Thursday, September 9, 2021

Penanganan Pandemi: Turbulensi Kehidupan


Hari-hari terakhir ini lukisan kehidupan anak bangsa amat memprihatinkan, mencekam, bahkan menakutkan. Hampir setiap kali kita membuka postingan pesan Facebook, WAG atau Twitter, berderet panjang berita tentang teman, adik, kakak, ibu, ayah atau sanak saudara lainnya yang terinfeksi Covid-19, dirawat di rumah sakit, diisolasi mandiri, dijemput ambulans, sekarat di tempat tidur, hingga mengembuskan napas terakhir.

Juga, berita-berita media tentang rumah sakit-rumah sakit yang kewalahan menampung pasien, kelangkaan tabung oksigen, jalan-jalan yang ditutup, antrean di pemakaman —semuanya adalah lukisan muram anak bangsa yang tengah berjuang keras untuk hidup.

Semua ini tidak hanya tentang aroma ketakutan, kesedihan dan derai air mata, tetapi juga tentang lorong ketakpastian hidup. Anak bangsa ini ada di lorong panjang ketakpastian itu: antara terinfeksi atau imun, sehat atau sakit, negatif atau positif, pulih atau meninggal, tetap di rumah atau bepergian, dapat makan atau kelaparan, terus bekerja atau diberhentikan.


Pasung ketidakpastian ini menelikung segenap lapisan masyarakat, setiap kelas sosial, semua kelompok gaya hidup, seluruh suku dan segala ras —tidak ada yang tersisa. Inilah titik ambang batas (threshold) dalam dunia kehidupan, yang menyisakan kebimbangan dan kegamangan hidup —the turbulence of lifeworld.

Dalam segala keterbatasan, manusia tentu berupaya melepaskan diri dari telikung ketakpastian ini. Misalnya, upaya pemerintah memberlakukan aturan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat mulai tanggal 3 Juli 2021 yang lalu di beberapa wilayah.

Meskipun belum maksimal, setidaknya ada efek perubahan gerak-gerik masyarakat —individu, kelompok, komunitas— ke arah kepatuhan terhadap protokol kesehatan.

Meningkatnya penjualan beberapa jenis vitamin dan suplemen setidaknya juga menjadi indikator bahwa masyarakat berusaha meningkatkan imunitas tubuh mereka. Artinya, dalam telikung ketidakpastian, gerakan "perang melawan virus" itu tetap hidup!


Turbulensi sosial
Pandemi Covid-19 —khususnya varian baru Delta— layaknya hantaman tsunami, telah menimbulkan kekacauan, ketakpastian dan turbulensi dalam kehidupan sosial. Efek kepanikan dari turbulensi ini telah mengancam ketahanan fisik, sosial, ekonomi dan budaya.

Turbulensi secara filosofis adalah keadaan antara atau mengambang: antara keberaturan dan kekacauan, antara kepenuhan dan kehampaan, antara determinisme dan indeterminisme, antara ada dan tiada, antara yang dapat diprediksi dan tak-dapat diprediksi, antara integrasi dan disintegrasi, antara kesatuan dan keterpecahan, antara sehat dan sakit, atau antara hidup dan mati. (Serres, 1998)

Turbulensi lahir karena ada pengganggu atau recok (noise), seperti virus atau parasit. Dan, Covid-19 adalah sang pengganggu itu, yang merecoki kehidupan anak bangsa.


Virus dan parasit sama-sama pembonceng, perecok, pembajak dan penumpang gelap pada tubuh manusia sebagai inang, yang dapat menimbulkan efek kerusakan multi-dimensi. Ada hubungan asimetris antara parasit dan inang. Inang memberi semuanya, dan tak mengambil apapun.

Sebaliknya, parasit mengambil semuanya dan tidak memberi apapun. (Serres, 1995). Pandemi Covid-19 menimbulkan turbulensi kehidupan karena ia merecoki kehidupan biologis, sosial, ekonomi, politik dan kultural anak bangsa, bahkan merusak peradaban —the noise of civilization.

Turbulensi menciptakan ambang batas yang bersifat multidimensi: fisik, sosial, psikis dan kultural. Ambang batas adalah sesuatu yang mengambang atau terombang-ambing pada garis batas. (Kristeva, 1991). Pandemi Covid-19 telah menciptakan titik ambang batas fisik: antara imun dan terinfeksi, antara sehat dan sakit, antara hidup dan mati.

Ia juga menciptakan kondisi ambang batas psikis: antara aman dan terancam, antara tenang dan takut, antara lepas dan terkungkung. Ia juga menciptakan ambang batas sosial: antara berkumpul dan berjarak, antara kebebasan dan isolasi, antara integrasi dan disintegrasi. Kondisi ambang batas ini telah memperkelam lorong ketakpastian.


Covid-19 telah menimbulkan kekacauan, keacakan dan ketakpastian dalam aneka skala. Ketakpastian lalu membawa pada kondisi ketakter-prediksi-an maksimum pada aneka sistem, karena tingginya jumlah pilihan-pilihan dan sifatnya yang acak: sosial, ekonomi, politik, budaya, seni. (Campbell, 1984).

Tetapi, harus diingat, recok sudah setua sejarah penciptaan manusia, yang sudah ada sejak awal kejadian manusia di bumi. Iblis yang merayu Adam dan Hawa agar memakan buah kuldi adalah satu bentuk recok pertama. Recok kemudian menjadi "panggung belakang" dari seluruh sejarah kehidupan manusia hingga kini dan juga seterusnya nanti. (Serres, 1998).

Selain itu, pandemi Covid-19, layak pula menjadi sebuah bahan refleksi diri tentang makna kehidupan. Beban derita dan ketakutan yang dialami manusia akibat pandemi Covid-19 memang tidak terlukiskan. Akan tetapi, dalam kondisi normal, bukankah manusia itu juga virus dan parasit?

Meniru perilaku virus, manusia juga pembonceng dan recok bagi manusia lain serta alam. Manusia menguras sumberdaya alam demi pemuasan hasrat, tanpa pernah memberi apapun sebagai imbalan. Manusia juga "mempermudah" pandemi Covid 19, karena virus "membonceng" pada kemudahan yang disediakan teknologi produksi, transportasi, dan distribusi global ciptaan manusia.


Meskipun demikian, "perang melawan virus" toh harus tetap digelar demi mempertahankan hidup. "Bio-politik" adalah jalan politik untuk mempertahankan hidup dalam sebuah sistem dan kondisi yang ada. Sementara, bio-power adalah "hidup yang menjadi sasaran komando politik," (Foucault, 1986).

Anak bangsa kini terlibat di kedua bentuk "politik" ini. Di satu pihak, setiap orang harus mempertahankan hidup dalam ancaman hebat pandemi, dengan segala cara. Di pihak lain, pemerintah menggunakan otoritasnya untuk mengatur, mengendalikan dan membatasi masyarakat, demi mengurangi dampak pandemi Covid-19.

Konflik terjadi, ketika ada jurang antara bio-politik dan bio-power, yaitu kontradiksi antara gerak-gerik masyarakat dalam mempertahankan hidup dan gerak gerik pemerintah dalam mengatur masyarakat. Kian besar jurang antara gerak-gerik masyarakat dan pengaturan pemerintah, kian besar efek turbulensi dan ketakpastian yang ditimbulkan dalam perang melawan virus, seperti yang terjadi di beberapa negara.

Sebaliknya, kian melekat chemistry (kecocokan) antara suasana batin masyarakat dan langkah kebijakan, program dan gerak-gerik pemerintah, kian tangguh mesin perang anak bangsa melawan virus.


Resiliensi budaya
Seberat apapun beban kehidupan, respons melawan virus harus diberikan, untuk tetap bertahan hidup. Resiliensi adalah respons kognitif, perilaku dan emosi yang fleksibel terhadap aneka kesulitan, yang sangat ditentukan oleh sikap dalam menghadapinya.

Ia adalah jalan untuk membangun kebertahanan dan bangkit dari kesulitan yang bersifat disruptif, seperti pandemi Covid-19. (Neenan, 2018).

Aneka cara, metode, dan teknik telah dilakukan oleh berbagai elemen bangsa untuk meningkatkan kebertahanan menghadapi efek pandemi. Proses pemulihan mungkin akan panjang, yang akan menciptakan kebiasaan-kebiasaan baru. (Fiksel, 2015)

Akan tetapi, resiliensi harus didukung oleh pemahaman komprehensif, terintegrasi dan mendalam tentang virus dengan segala dimensinya. Selain sudut pandang virologi, virus harus dilihat dari sudut pandang lebih luas dan terintegrasi: sosial, politik, ekonomi, budaya, seni dan keagamaan.


Patografi adalah pendekatan lintas-disiplin macam ini, sebagai ramuan narasi historis, biologis, sosial, politik, ekonomi dan kultural penyakit dan penularannya. Inilah metanarasi tentang krisis atau penyakit di ruang-waktu tertentu, termasuk pandemi Covid-19 dan aneka variannya. (MacPhail, 2014)

Dalam perang melawan Covid-19, selain lintas-disiplin, diperlukan pula pendekatan lintas-sektoral dan lintas-institusional. Pada tingkat akademis, perlu dihasilkan pemikiran, konsep, sistem, bentuk atau produk-produk terkait virus melalui aneka temuan ilmiah lintas-disiplin, yang melibatkan aneka disiplin kedokteran, virologi, sains, teknologi, sosiologi, ekonomi, psikologi, kebudayaan, seni, dan lain-lain.

Pada tingkat kepemerintahan, perlu kebijakan, program dan tindakan lintas-sektoral dan lintas-institusional terintegrasi. Pada tingkat masyarakat, perlu gerakan akar rumput tingkat individu, komunal dan sosial dalam semangat "gotong royong" mengatasi masalah bersama, melampaui segala perbedaan sosial-politik.


Selain itu, perlu optimalisasi dan integrasi atas tiga upaya yang tengah dilakukan. Pertama, memaksimalkan kepatuhan terhadap prosedur kesehatan yang sudah digariskan secara nasional. Kedua, memaksimalkan imunitas diri sesuai dengan kemampuan, dan bila memungkinkan menemukan gagasan-gagasan inovatif terkait kebertahanan dan imunitas.

Ketiga, intensifikasi pendekatan diri kepada Tuhan melalui doa, karena agama mengajarkan bahwa segala penyakit pasti ada obatnya. Memang, virus tak bisa dibasmi karena ia bagian historis keseimbangan alam. Tetapi, ia harus dilawan untuk meredam guncangan turbulensi dan efek merusaknya pada kehidupan.

Semoga anak bangsa diberi kekuatan, imunitas dan kesehatan.

Yasraf Amir Piliang
Pemikir sosial dan kebudayaan ITB
KOMPAS, 22 Juli 2021

Thursday, August 26, 2021

Mullah Omar, Pemimpin Taliban Penuh Misteri


Taliban adalah Mullah Mohammed Omar. Mullah Mohammed Omar adalah Taliban. Begitulah masyarakat internasional mengaitkan keduanya dalam politik Afghanistan sejak berhembusnya angin perubahan di negeri penuh konflik itu.

Bagi Taliban, Mullah Omar adalah pahlawan sejati dan sosok yang paling dihormati. Bahkan, informasi seputar kematian sang Mullah pun sempat ditutup-tutupi Taliban.

Pada 5 April 2015, Taliban Afghanistan menerbitkan biografi Mullah Omar. Biografi tersebut dikeluarkan untuk memperingati 19 tahun kepemimpinan Mullah Omar di tengah isu kematiannya yang sangat santer pada waktu itu.

Belum diketahui secara pasti apa alasan sebenarnya Taliban menerbitkan biografi Mullah Omar itu. Beberapa pengamat menduga tindakan tersebut dilakukan lantaran bertumbuhnya paham ISIS di Afghanistan dan banyaknya anggota Taliban yang membelot dan memilih bergabung dengan ISIS.


Biografi pemimpin Taliban itu ditulis dalam 5.000 kata di situs utama milik Taliban. Dalam bografi itu diceritakan tentang semua fakta Omar termasuk mengenai kelahirannya dan bagaimana Mullah Omar diasuh.

Seperti dikutip dari BBC News, Omar diketahui lahir pada 1960 di Desa Chah-i-Himmat, Khakrez, Kandahar. Pria berusia 55 tahun itu berasal dari marga Tomzo dan suku Hotak.

Pemimpin Taliban itu merupakan anak dari Moulavi Ghulam Nabi, seorang tokoh masyarakat di Afghanistan. Omar harus menghadapi kenyataan dan menjadi yatim ketika masih berusia lima tahun.


Titik Balik Mullah Omar
Sepeninggal ayahnya, Omar dan keluarga pindah ke provinsi Uruzgan. Mullah Omar memutuskan bergabung ke kelompok Jihadis setelah adanya serangan pasukan Uni Soviet di Afghanistan sekitar tahun 1980-an.

Saat itu ia masih duduk di sekolah madrasah. Dituliskan, salah satu alasan Mullah Omar memilih bergabung menjadi Jihadis untuk memenuhi panggilan agama.

Seperti seorang ksatria, pria yang disebut paling menggemari senjata granat RPG-7 itu, ikut berperang melawan Rusia pada 1983 dan 1991. Dalam dua pertempuran itu Omar terluka sebanyak empat kali dan kehilangan mata kanannya.

Berkat kegigihannyalah Omar pun dianugerahi gelar Amir Al-Mukminin, gelar yang diberikan kepada pemimpin yang saleh. Omar juga berjasa dengan mengambil alih kota Kabul dan mendirikan Islamic Emirate of Afghanistan.


Yang menarik dalam biografi tersebut, disebutkan Omar merupakan sosok yang sangat karismatik, yang selalu hidup dalam kesederhanaannya serta memiliki selera humor yang tinggi. Ia juga dikenal dengan kepribadiannya yang tenang, tak mudah emosi, ramah, dan rendah hati. Omar tidak memiliki rumah dan juga tak memiliki rekening bank asing.

Pada saat buku itu diterbitkan, Mullah Omar tak pernah diketahui keberadaannya. Namun ia dikatakan masih tetap berhubungan dengan berbagai peristiwa dan kehidupan sehari-hari di Afghanistan.

Departemen Luar Negeri Amerika Serikat bahkan menawarkan hadiah 10 juta dolar AS (dengan kurs Rupiah Rp 14.000 per US Dollar, setara dengan Rp 140 Miliar), bagi siapa saja yang bisa menemukan Mullah Omar. Ia belum pernah terlihat lagi sejak invasi pimpinan AS ke Afghanistan pada 2001. Mullah Omar dikenal sangat mendukung pemimpin Al-Qaidah, Usamah bin Laden.


Saat Amerika sibuk mencari Mullah Omar dan menawarkan hadiah bagi yang bisa menemukannya, ternyata pria pejuang Afghanistan itu tinggal tak jauh dari pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di Provinsi Zabul. Ini menjadi salah satu prank yang dilakukan Mullah Omar dan pasukannya kepada militer AS.

Cerita di atas terkuak dalam sebuah buku yang berjudul The Secret Life of Mullah Omar yang ditulis oleh wartawan Belanda, Bette Dam. Seperti dilaporkan BBC, Senin (11/3/21), dalam buku tersebut diceritakan bahwa Omar tidak pernah bersembunyi di Pakistan seperti yang diyakini oleh AS.

Adapun Omar bersembunyi di sebuah tempat yang jaraknya hanya tiga mil dari Pangkalan Operasi AS di Provinsi Zabul.

Rumah sederhana tempat tinggal Mullah Omar di Provinsi Zabul.

Bette Dam menghabiskan waktu sekitar lima tahun untuk melakukan riset dan mewawancarai anggota Taliban. Dia berhasil berbicara dengan Jabbar Omari yang merupakan pengawal Mullah Omar ketika dia bersembunyi, setelah tersingkirnya rezim Taliban pada 2001.

Omari menyembunyikan pemimpin Taliban tersebut hingga kematiannya karena sakit pada 2013. Setelah jatuhnya Taliban, Omar bersembunyi di sebuah ruang rahasia yang dekat dengan markas AS.

Dalam buku tersebut dituliskan, pasukan AS telah menggeledah satu per satu tempat tinggal di sekitar pangkalan mereka namun tidak menemukan tempat persembunyian Omar. Dia diketahui pindah ke sebuah gedung yang jaraknya hanya tiga mil dari pangkalan AS.

Mullah Omar (Taliban) dan Usamah bin Laden (Al-Qaidah).

Terkadang, Omar bersembunyi di terowongan irigasi untuk menghindari deteksi. Dia meninggal dunia pada 23 April 2013.

Mullah Omar tidak dapat menjalankan kelompok Taliban dari tempat persembunyiannya. Oleh karena itu, Omar menyetujui para pejabat Taliban untuk hadir di Qatar dalam upaya mengakhiri perang panjang di Afghanistan.

Buku The Secret Life of Mullah Omar diterbitkan dalam bahasa Belanda pada Februari 2019. Kini, ada juga edisi bahasa Inggris.

Didi Purwadi, Elba Damhuri
REPUBLIKA.CO.ID
Selasa, 17 Agustus 2021

Saturday, July 31, 2021

Selamat Jalan Dokter Fauzi, “Laskar Jihad Muhammadiyah”


Ahad pagi, 11 Juli 2021, kuterima kabar duka itu: dokter Fauzi, putra mantan ketua umum Muhammadiyah KH AR Fachruddin, meninggal dunia.

Innalillahi wainnailaihi rajiun ….

Dokter spesialis anestesi itu sosok yang unik dan menarik: sehari-hari ia berpenampilan sebagai aktifis salafi, dengan baju gamis dan peci warna putih dan jenggot menjurai panjang. Jauh dari kesan sebagai putra tokoh legendaris Muhammadiyah yang terkenal karena sikap moderatnya itu, Pak AR. Dan memang meski lahir dan besar di lingkungan Muhammadiyah, ia belakangan aktif di gerakan salafi dan bahkan ikut berjihad bersama "Laskar Jihad" ke Maluku pada saat konflik komunal agama bergelora di sana.

Bagaimana transformasi personal itu bisa terjadi?

KH AR Fachruddin (Pak AR), ayahanda dari dokter Fauzi.

Fauzi lahir pada 1956 sebagai anak keenam dari tujuh putra-putri Abdul Razak Fachruddin, karib dipanggil Pak AR, ketua umum Muhammadiyah pada 1968-1990. Dia tumbuh di Kauman, Yogyakarta, sebuah kampung yang menjadi basis gerakan Islam Muhammadiyah.

Namun, semasa kuliah di Fakultas Kedokteran UGM, Fauzi justru sempat menjadi aktifis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI). Kok aneh? Dia mengatakan, itu merupakan sebentuk perlawanan terhadap perilaku "bossy" sejumlah aktifis senior HMI yang dikenalnya.

Menurut dia, dia mewarisi darah pemberontak dari kakeknya, Kiai Fachruddin, seorang ulama Keraton Pakualaman yang menolak bekerja sama dengan Belanda pada masa kolonial.

Mengaku gemar berkelahi sejak kecil, Fauzi belakangan menjadi aktifis politik dan akhirnya menjadi ketua umum Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada 1997 hingga 2003.

Dokter Fauzi, di antara PPP, PAN dan Laskar Jihad.

Salah satu sikap politiknya yang fenomenal pada masa itu adalah: ia menolak menjadi anggota DPRD; ia berfokus pada tugasnya sebagai ketua partai.

Pada masa kritis menjelang transisi politik tersebut, ia menjadi loyalis dan merupakan salah satu tokoh kepercayaan Dr Amien Rais, ketua umum Muhammadiyah waktu itu, seorang tokoh gerakan reformasi di Indonesia. Pada saat itu, Amien gencar meluncurkan isu urgensi reformasi politik, termasuk menuntut Soeharto turun dari kekuasaan.

Fauzi berharap besar kepada politik, tetapi kemudian dikecewakannya.

Ketika gerakan reformasi sukses menurunkan Soeharto dari tampuk kekuasaan, ia mendorong Amien Rais tampil sebagai pemimpin Islam melalui partai Islam. Tapi, Amien memilih jalan lain; ia mendirikan Partai Amanat Nasional (PAN) —sebuah partai sekuler, dalam pandangan Fauzi. Amien Rais yang semula dipandangnya sebagai sosok pahlawan belakangan dilihatnya sebagai "pengkhianat".

Maka dokter Fauzi pun “berpindah ke lain hati”. Imajinasi politik Islam penuh heroisme yang dimilikinya tertambat pada sosok aktifis muda Islam radikal yang tengah menonjol pada saat itu: Ja’far Umar Thalib (JUT). Seorang aktifis salafi dan alumnus perang jihad Afghanistan yang belakangan mendirikan Laskar Jihad, sayap paramiliter dari Forum Komunikasi Ahlus Sunnah Wal Jamaah (FKAWJ).

Noorhaidi Hasan dan bukunya tentang Laskar Jihad.

Ulasan lebih lengkap dan mendalam Laskar Jihad dan JUT bisa ditemukan pada disertasi yang ditulis oleh Noorhaidi Hasan berjudul “Laskar Jihad: Islam, Militancy, and the Quest for Identity in Post-New Order Indonesia” yang diterbitkan oleh Cornel University Press pada 2006.

Demikianlah: Fauzi rajin mengikuti pengajian yang dilakukan oleh Ja’far sejak 1998, bahkan mengadakan kajian rutin di rumahnya. Ketika konflik komunal agama meletus di Maluku pada awal Januari 1999 dan Ja’far Umar Thalib mendirikan Laskar Jihad, maka Fauzi termasuk salah seorang penyokong kuatnya, baik secara politik maupun finansial.

Lulus sebagai dokter spesialis anestesi dari UGM sejak 1995, Fauzi tentu berpenghidupan lebih dari cukup.

Bahkan, akhirnya dokter Fauzi ikut dalam rombongan Laskar Jihad yang berangkat ke Maluku pada tahun akhir 2000. Meski berangkat sebagai anggota tim medis, Fauzi ikut di medan pertempuran yang terjadi di Desa Iha dan Sirisori Islam, Pulau Saparua, Maluku.

Dalam pertempuran, Fauzi sempat terkena tembakan dari musuh yang mengenai pantatnya dan membuat hancur dompetnya. Namun, alhamdulillah, dia selamat dan hanya mengalami luka ringan.


Saya bertemu dan kenal baik dengannya ketika melakukan riset untuk kajian doktoral saya di Universitas Amsterdam pada tahun 2006-2010.

Serangkaian wawancara mendalam dan biografis yang saya lakukan terhadapnya, termasuk beberapa kali mengikuti pengajian bersama jamaah salafi di rumahnya di jalan Godean, kemudian menjadi salah satu narasi yang muncul dalam disertasi saya yang berjudul “After Jihad: A Biographical Approach to Passionate Politics in Indonesia” yang rampung pada 2011. Tulisan ini merupakan petikan kecil dari narasi dalam disertasi itu.

Dalam manuskrip disertasi tersebut saya memberikan "label" pada dirinya sebagai “the ‘maverick’ post-jihadist”. Menurut Cambridge Dictionary, maverick berarti: “a person who thinks and acts in an independent way, often behaving differently from the expected or usual way” (https://dictionary.cambridge.org/dictionary/english/maverick).

Mungkin kita mengalihbahasakan maverick menjadi nyeleneh dalam bahasa Jawa atau Indonesia. Saya menyebut dokter Fauzi sebagai "(post-)mujahidin nyleneh" karena sejumlah alasan: pertama, dia seorang perokok berat. Dalam sehari ia bisa menghabiskan dua bungkus rokok —salah satu merek favoritnya Dji Sam Soe.

Pojok kanan atas: Pak Jokowi bertamu ke rumah dokter Fauzi.

Di kalangan salafi, merokok termasuk perbuatan yang diharamkan. Namun, Fauzi terus saja merokok meskipun berada di depan ulama salafi, termasuk di depan Panglima Laskar Jihad, Ja’far Umar Thalib. "Tidak ada yang bisa melarang saya merokok," ujarnya suatu ketika.

Kedua, dia tidak mau terlibat dan terjerat dalam fragmentasi dan faksionalisasi di kalangan jamaah salafi pasca-Laskar Jihad. Seperti diulas secara mendalam oleh Noorhaidi Hasan (2006), pascakonflik Maluku, Laskar Jihad dibubarkan menyusul fatwa ulama dari Arab Saudi dan Yaman yang menganggap kewajiban jihad telah selesai karena redanya gelombang peperangan di sana.

Bahkan, Ja’far Umar Thalib diekslusi dan di-ekskomunikasi dari mainstream jamaah salafi karena dianggap melakukan sejumlah penyimpangan saat memimpin Laskar Jihad. Namun, Fauzi tetap hormat dan berhubungan dekat dengan JUT.

Tapi, pada saat bersamaan, yang saya temui malah ia mengundang sejumlah ustadz salafi penentangnya dalam pengajian di rumahnya. Apa responsnya terhadap fragmentasi itu? “Itu masalah di antara sesama orang Arab, saya tidak mau ikut-ikut,” ucapnya secara berkelakar sembari tertawa.

Pak Jokowi bertamu ke rumah dokter Fauzi jelang Pilpres 2014.

Alasan berikutnya, dan mungkin terpenting, adalah keterlibatannya dalam dunia politik yang masih terus berjalan meski juga menjadi aktifis salafi.

Bukti yang paling kuat dari hal ini adalah: keterlibatan istrinya sebagai calon anggota legislatif dari Partai Gerindra (Gerakan Indonesia Raya), sebuah partai sekuler-nasionalis yang dipimpin oleh Jenderal Prabowo Subianto, pada Pemilu 2009. Ia bahkan ikut berkampanye secara informal mendukung pencalonan istrinya dengan mengerahkan sejumlah simpul politiknya, khususnya yang berasal dari kalangan PPP.

Langkah dan tindakan dokter Fauzi tersebut jelas tidak lazim di kalangan aktifis salafi: pertama, terlibat secara langsung dalam kegiatan politik praktis-electoral, dan kedua, mendukung dan mengkampanyekan seorang kandidat perempuan dalam kontestasi politik.

Belakangan, ia juga menjadi salah seorang pendukung Joko Widodo dalam pemilihan presiden pada 2014. Bahkan, Jokowi sempat mampir dan melakukan sholat Maghrib di rumahnya, antara lain bersama dengan Anies Baswedan, pada saat melakukan kampanye politik di Yogyakarta.

Dua tokoh yang mewarnai kehidupan dokter Fauzi: Ketua PP Muhammadiyah, Pak AR Fachruddin (kiri) dan  Panglima Laskar Jihad, Ustadz Ja'far Umar Thalib (kanan).

Begitulah dokter Fauzi. Seorang “maverick post-jihadist” atau “alumni jihad yang nyleneh”. Juga sosok unik “Laskar Jihad Muhammadiyah”.

Beliau akhirnya mengakhiri hidupnya di tempat tidur di masa pandemi dengan virus Covid-19 menggerogoti tubuhnya yang memiliki komorbid penyakit jantung dan diabetes. Itu berbeda jauh dengan mimpi dan cita-cita yang pernah disampaikannya kepada saya dalam sebuah wawancara: “Saya ingin pada suatu ketika mengakhiri hidup saya di sebuah tanah jihad, baik itu di tanah suci atau di medan perang suci, baik itu di Moro atau Afghanistan ….”

Namun, sebagai seorang tenaga kesehatan yang juga pasien Covid-19, saya berdoa semoga ia mati syahid.

Selamat jalan, dokter Fauzi. Semoga damai di keabadian. Aamiin.

Sleman, 12 Juli 2021

DR Muhammad Najib Azca,
Dosen di Departemen Sosiologi UGM.
republika.co.id