Tuesday, March 14, 2023

Alasan Denny Indrayana Memilih Anies Baswedan


Izinkan saya (Denny Indrayana) menyampaikan penjelasan melalui Siaran Pers berikut ini sebagai tanggapan terhadap doorstop Menkopolhukam Mahfud MD berserta alasan saya memilih Anies Baswedan.

Terhadap wawancara doorstop yang disampaikan oleh Menkopolhukam Prof. Dr. Moh. Mahfud MD hari Selasa (31 Januari 2023) yang lalu, yang menyebut pertemuan dengan saya, izinkan saya menyampaikan penjelasan sebagai berikut:

1. Saya memang rutin meminta waktu dan bertemu dengan Menkopolhukam Prof. Dr. Moh. Mahfud MD. Tujuannya adalah untuk silaturahmi dan saling berbagi informasi. Kebetulan, saya masih sering bolak-balik Melbourne-Jakarta, karena kantor saya INTEGRITY Law Firm ada di kedua negara tersebut. Bahkan, atas bantuan rekomendasi Prof. Mahfud juga, alhamdulillah, saya menjadi satu-satunya orang Indonesia yang punya izin praktik pengacara di Indonesia dan Australia. Prof Mahfud termasuk pejabat negara yang bersedia meluangkan waktu dan mudah ditemui. Biasanya setiap baru datang dari, atau akan berangkat ke Melbourne, saya meminta waktu Beliau, dan selalu dengan mudah dan ramah ditemui.


2. Dalam berbagai pertemuan, baik di rumah dinas ataupun kantor Menkopolhukam tersebut, biasanya kami mendiskusikan situasi politik dan hukum terakhir. Saling berbagi informasi dan cerita, serta bertukar pikiran. Pak Mahfud adalah akademisi dan politisi yang saya hormati dan menjadi tempat saya meminta saran dan pendapat. Benar, sebagai junior, saya menganggap Beliau sebagai tokoh politik-hukum yang bisa dijadikan panutan. Meskipun dalam posisi sekarang sebagai Menkopolhukam beberapa rekan tidak jarang berpandangan negative atas beberapa pernyataan Prof. Mahfud di media, saya sering dapat memahami dan menyatakan, “Tidak mudah berposisi di lingkaran dalam pemerintahan. Saya pernah mengalaminya sewaktu menerima amanah sebagai Staf Khusus Presiden (2008-2011) ataupun Wamenkumham (2011-2014). Ruang gerak Prof. Mahfud sebagai Menkopolhukam, bawahan Presiden, pasti lebih sempit ketimbang saat masih bebas selaku pengamat/akademisi. Tapi saya tetap mempercayai kapasitas dan integritas antikorupsi Beliau.”

Denny Indrayana dan Mahfud MD.

3. Di pertemuan terakhir pada Rabu, 25 Januari lalu di kediaman dinas, kami sempat mendiskusikan banyak hal. Tidak semua bisa saya ceritakan dalam rilis ini. Tetapi sedikit di antaranya, memang akhirnya menjadi cukup viral ketika dijadikan konten di channel Refly Harun. Forumnya sendiri sebenarnya adalah Focus Group Discussion, dimana saya dan beberapa pengamat politik, ekonomi dan hukum tata negara diundang oleh rekan Jumhur Hidayat untuk berbicara soal kemungkinan penundaan pemilu dan perpanjangan masa jabatan presiden. Di forum itu saya menyampaikan analisis dan pendapat saya, termasuk bercerita sedikit soal diskusi dan tukar pikiran saya dalam beberapa pertemuan dengan Prof. Mahfud.

Mahfud MD dan Denny Indrayana.

4. Pada pertemuan di malam Rabu tersebut, di antara yang saya dan Prof Mahfud bicarakan adalah:

a. Memang ada politisi —yang tidak perlu saya sebutkan nama dan partainya— menyampaikan kepada Prof. Mahfud bahwa dia dan kelompoknya telah siap untuk mengadakan Sidang Istimewa MPR, sekaligus melakukan perpanjangan ataupun pemilihan Presiden, sehingga tidak diperlukan lagi Pemilu 2024. Skenarionya, Sidang Istimewa MPR diadakan saat Presiden Jokowi sedang melakukan kunjungan kenegaraan di luar negeri. Atas gerakan politik demikian, Prof. Mahfud dengan tegas mengatakan, bahwa perintah dari Presiden Jokowi tetap mengadakan dan menyukseskan pelaksanaan Pemilu 2024. Saya dan rekan-rekan civil society diminta Beliau untuk melakukan langkah-langkah advokasi agar Pemilu 2024 tidak gagal dilaksanakan, dan yang lebih penting berlangsung secara jujur dan adil.

Prabowo Subianto dan Denny Indrayana.

b. Saya juga menyampaikan kepada Prof. Mahfud, saya dan seorang tokoh akademisi dan antikorupsi dari Yogyakarta —tidak perlu juga saya sebutkan namanya— bersepakat untuk mendukung Anies Baswedan dalam Pilpres 2024 yang akan datang. Perlu saya koreksi, tidak benar juga kalau dikatakan saya meminta izin kepada Pak Mahfud. Yang benar, saya menyampaikan informasi dukungan tersebut. Atas pernyataan saya tersebut, Prof Mahfud menyatakan, “Bagus. Bagusnya memang Anies Baswedan bisa menjadi capres.” Meskipun kemudian beliau mengatakan, “Apakah teman-teman tidak mau mempertimbangkan calon presiden lain?” Lalu beliau menyampaikan capres preferensinya, yang tidak etis saya sampaikan namanya di sini.


c. Sedangkan soal ada kasus-kasus hukum yang digunakan untuk menyandera beberapa pimpinan partai, termasuk soal KPK yang menyampaikan ke Pak Mahfud untuk mentersangkakan seorang Ketum Parpol, sebenarnya adalah materi diskusi kami di pertemuan sebelumnya. Prof Mahfud mengatakan, “Kepada Ketua KPK saya sampaikan, jalankan sesuai bukti dan proses hukum saja. Jangan dicampur-adukkan dengan politik.” Pandangan mana, yang tentu saja saya setujui.

Saya juga menyampaikan concern kepada Prof Mahfud, bahwa hukum hanya dijadikan alat alias instrumen strategi mempertahankan dan memenangkan kekuasaan saja, dengan atau bahkan tanpa Pemilu 2024, jika diperlukan. Sehingga, kasus hukum dijadikan alat tawar (bargaining) untuk memaksa parpol atau tokoh bangsa untuk berposisi dan berkoalisi menjelang hajat besar Pilpres 2024. Sesuatu yang tentu saja tidak sehat dan harus dilawan, untuk memastikan Pilpres 2024 betul-betul terlaksana, tanpa politik uang dan tanpa politik curang.

Bambang Wijoyanto dan Denny Indrayana.

5. Mengenai pilihan saya kepada Anies Baswedan, yang akhirnya disampaikan Prof. Mahfud dalam doorstop kemarin, dapatlah saya jelaskan secara singkat sebagai berikut:

Dalam setiap pemilihan presiden, saya memilih capres dengan dua kata kunci: Constitution dan Anti-Corruption. Di Pemilu 2014, saya memilih Capres Jokowi, dan memberikan salam dua jari setelah pencoblosan, meskipun masih berposisi sebagai Wamenkumham. Sayangnya, kebijakan politik-hukum Jokowi ternyata banyak yang dalam pandangan saya melanggar konstitusi. Lebih jauh, di periode kedua ini, KPK dilumpuhkan dengan Presiden Jokowi menyetujui Perubahan UU KPK. Pelumpuhan KPK itulah yang menurut saya memberi kontribusi langsung pada turunnya Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia menurut Transparency International dari 38 ke 34, hal mana baru saja dirilis kemarin. Itulah rekor penurunan IPK terburuk dalam sejarah reformasi Indonesia.


Dengan tetap menghormati para bakal capres yang lain, Anies Baswedan menurut saya adalah tokoh yang rekam jejaknya paling mendekati kedua parameter yang saya pegang tersebut: Konstitusi dan Anti-Korupsi. Pasti ada saja yang tidak sependapat, namun itulah pandangan dan penilaian saya. Saya mengenal Anies Baswedan sejak lama, 20 tahun yang lalu, ketika masih sama-sama sebagai mahasiswa di UGM, Yogyakarta. Saat mana, Anies sudah menunjukkan leadershipnya ketika menjadi Ketua Senat Mahasiswa UGM.

Soal Konstitusi, kalau sekarang kepada Anies sering disematkan sebagai “Bapak Politik Identitas”, maka menurut saya itu adalah propaganda keliru, yang sengaja dihembuskan oleh para BuzzerRp, yang memang ditugaskan untuk mendiskreditkan citra Anies.

Presiden SBY dan Denny Indrayana saat dilantik sebagai Wamenkumham.

Soal Anti-Korupsi, saya bersama-sama dengan Anies Baswedan menjaga dan mempertahankan KPK yang kuat dan independen. Termasuk, ketika sama-sama menjadi anggota Tim Delapan. Tim independen kepresidenan yang dibentuk untuk melawan kriminalisasi dua pimpinan KPK, Chandra Hamzah dan Bibit Samad Riyanto. Dimana Anies Baswedan didapuk menjadi Juru bicaranya, dan saya menjadi Sekretaris timnya, dipimpin almarhum Dr. Adnan Buyung Nasution. Anies pula gubernur yang membentuk TGUPP, atau dikenal dengan KPK Jakarta, untuk memastikan agenda antikorupsinya di Ibu Kota Jakarta.

Pengukuhan Denny Indrayana sebagai Guru Besar (Professor) Ilmu Hukum di Universitas Gadjah Mada.

Lebih jauh, kenapa saya mendukung Anies Baswedan, akan saya tuliskan pada artikel lain yang lebih lengkap. Untuk rilis kali ini, cukup demikian. Mari kita menjadi pemilih cerdas, dengan memastikan Pemilu 2024 terlaksana dengan free and fair. Serta, Capres yang kita dukung adalah berdasarkan rekam jejak kapasitas dan integritasnya, bukan karena alasan lain. Apalagi karena pilihan dukungan oligarki ataupun uang.

DEMOkrasi, Daulat Rakyat, harus kita menangkan kembali, melawan DUITokrasi, Daulat Duit. Kita harus pastikan presiden adalah pilihan rakyat, bukan presiden pilihan uang!

Salam Integritas.

Prof. Denny Indrayana, S.H., LL.M., Ph.D.
Twitter @dennyindrayana
Integrity Law Firm @integritylawfirm2700
https://www.youtube.com/watch?v=igMXtoJQXRk

Monday, February 6, 2023

Untung Prabowo Tak Jadi Presiden

Negara Serasa Milik Mereka Berdua.

Membaca dan melihat sepak terjang dan gaya politik Prabowo Subianto akhir-akhir ini maka rasanya bersyukur juga bahwa Prabowo pada Pilpres 2019 tidak berhasil menjadi Presiden Republik Indonesia. Bukan berarti gembira atas kemenangan Jokowi, akan tetapi sikap anti rakyat Jokowi jauh lebih jelas ketimbang Prabowo. Sedangkan Prabowo abu-abu.

Ketika yang bersangkutan siap menerima jabatan Menteri dan masuk ke dalam Kabinet Jokowi maka goresan buruk karakter Prabowo mulai tercatat. Ia tidak peduli dengan tangisan dan perasaan pendukungnya yang berjuang mati-matian demi Prabowo-Sandi sebagai capres saat itu. Para pendukungnya merasa terkhianati. Karena kecurangan Pilpres diterima oleh Prabowo “hanya” demi status Menteri alias pembantu presiden.


Bahkan kemudian berkali-kali memuji habis-habisan (menjilat habis!) Jokowi mulai dari pekerja keras, selalu memikirkan rakyat hingga memberi predikat sebagai Presiden terbaik. Orang menyebut Prabowo bagai penjilat yang berubah dari macan menjadi meong. Galak dan gebrak mimbar Prabowo dulu hanya tinggal monumen konyol yang menggelikan.

Tidak sedikit pun ada simpati Prabowo pada pendukungnya yang menjadi pesakitan di rezim Jokowi. Tokoh KAMI yang dipenjara (Jumhur Hidayat, Syahganda Nainggolan, dkk.), lalu derita HRS dan enam laskar yang terbunuh keji telah lewat begitu saja. Belum banyak sekali aktifis di daerah yang "la salam wala kalam". Tak sepatah kata pun terucap simpati apalagi membela. Rakyat melihat orientasinya hanya pada jabatan dan ketakutan. Presiden menjadi impian.


Terakhir ia justru mendekat pada keluarga Jokowi. Gibran, Kaesang dan Bobby ditempel rapat. Langkah mengerikan dari sang jagoan yang mantan Danjen Kopassus. Prabowo dukung Gibran untuk Gubernur Jateng atau DKI, Prabowo mendukung pula Bobby (anak mantu Jokowi) maju Gubernur Sumut. Meski untuk yang ini agak kikuk dengan Edy Rahmayadi Gubernur Sumut Petahana yang adalah kader Gerindra sendiri.

Prabowo senang mendengar Kaesang terjun ke politik dan bahagia jika masuk ke Partai Gerindra. Kaesang yang baru saja menikah ala anak raja-raja Jawa dengan kawalan ratusan personel tentara dan polisi tampaknya akan didorong untuk Walikota Solo menggantikan Gibran. Jika demikian maka jelas sekali bahwa Prabowo adalah pendukung nepotisme.


Sekarang tinggal ditunggu saja Prabowo bersilaturahmi ke adik ipar Jokowi, Anwar Usman yang merupakan Ketua Mahkamah Konstitusi untuk jaga-jaga jika proses Pilpres kelak masuk ke Mahkamah Konstitusi.

Kesimpulannya, Prabowo memang tidak layak untuk jadi Presiden di negeri demokrasi. Karenanya ada hikmah besar bahwa ia tidak menjadi Presiden pada Pilpres 2019 dan Pilpres sebelumnya (2014).

Prabowo memang tidak lebih bagus dari Jokowi.

Bandung, 30 Januari 2023.

M Rizal Fadillah
Pemerhati Politik dan Kebangsaan
By FNN, 30 Januari 2023

Sunday, December 11, 2022

Apakah Anies Baswedan Akan Seperti Adnan Menderes?


Nama aslinya Ali Adnan Ertekin Menderes. Ia seorang negarawan Turki dan Pemimpin pertama Turki yang dipilih secara demokratis dalam sejarah Turki.

Ia juga seorang kader Mustafa Kemal, tokoh utama yang menghancurkan Khilafah Utsmaniyah. Ia bukan lahir dan besar di kalangan keluarga aktivis Muslim seperti pemimpin besar Islam Turki Necmettin atau Najmuddin Erbakan (rahimahullah) dan Recep Thayib Erdogan, Presiden Turki sekarang.

Kendati demikian, ia seorang Muslim berakal sehat dan memiliki tekad kuat memperbaiki nasib bangsa Turki dan umat Islam yang porak poranda oleh Mustafa Kemal melalui penghancuran Islam politik dengan program sekularisasinya sejak tahun 1924.

Dengan menjatuhkan sistem khilafah dan menggantinya dengan sistem sekularisme ala Eropa, melalui tangan besinya, Mustafa Kemal adalah dalang utama kehancuran bangsa Turki dan dunia Islam lainnya dalam segala lini kehidupan. Akhirnya ia mati dengan kondisi sangat mengenaskan dan menakutkan.

Partai Rakyat Republik yang dalam bahasa Turki disebut Cumhuriyet Halk Partisi (CHP), adalah sebuah partai politik di Turki yang saat ini menjadi partai Oposisi dan Partai Nomor 2 terbesar menurut hasil pemilu November 2015. Partai Rakyat Republik Turki sering juga disingkat CHP atau PRR dalam Bahasa Indonesia.

Berdasarkan keprihatinan mendalam, Adnan Menderes keluar dari Partai Rakyat Republik yang didirikan Mustafa Kemal lalu mendirikan Partai Demokrat pada tahun 1946.

Pada Pemilu 1950, qadarullah, partai besutan Adnan Menderes itu memenangkan Pemilu sehingga ia menjabat sebagai Perdana Menteri Turki pertama yang terpilih secara demokratis.

Tak ayal lagi, pemerintahan Adnan Menderes hasil Pemilu ini digoyang terus oleh kelompok sekular, baik pun dari kalangan sipil maupun militer.

Sejak Adnan Menderes memegang pucuk pemerintahan Turki pada 29 Mei1950, sampai 27 Mei 1960 tidak kurang telah dilaksanakan empat kali Pemilu. Semuanya dimenangkan Partai Demokrat pimpinan Adnan Menderes.

Adnan Menderes dan Partai Demokrat (Turki).

Akhirnya kaum sekular dari kalangan militer kehilangan akal dan kesabaran lantas memutuskan untuk mengkudeta Adnan Menderes pada tahun 1960. Dan tragisnya mereka lalu menjatuhkan hukuman gantung pada Menderes pada tanggal 17 September 1961.

Alasan kelompok militer sekular yang saat itu masih menganut ideologi sekularisme ala Barat bahwa Adnan Menderes akan mengembalikan bentuk pemerintahan sistem Khilafah yang pernah tegak di atas bumi Turki dan negeri-negeri Islam lainnya lebih dari lima ratus tahun (5 abad).


Pertanyaan Mendasar
Ada pertanyaan mendasar terkait rahasia kemenangan gemilang Adnan Menderes di tengah masyarakat dan pemerintahan sekular Turki yang sudah berjalan sekitar 37 tahun dengan tangan besi itu.

Padahal semua institusi negara dan ormas sudah dikuasai dan berubah menjadi sekular. Bahkan militer telah menjadi backbone sekularisme yang siap menghabisi setiap apapun dan siapapun yang berseberangan dengan pemikiran dan pandangan mereka. Adnan Menderes adalah salah satu bukti korban keganasan kelompok sekular Turki, kendati ia merupakan pemimpin Turki pertama kali yang terpilih secara demokratis melalui mekanisme Pemilu.

Jika dianalisa apa rahasia kemenangan gemilang Adnan Menderes di tengah dominasi kaum sekular baik sipil maupun militer yang bahkan mendapat dukungan hampir tak terbatas dari negara-negara Barat? Sehingga ia dapat memimpin Turki dengan baik dan cukup berhasil selama 10 tahun, mulai tahun 1950 hingga dikudeta tahun 1960 dan dihukum gantung tahun 1961.

Adnan Menderes sedang berpidato di tengah lautan massa.

Di antaranya:
1. Adnan Menderes terkenal cerdas dan menonjol dalam dunia pendidikan serta besar dalam keluarga berpendidikan, sehingga Mustafa Kemal saat bertemu pertama kali sangat tertarik padanya dan merekrutnya menjadi kader petinggi partainya yakni Partai Rakyat Republik.

2. Adnan Menderes sangat berani dan urat saraf takutnya sudah tidak ada. Hal itu disebabkan sangat kuatnya iman beliau kepada Takdir Allah. Ia menyadari betul suatu saat nyawanya akan terancam oleh kaum sekular. Sebab itu saat diputuskan hukuman gantung di pengadilan, ia menjawab dengan gagah perkasa: “Silakan gantung Adnan Menderes, nanti akan Allah lahirkan seribu Adnan Menderes lainnya!” Begitu ujarnya penuh percaya diri dan bahagia.

3. Adnan Menderes memiliki keikhlasan dalam beramal dan berjuang. Amal dan perjuangannya ia tujukan hanya karena Allah dan kebahagiaan akhiratnya semata. Bukan mengharapkan pujian manusia, apalagi karena mencari kekayaan tujuh turunan. Sebab itu, ia bangga dihukum gantung karena alasan yang bukan kesalahannya seperti, korupsi, penyalahgunaan kekuasaan dan sebagainya.

17 November 1961, Ali Adnan Ertekin Menderes, digantung di Pulau Imrali, Laut Marmara, Turki.

4. Adnan Menderes mencintai agama, umat dan negerinya melebihi cinta pada diri, anak, istri dan keluarganya. Saat ada peluang lolos dari tiang gantungan asal mau mengakui kesalahan-kesalahan yang diada-adakan oleh rezim militer saat itu, ia tidak gunakan kesempatan itu. Alasannya jelas, ia ingin buktikan pada agama, umat dan negerinya perihal keberaniannya berkorban. Kendati dengan nyawa sekalipun.

Akhirnya, nama beliau sekarang sangat harum di tengah masyarakat Turki yang paham sejarah. Sehingga nama bandara di kota terbesar ke-3 di Turki, yakni kota Izmir diberi nama dengan Bandara Internasional Adnan Menderes.

5. Program dan janji yang diangkat Adnan Menderes saat kampanye pemilu sangat sederhana, tidak muluk-muluk seperti di negeri kita ini. Program dan janji kampanye ia realisasikan 100%. Ini menunjukkan Adnan Menderes memahami kebutuhan rakyatnya dan amanah dalam memikul tanggungjawab kepemimpinan.

Pada 27 Mei 1960, Ali Adnan Ertekin Menderes dikudeta militer yang dipimpin oleh Cemal Gürsel dengan tuduhan mengubah konstitusi negara.

Di antara program dan janji politik Adnan Menderes saat kampanye pertama kali dalam Pemilu tahun 1950 ialah:

1. Mengembalikan Adzan dengan bahasa Arab. Sebelumnya kumandang Adzan telah diubah Kemal Ataturk menjadi bahasa Turki.

Dituliskan dalam sejarah Turki moderen, saat Adnan Menderes memenuhi janjinya terkait Adzan dikembalikan berbahasa Arab, jutaan masyarakat Turki di seantero negeri serentak sujud syukur di semua tempat; di jalanan, di pasar-pasar dan di mana saja mereka berada saking gembiranya.

2. Memperbolehkan ibadah haji, karena selama 37 tahun kekuasaan Mustafa Kemal, ibadah haji telah dilarang.

3. Memperbolehkan melakukan pengajaran agama Islam di sekolah-sekolah yang sebelumnya dilarang selama 37 tahun.

4. Membuka kembali sekolah kader Imam dan Khatib yang dibubarkan Mustafa Kemal sejak ia berkuasa. Presiden Erdogan sekarang adalah alumni salah satu sekolah kader Imam dan Khatib tersebut.

5. Menghapus UU yang melarang muslimah untuk berjilbab yang sudah diterapkan selama 37 tahun.

Anies Baswedan dan Adnan Menderes.

Nah! Lalu bagaimana dengan Anies Baswedan? Kami melihat ada beberapa kesamaan beliau dengan Adnan Menderes. Di antaranya:

1. Kesamaan kepribadian dan karakter seperti, cerdas, memiliki visi dan misi yang jelas, berani menghadapi resiko apapun. Semoga beliau juga siap mati demi perjuangan agama, umat dan negeri, seperti yang dimiliki Allahuyarham Adnan Menderes.

2. Kesamaan situasi dan kondisi negeri saat beliau mencalonkan atau dicalonkan menjadi Pemimpin tertinggi negerinya. Dimana kelompok sekularisme telah menguasai negeri sejak puluhan tahun, dan dukungan penuh asing terhadap mereka, lalu kondisi ekonomi yang carut marut. Dominasi asing dan aseng atas ekonomi, politik, hukum, pendidikan dan lainnya. Islamophobia dan tekanan pada umat Islam yang sedang di puncaknya, kerinduan kebanyakan umat Islam terhadap tegaknya syariat Islam di tengah keterpurukan mereka di hampir semua sektor kehidupan dan lain sebagainya.

3. Memahami dengan baik situasi dan kondisi negeri dan masyarakat yang sedang terjadi. Dengan demikian, solusi yang ditawarkan adalah yang mendasar dan membumi sesuai dengan kondisi dan situasi yang dihadapi.

3. Baik Adnan Menderes maupun Anies Baswedan sama-sama Muslim yang hidup, berpolitik di negeri mayoritas Muslim dan prihatin terhadap nasib mayoritas saudaranya di negeri mereka sendiri.


Adapun sisi perbedaannya ialah, Adnan Menderes memiliki kepastian politik karena memiliki partai sendiri yaitu Partai Demokrat, tidak terikat dengan ikatan threshold kendati partainya baru lahir dan hidup di zaman tirani kaum sekular.

Sedangkan Anies Baswedan tergantung kepada partai orang lain. Apalagi partai utama pendukungnya, NASDEM masih harus berkoalisi dengan dua partai lain agar lolos dari jeratan maut setan politik yang bernama threshold.

Lalu apa solusinya agar Anies Baswedan lolos dicalonkan menjadi Capres tahun 2024?

Karena Anies Baswedan sudah nyata mendapatkan dukungan yang tinggi dari rakyat lintas suku dan masyarakat, berdasarkan versi kasat mata dan tidak berdasarkan lembaga survey, maka menurut hemat penulis solusinya adalah sebagai berikut:


1. Partai pendukung pertama (NASDEM) wajib memberikan jaminan kepada kedua partai yang diajak berkoalisi (PKS dan Partai Demokrat) dan juga masyarakat luas bahwa niatnya adalah tulus untuk menyelamatkan kapal negeri yang sudah karam separuh badannya. Karena semua juga tahu bahwa selama Jokowi menjadi Presiden, NASDEM adalah bagian dari politik dan ekonomi oligarki istana.

Artinya, NASDEM harus benar-benar bertaubat dengan taubatan nashuha agar mendapat kepercayaan penuh dan dijamin tidak ada dusta di antara mereka.

Apalagi NASDEM dipimpin seorang yang berasal dari Aceh yang terkenal berwibawa dan konsisten dengan agamanya.

Dulu tersebutlah Soekarno datang menghadap seorang pemimpin besar Aceh bernama Daud Beureueh meminta agar sang ulama kharismatik itu tidak membawa Aceh berpisah dengan NKRI sambil mengeluarkan air mata buayanya. Eh, tidak lama setelah itu, Soekarno mengundang Beliau ke Jakarta. Ternyata untuk dipenjarakan alias tahanan rumah sampai wafat. Semoga Bapak Surya Paloh tidak meniru cerita Soekarno itu. Nanti bisa kualat, kata sebagian masyarakat kita.


2. Kedua partai yang diajak berkoalisi (PKS dan Partai Demokrat) jangan sampai mengajukan syarat koalisi dengan sesuatu yang paling berat atau mustahil seperti kursi Wapres karena masyarakat juga tahu masih ada Cawapres dari luar kedua partai tersebut yang mungkin lebih qualified demi kepentingan negara dan bangsa yang lebih baik dan lebih besar serta lebih berjangka panjang.

Lalu, bagaimana jika Anies Baswedan gagal dicalonkan menjadi Capres tahun 2024 yang akan datang? Apapun sebabnya, khususnya apabila karena ketiga partai tersebut tidak mendapatkan kesepakatan antara mereka dan masing-masing mencari tempat berlabuh sendiri-sendiri. (Semoga ini tidak terjadi ....)

Jika terjadi, menurut hemat penulis, bahwa ini adalah musibah besar ke-3 dalam sejarah perpolitikan Indonesia, khususnya bagi umat Islam.

Pertama saat pencabutan Piagam Jakarta. Ini musibah besar yang ekses negatifnya dirasakan sampai hari ini dalam berbagai lapangan kehidupan umat sehingga umat ini sulit sekali bersatu, bangkit dan maju.


Kedua, saat Presiden Habibie yang menggantikan Soeharto akibat people power 1998 ditolak pertanggung jawabannya sehingga ia tidak berhak lagi mencalonkan diri jadi Presiden berikutnya. Padahal kemampuannya sebagai Presiden, khususnya dalam masalah ekonomi tidak ada yang bisa menyamainya sampai saat ini, apalagi melebihinya (Allahuyarham). Akibatnya, sampai hari ini ekonomi negeri ini semakin tenggelam.

Alhamdulillah penulis pernah berjumpa langsung dengan beliau saat menjadi Wapres sambil menanyakan apa yang akan beliau lakukan jika ditakdirkan Allah menjadi Presiden. Alhamdulillah jawaban beliau waktu itu sangat tegas, cerdas dan meyakinkan.

Ketiga, jika Anies nanti tidak lolos sebagai Capres 2024, khususnya karena ulah tiga partai tersebut, maka itu jelas sekali musibah besar yang ke-3 dalam sejarah politik Indonesia, khususnya umat Islam yang akan berimplikasi kepada kemunduran politik Indonesia, khususnya umat Islam 25 tahun ke belakang.


Alasannya ialah:
1. Sekarang saatnya menghentikan oligarki politik dan bisnis yang berhaluan komunis-kapitalis. Ini masalah yang sangat serius. Jika tidak dihentikan sekarang (tahun 2024), rakyat Indonesia, khususnya umat Islam akan mengalami set back mungkin 20 - 30 tahun kebelakang. Bila hal ini terjadi tentu rakyat, khususnya kaum Muslimin akan mengalami situasi dan kondisi yang amat sulit 20 - 30 tahun ke depan.

2. Kondisi Indonesia ketika Anies Baswedan dicalonkan menjadi Capres saat ini mirip dengan kondisi ketika Adnan Menderes mencalonkan diri menjadi Perdana Menteri Turki. Kalau Adnan Menderes tidak berhasil menjadi Pemimpin saat itu, mungkin Turki tidak akan maju seperti keadaan sekarang ini.

Dengan terpilihnya Adnan Menderes menjadi pemimpin yang kuat dan amanah, maka secara langsung beliau berhasil memukul mundur kaum sekular yang militeristik, khususnya terhadap umat Islam dan sekaligus menanamkan kepercayaan diri mayoritas umat Islam saat itu untuk berjuang berdasarkan nilai-nilai Islam. Sejak itu terbukti nilai-nilai Islam itu jauh lebih unggul dalam membangun negeri yang maju dibanding sekularisme yang hanya menyebabkan mala petaka dan kehancuran negara, bangsa dan rakyat serta melanggengkan penjajahan Eropa atas negeri tersebut.

It's Time atau Wis Wayahe ....

3. Melihat track record yang ada selama era reformasi yang sudah berusia 24 tahun, hanya Anies Baswedan yang memiliki kualifikasi pemimpin yang berani dan mampu menghentikan program-program oligarki politik-ekonomi-kapitalis-komunis dan pada waktu yang sama menciptakan program-program alternatif yang berpihak kepada rakyat secara langsung seperti yang dibuktikannya selama 5 tahun terakhir memimpin DKI.

4. Berdasarkan kondisi real masyarakat, khususnya umat Islam saat ini, maka yang dibutuhkan adalah seorang Pemimpin negara yang takut pada Allah dan menyayangi rakyat atau masyarakat, sehingga kebijakan politik, ekonomi dan pembangunannya benar-benar berpihak kepada rakyat. Karena rakyat Indonesia mayoritasnya adalah Muslim, maka pasti umat Islam mendapat keuntungan yang paling besar.

Di samping itu, pemimpin yang dibutuhkan sekarang adalah yang juga mampu melawan atau tidak tunduk kepada keinginan-keinginan asing dan aseng, baik persoalan politik, ekonomi dan keumatan, seperti gerakan Islamophobia, penghancuran masyarakat Muslim dengan berkedok HAM, seperti LGBT, moderasi beragama dan lain-lain yang dilancarkan AS dan Eropa. Dan yang berkedok ekonomi pembangunan dan utang, seperti berutang ke China untuk menghidupkan kembali paham komunisme yang sudah usang dan mati melalui penguasaan aset-aset besar dan strategis.


Yang harus dipahami dan disadari oleh semua pihak bahwa apabila Anies Baswedan kelak ditakdirkan Allah menjadi presiden, tidak akan serta merta menjadikan Indonesia seperti Turki atau Qatar yang mampu berdiri sejajar dengan negara-negara Eropa kolonialis dan tidak bisa didikte. Bahkan sebaliknya negeri-negeri tersebut mampu memainkan peran dalam memperjuangkan nilai-nilai Islam secara global seperti yang diperlihatkan Qatar dalam ajang Piala Dunia 2022 ini.

Apa yang dilakukan Turki dan Qatar, pada 10 tahun belakangan benar-benar sebuah perlawanan terhadap hegemoni Barat dalam berbagai sektor kehidupan masyarakat Muslim dengan berbagai cara, wabil khusus menghadapi gerakan Islamophobia, moderasi beragama, LGBT dan sebagainya.

Untuk sampai seperti Turki dan Qatar, umat Islam Indonesia masih perlu waktu satu atau dua generasi lagi jika Anies Baswedan bisa dilantik menjadi Presiden RI ke-8 tahun 2024 yang akan datang, in sya-Allah.

Sebab itu, penulis sarankan PKS dan Demokrat segeralah berkoalisi dengan NASDEM serta dengan persyaratan-persyaratan yang realistis. Adalah sangat bijak jika berani mundur selangkah untuk maju 10 langkah ke depan. Sebab, bila nasi sudah menjadi bubur, penyesalan sudah tidak berguna lagi.

Kami tidak menginginkan dari tulisan ini kecuali perbaikan pemerintahan. Tidak ada taufik (bimbingan) yang terbaik selain dari Allah.

Allahu A'lam bish-shawab

Ust Fathuddin Ja'far
Suara Nasional, 7 Desember 2022
https://suaranasional.com/2022/12/07/apakah-anies-baswedan-akan-seperti-adnan-menderes/