Showing posts with label Kepemimpinan. Show all posts
Showing posts with label Kepemimpinan. Show all posts

Tuesday, June 4, 2013

Cultural Leadership Cak Nun (III)


Ini satu lagi contoh hebatnya kebudayaan kita. Di Jawa ada bermacam terminologi untuk menggambarkan aktivitas ‘membawa’, ada nyunggi, ngempit, nyangking, mbopong, nggendong, nyekel, manggul. Everything is in detail. Kata ‘jatuh’ pun ada banyak sekali: ndlosor, njungkel, nggeblak, nylorot, nyungsep. (Sayangnya) itu (semua) tidak kita hormati sebagai kekayaan. Harusnya ada Bahasa Indonesia Jawa, Bahasa Indonesia Sunda, dan seterusnya. Bahasa Indonesia jangan berdiri mandiri. Untuk menerjemahkan di handphone saja lucu kok.

Ratu Adil menurut saya adalah orang yang punya ilmu yang komprehensif, yang bisa memperbaiki wilayah bahasa, spiritual, ekonomi, budaya, dia ngerti semua. Karena manusia kan ada yang ngerti banyak tentang sedikit hal, ada yang ngerti sedikit tentang sedikit hal, ada yang ngerti sedikit tentang banyak hal. Tapi kita butuh manusia yang ngerti banyak tentang banyak hal.

Itulah potensi Ratu Adil. Kalau Ratu Adil tingkat pertama ini terjadi ya syukur, tapi kalaupun tidak, ya tingkat kedua. Pokoknya ada sistem bersama, ada kesadaran kita bersama untuk adil. Begitu Anda ngomong di mana-mana tentang Ratu Adil dan itu menjadi kesadaran Anda bersama, ya Ratu Adil itu namanya. Dan itu yang ngomong bukan Jayabaya, dia hanya dikasih tahu.

Jayabaya itu punya 4 orang penasihat, satu diambil dari Roma, satu dari Istambul, satu dari Iran, dan satu lagi dari Mekkah. Jayabaya punya 4 staf ahli internasional. Yang khusus mengajari dia soal ramalan dan spiritual itu berasal dari Persi, namanya Syekh Ali Samsujen. Dari semua yang Anda kenal mengenai Ramalan Jayabaya itu adalah fatwa-fatwa dari Syekh Ali Samsujen.


Maka ngomong Ratu Adil itu sesungguhnya adalah konsep dari berita-berita subversi di belakang Rasulullah yang memang sebenarnya ada kebenarannya. Karena Rasulullah ini kalau diperpanjang ilmunya jadi luas sekali.

Kita semua salah sangka terhadap Yesus, terhadap Muhammad, terhadap semuanya. Nanti akan ada pengetahuan baru yang membuat Anda terkejut. Mereka dibohongi oleh rekayasa besar yang dibikin sejak 37 tahun setelah Yesus disalib. Mereka bikin rekayasa untuk mengatur pandangan manusia di seluruh dunia dan Anda menjadi korban sampai saat ini.

Sampai ada BI, itu kan ide dari sana. Juga ada Liberalisme, Sosialisme, Islam Fundamental, Islam Radikal, Islam Liberal, dan kita percaya pada semuanya. Saya nggak bisa dibohongi gitu. Saya radikal ketika saya harus radikal, saya moderat ketika saya harus moderat, saya konservatif ketika saya harus konservatif, dan untuk sesuatu yang butuh landasan ya saya pakai landasan.

Menurut saya, manusia merdeka adalah manusia yang tidak tertipu oleh idiom-idiom dan budaya aneh-aneh semacam itu. Kita ketawain aja yang gitu-gitu. Saya sendiri sudah tidak terpukau oleh apa pun. Saya bisa baca hatinya orang kok, sekarang kamu ngomong apa saya tahu juga. Dan itu memang butuh kekuatan yang sangat besar. Kalau tidak, saya bakal marah terus. Tiap hari, aku lewat thok wae dirasani. Yang ngrasani saya dalam hatinya sekarang saya juga dengar kok.


Setelah coffee break selama seperempat jam, peserta kembali dipersilahkan untuk menggali ‘genthongnya’ Cak Nun.

Parameter Keteladanan Bukan Siapa, Tapi Apa

Mbak Wahyu menanyakan di antara pemimpin-pemimpin kita saat ini, siapa yang menurut Cak Nun bisa dijadikan panutan, yang juga mengimplementasikan nilai cultural leadership yang telah dijelaskan sebelumnya.

Jawab Cak Nun:
Parameternya jangan hanya ‘siapa’, tapi juga ‘apa’. Kalau siapa itu mengharuskan seseorang (secara) utuh bisa diteladani, sedangkan kalau ‘apa’ kan Anda bisa lebih luwes. Dari Pak A saya teladani X-nya, dari Pak B saya teladani Y-nya.

Jangan lupa bahwa sesungguhnya sangat banyak orang baik, teladan, orang-orang yang bisa kita andalkan, termasuk mungkin kita sendiri. Tapi tadi saya ngomong di awal bahwa ini tanah tidak subur. Jadi orang baik tidak akan tampak kebaikannya karena mata pandang yang kita gunakan sehari-hari adalah mata pandang yang punya kecenderungan untuk mencari keburukan orang lain.

Ini semua kan fals sekarang. Mari kita kembali ke dasar aransemen kehidupan supaya kita menemukan harmoni. (Karena) sekarang (ini) apa saja fals. Agama itu kan fals banget sekarang. Jadi sesungguhnya tidak ada barang fals, yang ada adalah konfigurasi di mana (letak sebenarnya) beberapa titik itu berharmoni. Yang Anda harapkan itu ada, pemimpin Indonesia itu sudah ada, orang mateng itu banyak, cuma dia belum berada pada satu aransemen yang memungkinkan dia menunjukkan kebaikannya.

Ibarat ayam, dia belum punya waktu untuk berkokok, ibarat ikan belum ada kolamnya. Menurut saya untuk sementara Anda ngomong (tentang) ‘apa’ (dulu), jangan (tentang) ‘siapa’.



Indonesia Mengembargo Dunia

Pertanyaan berikutnya datang dari Mas Ero.
Inspiratif sekali Pak Emha! Beberapa hari lalu kita sudah menerima teori-teori dan pendapat mengenai kepemimpinan modern yang mengikuti kondisi global saat ini, dan tadi Bapak menyampaikan dengan kearifan lokal di mana secara budaya Indonesia sudah memiliki filosofi-filosofi kepemimpinan. Bagi kami, BI ke depan nanti mana ya Pak yang lebih sesuai untuk diterapkan, yang global atau kearifan lokal?

Jawab Cak Nun:
Yang ada di Indonesia ini bukan kearifan lokal, tetapi harmoni dari lokalitas-lokalitas yang arif. Indonesia adalah Sunda, Jawa, semuanya, dan itu harus ada ilmu dan proses untuk melakukan elaborasi supaya dia berperan komprehensif harmonis. Jadi, orang Jawa tidak bertentangan dengan orang Sunda karena dia mencari harmoni satu sama lain. Dan itu sebenarnya masa depan dunia adalah harmoni ke-Indonesia-an. Kalau sudah ada Bhinneka Tunggal Ika, seluruh dunia akan ikut Bhinneka Tunggal Ika.

Indonesia ini jangan mencari contoh soal di luar Indonesia karena Indonesia lambat atau cepat sudah akan menjadi contoh untuk diteladani seluruh dunia. Ini agak aneh, tapi sudahlah Anda percaya saja.

Arab Spring itu merupakan rekayasa Amerika untuk ‘mengubah’ negara-negara Timur Tengah menjadi ‘demokrasi’ dengan tiga metode, yaitu metode sikat habis seperti yang dilakukan pada Saddam dan Khadaffi, metode pemberontakan progresivitas demokrasi biasa seperti yang terjadi di Syria yang tak kunjung selesai, dan terakhir metode pegang kepala seperti yang dilakukan atas Arab Saudi.

Jadi seluruh policy di Mekkah itu policy Amerika, tentara Saudi juga tentara Amerika. Yang ngambil kebijakan di Saudi itu Amerika dan Israel, termasuk di Indonesia dan kedutaan besar Arab Saudi yang berada di sini.

Saya ingin katakan kepada Anda, Indonesia ini justru merupakan pilihan utama Amerika untuk menjadi model bagi konversi bagi negara-negara Timur Tengah. Ini mungkin agak mengherankan dan belum bisa dipahami betul, tapi itu pasti. Jadi gampangannya Mesir mau di-Indonesia-kan, Yaman, Abu Dhabi mau di-Indonesia-kan. Di-Indonesia-kan dalam pengertian apa, mari sambil kita pelajari bersama-sama.

Jadi, CIA, intelijen Arab Saudi sama Israel merundingkan ada 6 contoh soal: dari Iran, Turki, macem-macem, sampai Indonesia. Yang terpilih adalah Indonesia. Mereka jelas tidak mau ada negara Timur Tengah seperti Iran. Mereka juga tidak mau seperti Turki. Mereka sedang menganggap kita bodoh, gampang dibohongi, sangat permisif, dikuras hartanya nggak marah, presiden dan semuanya gampang dirayu, disogok. Biarin Amerika dan Israel kecelik, karena Anda tidak seperti yang mereka bayangkan.

Menurut saya, jangan berpikir dunia, wong dunia mikirin kita. Seharusnya kita mengembargo dunia, bukan dunia mengembargo kita. Wong secara ekonomi dunia butuh kita kok. Kita ditakdirkan menjadi Indonesia, yang betul-betul luar biasa baik secara ekonomi maupun kebudayaan.



Tidak Minder, Tapi Juga Tidak Natoni

“Saya akan mulai dari pepatah Jawa,” ujar Mas Haris, “Mohon maaf kalau ada kesalahan. Lamun sira sekti ojo natoni, lamun sira mandi ojo mateni, lamun sira banter ojo nglancangi. Hal ini sepertinya bertentangan dengan teori leadership yang ada sekarang. Menurut Cak Nun, pandangan budaya kita terhadap leadership itu bagaimana?

Yang kedua, bagaimana mengharmonisasi budaya, agama, dan pola pikir? Pemimpin seperti apa yang mencakup harmonisasi tiga unsur ini?”

Jawab Cak Nun:
Ini kita sudah sampai pada pertanyaan-pertanyaan yang ibaratnya di ruang lauhil-mahfudz, sudah bagus banget, sehingga kalau nanti saya keliru dikit saja, nasib bangsa Indonesia menjadi kacau.

Menurut saya, kita sedang menjadi medan pertentangan dari berbagai macam frame atau terminologi nilai yang secara sangat liberal kita terima semuanya. Dari Mbah kita terima, dari Londo kita terima, dari Amerika kita terima, dan sekarang kita menjadi ajang peperangan itu sehingga menjadi panas dingin.

Kalau lamun sira sekti ojo natoni, lamun sira mandi ojo mateni, lamun sira banter ojo nglancangi, sebetulnya itu asal usulnya budaya kemanusiaan. Namanya paugeran. Itu cara bergaul antarmanusia, tapi tidak pada birokrasi, tidak pada sistem ekonomi. Dia letaknya pada wilayah etika kebudayaan, itu soal kerendahan hati. Filsafat ini lahir ketika kita belum mengenal industri. Waktu itu belum pernah ada ekspertasi profesional yang sekarang menjadi tantangan kita. Kalau itu kita tabrakkan satu sama lain, saya kira kita harus punya kearifan dan ilmu yang mencukupi.

Kalau dalam dunia profesional itu kan tidak bisa berlaku. Dalam dunia imamah agama saja itu tidak bisa berlaku. Ibu saya tidak pernah mau shalat kalau saya imami. Pokoknya harus adik saya yang terkecil yang jadi imam. Dia hanya mau shalat kalau diimami adik saya yang terkecil karena secara rohani dia lebih percaya sama adik saya daripada kepada saya. Jadi kan ada macem-macem dimensi dalam hidup. Itu sangat bagus kalau pas di tempatnya.

Sekarang kita sedang mengalami benturan-benturan antar berbagai nilai. Misalnya, tiba-tiba kita ngomong gotong royong. Gotong royong sama kompetisi kan bertentangan. Terus sekarang karena banyak orang bentrok, Pemda bikin baliho tentang gotong royong. Gotong-royong itu nggak usah jadi pedoman. Dia akan lahir sendiri kalau ada komunitas. Sekarang kan tidak ada komunitas. Sekarang ini orang kumpul bukan karena budaya, orang kumpul karena profesi, karena hobi, atau karena sesama majlis taklim.


Bergotong-royong akhirnya jadi penyelewengan. Misalnya untuk ujian sekolah di suatu daerah di Jatim dirunding dan ditandatangani bersama antara Pemda, Dinas Pendidikan, ulama-ulama dan kepala-kepala sekolah. Empat pihak ini sepakat bahwa soal ujian dikasih ke siswa sebelum hari uijan demi alasan gotong-royong. Alasan kenegaraannya: pemerintah harus membantu rakyatnya. Terus kata guru, guru harus membantu muridnya. Kiyai juga begitu. Maka, gotong-royong ini juga bahaya kalau lahir tidak pada tempatnya, kalau tidak pada harmoninya. Saya sangat senang dengan pertanyaan Anda, tapi menurut saya memang itu semua akan terjawab, tapi saya percaya pada kepempimpinan seseorang tadi. Dia boleh Ratu Adil, boleh orang yang mungkin bertahap, tapi orangnya sudah ada dan sudah siap.

Kalau dia bisa menang dua langkah saja, bisa baik semuanya karena di Indonesia ini siapa pun saja nggak bisa hidup, Mas. Seperti yang saya tadi bilang, kebaikan tidak bisa tumbuh subur di sini. Anda pikir Anda ngakuin Yesus itu orisinal karena memang Anda ngakuin? Pengakuan kita kepada Yesus dan Muhammad itu kan karena semua orang sudah ngakuin, jadi Anda tinggal ngikut. Coba Yesus datang ke sini, Muhammad datang sendiri ke sini, pasti dianggep aliran sesat oleh MUI. Kita nggak orisinal mengakui sesuatu, kita tidak pakai ilmu kita sendiri, kita tidak punya kepribadian untuk secara otentik mengakui sesuatu.

Kita sedang tidak punya itu. Kita tidak menjadi diri kita sendiri sehingga kita tidak mampu mengakui diri kita. Jangankan mengakui orang lain, mengakui diri sendiri saja sekarang kita tidak mampu.

Pertanyaan Anda sangat bagus, apalagi kalau saya gabungkan dengan pertanyaan sebelumnya. Be yourself, understand yourself. Kalau kita bisa menjadi beneran bangsa Indonesia, kita tidak akan minder pada siapa pun tapi juga tidak akan sombong sama siapa pun, nggak akan natoni, nggak akan nglancangi, nggak akan mateni. Lamun sira wong gedhe ojo nggedheni.

“Tiga pertanyaan ini satu harmoni lho Mas. Saya anggap ini doa, karena waktu ngopi-ngopi tadi juga bagus-bagus kok pertanyaannya. Ini serius nggak nih? Jangan-jangan karena ketemu saya jadi pertanyaannya bagus-bagus,” ujar Cak Nun disambut tawa para peserta.

Pertanyaan Anda sangat mendasar. Saya tahu kok kegelisahan Anda, tahu kok hati Anda kepada SBY, hati Anda kepada pimpinan-pimpinan BI selama ini. Tapi Anda kan juga tahu bahwa Anda tidak bisa milih mereka. Satu-satunya jalan adalah menegaskan di dalam diri kita sejumlah hal yang tadi kita sadari untuk kita bangun bersama.

Saya senang sekali, dan saya kira kita akan dikabulkan oleh Tuhan. Kalau tidak, saya minta diperpanjang usia saya 30 tahun lagi. Saya sekarang 60 tahun, alhamdulillah nggak pernah sakit, nggak pernah opname, nggak tidur nggak apa-apa, makan apa saja nggak apa-apa. Kalau ngelihat kondisi ini kayaknya masih lama nih tugasnya. Dan mungkin saya akan ikut ngatur dikit-dikit kayak zaman Pak Harto, Gus Dur, Mega. Nanti saya akan tut wuri handayani dari belakang untuk hal-hal yang baik.



Teladan Sejati Adalah Dia Yang Tersembunyi

Pertanyaan berikutnya datang dari Mbak Siti Astiah, yang menanyakan bagaimana caranya mengurangi budaya korupsi meskipun tidak jadi pemimpin.

Jawab Cak Nun:
Saya kira teladan itu cukup banyak. Tapi saya menemukan pejabat-pejabat yang baik, itu karena dia keliru, terlalu radikal, harusnya ikut pakem-pakem dikit, makanya dia kena KPK. Walikota, bupati, atau kepala-kepala yang malah kena padahal dia sebenarnya mau memperbaiki. Dan itu kalau saya kasih contoh ada cukup banyaklah.

Jadi sebenernya ini ngomong soal fals. Banter tapi ojo nglancangi. Ini ternyata untuk manajemen pembangunan juga perlu Mbak. Jadi gini, jangan terlalu radikal untuk mengubah sesuatu. Banyak pemimpin yang terlalu progresif, terlalu nasionalis, malah kena, karena dia dianggap melanggar aturan yang sudah lama berlangsung.

Saya bilang sama Nabi Moshadeq yang ditahan itu. Di Polda Metro Jaya saya bilang; “Sampeyan itu ada dua kesalahan: pertama, kebanteren mlakune, umat itu kan jalannya ada yang cepet ada yang nggak, kalau yang lambat ya kepontal-pontal, maka akhirnya Anda ditangkep. Nomor dua, Sampeyan itu kalau jadi Nabi jangan ngaku-ngaku.” Akhirnya dia geli sama dirinya sendiri, dan akhirnya dia meremehkan semua dunia ini dan menomorsatukan Tuhan.

Kenapa semua orang bertengkar? Karena dipikir dunia ini begitu pentingnya, maka dibelain habis-habisan jabatannya. Allah itu terbalik sama orang tua kita. Orang tua kita bilang; “Nak, kono nang kutho nggoleko penggawean iso nduwe rejeki sebanyak-banyaknya, jabatan setinggi-tingginya, yang penting jangan lupa shalat.” Sedangkan Tuhan pesennya terbalik; “Dalam rangka kamu mencari Aku menuju akhirat, kamu jangan sampai lupa lho kalau kamu harus ngurusi duniamu. Kamu harus cari nafkah.”

Jadi budaya kita mengenal dunia sebagai primer, sebagai tujuan. Kalau versi Allah, yang primer itu mencari Dia di akhirat, dan dunia ini cuma dilewati, cuma jalan. Jalan sama tujuan berbeda. Bagi kita tujuannya dunia, akhiratnya jalan. Yang penting kita dagang laris, kalau dagangan kurang laris ya kita umrah. Agama menjadi alat untuk mencapai dunia. Karena kita terbalik, manajemen kita gini, kita nggak percaya pada yang selain materi.

Dan kalau Anda ingin jadi contoh, Anda jangan bernafsu untuk jadi contoh. Kalau Anda berbuat baik, jangan nyuruh orang berbuat baik. Saya maklum kok di Indonesia (banyak) orang (yang) tidak berbuat baik. Gimana orang bahagia (maksudnya senang) bayar pajak wong Gayus jumlahnya tak terbatas? Memang nggak ada motivasinya.


Orang yang potensinya baik seperti yang Ibu tanyakan itu sebenernya ada banyak, dan mereka akhirnya putus asa karena nggak ada gunanya berbuat baik. Kamu itu baik kok untuk sesuatu di luar berbuat baik. Pokoknya kalau mau berbuat baik ya berbuat baik saja, titik.

Yang penting ayam itu berkokok, tidak usah orang sekampung mengakui kalau Anda berkokok, terus diikuti kokokannya. Karena kita terlalu berpamrih orang akan mencontoh kita, itu yang membuat kita menjadi bukan teladan lagi. Maka kalimat pertama saya kepada orang-orang yang datang ke forum-forum saya adalah: “Jangan percaya saya, jangan ikuti saya! Kamu jangan jadi pengikut saya, kita semua ini pengikut Allah. Jangan taat sama saya, saya nggak punya saham apa-apa untuk kamu taati. Taat kepada Tuhan, penanam saham utama kita.”

Orang bertengkar mengenai bunyi kokok ayam. Orang Sunda bilang kongkorongkong, orang Jawa bilang kukuruyuk, orang Madura kukurunuk. Yang bener itu ya kokok ayam. Menurut versi Jawa, di telinga transfer ke mulut menjadi kukuruyuk, kalau orang Sunda estetikanya muncul di mulut sebagai  kongkorongkong. Kalau dicari benernya, ya yang bener itu ayamnya.

Kita bikin MOU bahwa ketiganya bener, dan kukurunuk nggak usah nyuruh yang kongkorongkong untuk kukurunuk. Gitu kok bertengkar. Jadi kalau mau jadi teladan ya sukar karena orang tidak ngerti kokok ayam.

Ini ketela, ada yang dibikin jadi gethuk, grontol (growol), dan keripik dari bahan yang sama. Ajaran agama itu sampai pada manusia ketika dia sudah jadi gethuk, grontol (growol), keripik. Jadi orang yang menerima gethuk menganggap Islam adalah gethuk, Kristen adalah keripik, padahal Islam, Kristen, Buddha, semua adalah ketela. Tapi semua orang bertengkar, ini aliran grontol (growol), ini aliran gethuk. Bahkan gethuk juga lalu dibagi menjadi sub-sub, ada gethuk ngene gethuk ngono, uakeh banget.
Kalau sekarang kita kembali ke situ, kita nggak punya golongan lagi. Saya appreciate sama PD, sama Golkar, sama aliran Islam, politik, itu kan cuma ikhtiar mengolah ketela menjadi aplikasi to. Kalau kayu, ada yang jadi meja, kursi, almari. Jangan terus yang almari anti kursi.

Saya seneng Anda tanya gitu karena Anda sendiri seorang teladan, tapi jangan nunggu orang meneladani Anda. Teladan sejati itu sampai tidak diketahui dia teladan. Nabi yang sejati nggak pernah Anda lihat, namanya Khidir.

Bersambung ….

Sunday, June 2, 2013

Cultural Leadership Cak Nun (I)


Rabu, 24 April 2013, Cak Nun diundang sebagai pembicara dalam Program Sekolah Staf dan Pimpinan Bank Indonesia (SESPIBI) Angkatan XXXI, Tahun 2013 yang mengangkat tema: “Menyiapkan Kepemimpinan yang Tangguh dan Inovatif dalam Menghadapi Berbagai Perubahan dan Turbulensi yang Dihadapi Saat Ini”. Secara khusus, Cak Nun diminta untuk membawakan topik Cultural Leadership. Program SESPIBI ini merupakan jenjang pendidikan karier tertinggi bagi pejabat Bank Indonesia (BI). Pesertanya berasal dari kepala-kepala divisi yang akan diangkat ke level direktur. Tahun ini ada 48 peserta, mayoritas berasal dari BI, sebagian yang lain berasal dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan ada satu orang yang berasal dari Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK).

Berangkat dari tawaran Cak Nun sebelum acara, sesi yang berlangsung dari pukul 08.30 sampai 11.30 itu dibagi menjadi dua. Satu jam pertama Cak Nun dimohon untuk berlaku sebagai “Kiai Ceret” untuk menuangkan pengalaman-pengalaman dan pandangan-pandangan beliau terkait dengan tema yang dimaksud. Dua jam setelah itu barulah Cak Nun berlaku sebagai “Kiai Genthong” di mana para peserta bertindak sebagai subyek utama dalam diskusi, nyidhuk (mengambil) apapun yang mereka ingin ketahui dan pelajari dari beliau.

“Saya pribadi mengenal Cak Nun sebagai pimpinan dari grup musik yang sangat saya suka, yakni Kiai Kanjeng. BI pernah mengundang Kiai Kanjeng untuk pentas di sini. Di samping itu, Cak Nun juga seorang sastrawan. Banyak sekali tulisan-tulisan beliau baik berupa puisi maupun dalam bentuk-bentuk lain yang kebanyakan dalam bentuk sastra relijius,” ujar moderator acara memperkenalkan Cak Nun kepada para peserta.

“Banyak sekali pengalaman Cak Nun yang bisa ditimba, karena telah terbiasa bergaul dengan berbagai lapisan masyarakat dari yang paling bawah sampai yang paling atas. Pengalaman Cak Nun terkait pula dengan kepemimpinan beliau dalam membawa misi-misi budaya, termasuk membentuk grup musik, dan juga membina anak sulungnya (Sabrang Mowo Damar Panuluh alias Noe) untuk menjadi vokalis handal di grup band Letto. Silahkan nanti kita tanya apa saja di sesi kedua.”


“Moderator kita ini terlalu terbiasa dengan kata benda, padahal yang nomor satu dalam hidup ini adalah kata kerja. Meskipun kata kerja itu pada tahap-tahap yang berbeda akan sampai juga pada kata benda, tapi sifatnya kehidupan adalah kata kerja,” ujar Cak Nun mengawali sesi pertama.

Kalau Anda melihat Indonesia sebagai kata benda, Anda akan kebingungan dengan Indonesia Orde Lama, Indonesia Orde Baru, Indonesia Reformasi. Tapi kalau Anda ngomongnya Indonesia itu kata kerja, cara berpikir kita akan menjadi lebih dinamis dan relatif. Semua yang diceritakan tentang Emha tadi itu adalah kata benda-kata benda yang merupakan samaran-samaran hidup saya. Jadi aslinya saya tidak seperti itu.

“Yang kedua, saya tidak merasa punya kredibilitas di bidang apapun untuk berada di acara ini bersama Anda semua, tapi saya datang karena etika, karena sopan-santun, karena sudah diundang. Karena saya dianggap bisa ngomong, ya sudah saya ngomong. Bahwa nanti terbukti kalau saya tidak bisa memenuhi apa yang Anda minta, itu salahnya yang ngundang,” kata Cak Nun yang langsung disambut tawa para peserta.

“Nomor tiga, saya sengaja tidak pakai assalamu ‘alaikum karena saya sudah pakewuh sejak lama sekali sama Tuhan karena selama ini orang-orang Indonesia mengucapkan assalamu ‘alaikum tapi tidak ada satu pun yang mengerti itu apa. Banyak sekali ucapan assalamu ‘alaikum di sini, tapi mereka tidak bersungguh-sungguh ber-assalamu ‘alaikum di antara mereka. Saya lihat Tuhan akhir-akhir ini banyak cemberut karena ini,” selorohnya.

Anda agaknya agak takut kalau sudah mulai ngomong tentang Tuhan. Maksud saya gini lho, assalamu ‘alaikum itu kan satu MOU (Memorandum of Understanding) yang diucapkan oleh satu pihak ke pihak lain, dan lantas pihak lain menjawabnya. MOU ini ada beberapa tahap. Maka ketika saya mengucapkan assalamu ‘alaikum kepada Anda, berarti saya menyampaikan jaminan keselamatan Anda paling tidak dalam tiga hal.

Yang pertama, hartamu pasti selamat kalau sama saya. Saya tidak akan bikin policy apapun yang akan merugikan hartamu. Yang kedua, martabatmu selamat di hadapan saya. Dan yang ketiga, keselamatan juga untuk nyawamu. Lalu kemudian Anda menjawab dengan wa ‘alaikum salam, itu berarti Anda sudah sign MOU di antara kita untuk saling menjaga tiga hal itu.

Mohon maaf ini jadi kayak ceramah ustadz. Aslinya ustadz itu tidak ada di Quran, tidak ada di Hadits. Ustadz itu karangan kapitalisme. Itu caranya orang untuk cari duit. Sama seperti bank syariah. Seharusnya kalau sudah menjadi bank syariah kan dia bukan lagi bank umum, tapi nyatanya kan keduanya tetap ada. Misalkan bank Mandiri, walaupun sudah ada yang syariah (Mandiri Syariah), namun yang umum (konvensional) masih tetap ada. Jadi ternyata masalahnya (syariah atau tidak) bukan prinsip, tapi soal mana yang menguntungkan. Maka kalau untuk segmen tertentu pakai syariah, dan untuk segmen yang lain pakai yang biasa.


Cak Nun kemudian menjelaskan tahapan-tahapan dari penjaminan keselamatan yang terkandung dalam ucapan salam. Setelah ‘kontrak’ assalamu ‘alaikum, ada frasa wa rahmatullah, kemudian ada wa barakatuh.

Tuhan itu sudah kasih rahmat kepada Anda semua. Dia kasih hidung Anda mancung, kasih rambut Anda tumbuh, kasih Anda tidak perlu mengatur jam berapa Anda kencing, kasih batasan terhadap tinggi badan, kasih batasan pada pertumbuhan gigi. Kalau satu saja dicabut oleh-Nya, Anda sudah sangat kerepotan.

Kalau nggak karena Tuhan memberi batas-batas, celakalah hidup manusia. Itulah rahmat. Rahmat bukan hanya berupa limpahan rizqi, tapi juga dalam bentuk batasan-batasan rizqi. Ada orang yang celaka karena ingin melewati batasan itu. Maka Puji Tuhan yang telah membatasi.

Rahmat Tuhan ini harus kita manage, harus kita kelola dengan aturan-aturan, dengan sistem-sistem hukum, dengan konstitusi sampai aturan-aturan pemerintah, keputusan presiden, kode etik di berbagai institusi, atau apa saja yang merupakan satu sistem kenegaraan atau kebudayaan atau peradaban, supaya ada transformasi dari rahmat menjadi barokah.

Kalau tidak ada pengelolaan ilmu dan sistem, maka padi tidak akan pernah menjadi beras, beras tidak akan menjadi nasi, nasi hanya akan berhenti menjadi nasi tanpa pernah jadi nasi gurih, nasi uduk. Itu semua kan butuh ilmu dan sistem pengelolaan.

Di antara rahmat dan barokah itu maka diperlukan negara, diperlukan BI, diperlukan sistem banking, diperlukan kesenian, departemen-departemen. Ini disebut ijtihad kalau dalam istilah agama, yaitu daya pikir yang terus-menerus untuk menguak bagaimana padi menjadi beras, menjadi nasi, dan menjadi aplikasi yang bermacam-macam.

Itulah kenapa saya bangga menjadi orang Indonesia, karena orang Indonesia merupakan satu-satunya negara, bangsa, etnik, yang punya kosakata detil mengenai beras. Kalau Bahasa Inggris hanya mengenal beras dalam kata rice, kita menyebutnya sebagai padi atau pari ketika masih di sawah, gabah ketika sudah dipanen, beras ketika sudah digiling, dan nasi atau sego ketika sudah dimasak. Itu kan karena kebudayaan kita jauh lebih tua dan jauh lebih matang daripada kebudayaan mereka.

Kembali ke konsep rahmat dan barokah, menurut saya BI adalah pemimpin transformasi dari padi ke beras, dari beras ke nasi. Wah, kalau langsung ke BI agak tidak enak juga saya, karena kalau ngomong BI kita bisa ke mana-mana, bisa ke Neolib, bisa ke IMF, Briggs. Saya nggak enak, dan saya nggak akan menyalahkan siapa-siapa kok. Saya cinta sama bangsa Indonesia dan saya maklum kalau presiden bilang kekayaannya ada 9 M. Nggak apa-apa, karena kebohongan kan tidak bisa dihindarkan di Indonesia ini.


Bebek Slamet juga bakal ketawa kalau dengar presiden kita kekayaannya cuma 9 M, wong Bebek Slamet saja puluhan miliar. Cuma kan nggak bisa nggak bohong kalau di Indonesia. Indonesia bukan tanah yang subur untuk kejujuran. Gimana mau nggak bohong, nanti orang lain yang bohongin kita. Gimana mau nggak curang, dia curang sama kita kok. Kenapa harus berbuat baik ke mereka, mereka saja nggak berbuat baik ke kita. Jadi di Indonesia ini saya sangat maklum kalau ada banyak orang korupsi, membunuh, karena mereka memang tidak aman di sini.

Mau berbuat baik nggak aman, agama dieksploitasi, dan budaya kemiskinan kita sangat tinggi. Orang-orang kaya itu sangat punya budaya dan mental kemiskinan. Budaya kemiskinan itu artinya orang yang sangat tergantung kepada keamanan materi. Kalau saya kan orang agak kaya, artinya saya nggak jelas punya uang berapa, bisa makan atau tidak, anak saya sekolahnya gimana, itu benar-benar urusan dinamis setiap hari. Bisa apa nggak, saya nggak tahu. Karena saya kaya raya, wis matek urip bah-bah lah (mau hidup atau mau mati terserahlah).

Kebanyakan orang kan nggak punya keberanian untuk seperti itu, maka mereka harus terus memastikan laba sebanyak-banyaknya dengan modal sekecil-kecilnya, maka mereka pakai ideologi kapitalisme dan seterusnya.

Kembali ke assalamu ‘alaikum warrahmatullahi wabarakatuh saya kira halangan kita sekarang ini adalah kita terus bertengkar di antara rahmat dan barokah. Nggak ada sistem yang kita sepakati. Ganti-ganti terus dari Orla ke Orba, ganti lagi di Reformasi. Kita tahun 2014 akan mengalami perubahan-perubahan lagi. Para investor di seluruh dunia juga sudah siap-siap karena dianggap akan ada renasionalisasi aset-aset negara, seperti misalnya ada regulasi yang melarang ekspor bahan mentah. Akan ada perubahan-perubahan besar dan yang disangka akan melakukan perubahan itu adalah salah seorang mantu mantan presiden, padahal bukan dia. Akan ada orang lain yang melakukan hal-hal itu. Ini pokoknya dunia sedang berspekulasi. Kalau saya kembalikan ke BI, saya kira BI adalah pemimpin transformasi rahmat supaya jadi barokah, sebab banyak rahmat tidak menjadi barokah.

Bedanya rahmat dan barokah itu teori universalnya seperti ini: hujan itu rahmat karena dia tidak memilih pada siapa dia datang. Siapa saja yang keluar ruangan, dia kehujanan. Tuhan ini nggak milih, misal orang yang korupsi tidak dikenai hujan. Rahmat itu dikasih Tuhan ke siapa saja. Maling ya dikasih rahmat. Siapa saja (dikasih rahmat).

Uang curian untuk beli soto itu ya tetap enak sotonya, karena sifatnya sifat rahmat. Kalau barokah itu sesuatu yang telah diregulasi dengan kemauan-kemauan dan aturan-aturan Tuhan. Maka, orang kaya bisa bangkrut kalau urusannya barokah. Sementara orang yang tidak ‘kaya-kaya amat’ bisa lancar hidupnya.

Menurut saya BI adalah ujung tombak dari pengaturan lalu-lintas rizqi dari rahmat Allah itu supaya menjadi barokah bagi seluruh bangsa Indonesia.


Empat Jenis Manusia
Kalau soal kepemimpinan budaya, saya kira tidak sukar. Kita bisa ambil dari sangat banyak wacana, cuma apa itu masalahnya di BI? Maka doa saya adalah; ini yang saya hadapi adalah manusia-manusia BI baru yang mengambil baiknya dari Orba, mengambil baiknya dari Reformasi, manusia-manusia BI baru yang tidak harus merupakan produk dari BI yang sebelum-sebelumnya, karena ada dinamika yang bermacam-macam. Pokoknya ini adalah generasi terbaru yang mengambil yang terbaik untuk bangsa, untuk rakyat, sehingga dia menjadi manusia BI baru sebagaimana sekarang lahir juga manusia-manusia Indonesia baru dari generasi muda yang bukan merupakan produk dari televisi yang kayak gitu, dari koran yang kayak gitu, dari kebudayaan yang kayak gitu, dari berbagai manipulasi agama yang terus-menerus.

Agama ini dikapitalisasi nggak karu-karuan. Kata ‘syariat’ pun dikapitalisasi. Kata ‘Al’ jadi jualan laris, kata ‘Gus’ jadi barang dagangan, juga kata ‘wali’ yang menjadi marketable. Gus Dur itu sekarang jadi wali kesepuluh. Jadi langsung loncat dari Sunan Kalijaga ke Gus Dur, tanpa bapaknya dan mbahnya, Gus Dur jadi wali. Padahal peristiwa 10 November itu hasil dari resolusi jihad Bapak dan Mbahnya Gus Dur. NU besar juga karena yang mendirikan Mbahnya Gus Dur. Sekarang yang jadi wali malah Gus Dur.

Itu sudah menjadi komoditas. Yang kemarin nyetiri saya saja sekarang jadi Gus, jadi pejabat tinggi di provinsi. Kemarin dia masih ngambil ban bekas, sekarang sudah jadi Gus. Dan Gus ini nggak bisa dilacak asal-usulnya, dan orang modern tidak peduli apa itu Gus, apa itu kiai, apa itu syekh, habib, maulana. Ini sudah jadi komoditas semua.

Kalau saya misalnya mau jadi wali, gampang sekarang ini. Saya tinggal pergi ke travel biro atau ke televisi. Padahal kan; laa ya’riful wali ilal wali. Sekarang jadi; laa ya’riful wali ilal travel biro wa EO. EO itu yang menciptakan Gus Dur jadi wali. Sampai sekarang ini bahkan ada walisongo Jawa Timur. Kalau Walisongo kan ada yang dari Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Sekarang ada Walisongo Jawa Timur, yang dari Walisongo dikurangi 4, kemudian empatnya dicarikan di Jawa Timur. Caranya mencari adalah yang gampang dilewati rute bus travelnya. Mereka bikin wali-wali yang mudah dicapai oleh travel. Itu yang namanya budaya kemiskinan. Orang sudah tidak percaya kepada rizqi Allah. Orang hanya percaya pada apa yang dia ambil, pada apa yang dia curi, apa yang dia mark-up, apa yang dia kolusi, apa yang dia manipulasi.

Kalau Sunan Kalijaga kan doanya Allahuma tuhno, Allahuma tekno. Itu wiridannya. Tuhno itu kalau butuh ono, kalau pas butuh ada. Tekno itu kalau entek ono, kalau pas habis ada. Sunan Kalijaga membatasi umatnya di situ. Kamu nggak usah kaya tapi kalau pas butuh, ada. Saya penganut ini. Saya nggak kaya, tapi asal pas saya butuh selalu ada, mbuh bagaimana caranya. Butuh di sini bukan hanya uang, tapi juga apa saja. Saya tidak percaya ada kekayaan yang sungguhan, saya tidak percaya ada orang kuat yang sungguhan, saya tidak percaya ada orang sakti.

Kalau saya singkat, kebudayaan kita itu luar biasa kayanya. Kita bisa ambil kearifan kepemimpinan dari Jawa, Madura, Sunda, Mandar, Bugis, tinggal ambil yang mana. Kita bisa ambil sedikit dari budaya, sedikit dari agama.


Misalnya Pak Harto, dalam memimpin dia cuma pakai dua ilmu, yaitu pranoto mongso dan katuranggan. Pranoto mongso adalah kemampuan untuk membaca musim. Ini dunia sedang begini, negara sedang begitu, cocoknya ikut Uni Soviet atau Amerika atau China, seperti itulah yang dinamakan membaca musim. Pak Harto tidak menggunakan ilmu-ilmu modern tapi dia merasakan dengan ilmu musim. Dari situ dia ambil policy dasar. Untuk menerapkan policy yang sudah ditentukan dengan pranoto mongso tadi, Pak Harto butuh memilih orang. Menteri Penerangan siapa, Menko ini siapa, Direktur BI siapa. Dalam menentukan siapa diletakkan di posisi mana, Pak Harto pakai ilmu katuranggan.

Katuranggan itu berasal dari kata turangga, artinya kuda. Jadi, ilmu tentang watak berasal-usul dari pengetahuan para pemelihara kuda terhadap . Kalau orang mempelajari kuda, dia akan melihat berbagai macam watak manusia terdapat pada kuda. Kalau Anda ahli kuda, cukup dengan melihat gambar di lutut depannya saja Anda sudah tahu umurnya berapa, larinya secepat apa, staminanya tinggi apa tidak. Ilmu kuda ini kemudian ditransfer menjadi ilmu tentang watak manusia, katurangganing manungsa.

Jadi kalau mau pilih staf, kita mesti mengenal wataknya. Watak ini berdasarkan konfigurasi atau terminologi apa? Kalau dalam pandangan politik, ada empat jenis manusia di setiap lingkungan, yaitu manusia pencetus, manusia pendiri, manusia pemelihara, dan manusia pendobrak.

Manusia pencetus adalah manusia yang selalu membicarakan hal-hal baru, selalu gelisah, tapi kerjaannya cuma begitu. Dia digaji untuk itu saja, jangan disuruh tertib di kantor. Begitu sudah mencetuskan ide baru, habis staminanya. Dia adalah bagian mencetuskan. Jangan disuruh mendirikan atau memelihara, karena pasti hancur nanti. Sehebat-hebat pencetus, dia tidak punya keberanian sejarah untuk mendirikan. Dia ada di belakang founding fathers.

Manusia pendiri atau perintis adalah manusia-manusia yang berani membangun. Merekalah yang bikin NKRI, bikin ini, bikin itu. Mereka adalah jenis manusia yang mendapat fadhilah dari Tuhan untuk mendirikan. Tapi pendiri juga belum tentu mampu memelihara, maka mayoritas manusia sebenarnya ditakdirkan untuk menjadi manusia pemelihara.

Manusia pemelihara nggak ikut berpikir, nggak ikut mencari, nggak ikut mendirikan, tapi begitu sudah ada, dia yang setia memelihara. Pegawai negeri yang di bawah-bawah itu kan biasanya katuranggan pemelihara. Dia rajin, absen pagi dan sore, wataknya pemelihara.

Jenis keempat adalah manusia pendobrak. Karakternya hampir mirip dengan manusia jenis pertama, yakni pencetus. Pendobrak ini bagian yang nggak setuju terus. Semua dibantah olehnya. Dia bisanya mengkritisi, tapi giliran disuruh bikin nggak bisa. Dia ini bagian nyacat atau mencela. Ada manusia yang memang oleh Tuhan diijinkan untuk menjadi juru cela. Maka jangan kaget kalau di antara kita ada yang ahli di bagian situ. Selama ini kan yang ahli atau pakar itu kan yang ekspertasinya di wilayah kedua atau ketiga, padahal ekspertasi kan luas. Ada orang yang memang kerjaannya nyacat terus ben dino, dan itu bagus untuk kita yang memang ingin dinamis. Orang ini kalau tidak dibayar akan berbahaya bagi masyarakat, jadi mending bayar dia khusus untuk mencela di wilayah tertentu. Di wilayah selain itu, jangan mencela siapa-siapa. Dia punya kecerdasan untuk mencela, tapi dia hanya diperbolehkan mencela di ruang rapat kantor saja lho ya, di luar kantor tidak boleh. Di luar itu dia harus berbudaya.

Berbudaya itu mencari yang baik dari yang buruk-buruk. Kalau yang terjadi di masyarakat sekarang kan justru mencari yang buruk-buruk dari yang baik. Ada orang baik dicari buruknya terus, sementara pekerjaan kebudayaan adalah ada orang seburuk apapun, kita cari baiknya, hingga kita nanti sampai di tahap di mana tidak ada yang tidak indah, tidak ada yang tidak nikmat, tidak ada yang tidak berguna. Ibaratnya dalam musik, tidak ada yang fals.

Fals itu tidak ada. Yang ada adalah bunyi tidak terletak di tempatnya bersama harmoninya. Kalau dia diletakkan berjejer dengan yang satu konfigurasi dengan dia, dia nggak fals. Ini kalau seandainya workshop musik, saya tunjukkan kepada Anda. Dia punya konfigurasi harmoni sendiri.


Tidak ada yang buruk, tidak ada kecelakaan, tidak ada kerugian dalam hidup ini. Kita pernah mengalami kehancuran saat Orba, Orla, Reformasi, banyak sekali, tapi saya melihat tidak ada masalah. Memang hidup seperti itu. Yang penting kita tahu yang disebut manajemen itu apa. Manajeman itu bukan bagaimana menyusun uang. Kalau saya, manajemen adalah bagaimana tidak punya kerjaan tapi bisa nyekolahke anak-anak. Itu kan manajemen banget. Bagaimana nggak punya gaji tetap tapi bisa survive, itulah manajemen. Nek gajimu sakmene digawe ngene, dudu manajemen iku, tapi kasir.

Manajemen itu bagaimana kita tidak punya beras tapi bisa bikin nasi. Kalau dalam al-Quran namanya min haitsu laa yahtasib. Allah memberimu rizqi melalui jalan dan metode yang di luar perhitunganmu. Dan itu adalah jaminan Allah setiap hari kepada orang yang selalu meletakkan hatinya dekat dengan Dia.

Saya pribadi bisa mendapatkan cash dari langit. Satu contoh, saya didatangi kiai-kiai tua, ada di antaranya yang sudah 94 tahun usianya. Saya nangis karena nggak punya uang untuk nyangoni, maka saya masuk kamar, wudlu, kemudian sisiran. Di atas lemari saya dapat 40 juta, cash. Hal-hal seperti itu bisa saja terjadi, tapi syaratnya adalah saya tidak boleh mengambil sedikit pun untuk saya sendiri. Maka saya bagikan semua kepada tamu-tamu saya itu.

Tapi orang Indonesia kan nggak percaya sama Tuhan, maka kerjaannya mencuri terus, curang terus. Dia tidak percaya sama begitu banyak kemungkinan rizqi dalam kehidupan. Saya punya sekolahan, lebih banyak daripada yang didirikan oleh Direktur BI. Saya bisa mengadakan forum-forum Padhangmbulan setiap bulan di 6 kota, sekarang sudah 21 tahun, saya biayai sendiri. Dengan massa ratusan atau ribuan, forum-forum saya berlangsung tanpa sponsor, tanpa biaya dari siapa-siapa. Tanpa keamanan, tanpa izin, dan itu sudah semenjak Orba. Orang datang dari jam delapan malam sampai jam tiga pagi, sampai hari ini. Kemarin di TIM kami sampai jam 03.30, di Jogja tanggal 17 sampai jam 04.00, berlangsung terus-menerus karena min haitsu laa yahtasib.

Allah itu bukan milik para ustadz. Allah adalah milik kita semua, Dia sangat dekat sama kita. Dia sangat lucu, penuh humor, sangat penuh kasih-sayang. Dia tidak membutuhkan sopan-santun yang pura-pura.

Tentang ilmu katuranggan jelas ya. Itulah kenapa Pak Harto memilih Harmoko untuk menjadi Menteri Penerangan sampai akhir meskipun kita nggak suka. Pak Harto tahu persis bahwa Pak Harmoko adalah tipe pemelihara. Sampai hari ini dia masih memelihara apa yang bisa dia pelihara. Ini saya tanya langsung ke Pak Harto mengapa dia pindah dari Pak Moerdani, padahal Pak Moerdani itu berjasa sama Pak Harto, dia menemukan dukunnya Pak Harto yang ke-39 di Aceh sehingga Benny Moerdani diangkat menjadi Dukun Gajah Putih. Sebelum itu teorinya ada 39 dukun Pak Harto, tapi baru ketemu 38. Saya ketemu dukun-dukunnya Pak Harto di mana-mana.

Tentang dukun ini juga ada teorinya sendiri. Dukun itu apa, kiai itu apa. Anda jangan salah sangka bahwa dukun ini pasti jelek dan kiai pasti baik, karena dukun masih bekerja untuk mendapat uang, sementara kiai biasanya nggak kerja tapi dapat uang. Jadi kan masih mending dukun.


Belajar Kepemimpinan dari Lokalitas yang Arif
Untuk kepemimpinan, kita bisa belajar kepada Ki Hajar Dewantara. Pemimpin itu nomor satu harus ing ngarso sung tulodho, mampu memberi teladan. Teladannya bukan hanya dalam hal akhlak tapi juga dalam keterampilan, dalam profesionalisme, dalam kepekaan, dalam kedekatan budaya dengan karyawan. Teladan yang saya maksud adalah keteladanan yang utuh.

Kalau dia sudah bisa mempengaruhi karyawan atau bawahannya untuk beratmosfer seperti dia, maka kemudian dia tidak perlu menjadi contoh lagi. Tahap kedua adalah ing madya mangun karso, bercampur di antara semua anak buahnya untuk melakukan apa-apa yang telah dia teladankan sebelumnya.

Kemudian tahap ketiga adalah tut wuri handayani. Syarat kepemimpinan kebudayaan, semua pemimpin itu menyiapkan dirinya untuk tut wuri handayani, bukan dari presiden malah jadi ketua Demokrat. Itu kan hanya mungkin dilakukan oleh orang pikun. Dia harusnya makin lama makin mandhita, makin siap untuk tidak menjadi apa-apa. Dia harusnya bersih dan tetap dihormati setelah tidak menjadi presiden, maka dia tut wuri handayani. Kalau sekarang kan dia malah ing ngarso ora tulodho.

Konsep dari Ki Hajar Dewantara ini sangat jelas kok. Sekarang Taman Siswa ‘mati’ karena ajaran-ajaran Ki Hajar Dewantara tidak kita akselerasi. Kita lebih percaya pada Cornell atau Berkeley, kita lebih percaya pada filosofi Barat.

Padahal Ki Hajar atau Ki Ajar ini kalau di Jawa merupakan sebutan bagi orang yang dianggap mempunyai ilmu yang melebihi ilmu masyarakat umum. Kalau ilmu yang dimiliki adalah ilmu agama, maka dia disebut Yai. Tapi setiap orang Jawa dalam sopan-santun kebahasaan menambah nama orang dengan Ki. Yai ditambah dengan Ki, menjadi Kiyai.

Tapi diam-diam kita telah ‘menghancurkan’ Ki Hajar Dewantara dengan menghancurkan filosofi dan kosakata kita. Sekarang kata ‘ajar’ atau ‘hajar’ diplesetkan secara negatif dengan arti ‘memukuli’. Ya sudah, hancur kan jadinya?

Contoh lain adalah kata ‘akal’. Dalam Bahasa Arab, kata kerja dari ‘aql adalah ya’qil. Ya’qil merupakan pekerjaan nomor satu bagi manusia. Allah selalu mengatakan afala ta’qiluun, kenapa kamu tidak pakai akal. Mengakali seharusnya berarti memperlakukan segala sesuatu dengan akal. Tapi sekarang ‘mengakali’ artinya mencurangi, meliciki. Ini kan pengkhianatan sangat besar terhadap bahasa-Nya Tuhan. Berapa ratus kali dalam al-Quran kata itu disebut?

Kata ‘ajar’ ini khas Jawa. Nabi Ismail lahir dari seorang ibu bernama Hajar. Hajar ini orang luar Arab yang nggak ngerti geografi Arab, nggak ngerti di mana sumber air, maka dia bolak-balik mencari air sampai akhirnya ketemu air zam-zam itu. Hajar ini kan bukan orang Arab. Kita cari ke mana-mana, ke Rusia, ke Afrika, dan cuma di Jawa kita temukan kata ‘hajar’ yang paling relevan. Berarti istrinya Ibrahim yang baru ini sepertinya orang Jawa –atau katakanlah orang Indonesia.

Hajar punya anak Ismail yang kemudian menurunkan orang Arab. Kalau dari istri yang satunya, lahir Ishaq. Turunan Ishaq menjadi Yahudi. Dunia ini dikuasai oleh dua klan itu. Yang punya duit adalah turunan Ismail, (namun) yang mengelola duit adalah turunan Ishaq, seperti Soros, IMF.

Nah, kita ini masalahnya ada di perempatan jalan. Kita ini turunan yang mana? Ataukah jangan-jangan kita lebih tua daripada Ibrahim?

Maka suatu hari jangan mau taat sama (klan) Ismail dan Ishaq, karena mereka adalah cucu-cucu kita. BI pada suatu hari harus menjadi lembaga keuangan dunia, dan Indonesia yang mengatur keuangan dunia karena kekayaan Allah di muka bumi dipusatkan di Indonesia. Jangan boleh Freeport seenaknya.

Bersambung ….

Thursday, March 7, 2013

Leadership From Within


Leadership is the art of getting people to do what they don’t want to do and have them enjoy the experience (Lewis MacKenzie).

Pemimpin itu menggerakkan, mengarahkan, dan menginspirasi orang lain untuk melakukan sesuatu menurut yang dia bayangkan dan kehendaki. Karena memimpin adalah menggerakkan, akan semakin efektif jika seorang pemimpin memahami psikologi anak buah atau masyarakat, insentif apa yang membuat mereka semangat untuk bergerak mengikuti ajakan atau perintah pimpinannya.

Biasanya orang segera berpikir, insentif uanglah yang paling efektif untuk menggerakkan orang. Pendapat ini tidak salah, namun tidak akan berlaku bagi masyarakat yang bekerja dengan idealisme serta menghayati nilai-nilai spiritual secara intens. Para pejuang maupun pendukung kemerdekaan dan kelahiran negara RI bukan tergerak karena insentif uang. Mereka bahkan mempertaruhkan kekayaannya yang termahal: harta, jiwa, dan nyawa.

Di situ terjalin hubungan emosional, spiritual, dan ideologis antara pemimpin dan rakyat. Para pemimpin menggerakkan rakyat dengan idealisme dan hati. Di sini berlaku ungkapan: the leadership starts from within. And we all possess the seeds of greatness. Siapa pun yang jadi pemimpin harus mulai dari diri sendiri dengan menumbuhkan dan mengaktualkan potensi serta benih-benih kebajikan dan keunggulan yang ada pada setiap orang, sehingga seorang pemimpin adalah juga sosok teladan.


Ratusan judul buku tentang leadership telah ditulis para ahli. Antara lain dikatakan, ideas, facts, and figures may inform the world. But emotion moves it. Napoleon Bonaparte pernah berucap: It is not the size of the army but the power within the army. Dua ungkapan diatas mempertegas bahwa kekuatan untuk mengubah keadaan bermula dari kekuatan pikiran, mental, dan hati pemimpinnya. Contoh pemimpin dalam sejarah yang paling spektakuler dan getaran pengaruhnya masih dirasakan sampai hari ini adalah Muhammad, yang oleh umat Islam diyakini sebagai sosok utusan Allah.

Ada lagi sosok lain seperti Yesus, Budha Gautama, atau Mahatma Gandhi. Gagasan, semangat dan cinta kasih mereka untuk memperbaiki masyarakat dan membangun peradaban unggul masih menggelorakan para pengikutnya tanpa janji insentif uang dan jabatan, mengingat semuanya telah meninggal. Tokoh-tokoh diatas memimpin dengan hati. Mereka memiliki kepribadian tangguh, rela mengorbankan segalanya untuk kebaikan orang lain.

Kalaupun mereka itu dianggap terlalu jauh, berada di langit sehingga sulit ditiru, sesungguhnya kita bisa melihat dan merasakan orang-orang di sekeliling kita. Sosok paling dekat adalah ibu. Yang hebat dan menonjol dari ibu bukan kepintarannya, melainkan cinta kasih dan doanya yang tulus, yang tak pernah padam agar anak-anaknya tumbuh menjadi orang baik. Apa pun yang dilakukan seorang ibu demi kebaikan dan kemajuan anak-anaknya.


Di lingkungan sekolah pun mudah kita baca dan rasakan. Para siswa akan merasakan siapa-siapa guru yang mengajar dengan hati, dan siapa yang sekadar berbagi ilmu minus cinta kasih dan rasa empati pada para siswa. Demikian juga di kantor. Jabatan setinggi apa pun, ilmu pengetahuan seluas apa pun, tanpa didasari cinta kasih, semangat menolong dan memajukan orang lain pasti tidak cukup efektif untuk menggerakkan orang.

Persyaratan intelektual seorang pemimpin yang biasa dimajukan oleh para ahli antara lain adalah memiliki visi ke depan, keterampilan manajerial, komunikatif, berani ambil risiko dan menjadi pendengar yang baik. Namun, itu semua pada akhirnya akan sangat ditentukan inner quality dari seseorang, yaitu kadar keikhlasan, kesediaan berkorban, dan rasa cinta terhadap tugas dan masyarakat yang hendak dilayani.

Keikhlasan dan cinta merupakan sumber kekuatan yang amat dahsyat bagi seorang pemimpin. Orang yang ikhlas tidak akan haus tepuk tangan dan pujian sehingga hidup dijalaninya dengan wajar, tenang, dan tidak menciptakan jarak dengan semua anak buahnya. Cinta membuat seseorang menjadi pribadi yang melimpah. Selalu ingin memberi, bukannya mendapatkan, apalagi mengambil.

Bayangkan jika cinta dan ikhlas ini menyertai persyaratan seorang pemimpin seperti disebut di muka, pasti akan produktif, bermakna dan dicintai lingkungannya. Pemimpin yang didasari cinta dan ikhlas tak akan khawatir mengalami post-power syndrome karena kekuatan pribadinya tidak disandarkan pada status dan jabatan formalnya, melainkan pada kepercayaan dan ketulusan yang berakar pada dirinya. Dia tidak khawatir jatuh karena tidak merasa di puncak ketinggian, dia juga tidak takut terinjak karena tidak merasa di bawah. Dia berusaha melebur ke dalam hati masyarakat. Hati rakyat adalah singgasananya.

Komaruddin Hidayat
Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah
SINDO, 1 Maret 2013

Wednesday, October 24, 2012

Kepemimpinan yang Terhubung


“Sudah saatnya negeri ini, dan juga Jateng, dipimpin oleh putra terbaik, karenanya dibutuhkan pemimpin sejati.”

Jokowi sudah mengawali tugasnya sebagai Gubernur DKI Jakarta, dengan blusukan ke beberapa perkampungan kumuh (SM, 17/10/12). Kendati tidak mutlak, kemenangannya dalam Pilgub DKI Jakarta dianggap sebagai babak baru kepemimpinan di Indonesia.

Dia yang low profile dan apa adanya lebih dipilih ketimbang Foke, incumbent  (petahana)  yang mendapat dukungan koalisi partai-partai.

Tulisan ini mengambil contoh sosok Jokowi tidak untuk menyanjungnya karena dia manusia biasa. Namun salah satu yang menarik dari mantan Wali Kota Solo itu adalah kemampuannya  menampilkan praktik kepemimpinan yang terhubung langsung dengan warga. Ia terbiasa turun ke bawah dan saat bertemu warga terlihat seperti tidak ada jarak pemisah.

Hal ini sulit dilakukan oleh pejabat pada umumnya. Praktik seperti ini sontak menarik perhatian. Saya kira, rakyat dengan daya kritis yang meningkat mendambakan sesuatu yang baru.


Di negara maju, seorang wali kota atau presiden sekali pun, sudah terbiasa berkomunikasi langsung dengan rakyat.

Ada contoh menarik saat keterpilihan Barack Obama dalam Pilpres AS 2008. Waktu itu saya mengikuti sebuah program pertukaran ke AS. Dalam program itu, saya beruntung bertemu Obama saat masih senator, namun sudah resmi maju mengikuti Konvensi Partai Demokrat.

Saya menghadiri acara constituent coffee yang ia gelar di kompleks Capitol Hill, Washington DC. Acara temu konstituen itu untuk mendengar langsung aspirasi warga dari dapilnya. Terlihat ia juga akrab dengan warga, mendengarkan dan memberikan jawaban yang jujur dan tulus.

Lebih kaget lagi, saat saya berkunjung ke kota kecil, Clarkdale di Mississippi. Wali Kota Henry Espy menemui kami di pinggir jalan. Sangat jauh dari kesan formal dan kaku. Ia berjalan sendiri dari kantor wali kota tanpa ajudan atau staf. Menyambut kami secara rileks. Praktik kepemimpinan yang egaliter seperti ini, saya kira yang sesuai dengan perkembangan zaman.

Dalam beberapa literatur, Kouzes dan Posner misalnya melalui penelitiannya menyatakan ada lima praktik mendasar pemimpin yang memiliki kualitas kepemimpinan unggul. Pertama; pemimpin yang menantang proses (challenging the process). Pemimpin yang menampilkan sesuatu yang berbeda: out of the box. Sosok yang menarik dan simpatik.


Kedua; sosok yang mampu memberi inspirasi dan visi bersama (inspiring a shared vision). Dengan perkembangan demokrasi, kebebasan dan pluralitas, dibutuhkan sosok pemimpin yang mampu hadir memberi visi. Pemimpin sederhana yang berkomunikasi dengan rakyat.

Ketiga; pemimpin yang mampu menggerakkan bawahan atau rakyat untuk berbuat sesuatu (enabling others to act). Kompleksitas persoalan bangsa, membutuhkan pemimpin yang mampu mendorong orang untuk berkontribusi. Mengajak rakyat untuk menjadi bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah.

Keempat; pemimpin yang mampu menjadi teladan atau contoh dan memberikan arah jalan (modelling the way). Dalam kehidupan dewasa ini, sosok pemimpin yang sederhana misalnya mungkin sudah menjadi figur langka. Namun kesederhanaan justru dapat menjadi media efektif untuk menggerakkan potensi rakyat karena faktor kepercayaan (trust) terhadap dirinya.

Kelima; pemimpin yang selalu memberi motivasi bawahan, membesarkan hati rakyat (encouraging the heart). Tugas pemimpin memang memberikan semangat dan motivasi. Ia harus menjadi salah satu sumber inspirasi rakyat. Karenanya, pemimpin haruslah sosok yang kuat dan tepercaya.


Kita semua berkepentingan untuk melahirkan pemimpin yang ideal. Tentu tidak ada yang sempurna, namun bukan hal yang mustahil untuk mendapatkan pemimpin yang terbaik. Menurut hemat saya, poin penting dari kepemimpinan tentu bukanlah teori melainkan praktik.

Kini menjelang Pilpres 2014, beberapa kandidat telah resmi akan maju sebagai calon presiden. Para capres itu hendaknya menyiapkan diri sebagai pemimpin sejati. Dekati rakyat dengan ketulusan, bukan pencitraan.

Pelaksanaan Pilgub Jateng 2013 pun tinggal 8 bulan lagi. Siapa pun yang memutuskan menjadi cagub, hendaknya menyiapkan diri sebagai pemimpin sejati. Sekali lagi, dekati warga provinsi ini dengan ketulusan, bukan pencitraan.

Sebaliknya, rakyat, media massa, dan semua pihak harus memberi kesempatan selebar-lebarnya bagi anak bangsa untuk tampil menjadi pemimpin. Sudah saatnya negeri ini, dan juga Jateng, dipimpin oleh putra terbaik. Menghadapi tantangan masa depan yang semakin kompleks, memang dibutuhkan pemimpin sejati.

M Hariman Bahtiar
Alumnus Unpad dan Pascasarjana Pengkajian Ketahanan Nasional UI, Wakil Indonesia dalam ASEAN+3 (Jepang, China, dan Korsel) Youth Leaders Symposium di Phnom Penh Kamboja
Koran SUARA MERDEKA, 18 Oktober 2012