Showing posts with label Sumatera Barat. Show all posts
Showing posts with label Sumatera Barat. Show all posts

Friday, October 9, 2009

Trauma Bencana yang Tidak Boleh Diabaikan


"Ma, tadi ada gempa, ya...?” Fanny masih ingat betul bagaimana Nawang Wulan bertanya di pelukannya. Seraya menahan isak dan berusaha menyembunyikan kegalauan hati, Nawang bertutur kepada sang ibu, ”Ma, tadi ada gempa, ya?”

Pertanyaan itu bukan untuk memastikan, tetapi lebih menunjukkan ketakutan yang menghantui setelah gempa. Saat gempa, Nawang sedang mandi. Tanpa dibilas, sang ayah langsung melilitkan handuk dan membopong Nawang keluar dari rumah.

Dinding rumah keluarga itu yang terletak di Kompleks Rajawali, Tunggul Hitam, Padang, retak. Secara fisik tidak ada luka, tetapi dari situlah trauma melanda.

Tidak hanya itu, Fanny juga mengamati betapa gempa telah membuat anak-anak hidup dalam kosakata tentang gempa. Saat bermain, mereka membuat permainan yang berkisah tentang gempa.

”Anak-anak menyusun payung-payung yang terbuka sehingga membentuk tumpukan. Nawang lalu bersembunyi di balik tumpukan payung itu sembari meminta temannya menggoyangkan tumpukan payung seolah adalah gempa,” ucap Fanny yang juga bekerja di salah satu lembaga swadaya masyarakat di bidang pencegahan dan penanggulangan bencana.


Tindakan anak-anak ini dianggap Fanny sebagai sisa trauma pascagempa. Apalagi, mereka baru pertama kali merasakan gempa besar, 7,6 skala Richter, seperti yang terjadi pada Rabu (30/9).

Serupa dengan Nawang, Oyong (37) juga masih membawa trauma setelah bencana hebat tersebut. Di rumah yang terletak di kawasan Air Tawar, Padang, dia menyaksikan tutup sumur yang terbuat dari beton terangkat karena semburan air dari dalam sungai sesaat setelah gempa. ”Semburan air itu mengagetkan saya. Air yang menyembur bercampur lumpur sehingga tampak kecoklatan. Saya khawatir saja betapa tekanan air begitu besar sehingga ketakutan akan tsunami semakin kuat,” kata Oyong.

Istri dan mertuanya yang sakit saat gempa terjadi juga ada di dalam rumah. Satu hal yang melintas dalam pikirannya adalah kemungkinan tsunami. Segera, istri dan mertuanya dibawa ke lantai dua rumah tetangga. ”Saya minta mereka tenang di sana karena saya masih harus menyelamatkan yang lain,” ucap Oyong.

Oyong kembali ke rumah. Ternyata pamannya masih terjebak di dalam rumah. Pamannya juga luka kakinya sehingga harus dibopong keluar rumah dan ditempatkan di tangga menuju lantai dua rumah tetangga.


Beberapa jam
Beberapa jam setelah gempa berlalu, baru Oyong tenang dan bisa memaksa istri dan keluarga istrinya itu untuk mengungsi ke rumah orangtua Oyong di Siteba, Padang.

Rentetan peristiwa ini membuat Oyong trauma jika mengingat gempa. Apalagi, sampai empat hari setelah gempa, masih ada sanak saudara di Pariaman yang belum memberikan kabar. ”Saya masih mau mencari mereka,” ujarnya.

Trauma juga masih melingkupi Farida (38). Rumah-bengkel yang terletak di Siteba hancur. ”Bangunan runtuh dari belakang sampai ke depan. Cepat sekali kejadiannya,” kata Farida.


Tidak hanya bangunan yang roboh yang menyisakan ketakutan pada Farida. Ketika rumah roboh, Puput, mahasiswi yang menyewa kamar di lantai tiga rumahnya itu, terimpit reruntuhan tembok rumah. Jaraknya tidak sampai 1 meter dari pintu keluar.

”Cepat-cepat kami usahakan reruntuhan bangunan diangkat dan Puput bisa diselamatkan. Setelah itu, dia dilarikan ke rumah sakit. Sampai sekarang, Puput masih dirawat,” ucap Farida menahan isak.

Saat gempat, tinggal satu sepeda motor yang tersisa dan sudah selesai diservis. Kalau masih banyak orang, tentu korban akan lebih banyak.

Barangkali tidak banyak pihak yang tahu kalau sejumlah bangunan di Siteba hancur total. Itu sebabnya hingga Sabtu siang kemarin, bantuan logistik atau tenaga apa pun belum singgah ke kawasan itu. Jika bantuan untuk masa darurat saja terlupakan, barangkali trauma yang dialami para korban gempa semakin terabaikan.

Trauma ini merupakan peninggalan pascagempa yang perlu dipikirkan pemulihannya seusai tanggap darurat mendatang. Bila tidak, trauma ini mungkin terbawa dan mengganggu para korban gempa ini.

Agnes Rita S
KOMPAS, 4 Oktober 2009

Di Balik Gempa Bumi Padang

Keramaian Pasar di kota Padang sebelum gempa


Setelah gempa nampak rata dengan tanah

"Di sana piring dan gelas, di situ nasi dan lauk. Silakan ambil sendiri,” ucap Tuminah (29) ramah kepada sekelompok orang yang masuk tenda putih alias dapur umum di rumah dinas Gubernur Sumatera Barat.

Sepanjang Jumat (2/10), rumah dinas dipenuhi banyak orang. Di tengah minimnya rumah makan yang buka, dapur umum menjadi penyelamat bagi sebagian orang.

Sehari sebelumnya, Kamis (1/10), perkara makan bahkan lebih parah. Para pendatang yang hendak makan malam harus berputar-putar di seantero Kota Padang mencari warung yang buka. Sekelompok wartawan dari Jakarta, misalnya, setelah menyelesaikan pekerjaan mereka mengirimkan berita, pada Kamis menjelang tengah malam berputar-putar ke seluruh penjuru kota untuk mencari warung makan. Setelah dua jam, tidak tampak juga warung yang buka.

Mereka akhirnya menyerah dan bersedia diajak makan di rumah sopir mobil sewaan yang membawa mereka berkeliling sejak siang. Hari Jumat, kondisi serupa masih terjadi. Restoran yang buka di Padang dapat dihitung dengan jari. Satu restoran lumayan besar di Jalan Khatib Sulaiman, misalnya, dipadati pengunjung yang rela antre lama untuk mendapatkan makanan.


Di depan Pasar Ramayana, satu-satunya rumah makan yang buka adalah warung Mie Aceh yang menyediakan mi goreng khas Aceh dan martabak telur. Di depan Kampus Universitas Andalas di kawasan Air Manis, warung pecel lele Jawa Timur juga dipenuhi pengunjung. Pada Jumat siang, lele yang disediakan warung itu ludes.

Azis Chaniago, seorang pemilik rumah makan di Padang, belum membuka warung karena masih berkabung. Dua anggota keluarganya meninggal dunia akibat gempa. Azis baru akan membuka warungnya Senin (5/10) mendatang.

Dapur umum
Minimnya warung makan/restoran yang buka membuat banyak orang menyerbu dapur umum. Menu dapur umum, yakni nasi, mi rebus, dan ikan kaleng adalah penyelamat. Ketiga jenis makanan itu, ditambah air hangat, dikerjakan oleh Tuminah bersama sejumlah rekan Taruna Siaga Bencana (Tagana) Sumatera Barat.

”Sejak dapur umum berdiri pukul 15.00, hingga malam kami memasak tidak ada hentinya. Selesai masak nasi, masak mi rebus, lalu ikan, dan air. Pokoknya kerja terus,” ucap Tuminah.


Selain Tuminah yang kebagian tugas memasak, ada pula sederet anggota Tagana. Piring-piring kotor segera dicuci agar kembali bersih dan dapat digunakan.

Kerja di dapur umum bukanlah pekerjaan pertama Tuminah pascagempa. Pada Rabu (30/9) malam, rumah kontrakannya yang rusak tidak membuat Tuminah berdiam diri. Dia keluar dan segera bergabung dengan kawan-kawannya untuk menolong korban luka.

Setelah tidur hanya dua jam, pada Kamis pagi buta, Tuminah kembali bekerja. Terlebih lagi setelah tenda dapur umum selesai dibangun pada siang hari dan peralatan memasak tiba.

Untuk kebutuhan massal, panci untuk memasak juga berukuran jumbo, yakni berdiameter 60 sentimeter. Memasak dengan panci sebesar itu dilakukan dengan memakai alat pengaduk yang besar pula. Bisa dibayangkan juga kekuatan yang dibutuhkan untuk mengaduk nasi dari beras seberat 15 kilogram untuk sekali masak.

Tuminah senang dengan tugasnya. Baginya, bisa menolong orang lain merupakan sesuatu yang menyenangkan kendati badan harus berlelah-lelah.

Di balik kemudi alat berat jenis loader Komatsu, Kamis siang, Haji Simas tampak lelah. Namun, ia tak sedikit pun berhasrat pulang ke rumah lebih awal. Telah menjadi tekadnya untuk membantu evakuasi korban di Sekolah Tinggi Bahasa Asing (STBA) Prayoga, Padang.


Sehari sebelumnya, Jumat, Haji Simas baru tiba di rumah pukul 23.00 setelah menggerakkan alat berat itu sejak pukul 07.00. Kerja kemanusiaan itu di luar batas pekerjaan normal.

”Saya petugas bongkar muat batu bara. Orang lain membutuhkan bantuan,” kata Haji Simas, operator alat berat milik pengusaha swasta.

Saat kami bercakap-cakap selama 15 menit, Sabtu sekitar pukul 14.00, tiga jenazah dievakuasi dalam kantong warna kuning. Bau anyir tercium kuat, menembus masker yang dikenakan Haji Simas. Dia memejamkan mata, berdoa.

Tak hanya relawan yang mampu mengakselerasikan pembangunan kembali Padang dan Sumatera Barat. Ada manusia-manusia biasa, seperti sopir truk tangki premium, Amri, yang tanpa disadarinya telah berjasa besar. Amri terus mendistribusikan premium ke stasiun pengisian bahan bakar untuk umum agar dapat digunakan banyak orang.


Kediaman Amri, yang tak jauh dari Pelabuhan Teluk Bayur di Indo Villa, Pampangan, Padang, juga rusak. Namun, panggilan pekerjaan melupakan sejenak musibah yang juga dialaminya. ”Saya ikut senang jika antrean sepeda motor dan orang tak lagi menumpuk di pom bensin. Waktu mereka tak cuma habis buat antre,” katanya.

KOMPAS, 4 Oktober 2009

Thursday, October 8, 2009

18 Jam Bertahan Hidup di Reruntuhan


Auih bana, Ika, Pak…. Indak tahan dek Ika lai…. (Haus benar, Ika, Pak…. Tidak tahan lagi oleh Ika…),” jeritan perempuan muda itu sungguh memilukan. Kedua mata dan telinga kirinya memar. Mukanya sembab, kedua kakinya patah. Hanya tangan kanan yang bisa digerakkan dan menggapai-gapai tangan bapaknya, Sias (51).

Jumat (2/10) siang itu, udara panas membuat pasien bermandi keringat. Bisa dibayangkan, kondisi pasien yang tengah dirawat di bawah tenda.

Perempuan muda yang merintih pilu itu bukan pasien biasa. Perempuan yang diketahui bernama lengkap Frisca Juliana (22) yang dipanggil Ika itu adalah korban gempa tertimbun reruntuhan di Hotel Ambacang, yang dievakuasi dalam keadaan hidup. Dia terimpit reruntuhan beton lebih kurang selama 18 jam.

”Pak, agiahlah aia Ika, Pak.... (Pak, berilah air minum, Ika, Pak…),” kembali Frisca merintih.

”Sabarlah Ika. Puasa karena harus operasi nanti malam,” kata Sias, menenangkan.

Sias menyebutkan, Ika terjebak dan terkena musibah gempa karena saat kejadian gempa yang berkekuatan 7,6 skala Richter itu, ia sedang rapat di Hotel Ambacang. Ika diketahui tertimpa reruntuhan bangunan hotel ketika ada berita di televisi semua tamu hotel itu terjebak reruntuhan.

”Informasi awal, semua tamu hotel itu diduga tewas. Saya kehilangan harapan dan menunggu saja hasil evakuasi. Kamis siang diketahui, ada korban yang ditemukan selamat. Saya lihat seperti anak saya,” kata Sias.

Menurut Sias, menemukan Ika sangat sulit. Semula dicari ke RS Ganting setelah ditemukan, tetapi tak bersua. Sekitar pukul 19.00 WIB, warga asal Surantih, Kecamatan Sutera, Kabupaten Pesisir Selatan, itu mendapat informasi, Ika dirawat di RS Dr M Djamil, Padang.

Ika belum dapat mengungkapkan bagaimana ia bisa bertahan sekitar 18 jam di dalam reruntuhan. Hanya rintihan kehausan yang selalu membuat bibirnya bergetar. Kecapaian dalam situasi udara yang panas di bawah tenda rumah sakit lapangan membuat Ika akhirnya tertidur. Sias terus mengipas-ngipaskan karton ke arah wajah anaknya.

Tidak hanya Ika, Sigon (11), korban gempa lain yang sedang dirawat di RS yang sama, juga terus merintih kesakitan dan kepanasan. Sigon tertimpa runtuhan di pasar swalayan Ramayana. Kepala bagian kanan terluka. Kaki kirinya pun patah.

”Sigon segera dievakuasi setelah gempa terjadi. Syukur selamat walau mengalami luka serius dan patah tulang,” kata Murni, kakaknya.

Murni berharap, tempat perawatan di tenda lapangan diberi kipas angin. ”Panas begini, gerah bukan main. Kalau dikasih kipas angin satu per tenda membantu pasien,” katanya.


Darurat
Direktur Utama RS Dr M Djamil, Suchyar Iskandar, yang dihubungi terpisah mengatakan, standar rumah sakit lapangan memang seperti itu karena dalam kondisi tanggap darurat. ”Jangan bandingkan seperti ruangan yang berpendingin. Kalau ada bantuan tenda ber-AC, kami terima,” ujarnya.

Gempa bumi, ungkap Suchyar, membuat hampir semua ruangan tak bisa difungsikan. Ruangan untuk rawat jalan rusak 100 persen. Ruangan rawat inap yang rusak 60 persen.

Selain itu, instalasi air bersih rusak total. Alat-alat medis, termasuk peralatan untuk operasi, yang bisa difungsikan hanya sekitar 40 persen, sedangkan fisik ruangan operasi yang bisa difungsikan sekitar 60 persen.

”Karena kondisi bangunan RS Dr M Djamil seperti itu, didirikan tenda RS lapangan sebanyak 12 tenda evakuasi dengan kapasitas 300 pasien. Sebanyak 200 pasien di antaranya, korban gempa, dan 60 orang sudah menjalani operasi,” ujar Suchyar.

Menurut Suchyar, kondisi tanggap darurat yang mendesak untuk bidang kesehatan adalah air bersih dan keperluan mandi, cuci, kakus. Selain itu, obat-obatan, beras dan lauk-pauk, lampu, telepon, dan solar untuk genset. Pada masa tanggap darurat selama dua bulan, diharapkan kebutuhan mendesak itu datang secepatnya.

Gubernur Sumatera Barat, Gamawan Fauzi menekankan, air bersih sangat dibutuhkan. ”Karena bak-bak penampungan pecah, bantuan yang sangat diharapkan Pemerintah Provinsi Sumbar adalah mobil tangki air minum. Mobil MCK juga sangat dibutuhkan,” katanya.

Yurnaldi
KOMPAS, 3 Oktober 2009

Satu Dunia dalam Suka Duka


Skalanya memang tidak sebesar yang terjadi di Banda Aceh tahun 2004, di mana Bandara Sultan Iskandar Muda penuh dengan pesawat asing pengangkut bantuan.

Namun, dari segi semangatnya, apa yang kini diulurkan oleh negara-negara sahabat sehubungan dengan terjadinya gempa di Sumatera Barat, dan juga sebelumnya di Jawa, mengingatkan kita pada apa yang terjadi tahun 2004.

Bangsa-bangsa lain juga merasakan senasib sepenanggungan dengan kita. Melihat penduduk kota Padang dan Pariaman yang tertindih oleh bangunan yang runtuh karena gempa, juga yang lalu harus tinggal di tenda-tenda karena kehilangan tempat tinggal, masyarakat bangsa lain juga iba dan tergerak hatinya. Mereka ikut merasa, apa yang dialami warga Sumatera Barat adalah penderitaan yang berat dan sepantasnya ditanggung bersama.

Sungguh, kita tidak meragukan bahwa umat manusia dalam banyak hal berbagi rasa persaudaraan. Mereka peka terhadap penderitaan sesama sehingga manakala ada satu pihak menderita, pihak lain tanpa pikir panjang segera mengulurkan tangan, menawarkan bantuan.

Yang lebih menggugah, sering kali sikap tanggap menawarkan bantuan tidak terbatas pada pemerintah, tetapi juga pada organisasi-organisasi masyarakat, sampai siswa sekolah, dan bahkan pada tingkat perorangan.

Di luar gempa, dunia juga dihadapkan pada bentuk bencana lain, seperti bencana kelaparan. Ini pun, untuk Afrika, melahirkan solidaritas para seniman yang tergabung dalam USA (United Support of Artists) for Africa di tahun 1985 dengan program ”We Are the World”. Menyebut program itu kita hanya ingin memperlihatkan, tidak di benua sana, tidak di benua sini, manakala ada musibah dan ketidakberuntungan, secara naluriah, pada umumnya kita terpanggil untuk membantu, dan berbagi.


Liriknya memang mengajak kita untuk berbagi. ”We are the world, we are the children, we are the ones who make a brighter day, so let’s start giving.” Ya, kita inilah yang akan membuat dunia lebih cerah, jadi, mari mulai memberi.

Kini, di Bandara Minangkabau, Padang, berdatangan pesawat dari berbagai penjuru untuk menyalurkan bantuan, mulai dari bahan makanan hingga alat penggali ukuran besar. Bantuan tersebut datang dari Singapura, Australia, dan sebagainya. Jerman menyiapkan dana khusus yang dapat kita pergunakan manakala kita perlukan.

Kita berharap tradisi baik penuh semangat kemanusiaan ini bisa terus hidup, dan lebih baik lagi apabila hal itu dapat diperluas di saat tidak terjadi bencana.

Dengan semangat itu, kita yakin akan tumbuh pula saling pengertian lebih besar, yang pada gilirannya bisa mengurangi potensi konflik.

Pada kenyataannya, seluruh umat manusia berbagi bumi yang satu. Sewajarnyalah berkembang komunitas yang satu, di luar perbedaan yang ada. Inilah kearifan yang kita perlukan ketika kita menghadapi fenomena pemanasan global, bencana alam, dan problem kemanusiaan lainnya.

Tajuk Rencana KOMPAS, 3 Oktober 2009

Monday, October 5, 2009

Gempa dan (Wakil) Rakyat


Rabu sore, 30 September 2009, tepat 44 tahun tragedi G30S, terjadi gempa berkekuatan 7,6 Skala Richter, mengguncang Sumatera Barat. Kota Padang dan sebagian ranah Minang porak poranda.

Akibat gempa, lebih dari 500 orang meninggal, ribuan lainnya luka-luka dan kehilangan tempat tinggal. Dalam situasi menyedihkan, hujan terus mengguyur, menambah derita rakyat yang lapar, berduka, dan menggigil kedinginan.

Hari berikutnya, 1 Oktober 2009—tepat 44 tahun Kesaktian Pancasila—para anggota DPR 2009-2014 dilantik. Gedung parlemen yang megah di Senayan terasa semarak. Sebanyak 560 legislator diambil sumpah, dibungkus pakaian baru dan gelimang fasilitas sebagai wakil rakyat.


Pesan simbolik dan idiomisasi
Adakah kaitan gempa di Padang dengan pelantikan wakil rakyat? Secara rasional, tidak ada. Menghubungkan keduanya setali tiga uang dengan mengaitkan pemimpin dan berbagai bencana alam maupun kecelakaan yang harus ditanggung rakyat negeri ini. Menyimpulkan bahwa sang pemimpin tidak dikehendaki alam adalah takhayul.

Repotnya, dalam masyarakat yang paling rasional pun selalu terbuka ruang untuk membuat tafsir irasional. Tafsir itu didasari asumsi, alam dan semua gejala kehidupan merupakan teks yang menyediakan diri untuk dimaknai. Jadi, ini bukan soal takhayul-tidak takhayul, tetapi perkara kepekaan naluri.

Para wakil rakyat pantas bersyukur karena berita tentang gempa bisa mengalihkan perhatian—dan keberatan—masyarakat atas biaya pelantikan mereka yang selangit. Namun, berurutannya gempa di Padang dan pelantikan anggota parlemen memuat pesan simbolik kepada para wakil rakyat.

Pesan simboliknya ialah sungguh berbeda nasib rakyat dan mereka yang menjadi wakil rakyat. Dua peristiwa itu begitu kontras. Yang satu musibah memilukan, yang lain selebrasi membahagiakan. Kontras pula nasib rakyat korban gempa dibandingkan dengan nasib wakil rakyat di Senayan. Rakyat korban gempa harus menanti—untuk tidak mengatakan mengemis—belas kasihan dan uluran tangan negara demi menyambung hidup, sedangkan para wakil rakyat mendapatkan—tanpa perlu meminta—fasilitas yang disediakan negara untuk kemudahan hidup.


Efek idiomisasi
Kontras nasib itu membuktikan, ”wakil rakyat” sebenarnya bukan frase (kelompok kata), tetapi idiom (kata majemuk). Sebagai idiom, makna ”wakil rakyat” bukan lagi ”wakil dari rakyat” atau ”wakilnya rakyat” yang berkedudukan lebih rendah dari rakyat yang diwakili, tetapi sebuah jabatan politik. Jadi, terbentuk makna baru yang bukan lagi gabungan dari makna kata ”wakil” dan ”rakyat”.

Idiomisasi ”wakil rakyat” pada gilirannya menempatkan rakyat sebagai massa yang hanya ditengok saat kampanye menjelang pemilu legislatif. Rakyat dimobilisasi dan diperebutkan karena suaranya menentukan keberhasilan para politisi naik jenjang dari ”rakyat” menjadi ”wakil rakyat”. Lalu, para politisi menikmati kebebasan dalam ranah makna ”wakil rakyat” sebagai idiom. Dalam ranah makna itu, ”rakyat” dan ”wakil rakyat” merupakan dua entitas yang bisa sama sekali tidak berkaitan.

Oom Pasikom (Kompas, 12/9) menampilkan sindiran karikatural yang menohok. Tanggal 2 September 2009 gempa tektonik menerjang Jawa Barat bagian selatan. Namun, penanganan korban dan pemberian bantuan tidak lancar. Nasib para korban telantar. Partai-partai politik yang biasanya adu cepat mendirikan posko bantuan kali itu terkesan tenang-tenang saja. Oom Pasikom lalu memajang kartun bergambar sekumpulan korban yang berjejalan di dalam tenda, di antara reruntuhan bangunan rumah mereka. Di luar tenda terjadi dialog. ”Parpol Bapak kok tidak bikin Posko Bantuan Korban Bencana seperti dulu?!” Jawab sang politisi, ”Untuk apa?! Pemilu sudah usai! Tauk!”

Dialog itu menggambarkan, di luar kepentingan pemenangan pemilu, parpol dan para politisi lazim melupakan rakyat. Alih-alih ditempatkan sebagai pihak yang diwakili atau diabdi, rakyat mereka pahami sebagai tanggungan atau beban.

Lidah memang tak bertulang. Lain di muka, lain di belakang. Citra umum politisi di mata rakyat yang kritis sebenarnya sama. Mereka piawai menebar janji, tetapi kurang berkomitmen mewujudkan. Alasan klasik: wakil rakyat hanya menangani urusan legislatif, bukan eksekutif.

Lidah yang lentur diperlukan karena tugas politisi di parlemen adalah bersilat lidah. Mereka berdebat dan beradu argumen untuk membuahkan perundang-undangan yang menyejahterakan rakyat. Namun, kelenturan lidah tidak sepatutnya untuk sekadar menebar janji dan mempermainkan harapan rakyat.


Keberanian
Satu-satunya yang dinantikan rakyat adalah kesediaan dan keberanian anggota DPR mewujudkan komitmen yang ditebar saat kampanye. Mereka memang bukan eksekutif. Namun, lembaga legislatif bagaimanapun memiliki kekuatan besar dalam menentukan arah kebijakan eksekutif.

Kesediaan dan keberanian mewujudkan komitmen kepada rakyat menjadi penentu kaitan makna antara ”wakil rakyat” dan ”rakyat”. Jika tidak, idiomisasi memang membenarkan mereka sekadar menjadi pejabat parlemen atau legislator, bukan ”wakil dari rakyat” atau ”wakilnya rakyat”. Benarkah nasib rakyat dan nasib wakil rakyat harus kontras, sebagaimana gempa telah membuktikannya? Sanggupkah para wakil rakyat mengatakan, ”Gembiraku adalah gembira rakyat, dan derita rakyat adalah deritaku?” Mari kita tunggu.

P Ari Subagyo, Penggulat Linguistik di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta
KOMPAS, 3 Oktober 2009

Dukacita Dunia untuk Indonesia


Bantuan dari Beberapa Negara Telah Dikirim

Para pemimpin negara di dunia mengirimkan ucapan belasungkawa bagi korban gempa bumi di Sumatera Barat. Negara-negara tersebut juga menyatakan telah mengirimkan bantuan dana ataupun tim ahli untuk menolong korban.

Dalam siaran pers yang dirilis Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta, Jumat (2/10), Presiden Barack Obama menyampaikan belasungkawa kepada rakyat Indonesia. ”Kami sangat berduka atas penderitaan dan kehilangan yang disebabkan oleh gempa di Sumatera Barat. Pemerintahan saya telah berkomunikasi dengan Pemerintah Indonesia untuk menekankan bahwa Amerika Serikat selalu siap menolong Indonesia dalam masa sulit ini,” kata Obama.

Ucapan belasungkawa juga datang dari Menteri Luar Negeri Kanada Lawrence Cannon. ”Kanada sangat prihatin atas rakyat Indonesia yang terkena gempa di Sumatera dan juga dampaknya terhadap kehidupan dan mata pencarian mereka,” ujarnya.

Presiden China Hu Jintao melalui surat kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan hal serupa. ”Saya terguncang mengetahui gempa kuat telah terjadi di Sumatera Barat dan menyebabkan hilangnnya nyawa dan harta benda. Atas nama pemerintah dan rakyat China, saya menyampaikan rasa dukacita kepada para keluarga korban,” kata Hu.

Kanselir Jerman Angela Merkel, Presiden Perancis Nicolas Sarkozy, Presiden Rusia Dmitry Medvedev, Presiden Komisi Eropa Jose Manuel Barroso, Pemerintah Uni Emirat Arab, Pemerintah Qatar, dan Kepala Misi Uni Eropa di Jakarta juga mengirimkan ucapan belasungkawa kepada Presiden Yudhoyono.


Pemerintah Jepang, atas petunjuk langsung dari perdana menteri yang baru, Yukio Hatoyama, memutuskan untuk mengirim tim bantuan darurat, juga bantuan berupa matras untuk tidur, selimut, tenda, dan genset.

AS menyalurkan bantuan sebesar 300.000 dollar untuk mendukung proses penanggulangan bencana dan menyiapkan dana 3 juta dollar AS untuk bantuan lain. AS mengirimkan Tim Respons Bantuan Bencana (DART) untuk bekerja sama dengan Pemerintah Indonesia.

Jerman menyediakan 3 juta dollar AS bagi korban gempa. Selain itu, 40 tenaga ahli penanganan bencana akan segera dikirim ke Sumatera Barat.

Inggris mengirimkan tim bantuan yang terdiri dari ahli penyelamat untuk membantu upaya penyelamatan korban. Selain itu, satu tim respons darurat dikirim ke Indonesia untuk menaksir kerugian bencana.

Uni Eropa menyediakan dana 3 juta euro guna membantu kebutuhan awal dan upaya pemulihan bagi korban gempa.

Sementara itu, Kementerian Pertahanan Sipil dan Keadaan Darurat Rusia, atas perintah Presiden Medvedev, mengirimkan dua pesawat kargo IL-76 untuk mengangkut bantuan ke Padang pada 30 September.

KOMPAS, 3 Oktober 2009

Bertindaklah, Belum Terlambat


Dua gempa terjadi berturut-turut, Rabu dan Kamis (1/10). Yang pertama menggempur Kota Padang dan Pariaman, Provinsi Sumatera Barat, sedangkan gempa kedua menyerang Kota Sungai Penuh, Provinsi Jambi.

Di Kota Padang dan Pariaman, sesuai data Satuan Koordinasi Pelaksana Sumatera Barat, korban meninggal dunia mencapai 496 orang, sementara bangunan rusak berat 15.159 buah, rusak sedang 3.980, dan rusak ringan 6.737.

Sementara itu, di Kota Sungai Penuh sejumlah 1.385 bangunan rusak, 474 rusak berat, dan 63 rusak total, serta 2 orang tewas. Jarak antarkedua lokasi tersebut sekitar 160 kilometer.

Akan tetapi, jumlah korban di antara kedua lokasi tersebut mencolok perbedaannya. Dari pandangan mata wartawan Kompas, sebelumnya dia telah meliput Kota Padang, kerusakan Kota Sungai Penuh memang terlihat tidak separah Kota Padang.


Fakta-fakta lain
Fakta-fakta lain terkait kedua gempa tersebut juga banyak perbedaannya. Pertama adalah perbedaan lokasi pusat gempa. Pusat gempa yang melanda Kota Padang dan Pariaman berada di zona seismik di Palung Sumatera, di laut. Pusat gempa berada di kedalaman sekitar 71 kilometer. Jarak antara pusat gempa tersebut dan Kota Padang sekitar 57 kilometer.

Kekuatan kedua gempa itu bisa digolongkan gempa kuat. Gempa yang menghantam Padang berkekuatan 7,6 skala Richter (SR), sedangkan kekuatan gempa yang terasa di Kota Sungai Penuh adalah 7,0 SR.

Sementara pusat gempa Kota Sungai Penuh berada di daratan nyaris di bawah Kota Sungai Penuh. Pusat gempanya ada di daratan, yang berasal dari aktivitas tektonik pada Patahan Sumatera. Patahan ini membentang dari utara ke selatan. Patahan Sumatera dan jalur Palung Sumatera bisa dikatakan sejajar, memanjang dari utara ke selatan.

Lalu bagaimana semua fakta tersebut memengaruhi tingkat kerusakan dari kedua peristiwa gempa itu?


Jauh berbeda
Menurut Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral Surono, fakta-fakta tersebut menyebabkan muncul perbedaan pada dampak gempa.

Ada beberapa perbedaan yang membuat dampak gempa bumi di Padang dan Sungai Penuh jauh berbeda. Menurut Surono, setidaknya ada dua aspek yang harus dilihat karakternya secara khusus, yakni karakter sumber gempa dan media respons gempa.

Di Padang, gempa meluluhlantakkan bangunan dan menimbun korban dalam jumlah besar, sementara di Sungai Penuh jumlah korban memang jauh lebih sedikit. Di Sungai Penuh, bangunan yang roboh nyaris seluruhnya adalah bangunan dengan dinding tembok. Sementara bangunan kayu, biarpun setinggi dua lantai, tetap tegak berdiri.

Menurut Surono, dari hal tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut. Pusat gempa di Jambi berkekuatan 7,0 SR, tetapi kedalaman pusat gempa yang melanda Kota Sungai Penuh kurang dari 30 kilometer, yang terhitung dangkal. Akibatnya, guncangannya tidak meluas, terbatas dalam radius yang relatif terbatas/sempit.

Sementara pusat gempa di Sumatera Barat ada di tengah laut dengan kekuatan lebih besar, yaitu 7,3 SR. Karena gempa menjalar dalam bentuk gelombang spasial, maka semakin jauh dari sumber gempanya, luas area yang tersapu gelombang pun semakin luas.

Analoginya adalah sorot lampu senter yang diarahkan ke dinding dari jarak pendek dan jauh. Kian dekat lampu sorot, cakupan cahayanya pun semakin terbatas.


Kekuatan daya rusak
Bagaimana dengan daya rusak? Salah satu indikatornya adalah jenis (karakter) tanah. Di Padang, seperti halnya kondisi Jawa Barat selatan, didominasi oleh tanah urai. Sifat lapisan tanah urai-endapan usia muda adalah memperbesar efek guncangan gempa (mengamplifikasi). Sedangkan karakter tanah Sungai Penuh relatif padat sehingga meredam getaran.

”Di Jambi relatif tak ditemukan aluvial (endapan muda) gunung api, sementara di Padang lapisan aluvial-nya tebal. Jadi, di Jambi dampak guncangan tidak separah di Padang,” ujarnya.

Kondisi tanah atau media permukaan di Padang dan Jabar selatan—Tasikmalaya di Jabar selatan diguncang gempa pada 2 September—lanjut Surono, didominasi aluvial pantai, aluvial sungai, dan bahan rombakan dari letusan gunung api. Harap diingat, Sumbar dan Padang memiliki gunung api aktif.

Karakter tanah gembur itu memperbesar efek guncangan. Akibatnya, bangunan di atasnya yang tidak tahan gempa atau tidak dirancang tahan guncangan akan menderita hebat.

Surono mencontohkan gempa beberapa tahun silam di Jawa Barat. Dampak gempa yang pusatnya berada lebih dekat di kawasan Indramayu justru mendatangkan kerusakan parah pada bangunan di Tasikmalaya.

Hal senada dinyatakan Kepala Pusat Mitigasi Bencana ITB Wayang Sengara. ”Yang jelas, lapisan tanah di Padang yang dekat pantai itu belum padat, masih lunak, sehingga dia bersifat memperkuat (mengamplifikasi) getaran. Ini berbeda dengan daerah di Sungai Penuh yang dekat pegunungan, yang lebih keras lapisan struktur tanahnya sehingga amplifikasinya kecil sekali,” ujarnya. Faktor lain adalah ketahanan bangunan.

Menurut Wayan Sengara yang juga dosen di jurusan Teknik Sipil ITB, dari foto-foto yang telah dipublikasikan, tulangan beton bangunan yang roboh memang tampak tidak memenuhi syarat sebuah bangunan tahan gempa.

”Bangunan yang lebih ringan dengan ikatan yang bagus, juga luas lantai yang lebih kecil, itu lebih aman, lebih tahan gempa,” ujarnya.


Bisa dihindari
Setelah semua ini diketahui, menurut Surono, tetap ada jalan untuk menghindari risiko atau mengurangi risiko gempa.

Gempa dan karakter tanah merupakan wilayah yang tidak bisa direkayasa di luar sifat alaminya. Keduanya merupakan faktor tetap.

Yang bisa dilakukan manusia adalah beradaptasi dengan kondisi geografis dengan penerapan sejumlah kebijakan dan memperbaiki respons darurat kebencanaan, serta membuat produk-produk ramah bencana.

”Kuncinya, semua pihak menjalankan bagian tugasnya masing-masing dengan baik,” katanya. Apa yang dikatakan Surono benar adanya karena Indonesia telah memiliki undang-undang tentang penanggulangan bencana.

”Silakan para ahli berbicara sesuai keahliannya. Namun, jangan lupa berbuat nyata, berbuat sesuatu di tengah negeri bencana ini, karena gempa mengintai sewaktu-waktu,” ujarnya. Sayangnya, justru itulah kelemahan Indonesia selama ini.

KOMPAS, 3 Oktober 2009