Showing posts with label NU. Show all posts
Showing posts with label NU. Show all posts

Thursday, May 15, 2014

Sepenggal Kisah di Bulan Mei yang Gerah (4)

Demonstrasi besar masyarakat Yogyakarta di alun-alun kraton yang menuntut reformasi Indonesia dan agar Presiden Soeharto segera turun.

Gejolak seruan yang menuntut perubahan dengan cepat menjadi arus yang deras. Fraksi-fraksi partai yang berkuasa, para mantan jenderal, semua mulai menuntut pengunduran diri presiden. Pada tanggal 15, pimpinan NU menyampaikan pernyataan yang terdiri dari lima pokok. Salah satu pokoknya menggaris bawahi rasa hormat mereka terhadap sikap Soeharto di Mesir, di mana ia telah mengatakan; “Kalau saya tidak dipercaya lagi, saya akan menjadi pandito.” Tanggapan NU itu adalah suatu cara diplomatis untuk mengatakan bahwa mereka pun berpendapat masa kekuasaannya sudah habis.

Prabowo melewatkan sebagian besar akhir pekan dari tanggal 15 hingga 17 Mei dengan menangani pasukan-pasukannya di Makostrad. Pada Sabtu malam, tanggal 16, ada sebuah pernyataan pers dari Mabes ABRI yang mendukung pendirian NU. Prabowo langsung menemui Presiden. “Pak, ini berarti militer minta Bapak turun!” Katanya kepada Soeharto.

Presiden menyuruh menantunya itu untuk mengecek ke Subagyo (Kasad). Prabowo mengatakan, bahwa Kasad belum tahu mengenai pendirian ini. Kedua jenderal tersebut kemudian melapor kepada Soeharto. Pagi-pagi tanggal 17 Mei, Mabes ABRI menarik pernyataan itu sebelum telanjur dimuat oleh sebagian besar surat kabar. Menurut Prabowo, pagi itu juga, kemudian Wiranto tiba di Cendana untuk menegaskan bahwa ia pun tidak tahu mengenai pernyataan itu.

Presiden Soeharto yang terjepit diantara Letjen Prabowo Subianto dan Jenderal Wiranto.

Jose Manuel Tessoro (koreponden Asiaweek di Jakarta) memperoleh copy pengumuman pernyataan itu, yang bertanggal 16 Mei. Pengumuman itu tidak memuat tanda tangan, juga tidak menggunakan kop surat ABRI. Untuk menelusuri keberadaannya, Jose Manuel Tessoro menemui Brigjen A. Wahab Mokodongan, Kapuspen ABRI di bulan Mei 1998. Ia membenarkan bahwa pihak militer harus menariknya kembali, tetapi ia menegaskan tidak tahu dari mana asalnya. Sehabis sebuah konferensi pers larut malam, katanya, ia terkejut menemukannya dalam berkas fotokopinya. Ketika ia melaporkannya kepada Wiranto, Pangab itu memerintahkan diadakan penyelidikan. Mokodongan mengatakan pihak intelijen mengecek komputer-komputer yang ada di seluruh kompleks Mabes ABRI yang luas itu. “Tidak ada yang seperti ini,” katanya.

Di lain kesempatan, Jose Manuel Tessoro berbicara dengan tiga orang wartawan Indonesia yang meliput peristiwa-peristiwa 1998. Ada dua orang yang masih ingat bahwa mereka telah menerima pernyataan itu waktu berlangsungnya konferensi pers Mokodongan. Salah seorang bahkan ingat Mokodongan membacakannya. Wartawan lain, seorang wanita, mengatakan bahwa majalahnya menerima fax-nya dari kantor Mokodongan. Dengan demikian sumber asalnya masih tetap tersembunyi. Pertanyaannya adalah, bagaimana mungkin sebuah pernyataan yang begitu sensitif bisa muncul tanpa sepengetahuan Mokodongan atau Panglima ABRI?

Amien Rais, lokomotif reformasi yang menuntut diadakannya suksesi kepemimpinan nasional.

Pada tanggal 18 Mei, Prabowo bertemu dengan Amien Rais. Tokoh oposisi itu seingat Prabowo mengatakan kepadanya: “Saya pikir keadaan sekarang ini tidak bisa dipertahankan. Saya kira Anda harus meyakinkan Pak Harto supaya mengundurkan diri.” Tetapi Prabowo sama sekali tidak punya wewenang untuk melakukan itu. Di Cendana, malam itu, katanya, ia berjumpa dengan Wiranto, yang menyampaikan kepadanya bahwa anak-anak Soeharto ingin melawan. “Bagaimana kita bisa?!,” seru Prabowo. Hari itu juga, Amien Rais telah mengeluarkan seruan untuk mengadakan demonstrasi pada tanggal 20 Mei di Monas. Prabowo berupaya keras mencegah protes itu, yang diperkirakan akan menarik ribuan orang, dan bisa mengakibatkan jatuhnya banyak korban.

Berikutnya Prabowo bertemu putri sulung Soeharto, Siti Hardiyanti Rukmana (Tutut). Kata Prabowo, Tutut bertanya kepadanya, apa yang harus mereka lakukan berikutnya. “Saran saya,” katanya, “Anda harus mengganti Wiranto, atau buatlah dekrit darurat.” Soeharto tidak mau melakukan satu pun dari kedua saran itu. Maka saya katakan: “Jalan lain yang mana lagi?” Tutut bertanya kepada Prabowo, “Apa yang akan terjadi kalau ayahnya turun?” Prabowo menjawab: “Berdasarkan konstitusi, Habibie naik jadi Presiden.

Ketua DPR/MPR Harmoko, meminta Presiden Soeharto segera mengundurkan diri.

Seruan langsung agar Soeharto mengundurkan diri datang pada hari yang sama. Pada pukul 15.00 tanggal 18 Mei, sementara gedung MPR/DPR dipenuhi oleh para mahasiswa yang berdemonstrasi, Ketua MPR Harmoko meminta agar Soeharto mengundurkan diri. Malam harinya, Wiranto, di depan konferensi pers yang dipenuhi wartawan, langsung menyatakan bahwa pernyataan Harmoko adalah “pendapat pribadi”.

Mengenai kehadiran para mahasiswa di gedung MPR/DPR, pada malam sebelumnya, Wiranto telah bertemu dengan suatu kelompok termasuk pimpinan alumni Universitas Indonesia, Hariadi Darmawan. Kelompok ini menegaskan bahwa para mahasiswa berencana bergerak ke MPR dan membahas bagaimana cara terbaik mencegah kemungkinan terjadinya kerusuhan. Ada orang yang menyarankan agar para mahasiswa itu dikawal oleh militer atau diangkut dengan kendaraan. Keesokan paginya, kata Panglima Kodam Jaya, Sjafrie, diinstruksikan oleh dua orang ajudan Wiranto untuk menyiapkan transportasi. Kira-kira pukul 10.00 pagi, katanya, ia juga diberi tahu bahwa pimpinan MPR telah memberikan izin masuk. Mahasiswa menolak sebagian besar kendaraan militer, tetapi selama mereka datang dengan kendaraan, Sjafrie menjamin perjalanan mereka ke gedung MPR tidak akan dihalangi.

Keesokan harinya, tanggal 19 Mei, Prabowo berpartisipasi sepenuhnya dalam usaha mengamankan Monas dari demonstrasi protes yang direncanakan Amien Rais. Malam itu Wiranto bertemu dengan para perwira senior untuk membahas demonstrasi tersebut. “Pertemuan yang dipimpin oleh Wiranto itu mengatakan bahwa perintahnya ialah bagaimana pun demonstrasi itu harus dicegah.” Seingat Prabowo, “Saya bertanya berkali-kali apa maksudnya? Apakah kami menggunakan peluru tajam? Ia tidak mau memberikan jawaban tegas.

Sepanjang malam itu, Amien Rais menerima utusan-utusan untuk membujuknya agar membatalkan demonstrasi. Ia akhirnya mengalah dan demonstrasi yang dikhawatirkan itu dibatalkan. Tetapi pada tanggal 20 Mei, Soeharto dapat dua pukulan. Empat belas dari menteri-menterinya mengundurkan diri dari kabinet. Dan secara berturut-turut orang-orang yang diajaknya membentuk sebuah “Komite Reformasi”, menolak.

Prabowo adalah pendukung Habibie yang paling bersemangat.

Setelah matahari terbenam, Prabowo mengunjungi Habibie. “Saya katakan kepadanya: Pak, kemungkinan besar, Pak Tua akan turun. Apa Bapak sudah siap? Ia sudah siap. Ya ... ya ... ya. Kata saya: Bapak harus mempersiapkan diri.” Dari rumah Habibie, Prabowo kembali ke Cendana. “Setelah semua aman, saya masuk, masih mengenakan pakaian kamuflase,” katanya. “Saya mengira akan memperoleh pujian, karena telah berhasil mencegah demonstrasi. Tidak ada pembunuhan. Tidak ada korban. Prajurit memegang teguh disiplin. Sjafrie telah melaksanakan tugasnya dengan baik. Dan kemudian, bam!

Di ruang dalam, kata Prabowo, keluarga Soeharto sedang duduk bersama Wiranto. Yang pertama keluar adalah Siti Hutami Endang Adiningsih (Mamiek), putri bungsu Soeharto. Prabowo ingat: “Mamiek melihat saya dan menudingkan telunjuknya kira-kira beberapa sentimeter dari hidung saya, sambil berkata: Pengkhianat! Dan kemudian: Jangan injakkan kakimu di rumah saya lagi. Jadi, saya keluar. Saya menunggu. Saya ingin masuk. Saya katakan saya perlu penjelasan. Istri saya menangis pula.” Prabowo pulang ke rumahnya. Keesokan paginya, tanggal 21 Mei, pukul 09.05 setelah MPR/DPR dan Kabinet berpaling dari Soeharto, Presiden yang telah 32 tahun berkuasa itu, mengundurkan diri. Pidato pengunduran dirinya yang singkat itu disiarkan ke seluruh Indonesia.

Pidato singkat pengunduran diri Presiden Soeharto, 21 Mei 1998.

Sekalipun mendapat hinaan malam sebelumnya di Cendana, Prabowo tetap saja menghadiri upacara 21 Mei itu, untuk memberikan dukungan moril kepada pengganti Soeharto, yaitu Habibie. Setelah Habibie mengucapkan sumpah, Wiranto melangkah ke depan mengucapkan janjinya, akan melindungai Soeharto dan keluarganya.

Ketika keluarga presiden pulang kembali ke Cendana, Prabowo ikut serta. “Saya ikut sekadar menghibur Pak Harto,” katanya. “Tetapi saya sudah dituduh sebagai pengkhianat.” Situasinya sangat tegang antara saya dan anak-anak Pak Harto lainnya. Kemudian istri saya mengatakan kepada saya bahwa ada laporan-laporan yang mengatakan saya mengadakan pertemuan-pertemuan dengan Habibie setiap malam. Saya juga bertemu dengan Gus Dur, Amien Rais, Buyung Nasution. “Tetapi kami tidak mengkoordinir kejatuhan Soeharto. Kami membicarakan cara terbaik untuk meredakan kekerasan.

Dalam masalah ini, Soeharto tidak menjawab permintaan Asiaweek untuk memberi tanggapan terhadap pernyataan-pernyataan Prabowo.

(Bersambung)

Sumber:
Majalah Asiaweek, No. 8/Vol. 26, 3 Maret 2000

Friday, July 13, 2012

Pencarian Moeslim Abdurrahman, Haruskah Berhenti?


Jumat malam, 6 Juli 2012, Dr Moeslim Abdurrahman meninggalkan kita semua, menuju ke haribaan Sang Pencipta, yang selama ini dia cari.

Berhentikah kita mencari kebermaknaan Tuhan bagi kehidupan umat manusia seperti yang selama ini dilakukan melalui ucapan dan tindakan Kang Moeslim Abdurrahman? Entahlah, karena pencarian kita itu apakah sudah sampai, baru berada di tengah jalan yang benar, atau kita sebenarnya sedang sesat jalan? Hanya kita sendiri yang bisa menggugat meski orang lain bergemuruh membenarkan atau sebaliknya menyatakan sesat jalan.

Dalam sebuah buku kecil kumpulan karangan berjudul Satu Tuhan Seribu Tafsir terbitan Kanisius, Moeslim menulis: “Ini sekadar bagian atau contoh dari kerumitan teologis: Mengapa pluralitas sebenarnya adalah sebuah keniscayaan, sementara klaim kebenaran pada dasarnya adalah tafsiran yang terbatas karena sejak awal dibatasi oleh sejarah seseorang yang lahir dari komunitas yang memang berbeda- beda, disamping perbedaan struktur sosial yang menjadi lokus inkulturasi dan akulturasi agama dan keyakinannya.


Tuhan “Objektif”, saya kira tidak mungkin untuk tidak menimbang dan mempertimbangkan faktor-faktor yang membatasi dan menjadi kendala setiap manusia untuk taqarrub, yakni berusaha mendekati-Nya, tentu dalam kapasitas masing-masing dan dalam konsep Tuhan “Subjektif” yang dikenalnya dan pemahaman tentang kehendak-Nya sesuai dengan teks suci yang diwarisinya.”  (halaman 9).

Tulisan itu merupakan komentar atas apa yang menurutnya: “Dan persoalannya, bagaimana mungkin kita mau menghapus pilar-pilar peradaban itu hanya karena alasan politik, toh ada hukum Tuhan yang tidak mungkin kita lawan. Bahwa seorang anak manusia pasti akan dilahirkan oleh ibunya dan seorang bayi sebelum lahir tidak mungkin berunding dulu dengan Tuhan, dari kandungan perempuan mana ia akan lahir, di kawasan budaya dan komunitas mana ia mau dibesarkan, termasuk permintaan misalnya janganlah Tuhan menitipkan ruhnya di keluarga yang miskin sebab mungkin bisa menghalangi tingkat kesalehan hidupnya di dunia nanti akibat kemiskinannya itu.” (halaman 8-9). Tulisan Moeslim itu penting kita baca kembali menjelang bulan suci saat banyak orang atas nama Tuhan yang diyakininya menutup kafe-kafe dan nanti juga menutup warung makan agar tidak buka di siang hari, sementara ribuan orang menanti suapan dari tangan-tangan yang bergantung kepadanya.

Mengapa orang tidak mengembangkan lapangan kerja di percetakan kitab suci agar tidak bekerja di kafe atau warung makan pinggir jalan. Mungkin juga karena pencetakan kitab suci pun telah dikorupsi, mungkin sejak lama, hanya baru ketahuan sekarang. Atau, ini sebagai penanda kiamat sudah dekat sehingga Dajjal pun menguasai bidang-bidang yang semestinya memuliakan asma Allah.


Moeslim yang saya kenal ialah muslim yang berani dan bisa membuka jendela imannya untuk menengok iman model tetangganya agar ia bisa berdialog dan tukar pengalaman tentang pencarian abadi kebertuhanan yang tidak pernah selesai. Karena itu, kadang ucapan dan tindakannya membuat banyak orang terhenyak kaget, ketika keyakinannya yang selama ini dipandang sudah baku dan mutlak benar itu seolah coba diurai kembali.

Tampilan yang sederhana mencerminkan keluguan sikap hidup sekaligus kejujuran yang ia coba pegang teguh, juga dalam praktik beragama yang ia peluk sejak sebelum “lahir” itu. Lahir dari keluarga yang saleh di Lamongan, Jawa Timur pada 1948, hingga sarjana belajar ilmu tentang agama yang diyakini sejak sebelum lahir, memperoleh master dan doktor antropologi di University of Illinois, Urbana, Amerika Serikat.

Pernyataan, ucapan, dan tindakan Moeslim sesudahnya itu seolah mempertanyakan kembali praktik ajaran yang dipelajari di Tanah Air. Walaupun itu semua merupakan cara meneguhkan kembali keyakinannya dengan cara lanjut karena “maqam”-nya sudah naik ke bintang 11. Ia akrab dengan tokoh-tokoh NU walaupun besar dari keluarga Muhammadiyah. Ia akrab dengan tokoh-tokoh Hindu, Buddha, dan Kristiani meskipun Moeslim ini adalah seorang muslim yang saleh.


Dalam gerakan Islam modernis terbesar di negeri ini ia pernah dipercaya sebagai ketua Lembaga Pemberdayaan Buruh, Tani, dan Nelayan. Ia juga menjabat sebagai ketua Al-Ma‘un Institute yang didirikan mengacu pada legenda yang identik dengan aksi-aksi kemanusiaan Kiai Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Meski demikian, tidak segan ia melancarkan kritik ke tubuh gerakan ini sehingga pernah ia lontarkan perlunya kelahiran Muhammadiyah Jilid II saat ia melihat gejala kemandekan ijtihad dalam gerakan ini.

Pada Agustus 2003, bersama penulis dan beberapa tokoh nasional, Moeslim Abdurrahman berangkat umrah. Saat naik bus dari Bandara King Abul Aziz menuju Kota Mekkah dalam suatu obrolan muncul pertanyaan “entah dari siapa” tentang “Apa yang paling menarik dari ribuan orang yang setiap saat berziarah umrah ke Tanah Suci?” Semua penumpang susul-menyusul melontarkan jawaban spontan, tapi yang membuat penumpang bus itu terhenyak ialah jawaban Moeslim Abdurrahman.

Atas pertanyaan tersebut, Moeslim menjawab, “Paling penting dari ziarah haji dan umrah ini ialah berapa juta real yang masuk sebagai devisa pemerintahan Arab Saudi!” Sontak penumpang bus peziarah umrah itu tergelak … tapi ... segera terdiam … sambil bergumam lirih yang didengar telinga masing-masing. Bagaimana sebenarnya peziarah itu menangkap makna dari jawaban Moeslim tersebut? Mungkin dibawa Moeslim menghadap Tuhan.


Dari sekian banyak buku dan karya tulis yang lahir dari kepalanya, yang menarik ialah ketika Moeslim menulis: “… legitimasi Tuhan anehnya juga dapat membenarkan orang boleh membunuh orang lain karena panggilan-Nya, bahkan mengesahkan permusuhan yang berkepanjangan juga dengan alasan karena ajaran-Nya. Maka, tidak heran, dalam berbagai pertikaian politik seolah-olah yang terjadi adalah Tuhan menyerang Tuhan.

Masing-masing Tuhan saling berebut menang, bahkan tidak hanya yang menang dalam permusuhan itu, yang mengaku telah memperoleh bukti bahwa merekalah yang sesungguhnya mendapat pertolongan-Nya karena mereka di pihak yang benar. Tetapi yang kalah pun, untuk menjaga semangatnya, mengaku bahwa mereka sebetulnya sedang dicoba Tuhan, yakni apakah mampu tetap teguh bertahan dengan kekalahannya itu sebagai pembela kebenaran.” (Satu Tuhan Seribu Tafsir, halaman 6-7).

Seperti komentar banyak temannya, Moeslim yang dekat dengan Gus Dur itu adalah pemikir kritis yang menggugah banyak orang yang mengantuk. Banyak warisan yang ditinggalkan Kang Moeslim, namun satu hal yang penting dicatat ialah pertanyaannya suatu saat bahwa: “Apakah kita ber-Tuhan sesungguhnya karena untuk melawan Tuhan orang lain?” Selamat jalan meniti lorong labirin tanpa batas kecuali pembatasan Tuhan Kang Moeslim, kita semua akan menyusulmu dengan cara berbeda.

Abdul Munir Mulkhan,
Anggota Komnas HAM RI 2007-2012,
Wakil Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2000-2005

Koran SINDO, 10 Juli 2012



Berkurang Satu Tokoh JIL,
Moeslim Abdurrahman Meninggal Dunia

Cendekiawan yang mengaku Muslim dan dekat dengan mantan Presiden Abdurahman Wahid meninggal dunia, Jumat 6 Juli 2012 malam di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Berita kematian tokoh Muhammadiyah yang juga penggiat JIL (jaringan "islam" liberal) ini menyebar lewat jejaring sosial twitter, seperti dilansir situs Tempo.co.

“Innalillahi wa inna ilaihi raji'uun. Telah wafat Kang Moeslim Abdurrahman malam ini di RSCM sekitar pukul 20-an. Al-fatihah,” tulis Allisa Wahid, putri almarhum Gus Dur melalui akun twitternya @allisawahid. Allisa melanjutkan, Moeslim adalah salah satu jembatan NU dan Muhammadiyah. Konsep-konsep gerakannya fokus untuk Islam Rahmatan lil'alamiin, tentunya versi JIL.

Tokoh muda Nahdatul Ulama, Zuhairi Misrawi juga menuliskan kematian Moeslim Abdurrahman melalui akun twitternya di @zuhairimisrawi. Zuhairi menulis, Moeslim adalah tokoh Muhammadiyah yang dekat dengan NU. “Selamat berjumpa Gus Dur di alam baka, Kang,” tulis Zuhairi.

Moeslim Abdurrahman lahir di Lamongan, 8 Agustus 1958. Tokoh ini dikenal dekat dengan banyak kalangan. Beberapa karyanya antara lain Kang Towil dan Siti Marginal, Islam Transformatif, Semarak Islam Semarak Demokrasi, dan Islam Sebagai Kritik Sosial.

Namun yang tidak boleh dilupakan adalah bagaimana Moeslim Abdurrahman sebagai tokoh JIL ini mengacak-acak Islam lewat tulisan dan pernyataan-pernyataan nyelenehnya yang dia anggap sebagai kebebasan berpikir. Jadi kematiannya ini, bisa jadi berkah bagi umat Islam, berkurangnya satu tokoh perusak Islam di Indonesia.

eramuslim.com
Sabtu, 07 Juli 2012



Tanggapan ....

Dalam kitab Is’adur Rafiq Syarah Sulam Taufiq, halaman: 84 juz 2, disebutkan, telah berkata Imam Ghazaly dalam Ihya ‘Ulumuddin: “Bahwa secara umum melaknat seseorang merupakan perbuatan yang mengandung bahaya, sedangkan diam tidak berbahaya. Bahkan sampai Iblis pun tidak boleh melaknatnya.”

Sungguh banyaklah orang yang bermain-main dengan laknat pada lidah manusia, padahal telah datang hadits bahwa seorang mukmin tidaklah melaknat.

Maka tidak sepatutnya melepaskan kata dengan melaknat sesama. Dan menyibukkan diri dengan berzikir adalah lebih baik, namun bila tidak, maka diam niscaya lebih baik.

Dan mendoakan orang lain dengan keburukan adalah dekat dengan melaknat, sekalipun kepada orang yang menzaliminya. Seperti ucapan: “Semoga Tuhan tidak memberi kesehatan kepadamu, atau semoga Tuhan tidak memberi keselamatan kepadamu.”

Rasulullah tak pernah mengumpat selama hidupnya, bahkan sekalipun disakiti oleh orang-orang Kafir Qurays, beliau tetap mendoakan kebaikan kepadanya. Bacalah tarikh Nabi ketika berdakwah di kota Thaif. Walaupun penduduk Thaif melempari dengan batu dan kotoran yang disertai dengan caci-maki yang tak terperi. Rasulullah sama sekali tidak membalas dengan cacian apalagi laknat.

Semoga Allah mengampuni kita semua dari segala salah dan khilaf.

Imam Muharror

Monday, January 4, 2010

Perjalanan Karier "Sang Kiai Kontroversial" Gus Dur


Abdurrahman Wahid, presiden Indonesia periode 1999-2001 yang meninggal pada Rabu (30/12/2009), adalah putera tokoh Nahdlatul Ulama, Wahid Hasyim. Presiden yang dikenal sebagai intelektual dan "kyai kontroversial" ini menjalani pendidikan tinggi di Mesir dan Irak. Dia kerap melontarkan komentar-komentar panas dari soal sepakbola Piala Dunia sampai isu pluralisme.

Soal komentar panasnya, misalnya, dia sempat menganjurkan umat Islam Indonesia mengganti sapaan "Assalamu ‘alaikum" dengan "Selamat Pagi". Soal orang-orang yang berkukuh melakukan tindakan kekerasan untuk membela agama, dia juga berkomentar enteng. "Tuhan tidak perlu dibela."


Riwayat Singkat Gus Dur
Gus Dur adalah putra pertama dari enam bersaudara. Dia dilahirkan di Denanyar, Jombang, Jawa Timur. Walaupun Gus Dur selalu merayakan hari ulang tahunnya pada tanggal 4 Agustus, sebenarnya hari lahir Gus Dur bukanlah tanggal itu. Memang Gus Dur dilahirkan pada hari keempat bulan kedelapan. Namun perlu diketahui bahwa tanggal itu sebenarnya dihitung menurut penanggalan Islam, ia dilahirkan pada bulan Sya'ban, yang merupakan bulan kedelapan dalam penanggalan Islam. Tepatnya ia lahir pada tanggal 4 Sya'ban yang bertepatan dengan tanggal 7 September 1940.

Ayahnya, KH Wahid Hasyim, mantan menteri Agama tahun 1949. Kakek dari jalur ayahnya adalah KH Hasyim Asy'ari, pendiri Jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU), sebuah organisasi massa Islam terbesar di Indonesia. Ibunya, Ny. Hj. Sholehah, adalah putri pendiri Pondok Pesantren Denanyar Jombang. Kakek dari jalur ibunya adalah KH Bisri Syansuri yang juga merupakan tokoh pendiri NU.

Setelah lulus SD di Jombang, ia lalu melanjutkan di SMEP (Sekolah Menengah Ekonomi Pertama) Gowongan Yogyakarta. Sambil belajar di SMEP, Gus Dur mondok di pesantren Krapyak Yogyakarta. Setamat SMEP, Gus Dur pindah ke pesantren Tegalrejo Magelang Jawa Tengah. Setelah 2 tahun di Tegalrejo, Gus Dur meneruskan ke Pesantren Tambak Beras di Jombang.

Pada usia 22 tahun, Gus Dur berangkat haji dan melanjutkan pendidikan di Universitas Al-Azhar Mesir. Kemudian pada tahun 1966 Gus Dur pindah ke Universitas Bagdad di Irak, masuk di Fakultas Sastra, sampai tahun 1970.


Warna Budaya Gus Dur
Dari segi kultural, Gus Dur melintasi tiga model lapisan budaya. Pertama, Gus Dur bersentuhan dengan kultur dunia pesantren yang sangat hierarkis, tertutup, dan penuh dengan etika yang serba formal. Kedua, kultur dunia Timur yang cair (manjing, ajur, ajer), kepriyayian namun juga abangan. Dan ketiga, budaya Barat yang liberal, rasional dan sekuler.

Kesemua budaya tersebut tampak merasuki dan mewarnai dalam diri pribadi Gus Dur. Hampir tidak ada yang secara dominan berpengaruh membentuk pribadi Gus Dur secara tunggal. Semuanya bercampur dan berdialektika dalam diri Gus Dur. Inilah sebabnya mengapa Gus Dur selalu kelihatan dinamis dan sulit dipahami. Kebebasannya dalam berpikir dan luasnya cakrawala pemikiran yang dimilikinya melampaui batas-batas tradisionalisme yang dipegangi komunitasnya sendiri.


Berikut ini perjalanan karier bekas presiden yang dulu juga hobi menjadi komentator sepak bola itu.

Nama:
Abdurrahaman Ad-Dakhil alias Abdurrahman Wahid

Tempat Tgl. Lahir:
Denanyar, Jombang, 4 Agustus (7 September) 1940

Orang Tua:
Wahid Hasyim (Ayah), Solechah (Ibu)

Istri:
Sinta Nuriyah

Anak-anak:
Alisa Qotrunnada, Zanuba Arifah, Anisa Hayatunnufus, Inayah Wulandari (Semua Perempuan)

Pendidkan:
Pesantren Tambak Beras, Jombang (1959-1963)
Departemen Studi Islam dan Arab Tingkat Tinggi, Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir (1964-1966)
Fakultas Sastra, Universitas Baghdad (1966-1970)


Karir:
Pengajar dan Dekan Fakultas Ushuludin, Universitas Hasyim Asy’ari
Ketua Balai Seni Jakarta (1983-1985)
Pendiri dan pengasuh pesantren Ciganjur (1984-sekarang)
Ketua Umum PBNU (1984-1999)
Ketua Forum Demokrasi (1990)
Ketua Konferensi Agama dan Perdamaian Sedunia (1994)
Anggota MPR (1999)
Presiden RI (20 Oktober 1999-24 Juli 2001)
Ketua Dewan Syuro PKB


Penghargaan:
Pada tahun 1993, Gus Dur menerima Ramon Magsaysay Award, sebuah penghargaan yang cukup prestisius untuk kategori Community Leadership.

Wahid ditahbiskan sebagai "Bapak Tionghoa" oleh beberapa tokoh Tionghoa Semarang di Kelenteng Tay Kak Sie, Gang Lombok, yang selama ini dikenal sebagai kawasan Pecinan pada tanggal 10 Maret 2004.

Pada 11 Agustus 2006, Gadis Arivia dan Gus Dur mendapatkan Tasrif Award-AJI sebagai Pejuang Kebebasan Pers 2006. Penghargaan ini diberikan oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Gus Dur dan Gadis dinilai memiliki semangat, visi, dan komitmen dalam memperjuangkan kebebasan berekspresi, persamaan hak, semangat keberagaman, dan demokrasi di Indonesia.

Ia mendapat penghargaan pula dari Simon Wiethemthal Center, sebuah yayasan yang bergerak di bidang penegakan Hak Asasi Manusia. Wahid mendapat penghargaan tersebut karena menurut mereka ia merupakan salah satu tokoh yang peduli terhadap persoalan HAM.

Gus Dur juga memperoleh penghargaan dari Mebal Valor yang berkantor di Los Angeles karena Wahid dinilai memiliki keberanian membela kaum minoritas, salah satunya dalam membela umat beragama Konghucu di Indonesia dalam memperoleh hak-haknya yang sempat terpasung selama era orde baru.

Wahid juga memperoleh penghargaan dari Universitas Temple. Namanya diabadikan sebagai nama kelompok studi Abdurrahman Wahid Chair of Islamic Study.


Doktor kehormatan
Gus Dur juga banyak memperoleh gelar Doktor Kehormatan (Doktor Honoris Causa) dari berbagai lembaga pendidikan:
• Doktor Kehormatan bidang Filsafat Hukum dari Universitas Thammasat, Bangkok, Thailand (2000)
• Doktor Kehormatan dari Asian Institute of Technology, Bangkok, Thailand (2000)
• Doktor Kehormatan bidang Ilmu Hukum dan Politik, Ilmu Ekonomi dan Manajemen, dan Ilmu Humaniora dari Pantheon Universitas Sorbonne, Paris, Prancis (2000)
• Doktor Kehormatan dari Universitas Chulalongkorn, Bangkok, Thailand (2000)
• Doktor Kehormatan dari Universitas Twente, Belanda (2000)
• Doktor Kehormatan dari Universitas Jawaharlal Nehru, India (2000)
• Doktor Kehormatan dari Universitas Soka Gakkai, Tokyo, Jepang (2002)
• Doktor Kehormatan bidang Kemanusiaan dari Universitas Netanya, Israel (2003)
• Doktor Kehormatan bidang Hukum dari Universitas Konkuk, Seoul, Korea Selatan (2003)
• Doktor Kehormatan dari Universitas Sun Moon, Seoul, Korea Selatan (2003)

Sumber:
TEMPOInteraktif, detikNews, Wikipedia, VIVANews, dll.

Friday, December 25, 2009

Sepasang "Sandal" Penjaga Umat


Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah adalah organisasi massa Islam yang usianya jauh lebih tua dari usia Republik Indonesia. Selama perjalanannya, kedua organisasi ini konsisten menjaga umat dan bangsa meski sering kali tak berjalan mulus.

NU-Muhammadiyah itu ibarat sepasang sandal bagi bangsa Indonesia. Antara bagian kanan dan kirinya berbeda, tetapi ia harus digunakan bersama,” kata Ketua Umum Pengurus Besar NU KH Hasyim Muzadi saat menerima kunjungan rombongan Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang dipimpin Ketua Umumnya Din Syamsuddin di Kantor PBNU, Jakarta, Sabtu (19/12).

Sebagai sepasang sandal, ia harus digunakan bersama, tidak mungkin hanya digunakan sebelah bagian saja. NU dekat dengan kalangan masyarakat pedesaan, sedangkan Muhammadiyah akrab dengan kelompok masyarakat perkotaan. Sulit bagi tiap-tiap kelompok itu untuk berdakwah di luar kelompok masyarakat yang selama ini telah menjadi domain-nya.

Kunjungan itu dilakukan dalam rangka Peringatan Bersama Tahun Baru 1 Muharam 1431 Hijriah. Tahun sebelumnya, peringatan itu dilakukan di Kantor PP Muhammadiyah dengan tamu delegasi dari PBNU. Saling kunjung itu diharapkan bisa menjadi upaya mengeratkan dan mengharmoniskan hubungan antara NU dan Muhammadiyah meskipun berbagai perbedaan di antaranya tak mungkin dihilangkan.

Namun, keakraban di antara elite NU dan Muhammadiyah itu bukanlah cerminan kondisi sebenarnya di antara warga NU dan Muhammadiyah, seperti yang diungkapkan salah satu anggota rombongan dari Muhammadiyah. Di beberapa daerah, perseteruan warga dari dua aliran keagamaan itu bak api dalam sekam.

Ketidaksukaan di antara mereka memang jarang menimbulkan konflik terbuka seperti yang terjadi terhadap sejumlah kelompok agama lainnya. Perseteruan umumnya berakhir dengan ”perceraian” dalam hubungan sosial kemasyarakatan, seperti mendirikan masjid sendiri meskipun lokasinya bersebelahan atau menolak bergabung dalam kegiatan-kegiatan sosial yang diselenggarakan kelompok lain.


Persoalan klasik
Ketidakcocokan itu hingga kini masih didasari oleh persoalan klasik berupa pemahaman dan proses ritual agama yang berbeda. Kondisi itu jelas berbeda dibandingkan kecemburuan sosial yang terbangun pada masa Orde Baru yang dibungkus dengan kecemburuan politik.

Saat itu warga NU benar-benar termarjinalkan, baik dari sisi ekonomi, pendidikan, maupun politik. Sementara warga Muhammadiyah dinilai lebih beruntung karena lebih dekat dengan kekuasaan. Kondisi itu setidaknya terlihat dari penunjukan menteri agama selama Ode Baru yang biasanya diberikan Presiden Soeharto kepada kader Muhammadiyah.

Di luar persoalan klasik itu, kedua ormas Islam ini sebenarnya menghadapi persoalan yang sama saat ini, yaitu merebaknya aliran keagamaan yang cenderung eksklusif dan menolak akar budaya bangsa. Mereka sama-sama dihadapkan pada pengaruh paham keagamaan yang keras dan merebak tak hanya di wilayah perkotaan, tetapi hingga ke pelosok kampung.

Din mengingatkan, ”Ormas itu hanya alat, bukan tujuan, apalagi kalau dijadikan agama.” Karena itu, ketegangan di antara warga dua ormas itu harus diselesaikan bersama demi menghadapi persoalan bersama yang jauh lebih berat.

Pertentangan antara sebagian warga NU dan Muhammadiyah itu dinilai Din terjadi akibat kesalahpahaman dan kurangnya toleransi terhadap pemahaman kelompok lain. Dengan silaturahim di antara para elitenya, warga kedua ormas itu di tingkat akar rumput diharapkan akan mengikuti jejak itu.

Di luar persoalan keagamaan, NU dan Muhammadiyah juga perlu lebih menunjukkan kepeduliannya terhadap berbagai persoalan bangsa. Maraknya korupsi, kolusi dan nepotisme berbaur dengan persoalan perubahan sosial yang dihadapi umat.

Masyarakat dihadapkan pada gencarnya kecenderungan materialisme, konsumerisme dan budaya inderawi yang semakin jauh dari nilai-nilai agama.

Semua persoalan itu membutuhkan benteng rohani yang kokoh bagi setiap warga negara. Kemiskinan, rendahnya kesejahteraan, dan tingkat pendidikan harus dijawab kedua pimpinan ormas itu agar warganya mandiri secara ekonomi, berdaya, dan berkemajuan. Para juru dakwah NU dan Muhammadiyah juga harus mampu memberikan jawaban bahwa nilai-nilai agama masih relevan dalam menjawab setiap persoalan hidup mereka.

M Zaid Wahyudi
KOMPAS, 24 Desember 2009

Monday, February 23, 2009

Rakyat Blenger [Muak]


Di Jombang, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Hasyim Muzadi mengingatkan, Yudhoyono-Kalla tidak selayaknya saling berkomentar soal kesiapan masing-masing maju sebagai calon presiden pada Pemilu 2009. ”Cukup keputusan partainya saja dan disampaikan secara santun. Jika begini, rakyat blenger (muak),” ujar Hasyim seusai rapat senat terbuka wisuda program sarjana dan pascasarjana di Universitas Darul ’Ulum, Jombang, Jawa Timur.