmu? Bagi umat Islam, misalnya, benar atau tidak yang mereka lakukan itu menurut ukuran kitab suci mereka, yang merupakan ’standar ilmiah’ mereka?

Maksud Bapak?

Ya, orang Islam itu kan setiap melakukan sesuatu harus dimulai dengan Bismillah. Tapi sadar tidak kita, struktur ilmu apa yang harus dibangun ketika kita mengucapkan Bismillah?

Wah, saya makin tak mengerti nih!

Anda kan mempertanyakan tentang kedaulatan ilmu. Sebelum bicara kedaulatan ilmu dalam skala besar, katakanlah dalam konteks kenegaraan, kita harus periksa diri sendiri dulu. Pertama adalah cara berpikir kita. Sudahkah kita berpikir ilmiah? Berpikir ilmiah itu kan mulainya dari metode. Metode itu sebenarnya kan struktur, atau bangunan, atau bentuk ilmu. Setiap ilmu mempunyai metode sendiri, yang membedakannya dari ilmu-ilmu lain. Nah, Al-Qurãn sebagai ilmu juga kan ada metodenya.

Memangnya Al-Qurãn itu ilmu?

Lha, ajaran dukun saja diakui sebagai ilmu, kenapa ajaran Allah tidak?


Bukankah Al-Qurãn sebagai wahyu itu lebih tinggi dari ilmu?

Dianggap lebih tinggi tapi diperlakukan lebih rendah, itulah kenyataannya! Artinya, karena Al-Qurãn dianggap bukan ilmu, maka kita jadi setengah hati dalam menjadikannya pedoman hidup. Akhirnya pedoman itu menjadi tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Bahkan sejak awal sekali, mulai dari penerjemahan, karena Al-Qurãn dianggap bukan ilmu, maka penerjemahannya pun menjadi tidak ilmiah. Sebagai contoh, Bismillahirrahmanirrahim diartikan “Dengan nama Allah yang Mahapengasih lagi Mahapenyayang ….

Di mana letak kesalahan terjemahan itu?

Coba terjemahan itu dibawa ke Aceh, ketika baru hancur karena tsunami! Atau ke tempat yang baru-baru ini dilanda air dari Situ Gintung. Di sana yang terlihat dan terasa adalah Allah Mahakejam, bukan Pengasih dan Penyayang.


Itu kan pikiran orang tak beriman!

Bukan! Itu pikiran orang-orang yang tidak ilmiah, karena memang tidak diajari berpikir ilmiah oleh para Kiai mereka. Coba perhatikan (sambil tertawa), setiap ada bencana, para Kiai itu menghibur dengan kata-kata, ada juga yang berdoa sambil nangis-nangis. Lucunya, sambil menangis mereka mendikte Allah untuk berbuat begini dan begitu, atau jangan berbuat begini dan begitu. Sebenarnya siapa yang jadi Tuhan? Allah atau kita? Kalau kita mendikte Allah, berarti kita dong yang jadi Tuhan! Setiap terjadi bencana, di mana-mana, dengan berbagai cara, muncul pengakuan tentang kedudukan Tuhan sebagai Penguasa, tapi tidak ada pengakuan bahwa Tuhan itu Pengatur, yang peraturan-Nya harus diikuti.

Dalam konteks Aceh, bukankah di Aceh justru sudah diberlakukan Syari’at Islam, peraturan Allah?

Dalam kenyataan, apa benar ajaran Allah diterapkan di sana? Bagaimana dengan bisnis ganja yang terus berjalan? Bahkan setelah peristiwa tsunami, masih ada orang yang tertangkap karena hendak menyelundupkan ganja. Itu hanya contoh ekstrim saja ya! Yang ingin saya katakan adalah bahwa Islam di Aceh, atau di belahan bumi Indonesia yang lain, sama sajalah dengan di negara-negara Arab atau yang lain. Resminya negara Islam, tapi tetap saja yang berlaku secara real adalah peraturan tuyul. Masih ada para penguasa yang feodalis, ada korupsi di sana-sini, ada penindasan, pelecehan seksual, dan macam-macam.

Itu dari sisi perilaku manusianya. Dari sisi konsepnya, apa yang disebut Syari’at Islam itu kan Fiqih. Fiqih itu kan macam-macam, ada beberapa aliran, ada beberapa mazhab. Di antara mazhab-mazhab itu, entah yang mana yang mewakili ajaran Allah yang sebenarnya. Ya, orang boleh saja mengatakan bahwa perbedaan pendapat, yang melahirkan mazhab-mazhab itu, adalah rahmat. Tapi bagi saya, lahirnya mazhab-mazhab itu hanya membuktikan bahwa manusia tidak mau tunduk pada peraturan Allah. Islam yang tadinya hanya satu, satu Tuhannya, satu kitabnya, satu rasulnya, oleh manusia yang lahir belakangan kok dijelmakan menjadi puluhan atau ratusan mazhab?


Dalam kenyataan, perbedaan pendapat itu kan tidak bisa dihilangkan Pak!

Anda boleh berbeda pendapat dengan saya, kalau antara anda dan saya tidak mempunyai tujuan real dan praktis yang sama. Misalnya, kita cuma ingin beradu wacana. Tapi kalau kita punya tujuan nyata dan praktis yang sama, keunggulan sebuah konsep atau wacana ditentukan oleh kemampuannya mencapai tujuan itu. Ketika kita hendak membangun sebuah rumah, misalnya, kita harus berangkat dari sebuah gambar yang dibuat oleh seorang arsitek yang kita sepakati. Kalau kita membawa dua gambar dari dua arsitek yang berbeda, padahal kita hendak membangun rumah di satu lahan yang sama, apa yang akan terjadi? Baguslah kalau nanti dua rumah bisa dibangun. Tapi bagaimana kalau kita malah berantem memperebutkan lahan, untuk mewujudkan gambar masing-masing?

Maksud saya, ketika kita berhadapan dengan Al-Qurãn sebagai sebuah teks, saya kira sudah hampir pasti bahwa kita akan berbeda pendapat.

Ya, kalau kita berangkat secara liar, semau gue, memang bisa begitu. Tapi coba kita berangkat dari satu titik keberangkatan yang sama. Nah, titik keberangkatan ini kalau dalam konteks ilmu adalah metode atau prosedur. Kalau kita menggunakan metode yang sama dalam mengkaji Al-Qurãn, hasilnya, kesimpulan yang kita dapat pasti akan sama.

Dari mana kita dapatkan jaminan kepastian itu?

Kalau anda mempelajari teori ilmu, filsafat ilmu, anda pasti tahu bahwa sebuah metode itu tidak berdiri sendiri tapi ada perangkat-perangkat lain yang membuat metode itu bisa tegak, bisa membawa kita pada tujuan nyata dan praktis tadi. Nah, sepanjang kita berpegang pada satu metode dengan segala perangkat pendukungnya, lalu kita hubungkan dengan tujuan nyata dan praktisnya, maka di situ kita bisa memusatkan perhatian secara bersama-sama.

Bagaimana bila tujuannya berbeda?

Kalau tujuannya berbeda, metodenya berbeda juga dong! Tapi kita, sesama umat Islam, masak sih punya tujuan berbeda. Ambil contoh gampang saja; kita bikin masjid, misalnya, apa tujuan kita beda?


Kalau contohnya masjid, kan banyak masjid didirikan oleh banyak mazhab. Maksud saya, perbedaan mazhab tidak membuat tujuan membangun masjid jadi berbeda.

Ya, karena masjid hanya sarana fisik, yang seandainya dia tidak ada pun, kita tetap bisa melaksanakan tujuan kita. Untuk shalat ritual, misalnya. Tapi, bila tujuannya hanya shalat ritual, shalat tidak harus dilakukan di dalam masjid. Tapi ketika sebuah masjid dibangun, tujuan hakiki yang mau dicapai bukan lagi sekadar melakukan shalat ritual. Masjid itu harus menjadi sarana pemersatu, bukan malah menjadi alat pemisah satu mazhab dengan mazhab yang lain.

Ngomong-ngomong soal masjid, dalam peristiwa tsunami di Aceh dulu itu, ada beberapa masjid yang selamat, sementara bangunan-bangunan lain hancur. Begitu juga dalam peristiwa Situ Gintung. Bagaimana Bapak membaca hal itu?

Tidak semua masjid selamat, banyak juga yang hancur. Saya dengar ada 270 masjid yang hancur. Untuk yang tidak hancur, mungkin karena bangunannya memang bagus. Sedangkan masjid yang dekat Situ Gintung itu, kan jelas kelihatan bahwa masjid itu tidak terhantam langsung oleh limpahan air. Air hanya lewat di sampingnya. Tapi bisa jadi juga, Allah memang campur tangan di situ. Karena seperti yang terjadi di Turki, di sebuah lokasi gempa, ada sebuah masjid yang tetap tegak dan utuh, sementara bangunan-bangunan di sekelilingnya hancur.


Jadi, ada unsur campur tangan Allah juga ya?

Ya, siapa tahu? Tapi, kalau memang ada kejadian seperti itu, lalu siapa yang campur tangan? Setan? Punya kuasa apa setan? Mungkin itu memang peringatan dari Allah, bahwa masjidnya memang sudah benar, tapi manusianya yang masih salah.

Jadi, bencana di Aceh dan Situ Gintung itu memang layak mereka terima, sebagai hukuman?

Bencana alam itu tidak pilih bulu! Salah atau benar, kalau dia ada di tempat bencana, pasti kena juga. Kalau bicara hukum, itulah hukum alam, sunnatullah. Tapi kalau bicara hukuman, hukuman Allah hanya untuk orang-orang yang berdosa. Bagi yang tidak berdosa, bencana itu merupakan ujian. Tapi kalau bicara masjid, Rasulullah dulu juga membangun masjid. Tapi bersamaan dengan pembangunan masjid, atau malah sebelumnya, mental manusianya juga dibangun. Kita sekarang membangun masjid yang bagus-bagus, hingga bisa tahan gempa, tapi mental manusianya dibiarkan tidak terbangun. Maksud saya terbangun, terbentuk menjadi manusia-manusia yang mau hidup dengan ajaran Allah.

Bukankah masjid-masjid itu selalu ramai dengan kegiatan keagamaan?

Ya, masjid-masjid ramai, tapi kosong dari petunjuk. Kosong dari nilai-nilai Al-Qurãn. Yang ramai di sana cuma kegiatan-kegiatan ritual, malah cenderung bersifat hura-hura. Selesai dari kegiatan ritual dan hura-hura, masjid-masjid itu menjadi bangunan yang mati dan terasing. Hati manusia yang tinggal di sekelilingnya, tidak ada di sana. Kenapa? Karena masjid tidak menawarkan nilai-nilai pragmatis yang mereka butuhkan.

Apa yang Bapak maksud dengan nilai-nilai pragmatis itu?

Ya nilai-nilai yang berhubungan langsung dengan kebutuhan hidup sehari-hari, seperti rasa persatuan, kebersamaan, persaudaraan, dan sebagainya, yang dampaknya tentu akan luas. Akan berpengaruh pada banyak segi kehidupan, termasuk masalah ekonomi. Gampangnya, bila sebuah masjid berfungsi sebagaimana mestinya, manusia-manusia yang tinggal di sekitarnya akan hidup dalam suasana persatuan, kebersamaan, dan persaudaraan. Sehingga tidak perlu ada orang yang merana sendirian karena kemiskinan, misalnya.


Apakah itu berhubungan dengan zakat?

Ya, katakanlah begitu. Peran masjid memang sangat berhubungan dengan zakat, tapi bukan zakat seperti yang dipahami kebanyakan orang sekarang. Zakat yang saya maksud adalah, antara lain, zakat sebagai suatu sistem ekonomi.

Bagaimana pula zakat yang merupakan sistem ekonomi?

Gampangnya: zakat itu kebalikan dari riba. Bila riba itu menguntungkan segelintir orang berduit dengan memeras orang miskin, zakat adalah sebaliknya. Orang berduit memberikan manfaat dari duitnya kepada orang-orang miskin, tapi bukan dengan cara memberikan derma! Seperti kata Nabi, berikan kail, bukan berikan ikan. Saya kira, ini butuh penjabaran yang cerdas.

Sekarang sudah banyak berdiri Bank Syari’ah. Apakah itu penjabaran cerdas yang Bapak maksud?

Cerdas dalam hal meniru yang sudah ada. Sedikit memodifikasi. Intinya sama saja. Tapi saya tak ingin bicara banyak tentang itu. Kita lihat saja.

Kembali ke soal agama dan ilmu. Bapak seperti menyamakan agama dengan ilmu. Padahal, katanya agama dan ilmu itu berbeda. Beragama tidak boleh berlogika, misalnya.

(Tertawa) Manusia itu makhluk logika, hayawanu-natiq! Tak ada manusia yang tak berlogika. Logika itu jalan pikiran toh? Justru logika itulah yang membedakan orang dewasa dengan anak kecil, orang terpelajar dengan orang yang kurang ajar. Logikalah yang membedakan satu manusia dengan manusia yang lain. Yang satu ada yang berlogika ilmu, yang lain berlogika dongeng, berlogika mitos.

Nah, kita yang mengaku beragama Islam ini kebanyakan berlogika dongeng. Al-Qurãn, yang sebenarnya ilmiah, kita pahami dengan logika itu, sehingga terkesan ada pemisahan antara logika agama dengan logika ilmu. Sebagai contoh, mari kembali ke soal terjemahan Bismillah. Secara harfiah, oke-lah ar-rahmãn diterjemahkan Pengasih dan ar-rahïm diartikan Penyayang. Bahwa Allah bersifat Pengasih dan Penyayang, itu memang benar. Tapi bagaimana bentuk nyata dari sifat-sifat itu? Itu yang harus ditegaskan, sehingga tidak perlu ada yang keliru memahaminya. Dan tidak perlu ada yang mempertanyakan sifat-sifat itu ketika terjadi bencana alam, misalnya.


Ini masalah tafsir atau apa?

Ya, masalah tafsir memang. Tapi bukan berarti masalah ilmiah murni yang merupakan lahan garapan para pakar. Ini berkaitan juga dengan sistem pengajaran agama yang harus bersifat mencerahkan, bukan hanya berupa dogma atau doktrin. Dalam pengajaran Al-Qurãn, misalnya, orang harus dibimbing untuk memahami logika Al-Qurãn, bukan malah dicekoki logika para pengajar atau juru tafsir. Nah, ini sebenarnya jawaban dari pertanyaan anda yang pertama: “Bagaimana Al-Qurãn menjawab tantangan zaman?”

Jawaban itu memang ada dalam Al-Qurãn. Tapi dibutuhkan usaha, kerja keras, untuk menggalinya. Itu tidak bisa diberikan secara gampangan, oleh saya, misalnya. Karena masalahnya berhubungan dengan pembentukan logika tadi. Al-Qurãn punya logika tersendiri. Kita juga mempunyai logika sendiri-sendiri. Ketika berhadapan dengan Al-Qurãn, sering kali logika kitalah yang main, sehingga logika Al-Qurãn akhirnya tidak ‘bicara’. Itu kan kurang ajar namanya!

Kurang ajar atau tidak tahu?

Ya, kurang ajar itu kan sama dengan kurang ajaran (kurang belajar), kurang diberi pelajaran, alias kurang pendidikan, makanya jadi tidak tahu!

Berarti setiap orang harus dilibatkan mempelajari tafsir Al-Qurãn, begitu?

O, iya. Al-Qurãn kan petunjuk untuk manusia, hudan lin-nãs(i), bukan hanya petunjuk untuk para ustadz atau Kiai.


Tapi, mempelajari tafsir itu kan sulit?

Makanya jangan disebut mempelajari tafsir dong. Mempelajari Al-Qurãn saja. Mempelajari kitab Allah, yang kita akui sebagai pedoman hidup kita. Bila tidak dipelajari, berarti pengakuan itu bohong. Sulit memang sulit. Tapi kalau kita butuh, yang sulit itu kan terus dicari.

Tidak bisakah orang-orang awam diberi penjelasan seperlunya saja, tanpa harus terlibat dalam proses belajar?

Kalau anda mau jadi serigala, dan orang lain mau anda jadikan kambing, silakan. Tapi melalui Al-Qurãn itu Allah mengajarkan prinsip-prinsip hidup. Di antaranya adalah prinsip tawãshau bil-haqq(i), saling menasihati atau saling menjaga agar sesama orang beriman itu tidak menyimpang dari kebenaran. Prinsip itu tidak akan bisa berjalan bila ilmu tidak memasyarakat, tidak menjadi kesadaran masyarakat.

Contohnya?

Dulu ada Kiai yang menikah satu malam. Masyarakat heboh mempertanyakan, mungkin ingin mengeritik, tapi tak punya ilmu. Prinsip tawãshau bil-haqq macet, karena ilmu juga tidak mengalir, tidak dialirkan, alias hanya tergenang di satu tempat, yaitu di otak para Kiai itu. Alhasil, walau salah, Kiai tetap tidak bisa disalahkan. Seolah-olah can do no wrong. Apa yang diperbuat selalu benar. Di dunia tasauf, misalnya, semakin aneh kelakuan seorang guru (mursyid) malah dianggap semakin membuktikan ketinggian derajat kewaliannya. Biar heran, muridnya tak boleh protes. Kalau protes juga, jawabannya adalah: pemahaman kamu belum sampai! Saya pikir, itu adalah trick untuk memojokkan orang bodoh, atau untuk membuat sang guru jadi tidak tersentuh. Yang jelas, kalau kita memperhatikan sejarah Nabi Muhammad, tidak ada cerita bahwa beliau pernah berperilaku ganjil. Perilaku beliau adalah perilaku yang menjawab pertanyaan, bukan menimbulkan pertanyaan, karena bisa ditiru.


Tapi meniru akhlak Nabi itu kan sulit sekali, Pak.

Ya, tentu saja. Saya tidak pernah mengatakan bahwa itu mudah. Karena itulah kita harus belajar, harus berlatih. Dalam belajar, tentu ada trial and error. Itu biasa. Tapi jangan salah dalam prinsip. Kalau prinsipnya benar, trial and error itu berjalan dalam garis yang benar. Berarti kita menjalankan rencana Allah. Bila prinsipnya salah, trial and error itu berjalan dalam garis rencana Iblis. Bila kita ingin belajar Al-Qurãn, misalnya, itu benar. Lakukan trial and error, tapi cukup di tataran ilmu, jangan di tataran praktis.

Mengapa?

Bila main di tataran praktis, sebelum ilmu dikuasai dengan mantap, bisa-bisa kita jadi teroris!

Apa bahayanya bila kita jadi teroris?

Sedikitnya ada dua bahayanya kalau kita jadi teroris. Pertama, citra agama kita rusak. Kedua, tindakan teror itu bisa dimanfaatkan orang untuk menghancurkan agama kita melalui tangan kita sendiri.


Kalau begitu, saya menangkap kesan adanya kesenjangan antara ilmu dan amal?

Ketika anda belajar, di sekolah misalnya, jelas sekali antara ilmu yang anda pelajari dengan parktiknya itu ada kesenjangan. Ada jarak. Kenapa? Karena sekolah adalah tempat menuntut ilmu saja. Praktiknya nanti, di luar. Jadi, ada giliran untuk belajar, dan ada giliran untuk menerapkan ilmu yang dipelajari. Tapi repotnya sekarang, setelah lulus sekolah anak-anak malah tidak bisa bekerja. Kalau begitu, masalahnya bukan jarak, bukan giliran, tapi ada dikotomi antara ilmu yang dipelajari dengan kenyataan yang harus dihadapi. Di situ kita lihat ilmu tidak menjadi petunjuk hidup, tapi sebatas alat untuk asah otak. Tapi yang saya lihat, sekolah malah membuat otak anak kita jadi tumpul. Menghadapi masalah kecil saja mereka sudah mengeluh.

Bagaimana soal pendidikan agama?

Dalam pendidikan agama, lain lagi ceritanya. Para Kiai mengajarkan ilmu praktis yang bernama Fiqih. Hidup kita diatur dengan hukum halal-haram, wajib-sunat, makruh-mubah. Shalat hukumnya wajib. Mengerjakan shalat dapat pahala, tidak mengerjakan berdosa. Apa yang dibaca dalam shalat? Al-Qurãn. Kalau yang dibaca tidak dipahami bagaimana? O, tidak apa-apa. Paham nggak paham, pahala tetap dapat. Ini kan konyol. Di satu sisi Allah menurunkan Al-Qurãn untuk mencerdaskan kita, eh para Ahli Fiqih malah menyuruh umat untuk tetap bodoh.


Jelasnya?

Jadi, yang ingin saya tegaskan di sini adalah manusia hidup itu harus ilmiah. Karena itu ada kewajiban untuk menuntut ilmu. Selagi ilmu belum dikuasai, jangan beramal dulu, jangan praktik dulu. Nah, para Ahli Fiqih mengajarkan sebaliknya. Bagi mereka, ilmu belakangan; yang penting praktik. Muncullah tindakan-tindakan konyol. Orang beramal tanpa dasar ilmu. Contoh gampangnya, para artis, pejabat, pengusaha, pergi haji karena mereka punya duit. Pulang beribadah haji, mereka jualan daging lagi; pamer paha, pamer dada, korupsi, menipu. Seiring dengan itu, orang-orang miskin yang tak punya dana untuk makan, untuk menyekolahkan anak, dibiarkan menonton mereka sambil gigit jari.

Kan ada alternatif di samping Fiqih. Tasauf, misalnya.

Ah, Tasauf itu lebih gila lagi! Di satu sisi Nabi melarang kita memikirkan zat Allah, tapi mereka malah mengajak orang mencari-cari Allah. Sudah jelas bahwa Allah menurunkan Al-Qurãn sebagai wakil-Nya. Kenapa mereka tidak menekuni Al-Qurãn saja?


Saya kira, mereka malah menekuni Al-Qurãn!

Ya, tapi hanya untuk pembenaran pikiran mereka.

Kata mereka, Nabi Muhammad juga dulu pada hakikatnya seorang sufi?

(Tertawa keras) Itu jalan pikiran yang bagus. Tapi kalau Nabi Muhammad seorang sufi, mengapa perilaku mereka berbeda dengan Nabi Muhammad? Kalau Nabi Muhammad seorang sufi, maka sufi sejati adalah yang memiliki persamaan terbanyak dengan Nabi Muhammad, bukan malah memperlihatkan perbedaan yang menyolok. Yang jelas, seperti kata ‘Aisyah, akhlak Nabi Muhammad adalah Al-Qurãn, dan saya lihat konsep Al-Qurãn dengan ajaran Tasauf itu bertolak belakang.

Karena akhlak Nabi Muhammad adalah Al-Qurãn, maka yang harus diutamakan adalah pengkajian Al-Qurãn, begitu?

Ya.


Menurut Bapak, di mana letak sulitnya mempelajari Al-Qurãn?

Saya melihat yang terberat itu adalah sisi pragmatisnya. Maksud saya, ini masalah situasi kejiwaan ya, yang menuntut kita untuk bersikap pragmatis. Ketika kita hendak mengkaji Al-Qurãn, misalnya, kita harus berusaha memproyeksikan diri ke dalam posisi ketika Nabi Muhammad mengkaji Al-Qurãn.

Caranya?

Misalnya, Nabi Muhammad pada waktu itu dalam keadaan haus akan informasi akurat. Kita pun harus memproyeksikan diri seperti itu. Haus informasi akurat dari Allah, karena jenuh dengan informasi bohong dari sekeliling kita!

Itu yang sulit. Saking sulitnya, saya sampai mengarang doa: Ya Allah, jadikanlah aku orang yang amat sangat cinta pada ajaran-Mu, amat sangat cinta pada rasul-Mu …!” Sulit, sulit sekali. Jangankan amat sangat cinta, cuma cinta biasa saja sudah sulit.


Tapi kita harus berusaha, karena setelah kesulitan itu pasti muncul kemudahan kan?

Saya sering mendengar orang mengatakan itu! Tapi jelasnya bagaimana?

Kita kan sudah bicara panjang-lebar bahwa Al-Qurãn itu ilmu, pedoman, petunjuk, dan sebagainya. Nah, walaupun sulit mempelajarinya, setelah belajar kan kita mendapatkan ilmu-Nya. Selanjutnya, ilmu-Nya itulah yang akan mendatangkan kemudahan, karena dia benar-benar jadi pedoman. Jadi petunjuk yang benar-benar fungsional, bermanfaat secara praktis!

http://id-id.facebook.com/notes/ahmad-husein/demokrasi-antara-kedaulatan-ilmu-dan-kedaulatan-kambing/262047546697

Tuesday, December 8, 2009

Ilmu Tak Tertulis Suatu Abad


Saya pendukung calon presiden Jusuf Kalla pada pilpres yang lalu. Demi itu, saya akhiri riwayat golput sejak pertama punya hak pilih pada era Soeharto.

Tetapi, saya menolak jika pengusutan kasus Bank Century diarahkan untuk utamanya mendongkel kepresidenan SBY. Biarkan gerakan angket di DPR, dukungan LSM, demi tegaknya keadilan. Janganlah sejak dini, aneka gerakan ini diagendakan untuk penggulingan kekuasaan.

Ilmu tak tertulis mengajarkan, pangkat dan kedudukan cuma ngunduh wohing pakarti. Keduanya buah dari kelakuan masa lampau dari yang bersangkutan maupun masa lalu orangtua dan nenek moyangnya.

Ilmu tak tertulis juga mengajarkan, pemimpin adalah cermin masyarakatnya. Keduanya jodoh ibarat suami-istri. Jika suami koruptor, hampir bisa dipastikan istrinya orang yang korup pula. Kalaupun sang istri bukan koruptor, karena belum punya pangkat dan kedudukan, setidaknya memiliki sifat-sifat dasar koruptor. Sirik, rakus, iri, dengki, dendam. Bukankah itu ”Pancasila”-nya korupsi?


Ilmu tak tertulis juga mengajarkan, sebagian besar rakyat, termasuk saya, mendoakan agar semua pejabat korup. Bawah sadar kita, bawah sadar ”aku”, yakni ingsun, tak menaruh hormat kepada pemimpin miskin yang mobilnya kelas Kijang seperti Baharuddin Lopa atau Sarwono Kusumaatmadja zaman dulu.

Padahal, Sastrajendra Hayuningrat dari pewayangan, salah satu molekul di antara samudera ilmu tak tertulis, mengajarkan, doa paling manjur adalah kehendak bawah sadar itu. Doa mujarab bukan yang terucap di mulut, terlintas di pikiran maupun terbersit di hati. Doa paling cespleng adalah gerakan bawah sadar kita yang, misalnya, tak menghargai istri pejabat dengan tas jelek, tidak bermerek. Alias diam-diam membuat doa paling mustajab agar suaminya korup.

Maka, gerakan angket kasus Bank Century, jika sejak awal diagendakan untuk mendongkel pemimpin yang diduga korup, sama dengan mendongkel masyarakat itu sendiri alias membuat kita berantakan dan bubar.


Mahkota raja
Ilmu tidak tertulis mengajarkan, sah seorang pemimpin berbuat kotor untuk mencapai cita-cita bersama. Ini karena kepemimpinan ada dalam ranah praktis, lahan kaum ksatria, weisya, eksekutif. Ini bukan tataran teori maupun ajang pergulatan intelektual yang bisa bersih. Ini bukan arenanya kaum brahmana yang maksimal kepraktisannya hanya berfungsi sebagai penasihat eksekutif. Ini tataran yang seru. Ini tatarannya para pelaksana yang harus berhadapan dengan jutaan manusia dengan berbagai perangai. Jadi bagaimana kita akan bersetuju dengan gerakan mengusut kasus Bank Century jika sejak awal diagendakan untuk menumbangkan pemimpin yang diduga kotor?

Ya, pemimpin mau tak mau mesti kotor. Maka Bung Karno pernah bilang strategi saja tidak cukup. Diperlukan taktik. Tetapi, taktik yang perubahannya relatif lama juga tidak cukup. Diperlukan siasat yang bisa berubah setiap detik tergantung sikon. Dalam siasat itu, lebih-lebih pada zaman sekarang, jer basuki mawa bea alias uang bicara.

Tak heran jika dalam pemilihan Ketua Umum Partai Golkar, calon yang tak terpilih, Surya Paloh, tidak tegas mengatakan dirinya tidak mengeluarkan biaya untuk perolehan suara. Ia hanya tersirat mengaku kalah kemampuan finansial dari kubu Aburizal Bakrie dalam menerapkan jer basuki mawa bea pada saat-saat terakhir sebelum pemilihan.

Itu baru lingkup partai. Terbayang jer basuki mawa bea sebesar apa lagi jika seseorang meraih posisi puncak di negeri ini.


Sebenarnya dari kalangan ilmu tertulis, Sartre, sudah ada wanti-wanti, kepemimpinan, baik cara pencapaiannya maupun cara menjalankannya setelah kedudukan itu tercapai, tidak mungkin bersih. Secara puitis, Rendra pernah menyadurnya dalam selarik sajak, ”Tanpa tangan-tangan kita kotor, tak mungkin kita ciptakan itu firdaus...”.

Ilmu tak tertulis dari dunia pewayangan mengajarkan, Rahwana, simbol angkara murka, sebenarnya sudah ingin bunuh diri setelah bertapa 50.000 tahun di Gunung Gohkarno. Rahwana putus asa berwujud buruk dan sifat jahat. Tetapi, dewa-dewa tidak mengizinkan. Alasannya, tanpa sisi gelap manusia, dunia tak terselenggara dalam harmoni hayuning bawono. Maka Rahwana tak mati-mati. Sukmanya selalu merasuki kaum pemimpin.

Ilmu tak tertulis dari kalangan teater tradisional seperti drama gong di Bali, degung di Pasundan, atau ketoprak di Jawa mengajarkan, tiap raja memerlukan mahkota yang indah. Sama halnya tiap pemimpin perlu diberi citra yang bagus, karena pemimpin bukan rohaniwan yang mungkin suci, tetapi belum tentu becus memimpin. Pemimpin itu pasti kotor atau setidaknya pernah kotor. Entah itu kotor karena uang, karena lumuran darah dan air mata pihak yang tak sepakat.

Jadi, sekali lagi, masihkah kita bersepakat dengan gerakan pengusutan Bank Century jika niat utama, dan mungkin satu-satunya, penggulingan kekuasaan?


Kearifan tradisional
Ilmu tak tertulis begitu banyak. Itu bukan saja ilmu saat Menkominfo Tifatul Sembiring membaca bahasa tubuh SBY dan dapat menyimpulkan sikapnya sebelum SBY resmi mengumumkan sikapnya atas rekomedasi Tim 8. Tetapi, itu juga ilmu yang digunakan masyarakat untuk sampai pada kesimpulan diam-diam, hanya melalui bahasa tubuh, tentang siapa sebenarnya Komjen Susno Duadji.

Ilmu tak tertulis adalah semua ilmu yang tidak diajarkan di bangku sekolah dan kuliah. Mengingat dunia akademis, bahkan untuk mengajarkan teater saja, memilih teater yang ada naskah tertulisnya, maka yang diajarkan kebanyakan teater Eropa. Lakon dan kearifan yang terkandung dalam teater tradisional, tak tertulis, teronggok, dan nyaris punah.

Padahal, kearifan tak tertulis itu bisa memberi tahu kita mengapa reformasi 1998 gagal? Karena reformasi itu didorong seluruh atau di antara ”Pancasila”-nya korupsi: Sirik, rakus, iri, dengki, dendam. Bukan pertama-tama didorong membuat perbaikan guna meraih kembali kejayaan Nusantara.

Ilmu tak tertulis mengajarkan kita semua untuk waspada dan hati-hati agar tidak terseret gerakan pengusutan kasus Bank Century jika agendanya cuma penggulingan penguasa yang belum tentu terbukti bersalah. Ilmu tak tertulis hanya membuat kita terpanggil mendukung gerakan itu jika agendanya adalah meraih kembali kejayaan Nusantara guna perbaikan nasib kita bersama. Yang lain-lain, jika pun terjadi, hanya dampak sampingan.

Sujiwo Tejo, Dalang
KOMPAS, 5 Desember 2009

Tuesday, June 2, 2009

Ali bin Abi Thalib Sebagai “Pintu Ilmu”


Rasulullah Muhammad saw pernah menyatakan bahwa bila dirinya diibaratkan sebagai kota ilmu, maka Ali ibn Abi Thalib adalah pintunya ilmu. Mendengar pernyataan yang demikian, sekelompok kaum Khawarij tidak mempercayainya. Mereka tidak percaya, apa benar Ali ibn Abi Thalib cukup pandai sehingga layak mendapat julukan "pintu ilmu" dari Rasulullah saw.

Maka berkumpullah sepuluh orang dari kaum Khawarij. Kemudian mereka bermusyawarah untuk menguji kebenaran pernyataan Rasulullah tersebut. Seorang di antara mereka berkata, "Mari kita tanyakan pada Ali tentang suatu masalah, kemudian kita lihat bagaimana jawaban Ali tentang masalah itu, sehingga kita bisa menilai seberapa jauh kepandaiannya. Bagaimana? Apakah kalian setuju?"

"Setuju!" jawab mereka serentak.
"Baiklah kalau begitu kita bertanya secara bergiliran."

Orang pertama: "Manakah yang lebih utama, ilmu atau harta?"
Ali menjawab: "Ilmu! Karena ilmu adalah warisan para Nabi dan Rasul, sedangkan harta adalah warisan Qarun dan Fir'aun.”

Orang kedua: "Manakah yang lebih utama, ilmu atau harta?"
Ali menjawab: "Ilmu! Karena ilmu akan menjaga dirimu, sementara harta malah sebaliknya, engkau yang harus menjaganya.”

Orang ketiga: "Manakah yang lebih utama, ilmu atau harta?"
Ali menjawab: "Ilmu! Karena orang yang banyak ilmunya akan banyak pula orang yang menyayangi dan hormat kepadanya, sedangkan orang yang memiliki banyak harta akan banyak pula musuh dan orang yang iri kepadanya."

Orang keempat: "Manakah yang lebih utama, ilmu atau harta?"
Ali menjawab: "Ilmu! Karena bila engkau gunakan, maka ilmu akan semakin bertambah banyak, akan tetapi sebaliknya, bila harta engkau gunakan, maka semakin lama akan semakin berkurang.”

Orang kelima: "Manakah yang lebih utama, ilmu atau harta?"
Ali menjawab: "Ilmu! Karena pemilik ilmu akan dihormati dan mendapat sebutan yang baik sedangkan pemilik harta sering kali dicemooh dan mendapat julukan yang buruk."

Orang keenam: "Manakah yang lebih utama, ilmu atau harta?"
Ali menjawab: "Ilmu! Karena ilmu itu tidak ada pencurinya, sedangkan harta banyak sekali pencurinya.”

Orang ketujuh: "Manakah yang lebih utama, ilmu atau harta?"
Ali menjawab: "Ilmu! Karena pemilik ilmu akan diberi syafa'at (pertolongan), sementara pemilik harta akan dihisab (diusut asal-muasal dan penggunaannya) oleh Allah SWT."

Orang kedelapan: "Manakah yang lebih utama, ilmu atau harta?"
Ali menjawab: "Ilmu! Karena ilmu akan abadi selamanya, sedangkan harta sebaliknya. Harta adalah sesuatu yang fana dan suatu saat pasti akan habis tak bersisa.”

Orang kesembilan: "Manakah yang lebih utama, ilmu atau harta?"
Ali menjawab: "Ilmu! Pemilik ilmu dijunjung tinggi karena kualitas manusianya, sedangkan pemilik harta dijunjung tinggi karena jumlah harta-bendanya.”

Orang kesepuluh: "Manakah yang lebih utama, ilmu atau harta?"
Ali menjawab: "Ilmu! Karena ilmu itu akan menyinarimu sehingga hati menjadi lembut, tidak beku dan hidup menjadi tenteram. Sedangkan harta sering kali membuat gelap mata, hati menjadi keras dan hidup menjadi tidak tenang, susah dan gelisah.”

Ali pun kemudian menyadari bahwa dirinya telah diuji oleh orang-orang Khawarij tersebut. Sehingga dia berkata, "Andaikata engkau datangkan semua orang untuk bertanya, insya Allah akan aku jawab dengan jawaban yang berbeda-beda pula, selagi aku masih hidup."

Kesepuluh orang itu akhirnya menyerah. Mereka percaya bahwa apa yang dikatakan oleh Rasulullah saw adalah benar adanya. Dan Ali memang pantas mendapat julukan sebagai "pintu ilmu".